NovelToon NovelToon

Two M. Son Of Mafia And His Angel 2

Marline Miller Sang Pembunuh Bayaran

#SUPAYA PAHAM, BACA TWO M SON OF MAFIA SEBELUMNYA#

New York City 15.00 PM.

Di sebuah gedung yang menghadap jalanan Manhattan, seorang wanita cantik tampak menaiki gedung dengan santai sambil menenteng sebuah tas besar.

Sebuah name tag terpasang di kemeja yang dia pakai dan sebuah kaca mata dia gunakan. Setiap orang yang melihatnya tidak mencurigainya sama sekali bahkan setiap yang melihatnya menyapanya dengan ramah.

Wanita itu melihat sekelilingnya dan setelah merasa aman, dia segera keluar dari pintu darurat. Dia mulai menaiki anak tangga sambil meniup permen karet yang ada di mulutnya. Hari ini dia mendapat misi penting sehingga dia menyamar menjadi salah satu Manajer yang bekerja di tempat itu.

Tentunya semua sudah disiapkan agar penyamarannya tidak terbongkar dan hari ini dia harus cepat menyelesaikan misi karena ada acara penting yang harus dia hadiri.

Wanita itu adalah Marline Miller, dia adalah seorang pembunuh bayaran profesional dan dia adalah seorang ahli peretas. Marline baru berusia dua puluh lima tahun dan putri pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Aaron Miller dan Grace Miller.

Kedua oranguanya tidak tahu jika Marline Miller seorang pembunuh bayaran karena Marline merahasiakan hal ini dari keluarganya.

Marline memiliki dua adik yang manis. Satu adik laki-laki dan satu lagi adik perempuan. Adik laki-laki berusia sepuluh tahun dan adik perempuannya berusia tujuh tahun.

Tugas yang dia dapat hari ini adalah membunuh seseorang yang berada tidak jauh dari gedung itu.

Lokasi gedung yang strategis akan memudahkannya membunuh target dan dia akan memulai aksinya dan setelah itu dia akan menghapus jejak. Marline sudah tiba di atap gedung, dia segera meletakkan tas yang sedari tadi dia bawa dan mengikat rambutnya ke atas.

Dia bahkan membuka kaca mata yang dia pakai dan setelah itu, Marline membuka tasnya untuk mengeluarkan alat-alat dari dalam sana.

Sebuah laptop dia ambil pertama kali dan dia segera menyalakan benda itu. Sambil menunggu, Marline mengambil sebuah teropong dan berjalan menuju sisi gedung karena di akan menembak targetnya dari tempat itu.

Gedung itu tidak terlalu tinggi dan jarak target juga tidak terlalu jauh. Target yang harus dia bunuh adalah seorang pria tua dan saat itu, targetnya sedang berbincang dengan seseorang di sebuah Cafe.

Setelah mengintai target, Marline kembali ke laptopnya yang sudah menyala. Jari lentiknya mulai bermain di keyboard laptop dan dia meniup permen karetnya sesekali.

Dia sedang mengacaukan cctv yang terdapat di gedung itu karena dia tidak boleh ketahuan. Setelah target mati maka dia akan pergi dari tempat itu dan tentunya dia akan menghilangkan jejaknya kembali.

"Come on guys, aku ada acara penting setelah ini," gumam Marline sambil mengunyah permen karetnya.

Jarinya terus bermain dengan cepat di keyboard laptop dan beberapa detik kemudian, dia tampak puas karena cctv di gedung itu sudah kacau.

Satu pekerjaannya sudah selesai dan sekarang dia harus bersiap menembak taget. Marline kembali melihat targetnya yang masih mengobrol dengan santai. Dia segera mengambil senjata api laras panjangnya dari dalam tas dan setelah selesai memasang benda itu, Marline melihat target lagi sambil berjongkok di atas lantai.

Matanya fokus pada teropong senapan karena begitu target keluar, dia harus langsung menembak dan membunuh target dalam satu kali tembakan.

Sebuah earphone juga terpasang di telinga Marline dan pada saat itu, seseorang menghubunginya. Marline segera menekan tombol yang ada di earphone. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya ketika mendengar suara orang yang berbicara dengannya.

"Sayang, dua jam lagi acara pernikahan kita akan dimulai, di mana kau saat ini?" tanya calon suaminya.

Ya, dia akan menikah hari ini dan ini adalah misi terakhir yang akan dia lakukan karena setelah ini dia akan mengikuti suaminya pergi ke Belanda.

"Aku pasti akan datang tepat waktu, tunggulah," jawab Marline seraya melihat target yang telah bangkit berdiri dan terlihat sedang bersalaman dengan lawan bicaranya.

"Oke, aku harap kau tidak terlambat, Sayang."

"Jika aku terlambat maka kau boleh menghukumku," ucap Marline dan calon suaminya terkekeh.

Pembicaraan mereka berakhir dan Marline kembali fokus pada target yang masih belum keluar dari Cafe. Dia tidak ingin menembak sekarang karena jika dia membunuh pria itu maka pelurunya akan menebus dinding kaca yang menjadi dinding cafe.

Dia ingin membunuh target tanpa ada keributan dan setelah itu dia akan pergi dengan santai.

"Come on, pria tua. Cepatlah kau keluar," guman Marline dengan tidak sabar.

Marline membuang permen karetnya yang sudah terasa hambar dan matanya benar-benar fokus pada target. Sepuluh menit telah menunggu akhirnya targetnya keluar, mata Marline semakin fokus dan jarinya sudah berada dipelatuk senjata apinya.

Sang target berpisah dengan rekan bicaranya dan dia berdiri di depan cafe dan terlihat menunggu sesuatu.

Ini kesempatan jadi tanpa membuang waktu, senjata api ditembakkan dan sebuah peluru melesat dengan kecepatan tinggi menuju targetnya. Marline masih mengintip dan tidak lama kemudian, targetnya tumbang karena peluru yang dia tembakkan melubangi kepala targetnya.

Kehebohan mulai terjadi di bawah sana, sedangkan Marline tampak begitu puas. Marline meletakkan senjata apinya di atas bahu dan tersenyum.

"Mission complete, waktunya ke acara pernikahan," ucapnya.

Marline segera bergegas karena dia tidak mau terlambat ke acara pernikahannya sendiri. Dia juga harus berdandan supaya terlihat cantik jadi sebaiknya dia bergegas tapi sebelum itu dia harus memberi laporan jika misi terakhirnya sudah selesai.

Barang-barangnya kembali dimasukkan ke dalam tas dan Marline segera menghubungi seseorang.

"Misi terakhirku selesai. Kirimkan uangnya ke rekeningku dan setelah itu jangan cari aku lagi karena aku sudah mengundurkan diri dari organisasi," ucap Marline.

"Tidak perlu khawatir, kau akan mendapatkan uangmu secepatnya," terdengar suara seoarng pria yang sedang berbicara dengannya.

"Terima kasih, senang bekerja sama denganmu," ucap Marline. Dia segera mematikan ponsel-nya dan melangkah pergi.

Dari tempat lain pria yang baru saja berbicara dengannya meletakkan ponsel-nya ke atas meja di mana seorang wanita cantik sedang duduk di sana sambil menggoyangkan kaki indahnya dan menghisap sebatang rokok yang ada di mulutnya.

"Bagaimana?" tanya Wanita itu.

"Dia adalah pion kita untuk balas dendam, Sayang. Tentu dia tidak akan pergi ke manapun."

"Jadi? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Wanita itu.

Sang pria bangkit berdiri dan mengeluarkan dua buah koper kecil. Dia juga meletakkan koper itu ke atas meja dan membuka tutup koper untuk memperlihatkan isinya.

"Kita akan beraksi sebentar lagi dan anak buahku sudah siap. Kita akan menjadikan Marline pion kita yang berharga untuk tujuan kita dan membunuh mereka semua. Dengan begitu, dendammu pasti akan terbayar, sayang."

"Aku benar-benar sudah tidak sabar melihat kehancuran mereka," ucap wanita itu seraya melihat salah satu isi koper dengan penuh kebencian.

"Kita akan menghancurkan mereka jadi ayo kita bergegas untuk menjemput pion kita."

Sang wanita mengangguk dan turun dari atas meja. Api rokok dipadamkan dan dia segera mengambil sebuah pistol dan melihatnya.

"Kalian semua, tunggu kedatanganku dan aku akan menghancurkan kalian semua!" ucap wanita itu dengan penuh kebencian.

Mereka segera pergi bersama dengan anak buah mereka dan tentunya, dua koper mereka bawa karena mereka akan menggunakan isi koper itu saat beraksi.

Siapakah mereka berdua dan siapa yang dimaksud oleh wanita itu?

Hancurnya Pesta Pernikahan

Marline sudah tiba saat waktu menunjukkan pukul empat sore. Dengan terburu-buru, Marline memasuki gedung di mana dia akan mengucapkan janji suci dengan sorang pria yang dia cintai.

Johan adalah kekasih yang dia pacari sejak tiga tahun. Dia juga tahu pekerjaan yang sedang digeluti oleh Marline dan Johan tidak keberatan sama sekali.

Mereka memutuskan untuk menikah dan dia akan membawa Marline tinggal di Belanda. Dia juga sudah meminta Marline untuk berhenti dari pekerjaannya dan Marline menyetujui hal itu.

Untuk menutupi identitasnya dan mengelabui keluarganya, Marline bekerja paruh waktu di sebuah cafe. Dia dan Johan bertemu di sana dan mereka memutuskan untuk menjalin hubungan dan sekarang, mereka akan menikah.

Marline berlari menuju ruangan yang sudah disiapkan karena dia harus berdandan dan mengganti bajunya sebelum acara pernikahannya dimulai.

Begitu melihat Marline, Grace Miller menggeleng. Dia sudah menunggu putrinya sedari tadi dan tampak cemas.

"Marline, ini hari pernikahanmu tapi kenapa kau baru datang?"

"Sorry, Mom. Ada hal penting yang harus aku lakukan," jawab Marline seraya meletakkan tas yang dia bawa.

"Hal apa yang lebih penting dari pada pernikahanmu?!"

"Mom," Marline mendekati ibunya dan mencium pipinya.

"Aku sudah datang jadi bantu aku mengganti pakaianku. Aku tidak ingin membuat Johan menunggu," ucap Marline.

"Baiklah, sebentar lagi acara pernikahanmu akan dimulai, ayo bergegas," ucap ibunya.

Grace segera membantu putrinya untuk berganti pakaian. Sebuah gaun indah yang dipenuhi batu permata akan Marline kenakan hari ini. Seorang perias juga sudah siap untuk mengoles wajahnya supaya terlihat semakin cantik.

"Di mana yang lain, Mom?" tanya Marline ketika ibunya sedang mengikat tali gaun yang ada di belakang.

"Kedua adikmu sedang bermain dan Daddy sudah menunggu sedari tadi," jawab ibunya sambil menarik tali gaun.

"Jangan terlalu kencang, Mom. Aku akan kesulitan bernapas," pinta Marline.

"Baik, Sayang, tapi dengarkan Mommy," Grace melangkahkan kakinya dan berdiri di depan putrinya yang sudah terlihat cantik.

"Johan pria yang baik dan kau sangat beruntung bisa bertemu dan menikah dengannya," ucap ibunya seraya memegangi kedua pipi putrinya.

"Mommy benar, aku memang berutung," jawab Marline sambil tersenyum.

"Jadi dengarkan nasehat Mommy. Jadilah istri yang baik bagi Johan dan ibu bagi anak-anaknya. Mommy tidak bisa mengikutimu ke Belanda jadi jaga dirimu baik-baik di sana. Mommy harap kau selalu bersama dengan Johan dalam suka maupun duka."

"Pasti, Mom. Aku akan mendengarkan nasehat Mommy dan menjadi istri yang baik bagi Johan," Marline memeluk ibunya dan tersenyum.

Setelah ini tangannya tidak akan berlumuran darah lagi dan dia akan menjadi istri yang baik bagi Johan tapi sayangnya, dia tidak akan pernah menyangka apa yang akan terjadi selanjutnya karena sekelompok orang sedang menuju tempat itu dan hampir tiba.

Acara pernikahannya sudah hampir dimulai. Marline sudah terlihat cantik luar biasa dan Johan sudah menunggunya.

Marline dan ibunya keluar dari ruangan, sedangkan ayahnya sudah menunggu. Senyum Marline terus mekar karena dia benar-benar bahagia.

Aaron Miller sudah siap untuk membawa putrinya menuju altar. Sebuah buket bunga berada di tangan Marline dan dia juga sudah mengandeng tangan ayahnya,

Johan sudah menunggu di dalam dan terlihat tampan, dia sudah tidak sabar melihat calon pengantinnya masuk ke dalam ruangan.

Musik pernikahan dimainkan dan pintu terbuka, para tamu undangan menyambut kedatangan pengantin wanita yang terlihat cantik luar biasa. Senyum Marline semakin mekar ketika dia menginjakkan kakinya dan melangkah masuk.

Johan melihatnya tanpa berkedip karena Marline terlihat begitu luar biasa saat ini. Marline melangkah dengan perlahan menuju altar, sedangkan di luar sana, sekelompok orang sudah tiba dan mereka mengambil senjata laras panjang mereka dari dalam mobil.

Beberapa alat peledak juga mereka ambil karena mereka akan meledakkan tempat itu untuk menghilangkan bukti. Mereka segera bergegas masuk dan menembaki penjaga gedung menggunakan senjata api kedap suara mereka.

Mereka terus menyergap masuk dan membunuh siapa saja yang mereka lihat dan menembak cctv yang ada di tempat itu. Sebagian dari mereka menyebar untuk menyimpan alat peledak di setiap sudut ruangan sementara di dalam ruangan, Marline sudah berdiri di depan altar siap mengucap janji suci bersama Johan.

Mereka sudah akan mengucapkan sumpah mereka dan orang-orang yang akan menghancurkan pernikahan mereka sudah berada di depan pintu yang tertutup.

Seorang Pendeta sudah memberi pertanyaan untuk Johan dan tanpa ragu Johan mengucapkan sumpah setianya. Marline begitu bahagia dan sekarang gilirannya, sang Pendeta juga mulai bertanya kepada Marline dan Marline siap mengucapkan janji setianya tapi keinginannya terhenti karena tiba-tiba saja, pintu ruangan terbuka.

Ucapan Marline terhenti dan dia segera melihat ke arah pintu begitu juga dengan Johan dan para tamu yang ada di sana.

Sekelompok orang membawa senjata laras panjang menyergap masuk dan seorang wanita dan pria menjadi pemimpin mereka.

"Sorry Dear, kau tidak akan menikah hari ini," ucap pria yang berjalan masuk bersama dengan wanita yang tidak Marline kenal bahkan pria itu juga tidak dia kenal.

"Siapa kalian?" teriak Johan dan Marline merasa itu bukan hal yang bagus.

"Tutup pintunya dan habisi mereka semua!" perintah sang wanita dan pintu langsung tertutup.

"Johan, ayo lari!" ajak Marline tapi sayang sudah terlambat.

Tembakan yang beruntun mulai terdengar, teriakan para tamu juga terdengar. Marline mengangkat gaun pengantinnya dan menarik dua pistol yang dia sembunyikan di pahanya. Dia mulai menembak sekelompok orang itu tapi dia mengalami kesulitan karena para tamu undangan yang berlari sana sini.

"Ada apa ini, Marline?" tanya Johan.

Saat itu mereka bersembunyi di belakang sebuah meja yang digunakan untuk meletakkan buku dan microfone.

"Aku tidak tahu!" jawab Marline dan dia menembak orang-orang itu dari persembunyiannya.

Korban terus berjatuhan karena para tamu bagaikan burung dalam sangkar yang tidak bisa lari ke manapun. Teriakan dan bunyi senjata saling bersahutan memenuhi ruangan itu dan korban terus berjatuhan.

Marline mengintip melihat pria yang menjadi pemimpin kelompok, suara terdengar tidak asing tapi dia tidak mengenal wajahnya dan wanita itu, tidak dia kenal sama sekali.

"Ayo kita pergi, Marline," ajak Johan ketika dia melihat sebuah pintu keluar.

"Kau jalan dahulu aku akan menembak mereka!" perintah Marline, sedangkan Johan mengangguk.

Mereka berlari melewati para tamu yang tersisa menuju pintu keluar. Tamu yang tadinya ratusan orang kini tinggal puluhan kerena sebagian dari mereka, sudah bersimbah darah di atas lantai. Dewasa atau anak-anak, semua mati dibunuh di tempat itu.

Marline berlari di belakang Johan dan terkadang menembak, dia tahu peluru dalam pistolnya tidak akan cukup tapi dia berharap dia dan Johan bisa mencapai pintu keluar dan pergi.

Dor! Dor! Dor! Dor!

Empat tembakan dia lepaskan untuk menembak dua orang musuh yang sedang menembaki para tamu. Peluru melesat dengan kecepatan tinggi mengenai dua orang itu tapi naas, beberapa orang menghujani mereka dengan timah panas.

"Tidak, Marline!" teriak Johan dan dia memeluk Marline untuk menghalangi peluru-peluru yang ditembakan ke arah mereka.

Mata Marline melotot karena Johan menjadi perisainya, puluhan peluru bersarang di tubuh Johan dan darah segar mengalir dari tubuh dan mulutnya.

"Jo-Johan," suara Marline bergetar saat dia menyentuh pakaian Johan yang basah.

Marline mengangkat tangannya dan melihat darah memenuhi telapak tangannya.

"Ti-tidak, Johan."

"Per ... gi!" ucap Johan dengan lemah.

"Tidak, Johan. Aku tidak mau!" Marline menggeleng dan air matanya mulai mengalir.

"Pergi Marline, pergi. Selamatkan dirimu," dengan tenaga yang tersisa, Johan mendorong tubuh Marline dan setelah itu tubuhnya ambruk ke atas lantai.

"Johan, hiks ... tidak!" Marline melangkah mundur sambil melihat tubuh Johan yang sudah tidak bernyawa di atas lantai.

"Tangkap dia jangan sampai lepas!" terdengar sebuah teriakan dan beberapa orang mulai mendekati Marline sambil mengarahkan senjata apinya.

Marline masih melangkah mundur, ternyata mereka menginginkannya. Tapi siapa mereka? Pintu darurat masih cukup jauh dan bisa dia hitung peluru pistol-nya yang tersisa saat ini hanya 3. Ditangkap mereka atau mati di tempat itu, hanya itu pilihannya.

Marline mengangkat pistolnya dan menatap seorang pria dan wanita yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum.

"Siapa kalian?" tanya Marline.

"Ayo ikut kami baik-baik maka kami tidak akan melukaimu!" ucap si wanita.

"Jangan harap aku akan mau!" teriak Marline.

Tanpa membuang waktu Marline menembak wanita itu tapi sayang dia menghindar. Wanita itu sangat marah dan menembakkan senjata apinya ke arah Marline.

Marline bersalto ke belakang beberapa kali dan wanita itu semakin kesal. Dia memerintahkan anak buahnya untuk menembak dan dalam sekejap mata saja Marline sudah dihujani dengan puluhan timah panas.

Marline berlari untuk menghindari peluru tapi gaun pengantin yang dia pakai benar-benar menyulitkannya untuk bergerak bebas.

"Hei, berhenti! Kita menginginkannya hidup-hidup!" ucap si pria.

"Cih, lupuhkan dia!" perintah wanita itu.

Anak buahnya bergerak, sedangkan Marline sudah terpojok karena peluru senjata apinya sudah habis. Marline berlari menuju pintu darurat tapi sayang pada saat itu, dua peluru yang ditembakkan oleh si wanita melesat dengan cepat dan mengenai punggung Marline.

Marline terkejut dan terjatuh ke atas lantai. Dia berusaha bangkit berdiri tapi lagi-lagi sebuah peluru mengenai bahu kirinya.

Tubuhnya terasa sakit akibat tembakan dan mungkin saja ini adalah kematiannya. Tubuh Marline ambruk ke atas lantai dan dia masih bisa melihat pria dan wanita itu berdiri di depannya sambil tersenyum.

"Dia tidak akan mati hanya karena tiga tembakan," ucap Wanita itu.

"Bawa dia ke rumah sakit dan kita harus bergegas pergi sebelum polisi datang dan hancurkan tempat ini."

"Bos," Seorang anak buahnya menunjuk sesuatu.

"Bersihkan dan bawa!" perintahnya.

Mereka segera pergi membawa Marline, sedangkan semua tamu sudah besimbah darah di atas lantai dan tempat itu menjadi lautan darah.

Mobil mereka bergerak dan setelah jarak mereka cukup jauh dari gedung, beberapa tombol ditekan.

Duaarrrrrr ....!!! Duuaarrrrr ....! Duuaaarrrrr ....!

Tiga ledakan dahsyat terjadi dan meluluhlantakkan tempat itu yang pasti, tidak akan ada saksi dan tidak akan ada bukti yang akan menjerat mereka dan korban yang jatuh berjumlah ratusan orang.

Topeng yang digunakan pria itu dibuka dan sebuah koper juga di buka. Sebuah serum dikeluarkan dan dalam keadaan tidak sadarkan diri, serum disuntikkan ke tubuh Marline dan mereka membawanya pergi.

Lost Memory

Di sebuah ruangan, tiga orang sedang menyusun sebuah rencana dengan serius. Mereka terdiri dari dua pria dan yang satunya wanita.

Yang wanita dan satu pria adalah orang yang menghancurkan pernikahan Marline tapi yang satu pria lagi adalah orang yang menemukan wajah Matthew sewaktu anak buah Thomas membuangnya di stasiun kereta.

Dialah yang memberikan topeng wajah Matthew pada mereka untuk digunakan ketika beraksi. Mereka benar-benar berutung karena disaat mereka ingin balas dendam, mereka menemukan sesuatu yang tepat untuk digunakan.

Sepertinya Dewa kegelapan sedang bersama mereka saat ini. Mereka menginginkan Marline sebagai pion mereka bukan tanpa alasan, itu dikarenakan Marline adalah seorang pembunuh bayaran dan yang membuat Marline menjadi pion mereka yang paling berharga adalah, dia seorang ahli peretas.

Dengan kemampuan yang Marline punya, dia dapat melawan musuh mereka. Dia bisa mereka gunakan untuk menjadi panyusup dan mengambil sesuatu yang mereka inginkan jadi sekarang, mereka sedang menyusun sebuah rencana untuk Marline lakukan setelah dia sadar nanti.

Sudah tiga hari Marline belum juga sadarkan diri dan selama itu, sudah beberapa kali mereka menyuntikkan serum ke tubuh Marline dan hari ini adalah serum terakhir.

Mereka bahkan membawa Marline ke laboratorium pribadi mereka setelah luka akibat tembakan yang ada di bahu Marline diobati. Mereka tidak mau ada yang tahu jika mereka akan memberikan serum untuk Marline.

Serum itu akan membuat Marline lupa dengan kejadian yang dia alami. Mereka harus melakukan hal itu agar mereka bisa memanfaatkan Marline dengan baik dan tentunya tanpa perlawanan.

Si wanita menghampiri kedua pria yang sedang berbincang. Yang satu adalah kekasihnya dan yang satu sahabat mereka. Mereka bertiga memiliki dendam dengan orang yang sama jadi itulah sebabnya mereka memutuskan bekerja sama untuk balas dendam.

"Bagaimana, apa kalian sudah mendapatkan ide bagus?" tanya si wanita.

"Sabarlah Celline Sayang, kita harus membuat rencana yang matang agar rencana kita tidak boleh gagal," ucap Joan kekasihnya.

"Baiklah, apa kau punya rencana bagus , Zain?" Celline bertanya pada pria yang satunya.

"Tentu saja, serahkan padaku. Aku akan menyuntikkan serum terakhir ke tubuhnya dan aku yang akan berbicara dengannya ketika dia sadar nanti," jawab Zain.

"Bagus! Setelah kau menyakinkannya kita akan langsung mengutusnya pergi ke California dan aku akan mengawasinya dari dekat," ucap Celline.

"Kau akan ke sana?" tanya Joan.

Celline mengangguk dan tersenyum, tentu dia akan ke sana tidak lama lagi dan tentunya dia akan mengawasi Marline dari dekat.

Zain bangkit berdiri karena sudah saatnya menyuntikkan serum terakhir ke tubuh Marline. Sebuah kotak kecil dia bawa di mana sebuah jarum suntik dan sebotol serum berada di dalam kotak itu.

Zain melangkah masuk menuju sebuah kamar di mana Marline sedang terbaring dan belum sadarkan diri.

Pintu ruangan terbuka dan Zain masuk ke dalam. Kotak yang dia bawa diletakkan di atas sebuah meja. Zain melihat Marline sambil mengeluarkan jarum dan serum.

Wanita yang cantik tapi sayang, dia harus menjadi pion mereka. Jika misi balas dendam sudah selesai, mungkin dia bisa memanfaatkan Marline tapi sebaiknya dia tidak mengambil resiko yang bisa mengacaukan rencana mereka.

Jarum disuntikkan dan serum terakhir masuk ke dalam pembuluh darah Marline. Setelah selesai, Zain mencabut jarum dari lengah Marline dan pada saat itu, Marline membuka matanya dengan perlahan dan meringis karena sakit yang terdapat di tubuhnya akibat luka tembakan yang dia dapatkan.

Marline melihat sekelilingnya dan setelah itu dia melihat ke arah Zain dengan penuh tanda tanya.

"Si-siapa kau?" tanya Marline dengan lemah.

"Oh, kau sudah sadar rupanya," Zain tersenyum dengan ramah.

"Di mana aku?" Marline melihat sekelilingnya yang tampak asing.

"Di rumah, apa kau tidak ingat dengan kamarmu sendiri?"

Marline mengernyitkan dahi, sungguh dia tidak bisa mengingat tempat itu sama sekali dan dia juga tidak mengenal siapa pria itu.

"Siapa kau?" tanya Marline lagi.

"Sepertinya benturan yang kau alami telah membuatmu hilang ingatan," Zain menarik sebuah kursi dan duduk di samping Marline.

"Benturan?"

"Ya, apa kau ingat namamu?" tanya Zain. Dia tahu serum yang disuntikkan ke tubuh Marien tidak akan mengambil semua ingatannya.

"Marline Miller," jawab Marline.

"Apa kau ingat yang lain?"

Marline menggeleng, hanya nama saja yang dia ingat dan beberapa ingatan lain tapi dia tidak ingin mengatakannya. Zain mengernyitkan dahi, apa dosis serum yang dia berikan pada Marline terlalu tinggi sehingga membuat Marline melupakan banyak hal?

"Kau belum menjawab aku, siapa kau?"

"Aku Zain Miller, aku kakakmu," Zain tersenyum supaya Marline mempercayainya.

"Lalu apa yang telah terjadi denganku?"

"Dengar, Marline," Zain mendekatkan duduknya dan memegang tangan Marline.

Dia harus terlihat sungguh-sungguh untuk meyakinkan Marline dengan ucapannnya dan dia yakin Marline pasti percaya.

"Daddy punya banyak hutang di sebuah perusahaan jadi beberapa hari yang lalu sekelompok orang datang menyerang rumah kita dan membunuh Mommy juga Daddy, kau terkena luka tembakan dan kepalamu juga terbentur. Saat itu aku sedang pergi tapi ketika aku kembali aku sudah menemukan yang lain dalam keadaan tidak bernyawa dan kau dalam keadaan kritis."

Marline mencoba mengingat kejadian yang diucapkan oleh Zain tapi hanya sakit kepala luar biasa yang dia dapat dan dia mengira itu sakit akibat benturan.

"Siapa? Siapa yang telah melakukan hal ini, Zain? Kenapa hanya karena hutang orang itu begitu tega?" Marline menatap Zain dengan tajam, sedangkan Zain tersenyum. Efek serum itu benar-benar luar biasa.

"Aku akan mengatakan padamu nanti setelah keadaanmu pulih. Sekarang beristirahatlah, aku sudah kehilangan Mommy dan Daddy jadi aku tidak mau kehilanganmu," ucap Zain sambil mengusap kepala Marline. Dia harus menunjukkan sikapnya sebagai seorang kakak supaya Marline tidak curiga.

Marline mengangguk sedangkan Zain keluar dari ruangan. Setelah kepergian Zain, Marline mencoba mengingat-ingat tapi tidak ada yang bisa dia ingat.

Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa kehilangan sesuatu yang berharga tapi dia tidak tahu itu apa. Apa benar Zain adalah kakaknya?

Di luar sana Zain sudah ditunggu oleh Joan dan Celline. Mereka segera menghampiri Zain ketika pria itu keluar dari ruangan.

"Bagaimana?" tanya Celline tidak sabar.

"Semua berjalan sempurna. Tunggu keadaannya lebih baik maka aku akan kembali berbicara dengannya dan mencuci otaknya. Aku akan menanamkan kebencian di hatinya sehingga dia mau melakukan pekerjaan ini dengan suka rela."

"Kau cerdas, Zain. Tidak sia-sia kita bekerja sama," ucap Joan.

"Ini demi tujuan kita, Sobat. Kita pasti bisa menghancurkan mereka dengan perlahan. Ingat, seekor gajah besar akan kalah oleh seratus ekor semut kecil dan kita yang akan menjadi semutnya untuk mengalahkan si gajah."

"Aku suka perumpamaan yang kau ucapkan," ucap Joan.

Mereka bertiga segera kembali ke dalam sebuah ruangan, sedangkan di dalam kamar Marline memegangi kepalanya yang berdenyut dan mencoba mencari ingatannya yang hilang tanpa tahu jika dia hanya sebuah pion yang akan dimanfaatkan untuk tujuan ketiga orang itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!