NovelToon NovelToon

Diana Permata Terindah Dari Desa

Bab 1 kenapa Dia

Diana mengetikkan sebuah pesan, kala dirinya sudah sampai di kediaman mewah Keluarga Agung Hadi Jaya. Tidak berselang lama pintu gerbang terbuka, Diana pun di sambut seorang pelayan. Hingga dia berdiri di depan pintu utama rumah besar tersebut.

“Tunggu sebentar, nanti Nyonya akan menyambut Anda.”

Diana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Rasanya Diana sudah hafal, bagaimana sambutan orang-orang padanya nanti. Pastinya tidak luput dari cacian dan hinaan. Diana sudah kebal, dia pun sangat siap menerima hinaan selanjutnya.

Mendengar kalau calon istri pilihan mertuanya untuk putranya, Rani terburu-buru menuju pintu utama. Terlebih kata mertuanya gadis pilihannya itu sudah menunggu di depan pintu utama. Rani sangat yakin, kalau mertuanya tidak akan memilih gadis seperti kisi-kisi yang dia ceritakan sebelumnya. Pastinya itu hanya candaan belaka. Mana mungkin mertuanya menjodohkan seorang Ivan Hadi Dwipangga menikahi seorang gadis bodoh, dari desa dan tidak berpendidikan.

Ceklakkk!

Saat pintu terbuka, seorang gadis dengan celana kain Panjang dan kemeja biasa, walau terlihat bersih dan rapi, namun bagi Rani penampilan ini sangat kampungan.

“Mana tamu Tuan yang Bernama Diana?”

Diana menjawab pertanyaan Rani dengan Bahasa isyarat.

Doarrrr!

Ternyata apa yang diucapkan mertuanya benar adanya. Saat ini yang berdiri di depan matanya adalah seorang gadis kampung yang sangat tidak nyaman dilihat. Dari segi penampilannya, sangat jelas Wanita ini dari desa. Dia menatap sinis gadis pilihan Ayah mertuanya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Rasanya ini sebuah penghinaan untuk putranya, Ivan Dwipangga seorang pemimpin Perusahaan Agung Jaya group malah dijodohkan dengan gadis yang membuat paru-parunya sesak kala menatapnya, ditambah gadis itu bisu.

“Kamu Diana?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya.

Rani menatap Diana dengan tatapan sinis, sebagai seorang ibu, dia sangat tidak rela Ivan menikah dengan gadis yang ada di depan matanya. “Sebenarnya Ayah mencari calon istri untuk Ivan, apa pembantu untuk Ivan?”

“Andai mencari pelayan pun, kamu masih tidak pantas menjadi pelayan di rumah ini."

Diana hanya diam, dan masih berdiri tegap pada posisinya.

“Akhirnya kamu datang.” Seorang laki-laki tua malah menyambutnya begitu ramah dan dengan senyuman yang menghiasi wajah keriputnya.

“Ayah tidak salah pilih?” Rani masih menatap sinis perempuan itu.

“Tidak, dia adalah gadis desa yang kuceritakan waktu itu. Bukankah Ivan juga menerima perjodohan ini?” Agung sangat santai dan tetap tersenyum pada calon istri cucunya.

“Tapi—” Rani sangat sulit mengumpamakan gambaran yang tepat, yang bisa menjelaskan perbedaan yang sangat jauh dan hal yang sangat berlawanan antara Diana dan Ivan, bahkan peribaratan langit dan bumi masih belum tepat. “Kenapa dia?" Ingin sekali Rani berteriak melepaskan segala kemarahan, kekesalan, dan segala kekecewaanya. "Dia tidak cocok untuk cucu Ayah!” Rani berharap mata Ayah mertuanya terbuka lebar.

Diana hanya diam dan berusaha santai, hinaan, cacian, dan kalimat kasar sudah kebal baginya.

“Cucu Ayah adalah laki-laki impian Sebagian besar gadis di kota ini, kenapa malah gadis desa yang bisu dan kampungan ini yang Ayah jodohkan.” Rani berusaha tetap menghormati mertuanya, walau keputusan mertuanya membuatnya sangat marah.

“Sebelum semuanya terjadi, sebaiknya batalkan saja perjodohan mereka. Ivan cucu Ayah, kenapa Ayah malah ingin menghancurkan hidupnya?”

Rani menoleh kearah supir yang berada di belakang Diana. “Mang Amin, cepat antar kembali gadis ini ke desanya, tempat ini sangat tidak cocok untuknya.”

“Silakan masuk nak Diana,” sambut kakek  Agung. dia membuka jalan untuk Diana dan mengabaikan kekesalan dan kemarahan menantunya.

“Ayah, sebagai ibu Ivan, aku tidak terima dia. Aku tidak setuju Ayah.”

“Diana datang, karena Ivan setuju. Jadi semua akan tetap berjalan seperti yang sudah di rencanakan.”

“Ayah ….”

“Simah, antar Diana ke kamar tamu. Layani dia dengan baik, dia adalah calon istri Ivan,” titah Agung. Tidak ada yang berani melawan perintah laki-laki tua, Rani pun diam dengan memendam segela kekesalan dan kekecewaanya. Membiarkan gadis kampung itu memasuki rumahnya.

“Kamu istirahat dulu Diana,” ucap kakek pada Diana.

Diana terus melangkahkan kakinya memasuki rumah besar yang kini dia pijak, dia tidak pernah bertanya apa alasan neneknya menjodohkan dirinya dengan pemuda yang Bernama Ivan. Bagi Diana, neneknya adalah hidupnya. Apapun yang membuat neneknya bahagia, akan dia lakukan. Diana menerima perjodohan ini semata demi memenuhi keinginan neneknya.

Diana pun mengikuti seorang pelayan yang menghampirinya. Saat dirinya menuju kamar tamu, Diana berpapasan dengan seorang laki-laki tampan.

“Diana, Ivan. Berhenti dulu.”

Sontak Diana pun berhenti, dia berbalik memandang kearah kakek Agung. Hingga posisinya sejajar dengan Ivan.

“Ivan, gadis itu adalah Diana, Wanita yang akan kakek jodohkan denganmu. Diana, itu Ivan cucuku.”

Ivan memandangi penampilan Diana, ternyata ucapan kakeknya saat itu bukan suatu candaan. Saat ini seorang gadis desa yang bisu sudah ada di rumah ini, dan benar-benar akan dijodohkan dengannya.

“Ivan, andai kakek memintamu menikahi Wanita pilihan kakek, apa kamu mau?”

“Kalau kakek bahagia dengan perjodohan itu, aku terima."

"Ya pasti aku bahagia, jika kamu menerimanya."

"Ya sudah, lanjutkan saja. Kapan dia akan datang?"

“Kamu yakin akan menerimanya? Walau dia seorang gadis kampung yang idiot, bisu, dan tidak berpendidikan?”

Pikir Ivan mana mungkin kakeknya memilih seorang gadis yang seperti dia katakan, merasa ini hanya candaan kakeknya, Ivan pun menyetujuinya. “Jika kakek maunya begitu, aku setuju.”

Tapi apa yang terjadi di depannya saat ini? Seorang gadis yang sangat persis seperti apa yang diceritakan kakeknya berada tepat di depan matanya.

“Kakek ….” Ivan sangat frustasi melihat calon istrinya sangat persis dengan apa yang diceritakan kakeknya.

Agung mengabaikan protes Ivan. “Diana baru sampai, biarkan dia beristirahat dulu.” Agung melangkah menuju ruang kerjanya, meninggalkan Ivan yang masih kebingungan.

Ivan kembali menoleh kearah gadis itu. “Ya salam, apa kesalahanku hingga aku harus menikahi gadis bisu sepertinya!”

“Mama, lakukan sesuatu, aku tidak mungkin menikahi dia. Apa kata orang-oang? Seorang Ivan Hadi Dwipangga  menikahi gadis desa bodoh, udik dan bisu.” Ivan semakin tertekan.

“Kita bicara sama kakek sayang, mama juga tidak mau punya menantu kampungan dan bisu seperti dia.”

Diana masih diam ditempatnya dan tidak peduli dengan segala hinaan calon suaminya atas penampilannya.

“Kamu, apa kamu tidak punya cermin di rumah? Atas dasar apa kamu merasa pantas menerima perjodohan ini?”

“Kalau tidak ada cermin di rumahmu, aku punya cermin.” Ivan menunjuk kerah cermin yang tidak jauh dari mereka.

“Lihat!” Kita tidak serasi.”

“Kita bagai timur dan barat, tidak bisa Bersatu dalam sebuah pernikahan, duniaku dan duniamu juga beda.”

“Kamu udik, kampungan, dan sangat ahhh!” Ivan tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana gambaran Diana.

“Jika kamu menjadi istriku, bagaimana kamu menemui para rekan bisnisku?”

Ivan sangat hancur dan putus asa melihat calon istrinya, rasanya mengatakan dia jelek dan kampungan rasanya itu masih kurang. Sedang gadis itu terlihat begitu santai.

“Rasanya percuma bicara padamu, gadis yang lebih cantik dan memiliki karir yang bagus saja sering mencari celah untuk mendapatkanku, apalagi dirimu yang—”

“Kamu pasti bangga bukan menerima perjodohan ini?”

“Percuma kamu bicara pada gadis kampung itu,Ivan. Baginya suatu keberuntungan bisa menikah denganmu. Lebih baik kita temui kakek saja,” usul Rani.

“Mama benar.”

Ibu dan anak itu menghilang dibalik pintu coklat yang tidak jauh dari posisi Diana berdiri saat ini.

*Ya Tuhan, bagaimana perjodohan ini, rasanya diriku sangat hina di mata calon suamiku.

“Nona, mari ikut saya. Tuan Besar sudah siapkan kamar untuk Anda.”

Ucapan pelayan itu menyadarkan Diana dari lamunannya.

****

Karya ini dari misi kepenulisan Editor. Andai suatu saat nanti ada kesamaan alur dengan Author lain, mungkin kami mengambil tema yang sama.

Terima kasih🙏

Bab 2 Jangan Narsis!

Diana terus mengikuti pelayan itu, hingga dia sampai di lantai dua yang ada di rumah besar itu.

“Nah ini kamar Nona, apa Nona perlu sesuatu?”

Diana tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, saya izin undur diri, selamat beristirahat Nona.”

Diana hanya tersenyum, para pelayan di rumah ini lebih mempunyai kesopanan dari Nyonya Rumah ini. Setelah pelayan itu pergi, Diana segera masuk ke kamar dan menutup pintunya. Dia teringat sesuatu, Diana segera mencari handphonenya, saat menemukan benda itu, dia segera mengetikkan pesan untuk neneknya.

Nek, aku sudah sampai di rumah Pak Agung.

^^^Bagaimana keadaan kamu?^^^

Aku baik nek, nenek jaga kesehatan di sana.

Diana terus berkirim pesan dengan neneknya, sosok yang dia cinta, melebihi dirinya sendiri.

Sedang di ruang kerja milik Agung. Rani dan Ivan masih menunggu jawaban laki-laki itu, kenapa tega menjodohkan Ivan dengan gadis desa yang bisu.

“Salima, dia nenek Diana. Dia menginginkan agar cucunya dan cucu kakek dijodohkan, mengingat apa saja bantuan keluarga Salima pada keluarga kita, bagaimana kakek bisa menolaknya?”

“Aku berhutang nyawa pada nenek Diana, aku tidak bisa menjelaskan apapun. Saat aku dan dia menyetujui perjodohan Ivan dan Diana lebih lanjut, aku sudah meminta persetujuan Ivan, dan Ivan sudah setuju.” Agung menarik napasnya begitu dalam, mempersiapkan diri untuk melanjutkan ceritanya.

“Selain itu, keluarga nenek Salima juga yang memberikan pertolongan saat kakek terpuruk. Bahkan orang-orang meninggalkan kakek kala terpuruk, keluarga Diana malah memberi pertolongan, kakek bersumpah akan membalas semua kebaikan mereka.” Teringat bagaimana perjuangannya membangun bisnisnya, tak terasa ujung mata Agung basah. Salima adalah pahlawan baginya.

“Jika kamu menolak perjodohan ini, lebih baik kakek mati saja, kakek tidak bisa tetap berdiri dan meneruskan hidup ini dengan rasa malu, kakek juga akan hibahkan seluruh saham Agung Jaya Group, buat apa semua itu terus berdiri? Jika menolong orang yang membantu perusahaan ini berdiri saja tidak bisa.”

Ivan dan Rani terdiam, Ivan memahami dilema kakeknya. Hingga saat ini sangat sulit membatalkan perjodohan ini.

“Kamu tega menolak permintaan seseoang yang berjasa besar dalam hidupmu?”

“Maafkan Ivan kek.” Ivan merasa bersalah.

Ivan pun pasrah menerima perjodohan ini.

***

Selama berada di rumah keluarga Agung, Diana hanya berdiam diri di kamar dengan membaca beberapa pesan pada handphonenya. Sebuah ketukan pintu membuat lamunan Diana buyar, dia segera membukakan pintu kamarnya. Terlihat seorang pelayan muda yang berdiri di depan pintu.

“Tuan besar menunggu Anda di meja makan,” ucapnya.

Diana tersenyum dan segera mengikuti pelayan itu. Sesampai di bawah, terlihat Agung, Ivan, dan Rani. Sosok yang dia lihat tadi siang.

“Mari bergabung nak,” sambut Agung.

Diana hanya tersenyum kecil dan segera menarik salah satu kursi yang Agung isyaratkan. Pelayan pun segera mengisi piring Diana dengan menu makan malam yang ada. Diana memberikan isyarat cukup pada pelayan itu. Melihat gadis yang hanya memberi isyarat, rasanya Ivan sudah bisa membayangkan bagaimana keadaan rumah tangganya nanti. Tidak terasa piring mereka pun kosong.

“Diana.”

Merasa namanya dipanggil, Diana pun menoleh kearah Agung.

“Dari cerita nenekmu, kamu sangat menyukai dunia medis, bagaimana kalau kamu kuliah ke Universitas Bina Jaya? Universitas itu milik keluarga kami.”

“Aku keberatan kek, Fakultas kedokteran di sana adalah impian semua orang yang ada di kota ini,” sela Ivan. "Hanya orang-orang yang berkwalitas yang bisa kuliah di sana." Pandangan mata Ivan yang tertuju pada Diana sangat tidak bersahabat. Seakan mengisyaratkan, kalau Diana tidak pantas berada di sana.

“Iya, kakek tau. Kita punya tempat khusus di sana, sangat mudah memasukkan Diana untuk kuliah di sana, dengan kekuatan kakek, pasti Diana bisa kuliah di sana.”

Diana langsung memberi isyarat, kalau dirinya tidak ingin menginginkan jika masuk dengan cara yang kakek Agung utarakan.

“Itu Universitas terbaik Diana,” bujuk kakek Agung.

Namun Diana kekeh dengan penolakannya. Diana mengetik kata pada Handphonenya.

...Biarkan aku masuk karena usahaku sendiri....

“Ya sudah, kalau kamu tidak mau. Kakek hanya ingin membantumu mencapai mimpimu.”

Diana tersenyum, dan memberi isyarat ‘terima kasih’ pada kakek Agung.

Ivan tersenyum sinis, dia yakin Diana tidak akan bisa masuk ke Universitas kedoteran milik keluarganya.

“Selama ini, Ivan tinggal terpisah dengan kami, tadi dia pulang hanya ingin menyambutmu.”

Diana terlihat menyimak obrolan kakek Agung. Sedang Ivan merasa beruntung, karena mengobrol setelah makan malam selesai, andai belum makan, rasanya seleranya hilang melihat isyarat gadis desa itu.

“Kalian memang dijodohkan, tapi kakek berharap kalian menjalaninya nanti bisa saling nyaman. Sebab itu kakek meminta Diana datang, agar kalian berdua saling mengenal satu dengan yang lainnya."

“Kakek minta, kamu ajak Diana tinggal di Apartemen kamu Van, biar kalian bisa saling mengenal lebih dalam lagi.”

Melihat gadis ini ada di rumah kakeknya saja Ivan sangat malas, kakeknya malah meminta membawa gadis itu tinggal di Apartemen miliknya, namun permintaan kakeknya adalah hal yang tidak bisa Ivan tolak.

Kenapa gadis udik ini juga menyiksaku sebelum kami menikah

Ivan sangat geram, namun dia tidak berdaya menolak permintaan kakeknya.

Selesai makan malam, Ivan membawa Diana menuju Apartemennya, Diana pasrah, dia menenteng tas yang berisi perlengkapannya dan terus berjalan mengikuti Ivan. Hingga mereka sampai di Apartemen milik Ivan.

“Itu kamar kamu.” Ivan menujuk salah satu kamar yang ada di Apartemennya.

Diana segera melangkah menuju kamar itu.

“Kamu kecewa bukan?” Ivan menyeringai.

Diana pun berhenti dan memutar badannya kearah Ivan.

"Pasti kamu bermimpi bisa memelukku setiap malam."

“Kamu pikir aku akan mengajakmu tidur sekamar denganku?” Tawa Ivan sangat meledek.

“Kamu jangan terlalu berharap, tidak akan terjadi apapun antara kita.”

“Satu lagi, kamu jangan terlalu berharap bisa menikah denganku, aku akan berusaha dan terus mencari cara untuk menggagalkan perjodohan ini.”

Diana meneruskan langkahnya menuju kamar yang akan dia tempati.

Ivan menyusul Diana, dia ingin habis-habisan mengutarakan kekesalannya. “Kau pikir aku sepertimu menerima perjodohan ini dengan perasaan  bahagia? Aku menerima perjodohan ini, semata demi kakekku. Jadi mulai sekarang kubur impianmu untuk menjadi istriku, karena jika aku menemukan caranya, mimpimu itu tidak akan terwujud.”

Diana semakin geram dengan pemuda ini, dia pikir dirinya bahagia dan ihklas dengan perjodohan mereka.

“Ingat nasehatku tadi, biar kamu tidak kecewa, buang jauh-jauh impianmu untuk menjadi Nyonya Ivan.”

“Jangan pernah berhayal, seorang Ivan yang sangat diimpikan banyak Wanita ini mendekatimu dan memperlakukanmu seperti ratunya, buang khayalan itu jauh-jauh, agar kamu tidak terlalu keras terjatuh, karena mimpimu itu tidak akan terwujud.”

“Jangan Narsis!”

Seketika Ivan yang membisu, setelah mendengar jawaban tegas dari Diana, sedang Wanita itu sudah menghilang dibalik pintu. Mendengar ucapan Diana yang begitu lantang tadi Ivan berharap itu hanya khayalannya saja.

Bab 3 Dokter Hebat

Rasanya tadi malam Ivan sangat susah memejamkan matanya mengingat kejadian kemaren rasanya ingin sekali menganggap semua itu hanya mimpi buruk belaka, tapi semua itu nyata. Kenyataan lain, ternyata gadis desa itu tidak bisu, suaranya yang begitu lantang terasa membentak seakan rasanya sampai ginjalnya. Setelah mengenakan setelan kerjanya, Ivan meninggalkan Apartemennya dan segera menuju kantornya. Masa bodoh dengan gadis desa itu.

Sedang di Rumah Sakit Healthy And Spirit, terlihat begitu ramai. Terdengar kabar Jonathan Gilham kena tembakkan di perutnya, dan dia memilih Rumah Sakit Healthy And Spirit untuk mengangkat proyektil peluru yang bersarang di bagian perutnya,

Rumah Sakit Healthy And Spirit adalah Rumah Sakit ternama dan bagian dari Universitas Bina Jaya, Universitas paling Top yang ada di kota ini, yang mana pemilik terbesar saham di sana adalah Agung Jaya. Rumah Sakit Healt and Spirit selain Rumah Sakit paling terkenal, Rumah sakit itu juga adalah Rumah Sakit pendidikan.

Mendengar tingkat kesulitan untuk mengambil pproyektil yang bersarang di tubuhnya, Jonathan pun meringis. “Pokoknya saya hanya ingin dokter bedah ternama itu yang melakukan operasi untuk saya!” jerit Jonathan sambil menahan rasa sakitnya.

“Nak, meminta dokter itu yang menangani kamu rasanya sulit, dokter siapa saja ya nak. Asal peluru itu segera dikeluarkan,” rayu Wanita paruh baya yang sangat cemas dengan keadaan anaknya.

“Ibu Anda benar Tuan. Sangat sulit meminta dokter itu menangani sebuah operasi.”

“Kalau bukan dia yang menanganiku, aku tidak mau dioperasi!”

Jonathan bersikeras menginginkan dokter handal tersebut, dokter itu terkenal sangat mahir dan memiliki keterampilan medis yang luar biasa. Tetapi dia tidak pernah menunjukkan wajahnya selama operasi. Jarang sekali orang yang pernah melihat wajah aslinya, dan sulit memintanya melakukan operasi.

“Pak, saya mohon … hubungi dokter handal itu,” Ibu Jonathan memohon pada Kepala Rumah Sakit.

“Baik Bu Frida, saya akan berusaha meminta dokter tersebut.”

Pak Abi segera menghubungi dokter tersebut, dan menceritakan kemauan dan keadaan pasien. Mendapat jawaban pesan dari sang dokter, kalau dia akan segera datang, membuat Pak Abi sangat lega, dia segera menemui Frida.

“Dokter bersedia menangani Jonathan,” ucapnya.

Operasi pun segera dilakukan, semua masih menunggu kabar jalannya operasi. Mendengar operasi yang dilakukan dokter itu berhasil, membuat semua orang bahagia, terlebih proyektil peluru yang bersarang terasa sulit, hingga para dokter lain tidak sabar ingin menemui dokter bedah yang handal itu secara langsung, namun mereka harus mengubur harapan untuk berbincang santai dengan dokter tersebut, karena Pak Abi meminta mereka pergi. Dokter itu pun kembali le ruang kerjanya.

Merasa keadaan aman, Pak Abi segera menemui dokter bedah tersebut di ruangannya.

Tok! Tok!

Seperti biasa, setelah mengetuk dua kali, Pak Abi pun perlahan membuka pintu ruangan dokter tersebut.

“Mohon maaf sekali dok, padahal saya sudah rekomendasikan dokter lain, karena saat ini dokter Diana tengah cuti, tapi pasien kekeh ingin dokter Diana yang menanganinya,” sesalnya.

Dokter itu tersenyum, jemarinya dengan cepat menukiskan kata pada handphonenya.

*Inilah tugas dokter Pak, mau bagaimana lagi.

Diana Rahma Adelia Bramantyo, dia adalah seorang dokter bedah ternama yang tidak diragukan lagi kemampuannya bagi yang telah mengenalnya, namun bagi warga desa, dia hanyalah seorang gadis desa yang bisu, juga bodoh dan tidak berpendidikan, bahkan ada yang mengatai dirinya gila.

“Bagaimana keputusan Anda? Apakah Anda akan melanjutkan Pendidikan Anda, atau tetap bekerja di sini?”

*Saya ingin melanjutkan Pendidikan saya, supaya saya terus belajar dan melatih ilmu yang saya dapat.

Pak Abi tersenyum membaca jawaban Diana. Dia sangat berat melepas seorang dokter hebat seperti Diana, namun dirinya juga tidak berhak melarang Diana meneruskan keinginannya. Walau Diana lanjut kuliah, Fakultas tempat Diana Kuliah nanti juga masih berkaitan erat dengan Rumah Sakit yang dia pegang.

"Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih. Aku sedih karena kamu fokus kuliah. Tapi aku senang, karena kampus kami memiliki mahasiswi cerdas sepertimu."

Obrolan Diana dan Pak Abi terus berlanjut, walau Pak Abi hanya mendapat jawaban berupa ketikan pada layar handphone. Namun Diana sosok yang sangat dia kagumi.

Diana sangat bersyukur, operasinya kali ini berjalan lancar. Diana pun segera kembali ke Apartemen Ivan. Dia baru masuk kedalam kamarnya, ingin merehatkan tubuhnya.

Dor! Dor!

Gedoran pintu itu membuat Diana membatalkan keinginannya. Saat pintu dia buka, terlihat Ivan dengan wajah kesalnya.

“Cepat bersiap. Kakek mengajak kita ke sebuah pesta.”

Diana sedikit ragu, dia menaikkan sebelah alisnya. seolah bertanya pesta apa?

"Jangan sok lugu dan polos di depanku, pasti kamu kegirangan dan ingin melompat-lompat. Karena malam ini pesta pertungan kita."

Walau dia tidak menginginkan perjodohan ini, namun demi menjaga wibawa keluarga kakek Agung, Diana memberi Isyarat pada Ivan, kalau dia ingin ganti baju. Selesai memakai baju yang lain, Diana segera menemui Ivan, keduanya pun segera menuju parkiran mobil.

“Ganti baju atau tidak, menurutku sama saja, karena semua pakaianmu sangat kampungan,” sindir Ivan.

Diana hanya diam dan memandangi jalanan yang ada di depannya. Hingga mereka sampai di sebuah Gedung, terlihat deretan mobil mewah terparkir di Gedung itu. Diana dan Ivan berjalan berdampingan memasuki Gedung tersebut, hingga mereka sampai di tempat pesta.

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, kalau pesta ini adalah perkenalan resmi sekaligus pertunangan Ivan Hadi Dwipangga dan Diana," ucap kakek Agung yang berdiri diatas panggung.

Saat yang sama pintu terbuka memperlihatkan sosok Ivan dan Diana.

“Nak Ivan, nak Diana, kemari nak.”

Ivan dan Diana pun mendekati kakek Agung. Sorot mata semua tamu yang ada selalu tertuju pada mereka.

Pertunangan mereka secara resmi dilangsungkan.

Mengetahui sosok yang berdiri bersama Ivan adalah calon menatu keluarga Agung Jaya, tentu hal itu menjadi obrolan bagi para tamu, terlebih penampilan Diana yang sangat biasa. Mereka bisa menyimpulkan kalau Diana gadis desa yang tidak berkelas.

Acara pertunangan selesai, Diana pun diminta Agung untuk menempati meja mereka, di sana sudah ada Rani dengan wajah kesalnya kala melihat Diana. Saat Diana menarik salah satu kursi yang ada di dekat Rani, Wanita itu langsung pergi, dengan berpura-pura izin ke toilet.

“Kasian banget ya Ivan, menikah sama Wanita yang tidak jelas asal-usulnya.”

“Iya, sepertinya Wanita itu anak haram, lihat aja saat acara pertunangan dia tidak didampingi keluarganya.”

"Mungkin juga, dia anak haram seorang pengusaha yang kenal dekat dengan keluarga Agung, nah biar anak haramnya punya masa depan, pasti Ayahnya menjebak Ivan, Pak Sofian, mungkin juga menjebak kakek Agung."

“Kasian banget Ivan, sepertinya keluarga Ivan kena santet.”

Sebagian besar tamu yang ada di ruangan itu sangat tidak suka dengan sosok Diana, sorot mata mereka sangat sinis, dan begitu mengintimidasi. Namun Diana memposisikan dirinya dengan nyaman, tidak peduli dengan segala hujatan, hinaan, cacian yang tertuju padanya. Pujian tidak membuatnya menjadi seorang dewi, hinaan juga tidak membuatnya terusir dari bumi ini. Selama mereka tidak menyentuh fisiknya, Diana tidak peduli dengan segala hinaan dan cacian yang sering tertuju padanya.

Seorang Wanita cantik tiba-tiba menarik kursi yang ada di sampingnya. “Aku Veronica, teman Ivan sejak kecil,” ucapnya.

“Bukan hanya teman, lebih tepatnya kami sepasang kekasih, yang saling cinta.”

Diana hanya tersenyum dan terus menikmati pesta yang ada, dia tidak peduli dengan Wanita yang mengaku kekasih Ivan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!