NovelToon NovelToon

Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Bab 1 ~ Di kota baru

Kota A, stasiun kereta

Ayu membawa koper sambil berjalan keluar dari stasiun, dengan memakai baju kaus berwarna putih di padupadankan dengan celana jeans berwarna hitam dan memakai sepatu snikers berwarna putih, rambut di kucir kuda terlihat sangat sederhana. Berjalan dengan santai sembari celingukan mencari seseorang, hingga dia melihat seseorang yang menulis namanya di kertas dengan huruf besar. “Hah, akhirnya aku menemukannya.” Dia berjalan sembari menarik kopernya menghampiri pria paruh baya yang memegang kertas dengan bertuliskan namanya.

“Itu namaku,” ucap Ayu yang tersenyum menatap pria paruh baya yang juga menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Gadis ini terlihat kampungan dengan penampilan yang sangat sederhana,” batin Udin yang menatap Ayu merendahkan.

Ayu menautkan kedua alisnya. “Kenapa Paman menatapku begitu?”

“Tidak ada, ayo masuklah ke mobil dan akan saya antarkan ke Mansion.” Ayu tersenyum dan mengangguk dengan perlahan, dia menuruti perkataan sang supir.

Perjalanan yang sangat melelahkan untuk Ayu saat ini, karena perjalanan yang menurutnya sangat membosankan, dia melihat-lihat kota A dan menikmati suasana saat membuka jendela mobil. Udin melihat tingkah laku dari Ayu di kaca spion dalam mobil dengan tatapan merendahkan. “*D*ia pasti tidak pernah melihat bangunan yang menjulang tinggi, secara dia tinggal di kampung,” batin Udin yang tersenyum miring karena tidak tau bagaimana latar belakang Ayu yang merupakan seorang gadis pilihan dari Hermawan yang akan di jodohkan dengan Farhan, cucunya.

Tak lama, mobil berhenti di hadapan Mansion yang sangat besar dan juga mewah. Ayu segera turun dari mobil dan menurunkan koper yang ada di begasi mobil tanpa bantuan dari sang supir, Ayu yang biasa hidup mandiri tak mempermasalahkan itu. Dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Mansion sembari menyeret koper yang berisi segala kebutuhannya selama tinggal di sana. Langkahnya terhenti saat ada tangannya yang menghalangi langkahnya, Ayu yang sangat lelah itu hanya mendelik.

“Aku sangat lelah dan ingin beristirahat, beri aku jalan?” ucap Ayu yang menatap wanita paruh baya dengan penampilan glamornya. Wanita itu tidak mengidahkan ucapan Ayu, dia menatap penampilan Ayu dari atas sampai bawah.

“Pastikan sepatu yang kau pakai itu bersih untuk masuk ke dalam,” ketus Wina yang melipat kedua tangan di depan dadanya sembari menatap Ayu dengan sinis.

Dengan cepat Ayu melihat tapak sepatunya. “Sepatuku bersih, sekarang aku boleh masuk?” tutur Ayu dengan malas.

“Aku tidak akan membiarkan kau masuk dan mengotori Mansion ini,” ucap Wina dengan ketus.

“Aku bukanlah kotoran, menyingkirlah dari jalanku.”

“Tidak.” Tolak Wina.

“Biarkan aku masuk,” bujuk Ayu dengan wajah yang memelas.

“Ini Mansionku, apapun yang aku lakukan terserah kepadaku.”

“sungguh, aku tidak ingin berdebat saat ini. Tolong, biarkan aku masuk karena aku sangat kelelahan sekali,” ujar Laras yang memohon dengan sedikit bujukan.

“Tidak,” tolak Wina secara mentah- mentah, Ayu mendengus kesal dan menerobos masuk karena sangat kelelahan dengan perjalanan jauhnya.

“Dasar gadis kampung yang kurang ajar,” sewot Wina yang kesal, Ayu menoleh dan tersenyum tipis.

“Aku sudah meminta untuk memberiku jalan, karena aku sangat lelah dan menerobos masuk ke dalam. Aku sarankan untuk memperbanyak senyum atau kerutan di wajahmu akan bertambah,” ujar Ayu dan berlalu pergi membuat Wina sangat geram.

“Berani sekali upik abu itu kepadaku, dasar gadis miskin yang tak mempunyai tata krama,” umpat Wina yang menatap punggung Ayu dengan kekesalan, dia pergi dan meninggalkan tempat itu.

Ayu sangat kebingungan di Mansion mewah itu, memandang sekeliling sembari melihat dekorasi mewah di dalam sana. Dia terus berjalan seperti orang tersesat. “Mansion ini sangat mewah dengan arsitektur modern dan sekarang aku berkeliling tanpa tau tujuan. Wah Ayu...selamat untukmu dengan ujian yang baru ini. Dimana kamar ku? Kenapa tidak ada seorang pun yang memberitahukan aku? Seolah-olah para pelayan seperti tak melihatku di sini. Sekujur tubuhku sangat lelah dan ingin beristirahat, oh ayolah! Kenapa nasibku sangat sial,” monolog Ayu yang merutuki nasib sialnya, dia terus berjalan dengan celingukan membuka setiap ruangan yang dia lihat.

Cukup lama Ayu berjalan membuat kedua kakinya terasa pegal. “Ini adalah hari pertama aku berkunjung kesini dan kali pertama aku bernasib sial, bahkan aku tidak bisa merasakan kedua kaki ku yang sangat pegal ini,” gumam Ayu yang tampak pasrah.

“Apa kau yang bernama Ayu?” ucap seseorang dari belakang, merasa di panggil namanya pun menoleh ke belakang dengan senyum yang mengukir indah di wajahnya. Senyum yang menandakan akhir dari nasib sialnya dan juga kelegaan yang dia rasakan.

“Benar sekali, Mansion ini sangat luas dan aku baru pertama kali datang ke sini, kau siapa?” sahut Ayu yang menautkan kedua alisnya menatap seorang gadis yang berjalan mendekatinya dengan sangat elegan. Wajah yang cantik dengan rambut yang di biarkan tergerai, gadis itu memakai gaun yang hanya selutut berwarna baby pink membuat gadis itu terlihat sangat mempesona.

“Aku Laras, adik sepupu dari kak Farhan.” Gadis itu menyodorkan tangannya sebagai perkenalan dengan raut wajah yang tersenyum.

“Seperti yang kau tahu, aku Ayu Kirana.” Mereka saling berjabat tangan dan tersenyum.

“Aku lihat kau sedang kebingungan, apa kau tersesat?” tanya Laras yang menatap Ayu dengan antusias.

“Mansion ini sangat luas, hingga sedari tadi aku mencari kamar kosong untukku beristirahat selama di sini.”

“Jangan cemas, aku ada di sini. Kamar mu ada di lantai dua, lurus saja dan belok kanan. Hanya ada satu kamar di sana dan itulah kamarmu,” ujar Laras.

“Hah, akhirnya aku bisa beristirahat.”

“Itu hanya hal kecil saja, jika merasa kesulitan tanyakan saja kepadaku dan aku akan menolong mu,” tutur Laras.

“Untung saja kau ada di sini atau aku akan seperti orang tersesat. Kau sangat baik sekali, terima kasih untuk itu.” Ayu tersenyum tulus dan meninggalkan tempat itu.

Sedangkan Laras tersenyum penuh arti. “Aku ingin lihat bagaimana kau akan di usir dari kamar itu AYU KIRANA,” lirih pelannya.

Laras tersenyum puas sembari menatap punggung Ayu yang menghilang dari balik tangga, karena dia telah berhasil menjebak Ayu dengan mengatakan itu adalah kamar yang akan di tempati Ayu. Sebenarnya kamar itu milik dari Farhan Hendrawan, seorang pria yang akan di jodohkan dengan Ayu.

Farhan sangat tidak menyukai jika ada orang lain di kamarnya dan juga barang-barangnya di sentuh oleh orang lain. Jika Farhan tau ada orang lain di kamarnya, maka Ayu akan terkena amukan dan amarah dari kakak sepupunya, begitulah batin Laras yang sangat menyayangkan nasib Ayu yang malang.

“Sepertinya ini sangat seru,” gumam Laras yang tersenyum bahagia.

Sesuai arahan dari Laras, akhirnya Ayu menemukan kamar yang di maksud. Dia meletakkan kopernya di sudut ruangan dan menatap dekorasi ruangan bergaya modern. Kamar yang bernuasa hitam dan putih terlihat sangat elegan dan berkelas.

“Lebih baik aku membersihkan diri terlebih dahulu dan beristirahat setelahnya,” monolog Ayu yang berjalan menuju kamar mandi.

Hanya butuh lima menit baginya untuk membersihkan diri, setelah semua telah selesai, Ayu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sangat empuk. “Kasurnya sangat nyaman dan juga empuk,” lirih Ayu yang menarik selimut menutupi tubuhnya dan mulai memejamkan mata dengan perlahan, hingga dia tertidur dengan sangat pulas.

Bab 2 ~ Salah masuk kamar

Ayu sangat menentang hubungan perjodohan dari kakeknya Tirta Anggara, dia menganggap jika hubungan dari hasil perjodohan tidak akan berhasil. Namun Tirta tak kehilangan semangat nya dan meminta Ayu untuk bertaruh. Bahwa Ayu harus tinggal di Mansion Hendrawan selama tiga bulan, dan jika Ayu tidak merasakan perasaan apapun kepada pria yang akan di jodohkan dengannya, maka Ayu boleh membatalkan perjodohan itu. Kesepakatan yang membuat Ayu menyetujui dan menyanggupinya, karena ada harapan untuknya bisa mengagalkan perjodohan konyol yang di buat sang kakek.

Farhan Hendrawan tahu jika gadis yang akan di jodohkan dengannya datang ke Mansion hari ini, tetapi dia tidak peduli dengan itu karena tidak tertarik sama sekali.

Padatnya pekerjaan sebagai CEO membuat Farhan pulang hingga larut malam, dia memasuki kamarnya sembari melonggarkan dasi yang seakan mencekik lehernya, dia membuka jas dan juga kemeja sembari mengambil handuk dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena meresa sangat lengket dengan keringat yang menempel di tubuhnya.

"Sebaiknya aku membersihkan diri untuk menghilangkan rasa lengket yang di sebabkan oleh keringat." Monolog Farhan.

Tak butuh waktu lama untuknya membersihkan diri, dia merebahkan tubuhnya di ranjang empuk yang selalu menjadi pelampiasan di saat kepenatan bekerja di kantor. Hingga dia merasa ada kejanggalan di sisi lain ranjangnya.

"Siapa yang berani masuk ke dalam kamarku," ucap Farhan yang menggertakkan gigi dan mengeraskan rahangnya karena kesal akan hal yang paling dia benci. Karena selama ini tidak ada orang yang berani masuk ke kamarnya yang sangat privasi itu. Dengan cepat dia menyentak selimut yang membalut tubuh si pelaku dan terlihatlah seorang gadis yang tertidur dengan sangat pulas di atas ranjangnya. Farhan memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama, dan tak sengaja mencium aroma tubuh Ayu hingga dia diam terpaku.

"Aroma ini? Aroma wanita ini, bahkan sama persis sangat mirip dengan orang yang aku cari selama ini," gumam Farhan yang kembali menghirup aroma itu, oleh karena itu Farhan tidak melakukan apapun. Dia memeluk Ayu dengan sangat erat dan membaringkan tubuhnya sembari memejamkan kedua matanya hingga tertidur dengan sangat pulas.

Keesokan paginya, Laras sangat bingung karena dia tidak mendengar suara keributan dari kamar sang kakak sepupunya. "Apa yang terjadi semalam? kenapa aku tidak mendengar suara apapun di dalam? apa kakak belum pulang?" batinnya. Rasa penasaran yang sangat dalam membuat Laras melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Farhan, dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan memanggil kakaknya.

"Kakak, bangunlah! ada yang ingin aku bicarakan kepadamu," teriak Laras yang terus menggedor pintu.

Ayu terbangun akibat suara ketukan pintu yang mengganggu aktivitas tidur mereka. Dia mengerjabkan kedua mata dan menguceknya, sesekali menguap.

"Kenapa di luar sangat berisik sekali?"

Pandangan matanya tertuju kepada seorang pria yang tidur di sebelahnya dengan cara berhadapan. "Pagi yang indah, apalagi aku melihat wajah tampan yang merupakan vitamin di pagi hari," racau Ayu yang mengagumi wajah tampan Farhan yang tertidur, wajah yang begitu polos.

Dengan kesadaran dan nyawa yang terkumpul Ayu membelalakkan kedua mata yang hampir saja terlepas dari tempatnya, dia sangat terkejut akah hal itu. Ayu sangat terkejut saat ada tangan yang melingkar di pinggang rampingnya.

Ayu berteriak dan memukul lengan pria yang berani mengambil kesempatan di saat dia tertidur. "Siapa pria ini dan kenapa dia memelukku? Dasar tidak sopan," ucap Ayu yang menatap pria di hadapannya itu. Tak tingga diam, dia menepuk pipi Farhan dengan pelan agar melepaskan tangannya yang bertengger bebas di pinggang rampingnya.

"Hei, bangun! lepaskan tanganmu dari pinggangku, dasar pria mesum," cetus Ayu yang berusaha melepaskan pelukan dari pria itu yang semakin memeluk tubuhnya dengan erat.

"Sial, kenapa aku harus terjebak dengan pria ini. Siapa dia? Berani sekali masuk ke dalam kamarku," sewot Ayu dengan mulut komat kamitnya seperti membacakan mantra karena kesal dengan pria yang sangat kurang ajar itu.

"Tunggu dulu!" monolog Ayu yang menatap seluruh ruangan itu dengan jelas, karena sewaktu itu dia tidak memerhatikannya dengan sangat jelas. Dengan cepat dia membekap mulut dengan tangannya seakan tak percaya.

"sial, ternyata aku salah masuk kamar. Tapi aku masuk atas petunjuk Laras, apa dia ingin mengerjaiku atau menjebakku?" Gumam Ayu yang baru menyadari ada beberapa foto seorang pria yang sekarang tengah memeluknya itu, dengan geram Ayu melepaskan pelukan itu dengan sangat kasar dan bahkan dia menendang Farhan karena sangat sulit terlepas dari pria itu.

"Pria ini seperti lem saja dan menyusahkan aku," ujar Ayu yang tampak sangat kesal.

Farhan menggeliatkan tubuh nya, mengerjabkan kedua mata dengan kesal karena selama ini tidak ada yang berani menendangnya. "Berani sekali kau menendangku," ucap Farhan dengan suara khas bangun tidurnya.

"Dasar mesum, itu karena kau memelukku? Tidak sopan," sahut Ayu yang mulai terpancing emosi sembari memukul Farhan dengan bantal.

"Hentikan, ini kamarku." Farhan melindungi wajahnya dari serangan bantal itu.

Seketika Ayu berhenti dan diam terpaku. "Benar juga, inikan kamarnya. Tapi, dia juga salah karena memelukku, akar masalah ini dari wanita itu!" gumam Ayu.

Farhan yang kesal karena selama ini tidak ada yang berani padanya menatap wajah Ayu sambil mendengus kesal. "Apa kau sudah melihat nya dengan jelas, siapa yang masuk ke kamar siapa?"

Ayu menatap Farhan dan tersenyum indah memperlihatkan giginya yang putih dan juga rapi. "Aku juga tidak tau jika ini kamar mu."

"Kalau begitu pergilah dari sini, kemasi semua barang-barang mu dan tinggalkan kamarku," usir Farhan yang menatapnya dengan tajam.

"Yaya...tidak perlu mengusirku, aku tau dimana pintunya," cetus Ayu yang membereskan kopernya, pergi dengan kesal. "Heh, dasar pria sombong dan juga mesum," batin Ayu dengan sewot.

Ayu melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan raut wajah yang sangat kesal, tapi di saat membuka pintu kamar dia melihat Laras yang menatapnya.

"Wanita ini sangat licik sekali, berani sekali dia menjebakku," batin Ayu yang juga menatap Laras dengan senyum manisnya.

"Apa yang terjadi di dalam? Kenapa kau membawa koper itu?" tanya Laras yang tersenyum paksa.

"Sepertinya aku harus pindah dari kamar ini, karena kakak sepupumu itu hampir saja melakukannya. Yah, kau pasti tahu sendiri apa yang aku maksud," sahut Ayu yang berbisik seraya mengedipkan matanya menatap Laras yang tampak menahan kesal.

Ayu berlalu pergi dengan senyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Laras kesal, dia berjalan sesuai instingnya dan melihat seorang pelayan. Dia menanyakan dimana kamar kosong untuk dia beristirahat tanpa gangguan. "Ternyata disini tidak ada yang menyambutku, tapi itu bagus. Aku akan menjalani aktivitas ku hanya tiga bulan saja dan membatalkan perjodohan," batin Ayu yang tersenyum sambil berjalan menuju kamarnya sesuai arahan dari pelayan.

Bab 3 ~ Rencana kakek

Laras sangat kesal mendengar ucapan Ayu, mengepal kedua tangannya dengan geram. "Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kau untuk menikahi kak Farhan," monolog Laras dengan penuh tekad, dia meninggalkan tempat itu sebelum Farhan menanyakannya. "Lebih baik aku pergi dari sini sebelum kakak mengetahui segalanya."

****

Hendrawan tampak berpikir mengenai perjodohan cucunya dengan Ayu. "Aku akan membuat mereka saling mencintai dalam waktu tiga bulan, walau sepertinya sangat sulit," gumamnya. Hendrawan menyeruput tehnya sembari memikirkan cara agar keduanya bisa mempunyai rasa satu sama lainnya, menatap keluar jendela dan menikmati suasana.

Hingga Hendrawan menemukan sebuah cara yang akan mendekatkan keduanya, menumbuhkan benih-benih cinta lewat kebiasaan sering bertemu.

Hendrawan mengeluarkan ponsel mahalnya dari saku celana, mencari nomor kontak dan menelfon nya.

"Halo."

"Akhirnya kau menelfonku juga."

"Tentu saja karena aku tidak pernah melupakanmu."

"Itu bagus, apa cucuku Ayu telah sampai di Mansionmu?"

"Benar, aku belum sempat menghampirinya."

"Baiklah, katakan ada apa menelfonku?"

"Begini, mengenai masalah kedua cucu kita yang seakan menolak satu sama lainnya. Aku ingin mereka saling dekat, bukankah cinta tumbuh karena terbiasa."

"Hahah....itu benar, lalu?"

"Aku ingin cucumu Ayu untuk bekerja menjadi sekretaris cucuku di kantor, bagaimana?"

"Apa kau sedang meminta izin atau meminta pendapat?"

"Ck, tentu saja meminta izin. Aku tidak sudi meminta pendapatmu yang tersesat itu."

"Haha....baiklah, tidak perlu menanyakannya lagi, tentu saja aku mengizinkan."

"Bagus, aku akan mematikan sambungan telfon."

"Ya."

Setelah sambungan telfon terputus, Tirta Anggara menghubungi cucunya mengenai hal ini.

"Iya kek."

"Dimana kau sekarang?"

"Apa kakek lupa, telah mengirimku ke Mansion orang lain."

"Hah, kakek melupakannya. Bersiap-siaplah dengan pakaian rapi karena hari ini kau akan bekerja di kantor calon suamimu itu sebagai sekretaris."

"Apa kakek becanda? A**ku baru saja sampai dan di minta untuk bekerja?"

"Jangan banyak bicara, karena ini kesepakatan kakek dengan teman kakek."

"Oho, aku sangat yakin jika rencana kalian untuk membuat aku jatuh cinta dengan pria itu kan? Namun, itu tidak akan berhasil dan hanya sia-sia saja."

"Kakek hanya berusaha, yang lainnya serahkan kepada tuhan dan juga takdir. Cepatlah bersiap-siap!"

"Ya."

Ayu melempar ponselnya dengan sembarang arah, kesal akan permainan kakeknya dan menjebaknya di Mansion ini. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan bersiap-siap, penampilan yang bersih dan juga wangi membuatnya sangat percaya diri.

Ayu yang selesai dengan penampilan formalnya dengan rambut yang di biarkan terurai dengan indah dan sedikit polesan make up di wajahnya yang terlihat lebih fresh.

Berjalan dengan begitu anggunnya keluar dari Mansion dan masuk ke dalam mobil dengan penuh percaya diri, "jalankan mobilnya Pak!" perintah Ayu tanpa melihat sekitarnya.

"Ehem." Deheman seseorang membuat Ayu menoleh ke asal suara, terlihat dengan jelas wajah seorang pria tampan yang lengkap dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya, serta tatapan dingin yang di lontarkan oleh pria itu.

"Ya tuhan...kenapa nasibku sangat sial sekali, selalu saja bertemu dengan pria ini," batin Ayu yang memutarkan kedua bola matanya dengan jengah.

"Ini mobilku, jadi keluarlah dari sini." usir Farhan tanpa ekspresi.

"Tidak, aku tidak akan keluar dari sini. Kau saja yang keluar!" tolak Ayu yang sangat malu dan kesal secara bersamaan.

"Aku? Ini mobilku dan kau mengusirku? Apa kau ingin mengambil kesempatan dan selalu ingin berada dekat dengan ku?" Beberapa pertanyaan dari Farhan menyulut emosi Ayu di pagi hari.

"Heh, kau bicara seperti perempuan saja. Aku juga tau ini mobilmu, kau baru saja memberitahu nya. Dan mengenai aku berada dekat denganmu itu hanyalah kebetulan saja!"

"Secara aku ini sangat tampan dan juga kaya, semua wanita selalu terpesona dengan ketampananku," tukas Farhan dengan penuh percaya diri.

"Kecuali aku yang tidak tertarik dengan mu."

"Jika tidak tertarik denganku, kenapa kau menerima perjodohan ini?" Tutur Farhan yang menatap dalam mata Ayu.

"Aku datang ke Mansionmu bukan berarti menyetujui perjodohan ini, justru kebalikannya. Aku juga tak ingin perjodohan ini terjadi dan kakekku memberikan syarat," ungkap Ayu dengan jujur.

"Syarat?" ucap Farhan yang menautkan kedua alisnya.

"Tentu saja, apa yang kau pikirkan? Sudah aku katakan, jika aku tidak tertarik denganmu."

"Apa syarat itu?" Tukas Farhan tanpa mengidahkan ucapan dari Ayu yang mendengus kesal.

"Dengarkan ini baik-baik karena aku tidak akan mengulangi untuk kedua kalinya, syarat itu adalah tinggal di Mansion selama tiga bulan lamanya. Dan jika kita berdua tidak ada rasa sedikitpun, maka perjodohan akan di anggap batal. Bukankah itu sangat menarik?" Ayu mengangkat kedua alisnya sembari menatap Farhan dengan senyum manisnya.

"Lalu? Kenapa kau memakai pakaian formal dan masuk ke dalam mobilku?"

"Kakekmu dan kakek ku berencana agar kita saling dekat dan menimbulkan rasa cinta, namun itu hanyalah sia-sia saja. Aku akan menjadi sekretaris mu mulai sekarang, apa masih ada pertanyaan lagi?" Ujar Ayu yang tersenyum kesal karena beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh Farhan membuatnya seperti seorang tersangka.

Farhan membenarkan jasnya sembari menatap lurus ke depan. "Jalankan mobilnya," titahnya kepada sang supir yang sedari tadi mendengarkan percakapan dari tuan mudanya.

"Baik Tuan."

Tidak ada obrolan setelah itu, mereka melamun dengan pikiran masing-masing. Ayu kembali membuka jendela mobil dan menikmati suasana kota A yang membuatnya sedikit rilaks, walau jalanan kota padat akan lalu lintas.

Ayu sangat senang dengan itu, terlihat dengan jelas saat wajahnya selalu mengukir senyuman indah, "semoga saja aku betah menjadi sekretaris pria mesum itu," batinnya.

****

Di perusahaan, sudah tersebar gosip jika sang atasan mereka telah di jodohkan dengan seorang gadis kampung dengan penampilan yang juga kampungan.

"Kalian tau? Jika atasan kita telah di jodohkan dengan seorang gadis kampung dan juga udik," ucap salah satu karyawan yang bergosip di pagi hari.

"Benarkah?" Sahut karyawan lainnya yang membekap mulut dengan tangannya seakan terkejut dengan kabar itu.

"Aku tidak berbohong."

"Tapi dari mana kamu tau dengan kabar itu?" Tanya salah satu karyawan lainnya yang menatap si lambe turah dengan raut wajah yang serius.

"Informasi yang aku dapatkan ini sangat tepat," sahut si lambe turah bernama Nia.

"Hah, sayang sekali jika tuan muda harus bersanding dengan gadis kampung. Aku sangat yakin jika wanita itu tidak bisa menggunakan komputer dan juga penampilan yang sangat kuno juga kampungan." Praduga dari karyawan itu yang bernama Linda.

"Kau benar," ucap si lambe turah. Mereka menggosipkan Ayu dengan berbagai tanggapan buruk dan juga merendahkannya.

Para karyawan yang sedang berkumpul untuk bergosip itu terhenti saat melihat dua orang berjalan bersama-sama dengan penuh elegan, membuat para karyawan itu berbaris menyambut kedatangan atasan yang baru saja mereka gosipkan dan juga melihat seorang gadis cantik dengan penampilan yang sangat memukau dan membuat semua orang tercengang saat menatap Ayu. Mereka menundukkan kepala penuh hormat dan menatap wajah Ayu dengan diam-diam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!