NovelToon NovelToon

Vampire Kecil Milik Tuan William.

17 Tahun kemudian.

Part 01

_____

17 tahun kemudian.

Seorang gadis sedang merintih kesakitan di atas ranjang, “Paman! Tolong Paman, tubuh ini terasa sangat tidak enak.” pekik seorang gadis yang terbaring di atas ranjang dengan wajah yang mengeluarkan banyak keringat, serta tubuh yang meringkuk kesakitan.

Brak!

Seorang pemuda menerobos masuk ke dalam kamar gadis tersebut. Pemuda pemuda itu terus berlari mendekati seorang gadis yang tengah meringkuk di atas ranjang dengan wajah yang pucat dan keringat yang mengalir dari wajahnya.

Pemuda tersebut duduk di tepian ranjang dengan lengan baju sebelah kanan yang sudah tergulung rapih dan tangan kiri yang mengangkat sedikit kepala gadis tersebut.

Pemuda tersebut mendekatkan lengannya tepat di atas bibir gadis tersebut, “Gigit lah, agar kamu tidak merasa kesakitan lagi.” Dengan wajah yang menahan perih, pemuda tersebut menatap wajah gadis tersebut.

Gadis tersebut menunjukkan taring yang siap menancap di lengan pemuda tersebut, “Gluk! Gluk!” gadis tersebut mengigit lengan tersebut dengan wajah yang mulai membaik.

Setelah wajah mulai normal, gadis tersebut melepaskan gigitannya dengan tangan yang mengusap bercak berwarna merah yang mengalir dari bibirnya, “Paman. Terimakasih.” Ucap gadis tersebut memeluk pemuda yang memberikan lengannya untuk di gigit oleh vampir kecil.

Pemuda tadi mendorong pelan gadis yang telah di memeluk dirinya, “Tidak perlu berlebihan seperti itu, cepat atau lambat kamu harus berhenti menjadi seorang vampir. Kalau tidak, kamu akan terus menghabiskan darah milikku.” Pemuda tadi bangkit dari ranjang dan berdiri dengan tubuh yang membelakangi gadis yang sedang duduk menatap pemuda tersebut.

Pemuda tersebut melangkahkan kakinya berjalan menjauhi ranjang, “Istirahatlah terlebih dahulu supaya tenaga kamu jauh lebih pulih.” Dengan kedua kaki yang terhenti di depan pintu kamar dan tangan yang sedang memegang gagang pintu kamar.

Melihat pemuda hendak keluar kamar, gadis tersebut berlari, “Paman.” Memeluk tubuh pemuda tersebut dari belakang dengan kepala yang mendongak menatap pria yang sedang di peluk olehnya.

Pemuda tersebut melepaskan tangan gadis yang memeluknya erat tubuhnya dari belakang, “Jangan terus memelukku seperti ini, kamu mulai remaja tidak baik jika terus menempelkan tubuhmu padaku.”

Mendengar ucapan pemuda tersebut, gadis vampir itu tersenyum, “Apa Paman William akan memakanku!” gadis kecil mendekatkan tubuhnya di tubuh paman yang bernama William, “Jika aku seperti ini, apa hasrat paman William semakin memuncak.” Dengan kedua mata yang menatap wajah William.

Wajah William memerah melihat ke kancing baju milik gadis tersebut terbuka. William menelan ludah, “Glek!” tangan William memegang wajah gadis tersebut, “Dinda Arista! Berhenti bermain-main seperti ini, atau kamu akan menyesal nantinya.” William membalikkan badannya.

Arista memegang tangan William, “Tidak paman, jika itu terjadi aku tidak akan menyesal. Kita bukan satu keluarga, kita juga bukan satu Klan. Jadi bisa saja kita menikah dan memiliki keturunan.” Dengan wajah yang menatap manis ke arah William.

Tak!

William menjitak dahi Arista, “Umur kamu masih 17 tahun, tubuh kamu juga masih kecil. Tapi pikiran kamu sudah yang tidak-tidak.”

Arista mendekatkan tubuhnya dengan tangan yang menjalar ke bagian tubuh milik William, “Aku memang 17 tahun, dari pada paman yang sudah berumur 27 tahun tapi belum menikah.”

William menepis tangan Arista, “Siapa yang mengajari kamu menjadi gadis nakal seperti ini.” Menatap tajam ke arah Arista.

Arista menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, cuman aku dulu sering lihat klan vampir sangat bebas melakukan apa pun dengan lawan jenis yang berbeda-beda setiap saat.” Arista berbalik badan.

William memegang tangan Arista membawanya duduk di kursi yang berada di dalam kamar Arista, “Dengarkan perkataan Aku.” William menatap dengan sangat serius ke arah Arista, “Kamu sekarang tinggal di lingkungan manusia. Dan kamu adalah gadis kecil milik aku yaitu tuan William, kamu tidak boleh mengingat hal yang seharusnya belum kamu jalani. Setelah kamu berumur 20 tahun, kamu baru boleh memikirkan hal yang seharusnya kamu pikirkan. Apa kamu sudah paham” William berdiri.

Arista memegang tangan William, “Tapi Paman, aku bukanlah anak kecil yang berusia 10 tahun lagi. Aku juga bukan anak kecil yang paman temukan saat 7 tahun yang lalu, sekarang umur aku sudah 17 tahun dan aku juga jatuh cinta dengan paman.” Dengan pandangan yang menunduk dan suara yang pelan.

William memegang bahu Arista, “Arista! Kamu ini aku anggap hanya sebagai adik saja, tidak lebih. Kamu jangan membantah ucapan yang aku berikan jika kamu masih ingin tinggal di sini. Jika kamu terus membangkang seperti ini, kamu boleh akat kaki dan keluar dari rumah ini.” Bentak William dengan nada yang tinggi.

Wajah William menjadi suram, ia berjalan dengan kedua tangan yang mengepal erat.

Blam!

William keluar dari kamar Arista.

Dengan kedua mata yang mulai basah Arista beranjak dari duduknya, “Paman sangat kejam, aku ‘kan hanya mengutarakan isi hatiku tapi kenapa paman sampai berkata seperti itu.” Arista berjalan dengan tangan yang menggeret sebuah kursi dan meletakkannya di samping lemari pakaian miliknya.

Arista memanjat kursi tersebut untuk mengambil sebuah koper yang terletak di atas lemari pakaian miliknya, “Kenapa paman meletakkan koper ini sangat tinggi, aku ‘kan tidak bisa menjangkaunya.” Ucap Arista dengan kaki yang menjinjit, tubuh Arista menjadi tidak seimbang.

Bangku yang di panjat Arsita bergoyang, “Sedikit lagi.” Gumam Arista dengan kedua mata yang menatap serius ke arah sebuah koper yang sangat sulit di jangkau.

Akhirnya tangan Arista berhasil menggapai koper tersebut, “Ye. Berha.. eh! Eh!” bangkunya goyang membuat tubuh Arista menjadi tidak seimbang.

Braak!!

Arista terjatuh sangat kuat dengan koper yang menimpah kakinya.

Arista menjerit, “Paman!” Arista menangis, “Huhuhu! Sakit.”

Blam!

William masuk dengan wajah yang panik, “Arista.” Ucap William berlari menolong Arista.

William menggeser koper besar yang menimpa kaki Arista, “Apa yang kamu lakukan, kenapa koper ini bisa menimpa kamu.” William menggendong tubuh Arista dan meletakkannya di atas ranjang.

Dengan wajah yang memelas Arista menjawab, “Tapi Paman mengusir aku, jadi aku mau mengambil koper yang berada sangat jauh di sana.” Arista mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah lemari pakaian miliknya.

Tanpa berkata satu patah kata pun William menekuk wajahnya menatap dingin ke arah Arista.

Arista memelas, “Paman sakit.” dengan tangan yang memegang pergelangan kakinya, “Huhuhu!” Arista menangis.

William menarik nafas pendek, “Huft” kemudian membuka kaus kaki yang di kenakan oleh Arista, “Lihat, kaki kamu memar.” William menatap wajah Arista yang basah karena menangis.

Arista memalingkan wajahnya, “Paman.” Dengan tangan yang menghapus lembut bekas air mata yang membasahi pipinya.

William berdiri, “Jika aku bilang, aku akan menghabisi nyawa kamu apa kamu juga akan bersedia.” William berbalik badan melangkahkan kedua kakinya membuka sebuah lemari kecil yang menempel di samping jendela kamar milik Arista.

William mengambil sebuah kotak yang berada di dalam lemari kecil tersebut, kemudian melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekati ranjang milik Arista.

William mengambil botol minyak dari kotak tersebut dan memijat lembut kaki Arista, “Kenapa kamu diam. Jika aku bilang aku ingin menghabisi nyawa kamu, apa kamu rela.” William menekan memar yang berada di pergelangan kaki Arista.

Arista menjerit, “Auww!.” Dengan tangan yang berusaha meraih ujung pergelangan kaki namun tak sampai, “Sakit paman, apa paman beneran ingin menghabisi nyawa Arista.” Dengan kedua mata yang terlihat sedih menatap wajah William.

...Bersambung.......

7 tahun yang lalu.

Part 02

_______

William yang sudah selesai memijat kaki Arista memasukkan kembali minyak pijat yang dikenakannya ke dalam sebuah kotak obat. William berdiri, “Sekarang sebaiknya kamu beristirahat terlebih dahulu.” William berbalik badan melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan kamar Arista.

Arista menarik selimut, “Paman benar-benar egois.” Arista menutup wajahnya dengan selimut hangat yang bercorak bunga-bunga.

William berjalan terus hingga langkah kakinya terhenti tepat di sebuah ruang baca. William membuka pintu ruang baca.

Klik!

William melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang baca pribadi miliknya. William mengambil sebuah foto gadis kecil yang berusia 10 tahun.

William tersenyum, “Tidak aku sangka gadis ini mulai tumbuh menjadi gadis remaja yang berusia 17 tahun sekarang.” gumam William pelan sambil duduk di kursi besar yang berada di dalam ruang baca.

William menatap kearah jendela kaca besar yang berada di dalam ruang baca tersebut dan teringat tentang 7 tahun lalu.

...✨7 tahun yang lalu.✨...

Tang!

Tang!

Teng!

Suara sahut-menyahut pedang yang begitu sangat tajam dan berkilau.

Peperangan terjadi antara umat manusia dengan kaum vampir.

Pertumpahan darah tidak bisa terelakkan. William yang kala itu berusia 20 tahun juga ikut berperang melawan kaum vampir.

William memegang sebuah pisau belati yang selalu di selipkan di dalam saku jaketnya. William berteriak, “Berhenti.” ucap William dengan nafas yang terputus-putus, William menyandra seorang wanita yang bisa di bilang salah satu selir dari Raja kaum vampir, “Jika kalian kaum umat vampir tidak menghentikan peperangan ini, wanita yang begitu cantik yang berada dalam tanganku akan aku habisi.” William mendekatkan pisau belati yang terbuat dari perak ke arah bagian leher wanita tersebut.

Wanita yang disekap William merintih ketakutan, “Tolong jauhkan pisau itu dari leher saya.” Dengan tangan yang berusaha melepaskan genggaman erat tangan William yang melingkar di leher wanita tersebut.

Sambil berjalan, Raja vampir menyeret pedangnya.

Sreekk!

Suara pedang yang terseret.

Dengan bibir dan tangan yang penuh dengan bercak darah Raja Vampir tertawa jahat, “Hahaha!”.

Raja vampir berdiri tepat di hadapan William dengan pedang yang mengulur ke arah lengan kanannya, “Wanita ini tidak berharga bagi saya.” Raja vampir menusuk perlahan lengan William, “Habisi wanita ini atau kamu yang akan saya habisi.” Raja vampir semakin memperdalam pedang yang tadinya mengarah ke lengan William.

Wanita tadi menatap tajam Raja vampir, “Apa maksud kamu, kamu pikir aku hanya seorang boneka yang bisa kamu mainkan sesuka hati kamu.” bentak wanita tersebut dalam dekapan William.

William bingung sehingga membuat dirinya berteriak kembali, “Diam!” dengan lengan kanan yang sudah tertusuk oleh pedang dan mengeluarkan cairan berwarna merah William mengeratkan tangannya dan mendekatkan ujung pisau hingga membuat leher wanita tersebut mengeluarkan cairan berwarna merah.

Wanita tersebut memberontak, “Habisi saja nyawa saya, jika saya hidup. Saya hanya akan menjadi selir bajingan ini.” Wanita tersebut menatap tajam Raja vampir, “Walaupun aku hanya seorang selir, tapi aku telah melahirkan keturunan yang sangat cantik. Tapi kamu tidak mengetahuinya ‘kan? karena gadis kecil itu telah aku sembunyikan sangat jauh selama 10 tahun dari kaum vampir yang sangat tidak bermoral seperti kalian.” Bentak wanita tersebut.

Raja vampir mendekati wanita tersebut, “Kasih tahu, di mana anak itu.” Raja vampir menatap tajam ke arah wanita tersebut.

Wanita tersebut tertawa, “Hahaha!” wanita tadi menatap tajam Raja vampir, “Aku tidak akan pernah membiarkan putri kecilku mengetahui jika dia adalah anak yang di hasilkan dari seorang raja vampir yang sombong dan jahat seperti kamu. Meskipun aku tahu jika Ratu tidak bisa memberi keturunan buat penerus…”

Raja vampir marah ia merampas pisau belati yang di pegang oleh William dan menancapkan nya sangat dalam hingga menembus 7 lapis kulit wanita tersebut, “Dasar sampah. Hanya manusia setengah vampir saja kamu sudah sombong.” Raja vampir menarik kembali pisau yang telah di tancapkan ke bagian tubuh wanita tersebut.

Wanita yang masih dalam dekapan erat William, menyemburkan cairan berwarna merah dari mulutnya.

Membuat wajah serta tubuh William terkena cipratan cairan berwarna merah yang di keluarkan oleh wanita tersebut.

“Tolong! Lindungi putri saya.” Ucap wanita tersebut dengan tangan yang memegang tangan William, “Dia pasti ada di ujung sudut pertokoan kota ini, mata dan kulitnya sangat berbeda baik kaum vampir mau pun kaum manusia. Dan tolong hentikan dia agar supaya tidak menjadi vampir seumur hidupnya.” Setelah berkata seperti itu, wanita tersebut menghembuskan nafas terakhirnya dan melepaskan genggaman tangannya.

William menutup kedua mata wanita tersebut dengan tangan yang gemetar menahan amarahnya.

William berdiri dengan langkah besar William berjalan terus melewati kerumunan yang sedang berperang. Langkah kaki William terhenti tepat di belakang Raja vampir.

William menepuk bahu raja vampir tersebut.

Raja vampir berbalik badan.

Dengan wajah yang gemetar William dan tangan yang seperti sambaran kilat menancapkan pisau tepat ke jantung Raja vampir tersebut, “Aku punya hadiah spesial buat kamu.” ucap William dengan wajah yang gemetar dan tangan yang menarik kembali pisau belati tersebut.

Raja vampir berteriak, “Dasar brengsek! Akan aku balas perbuatan kamu.” tubuh Raja vampir mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Bersamaan dengan cahaya yang meredup Raja vampir menghilang dengan sisa abu yang berjatuhan ke tanah.

Setelah mengetahui jika Raja vampir telah tiada. Semua para pengikutnya marah dan semakin menjadi-jadi.

William yang geram, habis membantai kaum vampir tanpa ampun. Setelah pertumpahan darah selesai William berlari ke tempat yang di katakan oleh seorang selir wanita manusia setengah vampir tersebut.

Tak!

Tak!

Tak!

William terus berlari dengan baju dan wajah yang berlumuran bercak berwarna merah.

Langkah kaki William terhenti tepat di sudut kota yang sangat gelap.

Dengan nafas yang terlihat berat William mendekati seorang gadis yang tengah berjongkok dalam gelapnya lorong.

William mengulurkan tangannya, “Gadis kecil, kamu harus ikut saya.” William semakin mendekat.

Gadis kecil tersebut menepis tangan William, “Kamu pasti orang jahat, ibu bilang aku harus menunggunya di sini.” Sahut gadis kecil dengan tatapan polos memandang wajah William.

William mengelus pelan rambut gadis kecil tersebut dengan tangannya yang penuh dengan noda berwarna merah, “Gadis kecil. Ibu kamu telah tiada, ibu kamu telah di bantai oleh ayah kamu sendiri. Sekarang kamu harus ikut dengan aku karena itu pesan dari ibu kamu.”

Mendengar kabar dari William jika ibunya sudah tiada, gadis kecil tersebut berdiri, “Tidak. Ibu bilang, ayah sudah meninggal sewaktu aku dalam kandungan. Kamu pasti orang jahat.” Gadis tersebut mendorong tubuh William, “Kamu pasti yang menghabisi nyawa ibuku.”

William hanya bisa diam, ia berbalik badan, “Jika kamu tidak ingin ikut pergi denganku baik. Aku akan meninggalkan kamu sendirian dan aku akan membiarkan manusia-manusia itu menghabisi nyawa kamu.” William melangkahkan kakinya dengan wajah yang pucat serta keringat yang mengalir dari keningnya.

Gadis kecil tersebut berlari, “Paman.” Memegang tangan William.

Langkah kaki William terhenti, “Ada apa?” sahut William dengan tubuh yang gemetar menahan perih luka yang berada dalam tubuhnya.

Gadis kecil tersebut mengeratkan tangannya memegang tangan William, “Aku akan ikut dengan paman.” Dengan tatapan wajah gadis kecil yang sangat cantik dan sangat polos menatap wajah William yang terlihat kacau.

William mengeratkan genggamannya, “Mari kita pulang ke rumah kecil milik aku.” William melangkahkan kakinya berjalan ke arah sebuah mobil yang tertutup dengan kain berwarna hitam.

Gadis tersebut memandang William, “Apa ini paman?” tanya gadis tersebut dengan tatapan yang sangat imut mendongakkan wajahnya melihat William.

William membuka pintu mobil, “Masuk dan jangan banyak bertanya.” William menutup pintu mobilnya.

William memasang sabuk pengaman gadis tersebut, “Pakai ini supaya aman. Kamu harus pejamkan kedua mata, karena aku akan melajukan kendaraan ini sangat kencang.” William menghidupkan mobilnya dan melajukan sangat kencang meninggalkan pusat kota yang sedang kacau balau.

Tidak sampai 30 menit William memasukkan mobilnya ke dalam sebuah rumah yang sangat mewah, yang berada jauh dari pusat kota.

Dengan tubuh yang sempoyongan William membuka pintu gadis kecil tersebut. “Cepat keluar, karena saya sudah tidak kuat lagi menahan seluruh bekas luka yang berada di tubuh ini.”

Gadis kecil itu berlari keluar dengan tangan yang memapah William, “Paman, biar aku yang membantu kamu untuk mengobati luka-luka yang berada di sekujur tubuh kamu.” gadis kecil itu membawa William masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuh William di sebuah sofa ruang tamu.

William duduk dengan wajah yang cukup serius memandang gadis tersebut, “Siapa nama kamu.” tanya William yang hendak bangkit dari sofa.

Gadis kecil menahan tubuh William, “Paman tidak perlu bergerak. Nama aku Dinda Arista, panggil saja Arista. Kalau nama paman siapa?” Tanya gadis kecil yang bernama Arista.

William yang sedang duduk menatap sangat serius ke arah gadis yang bernama Arista, “Panggil saja William, dan satu lagi.” William mendekatkan “Jangan sok ramah.”

...Bersambung......

Kamu harus berlatih pedang.

Part 03

______

“Paman! Paman!” terdengar suara teriakan Arista dari depan pintu ruang baca William.

William spontan bangkit dari kursinya, “Arista!” ucapnya berjalan dengan langkah cepat membuka pintu ruang baca.

William mengerutkan dahi menatap wajah Arista yang sedang berdiri di depan pintu ruang baca miliknya, “Kenapa kamu berteriak.” Ketus William menatap tajam wajah Arista.

Arista memalingkan wajahnya.

Aku bilang tidak ya?

Jika di depan ada wanita yang menyebalkan dan sok cantik sedang menunggunya.

Gumam Arista di dalam hati kemudian tersenyum menatap wajah William.

Arista berbalik badan, “Tidak ada Paman, aku pikir Paman sudah pergi tanpa memberitahu ‘ku.” Arista melangkahkan kedua kakinya berjalan dengan wajah yang masih menoleh ke arah William.

William mengerutkan dahinya memandang seseorang yang berada di belakang Arista sambil berkata, “Rossa!” dengan ekspresi wajah terlihat sedang terkejut.

Arista menghentikan langkah kakinya menatap ke arah di mana nama yang di sebutkan William. Arista menatap tajam wanita tersebut, “Kenapa kamu ke sini, aku sudah bilang jika kamu tunggu di bawah.” Terdengar suara yang kesal terlontar dari bibir Arista.

Wanita tersebut mengulurkan tangan kanannya dan di letakkan di atas kepala Arista, “Arista. Kamu kenapa selalu marah seperti ini ketika berjumpa dengan ‘ku, sudah 3 tahun kita tidak berjumpa sekarang kamu sudah tumbuh menjadi gadis remaja.” Dengan nada yang begitu lembut sambil memandang wajah Arista.

Arista menepis tangan Rossa, “Jangan sok akrab, sampai kapan pun aku tidak ingin berkenalan dengan kamu.” ketus Arista dengan wajah kesal melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan Rossa dan William.

William berteriak, “Dinda Arista.” Panggilnya namun Arista tidak mau mendengarkan panggilan William.

Arista terus berlari tanpa melihat kebelakang sama sekali.

Rossa melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekati William, “Semakin lama kamu semakin tampan.” Dengan tangan yang memegang dagu William.

William menepis tangan Rossa, “Lama tidak bertemu, bagaimana dengan keadaan kamu Rossa.” Ucap William mengalihkan pembicaraan.

Rossa merangkul tangan William, “Keadaan aku baik-baik saja, aku ke sini hanya ingin melihat seorang pria yang tidak pernah membalas perasaanku.” Dengan wajah yang menatap sangat dekat ke wajah William.

William memegang dagu Rossa, “Mau kamu apa! Bukannya kamu tahu, jika aku tidak suka dengan wanita seperti kamu. Jadi jangan coba-coba merayuku dengan seribu tipu daya yang kamu miliki.” William mendekatkan bibirnya di telinga Rossa, “Aku tahu kamu siapa, jadi aku tidak akan pernah jatuh cinta dengan wanita seperti kamu.” ucap William sambil melepaskan Rossa.

Rossa tersenyum, “Tidak masalah. Tapi aku suka dengan manusia seperti monster yang gagah dan berani seperti kamu.” dengan tangan yang menjalar ke bidang dada lebar dan kekar William.

William menarik tangan Rossa dan menggenggam erat, “Sekarang mau kamu apa?” dengan tatapan tajam menatap wajah Rossa.

Rossa menurunkan pandangannya menatap ke bibir William yang begitu seksi yang berwarna merah muda. “Aku ke sini ingin mengatakan jika salah satu dari keluarga Vampir ternyata masih ada beberapa yang masih hidup, mereka juga sedang bersembunyi di suatu tempat dan sedang mempersiapkan suatu pertempuran hebat.”

Rossa mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan bibirnya dan bibir William tidak memiliki jarak 1 inchi pun, “Bukannya gadis itu adalah salah satu dari anaknya Raja Vampir dan ibunya adalah seorang selir yang setengah manusia dan setengah vampir.”

William mendorong tubuh Rossa, “Kamu mungkin salah menilai seseorang, dia bukanlah anak dari hubungan Raja Vampir dan wanita yang kamu ucapkan tadi.” William melangkahkan kakinya dengan wajah yang berusaha tenang.

Rossa mengejar William, “Tidak perlu berbohong kepadaku, bukannya aku dan kamu adalah teman yang sangat akrab saat masih kecil.” Rossa merangkul tangan William sambil berjalan.

William menolehkan wajahnya, “Karena kau terus mengejar ku makanya kita menjadi akrab.” Jawab singkat William.

Rossa dan Wiliam melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan ruang baca.

Langkah kaki William dan Rossa terhenti tepat di ruang tamu dengan kedua mata sama-sama menatap wajah Arista yang sedang menatap ke datangan mereka.

Arista berdiri mendekati William, “Apa Paman ingin menikah dengan wanita ini.” Dengan jari telunjuk mengarah ke wajah Rossa.

William memegang tangan Arista, “Itu pembahasan yang tidak penting, kamu kenapa masih di sini. Kenapa kamu tidak berlatih pedang.” Tanya William dengan tatapan yang datar menatap wajah Arista.

Arista berbalik badan, “Tidak mau.” Dengan kedua tangan yang di lipat dan di letakkan di dadanya.

William memegang bahu Arista, “Kamu ini sudah berumur 17 tahun, dan sudah seharusnya melatih diri kamu sendiri untuk menjaga diri kamu sendiri.” Terdengar suara dengan nada tinggi terlontar dari bibir William.

Arista berbalik badan, “Tidak mau. Kenapa aku harus melatih diriku menjadi wanita yang hebat dalam bertarung, apa gunanya Paman di sisiku.” Dengan kedua mata yang mulai berlinang air mata menatap wajah William.

William menarik nafas dan mencoba menahan amarahnya, “Arista. Sebagai Paman kamu, aku meminta kamu harus berjuang menjadi wanita yang tangguh dan kuat. Aku tidak tahu sampai kapan bisa menjaga kamu, aku selalu berharap jika suatu saat terjadi hal buruk kepadaku kamu akan datang menolongku. Jadi belajarlah untuk menjadi penolongku dan yang paling penting untuk diri kamu sendiri.” ucap William dengan sangat tenang.

Arista memeluk William, “Tidak ada yang boleh menyakiti Paman dan tidak ada yang boleh merampas Paman dari Arista. Arista berjanji akan menjadi wanita yang kuat dan tangguh supaya bisa menjaga Paman.”

Arista mengarahkan jari telunjuknya ke arah Rossa, “Arista akan berlatih pedang jika wanita ini sudah pulang.” Dengan suara datar dan dahi yang di tekuk menatap wajah Rossa.

Rossa tersenyum, “Arista yang imut dan cantik. Aku bisa mengajarkan kamu berlatih pedang, jika kamu mau mari kita berlatih bersama di halaman belakang.”

Rossa berbalik badan, “Jika kamu tidak yakin aku akan mengajukan syarat kepada kamu. Selama aku berada di kota ini, aku akan mengajarkan kamu hingga kamu bisa. Atau jika kamu kalah bagaimana kalau aku menjadi istri dari Paman kamu yang tampan ini.” dengan tangan yang memegang dagu William.

Arista menepis tangan Rossa, “Jangan pernah kamu menggoda dan memegang dagu Paman William.” Tegas Arista dengan dahi yang mengerut menatap bagian tubuh Rossa yang membelakangi Arista.

William memegang tangan Arista, “Sudah cukup basa-basi kalian, tidak ada satu orang pun dari kalian berdua bisa memiliki diriku.” William menolehkan wajah menatap wajah Arista, “Dan kamu Arista, kamu harus benar-benar berlatih sekarang dan jangan pernah bermain-main dengan ucapanku.” William menarik tangan Arista berjalan menuju halaman belakang.

...Di halaman belakang....

...✨✨...

Sudah berdiri Arista, Rossa di sebuah tempat khusus berlatih pedang.

William duduk di sebuah kursi sambil menatap Arista dan Rossa dengan masing-masing tangan yang sedang memegang sebuah pedang yang begitu sangat mengkilap ketika cahaya matahari dan lampu memantul ke arah pedang tersebut.

William menatap Rossa.

Wanita ini kenapa dia bisa tahu jika Arista adalah anak dari Raja Vampir.

Kenapa aku tidak bisa mengetahui hal penting.

Kenapa Rossa bisa secepat itu mengetahui suatu hal yang telah lama aku sembunyikan.

Batin William dengan tangan yang memegang dagunya sediri.

William turun dari kursinya dengan tangan yang memegang baju baja pelindung buat Arista.

William menatap wajah Arista, “Sebaiknya kamu pakai ini, walau pun ini hanya sebuah latihan tapi kita tidak tahu ada yang terluka atau tidak di antara kalian.” Ucap William dengan tangan yang memasangkan baju baja di badan mungil Arista.

Rossa yang sedang berdiri dengan tangan yang memegang pedang yang menancap ke tanah menaikkan sudut bibir atasnya, “Apa aku terlihat akan melukai gadis kecil kamu William.”

William yang sedang mengeratkan baju baja tersenyum menjawab dengan santainya.

“Aku tidak berkata seperti itu, tapi aku takut jika Arista terluka dan menambah beban di hidupku.”

Arista menatap wajah suram William.

Baru saja hati ini akan berbunga-bunga dan seperti akan meledak.

Ternyata semua yang dilakukannya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Gumam Arista di dalam hati.

Bersambung...

...Ilustrasi wajah Arista. ☺...

...Ilustrasi wajah William. 😉...

...Ilustrasi wajah Rossa. 😀...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!