NovelToon NovelToon

Takut Menikah

Pertemuan Pertama

Di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Seorang laki-laki tidak berhenti mengumpat. Bagaimana tidak, semua barang-barangya baru saja di bawa lari orang tidak di kenal. Koper berisi pakaian, dompet dan juga ponselnya semua di ambil orang yang menipunya.

“Bre*ngsek, kalau aku bertemu dengan mereka aku pastikan mereka hanya akan tinggal nama”. Laki-laki itu meninju dan menendang udara melampiaskan kekesalannya. Bagaimana dia akan hidup di kota yang tidak ada satupun orang yang dia kenali.

Laki-laki itu baru saja pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan program pendidikannya, dia juga bekerja di sana mencari pengalaman sebanyak yang dia bisa. Sebenarnya dia merasa nyaman dengan pekerjaannya tapi saat Ayahnya mengatakan sudah tidak bisa lagi mengurus perusahaannya, maka dia pulang untuk mengambil alih perusahaan itu.

Dia melakukan liburan dadakan ini untuk merefresh otaknya, juga untuk menikmati waktu senggang terakhirnya karena setelah ini dia mungkin tidak akan punya banyak waktu untuk bersenang-senang.

Otak jeniusnya bekerja dengan cepat melihat seorang wanita berjalan di depannya sambil memainkan ponselnya.

“Permisi”, wanita itu menoleh padanya, melihat kiri dan kanan lalu menunjuk hidungnya, “saya”.

“Boleh aku pinjam ponselmu, barang-barangku sepertinya tidak ikut bersamaku. Aku mau menghubungi seseorang untuk mengirimkan barang-barangku”. Wanita itu mengamati pria asing di depannya yang hanya memakai kaos putih polos dengan jaket denim dan juga celana pendek.

‘Ganteng banget’

“Permisi, Nona”. Wanita itu tersadar saat pria asing itu melambaikan tangan di depan wajahnya.

“Iya, ini pakai aja”, ucapnya menyodorkan ponselnya. wanita itu membentuk sebuah senyuman samar di bibirnya.

“Sial”. Dia hanya hafal nomor seseorang yang mengurus semua hal untuknya, dia tidak menyimpan di otaknya nomor selain itu. tapi nomor yang dia hafal di luar kepala itu sedang tidak bisa di hubungi.

“Ada yang bisa aku bantu?” tanya wanita itu basa-basi. Pria asing di depannya menelisiknya dengan dari atas ke bawah.

‘Dia mungkin juga sedang ingin liburan, tapi apa yang bisa aku harapkan dari wanita seperti ini’

“Aku Karenina, panggil saja Nina”, wanita itu mengulurkan tangannya pada pria asing di depannya. Pria itu menatap tangan yang terulur lalu kembali menelisik wanita yang bernama Karenina itu dengan seksama. Dia terdengar menghela nafas sebelum menyambut uluran tangan itu.

“William, William Anggoro”, balasnya dengan menekan kata pada nama belakangnya.

“Will, apa boleh ku panggil seperti itu?” William menganggkat sebelah alisnya.

‘Hanya karena aku meminjam ponselnya, dia bisa seenaknya memanggilku sok akrab seperti itu’

“Baiklah, karena kau tidak menjawab berarti kau setuju”, Karenina kembali menarik kopernya. “Ayok”, William hanya bengong saja di tempatnya.

‘apa maksud wanita ini mengajakku’

“Sampai semua barang-barangmu datang, aku akan mengurusmu dengan baik”. Karenina memperlihatkan senyum manisnya pada laki-laki itu.

“Hahh….”

‘Dasar wanita gila’

“Tidak perlu, terima kasih” ucap William.

“Dengar Tuan Willian yang terhormat, anda bilang anda tidak membawa apapun bersama anda sekarang. Kita sebagai sesama manusia harus membantu seseorang yang sedang memerlukan bantuan bukan. Oleh sebab itu saya menawarkan anda bantuan saya, tapi kalau anda keberatan saya tidak masalah. Permisi”. Karenina melirik William dengan kesal.

‘Syukur-syukur ada yang mau nolongin, dasar sombong’

William melihat Karenina menarik kopernya dan meninggalkannya, dia menoleh kiri kanan, depan belakang memang tidak ada satupun yang dia kenal di tempat yang ramai itu.

“Sial”. William berlari mengejar Karenina, dia tidak punya pilihan lain karena hanya wanita itu yang bersedia menolongnya saat ini.

Karenina dan William sudah berada di dalam taksi yang akan membawa mereka ke tempat di mana Karenina menginap. Hanya ada musik dengan volume kecil yang menemani perjalanan mereka, baik Willian maupun Karenina tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

Taksi berhenti di sebuah hotel yang cukup besar yang letaknya tidak jauh dari objek wisata terkenal yang ada di kota itu. Karenina sengaja memilihnya untuk memudahkannya mengelilingi tampat itu hanya dengan berjalan kaki. William masih setia mengekorinya di belakang.

Karenina menghampiri meja resepsionis dan mempelihatkan ponselnya pada resepsionis itu. Setelah mendapatkan kunci kamarnya, dia pun bergegas menuju lantai di mana kamarnya berada.

William menarik ranselnya dari belakang membuatnya mundur beberapa langkah.

“Kenapa kuncinya hanya satu, kenapa kau tidak pesankan kamar untukku”. Karenina menyentak tangan Willian dari tas ransel kesayangannya, tas itu baru dia beli bulan lalu dengan uang dari hasil menahan lapar sekaligus diet dua bulan. Harganya hampir lima ratus ribu, tapi buatnya itu sudah cukup mahal.

“Siapa yang bilang aku akan pesankan kamar untuk kamu”, melihat tasnya mencari ada rusaknya atau tidak.

‘Untung ganteng, coba nggak sudah aku jual sama mbak-mbak yang liatin dia dari tadi’.

“Kamu sendirikan yang bilang mau bantu aku sampai barang-barangku datang, lagi pula aku akan membayar semuanya sepuluh kali lipat kalau perlu”. Karenina menarik tangan William menjauh dari orang-orang sudah memperhatikannya dari tadi. Bisa saja salah satu dari mereka akan bersedia membantu William dan rencananya akan gagal.

“Kita bicara di kamar ya”. Ucap Karenina masih menarik tangan William dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang satu menarik kopernya.

“Pinjamkan saja aku uangmu sepuluh juta, aku akan mengembalikannya kurang dari dua puluh empat jam”

“Apa???”

‘Dasar sinting, kalau aku memberikanmu uang kau pasti akan pergi. Tidak, aku tidak mau meminjamkan uangku padamu’

“Tuan William yang terhormat, aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang. Bagaimana kalau anda istirahat dulu, saya akan memesankan makanan untuk anda”

“Kau menyuruhku istirahat. Disini? Bersamamu?”

‘Dasar perempuan sinting, dia pikir aku mau tidur sekamar dengannya. Kau sangat jauh dari seleraku nona’

Karenina mengelus dadanya, dia bukan seorang penyabar seperti kebanyakan tokoh utama sebuah drama. Tapi demi hadiah ulang tahun yang sudah dia rencanakan, dia akan mencoba lebih bersabar menghadapi laki-laki arogan ini.

 “Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan, kau ingin menjebakku tidur denganmu lalu mengaku hamil anakku”.

“Haahh, hamil. Siapa yang mau hamil?”

“Itukan yang ada di otakmu. Kau sama sekali bukan seleraku. AKU WILLIAM ANGGORO TIDAK MUNGKIN TERGODA DENGAN PEREMPUAN SEPERTIMU”.

 ‘Sok tidak tertarik denganku, aku telanjang di depanmu juga pasti langsung kau terkam. Kau belum lihat saja aku berdandan dengan memakai lingeri yang sudah ku beli dari online shop. Hahahaa’

Sepertinya kata sabar memang harus di pakai untuk keadaan seperti ini.

William mengatur nafasnya yang terengah, hari ini mungkin adalah hari paling sial dalam hidupnya. Dia lalu melangkah hendak keluar dari kamar dan mencari orang lain yang bisa membantunya tapi perutnya tiba-tiba terasa mules. Sambil memegangi perutnya, dia kembali masuk mencari letak kamar mandi. Karenina tertawa tanpa suara melihatnya.

Karenina merebahkan dirinya di atas tempat tidur, sudah sejak tadi dia ingin meluruskan badannya. Dia memiringkan badannya dan menekan tombol yang tersambung ke room service dan memesan makanan dan minuman. Dia mau mencoba mengambil hati laki-laki arogan dan sombong itu. Karenina melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat, lalu tergelak mengingat bagaimana kesalnya laki-laki itu padanya tadi.

Seratus ribu tiga lembar

Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, Karenina langsung bangkit dari berbaringnya dan masuk ke kamar mandi.

‘Dasar perempuan sinting’ tidak berhentinya Willian memaki Karenina, bahkan saat di kamar mandi dia tidak berhenti memakin wanita itu. Juga tidak lupa sumpah serapah untuk orang-orang yang sudah menipunya sehingga membuatnya terlihat seperti laki-laki miskiin yang sangat membutuhkan pertolongan wanita itu.

 Room service datang bersamaan Karenina yang keluar dari kamar mandi. Wanita itu mengambil uang di dompetnya dan memberikannya kepada petugas room service yang membawakan pesanannya.

“Kamu pasti laparkan, makan ya. Habis itu kita cari pakaian buat kamu”. Will spontan melihat baju yang dia pakai, benar juga dia sudah memakai baju itu dari pagi. Hatinya yang keras mulai luluh, egonya yang setinggi langit mulai di turunkan. Wanita yang sejak tadi dia maki ternyata perhatian padanya.

William menghela nafas lalu mulai memakan makanan yang di pesan Karenina.

‘Dia mau makan, kayaknya sabarku ada gunanya juga hehehe’.

Mereka makan dalam diam sambil sesekali saling melirik.

Seperti yang di katakan Karenina, mereka menuju sebuah tempat yang sudah lebih dulu di search Karenina. Sebuah pasar tempat di mana dia bisa mendapatkan pakaian dengan harga murah.

“Seriously, kamu akan membelikan ku pakaian di sini?” William tercengang saat Karenina menarik tangannya dan singgah di salah satu toko pakaian pinggir jalan di pasar itu.

“Cuma sementara kok, sampai barang-barang kamu datang?” bujuk Karenina masih dengan sabar nya.

‘seratus ribu tiga lembar, apa tidak salah harga’ William terpaksa memilih beberapa lembar baju.

‘Bertahanlah Will, hanya untuk hari ini’

Setelah selesai memilih baju dan celana, Karenina membawanya mencari toko pakaian dalam. William kembali dengan pasrah memilih.

Setelah mendapatkan semua barang-barang yang William butuhkan, mereka lalu kembali ke hotel.

“Kamu tinggal di sini aja, kamu tidur di tempat tidur itu biar aku yang tidur disofa”, Karenina masih berusaha membujuk William, dia memakai kata-kata yang halus dan lembut.

‘Sepertinya memang harus sok manis untuk meluluhkanya’

William tidak menjawabnya, dia mengambil beberapa barang yang dia beli tadi dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.

“Eh, kamu mau pakai bajunya langsung?”

“Memangnya kenapa, aku sudah gerah dari tadi”. Karenina mengambil semua barang yang ada di tangan William, laki-laki itu terperanjak melihat semua barang yang dia pegang sudah ada di tangan Kareniana, termasuk celana boxer yang tadi dia beli.

“Harus di cuci dulu, inikan kotor. Biar aku panggilkan petugas laudrynya, nggak lama kok”. Karenina kembali menekan tombol yang tersambung dengan petugas laudry. Tidak lama berselang, petugas datang dan Karenina memberikan semua pakaian yang tadi baru di belinya pada petugas itu.

“Selesai dalam satu jam bisa nggak?”. Tanyanya pada petugas yang datang.

“Paling cepat dua jam Nona, tapi harganya juga dua kali lipat”.

“Ngga apa-apa”. Petugas itu lalu pergi setelah menyerahkan bukti tanda terima pada Karenina.

‘Dia teliti juga, huh hampir saja aku memakai pakaian itu sebelum di cuci’.

Akhirnya Karenina mandi duluan, dia juga sudah gerah sejak tadi. Dia membawa baju gantinya sekalian ke dalam kamar mandi.

Setelah menghabiskan waktu lebih dari setengah jam di dalam kamar mandi, Karenina sudah keluar dengan tampilan yang lebih fresh juga ada handuk kecil yang melilit di kepalanya. William menatapnya dengan tatapan menilai. Karenina memakai dress di atas lutut tanpa lengan dengan bagian depan memperlihatkan sedikit belahan da*danya juga bagian belakang dressnya memamerkan sebagian punggungnya. Sangat kontras dengan penampilannya tadi yang memakai kaos kebesaran dan celana training dan juga rambut yang di gulung tinggi.

Karenina mengeluarkan peralatan make upnya lalu mulai memoles wajahnya, suatu hal yang sangat jarang dia lakukan di kesehariannya.

‘Dia lumayan juga ternyata’

Karenia sekali lagi melihat pantulan dirinya di cermin lalu agak menjauh agar bisa melihat dirinya sampai ke bawah, salah satu sudut bibirnya tertarik. Dia terlihat puas dengan penampilannya dan semua tingkahnya itu tidak luput dari pandangan William.

“Kita akan makan malam di luar, ada restoran di dekat pantai. Aku lihat di internet kalau viewnya sangat cantik” katanya dengan riang.

“Apa kau selalu seperti ini pada orang asing, atau memang pekerjaan mu seperti ini?”

‘Sabar’

“Tidak juga, kau yang pertama. Mari menjadi partner liburan yang baik, karena setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi”. William menatapnya dengan pandangan tidak terbaca.

“Apa menjadi partner di atas ranjang juga”. Glek, Karenina menelan salivanya dengan kasar. Kenapa dia jadi merinding, bulu kuduknya meremang mendengar ucapan William.

Pintu hotel di ketuk, Karenina mengambil dompetnya dan berjalan menuju pintu.

“Mandilah, aku akan menunggumu” katanya.

Sambil menunggu William mandi, Karenina membuka chat groupnya. Group kantor itu selalu ramai dan seru, mereka membahas banyak hal di sana. Karenina ikut meramaikan dan group langsung heboh saat pesan Karenina masuk. Saking asyiknya membalas chat sampai-sampai dia tidak sadar William sudah berdiri di depannya.

“Kau benar-benar menjatuhkan harga diriku dengan membelikan baju murah ini untukku”.

‘Hehh… mulai lagi’

“Orang-orang pasti tidak akan memperhatikan harga bajumu, mereka hanya akan memperhatikan wajah tampanmu saja” Begitu, puji saja dia.

“Ayok”, Karenina menarik tangannya keluar kamar hotel, laki-laki itu menurut dan tidak lagi banyak protes. Sekali lagi dia memperhatikan wanita yang jalan di depan dengan menarik tangannya.

Rambut ikalnya yang tergerai menutupi punggung polosnya, tapi bahu dan tangannya terekspos sempurna.

Pemandangan malam yang sangat cantik dengan lampu warna warni menghiasi pohon-pohon. Mereka mengambil tempat duduk dengan pemandangan yang langsung mengarah ke pantai. Seorang pelayan datang dan menyerahkan buku menu.

William membaca menu yang ada di buku menu itu. Dia menyebutkan beberapa jenis makanan dan minuman.

“Emmm… aku pesan jus apel saja, nggak pake gula tapi sus*nya di banyakin ya”.

William memicingkan matanya “Kenapa tidak pesan makanan?” tanyanya.

“Kau sudah pesan banyak, aku makan sisamu saja”.

‘Hehehee, aku mau membuatmu merasa tidak enak padaku. Padahal aku memang tidak mau makan malam karena nanti semua baju yang sudah kusiapkan untuk liburan jadi tidak muat ’ tertawa puas dalam hatinya melihat wajah tidak nyaman yang di tampilkan William.

“Setelah aku berhasil menghubungi seseorag, aku akan membayarmu sepuluh kali lipat dari yang sudah kau keluarkan untukku”.

“Tidak perlu, anggap saja ucapan terima kasih karena kau aku jadi tidak kesepian”.

“Aku tidak berniat menemanimu liburan, kau tahu itu kan”.

‘Sabar’

“Setelah barang-barangku datang, aku akan menikmati liburanku sendiri”. Karenina mengerucutkan bibirnya. Sepertinya dia tidak punya cukup pesona untuk membuat William tetap bersamanya sampai liburannya berakhir.

Pesanan mereka datang, Karenina mengambil jus apelnya dan berjalan duduk di pinggir pantai menikmati hembusan angin yang menerpa kulit nya yang tidak tertutup.

‘Sepertinya liburan sendiri juga menarik’ Dia berbalik melihat ke arah William, laki-laki itu juga ternyata sedang melihatnya dari jauh.

‘Tapi aku akan tetap berusaha mendapatkan kado spesialku. Setelahnya terserah dia mau pergi atau tidak. Toh setelah ini kami juga tidak akan pernah bertemu lagi’

Pundaknya tiba-tiba terasa hangat, bau maskulin langsung memenuhi indra penciumannya.

“Aku tidak mau mengurusmu kalau kau sakit disini”. William sudah ikut duduk di sampingnya, jaket denimnya sudah berpindah menutupi punggung terbuka Karenina.

“Will, aku akan merayakan ulang tahunku nanti malam”. William mengernyit.

“Apa hubungannya denganku”.

Karenina menatap tepat pada iris coklat terang milik William. “Kau mau memberikan kado untukku?” kening laki-laki itu semakin mengkerut. Karenina jelas tahu dia tidak punya apa-apa sekarang, lalu apa yang wanita itu inginkan.

“Memangnya kau mau kado apa?”

“Aku akan memberitahukannya nanti malam, tepat jam dua belas malam”

 

Kado spesial

Mereka duduk cukup lama di pinggir pantai walaupun tidak banyak yang mereka bicarakan.

“Balik yuk”, ajak Karenina. William mengikuti Karenina dari belakang, dia penasaran kado apa yang wanita itu akan minta darinya nanti. Hanya berjalan kaki sekitar sepuluh menit dan mereka lalu sampai di hotel tempat mereka menginap.

Karenina mengatakan sesuatu pada petugas hotel yang dia temui lalu mengeluarkan uang ratusan ribu tiga lembar dan memberikan pada petugas itu, sementara William sudah jalan memasuki lift lebih dulu dan tidak memperdulikan Karenina. Wanita itu langsung masuk ke dalam lift yang terbuka, dia tadi sudah melihat William masuk di lift yang satunya.

Benar saja, Willian sudah berbaring di atas tempat tidur sambil menyalakan televisi mengganti-ganti saluran untuk mengusir rasa bosannya.

Karenina berjalan menuju kamar mandi untuk membersihlan dirinya, dia sempat melirik William sebentar tapi laki-laki itu kembali ke mode kesalnya.

‘Dia pasti mulai bosan tanpa ponselnya’

Terdengar pintu di ketuk, Will melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup. Dia lalu membuka pintu itu, ada petugas hotel yang membawakan kotak kecil yang berisi kue tar sederhana. William mengambilnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada petugas hotel.

“Kuenya sudah datang ya”, Karenina melihat kotak kue yang ada di atas nakas di samping tempat tidur. Dia membuka lemari tempat baju-bajunya sudah tergantung rapi lalu mengambil sesuatu dari sana dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar mandi.

William mencari di mana dia bisa melihat jam, dia melihat ponsel Karenina di atas nakas dan menghidupkannya lalu melihat sudah pukul sebelas empat puluh limat menit.

‘Kado apa yang wanita sinting itu akan minta dariku, aku sangat penasaran di buatnya’

Pintu kamar mandi terbuka, Karenina keluar dari sana meggunakan jubah mandi yang di sediakan hotel. Rambutanya masih terurai dan makeupnya juga masih menempel di wajahnya.

“Kenapa kau tidak pakai baju?” Karenina tidak menjawab malah mengambil kotak kue dan membukanya. Dia memasang lilin yang berbentuk angka dua dan lima karena malam ini dia akan genap berusia dua puluh lima tahun.

Alarm ponselnya berbunyi, jam tepat menunjuk ke angka dua belas. Karenina menyalakan lilin angka menggunakan korek api yang ada sudah dia pinjam tadi dari petugas hotel.

“Kamu tahu, setelah orang tuaku meninggal ini pertama kali aku merayakan ulang tahunku lagi. Dan yang lebih istimewanya karena ada seseorang yang menemaniku malam ini”. William bisa melihat binar bahagia dari pancaran mata Karenina. Dia melirik kue ulang tahun yang sangat sederhana itu, entah bagaimana rasanya.

Karenina mengatupkan tangan lalu memejamkan matanya, semenit kemudian dia membuka mata dan meniup lilinnya. Dia bertepuk tangan dengan riang sekali, seperti anak kecil yang mendapatkan kado ulang tahuN yang dia ingInkan.

‘Miris sekali, dia sendiri yang menyiapkan semuanya lalu dia juga senang sendiri. Selain sinting, dia ternyata aneh juga’.

“Sekarang aku mau minta kado ulang tahunku darimu”. William mulai merasa kalau apa yang akan di minta wanita itu hanyalah sebuh hal gila.

“Jangan anggap aku aneh ya, juga jangan anggap aku murahan. Aku mau memintanya darimu karena setelah ini kita tidak akan pernah bertemu atau berhubungan lagi. Kita akan saling melupakan, aku janji”.

Karenina mengatur nafasnya dan mengumpulkan keberaniannya.

“Jadilah teman tidurku malam ini”.

“APAAAA”. William teriak dan langsung bangkit dari tempat tidur. Karenina mengikuti William bangkit dari tempat tidur.

“Jangan salah faham, aku hanya ingin mencoba rasanya”. Katanya setengah bergumam dengan kepala yang menunduk. Malu juga sebenarnya.

“Aku sudah menduganya dari awal, kau sengaja menolongku karena kau punya niat licik iyakan!” Karenina diam, karena apa yang William katakan adalah kebenarannya.

“Tapi baiklah, karena kau sendiri yang meminta maka aku akan memberikan kado ulang tahun terindah yang tidak akan kau lupakan seumur hidupmu”. Senyum seringai terbit di bibirnya. Dia akan mengerjai wanita itu habis-habisan.

‘Ternyata kau hanya seorang wanita pencari kesenangan, jangan harap aku memberikannya untukmu’

William menyingkirkan kue ulang tahun yang ada di atas tempat tidur lalu dengan kasar mendorong Karenina hingga dia terjeremba di atas kasur. William langsung menindihnya dan melu*mat bibir Karenina dengan kasar.

‘Kenapa bibirnya sangat lembut dan manis. Aku yakin dia pasti seorang pemain profesional, tapi kenapa dia sangat kaku’  

Semakin lama dia menikmati bibir ranum itu semakin halus dan lembut caranya mencumbunya. Karenina yang awalnya ingin menyerah dengan kadonya karena perlakuan kasar yang dia terima dari William mulai luluh dan menikmati permainan William di bibirnya.

Bibir William mulai turun menjelajahi lekukan lehernya. Karenina meringis ketika William menghis*ap dan meninggalkan tanda merah di sana. Dia membuka jubah mandi yang masih di pakai Karenina. Sepertinya dia menelan ludahnya sendiri dengan mengatakan tidak akan tergoda dengan Karenina.

Karenina mulai mengeluarkan suara desahannya ketika tangan William masuk ke dalam lingerinya dan memegang sesuatu di sana membuat gairah William naik sampai ke ubun-ubunnya. Dia merobek lingeri yang Karenina pakai. Karenina terlonjak, dia melihat lingeri yang baru pertama kali dia pakai sudah tergorok di lantai tak berbentuk.

“Huaaaa…. Kenapa kau merobeknya, aku membelinya mahal dan kau seenaknya merobeknya seperti itu”. karenina memukul-mukul dada William membuat laki-laki itu semakin tidak bisa lagi menahan diri.

“Diamlah, kau mau kado ulang tahunmu kan. Aku akan membelikan yang seperti itu sebanyak yang kau mau”.

“Ak… hmm” Karenina tidak bisa melanjutakan kalimatnya, bibirnya sudah lebih dulu di bungkam William dengan ******an lembut. Dia terbuai lagi dan melupakan kekesalannya.

Dengan tidak sabaran William membuka penutup di dada Karenina dan mer*emas dua benda kenyal yang melengket di dada putih bersih Karenina. Setelah puas dengan tangannya, dia memindahkan bibirnya dari bibir Karenina ke dadanya, dia mencium, menji*lat dan juga melum*atnya. Tidak lupa dengan tanda merah yang dia tinggalkan di hampir semua permukaan dada putih itu.

‘****, kenapa aku malah tidak bisa berhenti, tadinya aku hanya mau memberinya pelajaran. Tubuhnya kenapa sangat indah dan nik*mat. Brengk*sek, aku tidak bisa berhenti’

‘Apa seperti ini rasanya, orang-orang mengatakan kalau rasanya sangat nik*mat. Dan ternyata rasanya memang…’ Karenina menutup matanya dengan kedua tanganya ketika William membuka bajunya dan memperlihatkan otot-otot perutnya yang tercetak sempurna.

“Kenapa, kau baru pertama kali melihat yang seperti ini, apa kau hanya selalu melihat yang buncit”. William melepaskan tangan Karenina dan kembali ******* bibir ranumnya. William tidak bisa lagi menahan dirinya, ga*rah sudah menguasainya dia melepaskan satu-satunya benda yang masih menutup bagian inti Karenina. Wanita itu menahan tangan William.

“Kenapa, bukankah kau menginginkannya? Lagi pula ini pasti bukan pertama bagimu, kenapa kau harus malu”. Karenina perlahan pelepaskan tangan William, biarkanlah William membuktikan sendiri kalau ini adalah yang pertama untuknya.

‘****, kenapa miliknya sangat indah’ setelahnya William membuka celananya sendiri dan sekarang mereka berdua sudah benar-benar polos.

Lagi-lagi Karenina menutup matanya, “Jangan tutup matamu sayang, lihatlah bagaimana dia akan memuaskanmu”. Karenina masih menutup matanya, William menundukkan kepalanya dan menjila*ti kelopak mata itu. Senyum seringai lalu terbit di bibirnya ketika kelopak mata itu terbuka.

“Buka matamu dan lihat aku, kau tidak akan melupakan hari ini seumur hidupmu”. William melakukan penyatuannya, lalu matanya membulat menatap lekat wanita di bawahnya yang kembali memejamkan matanya sambil meremat seprei dengan kuat.

“Shit, kau masih perawan?”.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!