NovelToon NovelToon

Jodohku Cinta Pertamaku

Bab 1

Ujian semester baru saja usai. Itu tandanya liburan semester akan dimulai, Kayla merasa bahagia terlepas dari ujian beberapa mata kuliah yang berat baginya.

Sebagai mahasiswi di sebuah Universitas Islami ternama di Jakarta yang berasrama dia akan kembali pulang ke rumah keluarganya di saat liburan datang.

Pagi ini dia sudah menyiapkan semua barang-barangnya untuk pulang ke rumah keluarganya di Bandung. Kayla menunggu ayahnya di depan pagar asrama kampus.

“Assalamu’alaikum, Yah,” sapa Kayla pada pria berumur yang datang menjemputnya di asrama kampus saat pria menghampirinya.

“Wa’alaikumsalam,” jawab sang Ayah sambil tersenyum pada gadis yang telah dianggapnya sebagai putri kandungnya.

“Kamu siap untuk berlibur?” tanya sang Ayah dengan senyuman khas miliknya.

Kayla mengangguk pelan sambil tersenyum pada pria yang disebutnya sebagai ayah.

Sejak Kayla tumbuh dewasa sang ayah tak pernah lagi menyentuh Kayla walaupun hanya sekedar bersalaman dengan gadis kecilnya.

Kayla merasa canggung dengan sikap sang ayah, tapi dengan kasih sayang dan perhatian dari Ayahnya tak berkurang. Kayla pun tidak mempermasalahkan perubahan sikap pria hebat nomor satu di hatinya.

“Yuk, berangkat!” ajak sang Ayah.

“Yuk!” Kayla mengikuti langkah Ayahnya dari belakang menuju parkiran mobil.

Mereka menaiki mobil, sang Ayah melajukan mobil meninggalkan kampus.

Sepanjang perjalan Kayla asyik bercerita tentang masa-masa ujian yang menurutnya sulit. Di Universitas Islam Al-Azhar, Kayla banyak mempelajari buku-buku agama yang menggunakan bahasa arab, karena itulah dia merasa lega telah melewati rangkaian ujian tersebut.

“Namanya juga belajar, Nak!” Ayah Kayla menanggapi keluhan sang putri selama menjalani ujian semester.

“Iya, Yah. Kay harus belajar lebih giat lagi supaya bisa menjadi mahasiswa terbaik dan membanggakan Ayah,” ujar Kayla bersemangat.

“Harus!” seru Ayah Kayla tegas.

“Kay, besok kita akan berangkat ke kota Padang,” ujar Ayah Kayla di sela-sela percakapan mereka.

“Ke Padang, Yah? Ngapain kita ke sana?” tanya Kayla penasaran.

“Menghadiri pernikahan Irene, sepupu kamu!” jawab Ayah Kayla.

“Irene mau nikah, Yah?” tanya Kayla kaget tak percaya.

Seingat Kayla, Irene adalah sepupu sekaligus sahabat baginya yang umurnya hampir sama dengannya.

Selama ini Irene tak pernah memberitahukan hal ini padanya.

“Iya,” jawab Ayah Kayla.

****

Empat jam perjalanan mereka pun sampai di depan rumah kediaman keluarga Bramantyo.

“Assalamu’alaikum,” ucap Kayla dan Ayahnya saat masuk ke dalam rumah.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Buk Rita judes.

Ibu Kayla kesal melihat kedatangan suaminya dengan Kayla.

Kayla menghampiri Buk Rita, dia hendak menyalami wanita yang selalu dipanggilnya sebagai ibu.

“Anak sial! Akhirnya kamu datang juga. Sana kamu bersih-bersih dan kerjakan semua pekerjaan di rumah ini!” bentak Buk Rita menepis tangan Kayla yang hendak meraih tangannya.

"Buk, Kayla masih capek," Pak Bramantyo berusaha membela Kayla.

"Tidak apa-apa, Yah!" ujar Kayla.

Sejak kecil, Buk Rita memang tidak menyukai Kayla. Namun, Kayla tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena sang ayah memberikan perhatian dan kasih sayang yang berlimpah padanya.

Walau masih lelah, Kayla mengerjakan semua yang diperintahkan sang Ibu. Kayla mulai membersihkan rumah, dapur dan mencuci pakaian kotor.

Setelah makan malam, Kayla langsung masuk kamar dan tertidur dengan pulas dikarenakan lelah membersihkan rumah serta melewati perjalanan selama 4 jam.

Mentari mulai menampakkan cahayanya, menyinari bumi dan memberikan kehangatan pada setiap makhluk. Semua anggota keluarga Bramantyo sedang bersiap-siap hendak berangkat ke kota Padang.

“Kayla! Rayna!” panggil Buk Rita yang sudah berdiri di samping mobil.

“Iya, Bu!” sahut Kayla menghampiri Buk Rita dengan membawa tas Ransel miliknya.

“Adikmu mana?” bentak Buk Rita yang belum melihat batang hidung putri kesayangannya.

“Mungkin masih di kamar, Bu!” jawab Kayla sopan.

“Ya sudah, cepat panggil! Nanti kita ketinggalan pesawat!” bentak Buk Rita.

“Baik, Bu,” lirih Kayla lalu dia pun berlari menuju kamar adiknya.

“Astaghfirullah, Rayna!” pekik Kayla panik melihat adiknya masih tertidur pulas.

Kayla menarik-narik tangan Rayna membangunkan sang adik.

“Ada apa, Kak?” lirih Rayna yang baru saja terbangun ulah sang kakak.

“Rayna, kita mau berangkat. Kamu masih tidur?” seru Kayla kesal.

“Emangnya jam berapa sekarang, Kak?” tanya Rayna dengan mata yang kembali dipejamkannya.

“Jam tujuh lewat!” sahut Kayla mengguncangkan tubuh adiknya.

“Aduh,” pekik Rayna mulai panik.

“Kak, pakaianku belum disiapkan!” sahut Rayna membuat Kayla melotot tak percaya.

“Cepat ganti bajumu, gak usah mandi!” seru Kayla.

Kayla pun meraih tas ransel adiknya yang tergantung di dinding. Dia mulai memasukkan beberapa pakaian milik Rayna ke dalam tas ransel tersebut.

“Rayna! Kayla!” teriakan Buk Rita menggema di dalam rumah.

Rayna dan Kayla memutar bola mata mereka panik.

“Iya, Bu!” seru Rayna dan keluar dari kamar, diikuti oleh Kayla dari belakang.

“Kalian kenapa lama sekali? Cepat kita berangkat!” bentak Buk Rita mulai panik.

Kayla dan Rayna mengikuti langkah Buk Rita keluar rumah. Pak Bram sudah menunggu di dalam mobil.

“Siap? Kita berangkat?” tanya Pak Bram kepada kedua putrinya dengan lembut setelah mereka telah berada di dalam mobil.

“Iya, Yah!” jawab Rayna dan Kayla bersamaan.

“Kita berangkat sekarang, Pak Udin!” ujar Pak Bram pada supir pribadinya.

Pak Udin pun mulai melajukan mobil, meninggalkan kediaman Bramantyo mengarah menuju Bandara Internasional Husein Sastranegara. Mereka akan terbang menuju kota Padang dengan pesawat pada pukul 9.45 WIB.

Setelah menempuh perjalan sekitar tiga puluh menit, mobil pun memasuki kawasan Bandara. Pak Udin memarkirkan mobilnya, lalu menurunkan semua barang bawaan majikannya.

“Udin, tolong jaga rumah dengan baik,” ujar Pak Bram sebelum Pak Udin pamit pulang.

“Baik, Tuan,”jawab Pak Udin lalu dia pun meninggalkan Bandara.

Sebelum check-in, Rayna merasa sakit perut.

“Yah, Bu! Aku mau ke toilet dulu, ya!” ujar Rayna minta izin pada kedua orang tuanya.

“Pergilah, jangan lama-lama!” sahut Pak Bram.

Rayna menarik tangan Kayla, dia menyeret Kayla yang enggan menemani adiknya.

“Rayn, pelan-pelan dunk!” cicit Kayla yang kewalahan mengikuti langkah adiknya yang pecicilan.

BRUUKK

Rayna menabrak tubuh seorang pria yang melintas di depannya, hingga dia terjatuh. Sang pria menoleh pada gadis yang kini sedang mengelus pantatnya yang terasa sakit.

“Loe punya mata nggak, sih?” bentak Rayna.

“Kalau jalan pakai mata, jangan pakai dengkul!” omel Rayna pada pria yang masih mematung menanggapi omelan Rayna.

“Ya ampun!” gumam Kayla panik melihat tingkah adiknya yang membentak pria yang berdiri dihadapannya.

Kayla mempercepat langkahnya menghampiri sang adik yang masih memarahi pria yang hanya diam menatap dingin pada adiknya.

“Maafkan adik saya,” ujar Kayla saat telah berada di depan sang pria sambil menundukkan pandangan.

Kayla langsung menarik tangan Rayna, dan membawanya melangkah menuju toilet.

Sang pria hanya diam, dia terpesona melihat aura gadis berhijab lebar yang baru saja melintas di hadapannya.

“Subhanallah,” lirih sang pria yang masih menatap dua gadis yang telah berlalu melewatinya.

Bab 2

"Kalian ke mana saja? Cepat masuk!" bentak Buk Rita kesal pada Rayna dan Kayla yang baru saja datang dari toilet.

"Maaf, Buk!" lirih Rayna menundukkan kepalanya merasa bersalah.

"Ini pasti gara-gara kamu!" bentak Buk Rita pada Kayla.

"Bukan, Buk. Ini salah Ray," ujar Rayna berusaha membela Kayla.

"Kamu yakin?" Buk Rita tidak percaya.

"Sejak kapan, Ibuk nggak percaya sama aku?" ujar Rayna memelas sendu.

"Udah-udah! Yuk, masuk. Kita harus check-in sekarang" Pak Bram menengahi.

Mereka pun melakukan check-in, lalu masuk ke ruang tunggu menunggu keberangkatan.

1 jam 50 menit penerbangan, pesawat yang ditumpangi keluarga Bramantyo pun sampai di Bandara Internasional Minangkabau.

"Rita!" teriak seorang wanita berbaju hitam dengan hijab modis yang dikenakannya.

Dia berdiri di samping pria yang hampir seumuran dengannya. Wanita itu melambaikan tangannya.

Rita langsung mencari sosok wanita yang memanggil namanya.

"Uni Dina," pekik Rita menghampiri wanita yang hampir mirip dengannya.

Wanita yang bernama Lina itu pun mendekati keluarga Bramantyo.

"Gimana kabar, Uni?" tanya Rita pada sang kakak sambil memeluk tubuhnya.

"Alhamdulillah baik, Dek!" jawab Lina membalas pelukan adiknya.

"Bram, bagaimana kabarmu?" tanya pria yang berdiri di samping Lina.

"Baik, Bang Wisnu!" jawab Bram sambil menjabat tangan suami kakak iparnya.

"Sehat, Bang?" tanya Bram.

"Sehat," serunya bersemangat.

"Rayna, Kayla? Kalian sudah besar, ya!" Wisnu menoleh ke arah Rayna dan Kayla.

Sedari tadi mereka diabaikan oleh para orang tua yang tengah melepas rindu karena telah lama tak bersua.

"Baik Om," jawab Rayna dan Kayla bersamaan.

Mereka pun menyalami tangan Wisnu dan Lina sebagai tanda sopan santun mereka.

"Irene pasti senang banget bisa ketemu kalian," ujar Wisnu dengan senyuman yang lebar.

Kayla dan Rayna hanya tersenyum sambil menunduk.

"Ya udah, yuk!" ajak Wisnu sambil membantu Bram membawa barang-barang bawaannya.

"Banyak sekali bawaan kalian," keluh Wisnu sambil tertawa.

"Sedikit oleh-oleh buat keluarga, kami kan jarang pulang," sambut Rita.

Mereka terus mengobrol melepas rindu sambil melangkah menuju parkiran.

Saat mereka telah berada di depan mobil Ru** Toyo** berwarna silver.

Wisnu memasukkan barang-barang tersebut ke dalam bagasi mobil di belakang jok.

Setelah semua barang-barang mereka masuk ke dalam mobil, satu per satu mereka masuk ke dalam mobil.

Rayna dan Kayla duduk di bangku paling belakang. Para orang tua asyik mengobrol sepanjang perjalanan.

Mobil milik Wisnu memasuki pekarangan sebuah rumah lumayan besar di kawasan perumahan Griya Kuranji Permai.

Rumah megah dengan desain minimalis membuat kesan mewah pada bangunannya.

"Kita sampai," seru Wisnu saat dia menghentikan laju mobilnya.

Mereka turun dari mobil satu per satu.

Buk Rita dan Bibi Lina melangkah masuk ke dalam rumah diikuti oleh Kayla dan Rayna. Sedangkan Wisnu dan Bram mengeluarkan barang-barang bawaan mereka.

"Kayla!" pekik Irene saat melihat Kayla.

Mata semua orang tertuju pada seorang gadis yang mengenakan kaos oblong biru serta celana jeans Dongker selutut, dan rambut yang terurai indah.

Dia bergegas menuruni anak tangga, rasa rindu pada sahabatnya membuat dirinya tak sabar ingin memeluk sang sahabat.

"Aku kangen," ujar Irene.

"Aku juga," ujar Kayla.

Mereka saling berpelukan melepas rindu.

"Sama aku nggak kangen, Kak?" gerutu Rayna mengerucutkan bibirnya karena dicuekin.

"Eh, kangen juga lah, Dek!" Irene melepaskan pelukannya dari tubuh Kayla dan berpindah pada adik sepupunya.

"Aku juga kangen sama kamu. Yuk, ke kamar. Aku udah siapkan kamar khusus buat kalian." Irene menarik tangan kedua sepupunya meninggalkan para orang tua.

Para orang tua hanya tersenyum melihat keakraban anak-anak mereka.

Kayla dan Rayna mengambil tas Ranselnya lalu melangkah mengikuti Irene.

"Ren, setelah meletakkan barang-barang, langsung ajak saudaramu turun untuk makan siang," pesan Lina pada putrinya.

"Baik, Bu!" teriak Irene.

"Nah, ini kamar kalian. Aku sengaja menyiapkan kamar kalian tepat di samping kamarku," ujar Irene.

"Makasih, Ren." Kayla tersenyum senang.

"Ah, nyaman sekali," ujar Rayna saat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran standar.

"Ray, jangan malu-maluin!" ujar Kayla melebarkan matanya pada sang adik.

"Biarin aja, Kay. Namanya juga anak kecil," ledek Irene sambil melirik ke arah Rayna.

"Aku bukan anak kecil lagi, Kak!" gerutu Rayna.

Kayla dan Irene tertawa melihat ekspresi sang adik yang cemberut.

Irene membantu Kayla dan Rayna menyusun barang bawaannya, setelah itu mereka pun keluar dari kamar. Lalu mereka melangkah menuju ruang makan di lantai satu.

"Yuk, kita makan!" ajak Lina pada anak-anak yang baru saja memasuki ruang makan.

Irene dan Rayna langsung duduk di kursi meja makan, sedangkan Kayla membantu Lina menyiapkan hidangan makan siang di atas meja.

"Udahlah, Sayang. Biar bibi yang menyiapkan, kamu pasti lelah." Lina merasa kasihan pada Kayla.

"Tidak apa-apa, Bi. Aku sudah biasa melakukan hal ini," bantah Kayla.

"Kamu memang anak yang rajin, Nak," gumam Lina di dalam hati.

Lina tahu bagaimana perlakuan adiknya pada Kayla, selama ini Rita sangat membencinya. Namun, sifat dan kelakuan Kayla yang baik membuat semua orang di sekitarnya menyayanginya.

"Ayo, Bram, Rita, kita makan!" ajak. Lina saat melihat adik dan adik iparnya memasuki ruang makan.

"Wah, enak sekali menu makan siangnya. Aku jadi lapar, Kak!" seru Bram saat melihat berbagai menu masakan Padang telah terhidang di atas meja.

"Iya, Kak. Aku kangen lho masakanmu," tambah Rita.

"Ya udah, ayo!" timpal Wisnu yang baru saja bergabung dengan mereka.

Semua orang pun duduk di kursi yang telah tersedia.

"Ayah, sini Kayla ambilkan!" tawar Kayla pada satu-satunya pria yang disayanginya.

Bram tersenyum, lalu dia menyodorkan piring yang ada di depannya pada Kayla.

Kayla mengambil piring itu, lalu dia pun mengisi piring tersebut dengan nasi, tak lupa Kayla menambahkan rendang kesukaan sang ayah.

Kayla tahu betul makanan kesukaan sang Ayah sehingga tanpa bertanya pada ayahnya dia sudah tahu makanan apa yang diinginkan oleh sang ayah.

"Terima kasih, Sayang!" ucap Bram saat mengambil piring yang sudah diisi oleh Kayla.

Terlihat ekspresi Rita yang masam melihat perlakuan Kayla pada sang suami. Dia tak suka Kayla dekat dengan suaminya, tapi kasih sayang Bram pada Kayla takkan bisa dibatasi. Sejak Kayla kecil Bram memang sudah menyayangi anak itu.

Lina melihat sang adik yang bermuka masam hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Mereka pun mulai menikmati hidangan makan siang, tak ada suara yang terdengar kecuali dentingan sendok dan garpu yang beradu.

Pada malam hari saat semua orang mulai beranjak tidur, Kayla dan Rayna juga melangkah menuju kamar mereka.

"Ponselku," lirih Kayla saat menyadari dia telah meninggalkan ponselnya di ruang keluarga.

"Dek, kamu duluan aja! Ponselku ketinggalan di ruang keluarga," ujar Kayla pada Rayna saat mereka hendak masuk ke dalam kamar.

Kayla pun kembali menuruni anak tangga menuju ruang keluarga.

"Ternyata di sini," gumam Kayla saat melihat ponselnya tergeletak di atas sofa.

Dia meraih ponselnya lalu kembali melangkah menuju kamarnya.

Saat dia baru saja menginjak lantai dua, seseorang menarik tangannya.

"Aw," pekik Kayla kaget.

Dia melotot cemas.

Bab 3

Seseorang itu menarik Kayla masuk ke sebuah kamar.

"Ada apa, Ren? Kenapa kamu narik aku?" tanya Kayla heran pada sepupunya itu.

Dia lega saat menyadari Irenelah yang menariknya, dia sempat berpikir ada orang jahat yang masuk ke dalam rumah bibinya.

"Sssttt!" Irene mengacungkan telunjuknya di bibir Kayla.

Kayla mengernyitkan dahinya melihat sikap sang sahabat.

"Kay, aku mau cerita sesuatu, penting!" ujar Irene tegas.

Irene mengajak Kayla duduk di atas tempat tidurnya. Kayla hanya mengikuti langkah Irene. Di dalam hatinya bertanya-tanya tentang hal apa yang akan diceritakan oleh Irene sehingga dia membawa Kayla diam-diam masuk ke kamarnya.

"Kay, aku mau minta tolong sama kamu," ujar Irene mengawali pembicaraan.

"Tolong apa, Ren?" tanya Kayla masih bingung.

Irene pun menceritakan kejadian beberapa bulan yang lalu.

Flash back on

"Ren, Ayah mau ngomong!" panggil Wisnu pada putrinya yang berada di dalam kamar.

Dengan langkah gontai, Irene mengangkat kakinya menuju ruang keluarga.

Di sana telah duduk Ayah dan Ibunya.

"Ada apa, Yah?" tanya Irene bingung melihat raut wajah Ayah dan Ibunya yang tampak tegang.

"Duduk!" titah Wisnu tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Irene.

Irene pun duduk di samping ibunya, dia diam duduk menunggu perkataan yang akan keluar dari mulut sang Ayah.

Dia mencoba berpikir tentang kesalahan apa yang telah diperbuatnya.

Seketika suasana ruang keluarga pun mendadak hening. Wisnu dan Lina masih hening, mereka tengah berpikir bagaimana cara menyampaikan permasalahan yang mereka hadapi pada putri satu-satunya.

"Ren," suara bariton khas Wisnu pun mulai terdengar.

Irene pun mengangkat dagunya, dia memandangi Ayah dan Ibunya secara bergantian.

"Saat ini, perusahaan kita sedang berada dalam krisis."

"Ayah sudah berusaha mencari investor untuk mempertahankan perusahaan dengan berbagai cara, tapi.-" Wisnu menggantung ucapannya.

Irene masih diam menunggu kelanjutan perkataan ayahnya.

"Tapi ayah tidak bisa menemukan solusinya, kecuali satu hal."

Wisnu menghela napasnya panjang.

"Apa, Yah?" tanya Irene takut.

"Ayah memiliki seorang sahabat, dia seorang pengusaha juga sama seperti ayah. Perusahaannya sudah besar, dia mau membantu kesulitan yang saat ini ayah alami dengan satu syarat,--" Lagi-lagi Wisnu menggantung ucapannya.

"Syarat apa, Yah?" tanya Irene semakin penasaran dengan inti pembicaraan ini.

"Dia memiliki seorang putra yang masih kuliah, teman ayah ingin menjadikan putranya sebagai penerus perusahaan itu. Namun, putranya tidak berminat meneruskan usaha orang tuanya kecuali ayahnya bisa menemukan seorang gadis yang mau menikah dengannya tanpa mengenalinya," ujar Wisnu menyelesaikan ucapannya.

"Apakah Ayah ingin, Irene menikahinya untuk membantu perusahaan?" tanya Irene kecewa pada ayahnya.

Wisnu dan Lina menundukkan kepalanya, mereka sadar saat ini mereka tengah mempertaruhkan masa depan putrinya.

"Tapi, Yah. Aku belum kenal dia," bantah Irene tidak setuju.

"Sayang, kamu akan hidup bahagia bersamanya. Mereka orang kaya," bujuk Lina.

Irene sangat kecewa pada orang tuanya.

"Irene nggak mau!" teriak Irene tak setuju.

Irene berlari menuju kamarnya, dia benar-benar merasa hancur dengan keputusan yang diambil oleh orang tuanya.

Keuangan Perusahaan milik Wisnu semakin merosot, dia akan kehilangan segalanya jika tak bisa mendapatkan suntikan dana dari beberapa investor.

Wisnu dan Lina terus membujuk putrinya hingga akhirnya Irene menyetujui permintaan kedua orang tuanya.

Flash back off.

"Jadi, ini alasan kamu mendadak menikah?" tanya Kayla merasa kasihan pada sepupunya.

Irene mengangguk, dia tak tahu harus melakukan apa. Di samping itu, Irene sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya.

Malam itu Irene menangis meluapkan rasa sesak di dadanya pada Kayla.

Kayla sendiri tak tahu harus berbuat apa, dia hanya mengelus bahu Irene memberi kekuatan agar Irene sanggup menjalani takdir hidupnya.

Malam semakin larut, kediaman keluarga Wisnu pun mulai gelap. Satu persatu lampu sudah dimatikan.

"Kamu pasti capek, ya udah kamu tidurlah." Irene mengusap wajahnya yang basah karena air mata.

"Kamu yakin?" tanya Kayla.

Irene mengangguk.

"Kamu sabar ya, Ren. Semoga pria yang akan dijodohkan denganmu merupakan pria yang baik." Hanya itu kata-kata yang dapat Kayla ucapkan.

Kayla melangkah keluar dari kamar Irene, hatinya merasa iba dengan apa yang menimpa sang sahabat.

Di dalam kamar, Kayla membaringkan tubuhnya di samping Rayna yang sudah tertidur pulas karena kelelahan.

Kayla menatap langit-langit kamar. Pikirannya mulai berkelana mencari solusi untuk Irene.

"Tuhan, kasihan Irene. Semoga perjodohan ini jalan baginya menuju bahagia," gumam Kayla lalu dia pun mulai memejamkan matanya.

****

Pukul 4.00 subuh, Kayla terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam yang tertera di ponselnya.

"Mau subuh, aku harus bangun." Kayla turun dari tempat tidur.

Dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu bersiap-siap untuk menunaikan ibadah sunat menjelang waktu subuh masuk.

Setelah shalat subuh, Kayla mengganti mukenanya dengan kerudung lebar miliknya, lalu dia keluar dari kamar. Dia melangkah menuju dapur untuk mengecek pekerjaan yang bisa dilakukanya.

"Pagi, Nona," sapa Buk Nur sang PRT yang bekerja di rumah Wisnu.

"Pagi, Bi." Kayla menebar senyum manisnya.

"Ada yang bisa aku bantuin, Bi?" tanya Kayla.

"Nggak usah, Non. Ini pekerjaan saya," bantah Bi Nur.

"Mau masak apa, Bi?" tanya Kayla sambil memegang beberapa sayuran yang tergeletak di atas meja dapur.

Kayla tak menghiraukan bantahan dari sang PRT.

Kayla mulai memotong-motong beberapa sayuran itu. Akhirnya Bi Nur hanya geleng-geleng kepala lalu mengarahkan Kayla apa yang bisa dilakukannya.

"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Lina pada Kayla yang terlihat sibuk membantu Bi Nur.

"Eh, Bibi!" seru Kayla.

"Udah, Bi." Kayla masih fokus dengan pekerjaannya.

"Terus, kamu ngapain di sini?" tanya Bibi Lina pada Kayla.

Dia merasa segan membiarkan Kayla melakukan pekerjaan rumah di rumahnya.

"Bantuin Bi Nur, Bi," jawab Kayla.

"Mhm, pekerjaan Bi Nur biar bibi yang bantuin, kamu sana bangunin Irene sama Rayna," perintah Bibi Noer

"Ya udah, Kay naik ke atas dulu ya, Bi." Kayla pamit beranjak menuju kamar.

"Nona Kayla itu rajin sekali, Bu!" puji Bi Nur setelah Kayla tak lagi berada di dapur.

"Iya, tapi sayang takdir tak berpihak padanya," lirih Lina pelan.

"Maksud, Ibu?" Bi Nur mulai penasaran.

"Ah, Nggak apa-apa. Bi, nanti jangan lupa bikin sayur bening kesukaan Rita, ya," ujar Lina mengalihkan pembicaraan.

"Rayna, bangun!" seru Kayla setelah dia berada di dalam kamarnya dan Rayna.

Rayna hanya membalikkan tubuhnya, lalu kembali tidur. Kayla pun mengguncang tubuh adik kesayangannya.

"Rayna, bangun! Udah siang lho!'' ujar Kayla terus berusaha membangunkan Rayna.

"Jam berapa sih, Kak?" tanya Rayna dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Hampir jam tujuh, Dek. Sana bangun, kamu udah shalat subuh belum?" teriak Kayla pada Rayna.

Setelah berjuang membangunkan Rayna, Kayla pun melangkah keluar kamar menuju kamar Irene.

Kayla mengetuk pintu kamar Irene, berkali-kali dia mengetuk pintu tak ada sama sekali balasan dari Irene.

Akhirnya Kayla pun mendorong pintu kamar Irene. Kayla memutar bola matanya saat melihat isi kamar Irene

"Irene!" teriak Kayla panik.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!