NovelToon NovelToon

Berbagi Cinta Untuk Dua Hati

AWAL SEGALANYA.

...Hai.....

...Jumpa lagi dengan aku Vi_via. Dalam cerita BERBAGI CINTA UNTUK DUA HATI....

...Salam kenal buat kalian yang baru mampir di cerita aku dan salam sayang buat kalian yang udah lama kenal aku. 😘😘...

...Seperti biasa jangan lupa follow aku , IG Vi_via129. Untuk visual Novelnya....

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

Setiap rumah tangga pasti memiliki yang namanya masalah atau ujian didalamnya. Begitu juga dengan rumah tangga Diana Agnesia Xavier dan Andara Wilson Bagaskara.

Karena sebuah kejadian Dian harus menerima kenyataan, bahwa kemungkinannya kecil untuk dia bisa memiliki anak atau bisa hamil lagi! Bagai disambar petir di siang bolong, saat Dian mendengar kenyataan itu.

Tetapi wanita itu tidak kehilangan semangat hidupnya, dia percaya usaha dan doa pasti tidak akan mengkhianati hasil.

Terbukti dengan setiap hari dia berdoa dan terus mengunjungi dokter! Bukan hanya dokter saja, bahkan tempat alternatif pun dia datangi hanya untuk mendapatkan seorang anak.

Tidak ada yang tahu, seberapa besar dia menginginkan anak dan seberapa kecewa dia pada dirinya sendiri, saat keluarga dan orang-orang sekitarnya bertanya. " Di udah lama Nikah kok belum ada anak juga? Di kapan punya anak! Di teman kita sih A udah lahiran loh, padahal kamu yang duluan nikah. Di kamu tunda momongan ya?" Dan masih banyak kata kata yang menghancurkan rasa percaya dirinya.

Tapi berkat dukungan dari Suami dan keluarga, dian bisa melewati semua itu dan kembali mencoba. Walau pun fisiknya terasa sakit, batin lelah dan air mata tidak berhenti mengalir. Dian tidak pernah kehilangan senyumnya.

Jika Dian saja se-sabar dan sekuat itu! Sayangnya mertua dian tidak seperti itu. " Kalau sampai bulan depan Dian belum bisa hamil juga, kamu harus mau mama jodoh in dengan anak teman mama." Ucap Ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu bahkan tidak menghiraukan perasaan sang menantu yang tengah Duduk di hadapannya, bahkan untuk menatap wajah Dian saja wanita itu begitu enggan melakukannya.

" Ma, aku cinta sama Dian sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan dian ma." Bantah lelaki itu. " Soal anak kita bisa mengadopsi kalau memang Dian tidak bisa memiliki anak." Lanjutnya. Membuat kemarahan wanita paruh bayah itu semakin memuncak.

" Mama memintamu untuk menikah lagi dan memberikan mama cucu bukan meninggalkan nya." Sahut wanita paruh bayah itu tak mau kalah dengan anaknya. Wajahnya merah padam dan Dian dapat melihat jelas hal itu.

" Apa pun alasannya, Aku tidak akan pernah menduakan Dian Ma! Nggak akan jadi percuma jika mama memaksaku." Tegasnya sebelum meninggalkan kedua wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.

Setelah kepergian Andara, Wartika Bagaskara menghampiri menantunya yang tengah Duduk sambil memiling jari jari tangannya dengan kepala menunduk." Kamu yang salah disini, kenapa harus keluarga saya yang menanggungnya? Kamu yang tidak dapat memiliki anak kenapa keluar saya yang harus mengadopsi anak orang lain, sementara anak saya bisa memiliki anak-anak dari wanita lain." Sembur wanita paruh bayah itu. Ia bahkan tidak peduli jika wanita yang telah menjadi menantunya selama lima tahun itu tersakiti dengan kata-katanya." Dian, mama minta jangan jadi wanita egois, harusnya kamu sadar akan kekurangan kamu dan terima kenyataan itu. Jangan menyulitkan keluarga ku yang sudah berbaik hati kepada kamu dan menunggu selama ini. Kalau kamu wanita terhormat yang masih punya rasa malu tentu kamu akan mengizinkan anak saya untuk memiliki anak dari wanita lain bukan. " Dian tidak menyahuti, wanita itu hanya Diam sementara sang mertua terus mencecarnya dengan kata kata yang begitu menyakitkan.

Andai Dian bisa memilih, dia juga tidak ingin berada di posisi ini! Dia pun sama seperti mertuanya yang begitu merindukan lahirnya sosok malaikat kecil yang dapat memberi warna dalam Hidupnya tetapi apa mau di kata, dia hanya manusia biasa yang hanya bisa melangkah mengikuti garis takdir dan berharap suatu saat tuhan mengabulkan doa-doanya.

...\=\=\=\=\=\=\=\=...

Ruangan yang panjang sekitar 12x4 meter itu nampak tenang dan hanya disinari oleh cahaya proyektor yang menampilkan tayangan romantis dimana orang orang yang berada di dalamnya larut dalam kisah Fiksi itu.

Hingga ketenangan itu berubah menjadi suara riuh karena tayangan yang di tunjukkan cahaya proyektor itu mati. Dan berganti dengan tulisan.

Will you merry me? Lima detik kemudian. Muncullah sebuah nama dan foto. Yang membuat sih empunya nama membulatkan kedua matanya.

Diana Agnesia Xavier. Wanita yang ikut kesel bersama pengunjung yang lain langsung menengok ke kanan dimana sang pelaku sejak tadi duduk dengan tenang di sana, seraya ikut menatap kearah layar yang di ciptakan oleh cahaya proyektor.

Sayangnya, dia yang Dian duga sebagai pelaku, sudah tidak ada di sana. Dan lebih membuat Dian terkejut lagi lelaki itu kini berdiri di depan sana sambil membawa buket bunga mawar merah besar dengan Mic di tangannya, entah sejak kapan lelaki itu mendapatkan semua itu dan mengaturnya! Tapi hal itu sukses membuat Dian tidak dapat berkata kata. Bahkan untuk sesaat wanita itu seakan lupa cara bernafas hanya karena di perilaku semanis itu oleh kekasihnya.

" Hai sayang! Maaf membuat kamu terkejut dan sedikit merusak kesenangan kamu! Tapi hari ini, didepan semua orang yang ada disini, Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku hingga kita menua nanti. Aku tidak dapat menjanjikan kemewahan ataupun materi yang berlimpah, tetapi selama aku masih bisa bernafas, aku akan memberikan kenyamanan dan rasa aman serta cintaku untukmu seorang. DIANA AGNESIA XAVIER, MAUKAH! KAMU MENIKAH DENGANKU DAN MENJADI WANITA HEBAT DI SAMPINGKU." Tanya Lelaki yang tidak lain Adalah Andara. Lelaki itu berlutut dengan satu kakinya sambil membuka lebar kedua tangannya dengan buket yang dia genggam di tangan kanannya serta Mic di tangan kiri.

Dian pun tidak membiarkan lelaki itu berlutut lama, karena satu menit kemudian wanita itu langsung berdiri dari duduk nya dan menghampiri Andara seraya menyambut pelukan lelaki itu. " Ya! aku mau jadi istri kamu." Jawabnya begitu pelan di telinga Andara.

Detik itu Andara langsung berdiri sambil memeluk tubuh Dian dan sedikit berputar. Keduanya seakan lupa dengan pengunjung bioskop yang masih berada di ruangan itu sambil bertepuk tangan kepada mereka.

" An, Sorry cincin nya ketinggalan di aku." Seorang lelaki yang seumuran dengan Andara menepuk pundak lelaki itu.

" Eh Ken, terima kasih ya!" Ucap Andara sembari menggambil cincin dari tangan lelaki yang di panggil Ken.

" Terima kasih kak Ken." Dian pun ikut mengucapkan terima kasih.

" Sama-sama, aku ikut bahagia untuk kalian, Aku balik ya." Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang temannya, lelaki yang bernama lengkap Ken Alexander Louis. Langsung meninggalkan ruangan itu ia bahkan tidak menghiraukan panggil Dian dan Andara. Setelah kepergian Ken Andara langsung menyematkan cincin di jari manis Dian dan meminta maaf kepada pengunjung bioskop yang masih ada di ruangan itu sebelum meninggalkan ruang teater primer yang menjadi tempat di pilih Andara untuk melamar Dian.

Kenangan hari itu begitu indah tapi sayangnya, kedepannya semua tidak akan seperti itu lagi, sebab permintaan mertuanya siang tadi, tidak dapat Dian abaikan begitu saja. Benar kata mertuanya, bahwa Dia tidak boleh egois. Kenapa kekurangannya membuat orang-orang sekitarnya ikut merasakan.

.......

.......

.......

.......

...Bersambung....

...Happy reading.. 💔💔...

Keinginan mertua.

" Nama saya Diana Agnesia Xavier umur 18 tahun, Anak pertama dari dua bersaudara, hobi menggambar dan cita-cita menjadi seorang Desainer! Terima kasih." Dian memperkenalkan diri di depan puluhan Mahasiswa baru lainnya. Wajahnya yang indo di tambah senyumnya yang manis membuat dia sedikit menonjol dari mahasiswa baru lainnya.

" Kamu tidak bercita-cita menjadi istri saya." Goda salah satu seniornya. Lelaki itu juga yang meminta Dian untuk maju ke depan dan memperkenalkan dirinya.

Sementara Dian hanya menggeleng kepalanya, sembari tersenyum malu malu. " Ken kamu apa-apaan sih." Tegur lelaki yang memiliki wewenang lebih tinggi dari Lelaki yang bernama Ken itu. Siapa lagi kalau bukan Andara, ia adalah seorang presma. " Dek, silakan balik kembali ke tempat kamu ya." Dian mengangguk dan kembali ke tempat duduknya.

Begitu Dian duduk di tempatnya lelaki itu mulai memperkenalkan namanya dan berpidato di depan seluruh mahasiswa baru dan memberi motivasi kepada mereka.

Sejak hari itu Dian langsung mengagumi Andara. Bukan hanya Dian! Bahkan mahasiswi lainnya pun menatap kagum kepadanya. Siapa yang tidak kagum, Sudah ganteng, baik, kaya dan pintar lagi. Ya begitulah penilaian mereka.

Sejak pertemuan pertama mereka waktu itu, Dian terus saja berpapasan dengan kedua lelaki itu entah di cafe, kantin kampus, perpustakaan atau parkiran kampus.

Banyak hal istimewa yang terjadi dalam satu tahun perkenalan mereka di kampus, hingga Dian dan Andara memutuskan untuk menjadi kekasih. Walaupun Andara tahu, Ken sahabatnya juga menaruh hati kepada Dian. " Selamat ya An, aku titip Dian sama kamu! Tolong Bahagiakan dia." Itulah ucapan yang Andara terima saat mengatakan perkembangan hubungannya dengan Dian.

" Kamu tidak marah?" Tanya Andara.

Lelaki itu menggeleng kepalanya, seraya berkata. " Aku mencintai Dian! Tapi aku lebih bahagia melihat senyum di wajahnya, walaupun bukan aku alasan dia tersenyum." Ia menepuk pundak Andara sebelum meninggalkannya.

Satu tahun hubungan mereka, Andara memutuskan untuk melamar Dian. Tentu saja dengan bantuan Ken sahabatnya.

Hubungan rumah tangga mereka begitu Harmonis, hal sekecil apapun dapat membuat keduanya tertawa bersama namun hal itu tidak bertahan lama saat Dian mulai di singgung perihal anak. Entah itu dari keluarga, teman-teman dan tetangga sekitar rumah mereka, saat berpapasan dengan Dian.

Hal itu membuat Dian seringkali mengurung diri di kamar dan menangis, kalau ada Andara di rumah lelaki itu akan memeluk dan mengusap punggungnya sembari berkata. " Sayang sabar ya! Di luar sana banyak juga pasangan yang sama seperti kita, bila waktunya tiba tuhan pasti akan menitipkan malaikat kecil untuk mewarnai hari-hari kita." Andara mengecup puncak kepala Dian sembari terus menguatkannya. Jika hal itu tidak cukup membantu, Andara akan mengajaknya berlibur atau dinner berdua, untuk mengembalikan mood istrinya itu.

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

Semua kenangan itu terasa manis tetapi tidak dapat menutupi rasa sakit dihatinya saat ini. Bagaimana tidak, keinginan mertuanya terasa begitu berat untuk ia turuti maupun ia tolak.

" Mas, Kayaknya kita harus mempertimbangkan keinginan ibu." Ujar Dian, membuat pelukan Andara perlahan mengendur.

Keduanya kini sedang berbaring sambil berpelukan, sejak menikah moment saat ini terus saja mereka ulang. " Sayang tidak ada yang perlu kita pertimbangkan. Tolong jangan dorong aku untuk menduakan kamu. " Sahut Andara, terlihat jelas kemarahan di matanya.

" Aku pun tidak ingin kamu dua kan tapi selagi kamu memiliki kesempatan untuk membahagiakan mama kenapa tidak kamu lakukan! Aku siap jika kamu ingin menikah lagi. " Lanjutnya menahan rasa sakit yang teramat sangat di Hatinya, Bibirnya berkata ya Dia siap tetapi hatinya tidak demikian, sayangnya Dian tidak ingin egois dengan memikirkan perasaannya saja.

" Di jangan seperti ini, Aku tidak mau menyakiti kamu! Aku tahu saat ini kamu sedang bohongi aku, aku yakin kamu tidak pernah akan siap dan baik baik saja saat aku bersama wanita lain." Tolak Andara sambil mencium kedua punggung tangan Dian, lelaki itu sampai menitihkan air matanya." Sayang Aku akan bicara dengan mama! Jadi kamu tidak perlu bersikap seperti ini, apalagi sampai memaksa perasaan kamu! Aku nggak suka." Andara hendak beranjak dari tempat tidur dan menemui mamanya, tetapi Dian dengan cepat memeluk pinggang lelaki itu.

" Mas, kamu tahukan aku begitu menginginkan seorang anak! Kalau aku tidak bisa memberikan kamu anak! Setidaknya kamu bisa memberikan aku anak, walaupun anak itu anak kamu dan wanita lain." Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini tidak dapat dia bendung lagi." Kalau kamu sayang sama aku harusnya kamu bisa mengabulkan keinginan aku dan mama. " Lanjutnya di ikut suara tangisannya. Entah kenapa Dian merasa, segala hal romantis yang pernah terjadi antara mereka berdua perlahan lahan menjadi kenangan nanti. ketika Andara melakukan apa yang di inginkan mamanya.

Walaupun Dian dengan berat Hati melakukan semua ini dan mengizinkan lelaki yang amat sangat ia cintai, berbagi hati dan perhatiannya kepada wanita lain. Tapi semuanya demi kebaikan keluarga suaminya. Seandainya ada sedikit saja. Mukjizat dia pasti akan menolak dengan lantang keinginan, mertuanya untuk menikahkan suaminya dengan wanita lain.

" Kamu yakin dengan keputusan ini." Tanya Andara, Lelaki itu perlahan memutar tubuhnya dan memeluk Dian dengan erat.

" Ya aku yakin mas." Jawabnya sambil mengangguk. " Tapi Aku Pinta satu hal dari Mas." Lanjutnya sembari menengok keatas, menatap lekat wajah Andara.

" Apa itu sayang? Hmmm, katakan." Tanya Andara lagi sembari mengusap pipi Dian dan mengecup singkat bibir istrinya.

" Tolong jangan pernah berubah! Sekali pun wanita yang akan menjadi istri kamu nanti dapat memberikan kamu banyak anak." Jawabnya dengan senyum yang terlihat begitu di paksakan.

" Kenapa? Apa kamu takut aku tinggalkan! Jika itu yang kamu takutkan? Ketakutan kamu itu tidak beralasan karena sampai kapanpun aku hanya mencintai kamu, sebanyak apapun anak yang dapat wanita itu berikan kepada ku! Aku tetap akan mencintai kamu Di. Dan aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri apapun keadaannya. "Ujar Andara begitu yakin, tapi tidak di hiraukan Dian, wanita itu memilih menenggelamkan wajahnya di dada Andara.

" Bukan itu yang aku takutkan mas! Aku takut saat kamu berubah aku pun ikut berubah dan meninggalkan kamu, aku takut saat kamu berubah perasaanku pun ikut berubah sama kamu." Gumam Dion dalam hatinya.

" Baiklah, aku akan mengikuti permintaan mama! Tapi ini hanya untuk kalian berdua." Dian mengangguk.

Setelah pembicaraan mereka malam itu, pagi nya Dian langsung mengunjungi orang tuanya untuk memberitahu rencana mertuanya.

Keluarga Xavier langsung menolak dengan keras Hal itu, mamanya bahkan meminta Dian untuk bercerai dengan Suaminya. Tetapi entah bagaimana caranya mereka pun mengembalikan semuanya kepada Dian karena wanita itu yang akan menjalankannya.

.......

.......

.......

.......

...Bersambung....

...Happy reading.. 💔💔...

Hari paling menyakitkan.

Begitu Dian memberikan izin kepada Andara untuk menikah lagi, mamanya andara langsung mengatur pertemuan dua keluarga. Seorang gadis dari keluarga yang sederajat dengan keluarga mereka yang menjadi pilihan mama mertuanya itu.

Entah apa yang di janjikan Nyonya Wartika Bagaskara kepada keluarga calon menantu barunya, sehingga keluarga itu mengizinkan anaknya untuk menikah dengan Andara, yang notabenenya adalah suami dari wanita lain.

Setelah pertemuan mereka waktu itu, kini saatnya hari paling menyakitkan itu tiba. Dengan mengunakan kebaya Sabrina berwarna Dusty di padukan dengan rok kain yang di tambahkan aksen brokat yang senada dengan kebayanya. Rambutnya di tata messy middle side bun. Membuat dia terlihat begitu anggun dan mempesona di umurnya yang telah genap dua puluh lima tahun.

Ya! Tidak terasa sudah lima tahun dia menjalani biduk rumah tangga bersama Andara, suka duka telah mereka lalui bersama, dan kini di hari ini suaminya akan mengikrar janji suci dengan wanita lain selain dirinya.

Dian menatap pantulan dirinya di cermin sembari tersenyum. " Tuhan tolong kuatkan hatiku, bantu aku untuk tetap tersenyum di hari ini dan jangan engkau tunjukkan kelemahan aku di depan keluargaku." Mungkin hari ini akan menjadi hari bahagia yang kedua kalinya untuk suami dan keluarganya.

Tetapi hari ini adalah hari paling menyakitkan untuk Dian. Dimana di hari ini dan seterusnya dia harus memikirkan hati wanita lain saat di ingin suaminya tetap di samping, mulai hari ini juga dia harus belajar artinya berbagi dan belajar untuk lebih sabar lagi kedepannya.

Tok... Tok... Tok....

Suara pintu yang di ketuk dari luar membuat Dian menghentikan aktivitasnya melatih senyum di depan cermin yang menampilkan pantulan dirinya.

" Sayang, kamu Di dalam?" Tanya Andara.

" Iya Mas, sebentar." Jawab Dian, wanita itu langsung menyambar tasnya dan melangkah menuju pintu sebelum tangannya menggapai handel pintu itu dan sedikit memutarnya.

Dian tersenyum saat mendapati suaminya tengah berdiri menunggunya." Wow, kamu ganteng sekali mas. " Puji Dian sembari merapikan letak jas putih yang di gunakan suaminya.

" Terima kasih! Kamu pun tidak kalah cantiknya sayang." Sahut Andara seraya meletakkan tangannya di kepala Dian dan mengecup dahinya cukup lama dengan satu tangan yang melingkarkan di pinggangnya.

" An, cepatlah sedikit! Keluarga El pasti sudah menunggu kita." Teriak Nyonya Wartika dari ruangan tamu di bawah sana, membuat Dian menyudahi kemesraan mereka.

" Udah mas, mama udah nungguin kita." Dian mendorong tubuh Andara sedikit menjauh dan melepaskan tangannya yang melingkarkan di pinggang Dian." Ayo." Ajak Dian sambil menggenggam tangan Andara, menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai bawah. Wanita itu bahkan tidak menghiraukan tatapan protes dari suaminya.

" Kenapa lama sekali. " Tanya Mamanya Andara, begitu anak dan menantunya berdiri tepat di hadapannya.

" Maaf Ma_"

" Sudah-sudah, mama nggak mau dengar alasan kalian." Wanita paruh baya itu memotong ucapan Dian. " Ayo, nanti mama yang temani kamu di mobil. Dian biar ikut mobil belakang aja."

" Ma_"

" Mas aku nggak papa, cuma masalah mobil kan! Yang penting aku sampai di sana." Jelas Dian, agar suaminya tidak menjawab ucapan mamanya.

" Tuh Dian aja nggak papa." Sahut wanita paruh baya itu sembari berjalan lebih dulu menuju mobil pengantin yang akan membawa mereka menuju rumah istri kedua anaknya.

Satu jam kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah calon madunya Dian. Mereka di sambut dengan begitu antusias oleh keluarga calon mempelai perempuan.

Setelah semua anggota keluarga dan tamu undangan yang sengaja mereka pilih duduk di tempat masing-masing. Proses janji suci itupun di lakukan.

Dian duduk sambil meletakkan kedua tangannya, di pangkuannya. Jelas saja wanita itu kini sedang menahan dirinya agar terlihat baik-baik saja.

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

"Terima kasih sayang! kamu yang terbaik." Ucap sang suami, seraya memeluk tubuh istri pertamanya. Setelah proses itu selesai Andara dan istri keduanya menghampiri orang tua mereka dan meminta restu.

Dian yang Duduk tidak jauh dari mertuanya. Di Hampiri Andara dan lelaki itu pun tidak membuang kesempatan untuk berbicara dengan istri pertamanya dan memeluk wanita itu seperti yang di lakukannya saat ini. Ia bahkan tidak menghiraukan tatapan dari tamu undangan yang hadir.

Dian berpelukan dengan Elana, begitu Andara melepaskan pelukan mereka. Wanita yang menjadi istri kedua suaminya itu! Bernama Ellana candisa, umur wanita itu hanya terpaut dua tahun di bawah Dian." Selamat ya. " Bisik Dian sambil mengusap punggung Wanita yang biasa di panggil El itu.

" Sama-sama mbak."Sahut El, setelah sedikit berasa-basi. Dia dan Andara meninggalkan tempat duduk Dian untuk menyapa tamu hadirin yang datang. Andara memasang senyum terbaiknya. Tanpa lelaki itu tahu, hati wanitanya sakit dan hancur. Tuhan sepertinya sedang mengabulkan Doa dian, karena dia dapat memberi senyum terbaiknya! Senyum yang membalut luka.

" Kak. Kakak baik baik saja kan?" Tanya salah seorang wanita yang menghampiri Dian dan memeluknya.

" Mel, kamu juga datang! Dion mana." Wanita yang di panggil Melly itu menggeleng kepalanya. " Anak itu, sepertinya harus Kakak berikan pelajaran kepada Dia. " Sambungnya membuat wanita yang bernama Melly itu tersenyum. Dia tahu kakak iparnya itu tengah mengalihkan pembicaraan mereka.

" Mel, kamu yang sabar ya! Hadapin adik kakak! Kakak yakin suatu saat dia pasti akan berubah. " Dian berusaha untuk menenangkan dan menguatkan adik iparnya, padahal saat ini dia yang sedang membutuhkan hal itu dari orang lain. Wanita yang dulunya di titipkan oleh orang tuanya untuk di bahagiakan! Kini mulai jauh dari kata bahagia itu sendiri. Karena sampai kapanpun. Mencintai dua orang sekaligus tidak akan pernah berakhir baik. Sekeras apapun mereka mencobanya, tetap saja, ada yang akan tersakiti. Seperti yang di rasakan Dian saat ini, sebab sampai di manapun seorang wanita tidak akan pernah mau di duakan.

Setelah mengobrol cukup lama dengan Melly, wanita itu pamit kepada Elana dan Andara untuk pulang lebih dulu bersama Melly. Awalnya Andara menolak tapi karena desakan dari mamanya ia pun mengizinkan Dian untuk pulang lebih dulu.

Sampainya di rumah, Dian langsung masuk kedalam kamarnya! sementara adik iparnya nya itu telah kembali ke rumahnya.

Dian mengunci pintu kamarnya, setelah itu ia melepas kebaya dan rok yang di pakai sebelum melangkah masuk kedalam kamar mandi.

Rasa sakit yang dia tahan sejak tadi mulai Dian lepas, menangis dan menjerit sejadi-jadinya di dalam sana. Dian sesekali memukul dadanya sendiri berharap rasa itu sedikit berkurang.

Karena setegar-tegarnya Dian dalam menghadapi semua ini, sehebat-hebatnya dia dalam menyembunyikan rasa sakitnya. Bila hatinya sudah terlalu lelah dan tidak kuat untuk di ajak berdamai dengan keadaan. Maka tangisan adalah jalan keluar untuk mengurangi beban di hatinya.

Dian tidak menyangka lelaki yang dulunya membuat dia tersenyum kini lelaki itu pula yang menjadi alasan Dian untuk menangis.

.......

.......

.......

.......

...Bersambung....

...Happy reading.. 💔💔...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!