NovelToon NovelToon

My Boss & His 3 Sons

Bab 1 : Mutasi kerja

Emma Fiorella (26), wanita cantik dan baik hati dan memiliki sifat keibuan itu sedang duduk di kursi kerjanya. Mencari kontak seseorang dari ponselnya.

"Aish...anak ini kemana sih, dari tadi dihubungi gak diangkat-angkat," gumam Emma menatap ponselnya. Sejak tadi ia sudah menghubungi Stella sahabatnya. Namun wanita itu tidak mengangkat panggilannya. Ia mencoba menghubunginya kembali.

"Akhirnya diangkat juga," batin Emma.

"A...a..da apahhhh Emma..sshhhh.." jawab Stella dengan nada mendesah membuat Emma membulatkan kedua matanya.

"Aku mau bilang sesuatu sama kamu," ucap Emma.

"akh...pelan-pelan," pekik Stella.

"Stel..jangan bilang kamu sedang itu dengan pacar mu," ucap Emma geleng kepala.

"Nanti ku hubungi lagi," ucap Stella dengan cepat lalu mematikan ponselnya.

"Astaga...dasar Stella. Bisa-bisanya dia melakukannya di jam istirahatnya yang akan berakhir sebentar lagi," pungkas Emma menaruh ponselnya di meja kerjanya.

"Emang seperti apa sih rasanya?" gumam Emma penasaran.

Emma dan Stella sudah lama berteman sejak mereka berada disekolah dasar. Namun mereka berpisah karena Stella bekerja di kota yang berbeda dengannya. Stella merupakan lulusan fakultas kedokteran. Oh ya mengenai hal tadi, Emma sudah tidak asing lagi jika ia menelepon Stella akan mendengarkan suara-suara aneh dari balik ponselnya. Stella memiliki kekasih yang berprofesi sama dengannya sekaligus pemilik rumah sakit dimana Ia bekerja.

Malam harinya setelah acara makan selesai, Emma dan keluarganya tidak langsung beranjak dari meja makan.

"Apa kakak akan berangkat besok,?" tanya Gabriel adik satu-satunya Emma yang saat ini sedang kuliah di salah satu universitas di kota Denver tempat mereka tinggal.

"Ya Gabriel. Kakak akan pergi besok pagi," balas Emma mengusap kepala adiknya.

"Yah..berarti yang bantu mommy memasak gak ada lagi dong. Mommy pasti kesepian nanti," ujar Neina yang sudah memasuki usia ke 53 dengan wajah cemberutnya. Wanita paruh baya itu tetap cantik diusianya yang sekarang. Kecantikan itu juga menurun pada putrinya.

"Nanti juga akan terbiasa kok mom. Emma janji akan sering balik ke sini," ucap Emma.

"Sebaiknya kamu susun barang yang akan kamu bawa dan istirahat. Besok kamu akan berangkat pagi," pungkas Alberto ayah Emma.

"Baiklah dad," balas Emma. Mereka kemudian beranjak dari meja makan menuju kamar masing-masing.

"Good night mom, dad, Gabriel," ujar Emma lalu menaiki tangga rumahnya menuju kamar tidurnya.

*******

Drrrtttt....drrrtttt..., Ponsel Emma berdering. Sebuah panggilan masuk terlihat dilayar ponselnya. Dengan segera Emma menghentikan kegiatannya menyusun barang-barangnya ke dalam koper. Ia melangkahkan kakinya menuju meja nakas untuk mengambil ponselnya.

"Halo..." Ucapnya.

"Emma, sorry tadi kita tidak jadi mengobrol. Soalnya tadi itu nanggung banget. Oh ya apa yang ingin kamu katakan," ujar Stella dari balik ponsel membayangkan kegiatan panas yang dilaluinya bersama kekasihnya tadi siang.

"Aku gak habis pikir denganmu. Bisa-bisanya kalian melakukan itu di siang hari," ujar Emma geleng kepala. Stella yang mendengar itu hanya terkekeh.

"Habisnya enak banget. Kamu juga bakalan ketagihan nanti. Makanya cari pacar sana. Biar gak jomblo lagi. Hahahhahaha...Udah ah..., kamu mau bilang apa nih," pungkas Stella. Ia ingat terakhir kali Emma pacaran saat mereka masih kelas 3 SMA.

"Perusahaan tempatku bekerja memindahkan ku ke kantor pusat yang ada di California ," ujar Emma.

"Kamu serius???" tanya Stella terkejut.

"Yap.." balas Emma.

Bab 2 : Bertemu kembali

"Akhirnya kita bisa bersama dong," ujar Stella.

"Besok Aku akan berangkat ke sana. Sebenarnya Aku mulai bekerja disana 1 minggu lagi. Hanya saja Aku ingin kamu mengajak ku jalan-jalan disana," ucap Emma.

"Dengan senang hati Nona. Kamu tinggal sama ku ya...ya..ya..," pinta Stella penuh harap.

"Tapi Aku tidak ingin merepotkan mu nantinya disana," ucap Emma merasa tidak enak hati.

"Hei..sejak kapan kamu merepotkan ku, yang ada itu kebalikannya tau. Lagian Aku itu tinggal sendirian dirumah. Aku gak ada teman, sepi banget. Kamu mau ya, ya,ya...please," ujar Stella memohon.

"Mmmmm...oke deh," ujar Emma.

"Yeah..aku senang banget," pungkas Stella gembira.

"Ya sudah, aku tutup panggilannya dulu, mau packing soalnya," tukas Emma. Keduanya pun mengakhiri pembicaraan setelah pukul 9 malam.

"Lanjut lagi.." gumam Emma menyusun kembali baju-bajunya.

****

Saat ini Emma sedang menunggu Stella menjemputnya ke bandara. 15 menit sudah Ia menunggu disana, Stella ta kunjung juga datang. Emma mulai bosan hanya melihat orang-orang yang berlalu lalang disana.

"Emma.." panggil seseorang dari kejauhan. Spontan Emma mencari asal suara tersebut, ternyata yang memanggilnya adalah Stella. Wanita itu berjalan mendekati Emma.

"Aku kangen banget sama kamu.." pekik Stella merangkul Emma. Begitu juga dengan Emma yang membalas pelukan Stella. Keduanya melepas rindu setelah cukup lama tidak bertemu.

"Maaf ya sedikit telat, tadi Aku ada pasien," ujar Stella.

"It's okay.., santai aja Stell," balas Emma. Stella kemudian mengajak Emma menuju parkiran.

Di dalam mobil, Stella dan Emma tampak bercerita.

"Kamu masih tinggal di rumah yang kemarin?" tanya Emma dibalas anggukan oleh Stella. Sebenarnya ia sudah beberapa kali datang ke rumah Stella saat Emma punya cuti dari kantor tempatnya bekerja. Jadi dia sudah cukup paham dengan kondisi kota tersebut.

"Kita makan dulu ya, aku lapar banget. Tadi gak sempat sarapan," ujar Stella yang sudah tidak tahan dengan perut keroncongannya.

"Kali ini aku yang traktir karena kamu udah menjemput ku," ucap Emma.

"Oke..." balas Stella.

Setibanya di restoran, mereka mencari meja kosong. Pelayan langsung menghampiri mereka dan memberikan daftar menu pada mereka. Sembari menunggu pesanan datang mereka kembali mengobrol.

"Jadi, kamu mau jalan-jalan kemana nih.." ujar Stella.

"Kemana aja, yang penting refreshing. Soalnya 3 bulan ini aku banyak lemburnya," ujar Emma.

"Permisi Nona," ucap pelayan meletakkan pesanan mereka diatas meja.

"Thanks," ujar Emma.

"Mari makan..." pungkas Stella yang tampaknya sudah tidak sabar lagi untuk mencicipi hidangan yang ada didepannya. Kedua wanita seumuran itu pun mulai menyantap hidangan yang ada di meja.

*******

Hari ini Emma dan Stella pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Emma ingin membeli beberapa pakaian kantor untuk menambahi pakaian kantor yang dibawanya.

"Stell, itu bagus gak.." ujar Emma menunjuk sepasang sepatu yang jarak tokonya tidak jauh dari mereka.

"Bagus kok, cocok banget sama kaki kamu yang jenjang," ujar Stella.

"Kita lihat yuk.." ajak Emma. Keduanya lalu masuk kedalam toko sepatu tersebut.

Stella juga tampak memilih sepatu untuknya. Hingga beberapa menit kemudian Ia mendapat sebuah panggilan.

"Kamu menghubungi siapa?" Tanya Emma pada Stella yang baru saja mengakhiri panggilannya.

"Aku baru saja dihubungi pihak rumah sakit. Katanya ada pasien yang akan dioperasi saat ini. Kebetulan dokter yang menanganinya sedang sibuk. Kamu bisa belanja sendiri kan. Sorry ya tidak bisa menemani mu. Aku janji akan segera kembali jika sudah selesai" ucap Stella merasa bersalah. Padahal ia sudah mengambil cuti untuk menemani sahabatnya hari ini. Tapi mau bagaimana lagi, ada orang lain yang membutuhkan pertolongannya saat ini.

"Tidak apa-apa Stella. Sebaiknya kamu segera ke rumah sakit. Mereka saat ini lebih membutuhkan mu," ujar Emma mengusap lengan Stella.

"Kalau begitu Aku pergi dulu ya," ujar Stella lalu pergi dengan buru-buru.

Bab 3 : Bocah imut

Setelah membayar barang barang yang dibelinya , Emma keluar dari toko tersebut. Tiba-tiba seorang anak laki-laki menabrak Emma hingga anak itu terjatuh di lantai mengingat tubuhnya yang kecil dibandingkan dengan Emma.

"Astaga sayang...kamu tidak apa-apa," ujar Emma khawatir. Ia menaruh barang belanjaannya dilantai dan membantu anak itu untuk berdiri. Emma menatap bocah kecil tampan dan imut di depannya. Ingin rasanya Emma mencium pipi gembul nya.

"Katakan pada kakak, apa ada yang sakit," ucap Emma memeriksa badan anak tersebut.

Anak itu hanya menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca.

"Kenapa kamu lari-lari..hmm.., dimana orang tua mu?" tanya Emma dengan lembut sembari merapikan seragam sekolah anak itu yang terlihat ada kata yang keluar dari mulut anak itu. Ia hanya menggelengkan kepalanya sejak tadi. Emma semakin bingung melihat anak kecil yang ada di depannya. Ia mengira anak itu mungkin saja terpisah dari orang tuanya saat datang ke mall tersebut. Emma berniat untuk membawa anak itu ke petugas keamanan yang ada di mall. Namun niatnya itu terhenti saat seorang wanita menghampiri mereka.

"Tuan muda.., untung saja kami menemukan mu," ujar wanita itu lega dengan seorang supir yang berdiri dibelakangnya. Anak kecil itu langsung memeluk kaki Emma seakan ingin meminta bantuan pada Emma.

"Maaf jika tuan muda kami mengganggu nona," ujar wanita yang bekerja sebagai nanny dengan menundukkan kepalanya.

"Tidak apa-apa, kenapa anak ini terpisah dengan kalian?" tanya Emma.

"Tuan muda sepertinya sedang marah karena ayahnya tidak bisa menjemputnya dari sekolah nona. Tuan sedang ada rapat penting. Biasanya saat tuan muda merajuk, kami membawanya ke sini untuk membeli beberapa mainan baru. Saat saya ingin membayar tagihan, tuan muda tidak ada lagi bersama saya," ujar nanny tersebut.

"Sekali lagi saya minta maaf jika tuan muda sudah mengganggu anda. Kami pamit dulu. Ayo nak.." ujar nanny tersebut lalu meraih tangan anak itu. Tetap saja anak itu, tidak mau. Ia tetap memeluk kaki Emma seakan tidak ingin jauh dari Emma.

"Ayolah nak...kami takut ayah tuan muda akan memecat kami nanti," ucap nanny tersebut.

Emma menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan anak kecil itu. Emma lalu mengusap lembut kepala anak itu.

"Mau beli es krim dengan kakak?" Tanya Emma. Anak itu menganggukkan kepalanya.

"Tapi kamu harus janji dulu sama kakak, setelah es krimnya habis, kamu pulang ke rumah ya...." bujuk Emma.

"Apa saya bisa membawanya untuk membeli es krim. Kalian tidak usah takut, saya bukan orang jahat kok. Kalian bisa mengikuti kami kalau kalian tidak percaya" ucap Emma.

"Baiklah nona" jawab nanny tersebut.

Setelah membeli es krim, Emma mengajak anak itu duduk di tempat duduk umum. Emma juga mentraktir nanny dan supir yang mengikuti mereka.

"Oh ya..kakak sampai lupa. Nama kamu siapa?" Tanya Emma.

"Fazio.." jawab anak itu sembari menikmati es krimnya. Fazio saat ini berusia 5 tahun.

"Nama yang bagus..kakak panggil Zio deh kalau gitu" ujar Emma mengusap rambut Fazio. Anak itu tersenyum menatap Emma. Ia merasa nyaman dengan perempuan yang ada disampingnya. Fazio juga sangat mengagumi kecantikan Emma.

"Kalau kakak namanya Emma Fiorella. Panggil kak Emma saja," tukas Emma memperkenalkan dirinya.

"Nama bibi siapa kalau boleh tau?" tanya Emma.

"Saya Camala, ini suami saya Ramiro," ujar nanny tersebut.

"Aku mau Es krim lagi..." pungkas Fazio saat es krim yang ada ditangannya sudah habis.

"Wahh... Es krim mu sudah habis ya. Kalau begitu tunggu sebentar, kakak akan membelinya dulu. Tapi janji satu lagi sudah cukup ya.." ujar Emma. Bukannya ia pelit, tapi Emma tidak ingin anak itu sakit perut nantinya.

"Biar saya saja nona," ujar Ramiro menghentikan Emma yang bangkit dari tempat duduknya.

"Baiklah paman. Terima kasih paman" ucap Emma.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!