Nabila terus berlari dengan sekuat tenaganya. Tak dihiraukannya apapun yang ada didepannya. Pikirannya hanya tertuju pada apa yang didengarnya dari Arina.
Arina tadi menelepon Nabila dan mengatakan bahwa ada seseorang laki laki yang ingin membeli bunga di toko bunga mereka. Tapi, karena Arina ada urusan mendadak ia terpaksa menyuruh Nabila kembali dari pasar dan cepat kembali ke toko.
"Baiklah, aku akan segera kembali. Kau katakan kepadanya untuk menungguku sebentar. Dan juga tanyakan namanya siapa agar aku tidak kebingungan nanti ketika melihatnya." Kata Nabila. Ia menjawab panggilan Arina.
"Iya, sudahku katakan, ia juga mengatakan kalau dia akan menunggumu. Lalu, dia bilang kalau namanya Rafa." Kata Arina.
"Apa? Rafa? apa aku tidak salah dengar? apakah ini benar benar Rafa yang aku kenal atau tidak?" Tanya Nabila dalam hati.
Saking penasarannya Nabila langsung menutup panggilan Arina dan dengan cepat langsung pergi ke toko bunga. Selama perjalanan ke toko. Nabila terus berkata dalam hati dan meyakinkan dirinya bahwa itu bukan Rafa yang selama ini ia kenal. Dia pasti hanya orang lain yang bernama sama.
Namun, langkah Nabila terhenti ketika ia melihat Rafa. Ya, betul sekali, Nabila melihatnya. Nabila melihat seseorang yang sangat ia kenal. Ya dia adalah Rafa.
Dengan jantung yang berdegup kencang Nabila memberanikan dirinya untuk melangkah kan kakinya lebih dekat lagi ke arah Rafa. Dengan pandangan yang tak lepas dari Rafa.
"Kamu ..." Kata Nabila. Ia Mencoba untuk memastikan dan mayakinkan kalau itu Rafa yang ia kenal.
Diapun menoleh kearah Nabila, mereka saling tatapan. Namun, tatapan Rafa berbeda dengan dulu, dia melihat Nabila seperti orang baru ia kenal. Dia seperti tak mengenal Nabila. Dia pun bahkan bingung kenapa Nabila begitu terkejut ketika melihatnya.
"Kamu Rafa?" Tanya Nabila. Ia memberanikan diri untuk bertanya dan berusaha untuk meyakinkan bahwa itu benar Rafa.
Rafa pun mengangguk sambil menatap Nabila heran. Ia juga tampak kebingungan karena Nabila mengenal namanya sedangkan menurut dia ini pertama kalinya ia melihat Nabila. Dia seperti tidak mengenal Nabila. Ia juga terlihat sedikit bingung dan heran.
"Iya, kamu siapa?" Rafa pun bertanya karena dia mulai penasaran karena sikap Nabila yang begitu aneh.
"Apa benar dia tidak mengingatku?sebenarnya apa yang terjadi denganya?Kenapa Rafa tidak mengingatku? apa yang terjadi sebenarnya dan kenapa?" Tanya Nabila dalam hati.
"Permisi, maaf sebelumnya apakah kamu pelayan toko ini? owh, apakah kamu pelayan toko yang disuruh datang tadi oleh temanmu itu kan?" Tanya Rafa. Ia pun mulai bicara setelah Nabila diam tak bersuara.
"Apa kau mendengarkanku?" Tanya Rafa sambil melambaikan tangannya didepan wajah Nabila.
Nabila tak bisa mengeluarkan suaranya. Dia hanya bisa menatap Rafa dengan pandangan sendu yang tak berarti. Namun, banyak makna yang tersirat dari tatapan itu.
Tak lama setelah itu, ada yang menarik tangan Nabila ke belakang dan ternyata itu Arina sahabat Nabila. Ia terpaksa kembali karena ada barang yang tertinggal. Tapi, ia melihat Nabila hanya diam saja didepan si pembeli itu. Ia pun menarik Nabila ketempat yang agak jauh dari tempat Rafa tadi.
"Nabila, apa yang kau lakukan? kenapa kau diam saja. Dia itu pelanggan yang ingin membeli bunga di toko kita." Kata Arina. Ia sedikit kesal melihat Nabila yang tidak melayani pembeli dengan baik.
"Apa dia yang bernama Rafa?" Tanya Nabila. Ia bertanya kepada Arina karena masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Iya, dia yang sejak tadi menunggumu, dia ingin membeli bunga di toko kita." Kata Arina menjawab dengan cepat. Nabila benar-benar tidak bisa menerima semua ini. Rafa tidak mengenalnya sama sekali.
"Arina, apa aku boleh minta tolong sekali ini saja, kumohon..." Kata Nabila. Ia memohon dengan tatapan yang iba kepada Arina.
"Minta tolong apa?" Tanya Arina. Ia sangat penasaran kenapa Nabila tiba-tiba minta tolong kepadanya.
"Untuk kali ini aku ingin kau saja yang melayaninya. Aku mohon, aku tiba tiba sedang tidak enak badan dan ingin cepat cepat pulang." Kata Nabila. Ia terpaksa berbohong kepada Arina karena situasi saat ini sangat membuatnya terkejut. Kehadiran Rafa yang begitu mendadak membuat ia belum siap untuk menerima semua ini.
"Benarkah kau sakit? kenapa tidak bilang sejak tadi. Baiklah, kau pulang saja. Aku yang akan melayaninya." Kata Arina.
"Apa tidak apa apa?" Tanya Nabila dengan wajah yang sangat bersalah.
"Aku bisa mengurus urusan itu nanti. Yang penting kau pulang dan istirahat saja." Kata Arina. Ia menepuk pundak Nabila sekilas dan pergi masuk ke toko.
Sebenarnya, Nabila sangat merasa bersalah dengan Arina. Ia harus berbohong dan membuat Arina tidak jadi pergi untuk mengurus urusannya tadi. Tapi, Nabila juga tidak punya pilihan, dia tidak percaya dengan semua ini. Dia bertemu dengan Rafa lagi setelah sekian lama tidak bertemu.
Dan setelah bertemu dia bahkan tak mengingat Nabila. Apa Rafa benar-benar tidak ingat dengan Nabila? Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?
Semua pemikiran tersebut terus melayang layang dalam pikiran Nabila. Dia berjalan dengan lunglai. Saat ini Perasaan Nabila sangat bercampur aduk. Antara sedih karena Rafa lupa dengan Nabila dan juga senang karena Nabila akhirnya bertemu dengan Rafa. Atau, entahlah, semua perasaan ini bercampur aduk menjadi satu.
"Apakah setelah pertemuan ini kisah aku akan berlanjut lagi? apakah pertemuan aku hari ini ada artinya? apakah akan ada sesuatu yang akan terjadi lagi antara aku dan Rafa? apakah sedih atau bahagia yang akan aku rasakan setelah pertemuan ini?" Kata Nabila dalam hati.
Nabila terus berjalan dengan gontai seperti tidak ada lagi semangat.
"Aku sudah berusaha untuk melupakannya. Apapun cara aku lakukan untuk menghilangkanya dari pikiranku. Aku selalu frutasi dan patah semangat kalau sudah mengingatnya. Tapi, sekarang apa, aku bahkan bertemu dengannya secara langsung sekarang. Aku melihatnya, aku melihat wajahnya, aku melihatnya berbicara denganku, aku melihatnya, aku melihatnya.
Aaa ... aku frustasi dengan semua ini," Kata Nabila.
Nabila terduduk di salah satu kursi di taman tersebut. Ia mengadahkan kepalanya ke langit. Hari ini langit tampak cerah dan biru. Tapi, berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan hari ini. Tak seperti langit, hari ini perasaannya sangat suram dan sedih, hatinya gelap dan sangat gelap.
"Mungkin ada arti dari pertemuanku hari ini, apa yang akan terjadi denganku, dengan kisahku, dengan cintaku. Aku yang akan merasakan dan mengalaminya. Aku tak kan diam saja jika itu terjadi. Dan jika saatnya sudah tepat aku akan mencari tau semuanya kenapa Rafa bisa begini dan apa yang terjadi dengannya." Kata Nabila berdiri dan menggenggam erat tangannya.
Sebenarnya seperti apa hubungan yang terjadi antara Rafa dan Nabila dimasa lalu? apa yang terjadi sehingga Nabila begitu terkejut dan terpukul ketika melihat Rafa yang tak mengingatnya sama sekali?
Apa yang akan terjadi diantara kisah-kisah mereka? apakah kisah ini bahagia atau malah sebaliknya? apakah Nabila akan mampu melewati semua ini?
Kisah ini akan banyak mengalami hal hal yang tak terduga. Hal hal yang akan dialami Rafa, Nabila dan yang lainnya. Apakah cinta mereka akan dapat menyatukan kembali perasaan mereka yang sudah sedikit demi sedikit memudar?
Kisah mereka akan segera dimulai.
Nabila Hayana adalah nama panjangnya, dia biasa dipanggil Nabila. Dia seorang pelayan di toko bunga milik ibu Arina. Arina adalah sahabatnya. Nabila juga sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain sejak mereka masih kecil. Begitu pun dengan Arina. Dia juga sudah mengganggapnya seperti saudara.
Nabila juga tak punya saudara kandung. Dia anak tunggal dikeluarganya. Kini dia tinggal bersama ibunya. Karena 5 tahun yang lalu ibu Nabila memutuskan untuk berpisah dengan ayahnya.
Setelah berpisah, ibu Nabila memutuskan untuk pindah rumah dan tidak ingin tinggal satu rumah lagi dengan ayahnya. Karena itu, mereka pindah ke sebuah rumah yang mereka sewa setiap tahunnya.
Hanya Nabila yang ibu andalkan untuk mencari uang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Karena ibu sudah tak bisa lagi bekerja. Kondisi badan ibu tidak lagi memungkinkan, ibu juga sering sakit sakitan. Karena itu, ibu hanya bisa melakukan pekerjaan kecil-kecilan di rumah.
"Ibu, Nabila pergi kerja dulu ya." Kata Nabila. Tapi Ibu tak membalas ucapannya.
Nabila pun menghampiri ibunya yang sedang duduk didepan tv. Nabila melihat ibunya yang sedang menjahit beberapa helai kain dengan sangat fokus. Karena terlalu fokus ibu bahkan tak mendengar ucapannya, aku hanya bisa menghela nafas melihat ibu seperti itu.
"Huft, ibu sudah aku bilang, ibu tidak usah menjahit lagi, ibu istirahat saja, menjahit itu bisa aku yang lakukan." Kata Nabila lembut.
Nabila mengomelin ibunya lagi. Hal seperti ini sudah sering Nabila lakukan setiap pagi setiap ia ingin pergi bekerja. Hal itu membuat ibu menepuk pundak Nabila.
"Kau ini, ibu tidak selemah itu. Ibu tidak bisa bekerja diluar rumah. Namun, setidaknya ibu bisa bekerja didalam rumah dengan mengerjakan beberapa jahitan seperti ini. Pekerjaan ini bisa membantu kita. Setidaknya bisa membantu untuk menambah uang untuk membayar sewa rumah kita ini." Kata ibu.
ibu tampak menahan air matanya yang hendak turun. Nabila tau ibu sangat sedih karena melihat anaknya yang bekerja seharian dengan lelah. Dan ibu hanya bisa membantu Nabila dengan menjahit beberapa helai kain yang ibu tau upahnya tidak seberapa dan tidak terlalu membantu Nabila.
"Tapi menjahit membuat mata ibu sakit, dan tangan ibu pegal-pegal, punggung ibu juga bakalan sakit." Nabila mengatakan dengan suara yang lembut sambil memegang tangan ibunya yang sudah tua itu.
Ibu tidak ingin Nabila melihat wajahnya yang saat ini ingin menangis. Karena ibu tidak ingin Nabila selalu khawatir denganya. Ibu langsung menyuruh Nabila untuk cepat cepat pergi kerja.
"Sebaiknya sudah cukup kau mengomelin ibu pagi ini, kau harus pergi bekerja. Jika kau masih saja mengomel, ibu akan mencubitmu." Ibu pun langsung bercanda dengan sesekali mencubit pinggang Nabila.
"Sudah ibu, sudah cukup, aku akan pergi bekerja." Kata Nabila sambil tertawa melihat ibunya yang begitu usil menjahili dirinya. Karena itu, pagi ini candaan Ibu membuat hatinya Nabila lebih ceria.
Walaupun, sebenarnya Nabila tau ibu pasti lagi sedih. Ia membuat candaan seperti itu agar aku tidak melihat wajahnya yang akan menangis. Setelah itu, Nabila pun berpamitan dengan ibu dan pergi bekerja.
Setelah Nabila pergi ibu berkata lirih dalam hati.
"Apapun yang terjadi aku berharap kamu selalu bahagia, Nak." Sambil melihat Nabila yang semakin jauh dan keluar rumah.
Toko Bunga
Arina melihat Nabila baru masuk kedalam toko dan langsung menghampirinya dengan wajah yang kesal.
"Nabila, kau datang terlambat lagi yaaa. Beruntung kau itu sahabatku jadinya aku selalu memaafkanmu. Coba kalau kita tidak sahabatan pasti aku sudah memecatmu dari sini." Kata Arina dengan sedikit kesal.
Nabila sering terlambat karena jalanan sering macet dan dia pun tidak menggunakan kendaraan pribadi. hal itu membuat dia harus menunggu bus.
Nabila hanya bisa tertawa melihat kebiasaan Arina yang selalu mengomelinya. Kalau dirumah tadi, dia yang mengomeli ibunya. Tapi, sekarang malah dia yang diomeli Arina.
"Kau ini pagi pagi sudah marah nanti wajahmu cepat keriput dan cepat tua lho." Kata Nabila sambil tersenyum ke arah Arina.
Nabila pun tertawa melihat wajah Arina yang kesal dan cemberut. Arina sangat marah dan kesal karena Nabila berkata seperti itu.
"Aku kesal denganmu Nabila. Kau terus mengatakan jika aku marah wajah aku akan keriput. Nanti wajahku beneran keriput bagaimana." Arina tampak kesal.
"Itu tergantung kamu, kalau kamu tidak merawat diri ya bakalan keriput." Kata Nabila. Nabila pun hanya bisa tertawa. karena semua itu juga tergantung dengan Arina, bagaimana dia merawat diri.
"Pokoknya aku kesal denganmu Nabila." Arina kembali cemberut.
Padahal, awalnya Nabila hanya ingin bercanda dengan Arina.Tapi, ya begitulah Arina, dia orangnya sedikit pemarah dan mudah kesal.
Arina pun pergi kebelakang ke ruangan yang berbeda dari tempat Nabila tadi. Karena Arina itu, kalau sudah marah dia tidak akan mau berbicara dengan Nabila. Tapi, itu hanya berlaku untuk beberapa saat karena nantinya Arina bakal baikan sendiri kok, sesuai dengan moodnya sendiri.
Nabila hanya bisa tertawa melihat kelakuan Arina yang seperti itu. Setelah itu, Nabila melihat Arina yang kembali sibuk mengurus pekerjaannya. Nabila pun juga mulai bekerja dan membereskan beberapa bunga-bunga serta perobatan lainnya.
Namun, pergerakan Nabila terhenti karena lonceng pintu berbunyi tandanya ada pelanggan yang datang. Nabila pun bergegas menghampiri dan langsung menyambut pembeli itu.
"Selamat pagi tuan, adakah yang bisa saya bantu?" Tanya Nabila sopan.
Nabila pun baru menoleh keatas dan melihat wajah si pembeli itu, dan seketika Nabila terkejut dengan apa yang di lihatnya. Ternyata itu Rafa, dia datang kesini lagi. Nabila kembali bertemu lagi dengan Rafa, Nabila kembali terkejut dan langsung tidak fokus. Nabila tidak percaya kalau Rafa akan datang lagi ke toko ini dan dia bertemu lagi dengan Rafa.
Setelah pertemuan kemaren Nabila sangat terkejut akan kehadiran Rafa yang secara mendadak itu. Dan kini Nabila kembali dibuat terkejut karena Rafa datang kembali ke tokonya. Nabila pikir ia hanya akan datang kemaren saja tapi ia kini ia datang lagi.
Nabila terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Terlalu banyak yang dia pikirkan membuat Nabila terdiam dengan tatapan yang masih melihat Rafa.
Rafa pun melambaikan tangannya didepan wajah Nabila. Karena Nabila hanya terdiam seperti patung dan tidak bicara sama sekali.
"Kau bisa mendengarku?" Rafa pun berbicara kepada Nabila dengan wajah heran.
Nabila pun cepat cepat tersadar dari lamunanya dan dari pikiran yang menggangunya itu. Nabila berusaha untuk bersikap normal dan biasa saja, karena Rafa tetap tidak mengenalnya.
"Adakah sesuatu yang ingin kau beli tuan?" Nabila langsung saja bertanya dengan Rafa.
Rafa pun sedikit mengernyitkan keningnya ketika melihat Nabila.
"Kau pelayan yang kemaren kan? kita bertemu juga kemaren didepan tokomu dan kau tiba tiba pergi dengan wajah terkejut dan ketakutan?" Tanya Rafa penasaran.
Nabila hanya mengangguk kaku karena Rafa ternyata masih mengingat kejadian kemaren itu.
"Bolehkah saya tau kenapa kau kemaren sangat terkejut ketika melihatku? apakah kita saling mengenal? karena kalau dilihat kemaren kau sepertinya sangat terkejut ketika pertama kali melihatku." Tanya Rafa penasaran.
Seketika Nabila bingung mau menjawab apa. Tapi tiba-tiba Nabila menemukan jawaban yang tepat.
"Kau mirip dengan temanku yang hilang, namanya juga Rafa dan wajah kalian juga sangat mirip." Nabila pun mengutuk dirinya karena mengatakan jawaban yang konyol seperti itu.
"Benarkah? dia mirip denganku bahkan namanya juga?" Rafa tertawa dan tak percaya.
"Semoga kau cepat menemukan temanmu itu ya." Kata Rafa tersenyum.
Nabila pun hanya bisa tersenyum kaku dan tak percaya dengan jawabannya sendiri.
"Namamu Nabila kan?" Tanya Rafa tiba-tiba.
Seketika mata Nabila membulat tak percaya, ia mengetahui namaku? ia mengenalku? apa dia sudah ingat denganku? Nabila tampak terkejut dengan mata yang membulat.
5 tahun yang lalu ...
Belanda,17 Agustus 2015
Tampak sepasang kekasih sedang duduk dengan santai disalah satu taman bunga yang ada di Belanda. Mereka saling memandangi berbagai macam bunga yang berada di sekitar mereka, sambil menikmati permen gulali yang sedang mereka makan.
"Pemandangan disini sangat indah, aku sangat menyukainya." Kata Nabila.
"Iya, pasti karena ada aku juga kan." Kata Rafa sambil tertawa.
"Huhh ... kau sangat kepedean." Nabila berkata dengan tersenyum dan lanjut memakan permen gulalinya.
Dan ternyata sepasang kekasih itu adalah Nabila dan Rafa. Dulunya, mereka adalah sepasang kekasih yang saling jatuh cinta dan saling mencintai. Tak ada halangan bagi mereka untuk saling mencintai.
Bahkan, Rafa rela menemani Nabila sampai ke Belanda demi kelancaran penelitian yang sedang dilakukan sang kekasih.
Karena saat ini, Nabila sedang melakukan sebuah penelitian terhadap bunga dan tumbuhan di salah satu tempat di Belanda. Dia terpilih menjadi salah satu perwakilan dari Indonesia ke Belanda untuk melakukan penelitian tersebut, karena bakat dan kehebatan Nabila dalam menganalisis tentang tumbuhan dan berbagai macam bunga.
"Tidak salah kita memilih hari ini untuk pergi ke taman bunga ini, karena cuacanya sangat bagus." Kata Nabila.
"Benar, cuacanya sangat bagus. Tapi, kenapa kau sangat ingin pergi ke taman ini?" Rafa bertanya. Dan sambil tetap memakan permen gulalinya.
"Pergi ke taman ini merupakan salah satu impian aku dari kecil, karena disini ada begitu banyak macam bunga yang sangat indah dan cantik." Kata Nabila kagum.
Dengan mata berbinar Nabila menjawab pertanyaan Rafa dan terus memandangi hamparan bunga yang ada didepan mereka.
Lalu, Nabila beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke salah satu bunga yang terletak didekat situ. Rafa pun mengikutinya karena penasaran kemana Nabila pergi. Setelah sampai disalah satu bunga tersebut Nabila tampak sangat bahagia sambil menyentuh bunga tersebut.
"Wahhh, ternyata jika dilihat secara langsung bunga ini lebih indah." Kata Nabila. Sambil mengelus elus bunga itu.
"Kau menyukai bunga ini?" Rafa bertanya kepada Nabila karena tampaknya Nabila sangat menyukai bunga tersebut.
"Tentu saja, bunga ini merupakan bunga favorit aku. Sudah sangat lama aku ingin melihat bunga ini dan bahkan sangat ingin memilikinya."
"Tapi, aku hanya bisa melihatnya lewat foto saja karena aku tak mampu membelinya
Kau tau bunga ini sangat mahal." Sambil melihat kearah Rafa, Nabila tersenyum sendu.
"Ya sudahlah, yang penting sekarang kau sudah bisa melihatnya secara langsung dan kau juga sudah bisa menyentuhnya. Kau senang?" Rafa bertanya kepada sambil menghibur Nabila yang tadi terlihat sedih.
"Tentu saja, aku tidak akan pernah melupakan momen ini." Kata Nabila.
"Tapi, kalau dilihat lihat bunga ini tampak biasa saja. Tidak ada sesuatu yang kelihatan istemewa. Tapi, kenapa kau begitu menyukainya?" Tanya Rafa. Ia tampak heran setelah memandangi bunga itu.
Nabila sekilas melihat Rafa karena pertanyaan Rafa itu. Nabila kembali memandang bunga itu dengan tersenyum.
"Jangan dilihat dari luarnya saja, tapi dari arti dan makna bunganya ini." Kata Nabila.
"Apa kau tau nama bunga ini? namanya adalah wallflower walaupun tampak biasa saja. Tetapi, bunga ini punya arti yang sangat dalam dan sangat bermakna. Kau tau apa artinya? Nabila bertanya kepada Rafa.
"Aku tidak tau, karena aku juga tidak terlalu menyukai bunga. Karena itu, aku juga tidak terlalu banyak tau tentang bunga." Sambil tersenyum kearah Nabila.
"Huft, kau ini, baiklah kalau begitu aku akan memberi taumu. Jadi, wallflower ini mempunyai arti cinta yang kuat, jika dia bisa berkata dia akan mengatakan hal seperti ini."
"Walaupun harus menyeberangi laut, melewati lautan api, aku akan tetap mencarimu. Sayang, cintaku hanya untukmu." Seperti itulah ibaratnya.
Sambil mengatakan kalimat itu kepada Rafa, secara tak sadar Nabila memandangi Rafa dengan tatapan cinta dan hangat. Tatapan seperti itulah yang Rafa sukai dari Nabila. Seperti cinta itu hanya untuknya dan terasa sangat setia.
Rafa pun membalas tatapan Nabila dengan tatapan cinta juga. Saat ini ia hanya ingin memandang Nabila saja. Dan pada akhirnya mereka saling pandang memandang dengan tatapan yang sangat romantis.
Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk berfoto didepan bunga tersebut. Agar Nabila punya kenang kenangan dengan bunga itu.
Namun, Nabila tersadar akan sesuatu dan memukul lengan Rafa.
"Hei ... kau ini ... kita hampir melupakan festival tersebut, ini sudah hampir jam berapa, pertunjukannya sudah hampir mulai." Kata Nabila dengan wajah cemas.
"Kita masih punya waktu, kau ini bikin aku takut saja, aku kira tadi ada apa." Kata Rafa terkejut.
Nabila menghela nafasnya berat, Rafa begitu santai dan tidak tau betapa cemasnya Nabila jika mereka telat 1 detik saja.
"Tempatnya cukup jauh kalau dari sini, karena itu kita harus pergi lebih awal, kita tidak boleh telat pokoknya. Ayo, kita pergi sekarang juga." Nabila pun menarik tangan Rafa dan bergegas pergi.
Mereka akhirnya tiba di pantai Scheveningen, Den Haag. Tempat dimana festival tersebut diadakan. Festival ini merupakan acara yang mempertunjukan kembang api yang meriah dari berbagai negara. Festival ini hanya diadakan satu kali setahun.
Nabila tidak pernah sebelumnya melihat acara yang seperti ini dan semeriah ini. Jadi, Karena itu Nabila sangat antusias untuk melihat pertunjukan ini yang mungkin bisa dia lihat hanya sekali ini saja.
"Pertunjukannya sebantar lagi akan dimulai, aku sudah tidak sabar ingin melihatnya." Kata Nabila. Ia sangat bahagia sambil memeluk lengan Rafa.
"Kau seperti anak kecil saja yang baru pertama kali melihat kembang api." Kata Rafa.
"Tapi, ini kan bukan seperti kembang api biasa, ini lebih mewah dan megah, ini momen yang takkan terulang lagi, jadi aku harus sangat antusias dong." Kata Nabila.
Setelah itu, bunyi aba aba bahwa festival akan segera dimulai. Panitia acara itupun meminta para pengunjung untuk sama sama menghitung mundur dengan serentak. Nabila pun sangat antusias dan ikut menghitung.
"Three, two, one ...."
Duarr... Duarrrr...
Semua pengunjung disana terlihat terkejut ketika kembang api itu meletus dilangit. Namun, dalam sekejap mereka semua kagum melihat indahnya kembang api tersebut.Tak terkecuali Nabila dan Rafa, mereka pun tampak terpukau dan takjub melihat kembang api itu dan keindahan yang ditunjukannya.
Mereka berdua tidak bicara apa apa, hanya terdiam dan takjub melihat kembang api itu. Dalam hidupnya, baru sekali ini Nabila bisa merasakan dan melihat keindahan yang megah seperti ini di negeri orang.
Lalu, tiba-tiba Rafa menarik tangan Nabila dan mengarahkan Nabila untuk menghadapnya.
"Hmm? ada apa ? kenapa kau memegang tanganku?" Tanya Nabila tampak heran dan bingung.
"Aku ingin memberikanmu ini." Rafa pun mengeluarkan bunga yang dipegangnya
dan memberikan kepada Nabila.
Nabila pun terkejut dan tidak menyangka bahwa Rafa memberikannya wallflower yang merupakan bunga favoritnya, Nabila bahkan tak tau harus berkata apa karena terlalu bahagia.
Dan Rafa memberikan bunga itu kepada Nabila disaat momen yang tepat. Rafa terlihat sangat romantis dihadapan Nabila.
Tak kuasa menahan air mata karena terharu dengan pemberian Rafa. Nabila pun menangis.
"Heyyy jangan menangis, kau jelek kalau menangis." Rafa pun menghapus air mata Nabila dan tertawa ketika melihat Nabila marah.
"Kau ini menghancurkan keromantisan kita saja." Kata Nabila kesal. Tetapi Nabila tetap senang akan pemberian Rafa tersebut.
"Kapan kau membelinya? perasaan sejak tadi kita selalu berdua dan kau tidak ada pergi kemana mana." Kata Nabila penasaran.
"Rahasia dong, yang terpenting sekarang kau sudah mendapatkan bunganya kan." Kata Rafa.
"Terima kasih Rafa," Nabila berucap sangat lembut dan memeluk Rafa, Rafa pun membalas pelukan Nabila.
"Aku mancintaimu." Kata Rafa.
"Aku juga mencintaimu." Balas Nabila.
Namun, tak ada yang menyangka bahwa kebahagian mereka bisa menghilang dalam sekejap.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!