NovelToon NovelToon

Mr. Mafia

Yohanes Devan Lazar

Suara bunyi langkah sepatu terdengar begitu nyaring, lantai yang di injak telah ternoda oleh bercak - bercak darah. yang keluar dari tubuh lelaki tua dengan wajah babak belur.Kedatangannya di tempat itu membuat suasana di ruang kecil itu semakin dingin dan menegangkan. Setelah beberapa saat sebelumnya terdengar suara pekikan dan kesakitan dan suara hantaman.

Lelaki itu memiliki perawakan tubuh yang kekar, wajah yang sangat tampan namun aura yang dia keluarkan begitu menakutkan. mata tajam terfokus melihat kearah Agam, nama dari laki - laki yang telah di pukuli oleh bodyguard Devan. yang masih menunduk dalam kesakitan.

Yohanes Devan Lazar sosok laki - laki kejam yang memimpin semua perkumpulan Mafia di negeri ini. Tidak ada satupun yang bisa lepas dari genggamannya, maka beruntunglah orang yang tidak mengenal bahkan bertemu dengannya. Sekali melakukan sebuah kesalahan padanya walaupun sangat kecil nyawa bisa menjadi taruhannya.

Devan duduk di kursi yang telah di sediakan oleh anak buahnya itu, kursi yang menghadap kearah lelaki yang sudah duduk bersimpuh sambil menahan tubuhnya agar tidak roboh.

"Dasar manusia miskin dan bodoh!" umpatnya .

"Tuan, saya mohon berikan saya waktu untuk melunasinya?" ucap Agam dengan tangan yang bergetar. dia tidak berani mengangkat wajah untuk menatap Devan.

"Dengan apa kau akan membayarnya, Hah!" teriak Devan sambil menghentakkan kakinya dengan keras.

"Saya akan berusaha menyediakan uangnya asal Tuan memberi saya waktu. Tolonglah Tuan. Kali ini percayalah padaku!." pintanya sambil bersimpuh.

Devan tertawa.

"Agam, sudah berapa kali aku memberikannya waktu padamu. Nyatanya kau malah bersembunyi di rumah kecil seperti ini. Jika kau berniat membayar nya dengan rumah ini pun, aku fikir tidak akan cukup untuk melunasi betapa besarnya hutang yang kau miliki padaku," bantah Devan.

"Tolong Tuan, satu kali lagi!" Pintanya kembali.

Agam dengan cepat langsung meraih kaki Devan. Kedua bodyguard yang memperhatikan percakan Agam dengan Tuannya langsung sigap, menarik lengan Agam. Namun Devan memberikan isyarat mata agar membiarkannya.

"Tolong Tuan! Kali ini percayalah padaku! Saya berjanji akan segera melunasinya!" Pintanya sambil kembali bersimpuh.

Urat ******** Agam sudah tidak lagi dia miliki. Dia sudah tidak memperdulikan harga dirinya di bawah kaki Devan.

Devan memutarkan bola matanya ke setiap penjuru ruangan. matanya melirik ke arah sebuah foto yang terpampang di dinding tak jauh darinya. Tergambar foto seorang gadis cantik dengan senyum polosnya. Devan mempertajam penglihatannya. Kesan pertama pada gadis berwajah sangat cantik dan natural itu,membuat Devan langsung tertarik. Gadis itu terlihat berbeda dengan wanita yang selalu menjadi teman tidurnya. mereka kerap memakai make up tebal agar cantik.

Anggap aja kaya gini yah.. yang dilihat oleh Devan tentang foto cantik Rena.😄

Devan langsung mendorong tubuh Agam dengan kakinya karena Agam terus saja memegang kedua kakinya. Agam terjungkal kemudian berdiri dan mendekati foto gadis itu.

"Aku akan memberikan mu kelonggaran waktu selama seminggu. jika kau tidak bisa membayar hutangmu padaku. Aku pastikan kau akan mendapatkan imbalan yang lebih menyakitkan". sambil tersenyum menatap tajam kearah foto gadis yang tepat berada di depannya.

"Terima kasih Tuan. Saya akan berusaha untuk menyediakan uang untuk membayarnya."

Devan kemudian berjalan begitu saja meninggalkan Agam diikuti oleh bodyguardnya dan meninggalkan rumah kecil itu yang akan menjadi salah satu sasarannya untuk mengambil uang yang telah di pinjam.

Entah kenapa setelah melihat foto gadis tersebut Devan sedikit memikirnya. Hatinya dilanda penasaran ingin melihat secara langsung gadis yang berada di foto itu. keinginannya langsung terkabul. Setelah mobilnya melaju tak jauh dari rumah Agam, terlihat seorang gadis berjalan kearah berlawanan. Gadis itu mengikat rambut panjangnya dengan sembarangan terkesan acak - acakan dan berantakan bahkan jaket yang ia kenakan terlihat lusuh.

"Pelankan laju mobilnya." perintah Devan setelah posisi gadis itu sejajar dengan mobilnya.

Devan menatap tajam. Garis wajahnya yang begitu cantik dapat dilihat dengan jelas. Wajahnya yang terlihat natural dan terkesan berantakan tetap saja tidak menutupi kecantikannya. Devan menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Baru kali ini ia di buat aneh oleh gadis yang berpenampilan lusuh seperti itu.

" Kembalikan lagi kecepatan lajunya!" sambil melihat punggung gadis itu dari arah kaca spion.

*****

"Ah, bagaimana ini? aku tidak mendapatkan uang hari ini? karena sebelumnya aku telah meminta gajihku di awal pada bosku. Ayah pasti marah besar karena aku tidak memberinya uang." gerutu Rena sambil menuju kearah rumahnya.

Virkanida Rena Clarista (Rena) Seorang gadis berusia 20 tahun. Setelah tamat sekolah SMA. Rena memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Baginya, biaya yang harus di keluarkan untuk melanjutkan pendidikannya begitu besar meskipun dia mendapatkan beasiswa. Namun, kepintarannya itu tetap saja tidak bisa digunakan untuk masa depannya.

Di siang hari Rena harus bekerja sebagai pelayan di Restoran dan di malam harinya bekerja sebagai waiterss, tepatnya sebagai pelayan wanita yang bertugas mengantarkan minuman di sebuah bar. kedua tempat itu merupakan pilihan yang bisa dia jadikan sebagai ladang penghasilannya. Semua itu dilakukan Rena untuk memenuhi semua kebutuhan Ayahnya yang selalu berjudi dan mabuk - mabukkan. Rena bahkan sering kali mendapatkan siksaan bila dia tidak memberikan uang kepada Ayahnya.

Rena berjalan ragu ketika tepat berada di depan rumahnya. keningnya berkerut ketika mendapati pintunya yang terbuka lebar. Diapun berjalan cepat langsung menuju kedalam rumah.

"Ayah...Ayah!" teriak Rena.

Uhuk..uhukk..uhukk

Terdengar suara Ayahnya yang terbatuk - batuk dan Rena langsung menghampiri Ayahnya yang sedang berjalan memegang perutnya sambil berjalan teertatih - tatih dan itu langsung membuat cemas.

"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa dengan wajah Ayah? ucap Rena khawatir karena melihat wajah Ayahnya terlihat bengkak dan memar di bagian tubuh tertentu.

"Lepaskan!" tolak Ayahnya sambil berteriak dan mendorong kasar. hingga Rena hampir terjatuh

"Mana hasil kerjamu hari ini?" sambil membuka telapak tangannya.

"Maaf Ayah, hari ini aku tidak bisa memberikan uang" ucapan Rena langsung terpotong. karena Ayah Rena langsung menyelanya.

" Dasar anak tidak berguna!" sambil melayangkan tangannya kearah Rena dan 'Plak'.

Rena tidak bisa menghindar. Karena tamparan di pipinya begitu cepat mendarat. Rena hanya menjerit kecil ketika sering kali dia di pukuli oleh Ayahnya bila tidak memberikan uang.

"Hahh.. aku benar - benar putus asa. memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang untuk membayarkan hutangku pada Bos yang kejam itu," gerutu Adam sambil duduk.

"Jadi kau terluka karena renternir itu Yah..?"

"Benar, aku meminjam uang untuk biaya hidupmu. Hutangku saat ini semakin membesar dan malangnya aku tidak bisa membayarnya. Semua ini karenamu, Rena. untuk membiayai hidupmu dari kecil." ucap Sang Ayah pura - pura sedih.

"Aku minta maaf Ayah, aku berjanji akan membantu mu melunasi hutangnya." ucap Rena khawatir.

"Apa kau sanggup melunasi hutangku yang berjumlah 2 milyar?".

" Apa? Du..dua milyar! jerit luna dengan mata melotot.

"Aku akan mencari jalan agar bisa melunasi hutang itu?".

"Tapi dari mana Ayah?" ucap Rena sedikit khawatir dan bingung.

"Seharusnya kau yang memikirkannya Rena! karena aku yang telah membiayai hidupmu, aku menanggung hutang besar itu. Lakukan sebisamu untuk membantuku" ucap Ayah Rena penuh penekanan.

"Aku akan berusaha semampuku untuk membantu, Ayah". ucap Kiran.

Rena kemudian menuju dapur untuk memasukkan air kedalam baskom. Kemudian membawa kain bersih dan kotak obat untuk membersihkan luka pada ayahnya agar tidak infeksi. Walaupun Ayahnya selalu berbuat kasar namun Agam tetaplah Ayah sekaligus keluarga satu - satunya yang dia miliki.

*** Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak Typho.

Jangan lupa like, komen dan vote***.

Pelanggan VIP

Rena menaruh tas lusuhnya dan menatap cermin yang tergantung di dinding kamar, pipinya yang terkena tamparan masih memerah. Dia bersyukur karena tidak mendapatkan banyak siksaan yang lebih menyakitkan lagi. Rena merebahkan tubuhnya untuk mengusir rasa lelahnya. Jam menunjukkan pukul 6 petang dan dia memiliki waktu sebelum jam 7 malam untuk beristirahat. Di jam itu, dia harus bersiap menuju ke bar di tempat keduanya bekerja. tubuhnya bahkan tidak memiliki waktu untuk beristirahat. karena yang Rena lakukan setiap harinya hanyalah bekerja dan bekerja.

Rena memilih kerja di bar karena mendapatkan penghasilan jauh lebih besar daripada bekerja di restoran. Dia hanya mengatarkan minuman kepada para tamu tanpa harus memberikan pelayanan plus - plus. Rena tidak bisa membiarkannya dirinya terjerumus kedalam perbuatan yang hina. Hidupnya sudah cukup miskin dan tidak layak untuk di pandang semakin terpuruk saat dia melangkah ke jalan yang salah. Rena hanya berharap suatu hari nanti hidupnya bisa berubah.

"Ya Tuhan, hampir saja aku terlambat!" Jerit Rena saat ia terbangun dan terlelap sesaat

Kini Rena telah bersiap - siap dan memakai seragam yang biasa ia gunakan. Namun, dia baru menyadari di rumah yang sekecil itu tinggal seorang diri. Ayahnya entah pergi kemana dan Rena tidak memperdulikannya yang kini dia pedulikan adalah sampai di bar tepat waktu.

Dengan secepat kilat Rena langsung berlari menuju ke tempat kerja yang keduanya. Untungnya waktu yang di berikan agar sampai ke bar jaraknya hanya 10 menit. dan Rena mulai memasuki gerbang bar khusus karyawan. Dia mengisi daftar hadir kemudian menuju ke ruang penyimpanan beribu botol dan minuman yang menjadi menu andalan di bar itu.

"Hai Rena" Sapa Aldi salah dari bartender yang paling dekat dengannya.

"Hai, Kamu tau Al, Aku tadi hampir terlambat masuk," balas Rena sambil memasang Teg namanya.

"Apa kau tidak merasa kelelahan, setelah melakukan 2 pekerjaan sekaligus dalam sehari Ren?" tanya Aldi penasaran.

"Seperti yang kau lihat sekarang, Aku sangat bersemangat," jawab Rena sambil tersenyum senang.

"Tetap saja, kau harus tetap memperhatikan tubuhmu jangan sampai kau sakit" Balas Aldi terlihat khawatir.

Rena kemudian mengangguk dan berkata "Baiklah, Sekarang aku akan ketempatku dan bersih - bersih. Selamat bekerja, Al."

Kemudian Rena mulai membersihkan seluruh ruangan bar.

"Rena! kemarilah" Hendra sang atasan pemimpin bar berdiri menunggu Rena menghampirinya.

"Iya Bos" Rena langsung berlari dan langsung menghampiri atasannya.

"Jam 11 malam nanti, kita akan kedatangan tamu ruang VIP 2 dan aku memerintahkan kamu dan Dian untuk mengantarkan minuman keruangan itu." pintanya.

"Baik Bos."

"Dan ingat jangan sampai ada kesalahan!" ucap Hendra kepada Rena dan sedikit penekanan.

"Siap Bos."

Rena kemudian melanjutkan aktivitasnya membersihkan seluruh Ruangan bar. dan semakin malam para tamu mulai banyak berdatangan. Bagi Rena itu pertanda baik karena dengan banyaknya tamu yang berkunjung, banyak pula tips yang ia dapatkan juga. Meski Rena sering kali mendapatkan perlakuan yang melecehkan tapi dengan kepintarannya dia bisa mengatasinya.

Malam semakin larut dan jam sudah menunjukkan jam 11 malam. Kini Rena bersama dengan rekannya Dian mengangantarkan pesanan ke ruangan VIP 2 yang telah di booking.

"Aku sebenarnya tidak ingin melakukan pekerjaan ini bersamamu, Rena" ucap Dian sambil cemberut.

"Tapi, kau harus tetap melakukkannya karena Bos Kita yang memerintahkannya dan bukanya Aku!" jawab Rena sambil mendorong meja yang diatasnya yang sudah tertata beberapa botol minuman yang telah di pesan.

"Seperti tidak ada yang lain saja!" ucap Dian kembali

"Lebih baik kita lakukan saja pekerjaan kita dengan baik, Agar pekerjaanmu bersamaku bisa cepat kita selesaikan." jawab Rena dengan tegas.

"Huh, kau memang gadis yang menyebalkan Rena." balas Dian sedikit kesal.

"Aku akan membiarkanmu, berkata sesuka hatimu karena aku masih sangat membutuhkan pekerjaan ini." jawa Rena lagi tak mau kalah.

"Bos selalu saja memberikanmu pelanggan VIP. Sebenarnya apa yang telah kau berikan sehingga kau bisa menjadi anak emasnya, Rena?" tanya Dian penasaran dan sedikit kesal.

"Aku hanya memberikan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan bosku. hanya itu yang aku berikan kepadanya. Dan kau jangan sampai berprasangka buruk Dian!" Rena kemudian menghentikkan langkahnya dan menjawabnya dengan nada sinis.

"Bersikaplah profesional saat bekerja! Anggap saja aku tidak berada di dekatmu. itu jauh lebih baik, Agar kita bisa secepatnya menuntaskan pekerjaan kita dengan baik." ucap Rena penuh penekanan pada Dian. kemudian karena kesal pun Dian mulai menghentakkan kakinya.

Setelah mereka tak jauh berada di Ruang VIP

2, terlihat beberapa orang berbadan kekar dan berbaju serba hitam berdiri di depan ruangannya. Rena tersenyum pada salah satu lelaki berdiri di depan pintu, gadis itu memberikan isyarat akan mengatarkan minuman. lelaki itu kemudian mempersilahkan mereka masuk kedalam ruangan.

setelah memasuki Ruangan Rena meminta ijin untuk menyajikan dan menata minuman yang di pesan, tanpa memperhatikan si penghuni ruangan. Gadis itu sangat fokus pada pekerjaannya, berbeda dengan Dian yang terus selalu mencuri pandang. padahal diruangan tersebut setiap lelaki sudah memiliki pendamping wanita yang seksi dan menggoda.

"Selamat menikmati minumannya,Tuan" ucap Rena sambil tersenyum.

Namun,tatapannya terkunci pada pandangan lelaki yang duduk tepat di depannya. Rena merasa tubuhnya tiba - tiba membeku dan kaku.

"Maaf Tuan, Apa ada lagi yang ingin anda pesan? ucap Rena mencoba mencairkan suasana.

Namun, lelaki itu bukannya menjawab malah menatap tanda pengenal yang menempel pada dada sebelah kirinya.

" Kalau tidak ada lagi yang Anda pesan, Kami permisi." pamit Rena.

"Kenap terburu - buru cantik, lebih baik kau bersama temanmu itu menemani kami!" ucap lelaki yang berpakain kemeja putih, setelah itu dia langsung berdiri dan menghampiri Rena sambil menepuk bokong Rena.

Rena kaget dan langsung menjauhi pria tersebut. berbeda dengan Dian yang begitu semangat mendengar penawaran lelaki tersebut.

" Maaf Tuan, Saya tidak bisa menuruti permintaan Anda!" tolak Rena.

"Biarkan dia pergi! ini Tips dariku karena telah melayani kami dengan baik" ucap Devan.

yah laki - laki yang memperhatikan Rena adalah Devan. dan lelaki yang berbaju kemeja putih langsung mundur setelah Devan yang mengucapkannya. Devan kemudian melemparkan uang yang begitu banyak di atas meja, kemudian Dian bersemangat langsung mengambilnya.

"Hei! Tips itu bukan untukmu, berikan padanya!" bentak Devan sambil menatap tajam, tatapan yang membuat merinding siapapun yang akan melihatnya. Karena takut Dian langsung memberikan uang itu pada Rena.

"Maaf Tuan, Tapi Tips yang anda berikan apa tidak terlalu banyak? ucap Rena penuh hati - hati.

Devan tersenyum kemudian menyandarkan tubuhnya dengan santai di sandaran kursi.

"Anggap saja itu keberuntunganmu hari ini" ucap Devan

"T..Tapi Tuan.."

"Aku tidak suka bantahan! Pergilah dan ambilah Tips itu". Ucapa Devan nadanya sedikit kesal.

"B...Baik Tuan dan terima kasih" ucap Rena dengan gugup dan ketakutan.

"Apa kau tidak menginginkan Tips mu nona? Devan menatap Dian yang mulai mengikuti Rena.

"Apa anda akan memberikan ku juga Tuan?" tanyanya dengan senyum mengembang.

Devan kemudian melemparkan uang yang banyak seperti tadi dia atas meja dan berkata "Ambillah dan segera pergi dari ruangan ini."

"Baik Tuan, Terima kasih" ucap Dian dengan penuh semangat.

Mereka berdua pun keluar ruangan tersebut.

***

Devan duduk di dalam mobilnya yang terparkir dia area bar. mata tajamnya tak berhenti menatap kearah pintu yang akhir - akhir ini sedikit menyita perhatiannya. sang supir hanya bisa menatap sang Tuannya dari balik kaca spion, dia sedikit merasa aneh dengan tingkah aneh Bosnya. Karena tidak biasanya Bosnya mau menghabiskan waktu dengan percuma dan tidak berguna seperti ini. dan kini 2 jam telah berlalu tapi masih belum ada tanda - tanda untuk menjalankan mobilnya.

Jangan lupa,Like, Komen dan vote.

Kekesalan Devan

Akhirnya penantian Devan berbuah hasil dari pintu itu muncul seseorang yang berjalan ke arah parkir. Mata tajam Devan menatap gadis berjaket lusuh itu dengan intens bahkan dia memperbaiki duduknya lebih tegak agar posisinya bisa dengan jelas melihatnya. Sang sopir mengerutkan keningnya sebagai ungkapan tak percaya, 2 jam lamanya mereka lewati tanpa melakukan apapun hanya untuk melihat gadis lusuh yang bukan merupakan tipe tuannya. Sang sopir ikut menatap sang gadis lusuh itu sambil berfikir mungkin gadis itu memiliki kesalahan pada tuannya. Dia hanya perlu menunggu apa yang akan di lakukan Tuannya terhadap gadis itu.

Rena berjalan dengan langkah lunglai. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Tubuhnya mulai merasa lemas dan juga mengantuk, sehari penuh dia bekerja dan kurang beristirahat. Rena bisa tertidur saat jam istirahat. Rutinitas yang dia lakukan setiap hari, tanpa mengenal rasa lelah dan salkit di sekujur tubuhnya. Dengan tertidur hanya satu jam saja bagi Rena sudah sangat cukup untuk menstabilkan tubuhnya kembali.

Rena memiliki waktu libur sehari dalam seminggu dan jadwal liburnya di bar dia samakan dengan jadwal libur di Restoran. Agar dia bisa mengisi waktu liburnya untuk beristirahat total. Rena memerlukan sehari penuh untuk memanjakkan tubuhnya setelah setiap harinya dia gunakan untuk bekerja tanpa mengenal waktu.

Langkah Rena terhenti oleh lelaki yang menghampirinya dengan motor gedenya. Lelaki itu sangat di kenal oleh Rena yang tak lain adalah Aldi. "Minumlah ini sangat berguna untuk staminamu," ucap Aldi yang menyodorka susu murni yang di kemas dalam botol.

"Ah, Kau selalu saja memberikannya padaku. Apa kau sudah terlalu bosan meminumnya hingga kau memberikannya padaku?" ucap Rena sambil meraih botol susu itu.

"Sebenarnya aku tidak menyukai minuman, itu. tapi pekerja paruh waktu itu selalu mengantarkannya. Dan aku tidak tega menolaknya.

"Mendengar kemurahan hatimu itu, aku jadi berpikir ingin menjual sesuatu dan orang yang aku paksa membelinya adalah kamu," ucap Rena.

Kemudian mereka berduapun tertawa.

"Naiklah" pinta Aldi

"Bukankah kau akan langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui ibumu?" Rena tidak langsung menaiki motornya.

"Naiklah, Re! sebelum aku berubah pikiran" ucap Aldi

"Aku tidak enak, Al. Selalu merepotkanmu," lirih Rena

"Kenapa kau baru sekarang mengatakannya? Padahal setiap hari kau selalu merepotkanku.

"Kau ini...," Decih Rena sambil tersenyum.

Aldi turun dari motornya dan memakaikan helm di kepala atas gadis itu.

"Terima kasih," ucap Rena sambil tersenyum senang.

Aldi adalah lelaki baik yang Rena kenal. Dia juga teman semasa SMA nya , dari bantuan Aldi lah Rena bisa dengan mudah bisa di terima bekerja di sebuah bar tersebut. Hubungan di antara mereka hanyalah sebatas teman. Walaupun dulu Aldi, pernah mengungkapkan perasaanya. Tapi Rena menolaknya bukan karena tidak menyukainya, tetapi dia tidak ingin Aldi mengetahui nasibnya yang buruk. Dan buukan hanya karena alasan itu saja. Tapi Rena tahu Ayahnya pasti tak akan tinggal diam bila mengetahu Aldi sebagai kekasihnya nanti. Sehingga Rena tidak ingin Ayahnya memanfaatkan Aldi sebagai tambang emasnya. Dan memerasnya seperti yang di lakukan Ayahnya pada dirinya.

Rena juga sangat malu jika orang lain bahkan kekasihnya nanti akan mengetahui penderitaannya selama ini. Karena dirinya sering memdapatkan siksaan dari Ayah kandungnya sendiri, Saat lelaki tua itu tengah mabuk dan tidak memberikan uang padanya.Jadi untuk saat ini, pilihan yang paling bijak hanya bisa menganggap Aldi sebagai sahabatnya dan tidak lebih dari itu.

Rena langsung menaiki motor Aldi dan kemudian memeluk erat tubuh Aldi. Kemudia mereka pun hilang dari pandangan Devan yang berdecih kesal.

"Dasar wanita murahan! Aku fikir kau wanita yang berbeda, kenyataannya sama saja dengan wanita malam lainnya," lirih Devan kesal. dan masih terdengar jelas oleh sopir.

Namun, lelaki itu tidak berani berkometar karena Tuannya terlihat marah dan dia kan menjadi sasaran amarahnya.

"Lajukan mobilnya kerumah," peritah Devan dengan nada suara yang terdengar kesal.

****

Pagi ini adalah pagi yang sangat di nanti oleh Rena. Karena sehari penuh dia kan bermalas - malas di atas kasur lusuhnya. Kasur lusuh dan dekil itu merupakan singgasana terbaik baginya, tubuhnya akan dia manjakan untuk menghabiskan waktu dengan tertidur di atas ranjangnya. Namun, Rena harus keluar dari kamarnya untuk mengisi perutnya yang mulai berisik karena lapar.

Rena mulai berjalan keluar kamar dan mencari sosok lelaki yang sudah seminggu lamanya tidak ia temukan. Rena mulai membuka gorden kamar ayahnya yang terlihat lusuh dan mulai memanggilnya. " Ayah...Ayah...! panggilnya sambil masuk ke dalam kamar tapi ayahnya tak berada di dalam kamar.

"Kemana Ayah pergi? Apakah dia baik - baik saja?" gumam Rena pelan.

Rena ingat ia bertemu dengan Ayahnya seminggu yang lalu dengan wajah penuh luka dan lebam hitam bekas pukulan. " Aku selalu beraharap semoga Ayah selalu baik - baik saja," lirih Kiran khawatir.

Kemudian Rena memutuskan untuk pergi ke dapur untuk menanak nasi dan memasak telor goreng agar rasa laparnya cepat teratasi. Dan bisa tidur dengan tenang karena suara perutnya tidak akan berdemo lagi. langkah kakinya tiba - tiba terhenti saat mendengar suara pintunya terbuka dengan keras.

Braakkkk.

Dengan kaget Rena langsung menengok kearah pintu, terlihat dua orang laki - laki berjas hitam dan berbadan cukup kekar memasuki rumahnya tanpa permisi. kedatangan mereka yang tiba - tiba membuat Ren waspada. karen kedua laki - laki tersebut mulai menghampiribdirinya. " Siapa kalian?" teriak Rena.

"Dimana Ayahmu sekarang!!" ucap salah satu laki - laki tersebut dengan nada suara yang terdengar tegas.

"A...Aku tidak tahu, Karena sudah seminggu Ayahku tidak pulang kerumah," ucap Rena sedikit takut.

"Nona, lebih baik jangan pernah bermain - main dengan kami!" ucap salah satu lelaki tersebut dan mencoba menarik tangan Rena namun dengan gerakan cepat Rena bisa menghindar.

"Sungguh Tuan, aku tidak berbohong karena sudah selama seminggu ini, Ayahku tidak pernah pulang kerumah bahkan akupun benar - benar tidak tahu dimana keberadaannya selama ini. Karena dia tidak pernah memberitahuku tentang kepergiannya," ucap Rena.

Kedua laki - laki itu kemudian mulai mencari keberadaan Ayah Rena di setiap kamar tapi tak menemukan keberadaan Ayah Rena sama sekali.

"Sudah ku katakan bukan, Kalau Ayahku sedang tidak ada dirumah!! bentak Rena dengan nada suara yang mulai meninggi

Kemudian mata Rena menatap kerah seseorang yang berjalan santai memasuki rumahnya, dan salah satu lelaki yang bertubuh cukup kekar itu membawakan Kursi agar Tuannya bisa duduk. Lelaki yang berjalan santai itu, memiliki perawakan yang sama kekarnya dengan kedua lelaki tadi serta memiliki wajah yang sangat tampan dan dengan jelas Rena melihat otot mengembung dari kaos yang ia kenakan. dan menurut pandangan Rena pasti lelaki tersebut merupakan bos dari kedua lelaki yang berjas hitam itu.

Rena mulai memundurkan langkahnya dan mulai menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya sesaat laki - laki itu menatap tajam ke arah tubuhnya.

Jangan lupa like, komen dan vote. Terima kasih sudah membaca dan maaf kalau masih banyak typho

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!