NovelToon NovelToon

Mencintaimu Apa Adanya

Chapter 1

Ruangan dihias dengan cantik, kursi-kursi juga sudah tersusun dengan rapi. Bunga-bunga berjejer dengan rapi menghiasi ruangan itu. Puluhan orang terlihat sibuk menghias ruangan itu agar semakin cantik lagi karena sebentar lagi di sana akan diadakan upacara pernikahan.

Tentunya seorang wanita sedang berbahagia hari ini dan dia adalah Abigail. Ini adalah hari paling bersejarah baginya karena dia akan menikahi pria yang paling dia cintai bahkan dia merasa jika dia adalah wanita yang paling berbahagia saat ini.

Bukan tanpa alasan, dengan bentuk badannya yang luar bisa, dia mendapatkan cinta dari sang pangeran. Bak di negeri dongeng, Abigail di lamar oleh kekasihnya yang tampan dan kaya raya. Tentu itu bagaikan sebuah mimpi baginya, bentuk badan luar biasa yang hampir mencapai 200 pounds membuatnya gemuk luar biasa tapi dia tidak pernah minder akan hal itu apalagi dia gadis yang ceria.

Kebahagiaannya semakin lengkap karena hari ini, dia dan sang pangeran akan menikah. Sebuah gaun pengantin berukuran jumbo sudah dibuat khusus untuknya oleh seorang perancang ternama. Tentu semua itu dari sang pujaan hati.

Abigail terlihat bahagia apalagi gaun mahal yang dibuat khusus untuknya sudah dikenakan, semua wanita pasti akan melihatnya dengan tatapan iri. Senyumnya semakin mekar saat mahkota bertahta berlian dikenakan di atas kepalanya, dia tidak menyadari penata rias melihatnya sambil mencibir.

Pria gila mana yang mau menikahi wanita gemuk mengerikan itu? Sepertinya calon suami Abigail sudah gila atau pria itu pria buta sehingga dia tidak bisa melihat bagaimana rupa wanita yang akan dia nikahi. Abigail juga berpikir demikian, Harold begitu mencintainya dan mau menikah dengannya , itu merupakan sebuah keajaiban tapi sayang, sebentar lagi dia akan menelan pil pahit.

Suara pintu diketuk dari luar sana, seorang wanita juga pria masuk ke dalam. Mereka adalah orang tua Abigail. Mereka sangat senang melihat putri mereka sudah akan menikah. Semoga saja Abigail bahagia setelah ini.

"Kau begitu cantik, Sayang," puji sang ibu seraya memeluknya.

"Thanks, Mom," Abigail tersenyum. Dia benar-benar bahagia.

"Setelah ini kau harus menurunkan berat badanmu!" ucap sang ayah.

"Kenapa. Dad? Harold suka dengan bentuk badanku yang seperti ini."

"Memang, tapi kau harus menurunkan berat badanmu, Abigail." ibunya berkata dengan lembut. Dia harap putrinya mau berubah.

"Baiklah, akan aku lakukan nanti," ucap Abigail.

Dia tersenyum bahagia, walau berat badannya mencapai dua ratus pounds tapi dia akan menjadi wanita paling bahagia hari ini karena pangeran tampan akan menikahinya. Dia sungguh tidak percaya, rasanya tidak nyata. Dia seperti di dalam dunia dongeng, entah kenapa dia merasa jika dia lebih beruntung dari pada Cinderela.

Abigail dan kedua orangtuanya sedang berbincang, mereka menunggu acara di mulai. Di luar sana, para tamu undangan sudah datang. Gedung pesta yang megah sudah dipenuhi oleh para tamu yang hadir untuk menyaksikan pernikahan Abigail dan Harold.

Pendeta juga sudah datang tapi sayangnya keluarga mempelai pria tidak terlihat bahkan pengantin pria juga tidak ada. Waktu acara sudah hampir tiba, Abigail sudah siap. Dia sudah tidak sabar untuk mengucap sumpah dan menjadi istri Harold.

Jantungnya bahkan berdebar, dia terlihat gelisah tapi dia tidak tahu jika di ruang pesta sudah terjadi keributan karena mempelai pria yang tidak telihat sedari tadi.

Sahabat Abigail tampak cemas, sepertinya dia harus mengatakan hal itu pada Abigail dan mengatakan jika calon suaminya tidak datang. Para tamu juga sudah saling pandang dan berbisik, sepertinya ada hal tidak beres yang sedang terjadi.

Di dalam ruangan, Abigail dan ayahnya sudah siap karena sudah waktunya. Napas panjang Abigail Ambil dan setelah itu dia tersenyum, siap keluar berasama dengan ayahnya.

Mereka benar-benar sudah siap tapi seseorang mengetuk pintu dan menerobos masuk ke dalam. Abigail sangat heran melihat sahabat baiknya terengah-engah dengan wajah pucat. Sahabatnya bahkan berlari ke arahnya dengan terburu-buru.

"Ada apa?" tanya Abigail heran.

"Abigail, Harold?" sang sahabat terlihat tidak tega mengatakannya.

"Ada apa dengannya?" Abigail terlihat cemas, dia takut terjadi sesuatu pada calon suaminya.

"Dia tidak datang!"

"What?" Abigail terkejut.

Dia berlari keluar tanpa ragu. Kedua orangtuanya bahkan mencegah tapi Abigail tidak peduli. Ruang pesta terdengar riuh, semua mata melihat ke arah Abigail saat gadis itu masuk ke dalam ruangan. Abigail terlihat linglung, dia berlari ke arah pendeta dengan wajah cemas luar biasa.

"Mana Harold, kenapa dia belum datang?" tanya Abigail pada sang pendeta.

"Maaf Nona, aku tidak tahu."

"Apa ada yang melihat Harold?" Abigail berteriak tapi tidak ada yang menjawab bahkan para tamu mulai berbisik membicarakan dirinya.

"Apa tidak ada yang melihatnya?" teriak Abigail lagi. Air matanya mulai mengalir, dia tidak menyangka Harold akan melakukan hal itu.

Ayah dan ibunya berlari menghampiri Abigail dan menghentikan Abigail yang mulai marah. Cibiran para tamu terdengar, mereka menghina bentuk badan Abigail yang besar luar biasa. Mereka bahkan memuji tindakan Harold meninggalkan Abigail. Seorang pengusaha yang mapan dan tampan seperti Harold memang pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Abigail.

"Harold, di mana kau?" teriak Abigail. Mahkota yang dia kenakan sudah dia lempar entah kemana, make up-nya bahkan mulai luntur akibat air matanya.

"Abigail, tidak perlu berteriak. Ayo kita pulang," ucap sang ibu.

Sungguh dia tidak tega melihat keadaan putrinya, tapi siapa yang menyangka jika Harold akan meninggalkan Abigail di acara pernikahan mereka?

"Berikan aku ponsel, Dad!" pinta Abigail sambil mengusap air mata yang berlinang.

Sang ayah memberikan ponsel-nya, tanpa membuang waktu Abigail menghubungi Harold tapi sayang, sudah tidak aktif. Dia bahkan menghubungi keluarga Harold tapi ponsel mereka juga tidak aktif. Abigail berteriak marah dan melempar ponsel ke atas lantai. tangisan pilunya terdengar memenuhi ruangan, dia benar-benar kecewa dan tentunya malu karena semua tamu mencibir dirinya.

Kedua orangtuanya mengajak pergi, meninggalkan ruang pesta itu. Hati Abigail sangat hancur karena orang yang dia cintainya meninggalkan dan mempermalukan dirinya di acara pesta pernikahan mereka. Adakah cinta sejati untuknya yang tidak melihat rupa dan bentuk badan?

I,m fat, but i am beauty. Itu selalu menjadi moto Abigail tapi sepertinya dia harus membuang moto itu jauh-jauh dan menggantinya dengan moto lain.

Dengan perasaan hancur, Abigail meninggalkan gedung pesta bersama dengan kedua orangtuanya, sedangkan para tamu undangan membubarkan diri dengan cibiran pedas mereka. Harold benar-benar dilema saat itu apalagi dengan hasutan orangtuanya.

Wajah tampan dengan kesuksesan yang dia punya, bagaimana bisa dia menikahi wanita gemuk seperti Abigail? Banyak wanita seksi dan cantik yang bisa dia kencani tapi kenapa harus Abigail? Hasutan itu merasuki hati dengan cepat, membuatnya ragu untuk menikahi Abigail tapi suatu hari nanti, dia akan menyesali keputusan bodohnya karena telah meninggalkan Abigail.

Chapter 2

Gaun pengantin sudah tergeletak di atas lantai, tisu berserakan di mana-mana. Kamar terlihat gelap hanya disinari sedikit cahaya matahari yang menyusup masuk ke dalam melalui tirai gorden yang sedikit terbuka. Di ujung ruangan, tampak Abigail meringkuk dan terlihat tidak bersemangat. Dia benar-benar hancur karena ditinggalkan begitu saja.

Tangisan Abigail terdengar, dia sudah seperti itu sejak pesta pernikahannya hancur. Dia sungguh tidak menyangka Harold tega mempermainkan dirinya dan meninggalkannya. Padahal dia pikir, cinta mereka adalah cinta sejati, cinta yang diberikan oleh Harold begitu tulus tapi nyatanya? Tanpa kejelasan apa pun, Harold pergi begitu saja dan membuatnya menjadi bahan cibiran orang-orang.

Jika memang sejak awal Harold tidak mencintainya, lalu kenapa harus melakukan hal demikian? meninggalkannya di acara pernikahan mereka bahkan dia rasa dia tidak punya muka lagi untuk keluar dari rumah. Para tetangga dan sahabatnya pasti akan mencibir saat melihat dirinya yang memalukan!

"Kenapa Harold, kenapa?" tanya Abigail sambil mengusap air matanya yang mengalir.

Dia sangat berharap Harold menghubunginya dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa tidak datang ke acara pernikahan mereka. Dia sangat ingin tahu alasannya walau sebenarnya dia sudah membenci pria itu.

Gumpalan tisu kembali dibuang, dia enggan keluar dari kamar dan bertemu dengan orang-orang walau ayah dan ibunya sudah membujuknya untuk keluar. Tidak perlu khawatir dengan makanan, setumpuk cemilan sudah ada di atas meja, beberapa botol cola juga ada. Dua loyang pizza, kentang goreng dan juga ayam goreng. Dia melarikan diri pada makanan untuk mengurangi rasa sedihnya tapi hal itu semakin membuat berat badannya bertambah.

Abigail terlihat termenung dan pada saat itu, ponsel-nya berbunyi. Benda itu diraih dengan cepat dan dia sangat berharap jika Harold yang menghubunginya. Mata Abigail membulat, ternyata yang dia harapkan terjadi.

"Kenapa Harold?" tanyanya tanpa basa basi karena yang menghubunginya memang Harold.

"Sorry, Abigail," ucap Harold dengan nada bersalah.

"Sorry? Kau telah membuat aku malu lalu kau hanya berkata sorry?"

"Aku sungguh tidak mau mempermalukan dirimu, Abigail. Aku benar-benar minta maaf karena aku juga tidak menyangka akan jadi seperti ini!"

"Jelaskan padaku, Harold," pinta Abigail dengan air mata yang mengalir, "Jelaskan kenapa kau tidak datang di acara pernikahan kita? Kesalahan apa yang aku lakukan sehingga kau melakukan hal ini padaku?" tanyanya lagi.

"Abigail, kau harus tahu, sesungguhnya keluargaku tidak merestui hubungan kita!"

"Lalu? Apa mereka memintamu untuk tidak datang di acar pernikahan kita?"

"Yes!" jawab Harold tanpa ragu.

"Jika memang demikian, kenapa tidak kau katakan padaku sejak lama, Harold!" teriak Abigail marah.

"kenapa harus di acara pernikahan kita, kenapa? Seharusnya kau mengatakan padaku hal ini sejak lama. Sewaktu kita membahas pernikahan di hadapan keluargamu, kenapa mereka tidak membantah? Kenapa mereka diam saja, Harold? Apa kau memang sengaja ingin mempermalukan aku?" tangisan Abigail semakin pecah, Dia sungguh sakit hati dengan perlakukan Harold.

"Aku benar-benar minta maaf, Abigail. Jika tubuhmu tidak sebesar itu, mungkin aku tidak akan berubah pikiran! Apa yang dikatakan oleh keluargaku sangat benar, aku bisa mendapatkan yang lebih baik darimu!"

"Jadi karena bentuk badanku ini sehingga kau memperlakukan aku seperti ini?" teriak Abigail marah.

"Maaf, memang itu kenyataannya."

"Ha... Ha... Ha... Ha...!" Abigail tertawa dengan pilu, jadi karena berat badan membuat Harold meninggalkannya? Tapi kenapa harus di acara pernikahan mereka? Lalu ucapan cinta yang Harold ucapkan padanya selama ini apakah hanya palsu belaka?

"Jadi kau hanya mempermainkan aku saja selama ini? Jadi ucapan cinta yang kau berikan hanya palsu belaka? kau bilang kau mencinta aku, Harold. Kau bilang kau mencintai aku apa adanya tanpa mempedulikan berat badanku, aku benar-benar menyangka jika aku adalah wanita paling bahagia tapi apa nyatanya? Ternyata kau menipu aku dengan cinta palsu yang kau berikan. Kau mengangkat aku begitu tinggi lalu kau manghempaskan aku jatuh! Hatiku sakit Harold, sangat sakit!" ucap Abigail sambil berlinang air mata.

"Maaf, selama ini aku yang salah karena terlalu buta. Kuruskan badanmu terlebih dahulu, setelah itu kita perbaiki hubungan kita!" ucap Harold tanpa perasaan.

"Kau pikir aku mau, baji*gan!" teriak Abigail lantang.

"Jangan hanya menyalahkan aku, Abigail. Seharusnya kau melihat dirimu di depan cermin dan intropeksi diri kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini. Aku memang sudah buta bisa mencintaimu, aku rasa aku hanya penasaran pada dirimu saja. Entah kenapa setelah aku pikir, keputusan yang aku ambil tidaklah salah. Aku bahkan merinding ngeri saat membayangkan harus berhubungan intim denganmu dan melihat lemak berlebih dari balik baju yang kau pakai!"

"Stop! Berhenti menghinaku, berhenti!" tangisan Abigail semakin pecah, dia tidak menyangka pria yang dia cintai selama ini berubah dalam sekejap mata. Cinta suci yang selama ini dia percaya, ternyata hanya omong kosong belaka.

"Tidak saja sudah mempermalukan aku tapi kau juga menghina aku sekarang. Tubuhku ini sudah gemuk sejak lama, tidak berubah dalam satu malam. Kau sudah tahu itu, bukan? Saat kita menjalin hubungan tubuhku sudah seperti ini, lalu kenapa waktu itu kau mau menjalin hubungan denganku?"

"Sudah aku katakan aku buta!" jawab Harold.

"Baiklah, kau memang buta! terima kasih atas penghinaan yang kau berikan dan terima kasih kau sudah membuka mataku lebar-lebar. Aku harap kau mendapatkan wanita yang kau inginkan, selamat tinggal!" ucap Abigail seraya mematikan ponsel-nya.

Benda itu di lempar, Abigail menangis dengan keras menumpahkan segala kesedihan akibat penghinaan dan juga sakit hati yang dia rasakan. Sekarang dia merasa, Cinderela lebih beruntung dibandingkan dirinya. Jika dia tahu akan seperti ini, maka dia tidak akan mau menerima lamaran dari Harold tapi siapa yang akan tahu jika Harold hanyalah seorang baji*gan yang tidak memiliki perasaan?

Tangisan Abigail semakin menjadi, ayah dan ibunya tampak khawatir di luar sana tapi mereka tahu jika putri mereka sedang butuh privasi untuk menumpahkan kesedihan yang dia rasakan. Mereka juga tidak menyangka putri semata wayang mereka akan mengalami hal seperti itu.

Semoga saja dengan kejadian itu Abigail mau berubah dan yang paling penting dia mau menguruskan badannya agar dapat memberikan pukulan keras di wajah Harold tapi menguruskan berat badan tidak semudah membalikkan telapak tangan apalagi dengan berat badan 200 pounds.

Di dalam kamar, Abigail masih menangis sambil menikmati makanannya. Hanya itu saja yang bisa membuat suasana hatinya semakin membaik. Sebotol cola ukuran besar diteguk sampai habis dan setelah itu Abigail memakan pizza seperti orang kelaparan.

Air matanya kembali mengalir, dia tidak akan pernah jatuh cinta lagi, tidak akan karena baginya tidak akan ada cinta sejati untuk wanita gemuk seperti dirinya.

Chapter 3

Abigail sudah mengurung diri di dalam kamar selama satu minggu. Dia benar-benar tidak mau bertemu dengan siapa pun dan berbicara dengan siapa pun. Menangis adalah kegiatan yang dia lakukan setiap hari. Menangisi nasib dan juga hidupnya.

Rasanya benar-benar tidak mau hidup lagi. Apa dia bunuh diri saja? Lompat dari lantai dua mungkin bisa tapi itu kurang tinggi. Gantung diri di tiang pintu juga tidak memungkinkan, jangan-jangan tiang pintu yang patah duluan. Jika dia mati, apa dia akan menjadi hantu paling gemuk nanti? Jangan sampai, mungkin raja neraka akan kesulitan menarik badannya yang gemuk menuju pintu neraka.

Abigail menghapus air matanya dengan kasar, apa yang sedang dia pikirkan? Jika dia mati maka Harold adalah orang pertama yang berbahagia atas kematiannya. Dari pada bunuh diri, lebih baik dia makan yang banyak.  Abigail masih meringkuk di bawah selimut saat pintu kamar dibuka.

Ibunya masuk ke dalam, dia sudah tidak tahan lagi melihat keadaan putrinya yang hanya mengurung diri dan terus makan. Jika seperti itu, bagaimana putrinya bisa kurus? Jangankan kurus, dia rasa berat badan putrinya pasti bertambah. Tirai dibuka dengan paksa, ibunya melihat ke arah ranjang sambil menggeleng.

"Abigail, wake up!" teriak ibunya.

"No!" Abigail mencengkeram selimutnya dengan kuat.

"Bangun! Mau sampai kau seperti ini?" sang ibu menarik selimut putrinya dengan sekuat tenaga.

"Tinggalkan aku sendiri, Mom. Aku sudah tidak mau hidup lagi!"

"Apa yang kau katakan? Dunia belum kiamat sampai kau berpikir mau mati! Sebaiknya kau bersihkan dirimu dan mulai sekarang rubah pola buruk yang kau jalani setiap hari!"

"Apa maksud Mommy?" Abigail menyingkap selimutnya dan begitu melihat rupanya yang kacau, sang ibu kembali menggeleng.

"Mulai sekarang kau harus diet dan olah raga!"

"Tidak mau!" tolak Abigail seraya menutup selimutnya kembali.

"Tidak boleh menolak! Mommy akan mencarikan guru Gym untukmu jadi segera bersihkan dirimu, ada undangan dari teman-temanmu!" ucap ibunya.

"Undangan?" Abigail mengernyitkan dahi.

"Ya, undangan reuni!"

"Oh sh*it!" umpat Abigail. Habislah, dia pasti akan jadi bahan tertawaan teman-temannya. Mereka pasti sudah tahu kegagalannya.

"Aku tidak mau pergi!" ucap Abigail.

"Terserah padamu tapi sekarang bangun, mulai sekarang kau hanya boleh makan sayur!"

"What?" Abigail terkejut dan membuka selimutnya kembali. Dia bahkan duduk di atas ranjang dan memperhatikan ibunya yang melangkah keluar.

Abigail tampak berpikir, hanya makan sayur? Mana dia bisa! Dia pecinta makanan manis, cokelat, es cream dan minuman soda juga junkfood. Bagaimana mungkin dia bisa hanya makan sayur saja? Entah kenapa tiba-tiba dia menyadari sesuatu, jangan-jangan? Dia turun dari atas ranjang dengan susah payah, tidak boleh. Dia harus menyelamatkan harta berharga miliknya.

"Mom, jangan sita makananku!" teriaknya karena memang saat itu, ibunya sedang menyingkirkan makanan manis milik putrinya. Seharusnya dia melakukan hal itu sejak lama.

Suara derap kaki Abigail terdengar yang berlari menuju dapur, teriakannya juga terdengar. Ibunya melakukan apa yang dia mau dengan cepat, apa pun yang terjadi dia harus menyingkirkan semua makanan yang membuat tubuh putrinya semakin membesar.

"Mom, jangan buang makananku!" teriak Abigail.

"Tidak bisa, kau gemuk karena mengkonsumsi semua ini!" ucap sang ibu.

"Aku tidak mau diet, Mom. Aku tidak mau!"

"Mau tidak mau harus mau!"

"Mom, jangan cokelatku!" Abigail berusaha mencegah saat ibunya mengambil tumpukan cokelatnya yang ada di dalam lemari.

"Dad, bantu aku!" pinta sang ibu.

"Siap komandan!" jawab suaminya.

Mereka bergerak cepat, suara teriakan Abigail terdengar saat ayahnya membuang cola yang dia punya. Tidak hanya itu, es cream, kripik, dan beberapa cemilan milik Abigail berakhir di tong sampah.

"Mom, Dad, hentikan!" teriak Abigail seraya berusaha mencegah ayah dan ibunya tapi kedua orangtuanya tidak peduli. Abigail berlari ke sana kemari sambil berteriak, memohon agar orangtuanya tidak membuang makanan itu tapi mereka ingin putri mereka berubah jadi mereka harus membuang semua itu.

"Mulai sekarang kau tidak akan mendapat uang jajan, kartumu diblokir agar kau tidak bisa membelu junkfood dan juga makanan yang bisa membuat berat badanmu bertambah. Makanan yang harus kau makan hanya buah, sayur dan juga daging!" ucap sang ibu.

"Tidak mau, aku tidak mau!" teriak Abigail sambil menangisi makanannya yang dibuang.

"Tidak perlu menangis, memangnya kau anak kecil!"

"Mommy jahat!" Abigail menghentakkan kedua kakinya ke atas lantai sambil menangis.

"Astaga, gempa!" ucap sang ayah.

"Daddy sembarangan!" teriak Abigail, sedangkan sang ayah tertawa.

"Sudah tidak perlu menangis, kau mau membalas perbuatan Harold tidak?" tanya sang ayah dengan lembut.

"Tidak, aku bukan tipe yang suka balas dendam!"

"Baiklah, tapi lakukan untuk dirimu sendiri. Sudah saatnya kau berubah, Abigail," ucap ibunya pula.

"Menguruskan badan tidak mudah, Mom!"

"Sebab itu berusahalah dan kau sudah harus terbiasa untuk tidak mengkonsusi makanan tidak sehat dan mengandung lemak jenuh lagi!"

"Mommy jahat!" teriak Abigail seraya berlari menuju kamar.

"Hei, jangan lari. nanti ubinnya pecah!" teriak sang ayah bercanda.

"Daddy jahat!" teriak Abigail lagi, sedangkan ayahnya terkekeh.

Ayah dan ibunya saling pandang dan setelah itu mereka mengangkat bahu. Biarkan saja, jika ingin putri mereka berubah maka mereka harus melakukannya.

Di dalam kamar Abigail menangis, apa salahnya jika dia gemuk? Dia lebih suka seperti itu, lebih suka dirinya yang apa adanya. Abigail melihat lemak di perutnya, apa Harold benar-benar jijik dengan lemaknya itu? Karena penasaran, Abigail melepas semua pakaiannya dan berdiri di depan cermin dan tanpa dia sadari, dia juga merinding ngeri. Apakah ini yang dimaksud oleh Harold?

"Ternyata badanku sejelek ini," gumamnya.

Abigail berputar melihat bokongnya yang dipenuhi lemak, "Oh God, mengerikan!" ucapnya lirih.

"Sepertinya memang harus diet, tapi besok saja!" ucapnya lagi.

Sepertinya apa yang ibunya katakan sangat benar, sudah saatnya dia berubah. Abigail masuk ke dalam bathtub, dia tampak kesal karena air di dalam bathtub langsung terbuang habis. Sepertinya bertubuh gemuk memang tidak memungkinkan. Akan dia pikirkan saran ibunya untuk menurunkan berat badan tapi nanti karena setelah ini dia mau kabur untuk makan junkfood. Lagi pula dia bisa mulai dietnya, besok.

Abigail termenung tapi kemudian dia menangis. Bagaimanapun rasanya sangat sakit karena dikhianati oleh orang yang dia cintai. Mulai sekarang dia tidak mau jatuh cinta lagi, tidak mau karena dia tidak percaya dengan cinta sejati lagi. Cinta tulus yang selama ini sangat dia percaya ternyata hanya omong kosong belaka.

Dia akan berubah untuk dirinya sendiri tanpa mempedulikan Harold. Menjadi lebih baik tidak salah, tapi semangat itu tetap ada tinggal menjalaninya yang sulit.

"Besok saja deh!" lagi-lagi ucapan itu yang muncul. Abigail memejamkan mata. Ya, dietnya besok saja.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!