NovelToon NovelToon

HALALKAN Atau TINGGALKAN

Pabrik Kertas

Siapa yang tidak kenal putra pemilik pabrik kertas yang tersohor di kawasan Tanggerang.

Mirip seperti artis Korea Lee min ho,dengan Gaga berani berjalan semua mata akan tertuju kepadanya. Namun Aldino tidak menghiraukannya dia tau banyak wanita yang mengincar dirinya dan kekayaan yang akan diwarisi dari ayahnya. Namun, dia tidak memanfaatkan apa yang dia miliki untuk menggoda atau mempermainkan hati wanita. Justru dia ingin menjadi laki-laki biasa saja, punya banyak teman dari kalangan manapun. Tidak harus dari kalangan berada sepertinya. bahkan wanita-wanita yang mendekatinya semua hanya mementingkan penampilan.

Aldino adalah seorang mahasiswa disalah satu Universitas ternama di Tanggerang.

hari itu cuaca mendung. Aldino akan berangkat ke kampus dengan menggunakan skuter metik. Walaupun dia punya mobil namun, dia lebih suka mengendarai si kuning.

Kuning adalah skuter yang dibelikan ibunya sebagai hadiah dia masuk perguruan tinggi negeri. selain tampan,kaya,Aldino juga mahir dalam bidang Akademik.

Gerbang kampus sudah terlihat,

cat hitam dengan logo kampus yang berwarna kuning ke emasan sudah terlihat jelas,namun belum cukup dekat. Aku memainkan rem motorku,terlihat dari kejauhan seseorang terjatuh pingsan aku melihat wanita itu jatuh. Tak berapa lama mahasiswa yang lain mengerumuninya sehingga tak tau apa yang terjadi. Aku memakirkan motorku kemudian ikut melihat.

Ketika aku mulai mendekat,beberapa temanku yang berada disana terlihat mengangkat gadis itu. Al tolong bawa tasnya. Suara Rifki memerintah ku, aku melihat tas gadis itu masih tergeletak di jalan ditempat dia tidak sadar diri.

Tanpa berfikir aku mengambilnya dan membawa tas kemudian menyusul teman-teman keruang kesehatan.

"Ki ini tasnya"

"Ya,nanti kita kembalikan gadis itu sedang diperiksa oleh perawat."

beberapa menit kemudian Rifki bangun dari tempat duduknya.

"Al sorry ya aku ada kelas,kamu aku tinggal ya, nanti kamu aja yang ngembaliin tasnya."

"tapi ki aku gak kenal sama dia."

"Ya sudah nanti kenalan saja."

Rifki sambil tersenyum.

Aku duduk diruang tunggu sambil bermain ponsel, 10 menit kemudian terlihat perawat yang bertugas dikampusku keluar.

"Maaf dek adek temannya Runa?"

perawat itu bertanya kepadaku

karna hanya aku yang menunggu di ruang tunggu.

"Iya, saya temannya."

"Bagaimana keadaan teman saya,sus?"

"Dia, Sudah sadar,silahkan masuk dan temani selama saya mengambil resep obatnya."

"Baik sus"

Perawat itu pergi meninggalkan aku dan menuju ruang apotek.

Sementara itu, aku merasa bimbang untuk masuk keruang rawat sedangkan tas gadis itu ada padaku.

Tok tok tok.

Pintu mulai ku ketuk

Permisi?

"Boleh aku masuk?"

"Ya,Silahkan."

Suara gadis itu terdengar samar-samar.

Mungkin dia belum sepenuhnya pulih.

Dengan memberanikan diri aku mendekatinya.

Aku melihat gadis yang terbaring dengan wajah pucat namun tetap terlihat cantik, tersenyum tipis ke arahku.

"Terima kasih kak sudah mengantarku kesini."

"iya, sama-sama, tadi Rifki juga ikut membantu membawamu kesini."

Oh iya, ini tas mu tadi terjatuh, ketika kamu tidak sadar. Aku menaruh tasnya di meja disebelah tempat tidur di ruangan itu.

"iya kak terima kasih"

"iya sama-sama"

Suasana menjadi hening, hanya suara detak jam di dinding yang terdengar.

Didalam keheningan aku menatap wajah gadis itu, dia terlihat cantik bibirnya yang mungil dengan lispstik merah jambu, diam-diam menarik perhatianku.

Aku memberanikan diri untuk bertanya.

"Siapa nama kamu?"

Dengan perasaan malu aku memberanikan diri untuk bertanya. dan menyodorkan tanganku.

Gadis itu menyambut tanganku dan berkata.

"Aku Aruna, teman-teman memanggilku dengan panggilan Runa."

Aldino

Aku menyebutkan namaku.

Tuk tuk tuk

Suara sepatu dan langkah kaki terdengar semakin dekat menghampiri kami.

Permisi,suara suster yang bertugas.

"Ini resep obat yang harus ditebus di apotek."

"Iya,sus"

Aku dan Runa, secara tidak sengaja serentak menjawab, kemudian saling menatap.

Wah benar-benar tidak karuan.

Baiklah Runa Istirahat'lah

Kami sudah Menghubungi keluargamu,mungkin sebentar lagi akan menjemputmu.

"iya,Sus terimakasih."

"Runa kamu istirahat

Aku akan tunggu di luar."

"baiklah terimakasih Al"

Aku tersenyum.

Kemudian berjalan keluar meninggalkan runa.

Kulihat di sela-sela jendela kaca, Runa mulai tertidur. Aku bergegas meninggalkan ruangan yang berada di dekat aula kampus, aku memang sengaja meninggalkan Runa sendiri. Karna diluar ruangan ada suster yang bertugas.

Aku kembali ke ruang kelasku. untuk melanjutkan mata kulyah yang sempat aku tinggalkna.

Perkenalan ku dengan Runa memang tidak disengaja, namun melalui ketidak sengajaan inilah ada rasa penasaran yang ada di hati.

Mungkin,dilain hari aku akan bertemu dengannya sambil minum kopi dikantin.

Sehingga bisa mengenalnya lebih jauh.

"Al kamu dari mana?"

Tanya teman di sebalahku.

"Oh, Tadi aku nganterin Adek tingkat kita yang jatuh pingsan. Astagfirullah !!

Aku baru inget,motorku masih di pinggir gerbang aku lupa parkir karna panik."

"Sudah gak usah dipikirin, paling juga Uda di pinggirin sama pak Yanto petugas keaman."

"Ya sudalah kalau begitu."

Kebetulan hari ini cuma satu mata kulyah.

Jadi bisa pulang lebih awal.

"Guys kita ketempat biasa ya."

Aku mengajak teman-teman nongkrong di kafe pelangi langganan Boba yang jauara segeranya.

Hari-hari berjalan seperti biasa bersama teman -teman yang menemaniku sejauh ini belum ada yang mengisi relung hatiku,setelah perpisahan ku dengan Meli.

Anak konglomerat hasil perjodohan perusahaan yang dikaitkan dengan pertunangan kami. Namun, sayangnya aku dan meli tidak saling menyukai hanya saja kami berdua sama-sama tidak mau mengecewakan orang tua. Sehingga hubungan sandiwara kami harus berakhir sia-sia.

Sebulan setelah pertunangan dibatalkan Meli lebih perhatian denganku. Sebelumnya juga perhatian namun hanya pura-pura. Saat ini tetap perhatian hanya aku yang terlalu dingin dengan wanita.

Sebenarnya aku ingin punya banyak teman perempuan seperti teman-temanku hanya saja aku belum berani untuk mengungkapkan jati diriku. Jiwa laki-lakiku yang meronta kalau lihat wanita yang seksi. Walaupun pendiam dan tidak agresif aku laki-laki normal.

Kalau di pikir-pikir Meli wanita yang cantik,smart,anak konglomerat. Laki-laki mana yang tidak tertarik dengannya. bonusnya punya badan yang bisa dibilang idaman laki-laki.

Lampu-lampu dirumah mulai dinyalakan. jam dinding berdenting selama 8 ketukan tanda bahwa sekarang menunjukan pukul 20:00. Malam ini aku memang tidak ada acara jadi aku lebih memilih untuk merebahkan badanku dikamar. Lagi pula mama dan papa belum pulang dari luar kota untuk bisnisnya.

Dret dret dret

ponselku bergetar.

Notifikasi WhatsApp terlihat muncul nama Meli. Ku buka ternya dia menanyakan aku sudah makan atau belum,aku mulai memainkan jemariku untuk menjawab pesan gadis itu.

Disela-sela pesan aku mencoba mengirim voice mencoba mengajaknya untuk nonton bioskop, Karna memang saat itu benar-benar lagi Bete banget. Meli membalas Voice ku.

"Oke, Al jemput aku setengah jam lagi."

Tanpa basah-basih aku bersiap-siap mengambil hudi berwarna hitam kemudian menyemprotkan parfum mengambil topi dan kunci mobil. Aku sengaja bawa mobil karena udara dingin dimalam hari.

Dari kejauhan lampu kuning menyala disusul dengan lampu merah, aku menginjak rem mobil dengan berlahan.

Tiba-Tiba tanpa sengaja aku melihat Runa keluar dari pusat perbelanjaan di pinggir jalan. Dia tampak sudah sehat wajahnya tidak sepucat tadi siang. Dia terlihat lebih cantik dengan rambut diurai panjang dengan balutan baju tidur warna Salem.

Aku hanya memperhatikan langkahnya dia tidak melihatku karna kaca mobilku hitam. Aku akui Runa memang lebih cantik dari Meli tapi mereka sama-sama punya aura yang memikat laki-laki.

Bioskop

Di tengah perjalanan terlihat ponselku bergetar, kulihat nama Meli yang timbul, ku ambil headset bluetooth dan ku pasang di telinga ku.

"Kamu sudah dimana Al?"

"Tunggu sebentar lagi, sudah dekat Mel 5 menit lagi"

"Iya, sudah aku tunggu ya,"

Tut Tut Tut

"Meli mematikan teleponnya."

Aku menaruh headset bluetooth kembali, Lalu Lintas terpantau cukup padat malam ini.

Tin Tin

Aku membunyikan klakson mobil didepan pagar rumah minimalis modern terbaru dari atas lantai dua nampak Meli membuka tirai kamarnya, kemudian menutupnya kembali.

Terlihat security membuka pintu pagarnya.

"Silahkan masuk,Den."

"Iya,Pak terima kasih"

Aku memakirkan mobil dihalaman rumah itu, Nampak Gadis itu Menghampiriku, dan mengetuk pintu mobilku.

tuk tuk

"Al kita langsung berangkat,ya?,filmnya Uda mau dimulai Cepet buka Pintu."

"Ya, sudah masuk."

Gadis itu melewati bagian depan mobilku, terlihat jelas kecantikan yang terpancar darinya diterangi oleh lampu mobil. dengan menggunakan outfit yang tidak terlalu mencolok namun enak dipandang.

"Ayo buruan!"

Hidungku mendadak mencium aroma vanila yang begitu menusuk

"Mel, kamu mandi parfum ya!"

"Buseet,Wangi banget Mel, Aromaterapi mobil sampe kala jauh, Niat banget ketemu aku ya, Sampek satu botol dipake semua."

"Enak aja, ya gak lah biasa aja Kaler!"

Pipi gadis itu mendadak menjadi merah, sedikit malu dengan candaan yang aku lakukan.

"Berangkat dulu ya pak"

"Iya, Den"

Terlihat dari spion mobil security itu menutup kembali pintu gerbang.

Aku memang tidak berpamitan dengan orang tua Meli. Namun, Memang orang tua kami sama-sama sibuk menjalankan bisnis mereka. Aku tidak pernah merasa marah dengan kesibukan mereka sehingga jarang sekali meluangkan waktu untuk kami, hanya saja aku menyadari bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata untuk membahagiakan kami.

Diperjalanan aku memperhatikan Meli kenapa baru sekarang kami sedekat ini, setelah pertunangan kami dibatalkan. hanya karna kami belum saling mengenal.

"Al aku minta maaf ya?"

"Minta maaf kenapa?"

"Karena sudah membatalkan pertunangan kita"

"Gak ada yang perlu dibahas Mel,dulu kita belum saling kenal, lagi pula kamu punya pacar."

Hahahahaha

"Iya, dulu memang punya sekarang lagi kosong."

"Kenapa? Bukannya kamu sama Doi kamu Bucin banget"

"Iya,Itu dulu ku kira dia tulus sama aku ternyata dia cuma manfaatin aku aja, Selingkuh juga sama cewek lain,Parah banget Al."

"Ya, Sudahlah Mel kita jadikan pelajaran aja."

"Sekarang masih galau gak?"

Aku mencoba menggodanya

"Ya gak lah, Ya kale cowok di dunia cuma dia aja."

"Sudah sampai, kita parkir dulu ya."

Setelah itu kami berjalan menuju bioskop VIP

"Mel mau nonton film apa?"

"Nonton apa ya, kamu ada rekomendasi gak?"

"kamu ya ditanya malah balik nanya."

"Kalau begitu kita nonton film horor aja gimana."

emmm

"Boleh juga."

"Kamu duluan masuk sana, aku mau beli pop corn sama minum dulu ya."

"Al aku tunggu kamu disini saja ya?"

"Ya,sudah Tunggu sebentar."

Aku berjalan membeli cemilan yang kebetulan tidak jauh dari loket film.

Terlihat dari kejauhan Meli sedang menunggu. Setelah pesanan datang aku membalikan badanku, Meli terlihat mengobrol dengan dua orang satu perempuan satunya lagi laki-laki.

"Tunggu tunggu itukan mantan pacarnya Meli. Terlihat sekali Meli tidak nyaman. Aku bergegas menghampirinya."

"Hai, Sayang aku merangkul Meli, Maaf ya lama kamu menunggu."

"Oh,ini pacarmu sekarang Mel,cepat juga ya kamu move on dari aku."

Meli hanya diam,tak ada kata yang terucap dari bibirnya.

"Kalau cuma melupakan kamu, Meli gak butuh waktu lama cuma 5 menit saja sudah terlalu lama."

"Ya, sudah sayang ayo kita masuk filmnya sudah mau dimulai."

Aku menggandeng tangan Meli dan Menariknya untuk masuk meninggalkan laki-laki itu.

"Kami duduk di bangku tengah, hanya kami berdua yang ada disana."

"Al, Makasih ya."

"Ya sama-sama"

Tiba-tiba Meli memeluk ku

aku kaget tapi aku tau Meli hanya butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya.

"Sudahlah Mel tidak usah sedih,Masih banyak yang lebih dari dia."

Meli melepaskan pelukannya, sambil tersenyum.

"Makasih ya Al."

"Ya, sama-sama."

Malam ini film yang kami tonton berjudul Perempuan Tanah Jahanam.

"Kamu berani tidak nonton film ini nanti tidak bisa tidur loh!"

Aku mulai mendekat ke arah Meli seraya menggodanya agar dia tidak terlalu sedih.

"Kamu mungkin yang takut."

Terlihat lesung pipi menghiasi wajah cantik gadis itu. itu artinya Meli sudah sedikit melupakan rasa sedihnya.

Semua berjalan seperti biasa, kami mulai menikmati film itu, hanya beberapa triakan kecil yang keluar jika ada adegan-adegan yang menegangkan.

"Akh..."

Meli berteriak dan membalikan badannya kearahku karena takut, saat adegan wanita dari tanah jahanan menguliti kulit manusia untuk di jadikan wayang.

Aku akui memang adegan itu sedikit menyeramkan menjadikan kulit manusia menjadi wayang kulit, tidak bisa dibayangkan hantu-hantu itu tidak punya kulit dan mencari kulitnya.

"Tukan takut, katanya tadi berani."

"Aku bukannya takut Al, Hanya sedikit kaget."

Meli kembali memandangi layar bioskop, sedangkan aku memandangi wajahnya yang kadang redup kadang terang terkena pantulan sinar dari layar bioskop. Meli benar-benar cantik.

"Al kamu kenapa menatapku seperti itu."

Aku kaget terjaga dari lamunanku

"Emm sorry sorry aku gak sengaja."

"Ya Uda gak papa."

Sumpah Aldino apa yang kamu lakukan sampai sekonyol itu,bikin malu apa sih yang ada dipikiran aku, seribu pertanyaan berkecamuk didalam hati. Mendadak salah tingkah,ceroboh banget.

Mel keluar yuk cari makan, atau kamu mau kopi. kita cari tempat nongkrong dulu kebetulan besok hari Minggu jadi kita tidak harus bangun pagi buat ke kampus kita bisa bangun siang.

"Boleh."

Kami pun pergi meninggalkan film yang belum sampai habis. karena suasana yang canggung menjadikan tidak nyaman.

Ahirnya kami pergi mencari udara segar di kafe, kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari bioskop. Tak banyak yang kami bicarakan karena suasana masih canggung kami sama-sama memandang kearah jalan. Sambil menikmati secangkir kopi.

"Besok ada acara apa Mel?"

Aku mencoba memecahkan keheningan.

"Belum ada rencana Al, Kalau kamu kemana besok?"

Mmmmm...

"Aku besok mau kerumah kamu,Boleh gak aku besok kerumah,ya kalau boleh sih,"

"Ya, Boleh."

Aku melihat ponselku yang menunjukan pukul 22:00 Wib. Waktu berjalan begitu cepat,coba kalau aku gak jalan sama Meli gak tau gimana bosannya sendiri dirumah.

"Pulang yuk, sudah malam Mel?"

Udara dingin sudah mulai menusuk pori-pori kulit, aku menggunakan Hudi jadi tidak terlalu dingin, Meli menggunakan baju yang sedikit menerawang jadi aku tau kalau dia kedinginan.

"Oke"

Gadis ini hanya menjawab seperlunya bukan karena dia tidak menyukai ku, hanya saja Meli memang agak sedikit pendiam. Meli benar-benar membuat aku jatuh cinta pada pandangan kedua. Karna ini kedua kalinya kami bertemu setelah pembatalan pertunangan kami.

Diperjalanan pulang pun kami hanya ngobrol tentang mata kulyah. Aku hanya mengantarkannya sampai ke depan gerbang, Terlihat security membukakan pintu untuk Meli.

"Duluan ya Mel, selamat beristirahat dan jangan lupa hadirkan aku dimimpimu."

Aku mencoba menggoda Meli, terlihat wajahnya beruba menjadi merah, menunjukan isarat bahwa dia sedikit malu.

"Hati-hati Al."

"Iya, Makasih ya Mel untuk hari ini."

Aku menutup kaca mobilku,dan mengalihkan arah lampu sen untuk memberi isyarat bahwa aku akan berbelok. Aku menekan pedal gas membuat mobil ku mulai berjalan berlahan meninggalkan rumah minimalis modern milik keluarga Meli.

Malam ini adalah awal yang baik untuk pendekatan ku dengan Meli. Semoga status jombloh ku akan segera berubah menjadi berpacaran.

Benih Cinta 1

Bintang menghiasi langit, malam ini udara dingin menusuk pori-pori kulit. Mungkin terasa dingin karena aku baru saja keluar malam. Aku merebahkan badanku dan memainkan ponselku kulihat akun Facebook milik Meli kupandangi postingan foto. Aku mencoba mengirimkan permintaan pertemanan kepadanya.

Entah apa yang terjadi denganku, sepertinya aku mulai memikirkan anak konglomerat itu. Mungkinkah dia merasakan seperti apa yang aku rasakan.

Aku mematikan ponselku dan mulai memejamkan mata.

Tok Tok

"Den Aden."

Suara Asisten rumah tangga ku yang sudah kuanggap sebagai keluargaku karena bibik sudah bekerja sejak aku masih bayi.

"Hem,Iya kenapa bik, 5 Menit lagi bik."

"Den nyonya pulang, Den disuruh sarapan den."

"Iya,Bik aku mandi dulu."

Aku bergegas bangun, mengambil handuk bergegas mandi dan bersiap-siap menemui mama yang jarang ku temui,bukan karena hubungan kami tidak baik namun karena orang tuaku sibuk dengan bisnisnya.

"Assalamualaikum ma."

"Walaikumsalam sayang."

"Sehat kamu Le."

"Sehat ma.'

Orang tua ku orang Jawa Timur Ponorogo. Ayahku orang Tanggerang. Jadi kami menggunakan bahasa Jawa jika dirumah.

"Maaf yo le, mama sibuk ora due waktu go kue, seng semangat sekolah le."

"Yo ma, Ora Popo Ma Seng penting sampean sehat Ma."

"Gimana Mama wes arek due calon mantu urung?"

"Doakan wae Ma."

Aku tersenyum ketika orang tuaku menggoda menanyakan calon menantu. Pacar saja belum punya apa lagi calon mantu. Mama Mama ada ada saja.

"Mama mau pamit nanti malam mama mau berangkat ke luar negeri, mau nemuin pak Wongso untuk tanda tangan kontrak pabrik kertas kita yang mau dikembangkan disana."

"Iya, Ma."

Aku tersenyum.

"Papa gak ikut pulang ma?"

"Oalah le mama ini mau nyusul papamu neng kono Lo Le,Uda kangen ya sama papa."

"Iya, Ma."

"Ma aku duluan ya kekamar."

"Iya Le."

Aku mencium kening mama. Walaupun aku jarang bertemu dengan orang tuaku. Tapi aku tidak pernah marah dengan kesibukan mereka, aku sudah terbiasa sejak kecil diurus dengan bibik.

Aku ke kamar, kembali merebahkan badanku, mengambil ponselku dan melihat beberapa pemberitahuan di ponselku.

Ku lihat beberapa notifikasi ternyata permintaan pertemanan ku dengan Meli sudah diterimanya.

Aku mencoba menghubungi nomor telepon Meli.

Tut Tut.

"Hallo."

Terdengar suara lembut gadis itu, aku bangun dari tempat tidurku dan mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol dengan teman perempuan ku.

"Hallo juga Mel."

"Kenapa Al?"

"Gak papa cuma pengen ngobrol."

"Oh, Gimana jadi nanti sore main kerumah?"

"Iya! tapi ada yang marah tidak kalau aku kesana?"

"Apaan sih Al,sudah sampai ketemu nanti sore ya?"

"Ya Uda."

Tut Tut, Telpon pun sudah di tutup.

Sore masih lama, Rifki ada gak ya, aku berniat pergi kerumah Rifki.

Aku mengambil kunci motor ku dan pergi kerumah Rifki.

Kebetulan rumah Rifki tidak berjauhan denganku hanya beberapa kilometer.

Tin tin.

Terlihat seorang laki-laki sedang merapikan tanaman di teras rumahnya. Aku memarkirkan kendaraan roda dua di halaman rumah itu.

"Lagi sibuk ya ki?"

"Bukan lagi sibuk, cuma cari kesibukan saja kalau hari libur."

"Biasanya libur pun kamu masih dikampus?"

Rifki memang anggota BEM dikampusku. Jadi segala kegiatan yang dilakukan di kampus sudah pasti dia terlibat.

"Hei Al gimana Runa?"

Rifki menanyakan keadaan gadis yang kemarin tidak sadar.

"Kalau kemarin sih sudah baik-baik saja, semalam aku juga sudah lihat dia di minimarket di dekat lampu merah, sudah kelihatan sehat Ki"

"Syukurlah kalau begitu."

"Kamu kenal sama dia Ki?"

Aku bertanya dengannya karena Rifki sepertinya kenal dekat dengan Runa.

"Aku kenal sama dia, cuma gak terlalu dekat saja,dia itu adik tingkat kita,dia itu suka bantu ibunya jual gorengan diseberang kampus kita."

"Emmm."

Aku hanya mengangguk dan tidak berkomentar apa pun.

"Runa itu salah satu mahasiswa dengan beasiswa, dia kuliah juga dengan biaya sendiri tanpa dibantu oleh orang tuanya."

"Hebat banget, Uda cantik pekerja keras pintar pula."

"Kenapa kamu suka?"

Rifki menatap ku sambil tertawa.

"Tidak aku cuma tanya saja."

"Kalau kamu mau,aku punya nomor ponselnya siapa tau kamu ingin kenal dia lebih dekat."

Rifki mencoba menawarkan nomor ponsel agar aku menghubunginya. Kulihat Rifki sedang membereskan tanaman-tanaman yang berserakan aku mencoba untuk membatunya.

"Ki cari makan yuk?"

Aku mencoba mengajak Rifki untuk Kuliner mencari makan siang karena perut sudah mulai memainkan musik keroncong.

"Boleh, Aku ganti baju dulu ya."

"Woke!"

Aku menunggu dikamar Rifki,kuambil gitar dan mencoba memetik talinya dengan kunci-kunci semampuku, C,G,F.

Ku lepas semua yang ku inginkan

tak akan ku ulangi

pernahkah jika aku bermimpi

lihat lah ku disini

tak akan lelah aku menanti

tak akan hilang cintaku ini

hingga saat kau tak kembali

kan ku gemgam

dihati saja

jreng jreng

"Audisi di tutup, Anda tidak lolos"

hehehe Rifki tertawa

"sudah ayo berangkat."

Aku meletakkan gitar ditempat semula

kemudian melemparkan kunci motorku dengan Rifki. Rifki pun menyambarnya dengan satu tangan.

"Cari makan dimana Al?"

"Terserah kamu aja ki."

Kami pun berboncengan mengendarai sepeda y milikku, Diperjalanan kami berhenti karna lampu merah.

Aku menoleh melihat dimana aku melihat Runa. Namun tak nampak gadis itu, apakah rumah gadis itu disekitar sini atau dia hanya sekedar membeli barang belajaan saja.

"Ki, tadi malam aku lihat Runa di minimarket itu"

Menunjuk dan mengarahkan tanganku kearah pusat perbelanjaan.

"Oh itu, Mungkin saja Runa tinggal di daerah sini."

Rifki mengisyaratkan bahwa dia tidak tau kalau dia tidak tau alamat tempat tinggal gadis itu.

Rifki mulai memainkan tangannya menarik gas motor dengan berlahan dan menghidupkan lampu sen ke sebelah kanan. Aku belum tau Rifki mau makan dimana, aku ikut sajalah.

Kami berhenti disalah satu kafe Denaiku, menyediakan beberapa makanan khas Palembang, kita makan disini saja ya.

Kami masuk dan melihat-lihat tempat kosong tanpa di duga-duga kami melihat Runa sedang makan Tekwan Palembang disana bersama Temannya yang ternyata teman Rifki.

"Wah kebetulan Al kita kesana saja yuk?"

Rifki mengajakku duduk bergabung dengan Runa dan temannya.

"Boleh Juga Ki"

"Boleh gabung tidak?"

"Hai Kak!, Boleh duduk sini."

Salah satu gadis itu menyapa Rifki dan aku dan kebetulan ada dua kursi kosong.

Runa Menatapku, dan tersenyum.

Kami bercanda bertukar pikiran, sebenarnya yang bercanda Rifki dan temannya aku dan Runa hanya ikut-ikutan.

Runa anak yang manis,ramah dan ceria. Berbeda dengan meli yang pendiam Runa lebih ceria dan mudah bercengkrama dengan orang lain.

Tidak terasa waktu pun berjalan dengan lancar.

"Ya sudah Ki bayar dulu sana punya mereka juga ya."

Aku menyodorkan uang kepada Rifki untuk membayar makanan yang kami pesan.

"tidak usah kak kita bayar sendiri."

"Ya sudah lain kali kita makan lagi kalian yang bayar kali ini biar kita dulu yang bayar."

"Boleh-Boleh."

Kami pun berpisah di depan kafe Denaiku dengan arah yang berbeda. Aku menatap Runa dan tersenyum. Runa pun membalas senyumanku.

Aku Mengantarkan Pulang Rifki. Setelah mengantarkan Rifki aku kembali kerumah. mencuci muka dan mencuci tanganku mengganti pakaian dengan celana pendek dan kembali merebahkan badan ku di sofa.

Aku belum melihat ponselku dari tadi ternyata ponselku sudah kehabisan baterai aku mengambil charger dan kembali merebahkan diri untuk istirahat sejenak.

Dikeheningan siang, Aku mulai memikirkan Mely. Tiba-Tiba gadis itu muncul dibenakku. Ada apa dengan ku, apakah ini benih cinta atau hanya sebatas mengagumi semata.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!