NovelToon NovelToon

The Indigo Twins

Hari pertama masuk sekolah (Telah Revisi)

Pagi yang indah seindah dunia orang yang bahagia, pagi ini gadis berkulit sawo matang, mata coklat, bibir ranum dengan rambut hitam terurai bernama Aliza Qiensyah berangkat sekolah di SMA kebangsaan bersama dengan kembarannya, Alisa Qiensyah.

Hari ini adalah hari pertama mereka sekolah menengah atas.

Dengan berboncengan kedua anak kembar itu berangkat sekolah, jarak tempuh memakan waktu sekitar 30 menit.

Motor yang di setir Alisa melaju dengan kecepatan normal tiba-tiba-

Ciiiiiiiit...

Tiba-tiba Alisa mengerem mendadak, Aliza tersentak kaget saat motor berhenti tanpa aba-aba sebelumnya.

"Kenapa sa, kok kamu ngerem mendadak?" tanya Aliza kaget.

"Liat, di depan ada ular" ucap Alisa.

Aliza tertegun menatap seekor ular sawah yang melintas di jalan desa Kamboja yang sepi. DI kanan dan kiri di tumbuhi pohon dan pohon.

Kedua anak kembar itu ternganga melihat ular yang begitu panjang dengan ukurannya begitu besar. Di perkirakan ular sawah itu berasal dari hutan yang ada di dekat tempat tinggal mereka.

"Gimana ini, kita bisa telat kalau diam aja" risau Alisa sebab ular itu begitu lambat dalam menyebarang jalan.

"Tunggu saja dulu, nanti ular itu juga akan pergi" sahut Aliza.

Dengan pelan-pelan ular itu masuk ke dalam hutan di seberang jalan sebelah kanan dan tak lagi terlihat.

"Ular itu sudah pergi, ayo jalan lagi" suruh Aliza.

Alisa tancap gas, menunggu ular itu pergi telah membuang banyak waktu, Alisa harus segera sampai di sekolah sebelum terlambat.

Setelah memakan cukup lama, akhirnya kedua anak kembar itu tiba di sebuah sekolah yang menjulang tinggi dan merupakan salah satu sekolah terbesar di kota A.

Sekolah SMA kebangsaan itu memiliki murid beribu-ribu, banyak anak dari kota maupun desa yang mengenyam pendidikan di sana demi mengejar cita-cita.

"Ayo kita masuk sa, sebelum keburu telat" ajak Aliza di balas anggukan oleh Alisa.

Kaki kedua anak kembar melangkah masuk ke dalam sekolah SMA kebangsaan, di mana ada ribuan orang yang memenuhi halaman sekolah, entah itu senior mereka maupun junior seperti mereka.

"Ini kita ke mana lagi, kita masih belum milih jurusan, kita mau nanya ke siapa, kita gak punya teman di sini?" bingung Alisa.

Di kanan dan kiri tak ada yang Alisa kenali, hanya adik sekaligus saudara kembarnya yang ia kenal di antara ribuan orang.

"Kita ke Mading aja yuk, lihat pemberitahuan, mungkin aja nanti kita dapat petunjuk dari sana" usul Aliza.

"Yuk" setuju Alisa.

Kakak beradik itu berlari ke arah Mading sekolah yang ada beberapa murid baru sama seperti mereka di sana..

Aliza membaca tulisan yang ada di Mading."Oh jadi sebelum ke kelas kita di kumpulin menjadi satu, di salah satu ruangan buat nentuin jurusan apa yang mau kita pilih"

Kepala Aliza manggut-manggut membaca sekilas informasi yang tertera di Mading.

"Tunggu apa lagi, ayo kita ke sana" ajak Alisa tak sabaran.

Aliza dan Alisa berlari mencari ruangan yang di maksud di Mading. Setelah tiba di sana ternyata telah ada banyak murid-murid baru yang memenuhi kelas.

Dua anak kembar itu bingung harus melakukan apa, alhasil mereka hanya berdiri di tempat.

"Duduk di sebelah mana ini, depan atau belakang?" Aliza meminta pendapat.

Alisa mulai berpikir."Kalau duduk di paling belakang bakal lama keluarnya, lihat noh banyak banget murid barunya, lebih baik duduk di paling depan aja gimana?"

"Boleh juga"

Mereka pun mengambil duduk di barisan paling depan yang kebetulan ada bangku kosong.

Kebisingan kelas terdengar, semua mulut para murid baru saling melempar pertanyaan pada teman sebangku yang masih asing atau yang sudah saling kenal.

Tiba-tiba kebisingan terhenti kala seorang guru, berumur sekitar 38 tahunan masuk ke dalam kelas.

Dengan senyum sumringah ia menyapa para murid."Selamat pagi anak-anak"

"Pagi Bu" jawab mereka bersemangat.

"Perkenalkan nama saya Mariska, kalian bisa panggil Bu Riska. Sebelumnya saya ke sini hanya mau menyampaikan informasi kepada anak-anak baru yang akan menempuh pendidikan di SMA kebangsaan ini, bahwasannya kalian di haruskan memilih jurusan terlebih dahulu"

"Ini adalah formulir pendaftarannya, silahkan di isi terlebih dahulu"

Bu Riska membagikan formulir itu satu persatu pada semua anak yang berada di ruangan yang sama dengannya.

Formulir itu berada tepat di depan Aliza, tanpa banyak bicara gadis yang sejak kecil sangat berambisius itu mengisi formulir.

"Za kamu milih jurusan apa, IPA IPS atau Bahasa?" tanya Alisa yang tetap diam di saat yang lain pada memilih jurusan masing-masing.

"IPA lah, dari awal kan aku pengennya ngambil jurusan IPA"

"Terus aku gimana?" bingung Alisa meminta pendapat.

"Terserah kamu mau milih jurusan yang mana, kalau mau sama kayak aku juga gak apa-apa, kalau milih jurusan lain juga boleh"

Alisa mulai berpikir untuk mengambil keputusan."Kalau milih jurusan Bahasa sih aku malas menghafal bahasa asing yang keseleo itu, kalau aku milih jurusan IPA fisik terluka alias fisikanya itu yang tidak bisa di ajak bkompromi, tepaksa deh aku milih jurusan IPS aja yang gampang dan gak ribet"

"Terserah mu, aku udah selesai nih, ayo kita kumpulin"

"Tunggu bentar, aku mau isi dulu" secepat kilat Alisa mengisi formulir pendaftaran itu.

"Gimana anak-anak apa sudah selesai?" tanya Bu Riska.

"Sudah Bu" jawab mereka.

"Sini kumpulin" titah Bu Riska.

Satu persatu murid-murid maju untuk mengumpulkan formulir pendaftaran yang telah mereka isi.

"Sementara sebelum di tetapkan ruang kelas kalian yang akan menjadi tempat untuk kalian belajar, silahkan istirahat terlebih dahulu. Tapi ingat jangan sampai kalian mengganggu kakak kelas kalian yang sedang belajar, mengerti semua" peringatan Bu Riska.

"Mengerti Bu" balas mereka.

Setelah mendengar hal itu Bu Riska kemudian keluar dari dalam kelas di susul oleh mereka semua.

Di ruangan besar itu kosong, seorang pun tak ada yang tetap stay di dalam.

"Kita kemana ini, kita tidak punya teman yang mengenal kita di sini?" kebingungan Alisa.

Bangunan megah SMA kebangsaan belum sepenuhnya mereka ketahui ada apa saja di dalamnya, banyak hal yang menjadi kesulitan mereka untuk menemukan perpustakaan, kantin dan lain sebagainya. Di tambah lagi mereka tak mengenal seorang pun yang dapat memecahkan masalah mereka.

"Hei nona, kau itu berasal dari desa, mana ada orang yang mengenal mu, bahkan di sini itu hanya kita berdua yang berasal dari desa Kamboja, kamu tau kan kalau SMA ini jauh sekali dari tempat tinggal kita" ucap Aliza menyadarkan Alisa.

"Terus kita ini kemana dong?" makin bingung Alisa.

"Udah berdiri aja di balkon, gak usah kemana-mana, kalaupun kita mau ke kantin, kita gak tau arahnya, mau nanya malu, pasrah aja kayak gini dulu" saran Aliza.

"Baiklah" pasrah Alisa.

Mereka berdua berdiri di balkon bagaikan patung, mata mereka melihat anak-anak yang berada di bawah.

"Eh itu bukannya anak yang bisa lihat setan bukan sih, soalnya sepupu aku duluannya sekelas sama mereka pas SMP" suara anak-anak yang bergosib terdengar di telinga Alisa dan Aliza.

"Iya itu memang mereka, aku kenal banget wajah mereka, aku sudah tau kalau mereka berdua itu anak indigo" jawab temannya.

"Iih ngeri tau, ayo kita ke sana aja, sepertinya mereka berdua itu di temani makhluk halus mangkanya aku jadi merinding" ajak anak itu.

"Iya aku juga merinding, ayo kita pergi saja" setuju temannya.

Raut wajah masam tampak jelas di wajah anak kembar yang sedari kecil memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk halus.

Alisa menghela nafas."Sia-sia kita sekolah jauh-jauh, ujung-ujungnya kelebihan kita di ketahui juga"

"Aku kan maunya sekolah di tempat di mana gak ada orang yang tau rahasia terbesar kita, boro-boro itu terjadi. Gak nyampe sehari aja orang-orang udah pada tau, sial banget nasib kita" imbuh Alisa sebal.

"Nasib-nasib, andai saja kita sekolah di luar negeri mungkin gak ada yang akan kenal sama kita" sahut Aliza.

Anak kembar itu meratapi nasib, kelebihan mereka yang mampu berinteraksi dengan makhluk halus secara face to face memiliki dampak positif dan juga negatif.

Dari segi positif dengan adanya indera keenam mereka dapat menolong orang yang sedang kesusahan. Tapi dari segi negatif mereka sulit punya teman, sebab orang-orang malah menjauhi mereka setelah mengetahui kelebihan mereka.

Tak segan-segan orang-orang menghina, mencaci maki mereka hingga membuat mental mereka down parah.

Dengan tatapan kosong mereka menatap lapangan, waktu luang ini tidak dapat mereka manfaatkan dengan baik.

Teeeeett

Bel berbunyi, para murid baru masuk kembali ke ruangan itu. Di mana telah ada seorang guru yang merupakan kepala sekolah bernama Bu Riska berdiri di depan mereka.

"Oke anak-anak ruang kelas kalian sudah tertera di Mading depan, silahkan di lihat dan nanti langsung cari tempat duduk karena akan ada wali kelas kalian yang mengisi jam terakhir" ucap Bu Riska.

Semua murid mengangguk, dengan berbondong-bondong mereka mendatangi Mading demi mencari ruang kelas baru mereka.

"IPA A1, hmm jadi itu ruang kelas ku" Aliza membaca tulisan yang ada di Mading, senyum manis terukir indah, setelah berdesak-desakan cukup lama akhirnya ia menemukan ruang kelas barunya.

"Za aku ada di IPS B3" tutur Alisa saat akhirnya ia dapat menemukan kelasnya juga.

"Oh ya, sana kamu ke kelas IPS, aku mau ke kelas IPA dulu, nanti kita ketemu di parkiran aja"

"Baiklah"

Alisa berlari ke kelas IPS di mana kelasnya berada sementara Aliza berjalan ke kelas IPA, tak lama dari itu ia pun tiba di sana.

Tanpa banyak bicara Aliza duduk di bangku barisan paling depan yang kosong, ia menunggu wali kelas yang di kabarkan akan mengisi jam terakhir.

"Aku boleh duduk di sini gak?" tanya seorang pemuda bermata elang, rambut acak-acakan dengan coolnya berdiri di depan Aliza.

Aliza mendongak lalu menatap pemuda tampan tersebut, kemudian menjawab."Boleh"

Pemuda yang tidak di ketahui identitasnya duduk di sebelah Aliza. Aliza merasa grogi, seumur-umur baru pertama kali ia duduk dengan lawan jenis. Biasanya Alisa lah yang duduk di sebelahnya mulai dari TK, SD, hingga SMP.

Pemuda itu mengeluarkan tangan."Angkasa, itu nama ku"

Ragu-ragu Aliza menjabah tangannya di sertai senyum kikuk."Aliza"

Detak jantung Aliza entah mengapa berdetak kencang jauh dari kata normal, sungguh kali ini ia benar-benar grogi, saking groginya Aliza sampai berkeringat dingin.

Guru masuk ke dalam kelas lalu perkenalan terjadi hingga waktu jam terakhir selesai. Jumlah murid dalam 1 kelas yang sama dengan Aliza adalah 40 orang, silih berganti mereka berkenalan di depan.

Teeet

Suara bel pulang berbunyi nyaring hingga terdengar seisi sekolah.

"Ibu akhiri dulu kurang lebihnya mohon maaf, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" salam Bu Fifi, wali kelas Aliza.

"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" jawab murid-murid begitu bersemangat.

Bu Fifi keluar dari dalam kelas dan kembali ke kantor. Anak-anak yang sekelas dengan Aliza membubarkan diri dari dalam kelas.

"Ayo ke parkiran" ajak Angkasa.

"Iya ayo" setuju Aliza.

Setibanya di parkiran sudah ada orang yang berwajah sama dengan Aliza yang membuat Angkasa mematung sesaat.

"Loh kok sama, kalian kembar?" terkejut Angkasa ketika melihat Alisa dan Aliza yang berwajah sama.

"Iya kami kembar, dia Alisa saudara kembar ku" jawab Aliza.

"Hai nama ku Alisa, kamu siapanya Aliza, pacarnya ya" tebak Alisa tanpa mengontrol pertanyaannya terlebih dahulu.

"Teman lah masa pacar, kamu ini gimana" Aliza melototkan mata, pertanyaan yang di lempar Alisa di luar nalar.

"Tak kirain aja, aku cuman nebak doang gak tentu benar kan" tumpal Alisa tak merasa bersalah sedikitpun.

"Terserah, aku gak peduli. Ayo kita pulang aja, nanti bunda marah kalau kita gak pulang-pulang" ajak Aliza mengalihkan topik.

"Gak akan kok, bunda pasti berada di restoran, gak mungkin di rumah, jangan khawatir, bunda gak akan ngamok. Mbak Rinda gak akan ngadu macem-macem kok, dia gak akan berani" berani jamin Alisa.

"Aku mau ke restoran setelah ini, aku mau bantuin bunda, ayo pulang aja" ajak Aliza.

"Males lah za ke restoran mulu, gak di bayar pun" keluh Alisa.

"Di bayar lah, kita bisa minta gaji nanti, ayo pulang. Angkasa kita duluan, bye" pamit Alisa.

"Iya aku juga mau pulang bye" balas Angkasa.

Kedua anak kembar itu berlalu meninggalkan sekolah tempat yang akan mereka datangi setiap hari untuk menimba ilmu.

"Za tadi itu benaran teman kamu?" tanya Alisa kembali memastikan.

"Iya lah masa laki aku, kamu ini gimana sih, kok gak percayaan banget, aku aja sama dia baru ketemu masa sudah punya hubungan aja, kan gak wajar" geleng-geleng kepala Aliza

Mood Alisa benar-benar tak dapat di tebak, bisa-bisanya tadi ia melempar pertanyaan yang membuat kecanggungan terjadi.

"Tak kirain gitu, kamu jangan marah dulu, aku kan cuman nanya doang" jawab Alisa.

"Ya ya ya, kita ini langsung ke rumah apa langsung ke restoran aja?"

"Restoran aja biar nanti kita pulang bareng ayah sama bunda, kalau langsung ke rumah aku pasti gak akan mau ikut kamu ke restoran" sahut Alisa.

"Iya karena kerjaan mu molor terus!" tutur Aliza.

"Ya iyalah, tidur itu hal yang paling tenang" ucap Alisa.

"Gak sekalian tidur untuk selamanya aja" ujar Aliza.

"Enak aja, aku masih mau hidup, gak mau mati dulu" tak terima Alisa.

"Iya, sstt jangan berisik, ayo cepat bawa aku ke restoran" titah Aliza.

"Iya" Alisa melajukan motor menuju restoran.

Setelah sekitar 15 menitan akhirnya mereka sampai di restoran.

"Bunda ayah" sapa mereka dengan girang.

Seorang wanita bernama Diana Sari Qiensyah, usia sekitar 35 tahun terkejut melihat dua anak gadis yang berlari memanggilnya.

"Loh kok ke sini, gak pulang dulu ke rumah" terkejut bunda.

"Enggak Bun, kita langsung ke sini aja biar nanti kita pulang bareng kalian" jawab Alisa.

"Ya sudah sana kalian ganti baju gih" suruh seorang pria bernama Rangga, yang usianya kira-kira 37 tahun yang merupakan ayahanda Alisa dan Aliza.

"Baik ayah" sahut keduanya.

Mereka berganti baju, setelah selesai baru mereka mulai membantu ayah dan bunda yang sibuk mengurus restoran karena hari ini banyak sekali pengunjung yang berdatangan.

Sosok perempuan misterius

Angkasa anak bungsu keluarga bermarga Argadinata tiba di mansion mewah. Anak kelomerat yang sedari kecil tinggal di luar negeri dan menempuh pendidikan di sana, tapi kali ini Angkasa ingin mengenyam pendidikan di Indonesia.

"Loh kok mama sama papa ada di rumah, tumben mereka gak ke kantor, ada angin apa ini. Tumben-tumbenan mereka berada di rumah jam segini, pasti ada apa-apa ini, aku harus waspada" gumam Angkasa.

Angkasa melangkah menaiki tangga, kamarnya berada di lantai 2.

Angkasa duduk di meja makan bersama keluarganya, segala macam hidangan tersaji di meja makan.

"Kamu milih jurusan apa sa?" tanya pria berjas hitam, CEO PT Citra Purnama, salah satu orang berpengaruh di negeri ini bernama Azril Argadinata.

"IPA pa" jawab Angkasa.

"Kamu lebih baik ikut mama sama papa aja keluar negeri 2 hari lagi, kamu sekolah di sana saja, jangan di sini gimana" saran Lani, ibu Angkasa.

"Enggak mau ma, aku sekolah di sini saja, mama sama papa kalau mau keluar negeri silahkan, aku gak mau ikut" tolak Angkasa.

Niat Angkasa yang ingin menetap beberapa tahun di Indonesia begitu gigih, tak akan pernah Angkasa mau keluar negeri sebelum lulus dari bangku SMA.

"Kamu mau tinggal bareng siapa di sini, gak ada eyang di sini" khawatir Lani.

Meninggalkan seorang anak bungsunya di negeri ini begitu risau di hati wanita bernama Lani yang berusia 35 tahun itu.

Apalagi Angkasa adalah anak kolomerat yang di sembunyikan oleh keluarga, sebab orang tua Angkasa tidak mau orang-orang tau kalau Angkasa anak bungsu mereka.

Ancaman dari musuh akan besar jika sampai semua orang tau siapa anak-anak dari keluarga bermarga Argadinata.

"Sendiri, aku bisa kok ma jaga diri, aku sudah besar, mama gak usah khawatir sama aku" jawab Angkasa.

"Gak bisa, kamu harus ikut sama mama dan papa, di luar negeri itu sekolahannya lebih bagus dari pada di sini, fasilitas oke" tante Lani berusaha membujuk Angkasa buat ikut keluar negeri.

"Pokoknya aku gak mau ikut mama sama papa, aku mau sekolah di sini saja titik" tegas Angkasa.

"Gak bisa, kamu harus ikut mama sama papa keluar negeri, kamu gak boleh batah apa yang mama katakan, kamu jangan jadi anak durhaka, kamu harus nuruti keinginan mama" tegas tante Lani tidak mau kalah.

"Tapi ma, aku gak mau tinggal di luar negeri, sudah cukup TK, SD, SMP ku di luar negeri terus, bosan aku bergaul dengan orang-orang bule itu, lebih baik aku tinggal di indo aja, di sini suasana sesuai dan nyaman, plis ya ma aku mau tinggal di sini saja, ada bi Ipah kok yang akan ngurus semua keperluan aku, mama tidak usah khawatir" mohon Angkasa.

"Gak boleh, kamu harus ikut mama sama papa, titik gak pake koma, dua hari lagi waktu kamu di negara ini" jawab tante Lani

Angkasa mengerucutkan bibirnya, tanpa menjawab dia langsung meninggalkan meja makan.

"Dasar anak itu, kenapa dia malah pergi begitu saja" tante Lani memandangi punggung Angkasa yang masuk ke dalam kamar eyang.

"Eyang udah minum obat" eyang menoleh ke arah Angkasa.

"Udah nak, kamu udah pulang?" eyang melihat Angkasa yang mendekat.

"Udah dari tadi eyang" jawab Angkasa.

"Kenapa wajah kamu manyun seperti ini, ada apa nak?" penasaran eyang.

"Eyang mama sama papa mau ngajak aku keluar negeri, aku gak mau berada di sana, aku sudah bosan dengan lingkungannya, bagaimana ini eyang, aku gak mau ke sana" bingung Angkasa.

"Kamu yang sabar nak, orang tua kamu itu melakukan ini semua juga demi kebaikan kamu, kamu harus turutin ya" jawab eyang.

"Tapi eyang, aku gak mau berada di sana, baru aja aku merasakan kehidupan sekolah yang aku sukai, tapi hari ini aku kembali dengar berita tidak baik yang bisa mengganggu kesenangan aku" tolak Angkasa yang sudah tak betah tinggal di luar negeri.

"Kamu yang sabar saja, cuman tiga tahun saja, itu cuman sebentar" eyang mengusap punggung Angkasa untuk menenangkannya.

"Tiga tahun itu lama eyang" jawab Angkasa dengan wajahnya yang masih manyun.

"Sudah kamu jangan sedih, sana kambli ke dalam kamar gih, gak udah mikirin hal ini dulu" suruh eyang.

"Baik eyang" jawab Angkasa.

Angkasa meninggalkan eyang sendirian di dalam kamar.

Di sisi lain.

"Ayo pulang, udah malam ini, anak-anak juga besok sekolah, nanti ngantuk di kelas" ajak ayah.

"Iya ayo, ayo anak-anak masuk ke mobil" ajak bunda.

Kami berdua masuk ke dalam mobil.

Bunda melihat ke arah kami dari kaca."Gimana sekolahnya seru?"

"Seru-seru aja bun, di seru dikit biar bisa di bilang seru" jawab Alisa.

"Loh kok jawabnya gitu, memang ada apa di sekolahan?" penasaran bunda.

"Belum apa-apa aja kelebihan kita udah di ketahui sama anak-anak bun, mereka ada yang genali wajah kita, mangkanya kita kek nyesel sekolah jauh-jauh" jawab Alisa.

"Kasihan anak bunda, kalian harus semangat, ini itu pilihan kalian, kalian harus terima, suruh siapa dari awal kalian mau masuk sekolah itu" prihatin bunda.

"Iya bun kami terima kok, bunda jangan khawatir, kita siap dengan apa yang kita putuskan, inilah dunia gaib yang telah memerangkap kita berdua" jawab Alisa.

Ayah melirik kami dari kaca."Yang penting itu tidak ada yang membully kalian itu aja, kalau ada yang membully itu bahaya"

"Enggak akan kok ayah, kita gak akan tinggal diam kok ya kan za?" Alisa melirik ke arah ku.

"Iya"

Hening, tak ada lagi percakapan yang kami lakukan setelah itu.

Mobil terus melaju sampai akhirnya mobil ini masuk ke dalam jalanan desa.

"Siapa itu sa?"

"Enggak tau juga" jawab Alisa.

Sosok perempuan berpakaian putih dengan senyuman manisnya berdiri di pinggir jalan seperti menunggu kedatangan kami.

Aku menatapnya dengan tatapan bingung karena selama ini aku tidak pernah melihatnya di desa ini.

Alisa memperhatikan sosok itu dengan seksama."Kamu kenal gak za?"

"Enggak sama sekali, aku gak tau dia, kamu jangan nanya aku"

Bunda melihat ada yang aneh pada kami berdua."Ada apa kok kalau bisik-bisik kayak gitu?"

"Gak ada apa-apa kok bun, kita cuman lagi membahas sesuatu yang rahasia dan tidak boleh di beritahu pada orang-orang termasuk bunda" jawab Alisa.

"Ooh udah main rahasiaan ya, awas saja gak akan bunda izinin kalian berpetualang dengan mereka yang tak kasat mata, biar kalian tau rasa" ancam bunda.

"Ish bunda ini kenapa garang sekali, gak bisa gitu ayah cariin ibu yang baik, penyayang, lemah lembut, lah ini macam singa saja" ayah hanya tersenyum mendengar ucapan Alisa.

"Eh tanpa bunda, kalian berdua ini gak akan lahir, enak saja kalian ngomong seperti itu, sebagai hukumannya bunda akan potong uang jajan kalian" tak terima bunda yang di katain seperti itu.

"Inalillahi wa innailaihi rojiun, tega sekali bunda ini" jawab kami kompak.

"Bodo amat, suruh siapa kalian ngatain bunda" bunda masih marah sama kami ia masih tak mau mencabut keputusannya.

"Tega banget bunda ini, gimana sih ayah ini, kenapa gak nyari ibu yang baik buat kita gitu" Alisa menyalahkan ayah dalam hal ini.

"Bagaimana lagi, orang dapatnya seperti itu, kamu harus terima, dia itu bunda kamu juga, gimana sih kok ayah yang di demo" jawab ayah.

"Kan ayah yang salah" Alisa masih terus menyalahkan ayah.

Wuushhh

Tiba-tiba angin kencang lewat dengan cepat.

Kami berdua diam tak bergeming.

"Kok senyap, ada apa ini?" bunda semakin merasa aneh pada kami berdua.

"Ada hantu ya" tebak ayah.

"Enggak kok bun" jawab kami.

"Udah gak usah boong, kami sudah tau kok, orang mana hantunya?" penasaran ayah.

"Gak tau juga, kita gak kenal, besok aja kita akan cari dia, malam ini kita biarkan aja dulu, lagian dia gak ganggu"

"Tolongin kasihan, biar dia gak ganggu masyarakat di sini" tintah ayah.

"Baik ayah, pasti besok dia akan datangin kita juga kok, kalau dia mau minta bantuan kita" jawab kami.

Misteri hantu Alisa

Sampai di rumah aku masuk ke dalam kamar, aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur tiba-tiba.

"Hiks hiks hiks"

Tangisan lirih seseorang terdengar di telinga ku.

Aku kembali membuka mata dan mencari asal suara itu."Suara siapa sih, kok gak ada orangnya"

"Apa aku cuman salah dengar aja"

Aku melihat ke kanan dan kiri tapi tetap saja tidak ada siapapun yang ku temukan.

"Mungkin aja sih" aku kembali memejamkan mata.

"Hiks hiks hiks"

Tangisan itu kembali terdengar.

"Ish ini siapa sih yang nangis malam-malam begini, gak tau apa kalau aku capek banget"

"Halo siapapun yang nangis tunda besok aja, malam ini aku mau tidur"

Seketika suara tangisan itu mendadak hilang.

"Nah gitu dong, jangan gangguin aku, aku kan bisa tidur nyenyak kalau kayak gini" aku kembali menutup mata, aku merasa dia tidak akan mengganggu ku lagi

tok

tok

tok

Suara ketukan itu membuat mata ku kembali terbuka.

"Siapa yang ngetuk pintu malam-malam begini, gak tau orang mau istirahat, apa bunda ya"

"Coba deh aku periksa" aku beranjak dari tempat tidur dan mendekati pintu.

Aku membuka gagang pintu."Ada apa?"

"Aku mau tidur sama kamu" jawab Alisa.

"Baiklah ayo masuk"

Saat Alisa lewat di depan ku tiba-tiba aku mencium bau kembang.

"Kok Alisa bau kembang, parfum apa yang dia pakai, apa dia ganti parfum" batin ku yang merasa aneh.

Aku membaringkan tubuh di samping Alisa.

"Sa kamu kok tumben mau tidur bareng aku, ada angin apa ini?"

Tidak ada jawaban yang keluar meski mata Alisa masih terus menatap langit-langit kamar.

"Diam bae anak ini, ada apa dengannya, kenapa dia mendadak bisu seperti ini, apa yang sudah dia makan" batin ku.

"Alisa kok kamu diam aja, jawab dong"

"Tidak apa-apa" jawab Alisa.

"Kok suara Alisa berubah gitu, kenapa ini, apa dia sakit tenggorokan, perasaan tadi dia gak makan gorengan" batin ku.

"Kok suara kamu berubah, kamu makan apa?"

Tidak ada jawaban yang ku dengar.

"Ada apa sama Alisa, kenapa dia mendadak jadi aneh seperti ini, apa Alisa gak enak badan ya, aku cek deh" batin ku.

Aku menyentuh dahi Alisa."Ya Allah kok dingin banget seperti es batu, ada apa sama Alisa, kenapa dia berubah menjadi mayat hidup seperti ini, apa dia masuk ke dalam kulkas sehingga tubuhnya menjadi dingin seperti ini" batin ku.

"Sa kok tubuh kamu dingin banget, kamu sakit apa gimana?"

"Aku tidak sakit, kamu jangan banyak tanya" jawab Alisa masih terus menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

Aku mengerutkan alis melihatnya yang terus menatap langit-langit kamar."Apa yang dia tatap, kenapa dia begitu konsentrasi natap langit-langit kamar, eh kok mata Alisa merah gitu, apa dia beneran sakit ya dan gak mau bilang-bilang sama aku, besok deh aku akan tanyain langsung, malam ini rasanya tidak akan bisa aku nanya padanya" batin ku.

Aku memejamkan mata entah kenapa bulu kuduk ku menjadi merinding tanpa sebab, lama sekali baru mata ku terpejam rapat.

Keesokan harinya aku membuka mata dan melihat ke samping ku.

"Arrrrgghh" pekik ku terkejut.

Mata ku menangkap tanah kuburan beserta bunga melati yang berada di kasur tempat Alisa tidur tadi malam.

"Ada apa ini, kenapa tiba-tiba kasur ku ada banyak bunga melati dan tanah kuburan, perasaan tadi malam itu Alisa yang tidur sama aku, kemana dia sekarang, aku harus cari dia" aku beranjak dari tempat tidur dan turun ke bawah.

"Sa Alisa kamu di mana" teriak ku.

"Alisa kamu di mana" teriak ku lagi.

"Ada apa kok kamu nyariin aku?" aku menoleh ke arah Alisa.

Aku menyentuh muka Alisa, memeriksa suhu tubuhnya dan melihat kakinya apakah menyentuh lantai atau tidak.

"Aman"

"Apanya yang aman?" Alisa menatap aneh ke arah ku.

"Kamu benaran manusia"

Alisa semakin mengerutkan alis."Emang sejak kapan aku berubah menjadi dedemit, kenapa kamu aneh sekali pagi ini, kamu kesambet setan mana"

"Tunggu-tunggu aku mau nanya, tadi malam itu kamu datang ke kamar aku gak?"

"Enggak" jawab Alisa.

Aku terkejut mendengar jawaban Alisa."Terus yang tidur bareng aku tadi malam itu siapa kalau bukan kamu, aku yakin kalau gadis malam tadi itu kamu, wajahnya sama seperti mu, hanya saja suaranya berbeda, agak serak gitu"

"Gak tau lah, orang tadi malam itu aku tidur dengan nyenyak di dalam kamar ku" jawab Alisa.

"Lalu yang tidur sama aku siapa dong"

Mereka bertiga yang berada di meja makan diam.

"Jangan bilang itu hantu" Alisa berusaha menakut-nakuti aku.

"Mungkin saja, saat aku bangun tidur, aku lihat ada bunga melati dan juga tanah kuburan yang ada di kasur, semalam itu aku sempat cek suhu tubuh hantu Alisa dan ternyata dingin banget kayak es batu"

"Hantu Alisa, hantu Alisa, hantu doang woy, gak usah pakai sebut nama aku juga, aku gak terima di bilang hantu" tak terima Alisa.

"Pokoknya itu lah, sekiranya siapa hantu itu, kenapa dia datangin aku dengan menyamar menjadi Alisa?"

"Gak tau juga, kamu gak panas dingin bangun-bangun saat tau kalau yang tidur sama kamu itu hantu?" penasaran Alisa.

"Enggak tuh, kenapa kamu panas dingin?"

"Kamu terbuat dari apa, kenapa gak ada takut-takutnya begini, aku yang denger saja ngerii, iiih gak mau aku tidur sama hantu" Alisa tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika berada di posisi ku.

"Mungkin aja hantu itu salah tempat, dia pasti ngiranya kalau aku itu kamu, mangkanya dia datang ke kamar aku"

"Yang benar saja kau ini, aku bisa panas dingin saat mau tidur nanti, aku gak mau dia datang nemuin aku, lebih baik dia datang ke kamar mu saja, kalau ke kamar ku" ucapan Alisa tiba-tiba menggantung.

"Dia pasti berhasil nakut-nakuti orang wuu" bulu kuduk Alisa langsung berdiri semua.

"Bunda" teriak Alisa heboh.

"Eh kamu ini, kenapa malah nakut-nakutin kakak kamu, nanti dia sakit bunda yang repot" omel bunda.

"Haha kakak kok penakut, seharusnya kamu itu lindungi aku sebagai adek, gimana sih, punya kakak gak berguna"

"Eh gak berguna gimana, kamu memang berani dengan mereka yang tak kasat mata tapi tidak dengan manusia yang punya mata" tak mau kalah Alisa.

"Aku gak takut, aku hanya malas saja ladenin mereka yang tidak mau diam, lebih baik aku diam aja, gak ada gunanya juga aku bertengkar dengan mereka"

Alisa hendak bicara.

"Sudah-sudah, kalian mandi sana, setelah itu ke sini makan bareng sama kita, gak usah berdebat masalah hantu" lerai ayah.

"Baiklah ayah, tapi hantunya itu tadi malam lumayan sinis juga, dia itu gak mau jawab pertanyaan aku, cuek kan dia, apalagi matanya itu merah seperti orang yang sedang sakit mata, iih serem" Alisa menjadi panas dingin aku berusaha menakut-nakutinya.

"Bunda Aliza" teriak Alisa.

"Kamu ini suka sekali gangguin kakak kamu, sana balik ke kamar, nanti bunda kurung kalian ini, baru tau rasa" ancam bunda.

"Waduh kejam sekali" aku langsung berlari masuk ke dalam kamar tak mau mendengar omelan bunda lagi.

"HEH" teriak bunda dengan mata melotot.

"Sudahlah Bun, sana sa kamu mandi gih, kita tunggu di meja makan" suruh ayah.

"Tapi ayah kalau hantu itu datang ke kamar Alisa gimana?" was-was Alisa yang masih takut mendengar cerita yang ku alami tadi malam.

"Ini itu masih pagi, hantunya lagi bobo sudah sana kamu kembali ke kamar gih, kalau memang ada hantu itu tinggal berakting pingsan saja, selesai kan" jawab bunda.

"Ish bunda ini memberikan solusi yang tidak menyelesaikan masalah" Alisa beranjak dari meja makan dan masuk ke dalam kamarnya.

"Dasar dua anak itu, kenapa tiap hari aku pusing dengan kelakuan mereka" tak habis pikir bunda.

"Sudah lah bun, bunda jangan marah-marah, nanti anak-anak minta bunda baru ayah repot" goda ayah.

"Eh ayah ini apa-apaan sih" bunda kembali meledak ketika ayah menggodanya.

"Sstt jangan berisik" jawab ayah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!