NovelToon NovelToon

Ditalak Sebelum 24 Jam

TRAGEDI BRIDESMAID

Tepat jam 10 pagi hari. Abi mengikrarkan ijab qabul didepan orang tua Nara, saksi, serta seluruh undangan. Suasana terasa begitu khidmat. Wajah Abi terlihat tegang, sedangkan Nara, dalam hati terus berdoa agar semuanya dilancarkan.

SAH

Kalimat itu mampu membuat hati Nara langsung terasa plong. Ketakutannya jika Abi harus mengulang beberapa kali ternyata tak kejadian. Dengan satu tarikan nafas, Abi mampu mengikrarkan ijab qabul dengan sangat lancar.

Perasaannya kian membuncah saat Abi menatap kedua matanya lalu mencium keningnya. Melayang, sudah pasti. Selama 8 tahun pacaran, inilah tujuannya, pernikahan. Dan hari ini, tepat jam 10 pagi, dia telah sah menjadi istri Abimana Megantara.

Sore hari, dilanjutkan dengan resepsi outdoor di sebuah pantai di Bali. The dream came true, itulah yang dirasakannya. Sejak dulu, inilah mimpinya, menikah di tepi pantai dengan panorama sunset.

"Aku merasa telah menjadi wanita paling bahagia didunia," ucap Nara saat mereka sedang berdansa.

"Aku juga sayang." Sahut Abi sambil tersenyum lalu menyatukan bibir mereka. Sejenak melupakan jika mereka sedang tak hanya berdua saat ini.

Setalah dansa, acara dilanjutkan dengan pelemparan bunga.

3, 2, 1

Tepat pada hitungan 1, Nara dan Abi yang membelakangi tamu melemparkan buket bunga.

Riuh rendah langsung terdengar. Dan orang yang beruntung mendapatkan bunga itu adalah Arumi. Salah satu sahabat Nara dan Abi yang hari ini didapuk menjadi bridesmaid.

"Yee... congrats Rumi." Teriak Nara. Sebagai seorang sahabat, dia juga ingin Arumi segera menyusul dirinya untuk berumah tangga.

"Kayaknya ada yang bentar lagi mau nyusul," goda Ken sambil menyenggol lengan Arumi.

Seharusnya, Arumi bahagia karena mendapatkan bunga. Tapi raut wajahnya jelas menunjukkan hal berbeda. Dia tampak muram.

"Eh, kita joget tok tok yuk, barengan sama pengantin," ajak Nova bersemangat.

"Yuk yuk yuk."

Hampir semua bridesmaid dan groomsmen terlihat setuju. Hanya Arumi saja yang tak mengeluarkan suara, dan terlihat tak semangat. Wajah gadis itu juga tampak pucat, seperti orang sakit.

"Yuk Rum." Tarik Nova saat Arumi tak juga ikut membentuk formasi.

Setelah semuanya siap sesuai formasi, keseruanpun dimulai. Nara dan Abi yang berada ditengah tentu saja tak mau kalah semangat dari para bridesmaid dan groomsmen. Mereka bintangnya disini, jadi tak mau kalah semangat dari yang lain.

Brukk

Keseruan itu langsung terhenti saat Arumi tiba tiba jatuh pingsan. Ken langsung menganggat tubuh gadis itu, membawanya ke sebuah kursi terdekat. Sedangkan Nova dan Amel sibuk mencari minyak angin.

"Rum, bangun Rum." Kata Nova sambil mengoles minyak angin dibeberapa bagian wajah Arumi. Arumi tampak sangat pucat, bahkan sudah seperti mayat hidup.

"Alhamdulillah..." Ucap mereka kompak saat Arumi mulai membuka mata.

"Rum, lo baik baik aja kan?" tanya Nara cemas. "Lo pasti kecapekan, muka lo pucat banget. Sori ya, gara gara jadi bridesmaid diacara gue, lo sampai pingsan gini," dia merasa bersalah.

"Gue istirahat dulu ya," ujar Arumi sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.

"Ok, gue anter ke hotel," sahut Amel dan langsung diangguki oleh Arumi.

Sejak semalam, mereka memang menginap di hotel yang berada tak jauh dari tempat resepsi. Rencananya, besok siang, mereka baru kembali ke Jakarta.

...******...

Nara mematut dirinya didepan cermin. Mengoles lipgloss rasa strawberry dan menyemprot parfum di leher serta pergelangan tangannya.

Rasanya memang aneh memakai lingerie transparan yang menunjukkan dengan jelas lekuk tubuhnya. Tapi rasa malu itu dia tahan demi malam pertama yang takkan terlupakan. Dia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk Abi. Membuat malam ini, Abi tak akan mampu berpaling darinya.

Sepertinya, usahanya berhasil. Terbukti, Abi yang baru keluar dari kamar mandi, menatapnya tanpa berkedip. Pria yang baru beberapa jam yang lalu menyandang status sebagai suaminya itu berjalan mendekat sambil tersenyum.

"Kamu cantik sekali malam ini," puji Abi sambil menyentuh dagu dan pipi Nara.

Nara serasa melayang mendengar pujian suaminya. Darahnya langsung berdesir saat Abi meraih tengkuknya dan menyatukan bibir mereka.

Memang bukan ciuman pertama, tapi terasa sangat lain karena suasana malam pertama.

Mereka saling melum*at dan membelai lidah masing masing. Menyusuri setiap rongga mulut dan saling bertukar saliva.

Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi panas dan semakin menuntut tatkala tangan Abi sudah mulai menjelajahi tubuh Nara. Mere mas dada dan menurunkan tali lingerienya.

Tapi sebelum lingerie itu lolos dari tubuh seksi Nara. Suara berisik yang berasal dari ponsel Abi membuyarkan konsentrasi mereka.

"Damn, siapa sih ganggu aja. Gak ngerti apa, orang lagi otw malam pertama," gerutu Abi sambil bersungut sungut.

Nara terkekeh melihat kekesalan Abi.

Sedangkan Abi, dia tampak tak berminat mengurusi ponselnya. Terbukti dengan wajahnya yang kembali maju dan menyatukan bibir mereka berdua.

Tapi ponselnya kembali berdering. Membuat Nara mau tak mau melepaskan pagutan bibir mereka lalu mendorong pelan dada Abi

"Angkat dulu, siapa tahu penting."

Sambil mengumpat tak jelas, Abi berjalan kearah nakas untuk mengambil ponselnya.

Melihat nama Arumi dilayar ponsel, membuat Abi langsung merejectnya. Tapi sebelum dia meletakkan kembali ponselnya. Ada pesan yang masuk.

Aku tunggu di cafe Snowman, sekarang. Aku akan datang ke kamarmu jika kamu menolak datang.

Sebuah pesan yang bernada ancaman. Membuat Abi mau tak mau harus menemui Arumi.

"Ada apa?" Tanya Nara sambil berjalan mendekati Abi.

"Gak ada apa apa." Abi segera mematikan ponselnya. "Papa mau ketemu, gak papakan kalau aku keluar bentar. Aku janji hanya sebentar." Ujar Abi sambil menyentuh lembut pipi Nara dengan ibu jarinya.

"Pergilah, aku gak papa kok."

Abi buru buru mengganti pakaian dan mengambil ponselnya.

"Jangan tidur dulu, tunggu aku," ujar Abi sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Iya iya. Udah sana pergi." Sambil cekikikan, Nara mendorong tubuh Abi agar segera keluar.

...****...

Snowman cafe

Abi mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Arumi. Jujur saja, sebenarnya dia enggan untuk bertemu Arumi. Menurutnya sudah tak ada lagi yang harus dia bicarakan dengan gadis itu.

Setelah melihat keberadaan Arumi. Abi buru buru menghampiri gadis itu.

"Gue gak suka lo maksa gue ketemu kayak gini. Inget, semuanya udah selesai. Kita sudah sepakat mengakhiri semua dua minggu yang lalu," kata Abi dengan ekspresi kesal.

"Aku juga berharap semuanya berakhir dengan baik baik saja. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain."

"Maksud lo?" Abi mengernyit bingung.

"Gue hamil."

Jeder

Ucapan Arumi terdengar seperti petir yang menyambarnya hingga meluluh lantakkan tulang tulang dan persendiannya.

"Gue hamil, Bi. Dan kamu harus tanggung jawab," Arumi menyentak lengan Abi.

Abi masih diam. Dia masih berusaha mencerna ucapan Arumi.

"Jangan diam, Bi. Ini anak kamu, darah daging kamu. Kamu harus tanggung jawab." Arumi menarik narik lengan Abi karena pria itu hanya diam.

Abi menggeleng cepat. "Gak, gak mungkin," Abi meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Gue baru menikah tadi pagi. Dan sekarang, lo minta tanggung jawab. Enggak, gue gak bisa." Abi melepaskan tangan Arumi yang berada dilengannya.

"Apa maksud kamu gak bisa?" Arumi tampak emosi. "Kamu mau lari dari tanggung jawab?" tanyanya sedikit berteriak.

"Gugurin."

Plakk

Sebuah tamparan melayang ke pipi Abi. Arumi benar benar syok. Tak menyangka Abi akan tega mengatakan hal itu. Setega itu Abi menyuruhnya menggugurkan kandungan.

"Berani berbuat, berani bertanggung jawab," ujar Arumi dengan tubuh bergetar karena tangis. "Aku gak mau jadi pembunuh. Dosaku sudah terlalu banyak. Dan aku gak mau menambahnya lagi"

"Rum, lo sadar gak sih dengan posisi gue. Gue baru nikah tadi pagi. Tadi pagi Rum." Abi menekankan kata katanya. Kepalanya terasa mau pecah sekarang. "Dan sekarang lo minta gue tanggung jawab. Gimana dengan Nara? Lo gak mikir perasaan dia?"

"Cukup Bi," teriak Arumi. "Lo nyuruh gue mikirin perasaan Nara. Terus apa kabar dengan perasan gue? Pernah gak elo mikirin perasaan gue?" Arumi menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak. "Dua tahun Bi, dua tahun kita ngejalanin hubungan ini. Dua tahun gue rela jadi yang kedua. Dua tahun gue rela jadi pelarian lo yang kesepian karena menjalani hubungan LDR dengan Nara. Dan sekarang, saat gue hamil, lo dengan entengnya bilang gugurin. Kejam, jahat, gak punya perasaan."

"Ya, gue emang jahat, gak punya perasaan. Lalu gimana dengan lo? Lo tega mengkhianati sahabat lo sendiri. Apa bedanya lo dengan gue? Jadi gak usah jahat teriak jahat."

"Jadi keputusan lo?"

"Tetap, gugurin anak itu."

"Baiklah. Besok, janin ini akan lenyap." Ujar Arumi sambil memegang perutnya. "Sekaligus ibu dari sang janin." Arumi meraih tasnya yang berada diatas meja lalu berlari meninggalkan cafe. Hatinya hancur, tak menyangka jika Abi akan setega itu padanya.

Abi masih berdiri mematung. Arumi jelas jelas tak sedang bercanda dengan ucapannya tadi. Bagaimana jika wanita itu benar benar nekat mengakhiri hidupnya. Jika sampai itu terjadi, dia akan merasa bersalah seumur hidup.

FIRASAT

Nara menunggu Abi sambil berselancar di sosial media. Rata rata semua temannya mengunggah foto saat menghadiri pernikahannya. Entah itu saad akad, maupun resepsi. Bakan mereka kompak memberi tagar #AbiNarawedding_samawa.

Nara duduk diatas sofa dengan kedua kaki ditekuk bersilang. Meletakkan ponsel didepannya, sambil menikmati sebuah apel segar. Nara melihat ratusan foto di tagar tersebut. Bibirnya tak berhenti tersenyum melihat foto foto pernikahannya. Perfect wedding, seperti impiannya.

"Aww..." Pekik Nara saat tak sengaja, pisau yang dia gunakan untuk memotong apel mengenai jarinya. Dan yang membuatnya tertegun. Setetas darah jatuh mengenai ponsel yang berada dibawah tangannya.

Darah itu jatuh tepat diatas layar yang sedang menampilakan foto akad nikahnya dengan Abi. Nara buru buru menyeka darah tersebut dengan ibu jarinya. Tapi bukannya bersih, noda itu malah terkesan melebar hingga kebaya putihnya tampak sedikit merah.

"Sial." Umpat Nara sambil berdiri untuk mengambil tisu. Dia sama sekali melupakan jarinya yang terkena pisau. Dia hanya fokus membersihkan ponsel.

"Ish, kenapa perasan gue jadi gak karuan gini. Ini bukan firsatkan? Enggak enggak, gue gak boleh over thinking." Nara mengenyahkan pikiran pikiran buruk yang sempat mengusik ketenangannya.

Dia melihat jam, sudah satu jam lebih tapi Abi belum juga kembali. Nara mengambil ponsel dan berniat menghubungi Abi. Tapi sebelum itu terlaksana, Abi sudah lebih dulu datang.

"Sayang, baru aja aku mau nelfon kamu." Ujar Nara sambil berjalan mendekati Abi. "Ada apa?" Dia melihat wajah Abi yang seperti sedang dalam masalah.

Abi menggeleng sambil tersenyum. Namun senyumannya terkesan dipaksakan.

"Mau makan sesuatu, atau minum mungkin?Kamar ini ada fasilitas pantri. Aku bisa buatin sesuatu jika kamu mau."

Lagi lagi Abi menggeleng. "Tidurlah," ujarnya lembut sambil membelai rambut Nara.

Nara menatap tak percaya ke arah Abi. Tidur? yang benar saja. Bukankah ini malam pengantin mereka? Bahkan kalau saja mertuanya tak telepon, mungkin malam pertama itu sudah terlaksana. Tapi kenapa mendadak Abi seperti tak berniat untuk menyentuhnya.

"Tidak apa apa kan kalau malam pertamanya ditunda besok. Aku capek sekali. Lagi pula, besok pagi kita harus terbang ke Jepang. Jangan sampai karena semalaman tak tidur, kita malah ketinggalan pesawat."

Nara tersenyum mendengar alasan Abi. Semua yang dikatakan Abi benar. Besok pagi mereka harus bertolak ke Jepang untuk honeymoon. Sangat konyol jika besok pagi mereka ketinggalan pesawat hanya karena malam ini lembur sampai pagi. Pernikahan adalah ibadah terpanjang, mereka masih punya banyak waktu selain malam ini.

"Baiklah, aku siapakan piyama kamu. Setelah itu kita tidur." Nara membuka koper milik Abi dan mengambil piyama dari sana.

Sampai hampir tengah malam, Abi tak bisa tidur. Dia kepikiran Arumi. Memikirkan kemungkinan terburuk yaitu bunuh diri.

Besok pagi, janin ini akan lenyap. Beserta ibu dari sang janin.

Ucapan Arumi terus terngiang dikepalanya. Kenapa jadi seperti ini? Ini semua jelas diluar perkiraan. Dua tahun tak pernah ada masalah, tapi kenapa masalah itu tiba tiba datang saat dia baru saja menikah dengan Nara. Kenapa harus sekarang? Pernyataan itu terus saja dia ucap dalam hati.

"Kamu belum tidur?" Abi terkejut kerena suara Nara. Dia bahkan tak tahu sejak kapan Nara memperhatikannya.

"Kenapa kamu bangun?" Abi malah balik bertanya.

"Aku mimpi buruk."

"Mungkin karena kelelahan. Tidurlah lagi." Abi meraih tubuh Nara agar lebih mendekat padanya lalu memeluknya.

"Dalam mimpiku, kita sedang berada dalam keramaian. Kita bergandengan tangan. Tapi tiba tiba, tangan kita terlepas, kita terpisah. Aku terus mencari kamu. Tapi aku tak bisa menemukanmu. Mimpi itu seperti nyata, Bi. Aku takut." Beberapa butiran bening mulai lolos dari sudut mata Nara.

"Hanya mimpi, jangan terlalu dipikirkan. Tidurlah." Abi memposisikan kepala Nara diatas lengannya lalu mencium puncak kepala wanita yang dinikahinya tadi pagi itu.

Abi membelai punggung Nara hingga wanita itu kembali terlelap. Tapi tidak dengan Abi. Walaupun tubuhnya terasa amat lelah, tapi matanya sama sekali tak ingin terpejam. Dia masih saja memikirkan Arumi.

2 Tahun yang lalu.

"Pak, Pak Abi." Arumi memukul pelan bahu Abi. Cowok itu memang menghadap komputer, tapi pandangan matanya tampak kosong.

"Astaga, ada apa, Rum?" Abi baru tersadar jika Arumi berada diruangannya.

Arumi dan Abi bekerja diperusahaan yang sama. Atas rekomendasi Nara, setahun yang lalu, Arumi magang di kantor Abi. Setelah lulus, Arumi langsung di rekrut menjadi karyawan. Dia menjadi sekretaris Abi yang saat itu baru naik jabatan menjadi manajer.

"Bukannya minggu depan Nara pulang. Harusnya seneng, bukan muka malah ditekuk mulu. Kalian jadi tunangankan?" Jika hanya berdua, mereka memang bersikap biasa. Karena keduanya sudah kenal sejak jaman SMA. Abi kakak kelasnya, beda dua tingkat denganya. Sebagai sahabat Nara, dia jelas kenal baik dengan Abi.

"Nara mau lanjut S2."

"Dimana? Jakarta?"

Abi menggeleng. "London."

"What, gak salah denger gue. Betah banget sih Nara di London. Udah 4 tahun disana, masih aja mau nambah lagi. Gila tuh cewek. Semangatnya menuntut ilmu patut diapresiasi. Jadi lo bengong dari tadi mikirin itu?"

Abi mengangguk. Dia dan Nara sudah 4 tahun LDR. Dan itu tidak mudah. Saat dia berharap tahun ini bisa bersama lagi dengan Nara. Nara justru memberinya kabar, bahwa dia mendapatkan beasiswa S2 di kampus yang sama. Dan itu artinya, LDR mereka akan diperpanjang 2 tahun lagi.

"Emang lo gak bilang keberatan gitu sama dia?"

"Gue gak mau dia salah paham. Dia pasti mikirnya kalau gue gak ngedukung dia. Cita cita nya adalah menjadi dosen. Lo tahukan, bokapnya rektor, dan Nara ingin bisa menjadi seperti bokapnya."

"Terus pertunangan kalian gimana?"

"Tetap sesuai rencana. Hanya pernikahan kami yang ditunda dua tahun lagi."

"Sabar ya," Arumi menepuk pelan bahu Abi. "Kalian udah pacaran 6 tahun. 2 tahun gak akan lama," lanjutnya sambil tersenyum. "Oh iya, mobil gue dibengkel. Lo bisa gak nganterin gue pulang. Gue traktir sebagai gantinya."

Abi mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya.

Sesuai permintaan Arumi. Hari itu Abi mengantarnya pulang. Arumi tinggal sendirian disebuah kontrakan kecil. Kerena sedang hujan deras. Arumi meminta Abi untuk mampir dulu sambil menunggu hujan reda.

"Kopi, atau teh?" tawar Arumi sambil berjalan menuju dapur kecil di rumahnya.

"Kopi, gulanya dikit aja."

"Udah hafal selera lo."

Abi hanya terkekeh. Sudah jelas Arumi hafal. Satu bulan sudah gadis itu menjadi sekretarisnya.

"Rum, lo ada film gak. Otak gue pusing gara gara mikirin Nara. Nonton yuk, biar bisa lupa sama Nara nih otak gue."

Arumi yang tengah merebus air didapur langsung ketawa mendengarnya. Sepertinya, bos nya itu sedang galau akut sekarang.

"Ada, cari aja di laptop gue. Baru dikirimin sama Ken. Judulnya apa ya, gue lupa." Arumi coba mengingat ingat.

Abi langsung membuka laptop Arumi yang kebetulan pulang kantor tadi dia letakkan diatas meja. Saat mencari film, tak sengaja dia malah menemukan sesuatu yang menarik perhatian.

"Apaan nih, judulnya kok Ah Ah." Abi iseng membukanya. Ternyata dugaanya benar, itu adalah film dewasa.

Arumi yang baru kembali dari dapur terkejut mendengar suara de sa han perempuan. Sudah bisa dipastikan itu berasal dari laptopnya.

"Abi, lo nonton apaan?" Arumi melotot melihat film yang ditonton Abi.

"Baru tahu, ternyata lo suka nonton ginian. Dah gitu, banyak banget koleksi film dewasa lo."

Wajah Arumi seketika memerah. Dia sangat malu ketahuan menyimpan banyak film dewasa di laptopnya.

"Gak usah malu gitu kali. Kita udah sama sama dewasa. Gue kalau gabut kadang juga nonton ginian."

"Matiin Bi, ganti nonton yang lain aja." Tangan Arumi terulur untuk mematikan film itu. Tapi Abi justru menahannya.

"Nanggung, Rum. Lo tahu kan, segala sesuatu yang nanggung itu gak enak. Lo ngapain berdiri aja, sini duduk." Abi malah menarik tangan Arumi agar duduk disebelahnya.

Suasana mendadak canggung. Keduanya saling diam. Meski sudah biasa menonton film dewasa, namun menonton berdua dengan lawan jenis, jelas menimbulkan sensasi yang berbeda. Film terus berjalan, menimbukan keresahan serta kegelisahan pada dua insan yang sedang menonton tersebut.

"Lo kenapa?" Abi menyadari jika Arumi mulai gelisah.

"Matiin," titah Arumi.

Bukannya mematikan Abi malah makin mendekatkan tubuhnya pada Arumi. Abi jelas sudah tak bisa menahan diri lagi. Dia menyatukan bibirnya dengan bibir Arumi. Mengecapi rasa manis bak madu yang berasal dari bibir ranum Arumi.

Arumi tak menolak, dia malah menikmati apa yang Abi lakukan padanya. Karena sebenarnya Arumi menyukai Abi sejak mereka masih SMA. Sayangnya Abi justru memilih Nara.

"Lo udah basah banget Rum." Ujar Abi saat pagutan bibir mereka terlepas. Saking menjiwaianya ciuman itu, Arumi bahkan tak sadar jika tangan Abi sudah masuk kedalam rok kerjanya.

Ciuman Abi mulai turun, cuping telinga dan leher jenjang Arumi menjadi sasarannya. Arumi benar benar dibuat melayang oleh sentuhan Abi. Sentuhan seperti yang barusan ia lihat di film dewasa.

Arumi dia buat tak berdaya. Dia hanya bisa melenguh dan men de sah. Dia baru sedikit tersadar saat merasakan benda besar menerobos miliknya. Terasa sangat sakit.

"Tahan, cuma bentar sakitnya," ucap Abi saat melihat Arumi meringis kesakitan.

Seperti tersihir, Arumi menganggukkan kepalanya. Dia mengesampingkan sakit itu. Berharap apa yang diucapkan Abi benar, hanya sebentar.

Ucapan Abi terbukti, sakit itu tak lama, karena segera berganti dengan kenikmatan tiada tara. Dia seperti diterbangkan kelangit ketujuh. Bermain main awan yang putih dan lembut. Lalu terhempas dan meledak. Sungguh kenikmatan luar biasa yang pernah dia rasakan.

Sejak saat itu, kedua makin dekat. Bahkan mereka kerap kali melakukan perbuatan dosa yang menyenangkan itu. Pembawaan Arumi yang kalem dan selalu mau menjadi pendengar setia, membuat Abi merasa nyaman bersamanya. Hubungan tanpa ikatan yang jelas, namun intim dan merasa saling membutuhkan. Itulah yang mereka jalani selama 2 tahun.

Hingga puncaknya, dua minggu kemarin. Abi memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, karena dia dan Nara akan segera menikah.

IKRAR TALAK

Nara mengemasi barangnya maupun milik Abi. Memasukkan kedalam koper dan memastikan tak ada yang tertinggal dihotel. Dia tak punya banyak waktu, dua jam lagi, harus terbang ke Jepang.

"Tiket, paspor." Gumam Nara sambil memastikan dua benda itu ada ditas slempangnya. Setelah yakin semuanya siap, dia menghampiri Abi yang duduk disofa.

"Sayang, yuk buruan," ajak Nara. Dia tak mau sampai ketinggalan pesawat.

Abi tak bergeming, pria itu terlihat fokus menatap ponselnya. Nara yang tadinya sedikit kesal karena Abi tak membantu berkemas, sekarang makin kesal lagi karena dicuekin.

Sejak keluar semalam, Abi memang sedikit aneh, setidaknya itu menurut Nara. Pria itu lebih banyak diam, termenung dengan tatapan kosong. Seperti seseorang yang sedang memiliki masalah berat.

"Bi." Nara menepuk pelan bahu Abi. Hanya pelan, namun mampu membuat pria itu terjingkat kaget.

"Kamu kenapa sih? Kamu kayak punya masalah gitu?"

"Gak ada kok," sahut Abi sambil tersenyum. "Udah selesai semuanya?" tanyanya sambil menoleh kearah dua koper yang telah Nara siapkan.

"Udah," sahut Nara malas. "Yuk buruan check out. Sarapan di bandara aja. Takutnya macet dijalan. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat."

"Ya udah Ayok." Abi menyimpan ponsel kedalam tas kecil yang ada disebelahnya lalu bangkit.

Keduanya meninggalkan kamar untuk melakukan check out. Sementara Abi mengurusi check out, Nara memilih menunggu di sofa lobi, membalas beberapa ucapan selamat teman-teman di medsos.

Abi gelisah karena Arumi tak bisa dihubungi sejak dini hari tadi. Ponsel wanita itu tidak aktif. Setelah menyelesaikan urusan di meja resepsionis. Ponsel Abi berbunyi, saat dia cek, ternyata pesan dari Arumi. Wanita itu mengirimnya sebuah gambar.

Deg

Jantung Abi serasa copot. Arumi mengirim foto dirinya yang sedang berdiri dipinggir rooftop hotel. Sepertinya, wanita itu benar benar nekat.

Disaat tubuh Abi masih gemetaran. Ada VC masuk dari Arumi. Buru buru Abi menekan tombol hijau.

"Bi," sapa Arumi sambil tersenyum getir.

Mata Abi membulat sempurna. Apa yang dia lihat saat ini, persis dengan di foto yang baru dikirim Arumi. Wanita itu sedang berada di rooftop sekarang. Hanya terlihat hamparan langit biru dibelakang Arumi.

"Rum jangan gila," pekik Abi tertahan. Sudut matanya melirik Nara, memastikan wanita itu tidak melihat.

"Selamat tinggal, Bi. Aku sayang kamu, sayang banget," tutur Arumi dengan mata mulai berkaca-kaca.

Arumi mengarahkan kamera ke perutnya. "Seperti yang kamu mau," lanjutnya sambil mengelus perut yang masih tampak rata. "Kami berdua akan segera lenyap dari hidup kamu, dari dunia ini."

"Enggak, jangan nekat. Jangan lakukan itu Rum," Abi makin panik.

Nara yang duduk disofa dibuat bertanya tanya dengan ekspresi Abi. Dengan siapa Abi VC, kenapa wajahnya seperti sangat cemas.

Tak ingin terus penasaran, Nara bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Abi.

"Selamat tinggal, Bi. Semoga kamu bahagia bersama Nara."

"Jangan Rum, jangan lakukan itu. Tunggu gue, gue bakalan ke rooftop sekarang. Gue bakalan tanggung jawab. Gue akan nikahin lo."

Deg

Tanggung jawab? nikah? Ada apa ini?

"Apa maksud ucapan kamu Bi?" Tanya Nara yang tak sengaja mendengar perkataan Abi yang sedang melakukan VC entah dengan siapa..

Abi terkejut melihat Nara yang ternyata berdiri tak jauh darinya. Tapi dia tak ada waktu untuk menjelaskan apapun, Arumi lebih penting saat ini.

"Maaf Ra, gue harus pergi." Abi berlari secepat kilat menuju lift. Lima detik, sepuluh detik, Nara masih mematung. Dia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.

Melihat pintu lift terbuka, Abi segera masuk. Nara yang masih bengongpun seperti langsung tersadar. Dia berlari mengejar Abi. Tapi sayangnya dia terlambat, pintu lift terlanjur tertutup.

Kalau tak salah, dia mendengar Abi berkata rooftop. Apa pria itu kesana sekarang?

Rooftop

Begitu lift terbuka Abi segera keluar. Tapi itu bukan di rooftop melainkan lantai paling atas. Abi masih harus menaiki tangga darurat menuju rooftop.

"Arumi," teriak Abi saat melihat Arumi berdiri ditepi rooftop. "Jangan gila," lanjutnya sambil berlari ke arah Arumi.

"Gak ada gunanya aku hidup lagi Bi. Aku tak mampu hidup tanpa kamu," ujar Arumi sambil menangis tergugu.

"Jangan nekat," Abi menarik tangan Arumi agar lebih ketengah. Memegang kedua bahu wanita itu dan menatapnya lekat lekat. "Gue akan tanggung jawab. Kita akan menikah."

Arumi melepaskan tangan Abi sambil menggeleng. "Enggak Bi, aku gak mau jadi yang kedua. Dan aku yakin, Nara juga tak mau dipoligami. Biar aku pergi saja. Aku orang ketiga disini. Jadi, aku yang harus tau diri." Arumi kembali berjalan ke pinggir tapi segera ditarik kembali oleh Abi.

"Jangan gila. Aku akan tanggung jawab," bentak Abi sambil memeluk Arumi.

"Tapi bagaimana dengan Nara. Aku gak mau dipoligami."

Kepala Abi pusing. Arumi tak mau dipoligami. Dan dia yakin Narapun juga tak akan mau, karena pada dasarnya, tak ada wanita yang mau dipoligami meski itu dengan sahabatnya sendiri.

"Kamu gak bisa egois, kamu harus pilih salah satu dari kami." Lirih Arumi sambil memukul mukul dada Abi. "Jika kamu milih Nara, aku dan anak ini akan menghilang selamanya. Tak akan pernah mengganggu kalian lagi. Tapi jika kamu milih aku, ceraikan Nara sekarang juga."

Pilihan yang sangat berat bagi Abi. Tapi dia tetap harus memilih. "Beri aku waktu, kita cari solusi sama sama," bujuknya

"Enggak, aku gak mau," teriak Arumi sambil menggeleng cepat. "Kalau kamu gak putusin sekarang, berarti kamu milih Nara." Arumi berusaha melepaskan diri dari pelukan Abi.

"Gak seperti itu Rum." Abi mengeratkan pelukannya. Tak mau Arumi sampai terlepas. Bisa bisa wanita itu langsung nekat terjun bebas.

"Lepas Bi, emang sebaiknya aku mati saja. Masalah akan kelar. Kamu dan Nara akan hidup bahagia." Arumi terus meronta ronta agar terlepas dari pelukan Abi.

"Jangan gila, Rum. Bunuh diri itu dosa besar."

"Apa kamu pikir menggugurkan kandungan juga bukan dosa besar? Itu juga tindak pembunuhan Bi." Arumi menangis histeris.

"Apa maksudnya ini?" seru Nara yang baru sampai dirooftop. Dia melihat Abi yang sedang memeluk Arumi. "Menggugurkan kandungan? siapa yang hamil?" tanya Nara dengan suara bergetar. Kenapa perasaannya tidak enak. Tadi dia mendengar Abi bilang akan tanggung jawab, dan sekarang Arumi bilang menggugurkan kandungan. Apakah ini saling berkaitan?

"Maafkan aku, Ra." Lirih Arumi sambil melepaskan diri dari pelukan Abi.

Dengan kaki gemetar, Arumi berjalan menghampiri Nara. Wanita itu tiba tiba bersimpuh dikedua kaki Nara.

"Maaf Ra, maafin gue." Arumi menangis sambil memegang kedua kaki Nara.

"Ada apa ini Rum?" Tanya Nara sambil berusaha berfikir positif.

Abi menyeka air matanya lalu mendekati kedua wanita itu. Dia membantu Arumi bangun lalu menggenggam tangannya.

"Maafin kami, Ra," Abi ikut bicara. Arumi menatap Abi, apa ini artinya Abi memilihnya?

"Apa yang sebenarnya terjadi Bi?" tanya Nara dengan mata berkaca kaca. Permintaan maaf, dan genggaman tangan mereka, menunjukkan jika ada sesuatu.

"Arumi hamil anak gue."

Deg

Nara bagai tersambar petir. Mendung dimatanya seketika berubah menjadi hujan. Tangis Nara pecah. Lututnya terasa lemas seperti jelli. Dia tak mampu lagi berdiri, tubuhnya seketika ambruk dilantai rooftop.

"Kami tahu kami salah. Tapi anak dalam kandungan Arumi tidak salah. Dan dia lebih butuh aku daripada kamu."

Nara merasakan dunia seperti berputar. Kepalamya terasa berat. Dadanya sesak seperti terhimpit sesuatu yang besar dan berat.

"Maaf Ra. Dengan terpaksa kita harus mengakhiri pernikahan ini."

Nara mendongak menatap Abi. Tak percaya jika Abi akan mengatakan hal itu. Mengakhiri? Bukankah baru dimulai?

"Detik ini juga. Aku jatuhkan talakku padamu."

Ini hanya mimpikan? tolong bangunkan aku jika ini mimpi. Mimpi ini terlalu buruk.

Tapi tidak, ini nyata, bukan mimpi. Dia sudah ditalak oleh Abi, oleh pria yang baru menikahinya kemarin pagi.

"Sekali lagi, aku minta maaf. Aku harus bertanggung jawab pada Arumi."

Nara melihat jam ditangannya, 8.30 am. Itu artinya, belum genap 24jam dia dan Abi menikah. Tapi statusnya sebagai istri Abimana, sudah berakhir. Sekarang dia janda, ya seorang janda. Janda yang bahkan belum merasakan bagaimana indahnya malam pertama. Menjanda sebelum dia digauli suaminya.

"Belum 24 jam Bi." Nara menangis sambil tertawa. Apakah dia sudah gila? Ya, gila karena perubahan status yang begitu mendadak. Bahkan di KTP, statusnya masih belum kawin, belum dirubah menjadi kawin.

"Maaf Ra." Abi menarik tangan Arumi pergi dari tempat itu. Meninggalkan Nara yang masih terduduk dilantai sambil menangis dan tertawa bersamaan.

Kenapa takdir bisa selucu ini. 8 tahun pacaran, tapi menikah tak sampai 24 jam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!