NovelToon NovelToon

PULAU BAYANGAN

Damar Abdi Kusuma

Cerita ini hanyalah fiksi belaka, hanya imajinasi Author,

Jadi, mohon jangan kaitkan cerita ini dengan tempat, agama, suku, ras ataupun adat tertentu.

Ini semua murni hanya imajinasi saja.

Apabila ada kesamaan nama tempat atau nama lainnya, itu hanya lah kebetulan saja.

Selamat membaca.....

*****

Damar Abdi kusuma, seorang laki laki berwajah tampan, berbadan gagah tegap keturunan ningrat yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di luar negeri, sebagai anak lelaki satu satunya, sang ibu yang bernama Mayang kusuma sangat berharap anaknya dapat meneruskan usaha hotel milik ayahnya, Prabu kusuma.

Semenjak sang ayah meninggal setahun yang lalu, hotel di kelola oleh Mayang sang ibu. Tapi kini setelah Damar menyelesaikan studinya dan pulang ke kampung halaman, tentu saja Mayang berharap putra tampannya itu segera mengambil alih kepemimpinan hotel dari tangannya, untuk segera di kelola oleh Damar.

"Damar, kapan kamu siap menggantikan ibu mengurus hotel ? Ibu sudah tua dan rasanya sudah lelah harus mengurus urusan hotel setiap hari." Ucap Mayang sang ibu saat mereka sedang sarapan pagi itu.

"Aku akan ikut ibu ke hotel pagi ini, dan mempersiapkan semuanya, ibu tenang saja, setelah ini  biar aku yang bekerja, dan ibu beristirahat saja di rumah mengurus tanaman tanaman ibu di kebun." Jawab Damar yang langsung di sambut dengan senyuman bangga Mayang.

"Apa kamu sudah bertemu dengan Ajeng, nak?" Tanya Mayang melirik ke arah Damar yang seakan malas bila ibunya mulai membahas masalah Ajeng.

Ajeng adalah wanita yang juga keturunan ningrat berdarah biru, yang telah di jodohkan dengan Damar semenjak mereka kecil oleh orang tua mereka, sebenarnya kalau harus di tanya bagaimana perasaannya terhadap Ajeng, jujur dia hanya menganggap wanita hitam manis yang umurnya dua tahun lebih muda darinya itu tak lebih hanya sebatas sebagai adik perempuan saja.

Namun karena kedua belah pihak orang tua mereka sangat berharap banyak dengan perjodohan anak anak mereka, Damar hanya mengikuti alurnya saja.

Selama empat tahun menuntut ilmu di negeri orang, Damar tak pernah sekalipun menghubungi Ajeng terlebih dahulu, selalu Ajeng yang menghubunginya, bahkan sempat beberapa kali Ajeng menyusulnya ke negara tempat dia kuliah saat itu.

"Belum sempat Bu, nanti kalau ada waktu Damar sekalian saja main ke rumahnya." raut wajah Damar terlihat kurang bersemangat kalau membahas tentang Ajeng, karena dapat di pastikan ujung ujungnya pasti akan membahas tentang kapan pernikahan mereka akan di laksanakan, dan masih banyak lagi, sementara dia sendiri masih belum yakin dengan perasaannya terhadap Ajeng.

Damar tak ingin terburu buru memutuskan, karena baginya, pernikahan sebuah hal yang penting dan hanya boleh terjadi sekali untuk seumur hidup, dia tak ingin sekedar menjalankan pernikahan karena perjodohan dan keterpaksaan saja, sementara tak ada cinta dalam rumah tangganya kelak.

***

Menjelang siang di ruang kerja Mayang,

"Mas, Ibu, bagaimana kabarnya ?" Tiba tiba Ajeng keluar dari balik pintu ruang kerja Mayang yang sebentar lagi menjadi ruang kerja Damar.

"Hai, Sayang... Kami baik baik saja, bagaimana kabar orang tua mu ?" Sambut Mayang memberikan senyum termanis untuk calon menantu kesayangannya.

Damar yang sedang memeriksa beberapa dokumen di tangannya hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus dengan tumpukan kertas di hadapannya, tanpa tertarik sedikitpun dengan kedatangan Ajeng.

Damar yakin, pasti Mayang yang sudah sengaja memanggil Ajeng untuk datang ke hotel dan menemuinya.

"Ayah dan Bunda kabarnya baik, Bu." Jawab Ajeng yang sesekali mencuri curi pandang pada sosok lelaki tampan yang selama ini di rindukannya itu.

"Mas, sibuk amat !" Ajeng memberanikan diri menyapa terlebih dahulu calon suaminya yang selalu bersikap dingin padanya itu.

"Hmm, kebetulan banyak dokumen yang harus di periksa dan di pelajari." Jawab Damar datar.

"Sudahlah, tinggalkan saja dulu dokumen dokumen itu, tak akan ada habisnya bila mengurusi pekerjaan, sana ajak Ajeng makan siang, biar kalian bisa saling melepas rindu." Ucap Mayang sedikit menggoda.

"Baik, Bu." Damar menutup dan membereskan kembali kertas kertas yang sedang di bacanya, lalu merapikannya lagi di meja.

Damar memang tak pernah menolak atau membantah apa yang ibunya perintahkan padanya, dia sangat menyayangi ibunya lebih dari apapun, terlebih setelah ayahnya tiada, hanya Mayang harta berharga satu satunya yang dia punya.

***

Di sebuah restoran,

"Mas, kenapa tidak mengabari ku kalau kamu sudah pulang? Andai ibu tak memberi tahu ku, aku tak akan tau kalau kamu sudah di sini." Protes Ajeng.

"Intinya kamu tau kan, kalau aku sudah pulang. Tak penting siapa yang mengabari mu, mau itu aku atau ibu, sama saja." Ucap Damar dingin.

"Kenapa sih Mas, seolah olah aku itu gak penting banget buat kamu, aku ngerasa selama ini cuma aku yang menginginkan hubungan ini." Lirih Ajeng.

"Bukan cuma kamu, orang tua mu, Ibu dan almarhum Bapak ku juga menginginkannya," Ujar Damar santai.

"Lalu, kamu bagaimana?" Ajeng menatap mata Damar dalam.

"Bukankah selama ini aku selalu mengikuti keinginan kalian ?"Damar mengangkat kedua bahunya, acuh.

"Hanya mengikuti keinginan orang tua saja ? Sedikitpun tidak ada keinginan dari diri mu sendiri ?" Cecar Ajeng, dengan mata yang hampir berkaca kaca.

"Apa tidak ada pembahasan yang lain, selain selain membahas tentang perasaan? Atau kamu sengaja hanya ingin berdebat dengan ku?" Damar menjatuhkan sendok dan garpu di tangannya ke atas piring dengan kasar, mood nya tiba tiba saja berubah menjadi jelek saat ini.

"Maaf, aku hanya merasa selama ini kamu tak pernah punya perasaan apa apa padaku, karena rasanya selalu hanya aku yang berkata aku rindu, aku sayang, tak pernah sekali pun aku mendengar kata kata seperti itu dari mulut mu untukku." Ucap Ajeng pelan, wajahnya tertunduk dan tetesan bening dari matanya pun perlahan berjatuhan.

"Ada ataupun tidak ada perasaan cinta, rindu, dan sayang untuk mu, bukankah hasil akhirnya tetap sama saja,? Aku menikah dengan mu. Jadi, seperti apa perasaan ku pada mu, itu tak penting, kan?" Damar melengos membuang muka,

Damar malas melihat Ajeng yang saat ini sedang menangisi hal yang menurutnya tak penting itu.

Damar memang sangat benci dengan perempuan cengeng. Baginya, perempuan yang kuat dan tegar lebih terlihat keren dan menarik di matanya.

"Apa kamu masih akan terus menangis disini ?" Ketus Damar, seketika Ajeng langsung menyeka air matanya, dia tau Damar paling tak suka dengan air mata, tangisannya tak akan membuat laki laki pujaan hatinya itu luluh.

Percayalah,  Damar tak seperti laki laki lain yang akan mengelus, mendekap dan mengusap mata kekasihnya dengan lembut  lalu memeluk untuk menenangkannya, sebaliknya... Damar tidak akan peduli sedikitpun.

Pernah Damar meninggalkan Ajeng pulang dan membiarkan dia sendirian di sebuah Mall, hanya karena Ajeng yang menangis tak berhenti karena Damar yang menolak di ajak nonton olehnya, dia pikir jika dirinya menangis di tempat ramai seperti itu Damar akan luluh dan menuruti permintaannya, tapi prediksinya sungguh salah besar, dia justru di permalukan oleh sikapnya sendiri, karena Damar memilih pergi tak menghiraukan dirinya yang terisak sendirian saat itu.

Tapi, kata kata Damar barusan yang seolah membenarkan kalau dia memang benar tak punya perasaan apa apa terhadap dirinya itu, sungguh sangat melukai hati bahkan harga diri Ajeng, hingga wanita itu sampai menangis.

Ajeng sampai berpikir, apa sebenarnya kekurangan dia, sampai Damar seolah tak tertarik padanya, wajahnya lumayan cantik, semua orang mengakuinya, bahkan banyak laki laki yang mencoba mendekati dan menyatakan cinta padanya semenjak dari jaman sekolah dulu sampai sekarang, meski tentu saja mereka semua di tolak mentah mentah oleh Ajeng, karena hati dan dan perasaannya sudah di penuhi oleh Damar, cinta pertamanya semenjak dia kecil.

Soal cinta dan kasih sayang, Ajeng berani di adu dengan wanita lain, selama ini dia selalu mencurahkan semua perasaannya untuk Damar, tak peduli walaupun Damar selalu memperlakukan nya dengan dingin dan acuh tak acuh padanya.

Ajeng yakin suatu saat nanti, Damar akan menyadari betapa besar cintanya, dan berharap Damar akan membalas rasa cintanya itu.

Hai,,, kakak kakak, ketemu lagi di cerita baru nih,

di like yuk kak, tinggalin jejak di komentar juga boleh,,,

Semoga kakak semua sehat dan sukses selalu...

Wasiat Bapak

Malam itu Damar memasuki sebuah ruangan tempat penyimpanan barang barang milik Bapaknya, entah mengapa saat ini dia sangat merindukan sosok laki laki yang selalu menjadi panutannya itu.

Prabu Kusuma, seorang pria yang berasal dari sebuah pulau terpencil yang merantau ke pulau Jawa untuk mengadu nasib, sampai Tuhan memberinya kesuksesan dengan menjadi seorang pengusaha yang mempunyai beberapa hotel di tempat perantauan nya sampai dia menikah dengan Mayang wanita Jogja berdarah biru, dan di karuniai seorang putra yang di beri nama Damar Abdi Kusuma.

Prabu di kenal sebagai sosok lelaki yang sangat mencintai dan menyayangi istri dan anaknya, seolah hidupnya hanya di persembahkan hanya untuk dua orang yang selalu mengisi hari harinya itu.

Tentu saja, hanya anak dan istrinya yang mengisi hari hari Prabu, sebagai seorang perantauan dia hanya hidup sendiri sebelumnya, jauh dari sanak keluarga.

Damar sangat dekat sekali dengan Prabu, bapaknya itu  yang selalu memanjakan dan menjadi teman berbagi cerita yang asik untuk Damar.

Sehingga setahun yang lalu saaat Prabu meninggal mendadak karena serangan jantung dan Damar tak bisa berada berada di saat saat terakhirnya karena dia masih belajar di luar negeri, Damar sungguh sangat terpukul dan seolah kehilangan separuh jiwanya.

Damar membuka satu persatu laci meja kerja bapaknya, matanya tertuju pada sebuah kotak kayu dengan ukiran bermotif unik dan pahatan yang terlihat sangat rapi.

Kotak itu sepetinya belum pernah Damar lihat sebelumnya.

Di ambilnya kotak kayu yang berada di dalam laci tersebut, lalu perlahan Damar membukanya, nampak hanya berisi sebuah amplop surat berwarna putih biasa, berukuran sedang sekitar 110x230mm  di dalam kotak itu.

Tertulis jelas di muka amplop itu *Teruntuk anak ku tercinta, Damar Abdi Kusuma* itu tulisan tangan Prabu, Damar sangat hafal dengan itu.

Dengan tangan yang gemetar, Damar meraih amplop putih itu dan di bukanya secara perlahan, Mtanya hampir tak dapat membaca isi tulisan di kertas yang kini di tangannya karena matanya mulai berkaca kaca.

*Damar anakku tercinta, maaf bila Bapak saat ini tak bisa menemani hari hari mu lagi, namun percayalah, dimanapun Bapak berada kasih sayang Bapak selalu menyertaimu dan juga Ibu.

Damar, mungkin Bapak belum pernah bercerita sebelumnya kalau Bapak mempunyai sebuah penginapan sederhana di kampung halaman Bapak yaitu di desa Bayangan. Bapak ingin kamu mengelolanya, jangan sampai jatuh ke tangan orang yang bukan dari keluarga kita, datanglah kesana dan temui paman mu yang bernama Jaya Kusuma, dia orang yang Bapak percaya untuk mengurus penginapan itu.

Penginapan lembayung namanya, surat surat hak kepemilikan atas penginapan itu sudah Bapak alihkan menjadi atas nama mu.*

Begitulah kira kira isi surat yang di tulis Prabu yang di tujukan untuk Damar, anaknya.

Damar segera menemui Ibunya yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka, tak lupa Damar juga membawa serta surat yang di tulis oleh Bapaknya itu.

"Ibu, aku menemukan ini di laci meja kerja Bapak." Damar menyodorkan surat itu ke hadapan Mayang, sang ibu.

Mayang membuka dan membaca surat yang di tulis suaminya itu, lalu menatap sendu wajah Damar, anaknya yang wajahnya sangat mirip dengan almarhum suaminya itu.

"Apa ibu tau tentang penginapanLembayung itu ?" Tanya Damar penasaran.

"Ibu hanya pernah mendengar sekilas, waktu itu ibu bertanya pada Bapak mu tentang uang yang sering di kirim oleh adiknya, paman mu Jaya Kusuma tiap bulannya dengan jumlah yang banyak, Bapak hanya bilang kalau itu dari pendapatan penginapannya di kampung halamannya yang di kelola pamanmu. Tapi Bapak seperti tak ingin  bercerita terlalu jauh tentang penginapan itu, dan ibu pun tak mempertanyakannya lagi. Bahkan sampai sekarang paman mu masih mengirimkan uang setiap bulannya, tapi tak pernah ibu pakai." Jelas Mayang panjang lebar.

"Ibu pernah kesana?" Sambung Damar

"Pernah dulu, saat kamu masih kecil, tapi ibu tak tau kalau itu milik Bapak mu, Apa kamu ingin kesana, Nak?" Tanya Mayang menatap wajah anaknya.

"Ya, Bu. Ini permintaan terakhir Bapak, aku ingin kesana dan melihat penginapan itu, lagi pula aku ingin tau seperti apa kampung halaman Bapak disana, saat Bapak dan ibu dulu mengajak ku kesana aku masih sangat terlalu kecil, jadi tak bisa mengingat apapun tentang desa itu." Jawab Damar penuh keyakinan.

"Baiklah, pergilah Nak, ibu akan selalu mendo'akan dan mendukung apapun keputusan mu." Ucap Mayang ikhlas.

"Terima kasih bu, mungkin lusa aku akan berangkat kesana, Ibu tidak apa apa kan, kalau aku tinggal sementara ?" Ada sedikit ke khawatiran di hati Damar, karena dirinya harus meninggalkan kembali ibunya seorang diri, dia tak mungkin mengajak serta ibunya kesana, karena itu perjalanan yang sangat jauh dan akan sangat melelahkan bagi tubuh tua ibunya.

"Apa tidak sebaiknya kamu mengajak Ajeng ?" Tanya Mayang.

"Bu... Aku kesana untuk bekerja, bukan berlibur, biarkan aku fokus menjalankan amanat Bapak." Tolak Damar.

"Baiklah, kalau itu maumu. Tapi berapa lama kamu disana ?" Tanya Mayang lagi.

"Ya,, sekitar satu sampai dua minggu saja paling lama, hanya survey keadaan dulu." Ucap Damar sambil menyantap lahap makan malamnya.

***

Waktu keberangkatan Damar ke Desa Bayangan tiba, berbekal alamat yang di tulis Bapaknya dan google map, Damar nekat berangkat sendiri.

Setelah turun dari pesawat, dia masih harus melalui perjalanan darat sekitar kurang lebih tiga jam lamanya untuk sampai ke Desa Bayangan dengan menggunakan angkutan umum berupa bis kecil,

Ternyata, setelah turun dari angkutan itu, dia masih saja belum sampai juga di tempat yang dia tuju.

Seorang wanita cantik dengan celana jins sobek, jaket dan ransel besar betengger di punggungnya menarik perhatian mata Damar, sepertinya tadi wanita itu juga turun dari bis yang sama seperti yang dia naiki barusan.

Wanita itu terlihat seperti sedang menatap selembar kertas yang ada di tangannya, Kertas yang berisi gambar sebuah penginapan di tepi pantai.

Tapi tunggu, nama penginapan di gambar yang sedang perempuan mungil lihat itu sepertinya tempat yang sama seperti tempat yang akan dia tuju, Penginapan Lembayung.

"Maaf, apa anda akan ke penginapan Lembayung ?" Tanya Damar.

"Ya !" Jawab wanita itu singkat, bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Damar yang bertanya padanya.

"Sepertinya tujuan kita sama." Ucap Damar berbasa basi.

"Lalu ?" Ketus wanita itu.

"Saya baru pernah datang kesini, jadi bisakah saya mengikuti mu untuk sampai kesana, jujur... Saya tak tau jalan kesana." Kata Damar panjang lebar.

"Kamu pikir aku sudah sering kesini ?" Lagi lagi wanita itu menjawabnya dengan nada bicara yang ketus .

Damar menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, baru kali ini ada perempuan yang sangat ketus terhadapnya, padahal biasanya semua perempuan yang bertemu dengannya pasti akan trpesona dengan ketampanan wajahnya, tapi ajaibya tidak untuk wanita ini, melihat pun dengan pandangan yang sinis terhadapnya.

"Nama ku Damar, aku bukan orang jahat, aku dari Jogja dan beru pertama kali datang kesini." Damar mengulurkan tangan kanannya.

"Hmm, ayo ikut aku kalau kamu mau bareng ke penginapan itu." Wanita itu boro boro menyebutkan namanya, menyambut uluran tangan tangan Damar saja tidak.

Dia hanya mengajak Damar menghampiri mobil bak terbuka yang mengangkut sayuran dan berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

Setelah wanita itu berbincang dengan sopir mobil bak terbuka itu, dia segera menaiki bak belakang mobil dan duduk di antara sayuran itu.

"Kamu tidak jadi ke Desa Bayangan ? Ini angkutan terakhir menuju kesana." Suara wanita itu membuyarkan lamunannya, dia terpaku melihat gadis mungil nan cantik itu begitu cekatan menaiki bak mobil yang cukup tinggi dengan ransel bawaannya yang besar dan sepertinya cukup berat, lalu tanpa ragu dia duduk di antara sayuran yang menggunung.

"I- iya aku ikut." Damar menaiki mobil bak itu dan duduk di sebelah wanita jutek itu.

Damar tak berani membuka pembicaraan lagi dengan wanita itu, karena sepertinya wanita itu sangat tidak bersahabat dengannya, dia juga terlihat sangat lelah, sepanjang perjalanan mereka hanya menikmati semilir angin sore yang berhembus menerpa kulit wajah dan tubuh mereka.

"Ini, minumlah !" Damar menyodorkan sebotol air mineral dan sebungkus roti pada wanita itu.

"Terima kasih." Jawab wanita itu yang hanya mengambil botol berisi air mineral di tangan Damar dan mengabaikan bungkusan roti di tangan Damar yang satunya lagi.

Damar hanya mengangguk dan tersenyum tipis sambil memasukan kembali roti coklat yang tadi di tolak wanita itu ke dalam ranselnya.

"Kamu pernah merasakan rasanya di hianati ?" Tiba tiba wanita itu membuka suaranya.

Damar menggelengkan kepalanya.

"Kalau di tipu orang yang kamu percaya ?" Tanya wanita itu lagi.

Damar lagi lagi hanya menjawab nya dengan gelengan kepala.

"Shiittt,!! Apa benar benar cuma aku yang mengalami nasib sesial itu ?" Umpat wanita itu sedikit berteriak.

Dia lalu memejamkan matanya, entah apa yang ada di pikirannya sekarang ini, Damar tak berani bertanya atau mengganggunya, yang jelas sepertinya wanita ini sedang tidak baik baik saja, terlihat jelas dari sorot matanya yang menyimpan banyak kesedihan dan kebencian yang sangat dalam, tapi Damar pun tak tau apa yang menyebabkan wanita itu terlihat begitu terluka dibalik ketegaran dan sikap angkuhnya yang sepertinya hanya sebagai topeng untuk menyembunyikan kesedihan yang saat ini dia hadapi.

Menjelang malam tiba, mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah penginapan sederhana yang terlihat asri, meski berada tepat di pinggir pantai.

Beberapa pohon kelapa  tumbuh di halaman penginapan itu, menambah kesan hawa pantai yang sangat lekat, apalagi dengan terpasangnya beberapa ayunan dari anyaman tali yang terikat di antara pohon pohon yang tokoh dan tinggi menjulang itu, dapat di pastikan tamu tamu yang datang pasti akan merasa nyaman menikmati liburannya.

Mereka berdua berjalan menuju pintu masuk utama penginapan itu, seorang laki laki muda ber usia sekitar 25 tahunan menghampiri mereka.

"Selamat datang di penginapan Lembayung, ada yang bisa saya bantu?" Ucap laki laki muda itu menyambut ramah.

"Aku mencari kedua orang ini." Ucap wanita itu menunjukkan sebuah foto yang tersimpan di galeri ponselnya kepada laki laki muda itu.

Paman Jaya Kusuma

"aku mencari kedua orang ini," Wanita itu menunjukkan sebuah foto yang ada di penyimpanan galery ponselnya pada laki laki muda itu.

Sedangkan Damar hanya diam saja memperhatikan gerak gerik wanita itu.

"Oh, pasangan pengantin baru itu ? Sepertinya kemarin mereka meminta di antarkan untuk melihat lihat Pulau itu, besok sore mungkin mereka sudah kembali kesini." Tunjuk pria muda itu ke arah sebuah pulau kecil yang letaknya seperti di tengah tengah laut,  kalau di lihat dari tempat mereka berdiri sekarang.

"Cih,, pengantin baru ! Baiklah, aku akan membuka satu kamar di sini, aku akan memberikan kejutan untuk sepasang pengantin baru itu besok." Decih wanita itu sambil tersenyum iblis.

"Apa anda berdua ingin membuka kamar spesial untuk pengantin baru juga? Kebetulan masih ada satu kamar kosong yang tersisa." Tanya pria muda yang sepertinnya petugas penginapan itu melirik ke arah Damar yang semenjak tadi hanay diam saja sambil memandangi wanita itu.

"Oh, tidak,,, tidak,, dia datang sendiri dan kami bukan pasangan." Damar menggoyang goyangkan kedua telapak tangannya ke kanan dan ke kiri di depan dadanya.

"Aku ambil kamar yang biasa saja, paling juga hanya aku pakai untuk menyimpan ranselku dan meluruskan tubuhku saja sampai besok." Ujar wanita itu tampak lelah.

Selang berapa lama, setelah petugas penginapan tadi menyelesaikan tugasnya mengantarkan wanita itu menuju kamarnya, dia lantas menghampiri Damar yang masih asik memandangi lautan dari teras penginapan itu.

"Hanya tersisa tiga kamar saja yang kosong malam ini tuan, kalau anda mau menginap, ayo saya antarkan ke kamar sebelum kamarnya penuh." Ajak pria yang di dada sebelah kanannya tersemat sebuah name tag bertuliskan Agus Hermawan itu.

"Saya sedang mencari paman saya, namanya Jaya Kusuma, apa anda mengenalnya?" Damar menoleh ke arah petugas bernama Agus yang berdiri di hadapannya itu.

Agus mengernyitkan dahinya,

"Paman ? Memang anda siapanya Jaya Kusuma ?" Pria muda itu menatap Damar dari atas ke bawah, menatap lekat wajah yang sepertinya tak asing di ingatannya.

"Aku Damar Abdi kusuma, keponakannya dari Jawa." Damar mengulurkan tangannya memperkenalkan diri,

"Damar ? Anaknya Prabu kusuma ? Kakak ayah ku?" Pekik laki laki itu berteriak histeris dan menerima uluran tangan Damar, lalu menjabatnya dengan erat.

"Jadi kamu anak nya paman Jaya ?" Ujar Damar sumringah.

Selama ini seingat Damar, dia hanya pernah satu kali di ajak Prabu ke kampung halamannya ini, itu pun saat usia Damar masih sangat kecil, tak ada yang dia ingat sama sekali tentang Desa ini.

Prabu juga hanya bercerita mempunyai satu orang adik bernama Jaya Kusuma  yang tinggal di kampung halamannya tanpa pernah memperkenalkan pada Damar, atau bahkan hanya sekedar memperlihatkan fotonya, entahlah,apa yang menjadi alasan bagi Prabu yang seolah menyembunyikan perihal kampung halaman dan silsilah keluarganya itu.

"Iya, aku anak pertama dari Jaya Kusuma, namaku Agus Hermawan Kusuma, aku juga mempunyai seorang adik perempuan, namanya Sari Yulia Kusuma, ayo kita ke rumah, Ayah pasti senang berjumpa dengan abang." Ajak Agus ramah.

Agus membonceng Damar dengan motornya, ternyata rumah Jaya sang paman tidak jauh letaknya dari penginapan, hanya kurang dari sepuluh menit naik motor, mereka sudah sampai di sebuah rumah kayu yang terkesan sangat etnik, pintu yang ukurannya sangat besar dan tinggi dengan ukiran yang cantik dan rapi, halaman yang luas, bersih dengan tanaman hias yang tertata rapi menambah kesan cantik dan tak bosan untuk memandangi pelataran rumah itu.

Begitu juga dengan suasananya yang sepi namun tak terkesan horor, sebaliknya justru rasanya begitu damai saat berada di tempat itu, meski tak banyak rumah berdiri di daerah itu, bangunan di dekat sana masih bisa di hitung dengan jari.

Waktu di pergelangan tangan Damar menunjukkan pukul 7 tiga puluh malam, saat Damar mulai memasuki rumah itu setelah di persilahkan oleh Agus sebelumnya,

Seorang Pri yang sudah lumayan cukup berumur muncul dari balik gawangan pintu yang hanya di sekat oleh tirai kain tenun etnik.

"Damar Abdi Kusuma, paman sudah lama menantikan kedatangan mu kesini." Sapa pria berumur sekitar lima puluhan lebih itu memeluk erat Damar, wajahnya sekilas mirip dengan almarhum Prabu, Bapaknya.

"Iya paman, maaf bila saya baru bisa berkunjung kesini, itu pun karena saya tidak sengaja menemukan surat wasiat yang di tulis bapak tentang penginapan Lembayung." Damar membalas pelukan erat pamannya.

"Aku memang mengiriminya surat dan menceritakan tentang keadaan penginapan yang bermasalah beberapa  ulan sebelum bapak mu meninggal dunia, namun sepertinya hal itu mengganggu pikiran dan kesehatannya, paman menyesal memberi tahu itu pada bapak mu, apalagi saat Kak Prabu tiada, paman tak bisa hadir di pemakamannya." Sorot mata Jaya meredup seakan menyimpan kesedihan dan penyesalan yang begitu mendalam.

"Masalah apa yang sebenarnya terjadi di penginapan, paman ?" Tanya Damar penuh penasaran tentang apa yang sebenarnya Jaya ceritakan pada Bapaknya di surat sebelum bapaknya meninggal dunia.

"Panjang ceritanya, nak. Lebih baik kamu istirahat dulu, kamu pasti lelah setelah melewati perjalanan yang sangat panjang untuk sampai kesini.

Seorang gadis manis membawa nampan dengan tiga buah cangkir di atasnya yang berisi teh hangat.

"Ini adik ku Sari, yang tadi aku ceritakan bang, dia baru lulus SMU tahun ini." Agus memperkenalkan adiknya yang terlihat malu malu dan mencuri curi pandang ke arah Damar yang juga sedang memperhatikannya.

"Gak usah di liatin terus Sar, Damar itu memang ganteng, mirip mirip sama aku lah gantengnya, tapi kamu gak bisa naksir dia, karena dia kakak sepupumu." Goda Agus yang membuat adiknya merona karena malu.

"Ih, bang Agus ini ada ada saja, orang cuma liatin masa gak boleh, sesekali mau liat yang bening boleh lah, bosen liat muka abang yang burek itu tiap hari." Sari menjulurkan lidahnya ke arah Agus,

Sang kakak yang bertubuh lumayan gempal itu pun tertawa melihat kelakuan adik kesayangannya itu.

Setelah makan malam bersama dan bersih bersih diri, Damar beristirahat di kamar yang sudah di sediakan.

Oh iya, istrinya Pak Jaya sudah lama meninggal dunia, jadi di rumah itu mereka hanya tinggal bertiga saja, Pak Jaya, Agus dan Sari.

***

Pagi hari Damar di bangunkan oleh suara debur ombak yang sayup sayup terdengar, cuaca sangat cerah pagi tu, Damar memutuskan untuk ikut Agus ke penginapan melihat lihat suasana penginapan dan berkenalan dengan para karyawan disana.

"Penginapan ini semuanya ada dua puluh lima kamar, dan pegawainya ada dua belas orang termasuk ayah dan aku." Terang Agus membawa Damar berkeliling penginapan menjelaskan satu persatu ruangan di sana dan juga memperkenalkan para karyawan penginapan itu satu persatu.

Penginapan yang jauh dari kota, tidak begitu mewah, tapi setiap harinya tak pernah sepi pengunjung, bahkan hari hari biasa saja kamar selalu full.

"Tamu tamu penginapan di sini rata rata berasal dari mana ?" Tanya Damar penasaran.

"mereka berasal dari jauh semua, ada yang dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, bahkan paling banyak dari Jakarta." Jawab Agus.

"Mereka berlibur ?" Sambung Damar.

"Mereka biasanya hanya hanya sekedar transit di sini, sehari atau dua hari saja." Terang Agus.

"Transit ? Memangnya, kemana tujuan mereka sebenarnya ?"Heran Damar.

"Itu, pulau kecil di tengah laut itu." Agus menunjukan jarinya ke arah sebuah pulau di tengah laut.

"Apa yang mereka cari disana?" Damar semakin penasaran.

"Entahlah, hanya sekedar menikmati alam, mungkin." Jawab Agus mengangkat kedua bahunya.

"Memangnya kamu tak pernah kesana ?" Selidik Damar.

"Kalau sekedar mengantar tamu ke sana sampai mereka turun dari kapal saja sering, tapi kalau masuk kesana belum pernah, karena ada larangan keras bagi kami para penduduk asli disini untuk masuk ke Pulau bayangan." Ujar Agus.

Damar hanya mengangguk anggukan kepala tanda mengerti, padahal dirinya di penuhi rasa penasaran yang sangat besar tentang pulau itu, apa yang sebenarnya orang orang cari di pulau kecil tengah laut lepas itu.

Kini mencari tau tentang Pulau itu lebih menarik bagi Damar dari pada mencari tahu tentang sejarah penginapan milik ayahnya yang seakan di sembunyikan nya selama ini.

Di sekitar tepi pantai berdiri beberapa penginapan serupa, mungkin ada sekitar sepuluh penginapan berdiri di sekitar sana, dan anehnya lagi penginapan penginapan lainnya pun terlihat sama sibuknya karena banyaknya tamu yang datang,  seperti di penginapan Lembayung milik Prabu yang sudah di alih namakan menjadi miliknya.

Ada lagi hal yang lebih mengusik penasaran hati Damar, yaitu mereka para tamu yang datang rata rata laki laki ber usia dewasa sampai setengah tua, tapi mereka jarang yang terlihat datang membawa keluarganya seperti istri atau  anaknya.

Kebanyakan mereka yang datang biasanya rombongan yang terdiri dari beberapa orang laki laki dewasa, ada juga terlihat di antara mereka yang membawa wanita, tapi dari sekian banyak tamu pria yang datang, paling hanya terdapat empat sampai lima orang saja tamu wanita, itu pun rata rata perempuan muda semua.

*Jangan lupa di like dulu kakak....

salam kenal dan terimakasih sudah mampir...

Semoga kakak semuanya sukses selalu...*

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!