NovelToon NovelToon

Sekedar Pemuas

Si Cantik Sofea!

Kemilau jingga itu membentang indah dilangit sana, suara burung berterbangan dengan keindahan daya tarik Visual mentari yang nekat menjauh dari Timur. tapi pemandangan ini sangatlah menarik, ketenangan disaat menuju malam tiba yang tak bisa orang lihat, kibaran sayap para hewan diatas sana begitu bahagia kembali pulang membawa hasil pencarian hari ini.

Kiranya, tak akan ada yang tahu jika sepasang mata bulat bak boneka dengan bibir mungil berisi dan hidung mungil mancung itu tengah menatapnya penuh binaran kebebasan, sudut bibir berisi merah meronanya melengkung indah dengan garis wajah tirus namun terkesan lebih menunjukan ke anggunan.

Kelopak mata indah, alis yang teratur hitam beriringan dengan Poni tipis yang menutupi separuh dahinya oleh helaian rambut Hitam legam yang cantik.

"Kenapa kalian tak mengajak, ku?"

Renggutnya dengan senyum tipis mempesona, Tubuh jenjang nan tinggi dengan pita yang mengikat rambutnya itu sangatlah terkesan Feminim dengan Dress Toska yang cantik membalut dada sekang membusungnya bahkan bisa merekahkan kancing didepannya menjerit sesak.

"Nak!"

Perhatiannya seketika buyar saat suara lemah namun penuh kelembutan seseorang dari luar sana menariknya untuk menoleh. wajah cantik paras Bidadari itu mampu memberikan ketenangan bagi wanita paruh baya yang memakai Syal duduk diatas Kursi Rodanya.

"Mama!"

"Sedang apa?"

Tanya wanita yang dipanggil Mama itu dengan senyum hangatnya, tangannya terulur untuk menarik Wanita itu mendekat.

"Ma! Sofea ingin melihat langit jadi Sofea berdiri disitu!" Suara lembut Sofea Ratna Mahadewi, yah! dia adalah seorang Wanita cantik yang memiliki kekurangan dan Trouma berat dimasa kecilnya. Sofea takut akan keramaian hingga ia hanya bisa terkurung dalam ruang sunyi ini.

Tapi, bukan berarti karna keterbatasan itu Sofea patah langkah dan tak berguna. percayalah dia Wanita yang sangat berbakat dalam menyanyi, suara merdunya sangatlah mengalun bersenyau dengan kicauan burung yang selalu menjadi pengiring.

Tak hayal, Sofea sering mempublish suaranya tapi tak ada yang tahu dia siapa, sesosok Misterius yang selalu membuat jejak Media lalu menghilang dibantu dari Temannya di Agensi Musik yang sama.

"Apa kau ingin keluar malam ini, hm?"

"Kalau Yella kesini, Ma! kalau tidak Sofea di kamar saja!" Jawab Sofea lugas seraya bersimpuh meletakan kepalanya di pangkuan sang Ibu, tentu saja Mama Netty langsung membelai kepala indah Mahkota legam ini dengan lembut penuh rasa cinta keibuan.

"Ma!"

"Iya, Nak?"

"Sofea bermimpi kalau nanti Sofea akan punya seorang anak tapi Sofea tak melihat ada Laki-Laki disana!" Suara Sofea berubah nanar penuh kesedihan, ia terus bermimpi jikala ia duduk diatas sebuah kursi dengan dikelilingi Bunga Taman, ia menggendong seorang Bayi mungil yang masih belum terlihat wajahnya tapi, tak ada yang menemani disana selain kesunyian seorang seperti sekarang.

"Kau selalu bermimpi! maka jangan takut karena hal itu, yang penting kau harus kuat! biarpun tak banyak orang tahu tentang Keluarga kita. namun, kau harus percaya kalau Keberuntungan itu datang pada orang yang bekerja keras!"

"Iya, Ma! Sofea yakin kalau Keberuntungan Sofea masih ada, jadi Sofea hari ini membuat satu lagu khusus untuk, Mama!"

Mama Netty seketika berbinar mendengar Sofea berkata setulus itu, ia memandangi Sofea yang mengambil kertas yang tadi ia tulis dengan Gitar sedang memantik Harmoni Lagu syahdu.

"Mama, Siap?"

"Selalu, Sayang!"

Sofea duduk bersila diatas ranjangnya dengan Mama Netty yang mendengarkan dengan baik, Judul lagu Sofea kali ini yaitu I LOVE YOU MAMA.

"*Belaian tanganmu, bersenyayu dengan rambutku!! terucap sepatah kata terindah dalam hidupku.

Mama, Ohh Mama kan kukenang jasamu!!

Setiap ku tertawa kau*..

Sofea bernyanyi dari hati membuat Nyonya Netty damai seketika dengan burung-burung yang mulai bertengger seperti biasa didekat Jendela yang tadi Sofea renungkan, sayap mereka mekar seakan menikmati lantunan Harmoni dan Artikulasi jelas lembut yang keluar dari mulut cantik itu.

"Sofea!!!!"

Degg..

Seketika Sofea dengan cepat menyembunyikan Gitar dan Kertas ditangannya ke bawah ranjang dengan Mama Netty yang langsung dipeluk Sofea erat mendengar suara bentakan keras dari luar sana.

Brakk..

Pintu itu terbuka kasar oleh tubuh seorang Pria yang tampak kusut dengan pakaian barunya, Jaket kulit itu tampak rapi tapi wajahnya yang berkecamuk memandang Sofea yang menunduk.

"Masih disini kau rupanya!"

"P...Pa!"

Lirih Sofea menatap Tuan Edgar yang merupakan ayahnya yang selalu mengambil Naskah Tulisan lagu Sofea dan dijual ke Media lain, harganya sangat Fantastis dan selalu menjadi Pasaran tinggi di Masyarakat.

"Mana lagumu?"

"Pa! hari ini aku tak buat lagu!"

Srett..

"Edgar!!!"

Mama Netty terkejut saat rambut panjang rapi Sofea malah ditarik kasar membuat Sofea meringis memegangi tangan kekar Tuan Edgar yang mencengkram surai hitam itu.

"Kau jangan membohongi aku! kau ini Wanita buangan yang tak dikenal orang, Berikan benda itu padaku!!"

"Pa hiks, Ra..Rambutku sakit!"

Namun, Tuan Edgar tak memperdulikan rintihan yang keluar dari bibir sensual Sofea. ia menarik wanita malang itu berkeliaran mengobrak-abrik kamar yang semula rapi seketika berantakan karna tangan kasar ini mencari benda itu.

"Mana dia??"

"Pa hiks, Lepass!!"

Isak Sofea lirih seraya memukul tangan kekar itu dengan tangan putih lembutnya yang merah, tapi sayangnya Tuan Edgar sangatlah kuat sampai membuat ia kualahan melawan, melihat Sofea yang tak ingin menjawab seringaian licik Tuan Edgar langsung menyapa Mama Netty yang gemetar saat uluran senjata itu tepat menuju keningnya.

"Kau katakan! atau wanita menyusahkan ini mati dihadapanmu."

Mata Sofea yang berair seketika pasrah menunjuk bawa ranjangnya membuat Tuan Edgar tersenyum senang mendorong Sofea ke lantai hingga kepala wanita itu terbentur ke benda keras itu.

"Edgar! berhentilah menjual hasil kerja keras, Sofea!"

"Kau tahu apa? Pengobatan mu saja sudah lebih menguras nyawa Wanita sialan ini, jangan belagak suci dengan memanfaatkannya begitu!"

Ketus Tuan Edgar menendang kursi roda Mama Netty nyaris terjungkal namun Sofea dengan cepat memeganginya, kedua pasang mata itu menangis tanpa mampu berbuat banyak akan perlakuan tak mengenakan Pria itu.

"M..Maafkan, Mama!"

"Sudahlah, Ma! lagi pula nanti Sofea bisa buat lagi yang lebih bagus!"

Jawab Sofea meredam rasa sakit fisik dan batinnya, meski terkadang ia sudah lelah dijadikan alat pencari uang lewat Karyanya tapi Sofea berfikir keras bagaimana cara mendapatkan uang banyak lalu membawa Mamanya ke Rumah Sakit besar hingga wanita ini bisa kembali berjalan dan bebas dari penyakit Asmanya.

"Ma! mungkin nanti Sofea akan pulang larut malam, nanti Sofea akan menyediakan masakan dulu baru Sofea pergi!"

"De..Dengan Gibran?"

"Iya!"

Jawab Sofea kembali bersinar, Gibran adalah kekasihnya yang menerima Sofea ditengah buruknya pandangan Masyarakat daerah sini terhadap dirinya. pria itulah yang menjadi Kekasih Sofea walaupun terkadang jarang bertemu tapi ia yakin Cintanya yang tulus bisa berbuah manis.

.....

Vote and Like Sayang..

Masih percaya!

Kota dengan 4 Musim, yaitu Musim Semi, Musim Dingin. Musim Gugur dan Musim panas. dan kebetulan sekarang adalah Musim Semi dimana para Tumbuhan dan bunga kembali mekar setelah masa pengugurannya beberapa masa yang lalu.

Gedung-Gedung pencakar langit tampak menjulang tinggi dengan kerlipan kaca dari panasnya Efek Perusahaan ternama di Kota ini. apalagi malam ini lampunya sangat terang mampu menembus mata siapapun. keadaan lalu-lintas yang Stabil serta kebersihan lingkungan yang diutamakan Pemerintah setempat.

"Kau tahu? Pangeran Ardelof telah kembali ke kerajaan!"

"Yah, dan pasti Keluarga Kerajaan akan sangat senang dengan kembalinya setelah bertahun-tahun!"

Desas-desus para pejalan kaki anak Gadis yang begitu berbinar menceritakan kaum Keluarga Kerajaan Batalion Alison. Bangsa Bangsawan yang tengah terang dimasa keemasannya sampai Kota ini ia miliki dengan segenap kekuasaan.

Para Pejalan kaki itu terus berbicara dimana tempat dengan topik yang sama. Putra Mahkota Batalion Alison telah kembali ketanah air namun, sesosok yang tengah memakai Cadar dengan Dress selutut dan Mantel Hitam bertopi itu tengah mendengarkan dengan kesal.

Hentakan Boots berwarna hitam sama dengan Dressnya itu terus menginjak kesal dedaunan yang ia lewati.

"Dasar, tidak bisa melihat orang berada!"

Umpat Sofea yang terus berjalan dengan keanggunan yang ia miliki, Tujuannya sekarang adalah Restoran didekat Puzeel Micro tak jauh dari Kediamannya di tepi Kota ini.

Setelah beberapa lama ia sampai kesana, bukannya lewat depan Sofea memilih meloncat dari pagar pembatas menuju area belakang, ia tak terbiasa dengan keramaian didepan sana.

"Fea!!"

Perhatian Sofea langsung teralihkan dari depan ke arah samping dimana ada dua Manusia yang sedang duduk berhadapan memanggilnya dengan riang, tentu saja senyum Sofea mereka dari balik cadar tanpa Hijab itu seraya melangkah ketempat sepi itu.

"Kalian sudah lama?"

"Tidak juga, Sayang! baru beberapa menit saja!"

Jawab Gibran menarik kursi untuk Sofea yang dengan sumeringah mendudukinya, Pria dengan rambut ikal gerondong berkumis tipis diatas bibir itu tampak memberikan layanan yang bagus.

"Em, apa kalian sudah makan?"

"Sudah!"

"Belum!"

Seketika dahi Sofea menyeringit saat mendengar jawaban berbeda dari Yella dan Gibran yang menjawab Belum, apalagi wajah Gibran dan Yella terlihat pucat berkeringat dingin dan canggung.

"Ma..Maksudku aku sudah makan di rumah! kalau disini mana bisa Gibran makan tanpamu!"

"I..Iya. Sayang!"

Ucap Gibran mengelus punggung lembut Sofea yang sangat percaya hingga ia mengangguki tanpa masalah, mata Sofea tak ingin menatap kearah lain selain wajah tampan Gibran yang juga menatapnya penuh Cinta.

"Kalau begitu, kita makan saja! nanti baru kita bicarakan Lagunya!"

"Baiklah, Tapi..." Gibran menghentikan ucapannya saat sekilas melihat kening Sofea yang memar dan ini pasti karna Pria paruh baya itu lagi. "Sayang, dia melukaimu lagi?!" Sambung Gibran dengan Intonasi yang tak bersahabat.

Sofea hanya tersenyum menggenggam tangan kekar Gibran lembut seraya memberi kehangatan darinya, Gibran dan Yella adalah sahabat masa kecilnya. hanya pada dua orang ini dan Mama Netty Sofea berkeluh kesah masalahnya.

"Tidak apa! ini sudah biasa, lagi pula lukanya kecil!"

"Baiklah, kalau begitu aku sudah Pesan makanan kesukaanmu. Udang Saos Tiram dengan Ikan Tuna Krispi!"

Ucap Gibran menatap pelayan yang telah berjalan mendekat kerah mereka, Wanita berpakaian seragam Pelayan itu tampak menatap Sofea aneh dari gurat keningnya.

"Ini Tuan, Nona!"

"Terimakasih!"

Ucap Sofea ramah, tapi Pelayan itu malah mengalihkan pandangan karna semua orang tahu kalau wanita bercadar tanpa hijab yang sesekali keluar ini adalah Wanita buruk rupa yang membawa petaka kalau bergaul dengannya. Tentu Sofea merasakan itu hingga ia hanya diam menunduk.

"Kau jangan sedih! kami masih ada untukmu!" Gibran mengelus lengan Sofea dengan pandangan yang meyakinkan, tatapan panas dari seseorang membuat Sofea merasa sangat terusik hingga ia langsung menolah pada Yella yang kembali tersenyum padanya.

"Apa ada masalah?" tanya Sofea penuh intonasi halus tak terkesan menghakimi, Yella hanya menjawabnya dengan senyuman ceria selayaknya biasa.

"Tidak ada, tapi aku hanya cemburu melihat kalian bermesraan dihadapanku." Rengutan Yella seakan menjadi isyarat bagi Gibran untuk melepas genggamannya ke tangan Sofea hingga wajah pria itu berubah derastis.

"Em, Bagaimana tentang lagumu?"

"Sebentar, Sayang!" Sofea langsung mengeluarkan Amplop didalam saku Mantelnya membuat Gibran dengan cepat mendekat melihat bagaimana rentetan tulisan berserta abjadnya yang mudah dimengerti.

"Woww!! Lagunya bagus!"

"Tidak juga, aku perlu pendapat kalian!"

Sofea menarik kursi Yella untuk mendekat kearahnya seraya menarik Gibran untuk melakukan hal yang sama, namun disaat Sofea menjelaskan bagaimana nada dan Intonasi suara yang digunakan tiba-tiba ia melihat sesuatu dibalik kerah baju Yella.

"Kau beli kalung baru, ya?"

Degg..

Yella dan Gibran langsung saling pandang pucat dengan Gibran yang menyembunyikan kalung dilehernya saat Sofea fokus pada Yella yang gemetar gugup.

"Waaah, Inisialnya G!"

"I..Ini kalung..!"

"Kalung apa? kau sudah punya pacar? kenapa kau tak bilang, Ella?!"

Renggut Sofea begitu menggemaskan dibalik cadar sana, Yella semakin dibuat merasa bersalah atas semua ini karna ia dan Gibran terjebak dalam hubungan yang sangat sulit dijelaskan.

"A..I..Ini Kalungnya..."

"Gerry!!"

Sambar Gibran mencari aman seraya mengisyaratkan Yella untuk ikut bersandiwara, sayangnya Sofea begitu percaya pada dua sahabat sekaligus Gibran kekasihnya itu hingga ia menganggapnya benar.

"Benarkah? apa dia Tampan? tapi pasti dia tak setampan Gibranku!"

Sekilas rasa bersalah yang sangat dalam itu tertanam di hati mereka melihat Sofea yang begitu polos mempercayai segalanya, padahal Gibran juga tak bisa menghindar karna ia dan Yella memiliki hubungan lebih dari itu tapi mereka juga menyayangi Sofea.

"Fea! aku tak ingin membahasnya sekarang, lebih baik kita fokus saja pada Lagumu!"

"Emm, Benar juga! kalau begitu nanti kau cerita padaku, aku akan membuat sebuah Hadiah kalau itu benar!" Suara ceria Sofea membuat Yella ingin menangis, kalau bukan kesalahan pada saat itu ia dan Gibran tak akan terlibat Cinta dan kehausan.

"Sayang, kau sakit!"

"Eh, Tidak apa!"

Gibran yang terkaget karna ia sempat melamun pun hanya memberi cengiran manisnya membuat Sofea mengelus lengannya lembut.

"Aku harap kau mendapatkan kekasih seperti Gibran, dia selalu ada untukku!"

"Sa..Sayang, sampai dimana tadi?" tanya Gibran mengalihkan pembicaraan membuat suasana kembali nyaman, Sofea sesekali risih karna banyak Pelayan yang memandangnya aneh karna malam ini lampu cukup terang bagi wanita sepertinya.

"Kenapa kau disini?"

Mereka terkejut saat Seorang pria paruh baya yang menghampiri Sofea dengan raut tak suka dan itu adalah Manager tempat ini, Gibran dan Yella saling pandang langsung menarik Sofea untuk berlindung dibelakang tubuh mereka.

"Dia teman kami, memangnya kenapa?"

"Hey, anak muda! dia ini wanita pembawa sial, Ayahnya saja sudah bilang kalau wanita ini adalah kutukan Tuhan!"

Cacian itu hanya Sofea telan mentah tanpa mau menguarkan pembelaan, lidahnya sudah keluh untuk berbicara pada orang-orang seperti ini.

"Keluar kau dari sini!"

Brughh..

"Fea!!"

Sofea didorong kasar membuat Bootsnya terkeseleo, dilihat dari Penampilannya wanita ini sama sekali tak seperti buruk rupa dan tak terpelajar, Gestur Sofea yang anggun dan tenang membuatnya mengibarkan aura Positif apalagi kulit putih Sofea sangat senada dengan serbuk salju.

"Pergi!!!"

"Apa-Apaan, kau ha?"

"Maaf, tapi mulai hari ini dia tak bisa melewati area Restoku dan Cafe milikku!"

Gibran ingin membantah tapi Sofea mengangkat tangannya untuk tak bicara, ia pamit seraya memberikan kembali Kertas itu.

"Sudahlah, ini lagunya! dan rekamannya juga sudah ku kirim, aku pulang!"

"Fea kau...!"

Tapi Sofea sudah lebih dulu berbalik pergi menunduk menjahui keramaian, malam dengan kemerlap lampu ini sangatlah terang membuatnya bisa sedikit menyembunyikan diri.

"Fyuhh!"

Sofea menghela nafas untuk tak menormalkan suasana hatinya, ia harus kuat ditengah rumor ini.

....

Vote and Like Sayang..

Pergi, Nak!!

Langkah Sofea terhenti didepan pintu Kediamannya yang tak terlalu megah tapi nyaman untuk ditinggali, ia selalu membersihkan Tempat kecil ini walaupun terkadang rasa lelah itu tak sanggup ia tahan.

Helaan nafasnya muncul untuk mendorong pintu Kediaman itu dengan pelan tanpa deritan, melihat jam tangan di pergelangan mulusnya Sofea masih yakin kalau Ayahnya tak ada di Rumah karna lebih asik dengan Dunia malamnya.

"Mama!"

Panggil Sofea seraya menutup pintu itu, lalu ia berbalik melangkah menuju kamar Mama Netty dengan senyum cerianya, cadar itu masih ada membalut separuh wajah Sofea yang sangat cantik membuat siapapun akan terpana.

"Hay, Sayang!"

"Kak!"

Sapa Sofea sopan memberi jarak pada seorang pria dengan tubuh agak kurus dengan raut wajah tak terduga itu sedang menunggunya didepan kamar Mama Netty, tentu Sofea tak terkejut lagi tapi ia berusaha tenang karna seperti biasa tatapan nyalang itu langsung menghunus tubuhnya.

"Dari mana Saja?"

"Kak! aku ingin menemui, Mama!"

"Temani aku dulu!"

Pria yang tak lain adalah Juand kakak laki-lakinya Sofea itu langsung menarik tangan Sofea kuat hingga hampir menubruk dadanya tapi Sofea mendorong dada Juand keras hingga mereka kembali berjarak.

Wajah Juand berubah mengeras kelam mencengkram lengan Sofea erat membuat wanita itu meringis, kulitnya berubah pucat dengan tatapan menajam Juand membuat Sofea benar-benar takut.

"L..Lepas!!"

"Sampai kapan kau menolakku, hm?"

"Kak, Lepas!!!"

Brugh..

Tubuh Sofea didorong keras kembali kelantai membuat suara berjatuhan dari Vas yang disenggol pun melengking nyaring, satu kancing atasan Sofea terlepas karna desakan dadanya yang terombang saat jatuh membuat Juand menegguk ludahnya berat melihat kulit putih bening mulus itu terlihat.

"Sempurna!" Ucap Juand berkabut membuat Sofea segera menutupi dadanya, kaki Sofea beringsut menjauh dari Juand yang melangkah mendekat dengan mata yang terus melahap tubuhnya.

"A..Aku..Aku Mohon, jangan!"

"Kau sangat-sangat luar biasa! tidak ada yang akan menerima wanita dengan Rumor petaka sepertimu, serahkan semuanya padaku!"

Sofea menggeleng keras seraya menggapai ujung meja disampingnya, namun sayang Juand mendekat cepat mengulur tangan menarik pinggang rampingnya agar mengeratkan tubuh.

Bughh..

"Wanita sialan!!!"

"M..Mama hiks!"

Isak Sofea setelah menendang bagian bawah Juand yang menonjol, ia berlari menuju kamar Mamanya dengan wajah yang benar-benar takut melihat Juand yang selalu ingin menggagahinya.

"Mama!!! Mama hiks, Tolong Maaa!!!"

"Tak ada yang bisa menghentikan-ku." Juand berucap sambil melangkah mendekati Sofea yang menggedor pintu kamar Mama Netty yang perlahan terbuka menampakan wajah panik wanita paruh baya itu.

"Ada ap..!"

"Mama hiks!"

Sofea bersembunyi dibalik kursi roda Mama Netty yang menatap Juand benar-benar murka, ia tak menyangka Putranya malah menyukai dan sangat berhasrat pada Sofea sejak kecil tapi selalu gagal karna penolakan keras Putrinya.

"Kau gila, ha?? kemana akal sehatmu, Juand???"

"Kenapa? apa aku salah ingin memilikinya?! aku pria normal yang akan bereaksi sama melihat itu semua!"

Pernyataan Juand yang gamblang semakin membuat Sofea gemetar, keringat dingin itu membanjiri keningnya dengan rasa takut yang teramat bahkan menggerogoti jiwanya.

"K..Kau..Kau tak bisa melakukan itu!"

"Aku bisa! karna aku..."

Juand menjeda ucapannya seraya terus melangkah mendekati Sofea yang berjaga-jaga, Mama Netty gelisah saat tatapan Juand tak bisa dikendalikan pada Sofea.

"Juand! dia adikmu, jangan kau..!"

"Kesini, kau!!"

"Mama!!!"

Teriak Sofea lalu berlari saat Juand kembali mengepungnya, Mama Netty berteriak kencang saat Juand malah mengejar Sofea yang sudah tak bisa berfikir hingga ia terus berlari menjahui Juand yang sudah menatapnya kelaparan.

"Kau tak akan bisa lari!!"

"Kau pria brengsek!!"

Teriak Sofea terus melempar apapun kearah Juand tanpa melihat kebelakang, ia beberapa kali keseleo akibat Boots yang dipakai berlari tak seimbang, wajah Sofea benar-benar pucat saat Juand seakan ingin menghisapnya.

"Ja..Jangan mendekatiku!"

"Kau harus aku miliki malam ini!"

Brughh..

Saat Sofea berbalik ia membentur tubuh gagah seseorang membuatnya tersungkur ke lantai dengan pergelangan kaki yang membiru akibat terus keseleo, mata Sofea dibuat gemetar saat melihat siapa yang tengah berdiri didepan pintu utama.

"P..Papa!"

"Hey!!"

Logat bicara Tuan Edgar sangat tak jelas dengan pandangan yang buram, kesadarannya terbawa angin dengan sebotol Alkohol dan sesosok wanita berbadan seksi dengan Rok Span yang sangat menampakan pangkal pahanya itu ia belit mesra.

"Dia siapa, Sayang?"

Tuan Edgar menyeringai pada wanita murahan yang ia bawa lalu menatap Sofea dengan seringaian liciknya, Mama Netty diujung sana sudah menangis melihat nasib Sofea yang tak bisa dikatakan baik.

"Dia Lacur disini!"

"P..Pa hiks, Ma..Mama disini tapi kau malah membawa dia!"

" kau pikir aku mau memiliki wanita penyakitan seperti dia!!!!"

Hati Mama Netty sudah membatu mendengar ucapan yang tak asing lagi, namun ia memikirkan Sofea karna bisa saja Edgar dan Putranya Juand akan merusak masa depan Sofea.

Tapi, kesakitan itu dapat dirasakan Sofea yang tak lagi kuat jika Mamanya terus di Permainkan begini, sebagai seorang anak ada rasa benci, sakit bahkan sangat yang tak bisa dijabarkan.

"K..Kau pria brengsek!!"

Plakk..

Tampan itu keras terjadi dari Tuan Edgar yang sudah muak dengan kehadiran wanita ini, Sofea selalu menganggunya saat membawa para wanita ke rumah ini dengan alasan wanita sakit-sakitan itu.

"Jaga bicaramu!"

"Kalian memang manusia hina, bahkan lebih hina dari binatang!!!"

"Sofea!!!!"

Bentakan mereka menggelegar mereka semua membuat Sofea terkejut tapi ia semakin memberontak saat kakinya ditarik Tuan Edgar menuju kamar disamping sana.

"Kau memang ingin ini!"

"Lepass!!!"

Sofea memberontak sampai menendang kuat membuktikan perlawanan, Nyonya Netty terus berteriak agar Sofea pergi dan lari dari tempat ini. dengan nekat saat Tuan Edgar nyaris memasukan Sofea ke kamar Mama Netty melajukan Kursi rodanya cepat ingin menubruk tubuh mabuk pria itu dengan Juand yang juga sama.

"Kesini kau!!"

Brakk..

Tuan Edgar terhuyung sementara Juand juga tersungkur akibat terjangan kursi roda Nyonya Netty yang menghantam lututnya, sementara itu Sofea langsung berdiri menatap Mama Netty yang menutup pintu kamar agar bisa memberi waktu pada Sofea.

"Lari!!! , hiks! Fea lari, Naaaak!!"

"M..Mama hiks!"

"Mama mohon!"

Pinta Mama Netty mengiba membuat Sofea menggeleng, ia tak mungkin meninggalkan Mamanya ditengah para iblis itu tak mungkin.

"M..Mama Sofea..."

"Pergi!!! Mama mohon, Sayang. Pergi!!"

Teriak Mama Netty memohon karna dua pria didalam sana telah menggedor keras membuat Sofea terisak, apa yang harus ia pilih? pergi meninggalkan Mamanya atau disini tapi menjadi penghangat para pria itu.

"Pergilah hiks, Mama Mohon!"

"Ta..Tapi bagaimana dengan, Mama?"

"Tidak usah perdulikan, Mama! kau harus bahagia, kau punya keberuntungan, Sayang!"

Mama Netty menggenggam satu tangan Sofea yang tak lagi membendung tangis, ia ingin membawa wanita ini tapi bagaimana caranya ia pergi sedangkan Kursi roda ini susah dibawa dan Pengobatan Mamanya sangat mahal.

....

Vote and Like Sayang..

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!