NovelToon NovelToon

Legenda Sang Monster

Chapter 1. Meninggalkan Klan

Benua Langit, Kota Daun Wangi di wilayah Klan Ling.

"Kakak! ... Kakak!"

Terlihat seorang anak remaja berusia 15 tahun berlari sambil berteriak.

"Tian'er, apa yang terjadi? Mengapa wajahmu bengkak? Siapa yang telah memukulmu?" tanya seorang pemuda yang langsung datang menghampiri dan memeriksa tubuh anak remaja tersebut.

Pemuda itu adalah Ling Han, seorang kultivator jenius dari klan Ling yang juga sebagai kakak sepupu dari anak remaja tersebut.

Sedangkan anak remaja itu adalah Ling Tian, yang kebalikan dari kakak sepupunya. Karena Ling Tian adalah seorang yang tidak berguna, hingga mereka pun menjulukinya sebagai "SAMPAH."

Ling Tian terlahir dengan Meridian yang tersegel. Dia baru bisa berlatih berkultivasi sejak usia 10 tahun, dan saat usianya 15 tahun kultivasinya hanya pada tahap ketiga Bintang Perunggu dan tidak bisa naik lagi.

Sedangkan anak-anak normal lainnya mulai berlatih berkultivasi sejak usia 7 tahun, dan untuk para jenius akan mulai berlatih berkultivasi sejak usia 5 tahun.

Untuk anak-anak normal yang sebaya dengan Ling Tian, kultivasi mereka sekarang berada pada tahap kedelapan Bintang Perunggu. Tetapi bagi mereka yang terlahir dengan bakat yang sangat tinggi, kultivasi mereka sekarang berada pada tahap pertama Bintang Perak. Hampir dua kali lipat dari tingkat kultivasi Ling Tian.

Tingkat kultivasi di Benua Langit di bagi menjadi 9 tingkatan :

- Bintang Perunggu

- Bintang Perak

- Bintang Emas

- Bintang Berlian

- Bintang Bumi

- Bintang Langit

- Bintang Raja

- Bintang Kaisar

- Bintang Saint

Dan untuk tiap-tiap tingkatan itu juga di bagi 9 tahapan. Namun, sejak berakhirnya Era Kehancuran ratusan ribu tahun yang lalu, tidak ada lagi satu orang pun di Benua Langit yang mampu menjadi seorang Saint.

"Aaahhh! Aku di pukuli oleh Jiang Feng dan teman-temannya karena dia melihatku berjalan bersama Nona Wang saat berada di pasar, katanya sampah sepertiku tidak pantas berdekatan dengan Nona Wang," kata Ling Tian sambil meringis kesakitan memegang wajahnya yang bengkak.

Ling Han yang mendengarnya langsung geram, dia paling tidak suka kalau adik sepupunya ini di panggil sebagai sampah. Ling Han pun bergegas ke pasar untuk mencari Jiang Feng.

Sesampainya di pasar, Ling Han melihat Jiang Feng bersama anak-anak klan Jiang lainnya sedang berjalan keluar dari sebuah toko. Ling Han pun langsung menghalangi jalan mereka.

"Mengapa kamu memukuli adikku? Apakah salah kalau dia berteman dengan Nona Wang? Sekarang, berikan penjelasan kepadaku!"

"Ciiihh ... Semua orang telah mengetahui kalau aku terikat perjodohan dengan Wang Bing, tetapi adikmu itu malah mendekatinya. Aku memukulinya untuk memperingatkan dirinya supaya menjauh dari Wang Bing." jawab Jiang Feng sambil mendengus.

"Hmmm, Baiklah! Kalau memang seperti itu, aku juga akan memperingatkan kalian semua untuk tidak menyentuh adikku lagi."

Setelah mengatakan hal itu, tanpa basa basi lagi Ling Han langsung menerjang Jiang Feng dengan tinjunya. Anak-anak klan Jiang lainnya mencoba menghalangi pukulan dari Ling Han, tetapi mereka semua terpental sejauh 3 meter.

Pukulan yang mengandung energi Qi tahap ketiga Bintang Perak bukan tandingan mereka. Jiang Feng juga mencoba menghindari pukulan dari Ling Han, tetapi dengan kecepatan yang di tunjukkan oleh Ling Han, usahanya sia-sia saja.

Kultivasi Jiang Feng juga berada pada tingkat Bintang Perak, hanya saja dia berada satu tingkat di bawah Ling Han yaitu tahap kedua Bintang Perak. Perbedaan pada setiap tahapan seperti langit dan bumi, dan juga tergantung pada keahlian atau teknik bertarung masing-masing kultivator.

Dalam sekejap saja, Jiang Feng dan semua pengikutnya terbaring di tanah dengan keadaan babak belur. Orang-orang yang melihat kejadian itu tidak berani untuk ikut campur walaupun mungkin tingkat kultivasi mereka berada di atas Ling Han.

Karena mereka semua mengetahui bahwa Ling Han adalah jenius yang dikembangkan khusus oleh klan Ling. Berbeda dengan Ling Tian yang hidupnya penuh dengan cacian dan hinaan, bahkan di klannya sendiri dia di kucilkan.

Setelah puas menghajar Jiang Feng dan semua pengikutnya, Ling Han pun melangkah kembali ke kediaman klan Ling. Dia juga kembali memeriksa luka-luka yang dialami oleh Ling Tian, dan segera memberikannya Pil Penyembuh.

Klan Ling telah memberhentikan sumber daya seperti pil untuk Ling Tian. Sebab, orang-orang di klan Ling berpikir bahwa semua sumber daya itu hanya akan terbuang sia-sia bila diberikan kepada Ling Tian.

Jika Ling Tian ingin memenuhi semua kebutuhannya, dia harus mencari sumber dayanya sendiri. Untungnya, ada Ling Han yang selalu menyisihkan sebagian sumber dayanya untuk Ling Tian.

Karena Meridiannya tersegel, semua khasiat pil yang dipakai untuk berkultivasi tertinggal di dalam Dantiannya dan tidak mampu lagi mengalir melewati Meridiannya.

Inilah yang membuat Ling Tian berencana untuk meninggalkan klannya, sebab dia takut mengganggu kultivasi kakak sepupunya jika terus-menerus memberi sebagian sumber daya untuknya.

Dua hari kemudian, Ling Tian telah sembuh dari luka-lukanya. Dia sudah memantapkan hatinya untuk pergi meninggalkan klannya. Di pagi hari, Ling Tian berpamitan kepada kedua orang tuanya dan mengatakan akan pergi bertualang untuk mencari sumber dayanya sendiri.

Ayahnya bernama Ling Sheng dan Ibunya bernama Ling An. Kedudukan keluarga mereka pun hanya biasa-biasa saja dalam klan. Jadi, Ling Tian pun hanya membawa sedikit pakaiannya dalam bungkusan kecil dan juga bekal seadanya untuk perjalanannya.

Dengan berat hati, kedua orang tuanya itu mengizinkan Ling Tian untuk pergi bertualang. Mereka juga berpesan agar Ling Tian berhati-hati dalam perjalanannya.

"Baiklah, aku akan berangkat sekarang. Ayah dan Ibu juga harus berhati-hati dan selalu jaga kesehatan. Jika kak Ling Han mencariku, katakan saja aku pergi keluar untuk jalan-jalan dan menikmati alam," kata Ling Tian tenang.

Setelah berpamitan kepada ayah dan ibunya, Ling Tian pun langsung berlari meninggalkan rumahnya. Dia tidak lagi menoleh sedikitpun ke arah mereka, yang dilakukannya hanya terus berlari meninggalkan kediaman klannya. Ling Tian takut jika dia menoleh, nanti akan membuat tekadnya goyah dan tidak jadi pergi meninggalkan klannya.

Ling Tian terus berlari ke arah selatan selama 1 jam sampai akhirnya dia kelelahan karena energi Qi dalam tubuhnya telah habis. Ia duduk bersila di atas batu untuk mengisi kembali energi Qi-nya yang telah habis tersebut.

Tak terasa 2 jam pun berlalu, energi Qi-nya juga telah kembali terisi penuh lagi. Ling Tian lalu melanjutkan perjalanannya ke arah selatan. Tujuannya adalah Kota Bulan Biru, karena Kota Bulan Biru juga adalah kota terdekat dari Kota Daun Wangi.

Dan juga disana banyak para ahli pengobatan dan ahli meramu pil atau sering disebut sebagai Alkemis. Mungkin saja di kota itu ada Tabib atau pil yang dapat menyembuhkan penyakitnya, hingga dia bisa berkultivasi lagi.

Perjalanan ke Kota Bulan Biru akan membutuhkan waktu selama 6 bulan jika di lakukan dengan berjalan kaki, dan akan memerlukan waktu selama 3 bulan jika menunggangi Kuda.

Lima hari kemudian....

Saat matahari semakin meninggi, Ling Tian pun telah sampai di sebuah desa kecil yang penduduknya hanya sekitar 100 orang saja. Semua rumah di desa ini juga hanya pondok kecil yang beratapkan jerami dan terlihat sangat sederhana.

Ling Tian melihat seorang pria paruh baya berdiri di depan pondoknya dengan pandangan matanya tertuju pada sebuah gunung yang cukup tinggi. Ling Tian segera menghampirinya dan berkata, "Permisi, Paman. Aku ingin bertanya, jalan tercepat untuk menuju Kota Bulan Biru ke arah mana?"

Pria paruh baya itu pun berbalik menatap Ling Tian sejenak, lalu kemudian berkata, "Saya pernah mendengar dari para pedagang yang sering melewati desa ini, bahwa arah terdekat ke Kota Bulan Biru adalah melewati gunung yang ada di sana."

Pria paruh baya itu menunjuk ke arah gunung yang dipandanginya tadi.

"Kata mereka, jika berjalan melalui gunung itu hanya membutuhkan waktu sekitar sebulan lebih untuk sampai ke Kota Bulan Biru. Gunung itu di sebut Gunung Kematian, dan tidak ada yang berani mendekatinya."

"Menurut rumor, banyak hantu jahat yang sering berkeliaran dan juga banyak Binatang Roh tingkat tinggi yang tinggal di gunung tersebut." Lanjut pria paruh baya itu.

Ling Tian mengalami dilema saat mendengar penjelasan dari pria paruh baya tersebut. Jika dia berjalan melalui gunung itu, Ling Tian akan lebih cepat sampai ke Kota Bulan Biru dan berarti dia juga harus mempertaruhkan nyawanya.

Namun bila Ling Tian berjalan melewati jalur yang sering dilalui oleh para pedagang, dia akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai ke Kota Bulan Biru.

Ling Tian juga berpikir, kalaupun dia mengikuti jalan yang dilalui oleh para pedagang tersebut, namun di perjanannya dia bertemu dengan para bandit, maka dia juga akan memiliki resiko kehilangan nyawanya.

"Hmmm...."

Karena kedua jalan sama-sama memiliki resiko kehilangan nyawanya, Ling Tian pun memutuskan untuk berjalan melewati Gunung Kematian.

"Terima kasih Paman, karena telah menjelaskan semuanya untukku. Aku akan memilih berjalan melewati gunung itu," ucap Ling Tian sambil memegang tinjunya untuk memberi hormat kepada pria paruh baya tersebut.

"Baiklah, karena kamu telah memutuskan pilihanmu, aku hanya bisa mengatakan, berhati-hatilah!"

"Iya, Paman!"

Ling Tian pun kemudian berjalan menuju ke arah Gunung Kematian.

Matahari telah terbenam saat Ling Tian sampai di kaki gunung itu. Dia berencana untuk bermalam di tempat tersebut dan akan melanjutkan perjalanannya besok pagi.

**

Dantian adalah mengacu pada sesuatu di dalam tubuh, di mana Qi seseorang terkonsentrasi (Tenaga Dalam). Dantian bertempat 2-3 sentimeter di bawah pusat

Meridian adalah jaringan pembuluh atau saluran dalam tubuh yang dilalui Qi.

Kultivator adalah Praktisi/Pendekar yang berlatih seni bela diri yang mistis, umumnya agar menjadi kuat dan juga untuk meningkatkan umur mereka.

Kultivasi adalah tingkat kekuatan atau Qi yang dimiliki seorang praktisi/pendekar.

Chapter 2. Awal Mula Sang Legenda

Sinar Matahari pagi membangunkan Ling Tian yang tidur di salah satu cabang pohon yang tinggi. Dia tidak berani untuk tidur di tanah karena takut pada binatang buas.

Dari atas pohon, Ling Tian memandang ke arah Gunung Kematian yang di penuhi oleh kabut. Ia terus menguatkan tekadnya agar tidak menjadi ragu untuk berjalan melewati Gunung Kematian yang penuh dengan bahaya.

"Fiiiuuuhhh...."

Menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan kasar, Ling Tian pun melompat dari pohon dan langsung berjalan memasuki Gunung Kematian. Udara segar terasa mengisi paru-parunya saat dia telah masuk ke dalam gunung itu.

Ling Tian berjalan terus ke depan sambil memperhatikan sekelilingnya dan tetap waspada. Semakin ke dalam dia berjalan, pohon-pohon di sekelilingnya juga semakin besar dan semakin tinggi.

Setelah berjalan selama 3 jam, Ling Tian pun merasa kelelahan. Suhu di dalam gunung itu juga berubah menjadi semakin dingin. Dia singgah beristrahat sejenak untuk memulihkan kekuatan fisiknya. Energ Qi-nya masih dalam keadaan penuh, karena yang digunakannya adalah murni kekuatan tubuhnya.

Ling Tian sengaja melakukan hal itu karena

dia takut untuk menggunakan energi Qi-nya. Sebab nanti bila ada bahaya, dia bisa melarikan diri dengan cepat menggunakan kekuatan energi Qi tersebut.

Saat kondisi tubuhnya telah pulih kembali, Ling Tian segera melanjutkan perjalanannya. Dia terus mengambil rute yang lurus kedepan agar tidak tersesat.

Setelah beberapa saat kemudian, insting Ling Tian merasakan adanya bahaya. Nalurinya merasa bahwa ada banyak tatapan mata yang memperhatikannya. Dia pun bersiap-siap mengaktifkan energi Qi nya untuk melarikan diri.

Grrrrr ... Grrrrr

Tiba-tiba dari balik pepohonan, muncul beberapa Serigala Perak yang masih muda mengelilingi Ling Tian.

Serigala Perak yang masih muda adalah Binatang Roh tingkat 1, yang kultivasinya pada tahap keempat Bintang Perunggu. Jika Serigala Perak telah dewasa, kultivasinya berada pada tahap keenam Bintang Perunggu. Dan bila Serigala Perak telah menjadi tua, dia akan mempunyai tanduk di kepala dan kultivasinya berada pada tahap kesembilan Bintang Perunggu.

Kekuatan Binatang Roh juga tergantung dari kekuatan garis darahnya. Semakin tinggi tingkat Binatang Roh, itu berarti semakin tinggi pula kekuatan garis darahnya.

Meskipun Serigala Perak yang sekarang mengelilingi Ling Tian umurnya masih muda, tetapi kemampuannya sudah satu tingkat di atas kultivasinya. Ling Tian merasa saat ini dia mungkin benar-benar akan kehilangan nyawanya, sehingga dia berusaha untuk tidak pernah menurunkan sedikitpun tingkat kewaspadaannya.

Serigala Perak yang berada di depan LingTian tiba-tiba langsung melompat dan menerkamnya. Ling Tian dengan refleks menghindari terkaman serigala itu, tapi lengan kanannya tetap terluka akibat terkena cakar dari serigala tersebut.

Tanpa memperhatikan luka pada lengannya, Ling Tian pun dengan cepat berlari ke depan menggunakan seluruh energi Qi-nya. Para Serigala Perak juga dengan cepat mengejar Ling Tian.

Banyak luka cakar yang terbentuk di bahu dan belakang Ling Tian. Pakaiannya sudah compang-camping tak karuan, darahnya pun terus menetes tanpa henti. Ling Tian merapatkan giginya dengan keras untuk menahan sakit yang ia rasakan, dan tidak berani untuk mengendurkan kecepatannya.

Setelah sekitar 30 menit berlari, Ling Tian tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Di depannya adalah sebuah air terjun yang tebingnya sangat curam. Jika seseorang terjatuh, mungkin dia akan langsung mati.

Ling Tian kini di hadapkan dengan dua pilihan. Pilihan pertama melompat ke dalam tebing dan langsung mati, atau pilihan kedua tetap tinggal dan tersiksa sampai mati karena dicabik-cabik oleh para serigala.

Grrrrr ... Grrrrr

Geraman para serigala membuat Ling Tian bergerak secara otomatis untuk melompat ke dalam tebing yang curam itu.

"Daripada mati perlahan-lahan dan tersiksa, lebih baik mati dalam sekejap," gumam Ling Tian sambil menutup matanya karena tidak berani melihat hal apa yang akan membuat dirinya mati.

BYUR

Suara cipratan terdengar dan Ling Tian merasakan tubuhnya tenggelam ke dalam air yang sangat dingin. Matanya secara spontan terbuka, dan ia melihat dirinya terus meluncur dengan cepat ke bawah air.

Ling Tian mencoba memperlambat kecepatan tenggelamnya, dan ternyata itu berhasil. Kakinya akhirnya menyentuh dasar dengan pelan, lalu dia ingin mendorong dirinya kembali ke atas air. Tapi sebelum Ling Tian melakukannya, ia melihat sebuah cahaya yang sangat terang tepat berada di depannya.

Dengan berenang perlahan, Ling Tian mendekati sumber cahaya tersebut. Dan setelah lebih dekat dengan cahaya itu, dia pun merasa sangat takjub dengan apa yang telah di lihatnya. Ternyata itu adalah sebuah gua di bawah air.

Ling Tian dengan hati-hati masuk ke dalam gua tersebut. Setelah berada di dalamnya, dia pun merasa lebih takjub lagi.

Tidak ada setetes air pun yang masuk ke dalam gua. Dan ada sebuah api kecil yang mempunyai tujuh warna berbeda, melayang tepat di tengah gua. Cahaya yang menerangi seluruh gua itu pun berasal dari api tersebut.

Dengan perasaan yang bercampur aduk antara takut, takjub dan terkejut, Ling Tian tanpa sadar melupakan semua rasa sakit yang dideritanya akibat dari luka yang terdapat pada tubuhnya.

Api kecil itu seperti terbangun dari tidurnya karena merasakan kehadiran Ling Tian.

Wajah Ling Tian langsung berubah pucat, ketika melihat api kecil itu bergerak ke arahnya. Tubuhnya tiba-tiba terasa kaku dan terdiam seperti patung. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah berada dekat dengan tubuh Ling Tian, api kecil tersebut berhenti sejenak lalu berputar-putar mengeliling seluruh tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, api kecil itu pun telah selesai mengelilingi tubuh Ling Tian. Dan anehnya lagi, semua luka yang ada pada tubuhnya sembuh tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.

Ling Tian tiba-tiba bisa menggerakkan tubuhnya lagi, dan dia juga merasakan sensasi yang aneh menjalari setiap lubang pori-porinya. Tubuhnya penuh dengan vitalitas yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

"Terima kasih!" ucap Ling Tian sambil memegang tinjunya lalu membungkuk memberi hormat kepada api kecil yang berada di depannya.

Api kecil itu bergerak naik turun seperti mengangguk mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Ling Tian. Namun, tiba-tiba dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata, api kecil itu langsung menembak masuk ke arah Dantian Ling Tian.

Ling Tian seketika merasakan Dantian-nya menjadi sangat panas. Dia dengan refleks langsung duduk bersila, lalu mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk memeriksa apa yang terjadi pada Dantian-nya tersebut.

Dalam kesadaran spiritualnya, Ling Tian melihat Dantian-nya membesar. Dari ukuran sekecil buah anggur, kini telah menjadi seukuran buah jambu.

Meridian-nya yang tersegel pun langsung terbuka. Energi murni yang sangat besar mengalir keseluruh tubuhnya melalui Meridian-nya. Pori-pori yang tak terhitung jumlahnya tiba-tiba membuka, seolah-olah setiap sel dalam tubuhnya kelaparan karena mereka semua mulai menyerap energi murni tersebut dengan cepat.

BANG

Ledakan teredam datang dari dalam tubuh Ling Tian. Kultivasinya langsung naik menjadi tahap keempat Bintang Perunggu.

BANG ... BANG

Ledakan teredam terus datang dari dalam tubuh Ling Tian, kultivasinya pun terus naik tanpa ada tanda-tanda berhenti. Tahap kelima Bintang Perunggu ... tahap keenam ... tahap ketujuh ... tahap kedelapan ... tahap kesembilan ....

BANG ... BANG ... BANG

Ling Tian tak mampu menghentikannya. Tahap pertama Bintang Perak ... tahap kedua ... tahap ketiga ... tahap keempat ... tahap kelima ... tahap keenam ... tahap ketujuh ... tahap kedelapan ... dan akhirnya terhenti pada tahap kesembilan Bintang Perak.

Hanya dalam sehari kultivasinya telah naik 15 tingkatan, yang hal tersebut juga belum pernah terjadi di dunia Fana maupun di dunia Abadi.

Apa itu jenius? Apa itu super jenius? Tak ada kata yang tepat untuk mengumpamakannya selain menjulukinya dengan kata MONSTER.

Dantian-nya juga telah berubah membesar menjadi seukuran buah semangka. Energi Qi di dalamnya pun sangat murni, lebih murni dari semua kultivator yang ada.

Sebelum Ling Tian tersadar, tiba-tiba banyak gambar berputar-putar di dalam benaknya. Semua gambar-gambar itu adalah tentang ilmu pengetahun Surgawi. Seperti ilmu seni beladiri, teknik berkultivasi, cara meramu pil, cara membuat susunan formasi (Array), cara menempa senjata dan lain-lain.

Dari semua pengetahuan yang di dapatkannya, akhirnya Ling Tian mengetahui bahwa api kecil itu adalah api tingkat tertinggi dari semua jenis api, yang di sebut sebagai API ILAHI.

Api Ilahi di ciptakan oleh Dewa Agung (Pimpinan Para Dewa) dari Tanah (coklat), dari Air (biru), dari Api (merah), dari Angin (putih), dari Emas (kuning), dari Petir (ungu), dari Pohon Dunia (hijau). Dari sinilah asalnya tujuh warna yang terdapat pada Api Ilahi.

Api Ilahi tercipta jutaan tahun yang lalu untuk memusnahkan para iblis yang saat itu berkhianat dan berencana menyerang kerajaan langit. Inilah yang di sebut sebagai Era Para Dewa.

Dan karena itu pula, Ling Tian mengetahui bahwa dia tidak perlu lagi untuk mengkonsolidasikan pondasi kultivasinya. Karena pondasi kultivasinya telah terkonsolidasi secara otomatis setiap kali kultivasinya naik yang di sebabkan Api Ilahi.

Ling Tian pun mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk memeriksa Api Ilahi, dan ternyata Api Ilahi telah menyatu ke dalam tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, Ling Tian mengembalikan kesadaran spiritualnya dan membuka matanya. Dia masih merasa apa yang dialaminya saat ini seperti mimpi. Mengangkat lengannya, dan dengan perintah dari pikiran Ling Tian, dia mencoba mengeluarkan Api Ilahi ke telapak tangannya.

Api Ilahi pun segera muncul dari telapak tangan Ling Tian. Kemudian dengan perintah pikirannya lagi, dia mencoba memasukan kembali api tersebut.

Ling Tian terus mencoba berulang kali sampai akhirnya dia pun terbiasa dengan Api Ilahi yang ada di tubuhnya. Kini ia seperti anak kecil yang sangat gembira mendapatkan mainan baru seperti itu.

***

Terima kasih buat teman-teman yang telah memberikan LIKE dan VOTE nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis Novel ini.

Terima kasih juga buat teman-teman yang telah menghargai karya Author dengan cara memberikan Tip.

Author juga doakan semoga sehat selalu buat semua pembaca, baik itu yang suka maupun yang tidak suka dengan Novel "LSM" ini.

Jika ada Typo dalam setiap chapter di Novel ini, mohon untuk di beritahukan kepada Author agar Author segera merevisinya.

Chapter 3. Teknik Dewa Naga Surgawi

Ling Tian kemudian memperhatikan semua apa yang ada di dalam gua. Dia melihat ada dua kolam yang terbentuk secara alami dan masing-masing lebarnya sekitar 5 meter di sisi kiri gua.

Kolam tersebut berisi air yang berwarna seperti kapur. Energi murni yang keluar dari dalam kolam itu sangat besar. Ling Tian juga melihat beberapa pecahan batu giok es yang sangat bening di sisi kanan gua.

Kemudian ia mendekati kolam itu untuk berniat memeriksanya. Saat Ling Tian sampai di depan kolam, secara otomatis gambar di pikirannya muncul dan menjelaskan tentang air yang ada di dalam kolam tersebut.

Itu adalah Susu Stalaktit berumur 10 ribu tahun, berfungsi sebagai pembersih sumsum pada tulang, juga membantu untuk menaikkan tingkat kultivasi, dan masih banyak lagi fungsi lainnya. Jika dijadikan bahan tambahan dalam ramuan pil, khasiat pil itu akan menjadi berlipat ganda.

Ling Tian tiba-tiba ingin mengolah seni bela diri untuk memperkuat tubuhnya, karena kultivator yang mengolah teknik tubuh lebih kuat daripada kultivator yang mengolah teknik lainnya.

Akan tetapi, kultivator yang mengolah teknik tubuh akan memerlukan sebanyak dua kali lipat sumber daya daripada kultivator yang mengolah teknik lainnya. Inilah yang membuat para kultivator enggan untuk mengolah teknik tubuh.

Ling Tian tidak akan menyerah hanya karena masalah sumber daya.

Dia pun mencari-cari dalam gambar yang ada dipikirannya dan menemukan teknik Abadi tingkat tertinggi yaitu :

"TEKNIK DEWA NAGA SURGAWI."

Dalam Teknik Dewa Naga Surgawi tersebut juga terbagi menjadi tujuh bagian, yaitu :

Tubuh Dewa Naga, Jiwa Dewa Naga, Tapak Dewa Naga, Auman Dewa Naga, Pukulan Dewa Naga, Tendangan Dewa Naga, Langkah Dewa Naga.

Dan yang pertama ingin dilatih oleh Ling Tian adalah teknik Tubuh Dewa Naga.

Tapi untuk mengolah teknik Tubuh Dewa Naga itu, Ling Tian memerlukan sumber daya yang sangat banyak, sekitar tiga kali lipat daripada kultivator yang mengolah teknik lainnya.

"Fiiiuuuhhh...."

Ling Tian hanya bisa menghela napas panjang saat mengetahui banyaknya sumber daya yang akan dia butuhkan.

Ling Tian membuka semua pakaiannya, lalu berjalan masuk ke dalam kolam Susu Stalaktit tersebut. Dia merendam tubuhnya dan hanya menyisakan kepalanya saja untuk dipakai mengihirup oksigen ke dalam paru-parunya.

Kemudian Ling Tian menggunakan teknik Tubuh Dewa Naga untuk menyerap energi murni dari Susu Stalaktit yang ada di dalam kolam. Energi yang sangat besar memasuki tubuhnya, mengalir melalui Meridian dan menempa seluruh tulang-tulangnya.

Proses penempaan seluruh tulangnya sangat menyakitkan. Sumsum pada tulang di murnikan, dan tulang-tulangnya juga di hancurkan, kemudian dibentuk kembali seperti semula. Proses itu harus terus berulang sebanyak 1000 kali untuk mencapai Tulang Naga Perunggu.

Setiap hari, proses penempaan tulangnya di lakukan sebanyak 50 kali dan setiap prosesnya membuat Ling Tian berteriak menjerit kesakitan. Tak terasa air matanya mengalir menahan penderitaan yang teramat sangat menyakitkan tersebut.

Dua puluh hari kemudian, saat malam di Gunung Kematian....

ROAR

Terdengar suara auman naga dari dasar kolam air terjun hingga mengagetkan seluruh penghuni Gunung Kematian. Semua Binatang Roh segera lari untuk bersembunyi.

Sementara itu di dalam gua, Ling Tian masih terus menyerap energi di dalam kolam.

BANG

Ledakan teredam datang dari dalam tubuh Ling Tian. Energi yang sangat besar berputar-putar di sekitar tubuhnya, kemudian perlahan-lahan menghilang.

Kultivasinya berhasil menerobos ke tahap pertama Bintang Emas. Dantian-nya juga semakin membesar dan luasnya kini seperti sebuah tong air. Proses penempaan tulangnya pun telah mencapai Tulang Naga Perunggu.

Jika dia akan melanjutkan proses penempaan tulangnya ke tingkat Tulang Naga Perak, proses penempaannya akan naik menjadi 2000 kali.

Ling Tian pun terlihat belum ada tanda-tanda untuk berhenti menyerap energi dalam kolam tersebut.

Proses penempaan tulangnya terus berlanjut, dan kecepatan penempaannya menjadi dua kali lipat. Setiap hari dia harus melalui 100 kali proses penempaan yang sangat menyakitkan.

Sepuluh hari lagi telah berlalu....

BANG

Terdengar kembali ledakan teredam dari dalam tubuh Ling Tian. Dia akhirnya menerobos lagi ke tahap kedua Bintang Emas. Dantian-nya kini seluas dua tong air dan proses penempaan menuju Tulang Naga Perak juga telah dia lalui sebanyak 1000 kali.

Tinggal 1000 kali lagi hingga mencapai jumlah 2000 kali penempaan, untuk menuju Tulang Naga Perak

Kini energi di dalam kolam telah habis semuanya dan warna airnya juga berubah menjadi hitam. Akhirnya Ling Tian menghentikan kultivasinya, lalu berjalan keluar dari kolam itu.

Kulit Ling Tian kini telah menjadi putih seperti giok, juga sangat halus dan lembut. Wajahnya pun menjadi sangat tampan dan ini juga adalah salah satu khasiat dari Susu Stalaktit.

Ling Tian berbalik untuk melihat kolam Susu Stalaktit yang masih penuh dengan energi, lalu ia menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau menghabiskan sumber daya yang sangat penting ini untuk dirinya sendiri.

Ling Tian juga akan memberikan sebagian kepada orang tuanya dan kepada Ling Han. Sebagian lagi akan dijualnya atau ditukarkan dengan sumber daya yang berguna untuk kultivasinya, karena setiap tetes dari Susu Stalaktit akan sangat mahal harganya.

Sekarang Ling Tian akan melanjutkan mengolah Teknik Jiwa Naga untuk memperkuat jiwanya dan kekuatan spiritualnya.

Ling Tian kemudian mengendalikan Api Ilahi dan mengontrol suhu panasnya ke tingkat terendah. Setelah itu, dia mulai secara perlahan menempa jiwanya. Proses penempaan jiwa bahkan lebih menyakitkan daripada proses penempaan tulang. Ling Tian merasakan nyawanya seperti akan menghilang.

Proses penempaan jiwa pada Ling Tian adalah dengan cara memanggang jiwanya sendiri. Jika dia menaikkan sedikit saja suhu panas dari Api Ilahi, mungkin ia benar-benar akan mati.

Ling Tian dengan tekadnya terus bertahan demi memperkuat jiwanya dan kekuatan spiritualnya. Sebab kekuatan spiritual sangat dibutuhkan oleh para kultivator. Mereka akan dapat merasakan dari jarak yang jauh semua benda atau makhluk hidup yang mengeluarkan aura dengan kekuatan spiritual tersebut.

Waktu terus berlalu, tak terasa sudah sebulan lagi sejak Ling Tian menempa jiwanya.

Ling Tian akhirnya membuka matanya. Tatapannya lebih tenang dan dalam. Kekuatan spiritualnya telah bertambah padat. Area dalam cakupan indera spiritualnya telah mencapai 25 km. Dan juga karena mengolah Teknik Jiwa Naga, kekuatan spiritualnya tidak akan terdeteksi oleh kultivator lainnya.

Dia pun bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke sisi kanan gua dan mengambil sebuah bongkahan batu giok es. Ling Tian akan mencoba membuat sebuah Cincin Ruang dari giok tersebut.

Dengan bantuan Api Ilahi, proses menghaluskan dan menempa batu giok menjadi sebuah cincin hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Lalu dia pun mencari gambar pengetahuan tentang Formasi Ruang di dalam pikirannya.

Setelah mendapatkannya, Ling Tian segera memasukkan kesadaran spiritualnya ke dalam cincin dan akan mencoba mengukir Formasi Ruang pada cincin tersebut. Proses mengukir sebuah Formasi memerlukan konsentrasi yang sangat tinggi dan sangat melelahkan, itu juga membutuhkan kekuatan spiritual yang kuat.

Karena baru pertama kalinya mengukir Formasi, Ling Tian baru bisa menyelesaikannya selama 2 jam. Ruang di dalam cincin itu pun masih terbilang kecil karena hanya seluas 30 meter saja.

Kekuatan spiritual Ling Tian masih sangat terbatas, sehingga dia hanya mampu membuat Cincin Ruang yang seluas itu. Cincin Ruang juga hanya dapat dipakai untuk menyimpan benda-benda yang tak bernyawa.

Ling Tian mengambil lagi sebuah bongkahan batu giok. Dia akan berlatih untuk membiasakan dirinya mengukir Formasi.

Dalam percobaan kedua kalinya, Ling Tian membutuhkan waktu 1 jam untuk dapat membuat sebuah Cincin Ruang. Kemudian dia terus melanjutkan dengan percobaan ketiga dan itu membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikannya.

Kekuatan spiritual Ling Tian telah terkuras habis, hingga dia pun sangat kelelahan setelah membuat 3 buah Cincin Ruang. Dia kemudian duduk bermeditasi untuk mengembalikan kekuatan spiritualnya lagi.

Setelah 1 jam bermeditasi, kekuatan spiritual Ling Tian telah kembali ke puncaknya. Dia pun memakai salah satu Cincin Ruang itu dan memasukkan kedua cincin yang lain ke dalamnya.

Ling Tian lalu bangkit dan mengambil pakaian yang berada dalam bungkusan dan memakainya. Kemudian ia pun mendekati kolam Susu Stalaktit dan memasukkannya ke dalam Cincin Ruangnya.

Setelah semuanya selesai, Ling Tian segera bergegas keluar dari gua dan berenang dengan kecepatan tinggi ke atas kolam air terjun. Sesampainya di atas, dia lalu mengeringkan pakaiannya yang basah dengan energi Qi-nya.

Yang akan di lakukannya sekarang adalah berlatih teknik bela diri lainnya dari Teknik Dewa Naga Surgawi.

***

Terima kasih buat teman-teman yang telah memberikan LIKE dan VOTE nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis Novel ini.

Terima kasih juga buat teman-teman yang telah menghargai karya Author dengan cara memberikan Tip.

Author juga doakan semoga sehat selalu buat semua pembaca, baik itu yang suka maupun yang tidak suka dengan Novel "LSM" ini.

Jika ada Typo dalam setiap chapter di Novel ini, mohon untuk di beritahukan kepada Author agar Author segera merevisinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!