NovelToon NovelToon

Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Bab 1

"Lebih cepat, Sayang!!!"

Melinda mematung di tempatnya berdiri, setelah mendengar suara seseorang dari dalam ruangan. Tangan Melinda yang sudah siap untuk mengetuk pintu tersebut, kini jatuh ke samping tubuhnya. Airmata Melinda luruh. Mengalir dikedua belah pipinya yang memerah.

"Ayo, Sayang!!!"

Suara itu kembali terdengar dan membuat hati Melinda semakin terasa panas. Jantungnya berdegub kencang, bahkan lututnya terasa bergetar, seolah sudah tidak sanggup lagi menopang beban tubuhnya.

"Cepat, Bella! Aku sudah hampir selesai,"

Suara itu, Melinda sangat mengenali suara itu. Suara laki-laki yang kini berstatus sebagai Suaminya dan Wanita yang bernama Bella itu adalah sahabatnya, yang sudah dia anggap seperti Adiknya sendiri.

Tubuh Melinda perlahan merosot. Ia bersandar di dinding ruangan sambil meratapi nasibnya. Desah*n demi desah*n yang keluar dari bibir pasangan itu terdengar semakin jelas di telinganya. Apalagi permainan mereka semakin panas didalam sana.

"Kenapa kamu mengkhianati aku, El? Bukankah kamu sudah berjanji akan selalu setia padaku." lirih Melinda sambil terisak.

Melinda sudah tidak dapat menahan emosinya lagi. Apalagi desah*n yang keluar dari bibir wanita pelakor itu semakin intens. Melinda bangkit kemudian membuka pintu ruangan itu dengan keras. Beruntung pintu ruangan itu tidak terkunci jadi dengan mudah Melinda melabrak pasangan itu.

Brakkk!!!

Sontak pasangan mesum itu menoleh kepadanya. Tubuh mereka dipenuhi cucuran keringat dan wanita tidak tahu diri itu masih mengalungkan tangannya ke leher EL. Tubuh mereka masih menempel sempurna ketika Melinda berdiri di depan pintu ruangan itu.

EL mencabut senjatanya dari area pribadi Bella kemudian dengan cepat meraih celana yang terserak di lantai ruangan itu. Sementara EL mengenakan celananya, Bella lebih memilih bersembunyi dibawah kolong meja kerja EL untuk melindungi tubuh polosnya yang masih basah dengan cucuran keringat.

"Melinda, aku ..." EL berjalan menghampiri Melinda kemudian mencoba meraih tangannya.

"Cukup! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi! Kamu sudah keterlaluan, EL. Bukankah kamu sudah berjanji padaku akan selalu setia dan menerima keadaanku apapun itu. Tapi sekarang ini apa, EL?" hardik Melinda dengan airmata yang masih setia mengucur dari kedua sudut matanya.

Melinda berjalan menghampiri meja kerja EL, tempat yang menjadi saksi bisu percintaan panas mereka. Melinda menarik tangan Bella dengan paksa dan menyuruh wanita itu untuk segera keluar dari kolong meja tersebut.

"Keluar kamu! Apa yang ingin kamu tutupi? Tubuh polos mu? Kenapa kamu harus malu, kamu bahkan tidak malu menunjukkan tubuh polosmu kepada Suamiku!" hardik Melinda.

Melinda menarik tubuh Bella kemudian mendorongnya dengan kasar. Namun, EL dengan sigap menangkap tubuh Bella kemudian meraih wanita itu ke dalam pelukannya. Melinda semakin hancur ketika menyaksikan Suaminya sendiri lebih memilih menenangkan sang kekasih daripada dirinya.

"Kalian memang pasangan yang menjijikkan! Dan kau, Bella! Sekarang kamu puas sudah merusak rumah tanggaku? Kurang apa aku sama kamu selama ini, Bella? Kamu bahkan sudah ku anggap seperti adikku sendiri," hardik Melinda sambil terisak. Setelah mengucapkan hal itu, ia bergegas keluar sambil menyeka air matanya.

"Bagaimana ini, Sayang? Melinda tidak akan pernah memaafkan aku." Bella ketakutan, wajahnya memucat menatap Lelaki yang sedang memeluk tubuhnya dengan erat.

"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Lelaki itu mengusap punggung Bella dengan lembut sembari mengecup keningnya.

"Sebaiknya cepat kenakan pakaianmu," titah Lelaki itu.

Setelah melepaskan tubuh Bella dari pelukannya, EL meraih kemeja yang berserakan di lantai dan segera mengenakannya. Begitupula Bella, wanita itu segera mengenakan Dress seksinya.

EL memanggil sopir pribadinya dan meminta lelaki itu untuk segera mengantar Bella kembali ke rumahnya. Sedangkan EL, ia ingin segera menemui Melinda dan berharap bisa menyelesaikan permasalahan mereka dengan baik. Namun, sepertinya hal itu hanya tinggal harapan.

Ketika EL membuka pintu kamarnya, ia melihat Melinda tengah berkemas. Seluruh barang-barang milik Melinda sudah tersusun rapi di dalam koper berwarna hitam. Ia menghampiri Melinda sembari bertanya. "Melinda, kamu mau kemana?"

Namun, bibir Melinda masih terkunci rapat. Bahkan tidak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. Melinda terus mengeluarkan semua barang-barang miliknya dan memasukkannya ke dalam koper.

Karena merasa tidak digubris, Lelaki itu menangkap tubuh Melinda kemudian memeluknya dengan erat. Melinda mengerang dan berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Suaminya.

"Lepaskan aku! Aku benar-benar jijik padamu, cuih!" hardik Melinda sambil meludah kearah samping.

"Okey, fine! Aku akan melepaskanmu tapi bisakah kamu bersikap lebih tenang dan dengarkan alasanku!" sahut EL kesal.

"Tidak perlu, aku sudah muak!" Melinda menyeret kopernya dengan diikuti oleh seorang Baby sitter yang bertugas merawat bayi perempuan mereka, yang masih berusia satu tahun.

"Melinda! Mel ..." teriaknya.

Namun, Melinda tidak peduli. Ia masuk kedalam mobil dan memerintahkan Sopirnya agar secepatnya meninggalkan rumah itu.

. . .

"Tenang saja, Marissa sayang! Mama akan tetap bersamamu, menjadi Mama sekaligus Daddy buat kamu. Kamu tidak perlu punya Daddy yang menjijikkan seperti dia. Dia hanya akan menjadi pengaruh buruk untukmu," tutur Melinda sambil menciumi puncak kepala Marissa kecil.

Setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya merekapun tiba didepan sebuah rumah sederhana milik Melinda. Rumah yang menjadi tempat bernaungnya ketika ia dan EL belum menikah.

...***...

Bab 2

Melinda menyeret kopernya sambil menggendong Marissa kecil. Bayi cantik yang usianya baru genap satu tahun. Dengan dibantu Baby sitter nya, Melinda merapikan barang-barang bawaannya ke dalam lemari.

"Terima kasih Ani, karena sudah bersedia menemaniku hingga di titik ini. Dimana aku sedang berada di titik paling rendah dalam hidupku," ucap Melinda sembari menangis lirih. Menangisi nasib buruknya.

Ani, sang Babysitter hanya bisa mengusap punggung Melinda dengan lembut dan mencoba menenangkan Majikannya itu.

Kini Melinda hanya menunggu waktunya saja. Ia pasti akan menjadi seorang janda dengan satu anak. Dan mungkin setelah ini, Melinda akan memilih untuk hidup sendiri. Kegagalannya dalam berumah tangga, membuat Melinda trauma.

Keinginannya hanya satu, membesarkan Marissa walaupun tanpa EL disampingnya.

. . .

18 TAHUN KEMUDIAN

"Mah, besok Marissa mau jalan-jalan sama Erika ke tempat pariwisata di Kota XX. Bolehin ya, Mah?!" ucap Marissa kepada Melinda yang masih bersandar di sandaran tempat tidurnya.

Melinda tersenyum sembari mengelus lembut pipi Marissa. "Boleh, tapi jangan lama-lama. Rumah ini sepi tanpa kamu, Sayang." sahut Melinda.

Ya, kini Marissa sudah berusia 19 tahun. Marisa tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan tubuh yang begitu sempurna, membuat orang lain iri ketika melihatnya.

Setelah lulus SMA, Marissa tidak melanjutkan kuliah karena kondisi Melinda yang sering sakit-sakitan. Kini Marissa menjadi tulang punggung keluarga kecilnya. Ia meneruskan usaha Melinda sebelumnya yaitu mengelola sebuah Butik sederhana yang menjadi sumber penghasilan mereka.

"Mah, bolehkah Marissa bertanya sesuatu hal?" tanya Marissa dengan wajah memelas menatap Melinda.

Melinda menautkan kedua alisnya sambil tersenyum manis. "Tanyakanlah,"

Marissa meraih tangan Melinda kemudian mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking wanita itu. "Tapi janji ya, Mamsh tidak boleh marah sama Marissa," ucap Marissa.

"Iya, iya ... Mama janji," sahut Melinda sambil terkekeh pelan karena merasa lucu dengan tingkah anaknya itu.

"Mah, sebenarnya Daddy dimana? Marissa ingin sekali bertemu Daddy," lirih Marissa.

Selama ini Marissa sama sekali tidak pernah tahu bagaimana dan dimana Daddy nya berada. Setelah perceraian terjadi, Melinda membuang semua benda yang berhubungan dengan EL. Bahkan Marissa sendiri tidak pernah tahu bagaimana wajah Daddynya. Melinda juga tidak pernah mengizinkan EL menjenguk anaknya walaupun EL sudah beberapa kali memohon kepada wanita itu.

"Marissa! Bukankah kita sudah sering membahas tentang hal ini? Mama tidak ingin kamu mengungkit-ungkit tentang Daddymu yang tidak bertanggung jawab itu! Sudah cukup, Marissa. Kita masih bisa hidup tenang tanpa hadirnya dia disisi kita," kesal Melinda karena ini sudah kesekian kalinya Marissa mempertanyakan dimana Daddynya.

Wajah Marissa sendu. Dia sedikit kecewa dengan sikap Ibunya yang langsung kesal saat ia membahas masalah Daddy nya. Padahal Wanita itu sudah berjanji tidak akan marah-marah padanya.

"Bukankah Mamah sudah janji tidak akan marahi Marissa?" 

Melinda meraih tangan Marissa kemudian menggenggamnya. "Maafkan Mama, Marissa. Sebenarnya Mama tidak bermaksud memarahi kamu. Tetapi jika kamu membahas tentang lelaki itu, entah kenapa rasa sakit yang dulu pernah Mama rasakan kembali terlintas di pikiran Mama. Hati Mama sakit, Marissa. Sangat, sangat sakit," lirih Melinda.

Tangan Wanita yang kini berusia 41 tahun itu bergetar. Peristiwa menyakitkan yang ia alami dulu seolah kembali ia rasakan. Ia benar-benar kecewa, bahkan sampai saat ini, ia tidak berkeinginan untuk menikah lagi.

Marissa merasa bersalah karena membuat sang Ibu kembali mengingat masa lalunya yang menyakitkan. Ia bangkit kemudian memeluk tubuh Melinda dengan erat.

"Maafkan Marissa ya, Mah. Marissa sudah membuat Mamah bersedih. Baiklah, mulai sekarang Melisa berjanji tidak akan mengungkit hal itu lagi," lirih Marissa sambil mencium pipi Melinda.

Akhirnya Melinda tersenyum sembari mengelus pipi Marissa dengan lembut. "Baiklah, Sayang. Tapi ingat janjimu, ya! Jangan pernah membahas masalah itu lagi," sahut Melinda.

"Iya, Mah! Marissa janji."

. . .

Keesokan harinya,

Marissa sudah siap berangkat menuju Kota XX. Gadis itu berjalan menghampiri Ibunya sambil menyeret barang bawaannya. Melinda terkekeh pelan melihat barang bawaan Marissa yang begitu banyak.

"Marissa, kamu itu sebenarnya mau jalan-jalan atau pindah rumah, sih?" tanya Melinda.

Marissa hanya bisa nyengir kuda. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia membawa banyak barang, tetapi ia rasa semua barang-barang itu ia perlukan.

"Mah, Marissa pamit dulu, ya!" Marissa memeluk kemudian menciumi wajah Ibunya

"Iya, Sayang ... jaga diri baik-baik dan jangan macam-macam, ingat itu!" ucap Melinda sambil mengingatkan anak gadisnya itu.

Ia tahu bagaimana kelakuan Marissa yang sebenarnya. Anak gadisnya itu sedikit nakal dan juga keras kepala. bahkan Marissa bisa melakukan apa saja demi sesuatu yang ia inginkan. Tidak peduli walaupun itu salah.

"Oke, Mah."

Marissa bergegas pergi dengan menyeret kopernya. Erika sudah menunggunya di halaman depan rumahnya.

"Ayo, Marissa! Aku sudah tidak sabar nih!" seru Erika sembari menekan-nekan klakson mobilnya agar Marissa berjalan lebih cepat.

"Baik-baik! tidak sabaran sekali sih!" gerutu Marissa.

...***...

Bab 3

Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya Marissa dan Erika tiba ditempat yang dituju. Sebuah pantai dengan pasir putih yang membentang sejauh mata memandang.

Erika sudah memesan sebuah Villa yang letaknya tidak jauh dari bibir pantai. Tempat untuk bernaung mereka selama dua hari ke depan. Kebetulan Ayah Erika adalah seorang pengusaha, jadi tidak masalah bagi Erika menyewa sebuah Villa ditempat itu. Walaupun sebenarnya biaya yang ia keluarkan cukup dalam.

"Bagaimana? Cantik, bukan?" tanya Erika sambil memperhatikan deburan ombak dibibir pantai.

"Ya, kamu benar. Tidak sia-sia aku ikut berlibur ketempat ini bersamamu," sahut Marissa sambil tersenyum puas melihat keindahan di tempat itu.

Erika menarik tangan Marissa dan mengajak gadis itu keluar dari Villa tersebut. "Kita jalan-jalan, yuk! Aku ingin lihat bule-bule yang sedang berjemur manja!" seru Erika sambil terkekeh pelan.

"Kamu benar, siapa tahu ada yang kecantol sama kita!" Marisa ikut terkekeh sembari  mengikuti langkah Erika yang berjalan beberapa langkah di depannya.

Kedua gadis itu berjalan menyusuri pantai dan mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung lain. Selain karena kecantikan mereka, pakaian minim yang sedang mereka kenakan pun menjadi pusat perhatian orang-orang.

Dengan hanya menggunakan Tank Top serta celana Hot Pants Denim, membuat mata yang melihat kearah mereka jadi terpana. Terutama Marissa yang memiliki body bak Gitar Spanyol. Lekukan dan tonjolan-tonjolan indah di tubuhnya terbentuk dengan sempurna.

Ketika kedua gadis itu tengah menikmati keindahan tempat itu sambil sesekali menggoda para Turis Asing, tiba-tiba seseorang menabrak Marissa hingga gadis itu terpental ke pasir. Marissa sangat kesal, ia menghardik orang itu sembari mengelus bokongnya yang sakit.

"Kalau jalan itu lihat-lihat! Mata ditaruh dimana, hhh kesal!!!" hardik Marissa.

"Maafkan aku, Nona. Sini, biar aku bantu!" Lelaki yang tadi menabraknya mengulurkan tangan sembari tersenyum.

Marissa menyambut uluran tangan lelaki itu kemudian menatap Lelaki itu dengan tatapan tajam menohok. Ia masih kesal dan tidak terima karena lelaki bertubuh tinggi besar itu sudah menabraknya hingga terpental.

"Kamu harus ganti rugi karena sudah membuat bokong ku sakit!" kesal Marissa sambil membuang napas kasar.

Lelaki itu melepaskan kacamata hitam yang sedang ia kenakan sambil tersenyum kepada Marissa. "Baiklah, berapa aku harus membayar kerugianmu, Nona? Sebutkan saja, aku pasti akan membayarnya," ucap lelaki itu.

"Wahhh ...!!!" seru Erika dan Marissa secara bersamaan.

Bukannya marah atau kesal, kedua gadis konyol itu malah tersenyum-senyum ketika melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Lelaki dengan wajah tampan, rahang tegas, hideng mancung, bibir yang seksi dan jangan lupakan matanya. Matanya begitu indah dan tatapan lelaki itu begitu tajam.

"Nona?!" ucap Lelaki itu sembari melambaikan tangannya didepan wajah kedua gadis konyol itu.

"Ah, iya! Tuan harus mengganti kerugianku dengan nomor ponsel mu, bagaimana?!" ketus Marissa sambil memalingkan wajahnya, berlagak jual mahal.

Lelaki itu terkekeh sembari merogoh dompet miliknya dari dalam saku celana. "Baiklah kalau begitu," ucapnya.

Lelaki tampan itu mulai memperlihatkan isi dompetnya sambil tersenyum. Marissa membulatkan matanya ketika melihat isi dompet lelaki itu. Lelaki berdompet tebal, isinya penuh dengan berbagai kartu dan juga uang tunai yang jumlahnya lumayan.

Marissa yang pada dasarnya memang terkenal dengan julukan si Cewek Matre, begitu terpukau dengan isi dompet lelaki itu. Selain itu, wajahnya pun sesuai dengan kriteria lelaki idaman Marissa.

"Ini kartu namaku." Lelaki itu menyerahkan kartu namanya kepada Marissa dan segera disambut oleh gadis itu.

"Marcello Alexander?!"

"Ya, itu namaku. Jika kamu butuh sesuatu, chat saja aku."

Lelaki yang bernama Marcello Alexander itu pun berlalu. Ia meninggalkan Marissa dan Erika yang masih terpana dengan ketampanannya.

"Ya ampun, Erika! Dia tampan sekali," seru Marissa sambil melompat-lompat kecil. Ia begitu senang karena berhasil mendapatkan nomor ponsel lelaki itu.

"Hhhh ... kamu masih sehat, 'kan?" Erika kesal, ia meraba kening Marissa yang masih bersuhu normal.

"Tenang saja, Erika sayang! Aku masih sehat! Sangat sehat!"

. . .

"Sayang, siapa Gadis-gadis itu?"

Seorang wanita cantik menghampiri Marcello kemudian memeluk lengannya sambil tersenyum tipis.

Marcello terkekeh pelan sembari menggelengkan kepalanya. "Hanya bocah ingusan yang mencoba menggodaku."

"Jangan macam-macam, Sayang! Aku akan terus mengawasimu." Wanita itu mendengus kesal sembari menekuk wajahnya.

"Apa kamu cemburu?!" tanya Marcello sembari memperhatikan ekspresi wajah kekasihnya itu.

"Ya iyalah, secara mereka itu masih sangat muda dan cantik-cantik! Apalagi gadis yang tadi kamu bantu berdiri." Wanita itu memutarkan kedua bola matanya kemudian melipat tangannya ke dada.

"Sudahlah, lupakan saja mereka. Lagi pula aku tidak bernafsu dengan bocah ingusan seperti kedua gadis itu," sahut Marcello sambil tergelak. Lelaki itu merengkuh tubuh kekasihnya kemudian mengajak wanita itu untuk kembali ke Villa mereka.

...***...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!