NovelToon NovelToon

Crisis World XX

Chap. 1 : Pertemuan Pertama

Bagaimana pandanganmu terhadap dunia ini? Apakah indah? Apakah buruk? Atau mungkin dunia ini tidak adil? Entah apapun tanggapan mu tentang dunia ini, tapi ada satu hal yang pasti.

Kalian pasti belum pernah melihat seluruh isi dunia, kan? Atau yang kalian lihat hanyalah sisi terangnya saja dan sedikit percikan dari sisi gelap dunia. Baik sisi terang atau gelap sekali pun, dunia ini memiliki satu kesamaan. Yaitu krisis yang mengakar di dalamnya.

**

*Jalan Pusat Kota Kyoto*

Suasana panik dan mengerikan terjadi di sebuah perempatan jalan raya yang ramai malam itu. Di saat orang-orang sedang sibuk ingin pulang kantor atau pulang ke rumah, dari atas langit turun beberapa makhluk dengan bentuk dan jenis yang tidak dikenal.

"GrooOAaakkhhHh !!!"

"Kyaaa! Apa itu?!"

"Monster! Mereka monster?! Mereka benar-benar ada?!"

"Uwaa! Ibu dimana? Aku tidak mau sendirian, Bu!"

Makhluk yang memiliki cakar tajam serta gigi tajam yang keluar menonjol dari mulutnya, air liur yang tidak dapat terkontrol oleh mereka membuatnya semakin terlihat mengerikan.

Makhluk itu secara membabi buta menyerang orang-orang dan juga bangunan-bangunan di sekitarnya. Mobil-mobil kosong yang ditinggal lari pemiliknya pun tidak luput dari amukan makhluk besar nan misterius tersebut.

"GrraAAakkHh !!!"

Raungan mengerikan makhluk itu dapat membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan bergidik ngeri karena kebuasan dan keliaran serta aura besar makhluk itu. Tidak terkecuali reporter dan kameramen yang menyiarkan berita dari jarak yang bisa dibilang cukup berbahaya.

Raut ketakutan dan wajah pucat pasi bisa terlihat dari reporter tersebut meski mereka dengan profesional terus melaporkan serta mendeskripsikan kejadian yang ada di sana.

"Pemirsa! Bisa dilihat di sana makhluk misterius yang tiba-tiba muncul menyerang membabi buta apa pun yang ada di dekatnya! Para polisi yang sudah datang memprioritaskan evakuasi warga terlebih dahulu. Siapa?! Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini?!"

Pertanyaan sekaligus harapan putus asa dari reporter itu ia tujukan ke kamera, mencoba memperingatkan serta memohon berhenti bagi siapa pun yang menyebabkan kekacauan ini.

Di tempat lain, di sebuah Cafe yang tidak terlalu jauh dari tempat kejadian perkara. Sebuah Cafe bernama Haiiro Cafe, di mana orang-orang di dalamnya cukup ramai akan pelanggan.

Hampir semua orang yang ada di ruangan itu melihat ke arah TV menonton berita live penyerangan monster yang ada di Pusat Kota Kyoto.

"Apa-apaan makhluk-makhluk aneh mengerikan itu? Apakah itu hewan jenis baru?" ucap seorang yang sedang duduk dengan panik.

"Bagaimana ini?! Tempat tinggal ku ada di sekitar situ!" ucap seorang lainnya panik.

Sementara seorang pria dengan pakaian tuxedo lengkap berwarna merah marun melihat ke arah TV dengan sebuah senyum tersirat yang terpancar di wajahnya.

Di saat yang lain sedang panik dan sibuk berbicara, di Cafe yang sama terlihat seorang gadis yang memakai Hoodie hitam dan rok hijau pendek duduk tenang sambil meminum secangkir kopi pesanannya yang sedikit lagi habis.

Tidak ada raut wajah panik atau takut yang tampak dari wajahnya sedikitpun.

Ia seakan tidak peduli dengan situasi yang sedang terjadi di TV saat ini. Tapi pada saat kopi miliknya habis, gadis itu berdiri dan secara tidak sengaja menyenggol ujung meja sehingga membuat suara yang cukup keras.

"??!!"

Orang-orang di dalam Cafe yang tadi sedang panik dengan keadaan yang terjadi di TV tiba-tiba terdiam dan perhatian mereka tertuju ke arah gadis tersebut, tidak terkecuali dengan orang yang memakai tuxedo tadi.

"Herlin-chan, kau ingin pergi kemana?" tanya pria itu.

"Anda pasti sudah tahu kan, Oita-san?"

"Begitu, ya? Kalau begitu, selesaikan dengan cepat dan segera kembali kesini, ya?"

Pria itu menjawab dengan sebuah senyuman santai seakan sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis tadi. Sementara gadis itu hanya mengangguk pelan dan segera berjalan keluar dari Cafe.

"Kalau begitu, aku pergi dulu."

Gadis itu pun pergi, meninggalkan Cafe dan pelanggan di dalamnya yang masih dalam keadaan hening terpana seakan mengantarkan kepergian nya.

**

*Keisatsu School, Kyoto*

Di sebuah sekolah yang cukup terkenal di daerah Kyoto. Di salah satu kelas yaitu kelas 10-A, terlihat kelas itu ramai karena waktu sudah cukup siang. Beberapa anak sedang mengobrol sambil menunggu waktu bel masuk tiba, termasuk di antara mereka adalah tiga orang laki-laki di kelas itu.

"Iraya! Kau dengar soal penyerangan makhluk besar aneh semalam?" tanya seorang siswa kepada temannya yang bernama Iraya.

Sementara nama orang yang ditanya itu, Satou Iraya. Dia adalah salah satu murid di sekolah ini yang berumur sekitar 16 tahun, memiliki penampilan rambut coklat gelap dan iris mata berwarna hitam.

"Nn, Aku dengar, kok. Memangnya kenapa? Kau takut ya, Kudou?" tanya Iraya menggoda temannya.

Lalu orang yang bertanya pada Iraya, Takushi Kudou. Ia memiliki ukuran tubuh yang sedikit gempal dengan rambut berwarna coklat hampir sama seperti Iraya, tapi warnanya lebih terang.

"Hah?! apa kau tidak takut?"

"Aku itu jago berkelahi, tahu. Kalau cuman satu sih, aku masih bisa melawannya."

Iraya membalas pertanyaan temannya dengan nada santai dan seakan merendahkan serangan yang terjadi malam tadi. Meski pun dirinya sadar kalau monster-monster semalam tidak akan semudah yang ia bayangkan saat menghadapinya secara langsung.

"Tapi mereka itu ada banyak! Banyak!"

"Aku tahu, aku tahu, tenanglah, Kudou. Tadi itu aku cuma sombong sedikit."

"Sedikit apanya? Kau itu sombong banyak tadi, bahkan sok-sokan mau melawan mereka sendirian. Memangnya kau ini apa? Superhero di acara TV pagi atau gimana?"

Iraya hanya tersenyum saat mendengar balasan datar dari Kudou. Dan kemudian secara acak ia juga mengingat salah satu kejadian aneh yang terjadi pada insiden malam tadi, tentang orang yang mengalahkan mereka semua.

"Oh iya, tapi ada kabar burung yang mengatakan kalau ada orang yang mengalahkan makhluk-makhluk aneh itu sendirian. Apa kau mendengarnya?"

"Ya, aku juga dengar. Siapapun orang itu, dia pasti orang yang kuat. Apa jangan-jangan dia orang dari militer Jepang, ya?" gumam Kudou.

"Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi rumor lebih lanjut mengatakan kalau yang terlibat adalah seorang gadis kecil," sela seseorang masuk ke dalam pembicaraan mereka.

Orang itu adalah Tooru Hira. Hira memiliki penampilan rambut hitam lurus dan kacamata yang membuatnya terlihat seperti murid pintar, meskipun pada kenyataannya dia adalah yang paling pintar dari mereka bertiga.

"Hah, yang benar saja?! Tidak mungkin?!" ucap Kudou tidak percaya.

"Entahlah, lagi pula itu hanya sebuah rumor belaka, tidak ada yang bisa dipercaya dari sebuah rumor."

Di tengah-tengah pembicaraan mereka yang sudah mulai masuk ke bagian yang serius, tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi mengganggu obrolan dan membuat mereka harus menundanya.

Saat guru sudah masuk dan semuanya sudah duduk di tempatnya masing-masing, Iraya malah melamun melihat ke arah jendela luar, membayangkan tentang penyerangan yang ia lihat kemarin malam.

*Satou Iraya PoV*

Namaku adalah Satou Iraya. Anak usia 16 tahun yang bersekolah di Keisatsu School. Aku hanya seorang murid SMA biasa, tidak ada yang spesial dari diriku, mungkin hanya kemampuan beladiri seadanya dan juga sedikit kelebihan dalam bidang olahraga.

Nilai ku juga hanya sedikit diatas rata-rata, dari 180 siswa kelas 10 aku berada di peringkat ke-86. Mungkin nilai segitu tidak cukup untuk masuk ke universitas terkenal.

Tapi jika memikirkan soal universitas itu sendiri, sepertinya itu hal yang tidak terlalu penting untukku saat ini. Entah mengapa aku merasa kalau universitas bukanlah hal yang cocok untukku. Aku malah lebih penasaran terhadap makhluk mengerikan yang menyerang pusat kota kemarin malam.

Bagaimana bisa ada makhluk seperti itu di dunia ini? Aku tahu kalau planet kesayangan manusia ini belum sepenuhnya terjamah. Mari kita ambil contoh yang sederhana yaitu lautan, hanya tiga persen saja yang sudah diketahui manusia.

Lalu bagaimana dengan sisanya? Apa mungkin 97% sisanya ada kaitannya dengan penyerangan kemarin malam? Mungkin bisa saja. Siapa yang tahu, kan? Karena tidak diketahui bisa saja itu berhubungan. Tapi memikirkannya tanpa petunjuk benar-benar tidak ada gunanya, setidaknya aku harus bertemu dengan salah satu dari mereka untuk membuktikan kebenarannya.

"Uhn? Suara apa itu?"

Saat sedang melamun di tengah perjalanan itu, suara aneh yang berasal dari dalam gang kecil tepat di samping ku menarik perhatian ku dan membuatku menghentikan langkah.

Aku tidak yakin kalau ada maling di perumahan padat seperti ini, karena jika ada, dia adalah seseorang yang bodoh. Jika dia mau dihakimi seluruh warga di komplek ini, maka aku akan dengan senang hati membantu para warga. Tapi pada akhirnya aku tetap memeriksanya karena penasaran.

"A-Apa itu?"

Saat aku mengintip ke dalam gang, mataku melebar melihat sesuatu yang tak biasa di ujung gang buntu. Terlihat seorang wanita yang tengah duduk tersudutkan oleh dua makhluk aneh yang aku sendiri tidak tahu jenis hewan nya.

Salah satunya memiliki bola mata besar tapi juga mempunyai sayap di bagian belakang matanya. Sementara yang lainnya adalah Golem batu kerdil yang hanya memiliki tinggi setara pinggang orang dewasa.

"Apa mereka juga monster seperti yang ada di TV malam tadi?" gumamku.

Lalu aku melihat ke arah wanita yang dipojokkan itu. Wajahnya terlihat sangat ketakutan dan bisa menggerakkan hati siapa saja yang melihatnya untuk menolongnya.

Baiklah, baiklah! Biar aku jelaskan sesuatu. Biasanya aku tidak akan repot-repot untuk membantu orang asing yang aku tidak kenal. Bahkan sekarang kejadian di depanku terlalu aneh.

Maksudku, lihat saja dua makhluk absurd itu! Apa yang akan terjadi padaku jika mereka menyerangku? Tidak ada yang tahu dan bisa saja aku mati dalam dua detik.

Tapi ....

Wajah ketakutannya terlalu mengundang seseorang untuk diselamatkan dan juga dia lumayan cantik. Haah ... Aku sudah tidak peduli lagi! Jika kau memaksa!

Aku yang sempat tidak peduli pada akhirnya tidak punya pilihan selain menolongnya. Melihat ke sekitar dan mengambil sebuah batu di dekat kakiku, lalu melemparkannya ke tong sampah sebagai pengalih perhatian.

"Kiik?!"

Dan tentu saja, suara batu tersebut sudah cukup untuk menarik perhatian mereka semua--termasuk wanita yang dipojokkan. Lalu sesuai dugaanku, salah satu dari mereka datang mendekat untuk memeriksa keadaan.

"Kiiik?"

Yang mendekat adalah si makhluk mata sayap. Tanpa memberinya kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi, aku memukulnya dengan keras sampai menabrak tembok di belakangnya dengan cukup keras.

Masih bergerak? Padahal aku sudah memukulnya dengan semua tenaga yang aku punya sampai tinjuku sakit. Tapi untungnya, beberapa saat kemudian dia sudah tidak bergerak lagi, darah segarnya juga tertinggal di bagian kepalan tanganku. Menjijikan.

"Grrk? Grrkk!!"

Eh? Makhluk absurd lainnya terlihat murka kepadaku. Aku tidak tahu apakah dia marah karena melihat ku atau saat temannya mati, tapi yang terpenting adalah ia menerjang ke depanku.

Gerakan yang sederhana dan lambat membuatku mudah untuk memprediksi serangannya. Dengan sebuah kuda-kuda sederhana, aku pun menendangnya secara vertikal dari atas ke bawah dengan bagian tumit sepatuku hingga kepala golem miliknya hancur.

"Gwaarkh ...??!!"

Dua monster tadi telah berhasil aku kalahkan dan sekarang saatnya menghampiri wanita tadi. Satu poin untuk pihak manusia saat ini.

Setelah mendekatinya, aku mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri. Tapi ia masih menunjukkan raut wajah ketakutan, padahal yang mendekat kali ini adalah penolongnya.

"Oh, ayolah! Aku hanya manusia imut yang tidak suka menyakiti siapa pun, tidak perlu takut kepadaku,” ucapku. “Lagi pula seharusnya kau berterima kasih padaku.”

Ekspresinya mulai berubah saat aku menjelaskan tentang diriku, raut ketakutannya juga sudah mulai sedikit menghilang.

Jika diperhatikan baik-baik, wanita ini memiliki penampilan yang tak biasa. Rambut panjang lurus berwarna hijau, iris mata berwarna jingga terang menjadi hal paling mencolok selain rambutnya. Entah dari mana asal perempuan ini, atau mungkin dia hanya seorang cosplayer.

Dia mulai mengulurkan tangannya juga untuk meraih tanganku. Okay, perkenalan ku berjalan mulus. Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

"Kau tidak apa-a—Wuoo?!"

Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, dia secara tiba-tiba menarik tanganku dan menempelkan bibirnya dengan bibirku. Yap. Kalian tidak perlu bingung untuk membayangkannya, kami sekarang sedang berciuman.

Rasa hangat saat prosesnya terjadi membuatku tidak bisa berbuat apa-apa dan memang tidak ada niatan sama sekali untuk melawan. Mataku terbuka lebar terkejut dan menunggu apa yang akan wanita aneh ini lakukan selanjutnya.

Saat bibir kami berdua masih menempel, tiba-tiba muncul cahaya kehijauan aneh dari sekitar tubuhnya yang lama kelamaan makin terang dan semakin banyak.

Saking banyaknya sampai menutupi seluruh tubuh wanita itu. Aku yang sedang berfikir kejadian ajaib apa lagi ini kembali dikejutkan lagi dengan tubuhnya yang tiba-tiba menghilang bersamaan dengan cahaya tadi yang semakin memudar.

"Apa-apaan tadi itu?"

Tiba-tiba aku merasakan sensasi pusing dan menusuk-nusuk di dalam kepala yang membuatku hampir pingsan tidak kuat menahannya.

"AarrRrggGghh—Eh? Hilang?"

Saat aku sudah bersiap-siap untuk berteriak karena rasa sakitnya, tiba-tiba ia menghilang begitu saja seakan tidak terjadi apa-apa, membuatku hanya terdiam bingung seperti orang bodoh.

"Ada apa sih sebenarnya?"

Apa mungkin kesendirian ku selama 16 tahun telah menjadi serangan balik untukku? Apa itu hanya ilusi belaka? Atau aku adalah orang super beruntung yang dicium oleh perempuan cantik yang tak ku kenal di dalam gang?

Aku mendongakkan kepalaku ke atas melihat ke arah langit sore yang sudah berwarna jingga seperti warna iris mata wanita tadi.

"Mending pulang, deh. Nanti Ibu bisa marah."

Aku pun berjalan keluar dari gang itu dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Berharap kalau kejadian aneh saat ini tidak mengundang kejadian-kejadian aneh lainnya.

Bersambung

Chap. 2 : Bertemu Langsung

Setelah kejadian tak terduga yang terjadi tadi, akhirnya aku sampai di rumah saat matahari sudah hampir terbenam, tentu saja itu lumayan. Dan saat ada seorang anak yang pulang telat ke rumah, kalian tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di dalam, aku bisa melihat di rak sepatu sepasang sendal yang tersusun rapi di dalamnya. Aku juga bisa mendengar samar-samar suara air keran yang mengalir dari wastafel.

"Aku pulang!" ucapku agak keras.

Tidak ada jawaban. Sepertinya suara air keran itu menghalangi pendengarannya sampai-sampai tidak mendengar salamku. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Berjalan ke arah ruang tamu, dari dapur, seseorang menyambut kepulanganku setelah mendengar langkah kakiku. Tapi yang bisa aku dengar hanyalah suaranya saja, karena wujudnya sedang mencuci piring.

"Selamat datang! Tumben pulang sore, apa ada keperluan sampai pulang jam segini? Sudah begitu, tidak laporan ke Ibu pula."

Suara keran wastafel tadi berhenti dan kemudian seseorang datang dari dalam dapur dengan menggunakan baju daster dan celemek di tubuhnya.

Dia adalah ibuku—Satou Honoka, wanita berusia 41 tahun yang setiap hari merawatku dari kecil. Ia adalah single parent semenjak kepergian ayahku. Meski begitu, ia tidak pernah mengeluh sedikit pun dan terus bisa tersenyum saat ada di depanku.

Dengan rambut berwarna coklat yang sama denganku dan gaya rambut kepang khas ibu-ibu, ia datang kepadaku dengan pertanyaan di benaknya. Tapi meski begitu, aku tidak ingin menjawabnya dengan jujur karena bisa dianggap tidak waras olehnya nanti.

"Tidak ada apa-apa, cuma ada kejadian aneh saja hari ini," jawabku.

"Hmm?"

Sepertinya jawabanku tadi belum cukup untuk meyakinkannya, wajah penuh pertanyaan masih tertinggal di sana dan bahkan semakin terlihat penasaran. Entah kenapa aku memiliki perasaan buruk tentang ini.

"Kejadian aneh apa? Apa kau terlibat perkelahian jalanan?"

Yap. Itu dia yang aku tunggu-tunggu. Setiap kali aku pulang telat dan tidak memberitahukan alasannya, ibuku pasti selalu menuduhku terlibat perkelahian jalanan.

Padahal aku adalah seorang anak SMA baik-baik yang disukai semua orang dan tidak pernah berkelahi, tapi kenapa ibuku sendiri bisa berpikiran begitu padaku. Kecuali jika kau mengabaikan kejadian sebelumnya.

"Tidak, beneran deh! Tidak ada yang aneh, hanya ada yang berbeda saja tadi."

Ibuku terus mendekati wajahku bermaksud untuk memberikan tekanan dalam interogasi yang dilakukannya. Ia bahkan sampai berjinjit karena tubuhnya yang lebih pendek dariku.

Sementara aku hanya memalingkan wajah, berusaha untuk tidak melihat matanya agar aku tidak keceplosan mengatakan sesuatu yang aneh soal tadi. Tapi entah itu karena refleks atau kebodohan ku, tanpa sengaja aku malah menyentuh bibir sendiri dan disadari olehnya.

"Kau memegang bibirmu, pasti kau dipukul tepat di bibirmu, kan?"

Permisi sebentar, Bu! Apa kita bisa menyingkirkan tuduhan tentang perkelahian jalanan ini terlebih dahulu? Anak laki-laki kesayanganmu ini baru saja dicium oleh wanita aneh dengan dua makhluk aneh yang ingin menyerangnya! Seharusnya Anda menenangkan dia atau setidaknya mencarikannya pacar.

Tadinya aku ingin bilang begitu, tapi tentu saja aku tidak bisa melakukannya. Lalu kata-kata yang terakhir juga hanya bercanda, kurasa.

Kejadian tadi masih terus terbayang di kepalaku. Bahkan sampai membuat wajahku memerah tanpa sadar.

"Kau kenapa, Iraya? Apa kau demam? Wajahmu merah."

"Mm ... tidak, aku ...."

Ibu memegang dahiku untuk memeriksa apakah aku demam atau tidak. Dan tentu saja itu sedingin kutub utara, aku tidak demam atau apa pun. Yang membuatnya tambah bingung.

"Po-Pokoknya aku tidak apa-apa dan aku juga tidak lapar. Jadi aku ke kamar dulu, ya? Dadah! Hehe ...."

Okay, sudah cukup. Aku menjauhkan tangan Ibu dari dahi ku dan naik ke kamar tanpa makan dahulu. Bagiku, lebih baik kelaparan di dalam kamar daripada harus menghadapi kesalahpahaman Ibu. Sementara Ibu melihatku yang sedang naik ke atas dengan tatapan aneh.

"Anak aneh," gumamnya.

Aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur, memikirkan banyak hal acak yang terjadi dalam waktu singkat. Meski perutku keroncongan, tapi beruntungnya rasa lelah lebih kuat daripada rasa lapar ku, jadi kini rasa kantuk sudah mulai menyerang.

"Hah ... benar-benar hari yang panjang."

Aku melihat langit-langit kamar dalam diam, menghalangi cahaya lampu yang berlebihan dengan tangan. Dan tanpa sadar semuanya berubah hitam karena sudah terlalu lelah dan akhirnya tertidur.

**

"Hakh ??!!"

Aku membuka mata dengan panik. Kenapa bisa begitu? Karena saat terbangun, aku berada di tempat yang asing bagiku.

"D-Di mana ini?"

Aku bangun dari posisi tidur telentang ke posisi duduk, menengok ke kanan dan kiri. Entah di mana sekarang aku berada saat ini, tapi satu hal yang pasti adalah kalau ini bukanlah kamarku. Ruangan gelap gulita yang hanya memiliki satu sumber cahaya— yaitu tepat berada di atas kepalaku.

Untuk mencari informasi dan sedikit penasaran, aku pun berdiri dan mulai berjalan, berharap menemukan suatu petunjuk yang dapat memberitahu lokasi keberadaanku saat ini. Tapi percuma. Ruangan ini terlalu gelap dan aku terasa seperti tidak berjalan kemana-mana, karena satu-satunya cahaya di atas kepalaku juga bergerak mengikuti.

Pada saat aku sudah pasrah dan menyerah berjalan, aku menemukan harapan. Secercah cahaya berada di hadapanku dan aku langsung menghampirinya. Tapi saat sampai di sana, harapan tadi seolah musnah. Karena itu hanya sebuah cahaya kosong yang mengarah dari atas ke bawah, tak menyinari apapun selain lantai putih bersih yang sama dengan yang lainnya.

“??!!”

Tiba-tiba dari belakang, seseorang seolah meraih kedua pundak ku. Aku berusaha untuk menengok ke belakang, tapi anehnya kini tubuhku tidak bisa digerakkan sama sekali, seperti ditahan oleh sesuatu.

Dalam kebingungan dan kepanikan itu, aku bisa mendengar langkah kaki yang berjalan ke depan wajahku. Akhirnya aku bisa melihat sesuatu selain secercah cahaya dan kegelapan. Tapi ketika melihat wajah seseorang itu, mataku melebar terkejut.

Bukan karena ada sesuatu di wajahnya atau penampilan jelek yang ia gunakan. Melainkan itu adalah wajah seseorang yang pernah ku lihat sebelumnya.

Wanita dengan rambut hijau dan sorotan iris mata jingga tajam. Memakai pakaian aneh yang sama saat terakhir kali bertemu dengannya. Tidak salah lagi, dia adalah wanita yang ku selamatkan dan secara acak menciumku saat pulang sekolah itu.

Ia memberikan senyuman misterius kepadaku menatap seolah menginginkan sesuatu dariku. Lalu bagaimana denganku jika kalian bertanya? Aku sudah berusaha 120% untuk melepaskan diri, tapi seperti ada sesuatu tak terlihat yang menahan tubuhku.

Bahkan gerakan sederhana seperti menggerakkan mulut atau mengeluarkan suara pun tidak bisa. Semua usahaku nampak sia-sia.

Wanita itu menyadari usaha sia-sia yang aku lakukan lalu mulai berbicara.

"Satou Iraya, namaku Si ...."

Si? Nama aneh macam apa itu? Oh iya, aku pernah dengar kalau cara pelafalan huruf 'C' dalam bahasa Inggris adalah 'Si', jadi mungkin itu yang dia maksud. Mungkin saja. Tapi tidak tahu juga, sih, karena itu semua hanya dugaan. Lagipula apa pentingnya nama orang lain jika kau sedang ditahan seperti ini.

Wanita itu—C terus melanjutkan ucapannya, tapi aku tidak terlalu mendengarkannya karena masih berusaha melepaskan diri sendiri—yang sepertinya tidak menunjukkan suatu perkembangan signifikan.

"... Mungkin kau masih ingat siapa aku ini. Kau juga pasti memiliki banyak pertanyaan di dalam kepalamu saat ini, karena aku dapat merasakannya dengan jelas. Tapi untuk saat ini, aku akan memberitahu mu satu hal, kalau kau dan aku telah bersatu."

"???!!!"

Tunggu. Dia baru saja mengatakan hal yang tidak ku mengerti. Memang tidak ku dengarkan dengan sesama, sih, tapi apa yang dia maksud dengan kami berdua telah bersatu?

Aku yang awalnya sibuk dengan acara melepaskan diri, pada akhirnya tertarik pada ocehannya, yang membuatnya mengeluarkan senyum misterius.

"... Untuk saat ini kau tidak perlu bicara, aku hanya ingin kau mendengarkan saja. Saat kau menyelamatkan ku tadi, rasa terima kasih adalah hal pertama yang harus aku ucapkan padamu. Sikap pemberani mu saat itu patut ku apresiasi. Tapi karena keberanian yang kau tunjukkan saat itu, membuatku sedikit tertarik denganmu. Dan setelah kita bersatu, satu hal yang pasti akan terjadi ...."

Ia menggantungkan kata-katanya, membuatku semakin penasaran.

"... Kehidupan damai yang membosankan milikmu akan berubah 180 derajat. Maka dari itu, persiapkan tubuh dan mental mu yang lemah itu, Satou Iraya."

Setelah selesai berbicara, cahaya kehijauan menyilaukan secara instan menyelimuti wanita itu sama seperti waktu pertama bertemu. Ia menghilang bersamaan dengan cahaya yang semakin memudar. Setelah menghilang secara sempurna, tiba-tiba suara teriakan terdengar memanggil namaku secara samar-samar dan semakin menguat.

"Iraya! Bangun, sudah jam berapa ini?! Cepat siap-siap lalu sarapan!"

Teriakan Ibu membangunkan ku secara paksa. Ketika membuka mata, ia sudah berada di sebelah tempat tidur ku sambil bertolak pinggang. Aku yang sadar akan hal itu kemudian duduk di tempat tidur.

Aku masih memikirkan soal mimpi yang tadi. Jantung ku berdebar kencang dan keringat membasahi tubuhku. Apa itu benar-benar hanya mimpi, semacam bunga tidur biasa yang dialami oleh manusia pada umumnya? Atau pertanda lain yang sangat buruk bagiku? Ketidaktahuan ini membuatku ngeri.

"Nih, anak, kenapa malah diam?! Cepat siap-siap!"

"I-Iya, bu."

Aku pun berangkat sekolah setelah itu.

**

Sekarang aku sudah sampai di kelas. Tapi tentu saja masih belum bisa tenang karena pemikiran ku masih membayangkan kejadian semalam.

"... Saat ini kau dan aku telah bersatu ...."

"... Hidupmu akan berubah 180 derajat ...."

Kata-katanya di dalam mimpi saat itu membuat ku tidak bisa fokus selama perjalanan ke sekolah. Aku meregangkan tubuhku yang pegal dan bingung secara mental, setelah itu lanjut memangku dagu sambil terus melamun.

"Lagi pula bagaimana dia tahu soal namaku, ya?" gumamku.

Itu juga jadi salah satu pertanyaan ku. Apa jangan-jangan dia masih satu jenis dengan monster yang menyerang pusat kota? Tapi kemungkinannya kecil. Karena saat aku menyelamatkannya, ia juga sedang diserang oleh dua monster lainnya.

Tapi kalau dia bukan monster, kenapa dia bisa bersinar terang dan menghilang di depan mataku begitu? Terlebih lagi dia masuk ke dalam mimpiku.

"Argh! Sialan!"

Semua pemikiran dan kemungkinan yang aku buat di dalam kepalaku membuat ku bingung sendiri dan malah berteriak cukup keras.

"Kau ini kenapa, sih? Dari tadi melamun dan bicara sendiri terus. Obatmu sudah habis, kah?" ucap Kudou.

"Eh ... melamun? Ahahaha .... Tidak mungkin aku melamun, aku ini selalu fokus pada tujuanku dan tidak pernah berpikiran yang aneh-aneh." Aku menghindari hal yang sama sekali tidak bisa dihindari.

"Lalu yang tadi itu namanya apa?" tanya Kudou datar.

"Ada apa? Apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?" tanya Hira.

"Mmm ... tidak, tidak juga."

Tidak mungkin aku memberitahu mereka soal hal itu. Benar. Ini adalah suatu hal yang tidak boleh diketahui oleh teman-temanku. Tentu saja untuk melindungi teman-temanku dari monster-monster tak jelas. Hehe ... jika di pikir-pikir aku ini keren sekali. Aku memejamkan mata dan mengangguk-angguk membenarkan pemikiran ku sendiri.

"Orang aneh," ucap mereka bersamaan.

"Kenapa semua orang berkata seperti itu kepadaku?" balasku datar.

"Oh iya! Nanti setelah pulang mau main Game Club, tidak?" tanya Kudou.

Kudou langsung mengganti topik pembicaraannya tanpa menanyakannya lebih lanjut. Sebenarnya dia ini peduli atau tidak, sih? Meski pun itu bagus untukku, sih. Jadi aku tidak perlu membuat alasan atau semacamnya.

"Eh? Ya ... aku sih bisa saja. Bagaimana denganmu, Hira?" Aku mengiyakan ajakan Kudou.

"Tidak bisa! Bukannya besok kita ada ulangan?"

"Ah ... ayolah, Hira! Sebentar saja," rayu Kudou sambil merangkul Hira.

"Aa! Sekali tidak bisa tetap tidak bisa!"

Kudou merangkul Hira yang mencoba untuk menolak tawaran darinya. Sementara Hira malah meronta berusaha melepaskan rangkulan Kudou dan keluar dari ilusi ajakan Kudou ke Game Club.

Bibirku terangkat saat melihat kelakuan lucu dan heboh mereka berdua. Ini juga sekaligus membuatku berpikir; tidak mungkin kehidupan yang damai ini akan berubah, kan? Setidaknya aku tidak akan membiarkan hal itu berubah.

Bersambung

Chap. 3 : Perempuan Misterius

Acara main di Game Club ternyata benar-benar terjadi saat ini. Padahal tadi Hira sudah sangat yakin dan menolak mentah-mentah tawaran dari Kudou, tapi entah bagaimana caranya dan apa yang sudah dikatakan oleh Kudou sampai membuatnya mau ikut bersama kami. Bujukannya memang tidak tertandingi.

"Uwaah! Sudah lama sekali kita tidak ke sini!" ucap Kudou.

"Kalau tidak salah, terakhir saat kita masih SMP, kan?"

"Benar! Wah, saking lamanya sampai terasa seperti lima tahun yang lalu aku terakhir ke sini."

"Apa kau lupa kalau kita ini masih anak SMA?" ucapku datar.

Sebenarnya tidak ada yang salah kalau ingin bermain setelah pulang sekolah, tapi yang ku khawatirkan adalah sesuatu yang ada di sekitar sini. Jika kalian ingat tentang penyerangan monster di Pusat Kota Kyoto beberapa hari lalu, kita sedang berada di tempat itu sekarang. Dekat sekali.

Ketika aku melihat ke sekitar, para pejalan kaki yang lewat juga kebanyakan mempercepat langkah mereka untuk segera menjauh dari tempat ini.

Perilaku mereka dapat dimaklumi. Karena mereka berpikir tempat ini masih belum sepenuhnya aman — dan tentu saja, aku juga berpikir demikian! Tapi kami bertiga malah bermain-main di sini dengan santainya, kurang hebat apalagi coba kami ini.

Senyum miris dan sebutir keringat kekhawatiran muncul di dahiku. Aku masih tidak yakin kalau ini adalah keputusan yang tepat untuk datang ke sini. Ah, sial! Tadi mah aku mendukung Hira agar tidak main ke sini!

Hah ... tapi semua sudah terlanjur, aku hanya berharap kalau tidak ada hal yang terjadi di sini. Para pejalan kaki juga sudah lebih banyak dari beberapa hari lalu, yang tentu saja merupakan pertanda baik. Tidak perlu terlalu overthinking, Satou Iraya!

Setelah menenangkan diri, aku kemudian melihat ke arah Hira. Ia menjelaskan syarat yang harus dilakukan supaya dia mau bermain sekarang.

"Dengar baik-baik! Aku tidak akan lama di sini. Kalau kalian terlalu lama, maka aku akan meninggalkan kalian dan pulang sendiri. Kalian ini bukan anak SMP lagi, masa harus aku peringatkan terus," tegur Hira tegas.

Yah .... Dia memang teman tegas kami sejak masa SMP, sih. Seseorang yang selalu menegur kami ketika keasikan bermain sampai ke taraf lupa belajar, maka tidak heran jika ia jadi yang paling pintar di antara kami bertiga.

"Iya, iya, tenang saja. Kau terdengar seperti nenek-nenek yang mengomel ke cucunya, kau tahu?"

"Nenek—?! Oi! Aku tidak jadi main, nih!"

"Ehehehe ... bercanda, kok, bercanda. Oh iya, karena kita sudah ada di sini, apa kau punya saran permainan mana yang harus kita mainkan terlebih dahulu? Meski pun kita tetap akan memainkan semuanya, sih.”

"Sebenarnya kau mendengarkan ku atau tidak, sih?" tanya Hira.

"Baiklah! Ayo kita serang semua game yang ada di sini!"

Tentu saja Kudou tidak mendengarkan Hira. Jika dia sudah fokus pada hal yang dia senangi, ia akan lupa segalanya. Makanya Hira hanya bisa menggelengkan kepala pusing karena tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih, Kudou berteriak sangat keras sehingga menarik perhatian semua orang yang lewat di sini.

"Suara mu terlalu keras, tahu," ucap Hira.

Aku hanya bisa menjauh darinya dan bersembunyi agar tidak dianggap teman Kudou oleh orang-orang di sini dan harus menanggung malu dari perbuatan Kudou. Tapi berkat Kudou—meski tak ada hubungannya—mengingatkan ku pada suatu yang penting.

"Oh iya, aku baru ingat kalau aku belum memberitahu Ibu kalau aku sedang bermain di Game Club."

Aku mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan pendek kepadanya kalau aku sedang ada di sini. Karena jika pulang telat tanpa alasan lagi, bisa-bisa tuduhan tak berdasar seperti berkelahi dengan anak sekolah lain akan kembali aku terima.

'Aku pulang sedikit telat, sedang bermain di Game Club'. Begitu kira-kira pesan yang aku ketik dan kirim.

"Yosh! Sudah."

Setelah itu, kami pun menikmati waktu bermain kami di Game Club cukup lama. Sudah hampir satu tahun kami tidak ke tempat ini. Padahal saat masih SMP, saking seringnya kami ke sini, penjaga Game Club sampai mengenali wajah kami.

Tidak pernah ada kata bosan di dalam kamus kami jika sudah bermain di Game Club, meski sudah mencoba seluruh permainannya. Setelah memainkan semuanya, kami pun keluar dan tanpa sadar, langit di luar sudah mulai gelap.

"Nghn! Tadi itu menyenangkan sekali," ucap Kudou.

Semua meregangkan tubuhnya pegal, sementara aku hampir bisa membunyikan semua tulang yang ada di tubuhku. Sudah cukup lama kami tidak bermain di sini, jadi kami sedikit terbawa suasana.

"Tadi benar-benar terasa nostalgia, sudah lama aku tidak se-semangat tadi," seru Hira.

Kudou memberi senyum jahil pada Hira. "Heh~ Kau bisa bilang begitu sekarang padahal sebelumnya sangat menolak kami, itu berarti kau tidak menyesal telah ikut, kan?”

"Tapi tetap saja, aku masih mengkhawatirkan tentang ulangan besok. Apa kalian berdua akan baik-baik saja?"

"Ahahaha ... tidak usah terlalu mementingkan detail-detail kecil! Yang penting adalah hidup harus bersenang-senang! Bukankah begitu, Iraya?! Hn ... Iraya?"

Aku tidak terlalu mendengarkan percakapan Kudou dan Hira dari tadi. Entah kenapa perasaan ku sudah tidak enak sejak kami keluar dari Game Club. Seperti akan terjadi sesuatu yang buruk terjadi malam ini, tapi aku tidak tahu apa.

"Iraya, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat," tanya Kudou.

Tanpa sadar, aku telah melamun cukup lama. Dan wajahku pucat? Apa aku setakut itu? Tidak, yang ku khawatirkan adalah mereka berdua. Saat melihat monster mengerikan yang menyerang Pusat Kota Kyoto di TV saat itu, aku pesimis jika harus bertarung dengannya dan menyelamatkan Kudou dan Hira di saat bersamaan.

"Eh? Pucat? Tentu saja tidak! Apa-apaan kau ini, Kudou? Ehehe ... ngomong-ngomong, apa sudah tidak ada urusan lagi? Kalau begitu, ayo kita cepat pulang! Ayo, ayo!"

Aku mendorong dan memaksa mereka berjalan lebih cepat dari biasanya meninggalkan tempat ini segera.

“H-Hey, kau ini kenapa? Kenapa harus buru-buru? Aku bisa jalan sendiri, oi!”

***

Sementara di bagian rooftop gedung, sekumpulan makhluk aneh sedang melihat ke jalanan di bawah. Mereka tidak hanya berada di satu gedung rooftop saja, tapi di beberapa gedung lainnya juga.

Tubuh mereka yang tidak terlalu tinggi--berukuran setengah tinggi rata-rata orang dewasa atau sekitar 100 cm. Wajahnya yang lebar dan hidung pesek memiliki bentuk humanoid serta kulit berwarna kuning pucat. Selain itu, masing-masing dari mereka juga membawa sebuah botol penuh dengan serbuk di tangan mereka.

Mereka kemudian membuka botol dan menebarkannya ke bawah. Isi botol-botol tadi adalah serbuk-serbuk yang mudah menyebar. Serbuk yang begitu ringan dan mudah terbawa angin akhirnya menyebar di area jalanan di bawahnya sehingga semua orang yang ada di sekitarnya tanpa sadar menghirup serbuk-serbuk tadi.

***

Aku benci ketika firasat buruk menjadi kenyataan. Contohnya adalah seperti saat ini, ada sesuatu yang terbang terbawa angin. Sesuatu seperti serbuk yang masuk dan menyatu di keramaian. Lalu asalnya juga berasal dari atas gedung.

"Dari atas?!"

Serbuk itu terhirup ke hidung orang-orang yang ada di jalanan secara tidak sengaja. Anehnya, hanya aku yang menyadari kejadian ini. Semua orang seolah tidak sadar dengan apa yang terjadi sebenarnya.

"Kudou! Hira! Tutup hidung kalian! Ada sesuatu yang aneh ditaburkan dari atas!" Aku memperingatkan mereka berdua.

"Aneh? Ahaha ... kau ini memang suka bercanda, ya? Mana ada—"

"K-Kepalaku pusing ...."

Mereka berdua tiba-tiba ambruk ke tanah, seolah membenarkan firasatku yang memperingatkan kalau serbuk-serbuk tadi adalah sesuatu yang berbahaya.

"Kudou! Hira!"

Aku menghampiri mereka berdua dan memeriksa keadaan mereka. Keduanya masih bernapas. Pertama-tama, itu adalah hal yang patut aku syukuri. Entah bagaimana reaksi serbuk aneh itu pada tubuh manusia yang bisa jadi lebih berbahaya, beruntung kalau itu hanya menyebabkan pingsan.

Saat sedang fokus pada Kudou dan Hira, aku mendengar suara orang-orang jatuh di belakang. Dan saat aku menengok, mataku melebar karena keadaannya jauh lebih buruk dari yang aku perkirakan.

"Semuanya ... jatuh pingsan?"

Benar. Ternyata bukan hanya Kudou dan Hira saja yang tidak jatuh pingsan, semua orang yang berada di sekitar sini—yang kemungkinan besar menghirup serbuk yang sama seperti Kudou dan Hira—juga ikut tidak sadarkan diri.

Satu persatu semua orang di sini ambruk dan dengan cepat akhirnya semua orang jatuh ke jalan. Suasananya jadi lebih sunyi dari malam-malam biasanya di Pusat Kota Kyoto. Tapi di antara mereka, ada seseorang yang sama sekali tidak terpengaruh. Bahkan tidak merasa efek serbuk itu sedikit pun.

Tepat sekali. Orang itu adalah diriku.

Benar-benar sulit untuk dimengerti. Padahal aku berada di tengah-tengah serbuk yang membuat semua orang pingsan, tapi aku tidak merasakan perubahan berarti pada tubuhku. Semuanya masih normal.

“Sial! Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?!”

"Satou Iraya ...."

"Huh?!"

Seseorang tiba-tiba memanggil namaku. Aku menengok ke sekitar mencoba mencari sumber suara itu. Padahal seharusnya yang ada di sini adalah orang-orang yang tergeletak tak sadarkan diri. Dan dugaanku benar, tidak ada seorang pun yang sadar. Lalu siapa ...?

"Kita pernah bertemu sebelumnya, seharusnya kau sudah kenal dengan suara ini, kan?"

Ia berbicara lagi. Suara itu terus menggema dalam jarak yang secara aneh, sangat dekat. Seolah berada di dalam kepalaku. Aku mencoba mengingat lagi karena seingatku tidak pernah mendengar suara wanita seperti ini.

Tunggu.

Mungkin aku pernah.

Memang agak sulit diingat, tapi aku tidak akan pernah lupa soal suara wanita yang lembut tapi juga mengintimidasi ini. Suara wanita yang aku dengar di dalam mimpi dan juga yang ku selamatkan tempo hari.

“Suara ini, apa mungkin itu ... kau?”

"Cukup lama bagimu untuk menyadarinya, Satou Iraya. Tapi kau benar, aku kini ada di dalam kepalamu. Dulu aku pernah bilang, kan? Kehidupan membosankan itu akan segera berakhir dan ini adalah awal dari segalanya."

"Awal? Oi! Tunggu sebentar! Apa yang sebenarnya kau lakukan kepadaku?!"

Dan wanita itu tidak berbicara lagi. Sial! Sebenarnya apa yang akan terjadi padaku? Apa yang dia maksud ‘awal dari segalanya’? Argh! Memikirkannya membuat kepalaku pusing.

"Kiik! Kiik! Kiik!"

“Huh?”

Ketika masih dalam kebingungan, peristiwa aneh lainnya kembali terjadi tanpa henti. Kali ini gerombolan makhluk yang aku sendiri tidak tahu jenisnya turun dari langit bagaikan rintik hujan.

"M-Makhluk apa itu?"

Mereka bukan binatang buas. Aku yakin sekali. Karena tubuh mereka mirip seperti manusia kerdil dengan kulit kuning dan wajah yang jelek — mungkin aku bisa mendeskripsikannya sebagai goblin berkulit kuning.

Aku mundur selangkah. Jumlahnya jauh melebihi dari orang-orang yang pingsan di sini. Lalu dengan wajah puas dan cekikikan, mereka mulai menggotong orang-orang yang pingsan tersebut bersama-sama.

Tubuhku tidak bisa bergerak. Aku takut pada apa yang terjadi pada diriku jika mengganggu ‘aktivitas’ mereka, terlebih jumlah mereka sangat banyak. Anehnya-- atau mungkin beruntungnya, mereka tidak tertarik padaku.

"Kiik?"

Tapi ketakutan ku perlahan sirna, ketika beberapa dari mereka mulai mendekati Kudou dan Hira. Aku memang penakut dan tidak bisa menolong mereka semua, tapi jika mereka sudah menyentuh temanku, aku akan melawan balik!

“Jangan sentuh temanku!”

Dengan ragu, aku pun melancarkan tendangan yang telak mengenai dan membuat mereka terpental. Eh? Mereka tidak sekuat yang ku duga. Tubuhnya juga cukup ringan, sepertinya aku bisa melindungi Kudou dan Hira!

"Kiiik? Kiiik!"

“O-Oh ... ini tidak bagus.”

Kini aku menarik perhatian mereka. Tentu saja setelah menendang dan mengganggu pekerjaan mereka, aku akan di cap sebagai ancaman.

Tapi serangan yang mereka berikan terlihat seperti main-main. Dengan botol-botol kosong yang mereka bawa — sepertinya dari sana lah serbuknya berasal, mereka melemparkan botol kosong itu ke arah ku. Bahkan mereka tidak mendekat, juga lemparannya lemah dan lambat sehingga masih bisa dihindari dengan mudah.

I-Ini kesempatan!

Kemampuan bertarung mereka lebih lemah dari dugaanku, dan yang jadi masalah di sini hanyalah jumlah mereka yang mencapai ratusan. Tapi aku rasa sudah tidak ada jalan lain lagi, mau kabur pun percuma.

Semua goblin kuning ini menghentikan pekerjaan mereka dan mengepung ku dari berbagai arah. Bagi mereka, aku adalah ancaman yang harus dibereskan terlebih dahulu dan membuat ku tersenyum pahit.

“Haha ... ‘hari yang buruk’ itu juga ada batasnya kali,” gumamku miris.

Tapi meski mengeluh, aku tetap memasang kuda-kuda. Demi kedua temanku yang sedang tidak bisa apa-apa saat ini, aku yang harus berdiri melindungi mereka. Lalu setelah itu, mereka mulai menyerang secara bersamaan.

...

..

.

"Sial."

Kata-kata itu terselip dari mulutku. Sudah hampir dua puluh menit berlalu dan lumayan banyak yang aku kalahkan. Tapi semua itu seakan percuma, jika dilihat dari sudut pandang ku, bahkan berkurang saja tidak. Mereka masih terus mengerubungi bagai semut yang melihat permen loli.

"Hah ... hah .... B-Bagaimana ini?"

"Kiik. Kiik. Kiik."

Sejauh ini Kudou dan Hira masih aman di belakangku. Tapi aku tidak tahu sampai kapan bisa melindungi mereka. Napas ku sudah berat dan tubuhku juga semakin kelelahan. Serangan mereka memang cukup lemah, tapi jika terkena terus menerus tentu akan terasa juga.

Sesuatu. Aku butuh sesuatu. Sesuatu yang bisa membuatku melampaui mereka semua. Siapa pun! Jika memang ditakdirkan untuk lolos dari hal mustahil ini, tolong berikan aku sesuatu untuk mengalahkan mereka semua. Aku mohon!

Bzztt...

"Eh?"

Tiba-tiba perasaan aneh terjadi di dalam tubuhku. Rasanya seperti seluruh tubuh menjadi lebih ringan dan bertenaga, rasa lelah yang dari tadi terasa juga tiba-tiba hilang seperti sebelum melakukan pertarungan panjang ini.

Efek serbuk yang mereka lemparkan tadi? Tidak. Bukankah seharusnya itu membuat kepalaku pusing dan pingsan — seperti orang-orang di sini dan yang Hira katakan sebelum pingsan. Ini malah kebalikan dari efek serbuk tadi.

Yang aku rasakan dalam diriku saat ini adalah sensasi terbakar dan setruman di tubuhku. Dan ketika melihat ke arah lenganku, luka dan lecet yang sebelumnya memenuhi tangan dan lengan juga sudah benar-benar bersih sekarang.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Kiik?! Kiik! Kiik!"

Goblin kuning mulai menyerang lagi. Aku masih belum terlalu mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi sekarang kepercayaan diri tumbuh subur di dalam diriku dan merasa mampu mengalahkan mereka.

"Kalau begitu, mari kita coba! Rasakan ini!"

"KiiiaaAAkkhHh !!!"

Wow. Apa-apaan itu barusan?! Aku menendang para goblin kuning secara diagonal dari atas kanan ke bawah kiri. Lalu sekitar sepuluh monster terpental secara bersamaan seakan terkena tembakan meriam. Terkejut? Aku? Tentu saja! Mulutku tidak bisa berhenti menutup dari tadi karena saking terkejutnya.

Kembali ke kesadaranku, dan kemudian tersenyum. Aku memang harus masih menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku, tapi untuk sekarang ... Mari kita hajar para monster-monster jelek ini!

"Yosha! Aku tidak mengerti apa yang terjadi tapi maju sini kalian semua!"

"Tunggu."

"Eh?"

Tapi ketika sedang berada pada puncak semangat, tiba-tiba seseorang memanggil ku dari belakang. Suaranya bukan berasal dari wanita aneh itu karena suaranya kini lebih ringan, dingin, tapi lembut.

Lalu ketika menengok, seorang gadis dengan rambut pirang memakai hoodie hitam dan rok pendek hijau muncul di sana. Seseorang yang sama sekali tidak terbayangkan akan bertemu di tempat seperti ini.

Anak kecil? Tidak, seumuran denganku? Apa dia salah satu pejalan kaki yang sudah bangun? Kalau begitu, dia harus cepat pergi dari sini. Aku takut tidak bisa melindunginya saat bertarung nanti.

"Siapa kau?" ia bertanya.

"Eh? Siapa aku?"

Dan dia malah bertanya padaku. Bukankah itu tidak penting untuk saat ini?

Tapi aku terlambat. Mataku melebar ketika seekor goblin kuning melompat ke arah nya bersiap untuk menyerang gadis itu dari belakang. Jarak ku cukup jauh sehingga aku tidak sempat untuk melindunginya.

"Awas!" Dan hanya berteriak yang aku lakukan.

Sryiing... Sryiing... Sryiing... Craasshh...

“??!!”

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi mataku masih melebar — kali ini karena terkejut. Goblin kuning tiba-tiba terpotong menjadi beberapa bagian kecil tanpa sebab yang jelas. Gadis itu juga hanya melirik sedikit ke arahnya dan kembali fokus padaku.

Dan gadis itu tidak terkejut sama sekali dengan kejadian itu. Angin malam bertiup dalam hening, mengibarkan rambut pirang panjangnya lembut. Bisa terlihat juga darah monster menempel pada pipi dan rambutnya.

“Aku ulangi, siapa kau sebenarnya?”

Ia kembali bertanya. Tatapan mata yang lebih dingin dari es dan lebih tajam dari pisau, seakan memberitahu kalau aku harus waspada pada gadis ini.

Bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!