NovelToon NovelToon

Pengantin Cempaka

Triska

🦉

Rinai hujan yang mengguyur sejak sore hari membuat udara kota Bandung terasa semakin dingin. Embun menggantung di antara pepohonan tinggi di halaman depan rumah. Sinar terang dari lampu sorot di depan rumah tidak mampu menembus pekatnya malam.

Di dalam salah satu kamar yang terletak di pojok kiri rumah, Triska menggeliat di depan meja kerja. Merentangkan tangan dan memutar kepalanya beberapa kali.

Jemari lentiknya bergerak mematikan laptop. Kemudian bangkit dari kursi, melangkahkan kaki menuju tempat tidur yang sudah melambai sejak tadi.

Menepuk-nepuk bantal, merebahkan diri dan mencari posisi enak buat tidur.

Ssrrreeekkk.

Ssrrreeekkk.

Triska membuka kembali matanya, melihat sekeliling kamar sembari menajamkan pendengaran.

Ssrrreeekkk.

Ssrrreeekkk.

Suara itu terdengar lagi. Triska bangkit dan berjalan mendekati dinding pembatas rumah kontrakannya. Menempelkan telinga untuk bisa mendengar lebih jelas.

Sssrrreeekkk.

Sssrrreeekkk.

Brrruuukkk!

Suara benda yang diseret kemudian dibenturkan ke dinding terdengar tepat di balik tembok tempat Triska berdiri.

Terkaget sendiri, namun ia tetap tidak beranjak. Malah semakin merapatkan tubuh pada dinding.

Sayup-sayup terdengar suara nyanyian seorang wanita. Suaranya yang lembut mengalun merdu menyanyikan lagu berbahasa Inggris.

Triska merasa pernah mendengar lagu yang dinyanyikan itu. Mencoba mengingat sembari bersenandung lirih.

Brrraaakkk!

Brrraaakkk!

Suara benda digeser dengan kasar, sesaat kemudian kembali hening.

Triska masih menempelkan tubuh seperti cicak di dinding. Selama beberapa saat dia masih bertahan di posisinya.

Sekian lama hening, akhirnya dia berhenti jadi cicak dan menjauh dari dinding.

Kakinya melangkah menuju dapur kecil. Mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Meminum beberapa teguk sembari memandang ke arah pintu depan.

Sekilas dia merasa ada bayangan lewat di teras depan kamar.

Triska sontak berlari keluar dapur. Membuka pintu depan dengan cepat. Celingukan.

Keadaan di teras yang merupakan lorong panjang rumah kontrakan ini sangat sepi dan sunyi. Tidak ada seorang pun yang berada di luar.

Bentuk rumah kontrakan ini seperti bujur sangkar dengan taman kecil di tengah-tengah sebagai pemisah. Total ada sepuluh kamar di sini. Penghuninya campuran laki-laki dan perempuan yang semuanya pekerja.

Sejak kepindahannya lima hari lalu, Triska baru kenal dengan dua penghuni lama. Teh Afni dan Mbak Dinar.

Triska melangkah ragu-ragu ke kamar sebelah. Pintunya tertutup rapat. Demikian juga gordennya.

Triska mencoba mengintip dari jendela tapi ruangan dalam yang gelap membuatnya kesulitan melihat dengan jelas.

Srrrttttt.

Terasa ada yang melintas di dalam sana. Triska mencoba menajamkan penglihatan. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Dia mengelus pundak sembari tetap mengintip.

"Ngapain, Teh?" tanya seseorang dari belakang Triska.

Dia berbalik dan terkejut saat melihat siapa yang menegurnya barusan.

Pria bertubuh tinggi dengan kulit kecoklatan yang tinggal di seberang kontrakan Triska.

"Ini, di sini tadi ada orang lagi nyanyi," jawab Triska. Pandangannya kembali tertuju pada pintu yang tertutup di depannya.

"Nyanyi? Aku kok gak dengar, ya?" ucap pria itu sambil menggaruk-garuk kepala. Mata bulatnya dipicingkan.

Triska berbalik lagi memandang pria itu. Mereka saling bertatapan dengan bingung.

"Ada apa ini?" tanya seorang perempuan dewasa yang keluar dari kamar paling depan di kontrakan itu.

"Ini, Teh Afni, Teteh sipit ini tadi bilang ada yang nyanyi dari kamar ini," ucap pria tinggi.

"What? Teteh sipit?" gumam Triska dalam hati.

Seketika wajah Afni memucat. Kakinya bergerak mundur selangkah.

"Kamu yakin dengar itu?" lirihnya.

Triska mengangguk.

Tubuh Afni tiba-tiba ambruk ke lantai. Dia pingsan.

***

"Sudah berapa kali kamu mendengar nyanyian dari kamar itu?" tanya Dinar. Tangannya sibuk menggosok-gosok kaki Afni. Aroma minyak kayu putih menguar di udara.

"Baru kali ini sih, Mbak," jawab Triska.

"Mungkin, Teteh sipit ini salah dengar," sela pria tinggi itu dari depan pintu kamar Dinar yang terbuka.

Triska mendelik saat dipanggil teteh sipit. Pria itu cengengesan.

"Namaku Triska. Bukan teteh sipit!"

"Sorry. Habisnya aku kan gak tau namamu."

"Sekarang kan udah tau jadi jangan panggil teteh sipit lagi!"

"Oke ... oke," sahut pria itu seraya mengangkat kedua tangannya ke atas. Cengiran masih melebar di wajahnya.

"Jangan digodain terus, Ivan!" hardik Dinar.

Afni yang sudah sadar dari pingsan menarik tangan Dinar.

"Aku tidur di sini, ya? Takut Rima nongol lagi," bisiknya pelan. Dinar mengangguk.

"Rima itu siapa?" tanya Triska. Dia sangat penasaran kenapa Afni sampai pingsan.

Dinar dan Afni saling memandang. Kemudian berbalik menatap Triska yang duduk tegak bersila.

"Rima itu yang dulu tinggal di sini. Tepatnya di kamar sebelah kamarmu itu," jawab Dinar pelan.

"Dan dia ... sudah meninggal setahun yang lalu," lanjut Afni sembari menutup wajahnya dengan tangan. Isak tangisnya mulai terdengar. Dinar mengusap-usap punggung temannya itu dengan pelan.

"Terus gimana?" Kali ini pria yang bernama Ivan yang bertanya. Dia sendiri baru tinggal sebulan di sini.

"Menurut dua orang yang menempati kamar Triska dulu, mereka sering mendengar bunyi kursi diseret dan nyanyian seorang wanita dari kamar bekas Rima," jelas Dinar.

"Pernah ada yang menempati kamar bekas Rima itu, sepasang suami istri muda. Menurut pengakuan mereka, Rima sering muncul di ruang tamu. Duduk di kursi sambil bernyanyi lagu favoritnya."

"Akhirnya pasangan itu pindah dari sini karena sudah tidak tahan dihantui Rima. Walaupun mereka tidak bisa melihat jelas wajahnya, tapi mereka sering melihat sesosok perempuan berbaju pengantin berwarna broken white bernoda darah."

Dinar berhenti bercerita. Tangannya mengusap wajah yang terlihat lelah.

"Apa dia meninggal tak wajar?" tanya Ivan yang sudah berpindah ke sebelah Triska.

"Iya. Dia ... dibunuh ...."

***

Malam itu Triska tidur dengan gelisah. Terbangun beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar terjaga dan tidak bisa tidur kembali.

Melirik jam bulat di dinding, sudah pukul 03.00 wib. Ia berbaring miring ke kiri menghadap dinding pembatas kamar.

Dug!

Suara benda dibenturkan ke dinding. Triska menajamkan pendengaran. Matanya terbuka lebar. Bernapas dengan pelan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Dug!

Suara itu terdengar lagi. Triska sontak bangun dan duduk tegak di atas kasur. Tangannya meraih ikat rambut di bantal sebelah, dan mengikat rambutnya membentuk ekor kuda. Meraih ponsel di dekat bantal dan mengaktifkan kamera video.

Bangkit dari tempat tidur dan berjalan pelan ke arah ruang tamu mungil di bagian depan. Mengarahkan hape ke sekeliling ruangan, mencoba menangkap suara atau gerakan.

Dug! Dug! Dug!

Brrraaakkk!

Brrraaakkk!

"Astagfirullah! " serunya saat sekelebat bayangan terlihat dari celah bawah pintu.

Triska menutup mulut dengan tangan kiri untuk menahan jeritan yang nyaris keluar. Tangan kanannya bergerak mengarahkan ponsel ke pintu.

Dalam hati dia berusaha mengingat nasehat ibunya untuk tidak takut pada jin mana pun.

Namun menghadapi kondisi nyata seperti ini membuat nyalinya menciut.

Susah payah dia mengatur napas yang terasa semakin berat. Ingin lari tapi kakinya seakan menancap di lantai. Keringat mengucur dari kepala hingga ke punggung.

Kkkrrreeettt.

Kkkrrreeettt.

Kkkrrreeettt.

Bunyi menyeramkan di kaca jendela menambah ketakutannya. Seolah ada tangan berkuku panjang yang mencakar kaca.

Lututnya mulai goyah. Tubuh menggelosor ke lantai dan menabrak dinding pembatas.

Kkkrrreeettt.

Kkkrrreeettt.

Bunyi cakaran semakin kencang. Triska menutup wajah dengan kedua tangan sembari menangis. Dia sangat ketakutan. Apalagi dia hanya sendiri di sini.

Tiba-tiba hening. Suasana kembali sunyi.

Triska membuka jari yang menutupi bagian mata dan mengintip dari celah jari ke arah jendela. Suara itu benar-benar menghilang. Bayangan di balik pintu pun sudah tidak ada.

Sayup-sayup terdengar suara tahrim bergema dari mesjid di dekat kontrakan.

Perlahan Triska menurunkan tangan, mengusap wajah beberapa kali. Menyusut air mata dengan punggung tangan. Membetulkan posisi duduk sambil mengucap hamdalah berkali-kali.

Menutup mata sembari mengatur napas hingga pulih seperti sedia kala. Mengumpulkan tenaga untuk berdiri.

Melangkahkan kaki dengan ragu-ragu ke arah jendela. Mencoba mengintip keluar dari celah gorden.

Suasana lorong dan taman masih sepi. Seluruh penghuni masih tertidur lelap. Setelah memastikan tidak ada seorang pun di situ, akhirnya Triska menutup gorden dan melangkah menuju kamar.

Membaringkan tubuh di atas kasur. Menarik selimut sampai batas leher dan bergelung di dalamnya. Menutup mata dan mencoba untuk tidur sebentar sambil menunggu azan Subuh.

Rasa takut dalam hati mulai berkurang seiring dengan kesadaran yang memudar. Triska terlelap dan tertidur pulas, hingga tidak menyadari sekelebat bayangan kembali berhenti di depan pintu kamarnya.

***

Dua minggu telah berlalu, Triska sudah tidak pernah mendengar suara apa pun dari kamar sebelah. Hatinya kembali tenang dan ceria.

Teman-teman di sini juga baik dan ramah hingga membuatnya betah. Kadang mereka duduk berkumpul di taman, menggelar tikar sembari mengobrol santai.

Selain Dinar, Afni dan Ivan, Ayu dan Tia juga sering ikut ngobrol.

Sedangkan Rama dan Hasni hanya sesekali ikut bergabung di waktu senggang mereka.

Hanya satu penghuni yang selalu menyendiri. Pria tinggi berkulit putih dengan wajah dingin bernama Zein.

Bila Zein datang sepulang bekerja, dia hanya mengangguk ke kumpulan penghuni lain, kemudian langsung masuk ke kamarnya.

Seperti hari ini, Minggu malam yang syahdu. Penghuni lain berkumpul dengan riuh, namun Zein tetap menyendiri.

"Mau ke mana, Ris?" tanya Ayu. Matanya menatap piring kecil berisi dua potong martabak dan tiga pisang goreng di tangan kanan Triska.

"Mau ngantar ini ke sana," jawab Triska sambil menunjuk pintu kamar Zein.

"Gak bakal mau dia. Udah sering ditawarin makanan tapi selalu ditolak," sela Tia.

"Sieun dipelet ku maneh!"celetuk Ivan yang langsung dibalas cubitan di pinggang oleh Tia. (Takut dipelet sama kamu!)

"Isshh ... gak mungkinlah aku melet. Yang ngantri ngelamar aja banyak!" sungut Tia.

"Saking banyaknya sampai tak terlihat!" tukas Rama yang disambut gelak tawa lainnya.

Tia yang merengut tak urung ikut tertawa.

"Bang!" panggil Triska. Tangannya mengetuk pintu kamar beberapa kali.

Pintu terbuka, kepala Zein nongol dari celah pintu.

"Mau nganterin ini," ujar Triska seraya mengulurkan piring dengan tangan kanan.

"Owh, makasih, ya," ucap Zein. Sekilas secarik senyum tercetak di bibir tipisnya.

Triska tertegun. Zein terlihat ... tampan.

"Ada lagi?" tanya Zein dengan alis terangkat.

"Ehh ... gak. Gak ada," sahut Triska gelagapan.

Zein bergerak menutup pintu, namun Triska bergerak cepat menahan pintu dengan tangan kiri.

"Bang ... ehm ... ikut gabung, yuk!" ajaknya ragu-ragu.

Zein tertegun menatap Triska, kemudian mengalihkan pandangannya ke yang lain.

"Sini, Zein! Sekali-sekali gabung!" panggil Hasni.

Zein terlihat berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia mengangguk dan beranjak ke luar kamar. Berjalan di belakang Triska, kemudian duduk bersila di sebelah Rama.

Ivan melanjutkan bermain gitar mengiringi Afni yang bernyanyi merdu.

Tanpa terasa waktu pun segera berlalu. Malam semakin larut. Suasana di luar rumah semakin sepi.

"Aku masuk duluan, ya. Ngantuk," ujar Dinar sembari menguap.

Dug! Dug! Dug! Dug!

Brrraaakkk!

Sontak semuanya terdiam. Kepala mereka berputar mencari asal suara.

Brrraaakkk!

Brrraaakkk!

Brrraaakkk!

Suara itu semakin kencang. Bunyi benda yang dibenturkan ke dinding atau lantai.

Afni bergerak memeluk Dinar. Wajahnya tampak memucat. Ayu dan Tia saling menempel. Triska menarik kaos Zein yang berdiri di sebelahnya dengan tangan gemetar.

Ivan meletakkan gitar dan berdiri. Kakinya hendak melangkah ke asal suara namun tertahan oleh tarikan tangan Hasni.

"Diam, Van!" lirihnya.

Blllaaammmm!

Pintu kamar kosong tiba-tiba terbuka. Semua orang bergegas lari tunggang langgang ke kamar terdekat.

Hasni, Ayu, Tia dan Rama berlari masuk ke kamar Ayu.

Afni, Dinar, Ivan dan Triska berlari masuk ke kamar Zein.

Afni langsung berjongkok di ujung kamar. Menutup wajah dengan tangan. Dinar memeluknya sambil berusaha menenangkan.

Triska berdiri di pintu penghubung kamar dan ruang tamu. Ivan berdiri di sampingnya. Sedangkan Zein masih berdiri di depan jendela. Mengintip dari balik gorden.

"Apa itu ulah Rima?" tanya Triska. Tangannya gemetaran.

"Jin yang menyerupai Rima. Arwahnya sudah berada di alam kubur. Gak akan bisa keluar," jawab Zein tegas.

"Kenapa jin itu muncul lagi dan menakuti kita?" tanya Ivan pelan.

"Karena ... hari ini adalah peringatan setahun kematiannya!" jawab Dinar lirih.

Mendadak hening. Yang terdengar hanya isak tangis Afni yang masih berjongkok di sudut kamar.

Zein masih mengintip dari celah gorden sebelah kiri. Ivan ikut-ikutan mengintip dari sebelah kanan.

Kkkrrreeettt.

Kkkrrreeettt.

Kkkrrreeettt.

Tiba-tiba terdengar bunyi cakaran dari arah jendela kamar sebelah yang merupakan kamar Afni.

Triska sontak mundur beberapa langkah, bersembunyi di balik dinding antara ruang tamu dan kamar.

Matanya membola dengan pancaran ketakutan. Menutup mulut dengan kedua tangan. Jemarinya bergetar dan mata mulai berembun.

Afni semakin merunduk, terkulai lekas dan meletakkan kepalanya di pangkuan Dinar. Menutup wajah dengan ujung jilbabnya yang berwarna merah muda. Pundaknya turun naik menandakan dia masih menangis.

Dinar memeluk tubuh sahabatnya itu dengan ekspresi ketakutan. Mulutnya komat kamit membaca doa. Sesekali terputus karena dia harus menahan isak tangisnya sendiri.

Kkkrrreeettt.

Kkkrrreeettt.

Kkkrrreeettt.

Suara itu terdengar semakin kencang. Seakan memanjang dari jendela kamar Afni menuju kamar Zein.

Ivan mundur beberapa langkah, Zein bergeser ke belakang pintu. Tangannya mengusap pintu dengan pelan. Sesekali bergumam membaca doa sembari terus mengusap pintu tanpa henti.

Gggrrreeettt.

Gggrrreeettt.

Terdengar bunyi cakaran di pintu. Zein mundur selangkah. Matanya tak lepas mengawasi celah bagian bawah pintu.

Dia berjongkok, kemudian mengintip ke celah.

"Astagfirullah!" ucapnya pelan.

Seperti ada bayangan yang berdiri tepat di depan pintu.

Kengerian segeralah berakhir!

Ivan mendekat dan ikut mengintip. Matanya membulat sempurna. Menoleh ke kiri dan beradu pandang dengan Zein.

Ivan menelan saliva untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Tangannya menunjuk ke arah pintu.

"Tenang, Van. Baca ayat kursi," bisik Zein.

Ivan mengangguk dan mengikuti saran Zein. Mulutnya bergerak membaca ayat kursi dengan terputus-putus.

Tengkuknya terasa sangat dingin. Rambut-rambut halus di tangannya juga ikut berdiri. Dalam hati dia berusaha mengendalikan perasaan takut sembari terus memandangi pintu.

Brrraaakkk!

Brrraaakkk!

Brrraaakkk!

Terdengar bunyi benda yang dibenturkan ke lantai teras. Kemudian suara nyanyian seorang perempuan terdengar lirih.

Suaranya yang cukup merdu memancing Zein untuk bangkit dan berdiri. Kakinya melangkah maju ke jendela. Kembali mengintip dari celah gorden.

"Itu ... lagu kesukaan Rima," ucap Dinar seraya menatap Triska. Tangannya terulur, Triska merangkak maju mendekatinya.

"A-aku ... sering dengar lagu ini," ucap Triska pelan. Tangannya memeluk Dinar dengan erat.

"Iya. Penghuni yang dulu juga cerita begitu."

Mereka berangkulan, saling menguatkan. Dinar mengusap air mata yang mengalir di pipi Triska dengan ujung jilbab lebarnya.

"Lawan takutnya. Kamu jangan kalah!"

Triska mengangguk sembari menggosok punggung Dinar.

Suara nyanyian itu berhenti. Kini berganti dengan suara tangisan yang menyayat hati.

Ivan yang ikut mengintip dari celah gorden menyenggol lengan Zein.

"Kelihatan gak, Bang?"

Zein mengangguk.

"Di mana?" tanya Ivan lagi. Dia benar-benar penasaran karena tidak bisa melihat.

"Di dekat tiang penyangga," jawab Zein singkat. Matanya tak lepas memandangi sosok itu.

Dari tempatnya berdiri, punggung perempuan itu terlihat samar. Mengenakan baju pengantin berwarna cempaka atau broken white yang panjang menjuntai hingga menyapu lantai. Rambut digelung dan dihiasi dengan penutup kepala yang indah.

***

Sementara itu di kamar Ayu suasana masih mencekam. Ayu dan Tia berpelukan di atas tempat tidur. Menutupi tubuh mereka dengan selimut dan menangis ketakutan.

Hasni duduk menekuk lutut di pojok ruang tamu. Menutup wajah dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya meremas ujung kaos yang dikenakan.

Rama duduk menyandar ke dinding pembatas kamar. Pandangannya tak pernah lepas dari pintu. Mulutnya tak henti membaca ayat kursi dan doa-doa lainnya.

Ingatannya melayang pada sosok Rima. Perempuan berwajah manis yang selalu ramah pada penghuni lainnya.

Saat pertama kali dia pindah ke kontrakan ini, Rima adalah orang pertama yang mengajaknya mengobrol. Tanpa sungkan gadis berusia dua puluh empat tahun itu nyelonong masuk saat dia sedang beres-beres barang bawaannya yang lumayan banyak.

"Hai, baru pindah, ya?" tanya Rima. Wajah manisnya menyunggingkan senyum kecil. Sosoknya yang mungil tampak lincah bergerak di antara timbunan kardus yang berserakan di lantai kamar.

"Iya. Baru aja masuk," sahut Rama sembari membalas tersenyum menyambut kedatangan Rima.

"Perkenalkan, aku Rima tanpa melati," ujarnya seraya mengulurkan tangan kanan.

"Nama kita mirip. Aku Ramadhan. Biasa dipanggil Rama," jawab Rama. Tangannya menjabat uluran tangan Rima.

"Aku bantuin, ya?"

"Gak usah. Bisa sendiri kok."

"Gak boleh nolak, Mas. Pamali!"

"Iya, deh. Terserah kamu aja."

Rima bergerak cepat membantu Rama berkemas. Tak lama kemudian Dinar dan Afni muncul. Tanpa sungkan mereka ikut membantu hingga selesai. Sesekali melempar canda yang membuat tawa mereka pecah.

Sejak itu mereka berempat semakin akrab. Sering jalan bareng ke mana-mana, terutama dalam rangka menghabiskan waktu di penghujung minggu agar tidak sendu.

Terkadang Hasni juga ikut bersama mereka bila ada waktu luang. Kesibukannya sebagai area manajer di sebuah perusahaan farmasi membuatnya harus sering berkeliling dan melakukan perjalanan dinas ke berbagai daerah.

Keakraban mereka tetap terjalin hingga menjelang hari pernikahan Rima. Sayangnya saat pernikahan semakin dekat, Rama mendadak dimutasi ke Jakarta oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Rima mengantar kepindahan Rama dengan berurai air mata. Melambaikan tangan hingga mobil Rama menghilang dari pandangannya. Kemudian menangis sesegukan di pundak Dinar.

Selanjutnya komunikasi mereka tetap terjalin intens. Rima yang menganggap Rama sebagai kakaknya sering mengingatkan untuk menjaga kesehatan dan tak lupa untuk menghadiri acara pernikahannya.

"Mas, deg-degan nih. Dua minggu lagi. Asa cepat pisan ya!" ucap Rima saat mereka teleponan.

(Kaya' cepat banget)

"Cieeee. Yang mau nikah," ledek Rama.

"Apaan sih, Mas! Bukannya nenangin malah ngeledek!"

"Hehehe. Iya. Tenang. Banyakin doa. Tidur cukup. Dan tepat waktu makan. Enggak lucu kan lagi acara pernikahan tapi kamunya malah sakit!"

"Iya, Mas. Siap! Mas juga, ya. Jangan nggak datang. Kutunggu!"

"Sip," ucap Rama sembari memutus hubungan telepon.

Saat itu Rama sama sekali tidak menyangka, hari bahagia yang sangat dinanti Rima malah berubah menjadi hari kematiannya.

Gggrrreeettt.

Gggrrreeettt.

Bunyi cakaran di pintu mengagetkan Rama. Tersadar dari lamunan panjangnya dengan hati yang was-was.

Gggrrreeettt.

Gggrrreeettt.

Brrraaakkk!

Bunyi benda yang membentur pintu membuat Rama spontan melompat mundur. Hasni berlari mendekat dan berjongkok di sebelahnya.

Mereka saling berpandangan. Bingung hendak berbuat apa.

Tangisan Ayu dan Tia semakin keras. Berpelukan erat di dalam selimut rupanya tidak sanggup mengusir rasa takut dalam hati mereka.

Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering dari luar kamar. Ayu mendadak ingat kalau dia meninggalkan ponselnya di taman.

Deringan ponsel tanpa henti rupanya mengalihkan perhatian Rima. Tidak terdengar lagi bunyi cakaran atau benda yang dibenturkan.

"Ponsel kamu, ya?" bisik Tia. Ayu mengangguk. Dalam hati dia penasaran siapa yang menghubunginya.

Perlahan Ayu membuka selimut yang menutupi kepalanya. Matanya melirik ke benda bulat yang tergantung di dinding. Pukul 23.30 wib, sudah mendekati pertengahan malam.

"Sepertinya di luar sudah aman," bisiknya ke Tia yang membalas dengan anggukan.

Perlahan mereka bangun sambil membuka selimut dan mendorong benda tebal itu ke pinggir tempat tidur. Duduk tegak sambil menajamkan telinga.

Rama menoleh dari pintu pembatas ruang tamu. Sejenak tatapan mereka bertemu.

"Sudah pergi?" tanya Tia pelan. Rama mengangguk sambil bangkit berdiri. Maju beberapa langkah menuju jendela dan mengintip dari celah gorden.

Suasana sunyi di luar sana membuatnya penasaran. Tangannya bergerak membuka kunci pintu. Memegang gagang pintu dengan tangan kanan. Menghela napas dan mengembuskan dengan cepat.

"Bismillah," ucapnya sembari membuka pintu.

Wuuuzzzzzz!

Embusan angin dingin menerpa kepalanya yang melongok dari celah pintu. Matanya berputar melihat sekeliling, mencoba mencari keberadaan sosok yang telah membuat mereka ketakutan.

Krrriiieeettt.

Rama membuka pintu lebih lebar, beranjak maju selangkah ke depan. Hasni mengikuti dari belakang.

Krrriiieeettt.

Pintu kamar Zein terbuka. Zein keluar bersama Ivan. Sejenak mereka saling berpandangan sebelum melangkah maju dan bertemu tepat di tiang penyangga tempat Rima tadi duduk.

Tidak ada penampakan apa pun di sana. Ivan berjongkok dan memegang bagian bawah tiang.

"Gak ada apa-apa di sini," gumamnya dengan bingung. Otaknya sibuk menyusun potongan demi potongan kejadian aneh yang beberapa kali terjadi di sini.

Ayu keluar dari kamar sambil melirik takut-takut ke sekeliling. Berjalan pelan menuju taman dan meraih ponsel yang tertinggal di sana.

Triska muncul di depan pintu kamar Zein. Wajahnya yang cantik terlihat pucat pasi. Beradu pandang dengan Rama yang juga terlihat pias.

"Kamu numpang tidur di kamar Ayu aja ya, Ris," ucap Rama pelan. Dia merasa kasihan melihat Triska yang tampak ketakutan.

"I-iya, Mas," jawabnya pelan. Perlahan dia maju beberapa langkah dan ikut berjongkok di sebelah Ayu. Meraih ponselnya yang tertinggal.

"Tadi ponsel siapa yang bunyi?" tanyanya ke Ayu.

"Ponselku. Ayah menelepon. Mungkin beliau tiba-tiba teringat denganku," jawab Ayu pelan.

"Aku nginap di kamarmu, ya? Takut mau kembali ke kamar."

"Iya. Kita ngumpul aja rame-rame di kamar," jawab Ayu seraya berpegangan pada tangan Triska untuk berdiri.

Mereka melangkah bersama menuju kamar Ayu. Tak lama kemudian Dinar dan Afni yang dituntun Ivan menyusul.

"Van, pinjam kasur gulung, ya?" pinta Dinar.

Ivan mengangguk. Setelah mengantarkan Afni masuk ke kamar Ayu, dia segera berlari ke kamarnya. Tak lama kemudian telah kembali dengan membawa kasur gulung.

Tanpa diminta dia segera menggelar kasur di lantai kamar Ayu dan langsung merebahkan diri di tengah-tengah kasur.

"Kamu ngapain, Van?" tanya Dinar dengan dahi mengernyit.

"Numpang tidurlah," jawab Ivan dengan cengiran di wajah.

"Cowok masa' mau ikut gabung sama cewek? Gak boleh!" hardik Dinar. Matanya melotot memandangi Ivan yang masih cengengesan.

"Sekali-sekali atuh, Mbak. Males aku tidur di kamar sendirian."

"Males atau takut?" ledek Tia yang masih duduk di atas tempat tidur.

"Dua-duanya," jawab Ivan sambil menggaruk-garuk belakang kepala.

"Udah, kamu numpang tidur ke Rama aja. Kan dia pake double bed," ujar Dinar. Tangannya menarik lengan Ivan dan mendorongnya ke luar kamar dibantu Ayu. Tak peduli Ivan ngomel-ngomel di depan pintu.

"Yu, temenin mbak ambil selimut sama bantal, yuk?" ajak Dinar yang diiyakan oleh Ayu.

Mereka berdua berjalan cepat keluar kamar menuju kamar Dinar yang terletak di sebelah kamar Ivan. Tidak berani melihat ke seberang taman yang merupakan kamar bekas Rima.

Setelah mengambil selimut dan bantal mereka berlari kembali ke kamar Ayu. Di dalam kamar Triska sudah merebahkan diri di atas kasur gulung. Afni dan Tia sudah berbaring mapan di atas tempat tidur.

"Lampunya jangan dimatikan, ya! Aku takut!" lirih Tia.

Ayu mengangguk sembari merebahkan diri di sebelahnya. Miring ke kanan sambil menatap Tia yang berbaring telentang.

Afni sepertinya sudah tertidur. Tubuhnya miring ke kanan menghadap dinding sambil memeluk guling.

"Mbak, Rima kenapa menghantui kita?" tanya Triska kepada Dinar yang baru keluar dari kamar mandi.

Dinar berjalan mendekat dan duduk di sebelah Triska.

Ayu dan Tia bangun kembali dan turun ke kasur bawah. Mereka berempat duduk bersila membentuk lingkaran.

"Aku juga nggak tau kenapa, Ris. Mungkin dia merasa ini rumahnya selama dua tahun terakhir. Jadi kenangan akan tempat ini begitu membekas baginya," jawab Dinar.

Pandangannya menerawang mengingat sosok Rima. Teman dekat yang sudah dianggap adik olehnya. Demikian juga bagi Afni, Rama dan Hasni.

Speak softly love and hold me warm against your heart

I feel your words, the tender trembling moment starts

We're in a world, our very own

Sharing a love that only few have ever known

Lirih suara perempuan yang bernyanyi merdu terdengar lagi dari luar kamar.

Mata mereka berempat membelalak. Tubuh saling merapat dan menempel erat. Mulut komat kamit membaca doa dengan terputus-putus.

Dalam hati Triska memohon agar kengerian ini segera berakhir. Secepatnya!

***

Sementara itu, para pria yang berkumpul di kamar Rama juga mendengar nyanyian itu sayup-sayup.

Dalam hati Ivan merutuki diri. Seharusnya tadi dia ngotot aja ikut tidur di kamar Ayu. Menggelar karpet di ruang tamu juga gak masalah.

Terbayang saat ini teman-teman ceweknya pasti sedang ketakutan.

"Damn!" serunya kesal. Tangannya meremas rambut dengan emosi.

"Aku mau keluar. Ada yang mau ikut?" tanya Rama sambil berdiri.

"Aku ikut," jawab Ivan cepat.

Hasni terlihat masih berpikir. Menatap wajah Rama dan Ivan bergantian.

Ivan mendengkus, sedikit kesal dengan reaksi lamban Hasni.

Tangannya bergerak cepat memegang gagang dan membuka pintu, namun gagal. Berulang kali dia mencoba pintu tetap tidak bisa terbuka.

"Sini. Biar aku coba!" tukas Rama. Ivan bergeser ke samping dan membiarkan Rama berusaha membuka pintu.

"Kok gak bisa, ya?" gumam Rama. Wajah yang biasanya tenang itu sekarang mulai terlihat panik."Telepon Zein!" perintahnya.

Hasni segera meraih ponsel miliknya dari atas meja. Menggeser layar mencari nomor kontak Zein dengan jari bergetar. Menekan tanda hijau dan menunggu Zein mengangkat telepon.

Dari jendela kamar Rama yang sudah separuh terbuka gordennya, terlihat Zein menyibak gorden dari seberang sana.

"Zein, cepat ke kamar Ayu. Mereka pasti ketakutan!" teriak Hasni dari balik jendela.

"Gak bisa, Bang. Pintu kamarku terkunci. Padahal tadi gak dikunci sama sekali," jawab Zein yang terlihat gusar.

Hasni mematikan telepon dan menatap Rama yang terlihat bingung.

Suara nyanyian itu tiba-tiba berhenti. Hening. Suasana berubah menjadi sunyi dan mencekam.

Empat kepala mengintip dari balik jendela. Melihat lorong dan taman yang tetap kosong.

Tiba-tiba lampu teras tempat parkir motor di depan kamar Rama berkedip-kedip dan kemudian padam. Disusul dengan beberapa lampu di lorong. Seketika gelap. Hanya bias cahaya lampu dari tiap kamar yang terlihat.

Mulut Ivan mulai mengeluarkan sumpah serapah sambil memukul dinding berkali-kali. Kaki dihentak-hentakkan ke lantai.

"Kita pecahin jendela aja," tukas Rama sambil berlari ke dapur dan kembali lagi dengan membawa palu.

Ivan segera mundur dan membiarkan Rama menghantamkan palu ke jendela.

Ppprrraaannnggg!

Ppprrraaannnggg!

Pecahan kaca berhamburan ke luar kamar. Bang Hasni melemparkan selimut tebal di kusen jendela supaya mereka bisa keluar tanpa terluka.

Ivan lebih dulu melompat ke luar. Rama mengekor di belakangnya.

"Hati-hati melangkahnya," ujar Ivan. Dia segera memakai sandal miliknya di depan kamar Rama dan berlari menuju kamar Ayu.

Rama berlari menuju kamar Zein dan segera memecahkan kaca. Hanya Hasni yang masih diam di tempat. Bulu kuduknya tegak berdiri. Mundur dua langkah dari jendela saat dia melihat sekelebat sosok lewat di belakang Rama. Hendak berteriak namun mulutnya seakan terkunci. Kakinya seakan menancap ke lantai. Keringat dingin mengucur dari kepalanya.

"Awas!" teriak Zein sembari melompat keluar jendela dan mendorong tubuh Rama ke samping kiri.

Rama menahan tubuhnya yang kehilangan keseimbangan dengan berpegangan pada tepi jendela.

Menoleh ke Zein dengan mata membola. Perlahan tangan kanannya meraba pundak yang terasa berat.

Zein menatap tanpa berkedip pada bayangan samar yang berdiri di belakang Rama.

Sosok perempuan berdiri menyamping. Kemudian tiba-tiba menghilang. Lenyap tak berbekas.

Berkumpul di kamar Ayu

"Ayu! Mbak Dinar! Triska! Tia! Teh Afni! Buka pintunya!" teriak Ivan sembari menggedor-gedor pintu. Wajah tampannya berkeringat dan terlihat panik.

Gorden tersibak, wajah Dinar yang pucat pasi mengintip dari balik jendela.

"Buka, Mbak!" teriak Ivan lagi dari luar.

Bergetar tangan Dinar saat mencoba membuka kunci pintu. Berkali-kali dicoba tapi selalu gagal.

"Gak bisa!" pekiknya dari dalam. Bulir bening mulai mengalir di pipinya.

Triska yang tak kalah paniknya muncul dari belakang Dinar. Tangannya mengambil alih gagang dan berusaha untuk membuka kunci pintu. Dalam hati dia membaca ayat kursi. Kemudian menggumamkannya melalui bibir. Kian lama suaranya kian lantang

Cetreeek.

Kuncinya berhasil dibuka. Dengan cepat tangannya membuka gagang pintu bersamaan dengan Ivan yang membuka pintu dari luar dan menerobos masuk.

"Kalian nggak apa-apa?" tanya Ivan dengan gugup. Menatap wajah Dinar dan Triska bergantian. Mereka mengangguk.

"Dia ... sudah pergi?" tanya Tia yang mengintip di pintu pembatas kamar dan ruang tamu.

"Enggak tau. Aku lihat dulu," jawab Ivan. Tubuhnya berbalik dan mendadak kaku.

Di depan pintu kamar bekas Rima yang masih terbuka lebar, terlihat bayangan samar sosok perempuan berdiri menyamping.

Bergaun pengantin berwarna cempaka yang panjangnya entah berapa meter. Kepalanya terbungkus dengan hiasan berenda dan cadar transparan. Di tangannya memegang buket bunga yang telah layu.

Mulut Ivan membuka dan menutup, tidak mampu bersuara karena tenggorokannya terasa sangat kering.

Bbllaaammm!

Tiba-tiba pintu itu tertutup bersamaan dengan hilangnya sosok samar perempuan itu.

Tubuh Dinar merosot ke lantai. Dengan cepat Triska menangkap tubuhnya sebelum jatuh terkulai. Pingsan.

Tia bergerak maju dan membantu Triska memapah tubuh Dinar ke dalam kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur.

Ayu bergegas mengambil minyak kayu putih dari dalam laci. Menuangkan isinya ke telapak tangan dan menggosokkannya ke ujung hidung Dinar dan leher.

Aroma minyak kayu putih yang menyerang hidung membuat Dinar tersadar. Matanya membuka dan bergerak memutar melihat sekeliling.

Afni yang terbangun karena bunyi ribut-ribut di belakangnya, terlihat sangat kaget.

"Dinar kunaon?" tanyanya panik.

(Kunaon \= kenapa)

"Pingsan." jawab Ayu. Tangannya masih menggosok-gosok tangan Dinar. Sementara Tia menggosok kaki Dinar.

"Kok bisa?" tanya Afni lagi sambil mengerjapkan mata beberapa kali.

"Mbak Dinar melihat sosok Rima di seberang sana," jawab Ivan lirih dari pintu pembatas.

Dia duduk menyandar ke dinding. Menekuk kaki dan mimijat dahi yang mendadak pusing.

Derap langkah kaki mendekat. Zein dan Rama muncul dan langsung masuk ke ruang tamu kamar Ayu.

"Kalian enggak apa-apa?" tanya Zein.

"Aku sih gak apa-apa, Bang. Tapi Mbak Dinar sempat pingsan tadi," jelas Ivan.

Zein melongok dari pintu pembatas, kemudian mengempaskan pantat ke lantai di sebelah Ivan.

Sedangkan Rama memilih berbaring telentang di atas karpet ruang tamu. Tangan kanan ditekuk hingga menutupi mata. Tangan kiri diletakkan di atas perut. Kakinya saling tumpang tindih. Berusaha mengatur napas yang masih tidak beraturan.

"Nyusul juga, Bang?" ledek Ivan pada Hasni yang baru tiba.

Pria berusia tiga puluh tahun itu tidak membalas ledekan Ivan. Melainkan langsung melangkah masuk ke dapur. Menuang minuman untuk dirinya sendiri, dan menenggaknya hingga habis. Kemudian dia melangkah kembali masuk ke kamar.

"Din, sepertinya kita harus ke rumah Ibu kos besok. Hal kayak gini nggak bisa dibiarin. Harus ada solusinya," ujarnya sembari duduk di pinggir tempat tidur, tepat di sebelah Tia.

Dinar yang sudah duduk itu pun mengangguk lemah. Sebagai penghuni paling lama, dia menjadi orang kepercayaan Ibu kos untuk mengelola tempat ini. Termasuk mengawasi asisten rumah tangga yang dipekerjakan di sini, Bi Ai.

"Yu, kami boleh kan nginap di sini? Takutnya Rima muncul lagi," ucap Hasni pelan. Dalam hati dia memang masih merasa takut. Namun rasa takut itu berusaha dia tekan agar teman-teman ceweknya ini tidak tambah panik.

"Iya, Bang. Boleh. Memang lebih baik begitu sih. Takutnya ...." Ayu tidak meneruskan ucapannya. Pandangannya menerawang menatap pintu yang terbuka.

"Van, tutup pintunya!" perintah Rama yang ternyata belum tidur.

Ivan bergerak menutup pintu sambil mengawasi sekitar. Lampu di lorong teras sudah menyala lagi. Hanya dua tempat yang terlihat gelap sekarang. Kamar bekas Rima dan kamar Triska.

Ayu bergerak menuju lemari, menarik beberapa bed cover dari bagian atas dan membentangkannya di ruang tamu dibantu oleh Tia.

Rama segera berpindah ke atas bed cover dan mencari posisi paling enak agar bisa tidur. Benaknya penuh dengan kelebatan momen bersama Rima dulu.

"Yu, ada mie instan, nggak?" tanya Ivan.

"Ada. Cari aja di lemari makan. Masak sendiri terus bekasnya juga dicuci sendiri, ya," jelas Ayu.

Ivan bangkit dan berdiri tegak, kemudian melangkahkan kaki menuju dapur. Membuka pintu lemari makan. Mengacak-acak isinya.

"Buatku satu, ya, Van," ucap Zein sambil melintas dan masuk ke kamar mandi.

"Iya," jawab Ivan. Tangannya mengambil lagi sebungkus mie dan mulai memasak untuk dirinya dan Zein.

Hasni melangkah ke ruang tamu, kemudian duduk menyandar ke dinding sembari memejamkan mata. Perlahan tubuhnya mulai melemah, dia pun merebahkan diri di dekat Rama yang sudah tertidur pulas.

Para perempuan juga sudah mapan di tempat masing-masing. Ayu memilih pindah ke kasur bawah agar Dinar bisa tidur di tempat tidur.

"Ayu" bisik Triska.

"Hmm?"

"Besok malam aku tidur di sini lagi, ya."

"Iya. Ayo sekarang kita tidur. Ada cowok-cowok yang jagain kita," ucap Ayu sambil menguap.

Tak berapa lama kemudian Ayu sudah terlelap. Tinggallah Triska yang masih menatap kosong pada langit-langit kamar.

"Ris, mau mie, nggak?" ujar Zein sambil mengacungkan mangkok di tangan kiri.

Triska bangun lagi, beringsut ke pinggir kasur, menggeser tubuhnya hingga duduk berdekatan dengan Zein dan Ivan.

"Nih," ujar Zein sambil menyodorkan sendok ke depan wajah Triska.

Ragu-ragu perempuan itu membuka mulutnya, namun setelah menikmati suapan pertama, rasa ragu itu lenyap. Berganti dengan desiran halus dalam dada. Sambil mengunyah dia beberapa kali beradu pandang dengan Zein yang tersenyum tipis.

Pria berambut cepak ini masih terlihat tampan walaupun sedang lelah.

Ivan memandangi kedua temannya itu sambil memutar bola mata. Ada rasa jengah melihat adegan romantis bak film tersebut.

"Udah, Bang. Cukup. Aku udah kenyang," ucap Triska menolak suapan terakhir Zein dan mendorong sendok dengan tangan kanan.

Zein mengangguk, kemudian melanjutkan makan hingga habis tak bersisa.

Triska bangkit berdiri dan melangkah menuju dapur. Menuangkan air untuk dirinya dan Zein. Kembali masuk ke kamar dan mengulurkan gelas buat Zein.

"Nuhun," ucap Zein singkat.

(Makasih)

"Buatku mana?" protes Ivan.

"Ini aja, kita bagi dua," jawab Triska sambil tersenyum.

Ivan mengambil gelas sambil mengoceh tak jelas. Makin kesal waktu melihat Zein dan Triska yang duduk berdekatan.

"Tidur, Ris!" ujarnya sambil mendelik.

Triska terkekeh pelan seraya mengangguk dan menuju kasur lantai. Merebahkan diri di samping Ayu yang sudah berlayar ke samudera mimpi.

Selesai makan Zein pun memilih untuk berbaring di ujung bed cover. Tepat menghadap ke jendela. Mulutnya bergumam doa sembari menempelkan telapak tangan ke dinding. Mencoba membuat pagar gaib dengan mengusap dinding dan menyalurkan tenaga dalam hasil olah napasnya selama beberapa tahun terakhir.

Ivan berbaring di sebelahnya. Menatap Zein sambil memiringkan tubuh.

"Lihat jelas nggak tadi?" bisik Ivan.

"Cuma bayangan samar. Wajahnya nggak jelas." Zein balas berbisik.

"Sama. Aku juga lihat begitu."

"Udah. Enggak usah diomongin lagi. Ayo kita tidur aja!"

Ivan berbaring telentang. Mencoba menutup mata dan tidur tapi ternyata sulit.

Telinganya mulai mendengar dengkuran yang lainnya. Tak lama kemudian dia mulai terlena. Terlelap dalam mimpi yang aneh.

***

Keesokan paginya semua bangun kesiangan. Dinar dan Afni yang masih merasa lemas akhirnya memutuskan untuk izin tidak masuk kantor. Sedangkan yang lain tetap berangkat bekerja walaupun terlambat.

"Af, ntar ke rumah Bu Wahyu habis Maghrib aja, ya. Biar bisa bareng sama yang lain," ucap Dinar sembari mengunyah makan siang yang mereka beli di warung nasi dekat kosan.

"Aku nggak ikut deh. Mau ke rumah sodaraku aja. Ngungsi," jawab Afni pelan. Dia memang sangat ketakutan. Tidak sanggup berada di sini lebih lama lagi.

Dinar terdiam sambil menatap Afni yang sedang memainkan sendok di atas piring.

"Kalo begini terus, aku juga mikir lebih baik pindah kosan," ujarnya. Menghela napas dan mengembuskan dengan cepat.

Setelah makan siang dan menunaikan salat Zuhur, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan tidur di kamar Afni.

Suasana siang hari yang sepi membuat tidur mereka menjadi sangat pulas. Hingga tak menyadari hari mulai beranjak sore.

Dinar terbangun karena suara ketukan di pintu kamar Afni.Bergegas memakai jilbab dan melangkahkan kaki menuju pintu.

Mengintip sebentar lewat jendela, di depan kamar sudah ada Triska. Tangannya bergerak membuka pintu.

"Mbak," sapanya.

Dinar tertegun melihat Triska berdiri sambil menggendong seekor kucing berwarna abu belang hitam.

"Kucing siapa, Ris?" tanya Dinar sembari mulai mengelus kepala kucing yang mendengkur pelan.

"Kucing senior di klinik. Kasian, udah tua. Namanya Emak Chubie. Enggak ada yang mau adopsi. Sedangkan di klinik lagi banyak pasien wabah flu kucing. Daripada dia tertular, mending dibawa ke sini," jelas Triska.

"Ooo ... gitu. Iya, enggak apa-apa. Biar di sini aja. Lumayan ada tambahan penghuni," canda Dinar.

Triska tersenyum," Makasih, ya, Mbak."

Dinar mengangguk dan beranjak keluar kamar. Duduk di lantai teras sambil selonjoran. Triska ikut duduk di sebelahnya.

Mereka mengobrol tentang banyak hal. Tak lama kemudian Ayu dan Tia muncul. Disusul Zein dan Ivan. Sedangkan Rama dan Hasni baru pulang menjelang Magrib.

***

Dalam perjalanan ke rumah Bu Wahyu, pemilik kos, Dinar lebih banyak diam. Hanya sesekali ikut nimbrung dalam obrolan bersama Triska, Rama, Ivan dan Zein. Yang lainnya memilih tinggal di kosan.

Sesampainya di rumah Bu Wahyu ternyata beliau telah menunggu. Perempuan paruh baya itu tersenyum menyambut kedatangan anak-anak kos-annya.

Saat Dinar menyampaikan maksud kedatangan mereka, beliau sontak terperangah.

"Astagfirullahhaladzim! Kenapa jadi begitu, ya?" ucap beliau sembari menggeleng-geleng.

Sejenak suasana hening. Bu Wahyu mengelus dada berkali-kali sambil terus beristighfar.

"Jadi gimana, Bu? Apa boleh kami memanggil orang untuk meruqiah kamar bekas Rima?" tanya Rama.

"Iya, Nak. Boleh," jawab Bu Wahyu pelan. Pandangannya menerawang mengingat sosok Rima, gadis mungil yang ceria.

Setelah mengobrol basa basi akhirnya mereka pun berpamitan dan beranjak pulang.

Rama menyetir dengan pelan. Otaknya sibuk berpikir tentang langkah mereka ke depannya seperti apa.

"Aku mau ke Bogor. Ke rumah orang tua Rima. Ada yang mau ikut?" tanyanya.

"Untuk apa ke sana?" Dinar balik bertanya dari kursi belakang.

"Untuk menuntaskan misteri ini. Kenapa Rima muncul tiba-tiba. Di kosan pula. Kenapa nggak di rumahnya atau di kantornya dulu? Aku penasaran. Enggak bakal tenang kalo nggak tuntas!" jelas Rama.

"Kapan mau berangkat?" tanya Zein dari kursi sebelah Rama.

"Sabtu pagi. Senin sampai Rabu aku cuti. Sekalian dari Bogor nanti mau langsung ke Jakarta. Ada kerjaan di sana."

"Oke, aku ikut!" ujar Zein.

"Aku juga!" sahut Ivan dan Triska bersamaan.

Kemudian hening. Dinar masih menimbang-nimbang apakah akan ikut atau tidak. Namun, akhirnya kata hatinya lebih dominan. Dia memutuskan untuk mengikuti jejak teman-temannya.

"Oke. Aku juga ikut!" sahut Dinar.

🦉

Malam itu para perempuan melaksanakan salat Isya berjamaah di kamar Ayu. Afni sudah berangkat ke rumah saudaranya sejak habis Magrib tadi.

Tinggallah mereka berempat yang duduk bersila membentuk lingkaran di ruang tamu.

"Mbak, ceritain dong sosok Rima itu kayak apa. Aku penasaran!" ucap Triska sembari mengunyah pie susu yang tadi dibuatnya bersama Ayu.

Dinar menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Matanya terlihat menerawang. Berusaha mengingat kenangan tentang Rima.

"Rima itu mungil, tingginya sekitar 155 centimeter. Berat badan proporsional. Berkulit kuning langsat dan halus. Matanya besar dengan iris berwarna hitam. Bulu mata panjang tapi gak lentik. Hidung kecil gak terlalu mancung. Bibir tipis dan mungil. Ada pup lalat di dekat kuping sebelah kiri."

"Orangnya ramah dan ceria. Paling cepat akrab dengan siapa saja. Di sini dulu dia menjadi penghuni termuda. Otomatis jadi adik bagi semua penghuni."

"Dulu yang menempati kamar Tia itu namanya Hasan. Pria muda berumur dua puluh lima tahun. Sosok yang pemalu. Yang menempati kamar Triska dulu namanya Nani, orang Sumedang yang pelupa. Kelakuan konyolnya selalu jadi bahan candaan kami. Penghuni kamar Zein dulu namanya Yono. Pria asli Solo. Tutur bahasanya lembut dan sangat sopan. Paling rajin bersih-bersih. Penghuni kamar Ivan dulu namanya Karin. Perempuan cantik asli Manado. Gayanya yang centil membuatnya banyak penggemar. Hampir tiap minggu dia bergonta ganti pasangan."

"Nah, kalo penghuni kamar ini dulu namanya Amanda. Cewek cantik keturunan Tionghoa yang berasal dari Kalimantan. Kakak lelakinya, Ko Eric. Pria ini menaruh hati pada Rima, namun ditolak." Mendadak wajah Dinar terlihat aneh. Matanya mulai berembun.

Ayu yang duduk di sebelahnya menggosok punggung Dinar dengan lembut.

"Kalau suami Rima itu siapa?" tanya Tia.

"Calon suami. Mereka belum melaksanakan ijab kabul saat Rima terbunuh," ucap

Dinar sembari mengusap bulir bening yang luruh dari matanya.

Perlahan isak tangisnya semakin kencang. Ayu memeluknya dengan erat sembari menyeka air matanya sendiri. Tia dan Triska pun ikut menangis.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!