NovelToon NovelToon

Twins A And Miss Ceriwis

Bab 1. I'm not ter*r*s

"Maaf buk, di depan sana lagi ada penutupan jalan, silahkan putar balik."

"Aduh pak, saya ini mau ke kampus. Saya ada ujia. Kalo saya putar balik, Yanga da saya terlambat dan gak di kasih masuk oleh dosen saya."

"Seharusnya ibu sudah berbelok dari simpang yang sudah kami beri tanda."

"Iya pak, tapi kalo saya lewat sana, itu kejauhan dan butuh waktu lebih lama dari jalan ini menuju kampus saya."

"Tapi jalan ini sudah di sterilkan buk, karena sebentar lagi presiden mau lewat."

"Aduuh pak, kan belum lewat ya presidennya, boleh saya lewat dulu yaa pak. Saya buru-buru."

"Maaf buk, tidak bisa."

"Boleh ya pak, saya mohon. Saya bukan ter*r*s kok. Saya cuma numpang lewat aja."

Gadis yang tengah terburu-buru untuk mengejar jam mata kuliahnya pun berusaha untuk merayu pak polisi yang ia baca di name tag nya bernama Arash Mahaputra.

Mendengar kata ******* di sebut, Arash langsung menahan gadis tersebut untuk dilakukannya pemeriksaan.

"Loh ... loh ... kok saya malah di pegang gini sih, eeh ... eh.. sepeda saya mau di apain? aduuh, saya mau di bawa ke mana?"

Arash tak lagi berbicara, ia telah mengunci pergerakan gadis itu dan membawanya ke pos keamanan polisi.

"Aduh pak, saya kan gak salah. Saya cuma mau numpang lewat aja biar cepat sampai ke kampus pak. Saya ada ujian ini."

"Maaf buk, bisa tunjukkan identitas Ibu." perintah Arash dengan sopan.

"Aduh pak, saya kan bukan pencuri, jadi kenapa harus di periksa segala sih?"

Jengah dengan gadis yang terus saja menjawab pertanyaan Arash. Arash pun memanggil juniornya dan menyuruh memeriksa tubuh gadis tersebut.

"Maaf buk, kami harus menggeledah ibu." Ujar Polisi wanita kepada gadis yang sangat cerewet itu.

Arash sudah membuka tas gadis itu yang berada di dalam keranjang sepedanya. Arash mencari dompet gadis itu dan memeriksa identitas nya.

Sifa Agustina, pekerjaan mahasiswa, alamat jalan tikus belokan buntu.

Arash mengambil ponselnya dan memeriksa identitas gadis yang bernama Sifa itu melalui slaah satu program terbaru milik pemerintah yang mana bertujuan untuk mengecek kebenaran status si pemilik KTP.

"Aduh, jangan di raba di situ. Geli, ha.. haa.. aduh ..." Sifa terus saja tertawa dan bergerak selisah di saat polwan tersebut memeriksa tubuhnya.

Polwan itu sampai jengah dengan Sifa yang terus saja bergerak saat di periksa.

"Bersih pak." Ujar polwan tersebut kepada Arash.

"Kamu harus membuat laporan ke kantor polisi selama tiga hari."

"Loh, salah saya apa pak? saya kan gak buat salah. Saya cuma minta izin untuk lewat jalan ini karena saya terburu-buru. Dan karena bapak, saya sudha terlambat 5 menit untuk ikut ujian."

"Jika ibu tidak melawan dan mendengarkan nasehat saya ucapan saya, maka Ibuk sudah hampir sampai di kampus ibu"

"Bapak nyebelin banget sih. Lagian saya kenapa juga harus di periksa ampe di pegang-pegang segala. Kayak udah ******* aja saya di perlakukan." Ujar Sifa sambil mengerucutkan bibirnya.

"Karena ucapan ibu, ibu mengatakan kata 'ter*r*s', maka dari itu sudah kewajiban akmi untuk memeriksa ibu dan mengamankan lokasi."

Sifa menatap tajam ke arah Arash, ia hafalkan setiap lekuk wajah Arash.

'Tampan.' batinnya.

'Woi Fa, Lo liatin dia buat hafal wajahnya dan mengutuk dirinya karena telah memperlakukan Lo seperti ter*r*s.' batinnya lagi berbicara.

'Bisa tampan gitu ya polisi? sayang banget, padahal bisa jadi model.' batinnya yang lain berbicara.

'Hadew, emang susah ngomong sama orang yang IQ nya jongkok.' batin Sifa yang lainnya.

'Fokus Fa, fokus.'

Sifa kembali menatap tajam kearah Arash, begitu pun dengan Arash, ia masih menatap Sifa dengan penuh selidik.

"My name is Sifa, I'm not ter*r*s." Ujar Sifa dengan memperagakan gaya bicara salah satu aktor Bollywood yang sangat terkenal itu.

Arash mendengus kesal dan pergi meninggalkan Sifa.

Sifa yang juga merasa kesal kepada Arash pun terpaksa berbalik arah demi dirinya agar cepat sampai ke kampusnya.

Tak lupa sang polwan mengingatkan kembali kepada Sifa untuk melaporkan dirinya ke kantor polisi yang ada di daerah itu selama tiga hari. Laporan ini sebagai bentuk dari tidak taatnya Sifa kepada pihak kepolisian.

Hah, sepertinya Sifa harus mendengarkan Omelan sang dosen agar ia bisa mengikuti ujian tengah semesternya.

"Pak, ini sepertinya kartu tanda pengenal gadis tadi terjatuh." ujar seorang polwan yang memeriksa Sifa tadi.

Arash meraih tanda pengenal yang ia ketahui itu adalah milik perusahaan sang kembaran.

"Sifa, office girl." gumamnya membaca nama dan pekerjaan Sifa.

Baiklah, mungkin Arash akan mengembalikan ID pengenal milik Sifa kepada pemiliknya saat ia membuat laporan ke kantor polisi besok.

*

"Fa, Lo bersihin ruangan nya si bos sendiri gak papa kan? gue gak tahan lagi nih, sak boker."

"Oke, tapi kakak ke sini lagi kan?"

"Iya lah, gue boker di kamar mandi sekretarisnya pak bos aja. Biar cepat, gak tahan lagi nih. Gue tinggal ya."

Gadis bernama Sifa itu pun mengacungkan jari jempolnya kepada Lia, teman kerjanya sebagai office girl.

Nama nya Sifa Agustina, bekerja sebagai office girl di salah satu perusahan IT yang sedang berkembang di Ibu kota. Sifa bukan gadis yang tidak berpendidikan, melainkan Sifa ini adalah gadis yang kuliah jurusan S1 Teknik informatika, yang saat ini sedang membutuhkan uang untuk membayar uang kuliahnya.

Sifa bekerja hanya sebagai pekerja paruh waktu, semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah atas, Sifa sudah biasa bekerja paruh waktu untuk membiayai kehidupannya sehari-hari semenjak kepergian sang nenek untuk selama-lamanya.

Beruntungnya Sifa memiliki seorang kenalan yang bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan yang menerima jasa kerja kebersihan dan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar . Jadi Sifa bisa meminta pekerjaan di sift sore hingga malam.

Seperti saat ini, Sifa ditugaskan untuk bekerja shift malam saja, karena pagi nya ia harus menghabiskan waktunya untuk kuliah.

Shifa baru saja di pindahkan dari perusahannya yang lama ke perusahaannya yang baru. Memang sudah begitu sistem kerja perusahaan tempat Sifa di kontrak. Setiap 5 tahun sekali, atau sesuai permintaan perusahaan, maka mereka yang bekerja di bawah 'Jasa Kerja' harus mengikuti peraturan yang ada.

Baru tiga hari Sifa bekerja di perusahaan ini, bahkan Sifa belum pernah melihat wajah CEO dari perusahaan yang ia bersihkan saat ini. Sifa dan Lia ditugaskan untuk membersihkan ruangan CEO kantor tersebut.

Sifa sedang sibuk membersihkan kamar mandi milik CEO perusahaan IT tersebut, namun ia mendengar suara krasak krusuk dari dalam ruangan itu. Sifa fikir itu Lia yang sedang membersihkan, Sifa pun membiarkan suara krasak krusuk tersebut.

Namun, saat mendengar suara seornag pria, Sifa merasa jantungnya berdebar dengan cepat.

"Siapa tuh?" lirih nya.

Sifa pun keluar dari dalam kamar mandi dengan memegang kemoceng yang sempat di sangkutnya di gagang troli alat kebersihan yang ia bawa.

Sifa membolakan matanya di saat melihat seorang pria dengan memakai masker sedang mengacak-acak meja CEO dari perusahaan tersebut.

"Pencuriiii ....."

**

Haii, jangan lupa like, komen dan bintang 5 by ya..

Untuk setiap hari Senin, jangan lupa kasih vote buat dukung cerita ini ...

Terima kasih ...

salam sayang dari Twins A

Bab 2 - Pencuri

"Mana sih ..." Abash menggerutu kesal di saat ia tak menemukan dokumen yang ia letakkan di atas meja.

"Akkh ... kok bisa gak ada sih ..."

Abash masih terus mencari sambil menggerutu. Terakhir kali ia meletakkan dokumen di atas mejanya. Abash terus mencari sambil menggerutu kesal.

"Sepetinya ada yang menyentuh meja ku." geram Arash dan mulai kembali mencari.

Arash yang memakai masker pun terus mencari tanpa sadar jika ada orang lain yang berada di dalam ruangannya.

"Pencuriiii ....."

Bugh ... bugh ... bugh ...

Abash yang terkejut mendengar suara teriakan dan langsung mendapatkan pukulan di punggungnya hanya bisa meringis.

"Aww .... " Abash meringis di saat punggung tangannya terlibas rotan dari kemoceng dengan kuat.

"Pencuri .... tolong ... pencuri ..."

Dengan gerakan tangan yang lincah dan cepat, Sifa menekan tombol keamanan tiga kali yang mana langsung terhubung ke satpam dan juga kantor polisi di mana Arash bekerja.

Abash sengaja membuat program aplikasi untuk memanggil polisi dengan cukup menekan tombol keamanan tiga kali. Setiap karyawan yang bekerja di kantor Abash sudah di beritahukan peraturan-peraturan tersebut. Jika ada pencuri atau hal apapun yang mencurigakan dan butuh bantuan polisi, cukup menekan tiga kali tombol darurat yang terhubung ke satpam.

Abash memfokuskan penglihatannya dan langsung menangkap kemoceng yang ingin kembali mendarat di bagian tubuhnya. Abash menarik kemoceng tersebut hingga tubuh gadis itu tertarik dan menabrak tubuh Abash.

Sifa melototkan matanya di saat orang yang di fikirnya pencuri itu menahan pinggangnya di saat tubuh Sifa menabrak tubuhnya. Dengan kekuatan penuh, Sifa mengangkat lututnya dan menendang burung imut yang masih kecil dan sedang tidur di dalam sarangnya itu.

"Aaaw ..." Abash menghempas tubuh Sifa hingga tersungkur di lantai dan memegangi burungnya yang berdenyut hebat.

"Rasian Lo pencuri ... habis burung perkutut Lo bonyok gue bikin." geram Sifa.

Sifa mengambil kesempatan tersebut di saat Abash tengah meringis kesakitan memegangi burungnya. Sifa mengambil tali yang memang tersedia di keranjang troli nya. Dulu Sifa pernah sempat berfikir, untuk apa tali tersebut harus berada di dalam keranjang itu. Ternyata ini fungsinya.

Sifa yang bisa sedikit bela diri.

Ekhem, maksudnya membela diri pun langsung mengikat tubuh Abash yang di fikirnya pencuri dengan kuat sehingga Abash tidak bisa lagi melawan.

"Apa yang kau lakukan? lepas brengsek." maki Abash yang masih menahan denyut nyut nyut di bawah sana.

Sifa tersenyum puas saat melihat Abash tak bisa melepaskan dirinya dari ikatan yang ia lilitkan di tubuhnya.

"Dasar pencuri. Lo kira bisa gampang ngalahi gue hah?"

Sifa berjalan mendekat kearah Abash dan menarik masker yang Abash gunakan sehingga menampilkan wajah tampan nan rupawan milik Abash.

Sifa membulatkan matanya saat melihat wajah Abash. Abash pun tersenyum miring di saat melihat wajah terkejut dari wanita yang menggunakan pakaian seragam cleaning servis itu. Abash akui, jika wanita yang di hadapannya ini cukup berani melawan seorang oencuri, tapi ia bukan seorang pencuri. Mana ada pemilik perusahaan mencuri di perusahaannya sendiri.

"Bapak?"

Abash kembali tersenyum miring . 'Mampus Lo, siapa suruh main asal pukul aja. Lihat aja, bakal gue balas Lo karena udah nendang bubu gue.' batin Abash.

"Iya, ini gue, bo__"

"Saya gak nyangka, ternyata bapak selain polisi juga merangkap sebagai pencuri ya. Waah, benar-benar dah. Padahal bapak itu pangkatnya udah tinggi, masa masih merasa kurang aja sih pak?" Sifa langsung mencerocos bagaikan rapper yang sedang menyanyikan lagunya.

Abash ternganga mendengar ucapan gadis cleaning servis tersebut. Pasti gadis itu berfikir jika dirinya adalah sang kembarannya, yaitu Arash. Tapi, seharusnya ia tahu jika pemilik perusahaan ini adalah orang yang berwajah sama dengan Arash.

"Nih ya, saya kasih nasehat untuk bapak. Seharusnya bapak itu malu dengan pekerjaan bapak Yang seorang abdi negara. Seharusnya bapak iklas dengan gaji bapak yang udah di atur pemerintah segitu. Bapak harus bersyukur karena bapak masih bisa makan dan di hormati. Coba bapak jadi cleaning servis seperti saya, pasti bapak akan di pandang sebelah mata oleh orang-orang dan gak ada di hargai. Bapak tuh ya, harus banyak-banyak bersyukur karena dari pekerjaan bapak sebagai abdi negara, masih bisa dapat tunjangan pak. Ya Allah pak, bapak harus tobat pak, tobat."

"Lo bilang apa?"

"Iya pak, bapak harus tobat. Jangan mencuri lagi pak. Saya ngomong gini bukan karena saya dendam sama bapak tentang masalah tadi pagi. Saya udah ikhlas kok walaupun saya harus mendapatkan hukuman gara-gara terlambat masuk kuliah karena bapak."

"Sifa, ada apa ini?" tanya Lia teman seprofesi dengannya.

"Ini kak, ada pencuri ketangkap basah sama aku udah obral abrik mejanya pak bos."

Lia menoleh kearah pria yang di tuduh pencuri oleh Sifa, Lia yang mengetahui wajah bos dari perusahaan tempat mereka bekerja saat ini pun langsung membolakan matanya.

"Si-sifa beliau___"

"Iya kak, dia itu polisi nyebelin yang tadi aku ceritain. Gak nyangka aja gitu, kerjaan udah bagus masih aja mencuri. Hah, ini akibat ngikuti jaman makanya menghalalkan segala cara."

Lia sudah gemetaran karena di tatap tajam oleh Abash, Lia berusaha untuk menyuruh Sifa diam, namun Sifa terus saja saja bercerocos tak jelas, geram dengan Sifa yang terus berkicau dan tak mendengarkan peringatannya, Lia pun membungkam mulut Sifa.

"Mmpppgg ...."

"Sifa diem, itu yang kamu bilang pencuri adalah bos kita." Lia menekan setiap kata-katanya.

Sifa mengerutkan keninganya, kemudian ia melepaskan bungkaman tangan Lia.

"Kakak ih, yang bener aja kalo becandanya. Dia itu pencuri, kakak jangan gampang luluh deh dengan dengan wajah tampannya. Sekarang wajah tampan itu gak menjamin jika dia itu orang baik. Lihat saja, dia___"

"Ada apa ini?"

Sifa menoleh saat mendengar suara bariton yang seperti ia kenali. Sifa melototkan matanya dan mengangkat jari telunjuknya ke arah pria tersebut.

Ya, pria itu adalah Arash. Arash yang sedang berada di dekat kantor Abash pun langsung menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor sang kembarannya itu.

"Ba-bapak?"

Abash tersenyum miring di saat melihat wajah pucat gadis cleaning servis tersebut di saat melihat wajah kembarannya yang saat ini terlihat bagaikan pahlawan bertopeng.

Ha ... ha ... ha ...

Sifa menunjuk kearah Abash yang terduduk dengan santai di lantai dan menyandarkan tubuhnya ke badan Sofa sambil tersenyum miring menatap Sifa dengan tajam.

"Pe-pencurinya kok ada dua?" lirihnya yang masih di dengar oleh Abash, Arash, Lia, dan dua satpam lagi yang ikut masuk ke ruangan Abash.

"Pencuri?"

Arash langsung melihat ke arah pria yang sedang terduduk di lantai dengan keadaan terikat dan tersenyum iblis menatap Sifa.

"Kak, kok pencurinya ada dua ya? mana mirip banget lagi." lirih Sifa yang mulai lemas dan gemetar.

Di tambah lagi saat kedua satpam tersebut langsung berlari kearah Abash dan memanggilnya dengan sebutan 'BOS'.

Sifa merasakan tubunya semakin bergetar di saat Abash menatapnya semakin tajam dna mulai berdiri dan berjalan mendekatinya.

"Pencuri? tobat?" seru Abash dengan nada mengejek dan berjalan mendekati Sifa.

Sifa mem*ras tangannya yang sudah terasa dingin itu.

"Kak, gue rasanya mau pingsan." gumamnya dan kemudian Sifa pun tak sadarkan diri.

Ya elah Sifa, kalo mau pingsan ya pingsan aja, ngapain pake di umumin segala sih?

**

Haii, jangan lupa like, komen dan bintang 5 nya ya..

Untuk setiap hari Senin, jangan lupa kasih vote buat dukung cerita ini ...

Terima kasih ...

salam sayang dari Twins A

Bab 3 - Selembar Kertas

Sifa mengerjapkan matanya disaat merasakan sesuatu yang sangat menyengat hidungnya.

“Fa, kamu udah sadar?” seru Lia sembari membuang napas pelan.

 Ya, Sifa benar-benar pingsan di saat melihat dua pria tampan muncul di hadapannya. Eh, bukan karena itu ding. Tapi karena Sifa terkejut jika yang ia pukul dengan kemoceng dan mengikatnya adalah Bos dari pemiliki perusahaan yang telah mengkontrak jasa tempat nya bekerja.

Sifa pun mendudukkan tubuhnya secara perlahan sambil memegang kepalanya yang berdenyut.

“Sssttthhh ...” Sifa meringis saat merasakan kepalanya seakan di tusuk-tusuk oleh jarum.

“Kamu gak papa Fa?” tanya Lia khawatir.

 “Gak papa kak, Cuma pusing aja.”

 Ya iya lah pusing, secara Sifa pingsannya langsung ke lantai hingga bunyi berdebum yang kuat, karena kepalanya terbentur oleh lantai.

 Duh, sakit banget itu pasti.

“Dia sudah sadar?”

 Lia dan Sifa kompak langsung menoleh kearah sumber suara.

“Beneran dua?” tanya nya kepada Lia.

Lia hanya menganggukkan kepalanya seraya menelan ludahnya kasar. Tadi Lia sudah menjelaskan bagaimana Sifa bisa bekerja sendiri membersihkan ruangan Pak Bos, itu di karena kan Lia yang tiba-tiba sakit perut dan harus dengan segera mengeluarkan racun dari tubuhnya itu.

Abash pun tidak mempermasalahkan kejadian itu, tapi Abash bertanya tentang kertas yang ada di atas meja. Sudah pasti Lia tak tahu, karena bukan dirinya yang membersihkan ruangan Abash.

“Su-sudah Pak.” Jawab Lia gugup.

Sifa pun duduk sambil menundukkan kepalanya. Walaupun ia merasakan kepalanya berdenyut, Sifa akan tetap menahannya demi menghormati sang bos.

 “Kamu baik-baik aja?” tanya Abash.

“I-Iya pak, saya baik-baik saja.” Jawab Sifa sambil menundukkan wajahnya tak berani melihat ke arah Abash.

“Eng, itu pak. Maafkan saya, saya tidak mengetahui bapak sebelumnya, jadi saya fikir---“

 “Saya pencuri?”

Sifa mendongak dan menatap wajah Abash. Sifa menganggukkan kepalanya pelan dan kembali menundukkan wajahnya.

“Apa kamu tidak pernah melihat wajah saya?”

Sifa lagi-lagi menggeleng.

“Saya baru bekerja di sini, dan saya selalu mendapatkan sift malam. Setau saya, Bos dari perusahaan ini bukan bapak.”

“Lalu?”

Sifa menatap wajah Abash, kemudian ia menunjuk kearah foto besar yang ada di ruangan nya tersebut. Foto Mama Kesya dan Papa Arka. Ya, Abash sengaja memasang foto orang tuanya agar menjadi penyemangat untuknya.

Abash menganggukkan kepalanya tanda mengerti jika semua ini adalah kesalahpahaman saja. Lagi pula Abash salut kepada keberanian Sifa yang melawan pencuri.

Eh, secara tak langsung Abash mengakui dong jika dirinya pencuri. Waduuh !!!

 “Oh ya, kamu yang beresi meja saya?”

Sifa menganggukkan kepalanya lagi masih dengan menundukkan wajahnya.

“Apa kamu yang memindahkan kertas di atas meja?”

Sifa mengerutkan keningnya. “Kertas?”

 “Ya, kertas. Kertas itu sangat penting untuk saya.”

“Saya gak lihat ada kertas di atas meja bapak.”

“Maksud kamu?”

 “Pada saat saya membersihkan meja bapak, saya tidak melihat ada sebuah kertas di sana. Meja bapak saya dapati dengan keadaan bersih dan rapi.”

“Kamu yakin?”

“Iya pak.”

“Kamu yakin gak lihat selembar kertas di meja saya?”

 “Saya yakin pak.” ujar Sifa dengan memberanikan dirinya untuk melihat kearah wajah Abash.

 Abash menghela napasnya berat, ia memicit keningnya yang terasa sedikit sakit.

Sifa mencoba mengingat kembali kejadian dari awal ia masuk ke dalam ruangan Abash, hingga dirinya berakhir tak sadarkan diri.

Seolah mengingta sesuatu, Sifa bangkit dari duduknya yang mana membuat Abash dan Lia terkejut. Abash dan Lia pun memperhatikan Sifa yang tengah mengobok-obok tong sampah.

“Apa ini yang Bapak maksud?” tanya Sifa seraya merapikan kertas yang telah kusut karena ia sempat meremasnya menjadi bola.

 Abash melihat tulisan yang ada di kertsa tersbut. Senyum Abash pun mengembang, yang mana membuat Lia dan Sifa terpana dengan ketampanannya.

“Iya, itu. Di mana kamu mendapatkannya?”

 “Saya mendapatkannya di lantai. Saya fikir ini sampah.”

 “Ya sudah, kalian bisa melanjutkan kembali pekerjaan kalian.” Titah Abash dan mengambil kertas tersebut dari tangan Sifa.

 Sifa dan Lia pun melanjutkan kembali pekerjaan mereka. Sedangkan Abash sudah duduk di bangku kebesarannya, ada pekerjaan yang harus ia kerjakan berkat Sifa yang telah meremas kertas penting tersebut. Abash harus kembali menyalinnya, tidak mungkin kan Abash memberikan kertas yang sudah bau, kotor, dan juga kusut itu kepada seorang klien.

“Kamu baik-baik aja Sifa? Apa kepala kamu sakit?” tanya Abash tiba-tiba yang melihat Sifa memegang kepalanya.

 “Iya pak, saya baik-baik aja. Cuma ini kepala saya terasa benjol.”

 “Benjol?”

“Iya pak.”

“Kalo sakit, kamu bisa pulang.”

 “Gak pak, gak sakit kok. Cuma nyeri aja dikit.”

“Ya sudah, kamu pulang saja kalo sakit.”

“Aduh pak, saya gak sakit. Kepala saya Cuma benjol dan sedikit nyeri. Bapak tenang aja, saya gak papa kok. Bapak gak usah khawatir.”

 “Pede banget kamu? Saya tidak mengkhawatirkan kamu. Saya mengkhawatirkan perusahaan saya yang namanya bisa rusak karena telah memperkjakan orang sakit.”

 “Loh pak, saya gak sakit. Beneran deh. Nih lihat, saya masih kuat kok. Jangan pecat saya ya.”

 Abash merasa kepalanya sedikit pusing mendengar kicauan suara Sifa. Lain yang Abash tanya, lain pula yang ia jawabnya. Hah, ya sudahlah, buang-buang waktu ngurusin orang seperti itu.

Abash pun kembali lagi fokus dengan pekerjaannya. Lima belas menit kemudian, Abash kembali menoleh kearah Sifa. Kali ini karena gadis itu berpamitan kepadanya bersama dengan temannya.

“Pak, kami permisi dulu ya.”

 “Hmm,”

 Sifa dan Lia pun keluar dari ruangan Abash.

“Maaf ya kak, gara-gara aku kakak jadi terlambat pulang.”

“Gak papa, tapi kakak khawatir sama kamu. Kamu beneran gak papa pulang malam-malam naik sepeda?”

 “Insya Allah gak papa kak.”

 “Mau kakak antar?”

“Gak usah kak, arah aku sama kakak kan beda, lagian kalo kakak antar aku, sepeda aku gimana? Esok aku harus ke kampus pagi-pagi.”

“Hmm, terserah gimana kamu nya aja.”

 Setelah mengganti pakaian mereka, Sifa dan Lia pun keluar dari ruang khusus cleaning servis.

 “Yakin nih gak mau kakak antar?” tawar Lia.

 “Yakin kak.”

 “ya udah kalo gitu, kamu hati-hati ya di jalan.”

“Iya kak, kakak juga.”

 “Kakak duluan ya Sifa.”

Sifa melambaikan tangannya kepada Lia, ia pun mulai menaiki sepedanya setelah meletakkan tas nya di keranjang bagian depan setang sepeda nya. Sifa pun mulai mengayuh sepedanya kelaur dari perkarangan kantor IT di mana tempatnya mengais rezeki bulan ini dan beberapa bulan selanjutnya.

 *

 Abash baru saja menyelesaikan pekerjaannya, Abash pun mengambil ponel dan kunci mobilnya, kemudian berjalan keluar menjauhi ruangannya.

Satpam langsung membungkukkan tubuhnya di saat melihat Abash sudah keluar.

“Nih, untuk beli kopi sama cemilan, lumayan buat ganjel perut saat hujan-hujan gini.” Abash memberikan uang seratus ribu kepada salah satu satpam tersebut.

 “Makasih Pak Bos.”Jawab empat orang Satpam tersebut dengan kompak.

Abash mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan membelah hujan yang lebat. Abash mengernyit di saat melihat seorang wanita yang ia kenali sedang berteduh di bawah toko yang sudah tutup.

 “Itu kan?”

 

\==  Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..

Salam sayang dari ABASH dan ARASH.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!