NovelToon NovelToon

Selir, Gairah Pria Kesepian

Memuaskan Birahiku!

💥💥💥

"Kamu mau pinjam berapa uang itu?" ketus seorang pria tanpa berbasa-basi terlebih dahulu

"Ti-ti-tiga puluh juta, Tuan." ucap gugupnya seorang gadis yang tengah duduk di sofa ruang tamu kediaman mewah tersebut. tubuhnya tampak kaku dan tegang, ditambah lagi suasananya sungguh mencekam menatap wajah datar pria gagah berkisar seusia 30 tahun itu.

Yang benar saja, batin pria tersebut.

"Ada syarat jika kamu ingin pinjaman dari saya!"

"Syarat??" gadis itu menjengit

"Ya, dan kamu tidak perlu membayar pinjaman itu dengan uang,"

Perkataannya sungguh membuat gadis ini bingung, "Lalu dengan apa, Tuan?" ia bertanya

"Memuaskan birahiku sampai waktu yang ku tentukan!"

"Apa!!" gadis itu terlonjak, sontak berdiri dengan mulutnya menganga dan sepasang netra membulat.

"Itulah syaratnya jika kamu mau mendapati pinjaman dari saya." ucapnya dengan santai, duduk dengan sebelah kaki yang terangkat ke salah satu lututnya.

"Apa maksud anda, Tuan? anda merendahkan saya, hah!" erangnya

Pria itu masih bersikap santai, wajahnya yang datar menelisik setiap lekuk tubuh gadis ini. Kulit putih, pantat yang montok dan dada yang cukup berisi, tentunya tubuh itu juga tak kalah sempurna, langsing sekali. hanya saja-penampilannya bagaikan gadis desa. namun hal itu tak ia pedulikan, yang ia inginkan sekarang adalah merasakan tubuh gadis ini.

"Saya tidak merendahkanmu, lagi pun kamu beruntung saya tidak mengadakan bunga pada pinjaman itu. ya-terserah kamu, ingin uang ini beserta syaratnya atau tidak!" ucapnya enteng

Oh, Melan! entah kenapa harus pria ini yang kau bawa! batin gadis ini

"Pikirkanlah, lagi pun saya dengan senang hati memberikanmu 50 juta." imbuh pria itu.

Gadis ini terdiam mendengarnya, uang sebanyak itu untuk apa sama mereka? yang kini ia utamakan adalah melunasi hutang rentenir yang dipinjam oleh Ibu tirinya hanya untuk sekedar berfoya-foya dengan para teman sosialitanya.

Entah dari mana Almarhum Ayah mendapati wanita itu sebagai pengganti Ibunya yang juga telah meninggal saat dirinya masih berusia dua belas tahun, hingga mengetahui sang istri kedua memiliki hutang yang sangat banyak membuat sang Ayah terkena serangan jantung dan meninggal sejak seminggu yang lalu.

Dan kini, dirinyalah yang terkena getahnya, hanya karena sang Ibu tiri yang juga membesarkannya dan rela bekerja untuk keluarga mereka, gadis itu pun harus menerima perintah dari sang Ibu untuk mencari cara melunasi hutang itu.

Sedangkan Ayahnya yang selama itu masih hidup, memang sudah terjangkiti salah satu penyakit yang membahayakan hingga ia tak bisa menjalani kewajibannya mencari nafkah untuk mereka.

"Baiklah, saya terima. tapi ada satu syarat yang saya ajukan,"

"Apa itu?" pria ini cukup tertarik

"Nikahkan saya! saya tidak ingin terjerat dalam perzinaan." tegas gadis ini, penuh keyakinan.

Sontak saja pria itu terhenyak, tubuhnya yang bersandar pada sofa, seketika tegap memandang gadis ini.

"Menikah?? kamu yang benar saja mau menikah dengan pria yang sudah beristri?" Pria itu mendelik, "Tapi menarik juga, saya menyukai itu." sambungnya

Apa? dia sudah beristri? lalu-

"Kalau Tuan sudah beristri lalu kenapa menginginkan saya untuk melakukan itu! minta saja sama istri anda, Tuan!" cercanya

"Kamu gak perlu tau kenapa saya menginginkan kamu dan tak perlu dibahas tentang istri saya! yang jelas saya terima, saya akan menikahi kamu sampai saya tidak membutuhkanmu lagi!" tegasnya, dengan pandangan yang tajam menjurus pada wanita ini.

Kenapa kata-katanya sesakit ini? bahkan aku akan dibuang setelah dipakai. lagian mana istrinya?? aneh, batinnya bermonolog, sembari pandangannya menyapu setiap sudut rumah tersebut.

"Jadi siapa namamu?"

"Chika."

"Nama lengkap?"

"Chika Putri,"

"Baiklah, saya Andrew Prasetya Yudha."

💥💥💥

Yuk favorit 'kan ceritanya, dan jangan lupa like juga komentarnya yaa 😊🙏

Ibu Tiri Matre!

💥💥💥

"Gimana! sudah dapat?" Chika yang baru saja satu langkah memasuki kediamannya, langsung di sergap Ibu dengan gayanya yang angkuh menatap Chika.

Wanita cantik itu menatap tas yang dipegang erat oleh Chika, tanpa permisi, ia langsung merebut pertahanan gadis ini dan membuka tas tersebut.

"Kosong??" Ia menatap tajam

"Sudah Chika bayar langsung ke Nyonya Rosni," tuturnya

"Apa!! semua yang tiga puluh juta itu??"

Chika mengangguk, menatap sekilas mata itu kemudian menatap ke arah lain, tepatnya sang kakak tiri yang tengah melakukan medicure pada kuku cantiknya.

"Astaga, Chika!!" wanita itu menjewer gadis ini hingga ia menggaduh kesakitan. "Asal kau tau kalau lima jutanya untukku! aku sengaja mengatakannya tiga puluh padamu!" erang wanita itu

"Ja-jadi sebenarnya 25 juta ya, Bu?" tanya Chika, gugup.

"Ya!! dasar bodoh!" wanita itu mendorong tubuh Chika hingga membentur tembok

"Aw!" ia merintih kesakitan

Disisi lain, kakak tirinya menatap sinis pada adiknya yang dihajar sang Ibu.

"Gak becus!"

"Aysha, Mami jadi gak bisa shopping gara adikmu itu!!" rengek Ibu pada putri kesayangannya

"Tinggal pinjam lagi sama Bu Rosni 'kan, Mi? gak ada payahnya," gerutu Aysha, anak gadis kandungnya

"Ah iya, kamu benar yaa ..., cerdas!"

"Siapa dulu, aku gitu loh!"

"Ibu, sebaiknya jangan, se-sebenarnya Chika ada nyimpan uang lagi." ucap Chika, ia terpaksa berkata seperti itu sebab tak ingin berurusan dengan lintah darat tersebut.

"Maksud kamu??" Ibu mendekat

"Sebentar, Bu!" Chika melenggang keluar rumah, entah kemana gadis itu pergi.

Chika menaiki sepeda motornya, bergegas menyalakan mesin motor yang selama ini slalu menemani perjalanannya. Saat ingin melajukan kendaraannya, tiba-tiba Ibu menghentikan langkah gadis itu.

"Mau kemana kamu!" gertaknya

"Sebentar, Bu. Chika ada urusan, Ibu jangan pergi dulu apalagi pinjam uang lagi." peringat gadis itu

"Pergilah!!" usir Ibunya, ia bergegas melajukan motor tersebut.

**

Chika menatap jalanan setapak yang banyak berlubang, banyak anak-anak pula yang berlari-larian hingga membuat Chika mesti ekstra hati-hati mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.

Hingga dirinya telah tiba dikediaman Melan, sahabatnya sejak sekolah. Wanita cantik itu membunyikan klakson motornya, bergegas turun dan menghampiri pintu utama tersebut.

"Chika, ada apa?" tanya Melan, gadis itu mendengar klakson dan bergegas ke depan

"Aku minta uang titipan itu lagi dong," katanya

"Hah? yakin? apa Ibu mu minta uangnya?"

"Sebenarnya sih enggak, Ibu itu mau pinjam ke Rentenir itu lagi ... jadi sebaiknya uang itu untuk Ibu ajalah," jelasnya dengan lesu.

Padahal rencana Chika uang lebih itu untuk biaya kuliahnya hingga lulus, namun takdir tidak berpihak padanya. dan menuntunnya untuk berlapang dada, mengorbankan semuanya untuk Ibu tiri yang telah membesarkannya sejak usia 13 tahun hingga 7 tahun terakhir ini.

"Kamu baik banget sih, Chik, salut aku samamu," puji Melan, gadis itu terharu dan berhambur memeluk Chika

"Hhh ... mau gimana lagi," Chika menghembus nafas dengan lesu. kemudian ia melepaskan pelukan mereka

"Aku ambil dulu yaa," Melan pamit, ia kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang tersebut.

Tak perlu menunggu lama, gadis itu pun keluar, menyodorkan amplop milik Chika padanya.

"Terima kasih yaa, aku balik dulu. takut srigala itu akan ngamuk."

"Perlu ditendang itu serigala!" seru Melan

"Makin ganas entar, hahaha" Chika tergelak. ia pun bergegas pergi menghampiri motornya sembari melambaikan tangan.

Melan adalah sahabat Chika sejak Sekolah Dasar, mereka begitu dekat dan akur layaknya saudara yang selalu saling membantu dalam keadaan susah dan senang.

Chika dan Melan kuliah disalah satu Universitas di Ibukota, fakultas yang sama yaitu Tata Boga. keduanya sangat meminati dalam masak memasak, sesuatu yang termasuk hoby dalam hidup Chika.

Chika kuliah sambil bekerja, bekerja di sebuah kafe sebagai Assisten Koki, hitung-hitung untuk mengasah kemampuannya.

Sedangkan Melan, ia sambil bekerja di kantin Perusahaan Yudha Group. walau namanya kantin, tapi jangan salah! gajinya juga lumayan besar hampir setara dengan Cleaning Service.

Dan Melani 'lah yang mengusulkan kepada Chika untuk meminjam uang pada pemilik Perusahaan tersebut, Andrew Prasetya Yudha. sebab yang Melan tahu, Kepala kantin pernah meminjam sejumlah uang untuk anaknya yang akan di operasi.

💥💥💥

Ayo klik Like, dan komentarnya yaa 😉

Kita Menikah Hari Ini

💥💥💥

Pagi menjelang begitu terik, terlihat dari sang cakrawala menyemburkan cahaya sinar mentarinya yang begitu menyengat di kulit. pagi ini setelah mengurus rumah hingga lelah menerpa, dengan semangat yang terpaksa di tunjukkan, Chika bergegas untuk ke kampus. namun, ia lebih dulu menjemput sahabatnya, Melan, ke rumah perempuan itu.

Hiruk piruk jalanan Kota Jakarta mereka lalui dengan semangat pada pagi itu, memacu adrenalin saat Chika membawa motornya dengan laju menyalip ratusan mobil yang terjebak kemacetan kala pagi tersebut.

Melan bersorak dibelakangnya, seolah mereka berhasil lolos dari jebakan macet yang mengesalkan setiap orang. Hingga salah seorang yang berada di salah satu mobil tampak menyipitkan mata, bisa-bisanya si pembawa motor sebarbar itu dalam berkendara.

"Apa masih lama lagi ini?" tanyanya dengan tak sabar pada sang Assisten Pribadi

"Maaf, Tuan, sepertinya ada perbaikan jalan di depan." jawabnya, dengan sepasang mata terus menilik lebih dalam pada jalanan di depannya.

"Ck!" ia berdecak. "Mulai sekarang cari rute yang tanpa hambatan!"

"Baik, Tuan."

Disisi lain, Kedua gadis itu telah tiba di Kampus yang mereka tempuh. seperti biasa, keduanya selalu masuk pagi hingga menjelang siang. mengingat saat tengah hari keduanya harus kembali pada dunia kerja.

Tak berapa lama dosen pun masuk, seluruh Mahasiswa tata boga harus memulai awal baru dengan teori hingga berujung pada praktek.

Disaat Chika tengah memperhatikan Dosen dalam menerangkan, tiba-tiba Chika merasakan ponselnya bergetar dari dalam tas yang ia taruh diatas meja.

Tanpa sepengetahuan Dosen, Chika segera merogoh benda pipih itu .

Gadis ini mengernyit heran, nomor tanpa nama tengah memenuhi layarnya.

"Siapa yaa?" gumamnya, masih memandang layar itu.

Chika yang tidak ingin mempedulikannya, menolak panggilan tersebut. namun sial, nomor itu kembali mengganggunya.

"Hallo, siapa yaa?" tanya Chika, memelankan suaranya

........

"Hhh ... maaf, saya masih ada kuliah,"

........

"Ya, baiklah." Chika memutar bola mata, jengah. Hingga panggilan tersebut diputuskan secara sepihak oleh orang tersebut.

"Siapa?" tanya Melan, ia turut memperhatikan Chika tadi

"Orang gila!"

"Hah??"

"Sssstttt!!" Chika menyuruh Melan untuk diam saja, kembali memerhatikan dosen hingga mereka semua mulai melakukan praktikum memasak.

***

Hari pun sudah semakin siang, hari pertama awalan baru setelah weekend telah mereka lalui dengan lancar dan ilmu yang bertambah. Fakultas ini memang tidak membosankan bagi yang hobby dalam masak memasak, praktikum membuat semuanya terasa menyenangkan dan melatih kemampuan dalam berkarya dan meracik sesuatu.

Seperti biasa, sebelum ke kafe tempat ia bekerja, Chika lebih dulu mengantarkan Melan ke Yudha Group.namun untuk hari ini gadis itu tidak langsung pergi, melainkan ia ingin menerobos masuk ke dalam lobi.

Hal itu membuat Melan mengernyit heran.

"Chika, kamu mau ngapain?" teriak Melan, saat wanita itu ingin masuk ke dalam gedung tersebut

"Ah iya, aku lupa. mau nemuin bosmu yang datar itu,"

"Ohya?? masalah uang itu?"

"Begitu deh, aku masuk dulu. kamu lanjuti pekerjaannya ya,"

"Oke deh." dan sahabat karib itu pun berpisah arah saat itu juga.

Chika terpana melihat area dalam gedung tersebut, desain modern yang begitu melekat pada tubuh gedung tersebut. lantai marmer yang begitu bening, jelas sekali pekerjanya tekun sekali. Chika terpana sebentar, namun sejurus itu ia kembali sadar dan menanyakan letak ruang Presdir kepada salah seorang Reseptionist.

Kini Chika berada di depan ruangan itu, setelah mendapat izin dari sang Sekretaris, Chika pun mengetuk pintu itu beberapa kali.

"Masuk!!" teriak seseorang dari dalam.

Chika memberanikan diri mendorong pintu tersebut, hingga tatapannya berpaku pada sesosok pria dingin nan datar tengah sibuk dengan dokument di mejanya.

"Per-permisi."

"Ya, kemarilah!"

Galak sekali dia, batin Chika.

Gadis itu pun mendekat, hingga tubuhnya telah berada dihadapan pria tersebut.

Pria itu menghentikan sejenak kegiatannya, matanya menatap lekat wujud Chika yang teramat cantik pada hari itu.

"Oke baik, intinya saja, maghrib nanti kita akan menikah dan jam istirahat nanti kamu harap mengikuti Assisten saya ke Butik untuk fitting baju!" ucapnya tanpa basa basi, tentunya dengan wajah datar pria itu tanpa ekspresi.

Sontak saja Chika terkejut mendengar penuturan pria itu.

"Apa? maghrib nanti??"

"Ya! dan saya harap keluargamu berlekas siap untuk hadir. Assisten saya akan menjemput kamu nanti sore."

"Ta-tapi itu cepat sekali, malah saya harus bekerja setelah ini."

"Tidak ada pekerjaan! Assisten saya sudah mengajukan resign untuk kamu." tegasnya

Chika kembali terhenyak. matanya membulat dan tanpa permisi ia langsung menduduki tubuhnya di kursi tamu depan meja Presdir.

"Apa-apaan anda, Tuan! kenapa selancang itu tanpa persetujuan dari saya!" berang Chika, menepuk meja dengan pelan.

💥💥💥

Visual tokoh utama:

(Chika Putri)

(Andrew Prasetya Yudha)

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!