NovelToon NovelToon

AKU INI ANAK KAMU "AYAH"

Ayah menikah.

Part 01

_______

Lola Elakshi, berumur 15 tahun, dulu gadis kecil yang kini tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, bermata coklat, rambut ikal bawah, namun sedikit terdapat luka bakar di bagian lengan kanan 10%, jenjang leher yang putih mulus 0,5%. 40% lainnya terdapat luka mulai dari bagian dada, sampai pusar. 10% lainnya terdapat di bagian pahan depan kanan/kiri.

Dari sinilah kisahnya di mulai.

...Di ruang tamu....

...✨✨...

Tak!

Tak!

Terdengar suara langkah kaki sepatu pansus pria dan sandal wanita datang mendekati ruang tamu. Lola Elakshi atau sebut saja Elakshi berumur 15 tahun sedang duduk diruang tamu dengan buku-buku pelajaran yang berserakan di atas meja tamu.

Elakshi menolehkan wajahnya menatap suara langkah kaki sepatu pria dan sandal wanita yang terdengar mendekati ruang tamu, Elakshi membulatkan kedua bola matanya menatap kedatangan sang Ayah yang membawa seorang wanita beserta anak perempuan yang berusia 9 tahun.

Ayah Lola Elakshi sebut saja Presdir Seafood yang bernama Ararya berumur 35 tahun berjalan melewati Elakshi yang sedang duduk dengan buku pelajaran yang berserakan di atas meja ruang tamu.

“Ucapkan salam pada tante Anna.” Ucap Ararya datar tanpa menoleh menatap wajah putrinya Elakshi.

Elakshi berdiri menyambut wanita yang bernama Anna. “Selamat sore tante Anna, saya Lola Elakhsi.” Ucap Elakshi wajah polos menyambut dengan penuh senyuman manis seorang wanita yang berdiri di hadapannya dengan seorang anak kecil bersembunyi di balik tubuh wanita yang tersenyum manis menatap dirinya.

Tante Anna tersenyum melihat sambutan hangat, wajah polos dan manis dari Elakshi. Wanita tersebut menggandeng tangan anak perempuan yang dibawanya dan duduk berdekatan dengan Elakshi. Anak perempuan yang dibawa oleh tante Anna hanya diam dengan wajah yang terlihat tidak senang.

Elakshi mengulurkan tangan mendekati tubuh anak dari wanita yang disebut tante Anna. “Hai. Namaku Lola Elakshi, kalau kamu siapa?” sapa Elakshi dengan hangat tersenyum manis, tangan tetap mengulur berharap balas jabat tangan dari anak yang di bawa tante Anna.

Anak yang dibawa tante Anna menekuk wajahnya, bersembunyi kembali di balik tubuh tante Anna yang kini duduk di samping Elakshi. Tante Anna tersenyum manis mengulurkan tangannya memegang dagu Elakshi.

“Maaf. Anak tante memang seperti ini, dia tidak terbiasa berjabat tangan dengan orang yang tidak dikenalnya.” Ucap tante Anna dengan nada lembut.

Elakshi menatap wajah tante Anna. Menyimpan kembali tangan mungil yang berharap balas jabat tangan dari anak yang tak beda jauh dari usia dirinya. Elakshi tersenyum manis menatap gadis tak jauh usianya dari dirinya yang masih bersembunyi di balik tubuh tante Anna.

Baru kali ini Ayah membawa seorang wanita masuk kedalam rumah.

Apa tante ini akan menggantikan sosok Ibu yang Ayah cintai, dan akan menemani Ayah yang selalu kesepian saat sedang di rumah.

Jika memang benar, semoga Ayah tidak lagi menghujani aku dengan perkataan anak pembawa sial ... buruk rupa.

Gumam Elakshi di dalam hati karena ia berharap jika kehadiran tante Anna akan merubah keadaan di dalam rumah dan merubah Ayahnya Ararya yang selalu menghujani kata yang sangat menyakitkan hati.

Elakshi tidak bisa lama-lama mengobrol karena ia tahu tugas sekolah yang menumpuk di atas meja sudah menunggu dirinya, dan harus segera di selesaikan. Elakshi segera mengakhiri pembicaraannya. “Kalau begitu aku lanjutkan dulu membuat tugas sekolah ya? tante Anna.” Ucap Elakshi sambil melangkahkan kaki kanannya mendekati meja ruang tamu dan duduk di atas lantai.

Tante Anna menundukkan sedikit tubuhnya mendekati Elakshi dengan tangan kanan yang mengambil salah satu buku tugas sekolah Elakshi dan membuka buku tugas Elakshi.

“Tugas kamu sangat menumpuk, jika kamu tidak keberatan boleh tidak tante membantu kamu mengerjakan tugas sekolah kamu, agar cepat selesai.”

“Dengan senang hati tante.” Jawab Elakshi tanpa menolak penawaran dari tante Anna.

Elakshi menolehkan wajahnya menatap wanita cantik, lemah lembut bertubuh harum. Tangan putih mulus, berkutek putih kilat berhias bunga merah muda memegang pensil membantu Elakshi mengerjakan tugas sekolahnya.

.

.

.

.

Selama 15 tahun Elakshi berdiri, bermain dan tinggal di rumah yang mewah bak Istana. Baru kali ini ia mendengar, melihat langsung ada kehangatan yang terpancar dari ucapan seorang wanita yang dimana selama ini tidak didapatkannya.

Mungkin menurut anak seusia dia pada umum, seorang wanita dewasa atau seorang Ibu yang sudah memiliki anak itu hal biasa membantu pekerjaan tugas sekolah anaknya. Tapi menurut Lola Elakshi itu perkataan, perbuatan yang sangat luar biasa yang selalu ingin di dengarnya dan selalu ia harapan selama 15 tahun lamanya.

Melihat kedekatan antara Ibunya Anna dan Elakshi, anak perempuan yang dibawa tante Anna menaikkan sudut bibir atasnya menatap tajam wajah Elakshi yang sedang berbahagia karena sedang dibantu menyelesaikan tugas sekolah oleh Ibunya Anna.

Waktu terus berjalan hingga jam menunjukkan pukul 06:00 sore, tugas sekolah Elakshi yang menumpuk sudah selesai. Saatnya tante Anna dan anak perempuan yang dibawanya harus segera pulang.

Tante Anna berdiri. “Elakshi. Berhubung sudah sore, saatnya tante dan anak tante pulang dulu.” Tante Anna berpamitan pulang, tangan kanan di letakkan di atas rambut Elakshi.

Elakshi tersenyum manis, menganggukan kepalanya.

Kedua mata Elakshi menatap kedatangan Ararya berjalan mendekati sofa ruang tamu. Elakshi berlari sambil membawa buku tugas pelajarannya mendekati Ararya. Dengan penuh kegembiraan dan rasa cinta, Elakshi membuka buku tugasnya didepan Ararya. Wajah polos, senyum manis. Kedua tangan memegang buku mengulur tinggi ke atas, sejajar dengan dada Ararya berharap pujian dari sang Ayah.

“Ayah. Coba lihat, tugas sekolah yang sulit sudah terpecahkan karena dibantu oleh tante Anna. Cobalah Ayah lihat.”

Ararya berbalik badan seperti tidak perduli dengan ucapan sang anak yang dimana berharap dapat pujian dari bibir orang tua yang dicintainya. Melihat Ararya tidak membalas, atau pun menoleh sedikit ke arahnya. Elakshi menundukkan pandangannya menatap buku tugas sekolah yang dipegang.

Apakah Ayah sangat membenciku hingga tak menghiraukan perkataanku.

Ayah. Ini aku anak kamu, hasil dari buah cinta istri yang kamu sayangi.

Tidak bisakah Ayah sedikit saja memujiku.

Batin Elakshi yang terasa sedih melihat perlakuan Ayahnya selalu berbuat seperti itu kepadanya. Seperti tidak pernah melihat dirinya, berbicara kepada dirinya hanya ada setiap masalah dan melampiaskan kekesalan dan amarah berucap kasar pada Elakshi.

Anna berjalan mendekati Ararya dengan tangan yang menggenggam tangan anak perempuan yang dibawanya. Melihat wajah Elakshi yang bersedih, tante Anna berjalan mendekati Elakshi.

Tante Anna menundukkan sedikit tubuhnya.

“Elakshi.Tante Anna pulang dulu, kamu harus semangat belajar supaya Ayah Ararya bangga melihat kamu.”

Elakshi yang tadinya hampir meneteskan air mata melihat perlakuan cuek Ararya, kini tersenyum manis dengan kedua tangan yang menghapus setitik air mata yang mulai jatuh di pipinya.

Tante Anna berbalik badan melambaikan tangan kanannya dengan bibir yang tersenyum manis menatap wajah sendu dari Elakshi.

“Tante dan anak tante yang bernama Qaila pulang dulu.”

Elakshi tersenyum membalas lambaian tangan dari tante Anna.

Ararya tetap tidak memperdulikan Elakshi, putri semata wayang hasil dari buah cinta istri yang ia sayang. Ararya terus berjalan, melangkah pergi meninggalkan Elakshi.

Ararya mengantarkan tante Anna dan Qaila pulang kerumahnya. Sedangkan Elakshi hanya diam dengan tangan yang terus melambai menatap kepergian mereka yang sudah hilang dari pandangan mata.

Elakshi berbalik badan dengan penuh kegembiraan ia menyusun buku-buku pelajarannya yang berserakan di atas meja ruang tamu. Setelah mengumpulkan semua buku pelajaran, ia berjalan sambil tersenyum menaiki anak tangga yang menuju kamar miliknya.

Pembantu yang rumah yang sedang membersihkan bekas minuman dan sampah bekas pelajaran Elakshi yang berada di atas meja ruang tamu tersenyum manis menatap kepergian Elakshi yang kala itu terlihat ceria.

“Baru kali ini aku melihat nona muda Elakshi tersenyum bahagia dan ceria, biasanya ia hanya diam dan mengurung diri setelah Tuan Ararya pergi.”

...3 bulan kemudian....

...👰🤵...

3 bulan sudah berlalu saat kedatangan tante Anna ke rumah. Ararya telah resmi menikah dengan Anna dan tinggal bersama di kediaman mewah bak istana milik Ararya.

Saat melihat Ayahnya sudah menikah, Elakshi begitu sangat senang karena ia berharap jika takdir Tuhan akan merubah hidupnya dan Ayahnya tidak lagi menghujani dirinya dengan ucapan anak pembawa sial... buruk rupa.

Akhirnya Ayah resmi menikah dengan tante Anna.

Aku berharap Ayah tidak lagi menghujaniku dengan kata-kata aku adalah anak pembawa sial yang buruk rupa.

Dan aku berharap Ayah bisa mengerti jika semua itu adalah takdir Tuhan.

Bukan kemauan aku dan ibu yang mengandungku dan melahirkan aku yang sudah meninggal dunia.

Tinggal anak perempuan yang dibawa oleh tante Anna, bagaimana caranya aku harus melakukan pendekatan diri kepada Qaila. Aku harus mencuri hatinya supaya ia mau berteman dan menganggap aku sebagai saudara sambungnya.

Gumam Elakshi di dalam hati yang sedang duduk diruang makan keluarga menatap Ayah dan tante Anna yang kini telah resmi menjadi Ibu sambung. Kemudian beralih pandang menatap wajah anak tante Anna yaitu Qaila yang sedang menyantap makan bersama di meja makan keluarga.

...Bersambung.......

Waktu cepat berlalu. (4 tahun kemudian)

Part 02

________

...4 tahun kemudian....

...🌀🌀...

Waktu, bulan, tahun. Begitu cepat berlalu. Kini Lola Elakshi berusia 19 tahun, Elakshi tengah mempersiapkan sekolah kembali untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi seperti berkuliah di Universitas yang terkenal yang berada di Luar Negeri. Namun sayang, saat dia sedang bersemangat ingin menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, Ayahnya yaitu Ararya di timpa musibah.

Waralaba terbesar yang di miliki Ararya yang hampir masuk ke seluruh pusat pasar yang berada di seluruh Dunia kini harus padam 20% mengalami kebangkrutan.

Walaupun Elakshi tidak dekat dengan Ayahnya Ararya, tapi Elakshi merasa cemas dan bingung harus berbuat apa karena ia tahu saat ini dia tidak mampu membantu Ararya.

Tubuh sedikit cacat, tamatan hanya lulusan SMA. Tidak memiliki pengalaman bekerja, dan jika ingin bekerja. Perusahaan mana yang akan menerima dirinya yang memiliki bekas luka di bagian tubuhnya yang tertutup baju gaun panjang sebatas betis, berlengan 3 siku yang selalu ia pakai.

Elakshi hanya diam di dalam kamar dengan tangan yang memegang 1 brosur pendaftar ke Universitas yang ingin ia tuju. Elakshi duduk di tepian ranjang, ia menundukkan pandangannya dengan kedua bola mata yang memerah menahan tangis air mata yang hendak keluar.

“Ayah. Maafkan aku karena tidak bisa membantu kamu di dalam kesulitan. Rasanya Elakshi ingin memeluk tubuh Ayah, namun Ayah tidak pernah mengizinkan Elakshi menyentuh sedikit saja kulit Ayah. Ayah. Elakshi pingin sekali menghapus jejak kesedihan yang sedang Ayah rasakan dan beban yang Ayah pikul sendiri selama ini.”

Saat Elakshi tengah memikirkan kesedihan yang di rasakan oleh Ararya, terdengar suara ketukan pintu dari luar pintu kamar miliknya.

Tok!

Tok!

Setelah ketukan pintu selesai, terdengar suara pembantu yang biasa melayani Elakshi.

“Makan malam sudah siap, nona muda sudah di tunggu di ruang makan oleh tuan Ararya.”

Elakshi mendongakkan wajahnya menatap langit-langit kamar yang dihiasi dengan lampu yang sangat indah serta dinding kamar yang berwarna merah muda.

Walau pun Ayah selalu menyalahkan aku atas kelahiranku yang membuat Ibu meninggalkannya untuk selamanya dan selalu berkata jika aku adalah anak pembawa sial buruk rupa.

Tapi Ayah tetap saja peduli dengan hal kecil, meski itu tidak di tunjukkan langsung oleh Ayah.

Gumam Elakshi di dalam hati sambil melangkahkan kaki kanannya berjalan menuju pintu kamar miliknya.

Kltak!

Saat pintu kamar terbuka terlihat pembantu rumah tangga masih menunggu di depan pintu kamar Elakshi.

Elakshi menolehkan wajahnya menatap bibi pembantu rumah tangga.

“Bibi. Apakah semua sudah berada di ruang makan keluarga?”

Bibi pembantu menganggukan kepalanya dengan wajah tersenyum.

Elakshi melangkah cepat menuruni anak tangga menuju ruang makan keluarga.

...Ruang makan keluarga....

...🙃🙃...

Ararya, Elakshi, Anna dan Qaila sedang duduk di meja makan dan menikmati makanan lezat dengan sangat hikmat dan tenang.

Setelah 30 menit mereka makan, Ararya yang baru selesai makan mengusap mulutnya dengan tisu menatap tajam wajah Elakshi.

Sedangkan Elakshi hanya membalasnya dengan senyuman. “Ayah.”

Saat mendengar Elakshi memanggil Ararya, bukan jawaban yang baik atau sahutan yang lembut terdengar dari mulut Ayah tercinta. Ararya justru membentak Elakshi dengan sangat kuat hingga terdengar seisi rumah dan membuat orang yang berada di dalam rumah terkejut bukan main.

“Jangan pernah kamu panggil aku dengan sebutan Ayah. Kau tidak pantas memanggilku dengan sebutan Ayah. Ingat karena kau terlahir di dunia ini, wanita yang aku cintai telah meninggalkan aku dan sekarang bisnis yang aku perjuangkan hingga berpuluh-puluh tahun harus mengalami kegagalan itu semua gara-gara kamu, dasar anak pembawa sial buruk rupa.”

Bibi pembantu yang biasa melayani Elakshi hanya diam. Tante Anna, anaknya Qaila dan pembantu lainnya juga hanya bisa diam mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ararya.

Elakshi hanya diam, mengepal kedua tangan yang bersembunyi di bawah meja makan. Wajahnya tertunduk sedih dengan kedua mata yang berlinang air mata. Bibirnya bergetar menahan tangis yang tak mampu di bendung lagi. Ia menolehkan wajah yang terlihat basah menatap wajah Ararya.

“Apa salah Elakshi kepada Ayah? Apa Elakshi mau kehilangan seorang Ibu yang telah berjuang melahirkan Elakshi. Apa Elakshi juga mau jika usaha atau waralaba yang Ayah pertahankan dan Ayah perjuangkan itu bangkrut.”

Elakshi berdiri dengan kedua tangan yang di kepal kuat berada di balik baju dress indah miliknya.

“Tidak ada anak pembawa sial Ayah. Jika setiap masalah yang terjadi kepada Ayah dan keluarga kita, semua semata takdir yang di berikan oleh Tuhan kepada kita semua.

Walaupun Ayah sangat membenciku. Aku tetap menyayangi Ayah dan jika ada yang bisa aku pertaruhan agar bisnis Ayah bisa kembali lagi, aku juga akan bersedia meski aku mempertaruhkan diriku sendiri.”

Dengan kedua mata yang basah Elakshi berbalik badan berlari cepat meninggalkan ruang meja makan keluarga.

Ararya mengepal tangan kanannya menggebrak meja makan.

Braaak!

Braakk!!

“Dasar anak yang tidak tahu di untung.”

Ararya berteriak sangat kencang dan sangat kuat di meja makan keluarga.

Qaila yang ketakutan bersembunyi di balik badan tante Anna.

“Ibu. Ayah sangat mengerikan, ini semua gara-gara anak itu membuat Ayah sangat marah.” Gumam pelan Qaila.

Tante Anna meletakkan telapak tangan kananya di atas rambut Qaila, “Sebaiknya kamu ke kamar dulu, biar Ibu yang di sini dan menenangkan Ayah Ararya.”

Qaila berdiri melangkahkan kaki kanannya meninggalkan ruang makan keluarga.

Tante Anna berjalan sedikit mendekati Ararya, tante Anna berdiri tepat di belakang kursi Ararya dengan kedua tangan yang mengulur panjang di letakkan di kedua bahu yang tegang milik Ararya.

Anna memijat lembut kedua bahu yang tegang milik Ararya, seperti sedang berusaha ingin menenangkan hati dan suasana yang sedang tegang.

“Suamiku. Aku tahu kamu sangat tidak menyukai putri kamu Elakshi, tapi kamu tidak boleh seperti itu di hadapan Qaila. Saat melihat kamu marah seperti ini Qaila sangat ketakutan dan aku takut jika dia berpikiran kamu adalah Ayah sambung yang sangat kejam bagi anak-anaknya.”

Ararya menggenggam tangan tante Anna, menariknya hingga tante Anna duduk di atas pangkuan Ararya. Ararya menatap wajah tante Anna dengan penuh kecemasan.

“Anna. Aku takut jika aku bangkrut dan itu akan membuat kamu dan Qaila akan hidup susah nantinya. Aku tidak ingin kehilangan kamu seperti aku kehilangan mendiang istriku dulu. Lebih baik aku kehilangan gadis itu dari pada kamu dan Qaila.”

Ararya memeluk erat tubuh tante Anna dengan kedua mata yang basah. Tante Anna tersenyum sinis, entah apa yang di pikirkan oleh tante Anna. Tapi yang jelas senyuman itu seperti penuh makna dan maksud tersembunyi.

Bibi pembantu yang sedang membersihkan sisa makanan yang berada di atas meja makan keluarga hanya menunduk diam tanpa bersuara sama sekali.

Bibi pembantu yang biasa mengurusi Elakshi berjalan menuju dapur dengan kedua tangan yang memegang gelas dan piring kotor dan meletakkannya di atas tempat pencucian piring.

Bibi pembantu yang biasa mengurusi Elakshi menarik nafas panjang dan duduk di sudut meja yang berada di dapur. Meja khusus buat para pembantu dan penjaga rumah.

“Aku tidak percaya jika tuan Ararya benar-benar sangat membenci nona muda Elakshi. Padahal nona muda Elakshi sangat menyayanginya setulus hati, meskipun tuan Ararya tidak membalas rasa kasih sayang antara anak dan Ayah tapi nona muda Elakshi tetap menyayangi tuan Ararya.”

Ucap bibi pembantu yang biasa mengurus Elakshi kepada teman lainnya mengurus dapur dan rumah.

...Bersambung........

Percakapan Tante Anna dan Ayah

Part 03

______

Waktu terus berlalu selama 3 hari dari kejadian di ruang makan, Elakshi mengurung dirinya di dalam kamar. Tidak keluar, tidak juga bertemu sapa dengan Ibu sambung yaitu tante Anna dan Ayahnya. Makanan selalu di antar sampai ke depan pintu kamar.

Elakshi berdiri di depan cermin besar yang berada di dalam kamarnya. Menyingkap baju yang menutupi luka bakar yang berada di lengan dan bagian paha depan. “Aku seperti monster. Luka bakar ini sangat mengerikan, bagaimana mungkin aku bisa melamar pekerjaan. Apa ada Perusahaan yang ingin menerima orang cacat seperti aku.”

Elakshi mendekatkan wajahnya, memegang pipi yang mulus tanpa noda. “Wajah saja yang cantik, tapi bagian tubuh yang lain seperti Monster. Sangat mengerikan. Pantes saja Ayah sangat membenci kehadiranku, sepantasnya aku saja yang engkau ambil Tuhan.”

Tok!

Tok!

“Elakshi.” Terdengar suara wanita memanggil dari pintu kamar Elakshi.

Elakshi menoleh, menatap pintu kamar. “Itu seperti suara tante Anna.” Elakshi melangkah, mendekati pintu kamar. “Ia. Tante.” Sahut Elakshi membuka pintu kamar miliknya.

klik!

Tante Anna memeluk tubuh Elakshi, membuat Elakshi bingung kenapa memeluk dirinya spontan sambil menangis. “Tante Anna kenapa? Apa Ayah sedang marah kepada tante?”

Tante Anna menyeka kasar wajah yang basah. “Apakah tante boleh masuk sayang? Tante ingin berbicara kepada kamu di dalam.” Tanya tante Anna menatap ke dalam kamar yang terlihat rapih dan bersih.

Elakshi hanya menganggukan kepalanya, mempersilahkan masuk tante Anna. “Masuk saja tante.” Setelah masuk ke dalam kamar, Elakshi mengunci kamarnya agar bisa puas berbicara empat mata dengan Ibu sambungnya yaitu tante Anna.

Tante Anna dan Elakshi sedang duduk di bangku kursi yang tersedia di dalam kamar milik Elakshi. Tante Anna meraih tangan kanan Elakshi, wajah terlihat sendu dengan kedua mata sembab menatap wajah Elakshi. “Sudah 3 hari kamu tidak keluar kamar, apa kamu merasa tersinggung dengan ucapan Ayah kamu?”

Elakshi membuang wajahnya, ia menggeleng pelan. “Tidak. Aku sudah terbiasa dengan ucapan yang selalu terlontar dari Ayah. Aku hanya tidak ingin menambah kekesalan Ayah, dan aku tidak ingin membagi kesialan yang aku miliki saat duduk bersama kalian.” Jawab Elakshi sendu.

“Tante hargai keputusan kamu jika seperti itu. Tapi apa kamu tahu! Jika usaha dan sebagian waralaba yang masih tersisa mengalami kebangkrutan lagi? Kali ini bertambah 30 %, jika di total kan semua itu berjumlah 50%.”

Elakshi berdiri, wajahnya terlihat panik, telapak tangan kanan di letakkan di depan bibir dengan kedua mata yang membulat. Elakshi menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin secepat itu. Dan bagaimana mungkin bisa seperti itu.”

“Tante juga tidak tahu apa penyebabnya, yang jelas Ayah kamu sedang berusaha meminjam modal ke sana dan kemari dengan sisa aset dan harta yang ia punya.” Sahut tante Anna menundukkan kepalanya.

.

.

.

...1 tahun kemudian....

...👍👍...

Waktu terus cepat berlalu, kehidupan yang semakin kritis kini semakin mendekati tahap kehancuran. Setiap detik, menit, pintu rumah Ararya di gedor kuat dari berbagai peminjam uang yang meminjamkan uang mereka kepada Ararya.

Dalam waktu 1 tahun, bukannya keberhasilan atau kemajuan yang di gapai. Malah kebangkrutan dengan sisa usaha yang bertahan 1 cabang kecil. Pendapatan tidak ada, malah hutang yang terus menumpuk di mana-mana untuk menutupi usaha yang masih bertahan.

Ararya dan tante Anna sedang berbicara di dalam kamar mereka, entah sengaja atau tidak. Tante Anna lupa mengunci kamar, membiarkan pintu kamar terbuka sedikit.

“Aku ingin berbicara dengan tante Anna mengenai usaha Ayah yang masih bertahan.” Gumam Elakshi berjalan mendekati kamar Ararya dan tante Anna. Kedua kaki Elakshi terhenti di depan pintu kamar yang terbuka sedikit. Elakshi mundur beberapa langkah menyandarkan tubuhnya di dinding kamar.

Elakshi tidak sengaja mendengar percakapan Ayahnya Ararya dan tante Anna.

Percakapannya seperti ini.

“Suamiku kamu kenapa cemberut seperti ini? Kamu sedang memikirkan soalnya bisnis lagi. Sudah kamu tenang saja, 1 tahun yang lalu saya mendengar akan ada acara pelelangan terbesar yang biasanya di adakan 1 tahun sekali di kota ini. Pelelangan itu tidak meski barang berharga atau benda mewah lainnya, apa pun yang masih terlihat bagus bisa kita ikut sertakan.

Saya juga mendengar akan ada Presdir muda yang kaya raya, sampai Go Internasional hadir di sana di tahun ini. Apa kamu tidak tertarik suamiku. Kita bisa melunasi hutang kita jika kamu bersedia.” Rayu tante Anna lemah lembut.

“Saya sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali anak pembawa sial itu. Jika semuanya bisa berlaku di sana, bagaimana kamu atur dan rayu gadis itu supaya ikut serta. Lagian saya juga sudah tidak sudi melihatnya.” Tandas Ararya.

“Tapi gadis manis itu adalah anak kamu suamiku.”

“Tidak. Dia hanya anak…” sambung Ararya terpotong.

Deg!

Tubuh Elakshi melemah, hidung memerah menahan tangis yang sedari tadi di tahannya. Kedua mata coklat yang indah sudah di penuhi cairan bening yang tak terbendung. Elakshi berbalik badan, berlari meninggalkan kamar Ararya.

Blam!

Elakshi menutup pintu kamar dengan kuat, menyandarkan tubuh yang lemah di pintu kamar yang sudah terkunci rapat. Isak-tangis pecah. “Hiks! Hiks! Hiks!”

Elakshi mendongakkan wajahnya, kedua mata yang berlinang cairan bening yang terus mengalir membasahi wajah mulusnya. “Apa salahku. Kenapa Ayah sangat membenciku, dan ternyata Ibu sambung yang aku pikir baik ternyata sudah merencanakan hal ini dari 1 tahun yang lalu. Semua kebaikan yang di beri tante Anna selama ini hanya sebuah tameng.”

Elakshi berdiri, berjalan mendekati cermin besar yang berada di dalam kamarnya. Tangan menghapus lembut pipi yang basah. Menarik nafas pendek. “Jika itu kemauan kalian, aku akan menurutinya dan aku berharap aku bisa merubah takdirku setelah keluar dari rumah ini. Dan aku harus berpura-pura tidak mendengar apa pun, karena aku yakin sebentar lagi tante Anna akan datang.”

Tok!

Tok!

“Sayang. Apa kamu belum tidur?” teriak tante Anna dari luar pintu kamar.

“Belum.” Sahut Elakshi. Elakshi berjalan membuka pintu kamar.

Klik!

“Ada apa tante?” tanya Elakshi dengan kedua mata yang sembab.

“Apakah tante boleh masuk ke dalam sayang?” seperti biasa, tante Anna tidak ingin berbicara di luar dari kamar Elakhsi.

“Silahkan tante.” Elakshi mempersilahkan masuk tante Anna. Ia memberi ruang untuk mengetahui apa yang akan di bicarakan tante Anna kepada dirinya.

Tante Anna berlutut di hadapan Elakshi. Memegang kedua tangan Elakhsi. Kedua mata sendu, sedikit mengeluarkan cairan bening menatap wajah Elakshi.

“Sayang. Ayah kamu dan tante tidak tahu lagi, bagaimana cara untuk melunasi hutang yang sudah menumpuk yang sulit untuk di lunasi. Tante mendengar akan ada sebuah pelelangan di kota kita tahun ini, 3 hari lagi akan di buka siapa saja bisa ikut serta asal memiliki barang yang berharga dan memiliki jual beli tinggi.

Tapi masalahnya sekarang Ayah kamu tidak memiliki apa pun untuk ikut serta. Tante bingung harus bagaimana, hanya ini jalan satu-satunya melunasi hutang Ayah kamu.”

Elakshi memegang kedua lengan tante Anna. Membuat tante Anna berdiri. “Jika aku punya barang berharga yang bisa di lelang atau di jual dengan harga tinggi aku akan ikut tante. Tapi masalahnya aku tidak punya apa-apa.” Sahut Elakshi dengan tenang berusaha menahan rasa sakit yang ia dengar akan perkataan Ayah dan tante Anna.

Tante Anna memegang bahu Elakhsi, wajahnya terlihat begitu serius menatap wajah Elakshi. “Sebenarnya hanya ada satu cara. Cara itu adalah kamu bersedia ikut serta di dalam pelelangan yang akan di adakan hari lagi. Apakah kamu setuju.” Rayu tante Anna.

Elakshi menaikan bibir atasnya, ternyata benar. Ayahnya tega berbuat seperti itu kepadanya. “Baiklah.” sahut Elakshi tanpa pikir panjang. Elakshi menuruti permintaan Ayahnya dan tante Anna, niatnya hanya satu bertemu dengan orang kaya raya yang dapat merubah takdir hidupnya dan menghentikan ucapan Anak pembawa sial buruk rupa.

...Bersambung........

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!