NovelToon NovelToon

Duda Nackal

Perselingkuhan Tara

Agas

Dikhianati? Ditinggalkan? Dihina? Aku pernah merasakannya. Karena itulah aku kini menjadi seorang duda.

Pernikahan bagiku adalah sebuah topeng untuk menyembunyikan kebusukan lain. Sebuah alibi untuk menghalalkan perselingkuhan.

Aku kini duda kaya, ganteng dan sukses. Siapa yang berani menolak segala kharisma yang kumiliki?

Aku menunjuk seorang gadis di dalam bilik kaca yang mengenakan baju super seksi. "Dia saja! Bilang padanya, malam ini harus kerja keras untuk memuaskanku!"

****

Flashback

Matahari siang ini terasa amat terik. Aku memutuskan pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya.

Jam 1 siang. Kulajukan mobilku memasuki pekarangan rumah sederhana dimana aku dan istriku Tara Anggraini tinggal.

Pintu gerbang terlihat terbuka dan ada sebuah sepeda motor milik sahabatku, Damar terparkir di depannya. Pasti dia numpang taruh sepeda motornya dan pergi bekerja naik mobil kantor. Sudah biasa itu.

Kuperhatikan sepeda motor 250 cc miliknya. Terlihat gagah dan keren, dalam hatiku terus berharap agar aku punya uang lebih untuk membeli motor keren itu. Ah, tapi kapan?

Aku menatap mobil sedanku yang sudah hampir sepuluh tahun kukendarai. Mobilku juga butuh diganti. Tapi uang dari mana?

Penghasilanku hanya dari showroom mobil milikku yang kadang ramai, kadang sepi pembeli. Biaya hidup berat. Belum membayar cicilan rumah yang masih 14 tahun lagi lunas.

Huft... Kapan bisa beli barang-barang koleksi kayak Damar?

Aku lalu berjalan menuju teras rumah. Agak heran saat aku melihat sepatu Damar ada disana.

Apa nih orang sekarang juga nitip sepatu di rumah? Benar-benar bujangan rusuh! Semua aja dititipin di rumah!

Aku sampai geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabatku ini. Masih membujang di usia yang seharusnya sudah membina rumah tangga. Aku saja merasa menikah di usia 31 tahun sudah terlambat, tapi Damar terlihat santai saja.

Aku teringat dengan Tara istriku. Usia pernikahan kami baru setahun dan kami belum dikaruniai anak. Apa aku kurang usaha ya? Baiklah, mumpung aku pulang cepet aku akan usaha lagi buat anak he...he...

Aku membuka pintu rumah yang memang jarang Tara kunci. Lingkungan rumah tempatku tinggal aman karena ada security di tiap cluster. Sulit untuk masuk karena penjagaannya ketat.

Aku masuk ke dalam rumah yang sudah rapi dan terdengar suara musik klasik dari arah kamarku. Pasti Tara sedang bersantai sehabis beres-beres rumah, sudah kebiasaannya memang menyetel musik klasik.

Bagaimana kalau aku kagetkan dengan memeluknya dari belakang? Bagaimana kalau kami memulai permainan langsung? Hmm... Ide yang bagus.

Aku pun semakin mendekat ke kamar kami. Suara musik masih terdengar, namun ada suara lain yang kudengar. Suara lenguh an dan de sah an.

Aku menajamkan telingaku. Apa aku salah dengar? Kayaknya enggak deh.

"Uh.... ah.... Iya.... Mm..." suara Tara, aku kenal betul suaranya yang seksi saat kami melakukan penyatuan.

Tunggu, penyatuan?

Sebuah pikiran buruk melintas dalam benakku. Tak mungkin. Aku harus memastikan kebenarannya.

Aku membuka pintu kamar lebar-lebar dan terbelalak kaget.

Di dalam kamar...

Di kasur kami...

Aku melihat Tara dan Damar sedang melakukan penyatuan. Tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.

Tara sedang memeluk erat Damar yang sedang berada diatasnya. Tubuh mereka menyatu dengan peluh yang membasahi keduanya.

Tara dan Damar membeku. Mereka menatap ke arahku.

"Breng sek!" Aku maju dan menonjok wajah Damar. "Setan! ***!"

Damar pun tersungkur di lantai dalam sekali tonjokanku.

Tara menjerit melihat kami. Aku kembali menghampiri Damar dan memberikan pukulan padanya. Rasanya aku masih belum puas memukulinya. Kembali kulayangkan sebuah pukulan di wajah dan tubuh Damar yang diam tak membalasku. Entah karena memang kalah kuat atau karena kehabisan energi sehabis meniduri istriku.

Buk...buk...buk...

Tara menarikku agar tidak membunuh Damar. Tanganku Ia tarik seraya menangis dan memohon agar melepaskan Damar.

"Hentikan Gas! Hentikan!" Tara menarik tanganku dengan tubuh mungilnya yang masih tanpa busana.

Emosi kembali menguasaiku.

Aku memberikan lagi pukulan bertubi-tubi pada Damar.

"Cukup! Hentikan!" teriak Tara.

Dan aku melihatnya....

Aku melihat kissmark di tubuh Tara. Siapa yang bisa berpikir logis saat melihat istrinya berselingkuh? Siapa yang tidak akan khilaf saat tahu di tubuh istri tercintanya ada kissmark yang dibuat laki-laki lain? Siapa yang tidak murka saat tau laki-laki itu adalah sahabatnya sendiri?

Aku melepaskan Damar. Aku kini menatap Tara dengan mata menyalang marah.

Tara mundur selangkah. Ia tahu betapa murkanya aku. Ia tahu aku bisa berbuat apa saja. Aku marah. Aku murka. Aku ingin membunuhnya!

Aku mendekat dan kucengkram leher Tara dan mendorongnya sampai ke tembok. Memojokkannya, dan berniat mencekiknya sampai...

"Kamu mau membunuhku? Silahkan! Bunuh saja aku sekalian! Bunuh!" teriaknya.

Aku mencengkram makin kuat namun akhirnya aku lepaskan!

Kuhempaskan Tara sampai Ia jatuh terhuyung dan jatuh di samping Damar.

"Keluar kalian berdua! KELUAR DARI RUMAHKU!" teriakku sekuat tenaga. Aku keluar dari dalam kamar dan kubanting pintu sampai kencang.

Aku mengambil segelas air putih dan meneguknya banyak-banyak. Mereka masih di dalam kamar, berpakaian dan Tara mengemasi barang-barangnya mungkin. Entahlah. Aku tak peduli lagi.

Aku duduk di ruang tamu, masih menunggu Tara keluar bersama Damar. Benar saja, tak lama Tara keluar dengan membawa koper berisi barang-barangnya.

Ia berani mengangkat wajahnya dan menatapku tanpa merasa berdosa sama sekali. Terbuat dari apakah hatinya? Mengkhianati rumah tangga dan belagak layaknya seorang pemenang? Punya hak apa pendosa macam dia berlagak bak malaikat?

Tara makin terlihat angkuh, Ia duduk di seberangku dan menatapku dengan tajam. Di samping Tara berdiri Damar yang berlagak bak seorang bodyguard.

Wajah Damar bonyok terkena banyak pukulan dariku. Rasanya aku masih belum puas memberinya pelajaran. Harusnya aku buat mampus saja sahabat sialan macam dia!

"Ya... Akhirnya kamu tahu tentang hubunganku dan Damar." Tara mulai berbicara. Kuperhatikan lehernya yang berbekas sedikit akibat cengkramanku. Jika tidak memikirkan kalau membunuh orang akan dipenjara, maka Tara juga akan kubunuh karena telah menghianati cintaku.

"Aku mau kita bercerai." ujar Tara.

"Tentu saja. Siapa yang mau menerima wanita bekas pakai kayak kamu?!" kataku tak kalah pedasnya.

Tara menyunggingkan seulas senyumnya. "Sombong sekali! Seharusnya kamu mikir kenapa aku sampai berselingkuh dengan Damar!"

"Enggak penting! Bagiku kamu cuma wanita murahan yang membuka selang kangannya untuk laki-laki lain! Tak bedanya dengan pe la cur!" kembali aku membalas perkataan Tara dengan perkataan yang tak kalah pedasnya.

Tara secepat kilat berdiri dan menampar wajahku.

Plakkk...

Sebuah tamparan pedas mendarat di pipiku. Aku tersenyum sambil memegangi pipiku yang terasa panas.

"Menamparku tak membuat status kamu yang sangat hina berubah dalam sekejap!" aku kembali menyulut emosi Tara.

Tara hendak maju lagi namun Damar menahannya.

"Kita bercerai secepatnya. Kamu pikir aku bahagia hidup dengan kamu? Siapa kamu sampai aku rela menghabiskan hidupku dengan laki-laki kayak kamu!" Tara mulai membuatku kembali emosi.

"Tentu saja aku lebih baik dari anak mami kayak selingkuhan kamu itu!" sindirku. Damar memang anak mami, setiap permintaannya harus selalu dituruti.

"Oh tak masalah bagiku. Damar jauh lebih baik dari kamu! Jauh sekali! Kamu merasa diri kamu hebat? Cuma punya showroom kecil saja sudah bangga. Kamu enggak punya kemampuan! Kamu bahkan tak pernah bisa membuatku puas di atas ranjang. Apa itu yang kamu katakan hebat hah?"

Deg...

*****

Agas si Duda Nackal

Perceraian

Agas

Namaku Agastya Wisesa. Aku sudah menikah setahun lalu dengan Tara Anggraini, wanita pertama dan satu-satunya yang aku cintai.

Pernikahan kami selama ini sangat harmonis. Kedua orang tua kami akur dan merestui pernikahan kami. Meskipun belum diberi momongan namun kami tetap berbahagia dengan rumah tangga sederhana yang kami bangun dengan penuh cinta.

Hal itulah yang biasanya aku banggakan didepan orang lain, tentang kebahagiaan rumah tanggaku. Namun ternyata semua kebahagiaan itu semu...

Perkataan Tara barusan benar-benar sudah menamparku sedemikian kerasnya.

Apa maksudnya aku tak pernah memuaskannya di atas ranjang? Bukankah kalau kami melakukan hubungan suami istri Ia selalu mende sah dan puas atas pelayananku?

"Kenapa? Kamu pikir aku puas selama bercinta dengan kamu? " Tara lalu menertawaiku. "Kamu beneran percaya? Dasar laki-laki bodoh! Ha... Ha... Ha..."

Baru kali ini aku merasa sangat terhina. Setelah dikhianati aku pun dihina dan diinjak harga dirinya!Apa salahku? Aku mengepalkan tanganku dengan kencang sampai buku-buku jariku memerah.

"Sayang, si bodoh ini percaya kalau aku puas dengannya? ha...ha...ha... Dasar bodoh! Tak tahu saja dia kalau kamu yang selalu memuaskan aku, bukan dia? Dasar laki-laki bodoh!" Tara dan Damar, mereka berdua tertawa, menertawaiku secara kompak.

"Ya, Damarlah yang memuaskan batinku setahun ini. Kamu hanyalah laki-laki lemah. Sangat lemah malah diatas ranjang ha...ha...ha..." Tara dan Damar, mereka menertawaiku, menghinaku, mempermalukanku...

"Kamu tuh kayak gini." Tara mengacungkan telunjuknya, awalnya dibuat tegak berdiri lalu lama kelamaan menekuk. "Keliatannya aja kuat, padahal mah loyo ha...ha...ha...."

Mereka menertawaiku dengan puas. Tawa menghina dari sepasang pendosa yang merasa apa yang mereka lakukan benar.

Aku yang emosi lalu bangun dan hendak mencekik Tara, namun Damar sudah siap siaga dengan reaksiku. Ia pasang badan melindungi Tara. Damar bahkan membalas pukulan yang tadi aku layangkan.

Bukk... Buk...

Dua pukulan aku terima. Aku pun tersungkur di lantai.

"Lo pikir gue tadi enggak bisa ngelawan lo? Lo salah! Gue tadi cuma mau ngetes kekuatan lo aja! Ternyata benar kata Tara, lo cuma laki-laki lemah! Jangan-jangan lo impoten lagi ha...ha...ha..."

Aku masih tak menyangka kalau Damar sahabatku tega menyakitiku seperti ini. Aku menatap Damar dengan tatapan kecewa.

"Kenapa? Lo pasti engak nyangka kan kalau gue bakalan menghianati lo? Lo pikir gue sudi sahabatan sama lo? Dasar bodoh! Gue tuh deketin dan bersahabat sama lo supaya gue bisa bebas nidurin bini lo secara gratis!" Damar dan Tara tertawa puas sambil melihat ke arahku.

Lengkap sudah cobaan hari ini. Diselingkuhi, dipukuli dan dihina. Hari ini adalah hari paling apes dalam hidupku ternyata.

"Makanya jadi laki-laki jangan lemah! Jangan onderdil aja lo gedein tapi enggak tahan lama ha...ha...ha... Minum obat kuat sana! Sampai overdosis pun tetap saja lo enggak bakalan tahan lama. Baru sebentar udah keluar, gimana bini lo bisa puas?"

"Sialan!" aku bangun dan hendak membalas segala penghinaan yang Damar berikan.

Buk... Aku kembali meninju wajah Damar. Tara berteriak saat bibir Damar mngeluarkan darah segar.

"Segitu aja kekuatan lo?" Damar maju dan balas memukuliku. Kami saling bertengkar dan memukul.

Suara keributan kami terdengar oleh tetanggaku yang melaporkan keributan kami ke ketua RT. Mereka pun melerai pertikaian kami. Kalau saja tidak dipisahkan, bisa dipastikan kami akan saling membunuh malam itu.

****

Aku menatap surat cerai diriku dan Tara. Setahun. Hanya setahun rumah tangga kami bisa bertahan. Apakah Tara lupa kalau kami saling mencintai? Apakah hanya demi pemenuhan kebutuhan batin saja Ia rela rumah tangga yang kami bangun atas nama cinta semudah itu untuk dihancurkan?

Pengadilan mengabulkan gugatan Tara terhadapku. Ya, Tara yang menggugat cerai. Aku juga tak mau mempertahankan rumah tangga ini setelah semua yang Ia lakukan.

Tara rupanya tak menuntut harta gono gini. Ia tak mau sama sekali. Jelas saja, Damar anak orang kaya. Jauh berbeda dengan aku yang masih banting tulang pontang-panting demi membayar berbagai tagihan.

Tara mengulurkan tangannya, mungkin ingin berjabat tangan denganku untuk yang terakhir kalinya. Keluarganya menatap sedih akan akhir rumah tangga kami. Begitupun keluargaku yang menatap sedih karena putusnya hubungan dua keluarga karena kami bercerai.

Aku tak menyambut uluran tangan Tara. Jijik rasanya. Tangan itu begitu kotor di mataku. Tangan wanita pendosa yang telah berkhianat dan menghinaku secara sadis.

Tara menarik kembali tangannya. Ia lalu berjalan melewatiku, namun berhenti sebentar saat kami berpapasan.

Tara berkata pelan hampir setengah berbisik hanya agar aku saja yang mendengarnya. "Selamat tinggal laki-laki lemah. Makanya jangan loyo, jadi ditinggalin deh."

Aku menengok ke arahnya. Tara tersenyum puas. Tanpa kata Ia ucapkan "Bye... Bye..."

***

Sehabis bercerai, aku merasa hidupku amat hancur. Aku tak semangat bekerja dan hanya berada di dalam rumah saja.

Kerjaanku hanya minum-minuman beralkohol dan merokok saja. Tak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhku.

Sampai aku akhirnya masuk rumah sakit. Papa dan Mama yang membawaku. Mereka sangat sedih dengan keadaanku.

Hidupku sudah gagal. Semua hancur. Tak ada yang bisa kuperbaiki.

"Mau sampai kapan kamu jadi laki-laki lemah kayak gini?" tanya Papa saat Ia kesal karena aku bahkan tak mau makan sama sekali sampai harus diinfus.

Aku tak menjawab perkataan Papa. Menengok saja aku tidak.

"Pantas saja Tara meninggalkanmu dan berselingkuh. Kamu memang laki-laki lemah yang bisanya hanya menangis merenungi nasib. Cemen!"

Emosiku tersulut mendengar perkataan Papa. "Apa maksud Papa berkata seperti itu? Agas tidak lemah. Agas kuat!"

"Laki-laki kuat apa yang makan saja harus melalui selang infus? Kayak anak kecil! Seharusnya kegagalan kamu bisa menjadi pecut agar kamu memperbaiki hidup kamu yang hancur! Bukan hanya meratapi nasib saja seperti ini! Kalau kamu selemah ini, main Barbie saja sana!" inilah Papa yang keras dalam mendidikku. Aku jadi lemah juga karena terlalu takut pada Papa.

"Apa yang harus Agas lakukan, Pa? Tara sudah pergi meninggalkan Agas. Rumah tangga Agas sudah berantakan. Apa yang Agas punya sekarang?" aku meluapkan kekesalanku dengan berteriak pada Papa.

Papa bukannya menjawabku malah melemparkan sebuah map padaku. "Papa kasih modal."

Aku membuka map dan terkejut. Ternyata isinya adalah beberapa sertifikat tanah milik Papa yang bernilai lumayan besar.

"Perbesar usaha kamu! Pakai modal yang Papa berikan. Buktikan kalau kamu bukan laki-laki lemah seperti yang Tara katakan. Anak Papa bukan laki-laki lemah! Tampar mereka yang menghina dan mengkhianati kamu dengan kesuksesan. Jangan cuma menangis kayak anak kecil!"

Aku menatap Papa. Aku tahu bukan hanya aku saja yang sakit hati dengan perceraianku dan Tara. Papa juga.

Papa merasa terhina dengan alasan bercerai Tara yang mengatakan pada keluarganya kalau aku hanyalah pria impoten, karena itu kami tak jua dikarunia anak. Alasan yang jelas-jelas tak masuk akal! Papa begitu murka pada Tara. Papa tak terima anaknya dikatakan seperti itu.

Aku diam sambil menatap map berisi beberapa surat tanah milik Papa. Benar yang Papa katakan, aku tak boleh hanya berdiam diri saja dan menangisi nasib seperti seorang pengecut.

"Agas akan buktikan sama Papa kalau Agas bukan laki-laki lemah. Papa lihat saja, Agas akan buktikan kalau pengorbanan Papa tak akan sia-sia. Agas akan mengembalikan semua modal yang Papa berikan!" tekadku.

****

Hi Semua... Langsung Add favorit ya novel ini. Jangan lupa di like juga. Aku masih Up sehari sekali dulu ya. Nanti aku Up rutin 2x, oke?

Tetangga Baru

Aku pun pulih dengan cepat. Aku harus sehat agar aku bisa membalas dendam pada semua yang menghinaku. Motivasi untuk membalas dendam membuatku bangkit lebih cepat.

Aku menjual tanah yang Papa berikan. Uangnya kujadikan sebagai modal usaha. Aku perbesar bisnis showroom mobil milikku dan sebagian kuputar di pasar saham.

Ternyata aku memiliki kemampuan menganalisa saham dengan baik. Saham yang kubeli naik terus dan mendatangkan keuntungan yang besar.

Bisnis showroomku juga semakin besar. Aku menggaet perusahaan leasing dan beberapa bank untuk bekerja sama. Pembeli di showroom milikku semakin banyak karena aku memudahkan mereka membeli kendaraan dengan menyicil di leasing dan bank yang bekerja sama denganku.

Berawal dari satu buah showroom, lama kelamaan bisnisku semakin berkembang. Aku sudah membuka beberapa cabang. Aku membangun sendiri kerajaan bisnisku.

Tekadku untuk membalaskan dendam yang membuatku bisa sesukses sekarang. Dua tahun, aku butuh waktu dua tahun untuk bisa mengembalikan semua hutangku pada Papa.

Papa tersenyum bangga akan kehebatanku. Ya, aku bukan lagi laki-laki lemah. Aku si duda kuat. Akan kubalas Tara dan Damar!

****

Tara dan Damar seakan tak pernah puas membuatku sakit hati. Dengan sengaja mereka membeli rumah tepat di depan rumahku.

"Hi mantan suami!" sindir Tara saat mereka sedang pindahan rumah.

Aku yang sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca berita di portal berita online menengok ke arah asal suara.

Tara tersenyum meledek ke arahku. Perlahan Ia berjalan mendekat seraya memperhatikan mobil milikku yang terparkir di garasi.

"Udah punya duit ya sekarang buat beli mobil baru? Oh iya lupa, sekarang kan kamu duda yang enggak punya istri untuk dinafkahi?! Jadi wajar ya uangnya untuk membayar cicilan mobil baru?" sindirnya dengan pedas.

Aku mengangkat pandanganku dari I-pad yang kupegang. Berita tentang politik dan ekonomi yang kubaca tak lagi menarik.

Aku melihat penampilan Tara sekarang. Jujur saja, Tara jauh lebih cantik dibanding saat menikah denganku dulu. Tak lagi memakai daster yang kadang Ia jahit sendiri di bagian ketiak yang robek.

Tara mengenakan blouse warna cream dengan celana warna cokelat muda. Anting bulat besar menghiasi kedua telinganya. Lipstik yang Ia kenakan juga terlihat begitu menggoda di bibirnya yang seksi.

Kulipat kedua tanganku di dada. "Kenapa? Kangen ya sama mantan suami kamu yang tampan ini? Enggak bisa lepas dari pesona gantengnya? Sadar kalau selingkuhan yang kini sudah jadi suami kamu itu mukanya standar?"

Tara tersenyum sinis. "Ganteng tapi loyo! Untuk apa?"

Aku berjalan mendekat ke arah Tara. "Kata siapa aku loyo?" aku menurunkan suaraku setengah berbisik. "Aku bisa membuatmu menggelinjang kenikmatan sekarang. Kamu masih ingat kan kalau punyaku itu big. You know, big is better!"

Aku berniat meninggalkan Tara dan masuk ke dalam rumah. Namun aku memilih berhenti sejenak. "Selamat datang di komplek perumahan kami. Jangan lupa bayar uang sampah, eh lupa masa sampah bayar uang sampah? Ha....ha....ha...."

Kututup pintu rumahku, aku yakin Tara sangat emosi. Ia bahkan menendang pintu rumahku untuk meluapkan emosinya.

****

Aku kini sudah rapi dan wangi, aku siap ke showroom hari ini. Biasanya aku jarang ke showroom, cukup menerima laporan saja dari anak buahku.

Aku lebih suka di rumah sambil memperhatikan perubahan grafik harga saham. Namun tetangga depan rumah membuatku lebih memilih berada di luar dibanding di dalam rumah.

Aku memakai kaos warna hitam dibalik jas yang kukenakan. Sekarang aku lebih memperhatikan penampilan. Tak lagi terlihat seperti pemilik showroom kere kayak dulu.

Kunyalakan mobil Mini Cooper warna biru milikku. Aku suka mobil seperti ini. Rencananya aku mau membeli mobil sport namun garasi mobil di rumah hanya muat untuk satu mobil saja.

Meski tak melihat langsung, aku tahu ada dua pasang mata yang melihat ke arahku. Mereka pasti ingin tahu, semenyedihkan apa hidupku saat ini.

Sayangnya, aku malah lebih bahagia sekarang. Lebih bebas. Lebih liar lagi.

Aku mengeluarkan mobilku dari garasi dan harus berhenti karena menunggu truk besar pengangkut barang tetangga baruku selesai menurunkan kursi berukiran kayu jati turun.

"Hi tetangga baru! Kok langsung pergi sih? Enggak betah ya liat sepasang suami istri penuh cinta kayak kami berdua?" Damar menarik pinggang Tara mendekat lalu mencium bibir Tara dengan penuh hasrat membara.

Aku tersenyum sinis. "Memalukan! Aksi pasangan yang dilahirkan dari kumpul kebo ya mirip kayak kebo! Enggak tau malu!" sindirku.

Wajah Damar memerah, Ia rupanya cepat sekali tersulut emosi. "Tolong titip rumah saya ya! Nanti kalau jaganya bener, saya beliin martabak deh!"

Kulambaikan tanganku lalu menginjak pedal gas saat kursi jati yang diturunkan dari mobil sudah memasuki rumah. Kulambaikan tanganku sambil melihat dari spion kalau sepasang suami istri itu sedang bersungut kesal.

Senyum di wajahku menghilang. Shiiiittttt! kupukul stir mobilku. Laki bini sialan!

Kenapa mereka harus pindah ke depan rumah sih? Mau pamer? Mau nunjukkin betapa bahagianya mereka? Cih!

Aku tak bisa menyembunyikan kemarahan aku lebih lama lagi. Mereka pasti sengaja mau menghinaku. Sengaja mau menertawakanku.

Argghhh....

Moodku berubah jelek!

Kubelokkan mobilku memasuki sebuah showroom mobil yang terletak di pinggir jalan besar. Ya, show room ini milikku. Buah kesuksesanku.

Kedatanganku disambut hormat dengan security yang berjaga di depan. Layaknya seorang komandan yang dihormati ajudannya.

Aku turun dari mobil dengan kacamata sunglass yang kupakai. Menambah nilai plusku di mata orang lain.

Aku belajar arti pentingnya sebuah penampilan. Showroom lamaku jarang pembeli karena aku berpakaian layaknya penjaga toko, bukan pemilik showroom. Kini, penampilanku sudah seharusnya sebagai pemilik showroom.

Beberapa pembeli terlihat sedang melihat-lihat koleksi mobil di showroom. Aku berjalan melewati resepsionis yang menyambutku dengan senyumnya yang lebar.

"Pagi, Pak Agas." sapa para SPG mobil yang berdandan cantik dengan rok pendek diatas lutut.

"Pagi!" jawabku singkat.

Aku melihat mereka satu persatu. Sepertinya aku butuh hiburan karena habis menghadapi sepasang suami istri mengesalkan tadi.

"Ci! Bisa ikut saya?" tanyaku.

Senyum di wajah Cici mengembang mendengar namanya dipanggil.

"Siap, Pak."

Aku lalu pergi ke lantai atas, tempat ruanganku berada. Kubuka kunci ruangan yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi.

"Masuklah!"

Aku mempersilahkan Cici masuk dan mengunci pintu ruanganku.

"Kamu butuh uang berapa buat jajan?" tanyaku.

"Tiga juta, Om."

Cici mengikutiku yang duduk di kursi kebesaranku.

"Tak masalah. Tapi saya enggak mau yang terlalu berlebihan. Just make me happy."

Cici duduk di pangkuanku dan memainkan tangannya di dadaku. "Siap, Om."

Tangan Cici dengan ahli hendak membuka kaosku namun aku tolak. "Just make me happy. You know kan caranya?"

Cici terlihat agak kecewa. Ini artinya aku tak mau menyentuh Cici. Aku hanya mau dipuaskan olehnya.

Cici lalu memasang senyum di wajahnya. Bayangan mendapat tiga juta dalam waktu instan membuatnya rela melakukan apapun.

Cici pun mulai berjongkok dan membuka resleting celanaku. Ia pun mulai memberikanku service.

Aku menikmati service yang Cici berikan. Slow tapi kadang fast. Aku mendesah puas sampai akhirnya aku tak kuat dan menyemburkan cairan hangat milikku. Cici sudah siap dengan tisu.

Nafasku masih tersengal. Lumayan kepuasan batin tanpa harus menikah! Untuk apa menikah kalau aku bisa mendapatkannya dari siapapun.

****

Untuk Agas si Duda Nackal yuk kasih like dan add favorit 🥰🥰

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!