NovelToon NovelToon

Permaisuri Kesayangan Raja

Episode 1 (Di revisi)

*Hai guys 🙋, ini adalah novel pertama saya. Semoga kalian menyukai novel saya ini. Saya merevisi ulang novelnya agar para pembaca lebih mudah memahami isi ceritanya. Semoga kalian suka dengan ceritanya 😊.

"Huh, kenapa pemeran ceweknya lemah banget sih? Mau saja dia jadi bahan bullyan orang-orang itu!? Kalau aku yang jadi dia, bakal aku habisi sampai mati!" Ucap seorang gadis tomboy yang kira-kira baru menjalani masa kuliahnya.

Sebut saja namanya Jane. Gadis tomboy yang saat ini ngekos di sebuah apartemen kecil sederhana. Sifatnya bar-bar dan dia paling benci dengan yang namanya bully. Tetapi Jane tertarik untuk membaca novel yang baru-baru ini dia temukan di tong sampah. Dia memungutnya karena menurutnya buku itu masih sangat bagus.

"Jika aku masuk ke dalam cerita ini, aku bersumpah akan mengubah ceritanya menjadi akhir yang bahagia."Ucap Jane lalu dia dia tertidur sambil memegang novel yang baru dibacanya.

"....." Jane kemudian membuka matanya perlahan karena dia merasa ada kilau cahaya yang menembus matanya.

Silau sekali...? Perasaan jendela kamarku tidak selebar ini...?

Jane kemudian membuka matanya lebar. Dia bengong sejenak karena dia merasa bukan berada di kamar kosnya yang kecil melainkan berada ruangan yang sangat luas dengan hiasan dan perabotan yang antik.

"Akh!! Dimana aku??" Jane merasa sangat syok dan dia segera duduk. Dia memutar kepalanya melihat lebih jauh ke sekelilingnya. Kemudian Plak, dia menampar pipinya jika dia hanya mimpi.

"Aw...ternyata bukan mimpi. Ini benar-benar tidak masuk akal! Jangan bilang aku masuk ke dalam novelnya?"Jane kemudian memegang kepalanya merasa bingung.

"Aku harus keluar dari sini!"Ucap Jane dan dia segera menggeser tubuhnya menjauh dari tempat tidur. Saat hendak mau turun, Jane lagi-lagi merasa aneh karena kakinya tidak sampai mengenai lantai.

"Kenapa ini? Apa yang terjadi pada kakiku?! Kenapa kakiku berubah menjadi kaki kurcaci? Astaga, tanganku juga jadi kecil!?"

Jane merasa sangat panik dan dia selintas melihat dirinya di cermin besar yang terpasang di hadapannya. Dia berubah menjadi sosok gadis kecil yang imut kira-kira berusia 6 tahun. Rambutnya yang keemasan dan matanya yang biru, sama persis dengan ciri pemeran utama wanita yang digambarkan oleh novel.

"Jadi aku sungguh si pemeran wanita itu? Tapi kenapa harus jadi anak-anak? Kenapa tidak yang jadi dewasanya saja? Padahal setahuku di novelnya tidak ada diceritakan tentang masa kecil si pemeran utama."

Cklek, tiba-tiba seorang wanita dengan seragam pelayan masuk ke kamar sang gadis kecil. Dia terkejut melihat gadis kecil itu sudah terbangun dan berusaha turun ke lantai.

"Nona sudah bangun? Oh syukurlah anda sudah bangun! Stevany! Panggil Tuan Duke dan Nyonya Duchess! Nona muda sudah bangun!"Teriak pelayan itu kegirangan dan memanggil pelayan yang satunya lagi.

"Baik!"Jawab pelayan itu.

Ada apa ini? Apa aku habis tidur dalam waktu yang lama? Mengapa mereka heboh sekali?

"Nona, akhirnya anda bangun setelah seminggu. Kami semua sangat khawatir pada anda. Bagaimana keadaan anda Nona?" Tanya Pelayan itu lembut.

Aku sudah tidak sadarkan diri selama itu?!

"Aku....aku baik-baik saja."Jawab gadis kecil itu.

"Ellen!" Tiba-tiba terdengar panggilan dari seorang pria dewasa yang tampan dengan pakaian kuno kerajaan dan juga wanita cantik di sampingnya. Merekalah kedua orang tua gadis kecil yang bernama Ellen.

"Ellen, putriku!! Kau akhirnya bangun nak..." Ucap Ziane yang merupakan sang Duchess sambil memeluk Jane yang berperan sebagai Ellen dengan erat. Dia memeluknya dengan isak tangis bahagia. Tuan Marcus yang merupakan seorang Duke pun ikutan memeluk Ellen dan ikut merasa lega karena putri mereka sudah bangun dari sakitnya.

Ellen hanya terdiam dan berusaha mencerna keadaan yang baru terjadi padanya.

"Sayang, kamu masih ingat kami kan?"Tanya Nyonya Duchess merasa khawatir jika putrinya amnesia.

"Ibu...? Ayah...?"Jawab Ellen.

"Oh syukurlah putri kita tidak amnesia. Bagaimana keadaanmu nak?" Tanya Tuan Marcus dengan pertanyaan yang sama dengan si pelayan tadi.

"Aku baik ayah..."Jawab Ellen.

"Baguslah. Pelayan! Tolong kalian mandikan Ellen! Pakaikan baju yang cantik untuknya."Suruh Tuan Marcus kepada pelayan yang berdiri di samping pintu kamar Ellen.

"Baik Tuan."

"Pastikan juga dia makan makanan yang sehat dan enak."Kata Tuan Duke lagi.

"Baik Tuan."

"Sayang, kalau begitu kami harus pergi dulu. Datanglah kunjungi kami jika ingin bertemu." Ucap Nyonya Ziane dengan lembut. Ellen hanya mengangguk. Sebelum kedua orang tua itu pergi, mereka mengecup kening Ellen. Seketika Jane yang menjadi Ellen merasakan kehangatan karena dia belum pernah dikecup keningnya selama dia hidup menjadi Jane.

"Nona, ayo kita mandi."Ucap Pelayan itu dan mengulurkan tangannya untuk Ellen agar bisa turun. Ellen pun memegang tangan pelayan itu dan turun perlahan ke lantai.

"Bolehkah aku tahu siapa namamu?"Tanya Ellen pada pelayan itu.

"Oh, nama saya Maya Nona. Dan itu namanya Stevany."Jawab pelayan itu senang sambil menunjuk temannya yang sedang menyiapkan pakaian untuk Ellen.

pelayan yang bernama Stevany itu hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Kenapa tempat tidurnya tinggi sekali?" Tanya Ellen lagi.

"Um...itu...mungkin supaya terlihat mewah dan nyaman Nona."Jawab Maya seadanya. Maya sempat merasa bingung dengan perubahan sikap Nonanya.

"Oh, Begitu."

Maya pun mulai membuka pakaian Ellen. Ellen sebenarnya malu karena dia tidak perlu sampai dibukakan pakaiannya lagipula dia hanya memakai piyama. Tapi dia berpikir ulang bahwa dirinya saat ini adalah anak-anak jadi dia berusaha untuk tetap biasa saja layaknya anak kecil yang polos.

Setelah kira-kira setengah jam, Ellen sudah rapi dan sangat cantik dengan dress mini berwarna merah muda. Rambut keemasannya yang digerai begitu saja terlihat seperti boneka. Ellen tidak terbiasa dengan pakaian yang saat ini dia kenakan karena dia langsung merasa gerah. Apalagi stocking yang terpasang pada kakinya membuatnya sedikit kesulitan untuk bergerak.

Aduh, orang jaman dulu kenapa pakaiannya seribet ini sih?! Anak sekecil aku saja harus pakai beginian?

Ellen kemudian melihat dirinya dari pantulan cermin. Dia merasa terpesona dengan sosok Ellen.

Ellen begitu cantik. Cantik saja di bully, bagaimana kalau yang jelek ya?

"Nona, ayo kita ke ruang makan. Tuan Duke dan Nyonya Duchess sudah menunggu disana."

"Oh baiklah."Ucap Ellen dan dia mengulurkan tangannya minta di pegang. Maya merasa terkejut dengan perubahan sikap Nonanya. Dulu Ellen tidak pernah meminta siapapun untuk memegang tangannya. Maya kemudian memegang tangan Ellen. Dia merasa sangat terharu karena Nona Ellen sejak dulu adalah penggemarnya.

Mulai sekarang aku hidup sebagai Ellen. Ini adalah hidup baruku dan sesuai janjiku, aku akan membalas siapapun yang jahat kepada pemilik tubuh ini. Perjalananku baru saja dimulai.

Ellen tersenyum. Perjalanannya masih sangat panjang dan dia pastinya akan mempelajari banyak hal tentang dunia kerajaan.

Kuharap aku mudah menjalani hidup baruku di sini karena aku seenggaknya sudah tahu isi dari ceritanya. Tapi bagaimana nasib si pemilik badan yang asli? Apakah dia benar-benar ada? Atau jangan-jangan kami bertukar jiwa?

Ellen menggelengkan kepalanya merasa pikirannya mulai tidak masuk akal. Maya yang sedari tadi memerhatikannya mulai merasa khawatir.

Bersambung.

Episode 2 (Di revisi)

Di ruang makan, Ellen di sajikan makanan pembuka yang sungguh menggiurkan. Semuanya lengkap tetapi jenis makanannya tentu berbeda dengan jaman modern. Tetapi tetap saja itu membuat Ellen tidak sabar untuk memakan makanan lezat itu.

Wah makanannya banyak sekali! Aku bisa makan apa saja disini? Tidak-tidak! Seorang gadis bangsawan bukannya harus menjaga etikanya? Iya, aku harus sabar dan bersikap layaknya Nona bangsawan!

Ellen berusaha bersikap dengan elegan. Setahu dia di novel, si pemeran utama sangat mengutamakan etikanya apalagi saat makan. Meskipun tidak se elegan kedua orang tuanya yang kini juga tengah makan, tapi dia sudah mencoba usaha terbaiknya.

Eh siapa anak itu? Aku belum pernah melihatnya.

Ellen melihat ada sosok gadis kecil seusianya yang tengah ikut makan juga. Dia tidak mengenali gadis itu. Tapi yang terpenting, gadis kecil itu makannya sangat elegan. Ellen jadi takjub melihatnya. Gadis kecil yang merasa diperhatikan oleh Ellen tersenyum bangga. Ellen menyadari kesombongan gadis kecil itu. Dia pun membuang wajahnya malas dan memilih fokus pada makanannya.

Cih, segitu saja sudah sombong.

Sesudah makan, Nyonya Ziane memanggil Ellen untuk memperkenalkan gadis kecil tadi kepada Ellen.

"Ellen, perkenalkan ini namanya Viona. Dia adalah anak teman ibu yang bernama Nyonya Helen Zion . Dia seusia denganmu."Kata Nyonya Ziane.

"Salam Nona Ellen. Perkenalkan, nama saya Viona Zion. Senang bertemu dengan anda."Ucap Viona sambil memegang roknya dengan elegan.

Ellen meskipun kurang suka padanya memilih sabar dan mengikuti gerakan si Viona. "Salam Nona Viona. Senang bertemu dengan anda juga."

Jadi dia bocah yang akan menjadi salah satu wanita jahat itu? Hehe, akhirnya kita ketemu disini ya.

Ternyata Ellen mengenali nama Viona. Gadis itu digambarkan salah satu wanita jahat yang suka menganiyaya si pemeran utama. Ellen diam-diam memerhatikan dengan tatapan rendah kepada Viona dan Viona menyadarinya. Di saat itu juga sepertinya mereka bakal jadi musuh.

"Kalau begitu bersenang-senanglah kalian ya. Ibu ada urusan yang harus diselesaikan."Kata Nyonya Ziane kepada kedua gadis kecil itu. Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka berdua.

"Hei, kenapa tadi anda melihat saya dengan tatapan seperti itu? Apa anda punya masalah dengan saya?"Tanya Viona kesal.

Hah, sifat aslinya ternyata sudah keluar!

"Tidak ada kok. Mana ada saya menatap anda begitu? Perasaan anda saja mungkin."Jawab Ellen sambil tersenyum.

Viona tidak puas dengan jawaban Ellen. Dia jadi tambah kesal karena Ellen mulai bersikap menyebalkan. Ellen kemudian berjalan meninggalkannya.

"Anda mau pergi kemana?"Tanya Viona.

"Saya mau ke taman. Anda mau ikut?"

"Ke Taman? Dengan cuaca sepanas ini?"Tanya Viona lagi.

"Iya Nona. Saya sudah lama tidak ke taman. Jadi saya ingin pergi kesana untuk melihatnya."

"Begitu ya? Oh ya, Anda kan sudah tidak sadarkan diri selama seminggu."Ucapan Viona mulai membuat Ellen kesal.

"Jadi anda mau ikut apa tidak? Kalau tidak ya tidak apa-apa."

"Oke oke baiklah, saya ikut. Ibu saya dan ibu anda pasti akan banyak bertanya jika kita tidak melakukan apa yang mereka suruh."

Ellen berusaha tetap sabar. Dia berusaha bersikap elegan dan berjalan tegak menuju taman.

Setelah kedua gadis itu sampai ke taman, Ellen sangat senang karena dia melihat pemandangan yang begitu menyejukkan matanya. Berbagai jenis bunga tertata dengan sangat indah. Tidak dengan Viona yang sedari tadi mulutnya tidak bisa diam karena mengeluh.

Cantik sekali! Taman ini seperti surga bagiku...

"Nona Ellen, Anda tidak kepanasan dengan cuacanya? Saya sangat takut jika kulit saya akan rusak gara-gara ini."Kata Viona.

Siapa suruh kau ikut denganku. Masih bocah saja sudah seperti tante-tante!

Ellen mendekati beberapa bunga yang tumbuh di semak-semak. Tiba-tiba ada cahaya redup yang menutupi kepala Ellen. Ellen mendongak dan ternyata pelayannya si Maya sedang memayunginya.

"Maya?" Ellen merasa kaget dengan Maya yang sedang memegang payung untuknya.

"Cuacanya sangat panas Nona. Jika Nona tidak menjaga kulit anda, nanti bisa terbakar."Jawab Maya.

"Oh ya....terima kasih."Jawab Ellen pelan.

Ellen kemudian melihat Viona yang sudah tidak bersamanya. Dan ternyata gadis kecil itu sedang duduk di gazebo untuk berteduh.

Heh, dasar Viona. Jalan-jalan beberapa detik saja sudah tidak tahan.

"Akh!!"

Tiba-tiba ada tangan yang mengangkat tubuh Ellen dan Ellen begitu syok.

"Adikku!"Suara hangat seorang remaja lelaki yang mirip dengan Ellen menggendong Ellen seperti boneka. Ellen tercengang karena dia tadinya sempat tidak mengenali remaja lelaki ini.

Siapa lagi ini? Apa dia kakak laki-laki si pemilik tubuh ini?

"Ellen, kau sudah sadar?"Tanya seorang remaja lelaki yang merupakan kakak laki-laki si pemeran utama. Namanya adalah Federick, biasa dipanggil Erick. Dia begitu girang saat mengetahui adiknya sudah bangun dari tidur lamanya.

"Nona muda sudah bangun sejak tadi pagi Tuan Muda."Maya yang menjawab.

"Oh syukurlah! Hehe, Ellenku sudah bangun!"Erick memutar badannya dan Ellen terbawa arus olehnya. Maya masih merasa sedikit khawatir siapa tahu tubuh Ellen masih rapuh.

"Tu-turunkan aku!"Teriak Ellen panik.

Erick terkejut dengan sikap Ellen yang minta turun. Erick akhirnya menurunkan Ellen. Dari ekspresinya dia merasa heran dengan perubahan Ellen.

"Ellen? Kau tidak mau digendong? Bukankah biasanya kau paling suka digendong olehku?"Tanya Erick.

Ellen terdiam. Maya merasa kasihan kepada Ellen barangkali badannya masih rapuh.

"Nona masih belum begitu sembuh Tuan Muda, Nona baru bangun pagi tadi."Kata Maya.

"Oh...maafkan aku Ellen. Pasti terasa sakit ya, maaf aku tidak kepikiran kesitu."Ucap Tuan Muda sedih.

"Ng-nggak apa-apa Kak. Aku hanya kaget tadi."Ucap Ellen terbata-bata.

"Ya sudah tak apa. Kalau begitu kakak harus kembali. Maya, tolong jaga baik-baik adikku."Ucap Erick sambil mengelus kepala Ellen.

"Baik Tuan."Jawab Maya.

Ellen hanya mengangguk dan Erick pun berlalu pergi.

Ellen memerhatikan bahwa Maya sepertinya menyukai kakaknya. Terlihat dari wajahnya yang tersipu dan bibirnya yang tidak bisa disembunyikan senyumnya.

"Maya, bisakah kau antarkan aku ke kamarku?"

"T-tentu Nona. Tapi bagaimana dengan Nona Viona?" Tanya Maya karena Viona masih duduk disana.

"Biarkan saja dia. Jika dia ada keperluan denganku, panggil saja aku."Ucap Ellen malas.

"Baik Nona, kalau begitu ayo."Maya pun mengantar Ellen sambil memegang tangannya. Meskipun Ellen sedikit berubah sikapnya akhir-akhir ini, tapi itu malah lebih bagus buat Maya. Ellen berubah menjadi sosok yang terlihat lebih hangat.

Sedangkan di ruang kerja Tuan Duke, Erick mendatangi ayahnya yang sedang menulis laporan.

"Ayah!"Panggil Erick.

"Erick? Kau sudah pulang dari latihan?"Balas Tuan Marcus.

"Iya ayah. Ellen ternyata sudah bangun dari siumannya."Ucap Erick.

"Oh, kau sudah lihat adikmu?"

Erick mengangguk. "Tapi...dia sepertinya agak berubah."

"Berubah? Apa maksudmu?" Tanya Tuan Duke heran.

"Dia seperti bukan Ellen. Saat aku menggendongnya tadi dia langsung minta diturunkan. Biasanya dia bakal berteriak memanggil namaku."Kata Erick.

"Hah, dasar kau ini. Dia itu kan baru sembuh dari sakitnya. Mungkin dirinya masih belum begitu normal."Ucap Tuan Marcus yang membuat Erick terkejut.

"Maksud ayah?"

"Nanti juga kau tahu sendiri."

Bersambung.

Episode 3 (Di Revisi)

Di kediaman kastil Perron, Ellen sedang berusaha mencari sesuatu sebagai petunjuk. Di dalam novel tidak ada dijelaskan dengan rinci soal kehidupan sang tokoh utama. Bahkan siapa saja keluarga dari tokoh utama Ellen tidak tahu sama sekali.

Untung saja yang berada di ruangan saat ini hanya Ellen. Jika Maya juga ada di ruangan itu, dia pasti akan sangat curiga dengan sikapnya.

Kenapa novel yang kutemukan itu menyebalkan sekali sih! Kenapa juga aku harus benar-benar masuk ke dalam novelnya?!

Ellen masih grasak-grusuk mencari sebuah dokumen atau buku yang setidaknya dapat membantunya untuk menjalani hidup sebagai tokoh utama. Dan akhirnya setelah pembongkaran terakhir dia berhasil menemukan buku diary si tokoh utama.

Tanpa menunggu waktu, Ellen langsung membuka buku itu untuk membacanya.

"Aku sangat sayang pada ayah ibu dan kakak Erick~"

Hmm, jadi kakak tadi namanya Erick.

"Kastil Perron adalah kebanggaanku~"

Iya, aku tahu kalau ini Kastil Perron.

"Duke Marcus dan Duchess Ziane adalah kedua orang tua yang paling aku cintai~"

Ah sekarang aku jadi tahu nama orang tuaku sendiri.

Ellen terus membaca setiap tulisan yang ada pada setiap halaman. Kebanyakan hanya tulisan tidak penting dan gambar-gambar tidak jelas.

Tok, tok, tok. Seseorang mengetuk pintu dari luar yang mengejutkan Ellen. "Nona, Nona Viona memanggil anda."Kata Maya.

"Iya sebentar! Suruh dia untuk menungguku sebentar."Jawab Ellen lalu dia segera membereskan barang-barang yang telah dia bongkar tadi.

Astaga, aku tidak sadar membongkar semuanya sampai seberantakan ini.

Ellen akhirnya membereskan barang-barang yang ada di ruangan itu. Dia membereskannya sesuai tempatnya. Salah satu kelebihan spesial yang ada pada diri Jane ialah mudah mengingat. Jadi dia tidak ragu saat mengembalikan barang-barang itu ke tempatnya semula.

Ellen pun keluar dan melihat Maya yang masih setia berdiri di samping pintu kamarnya.

"Maya, kenapa dia memanggilku?"Tanya Ellen.

"Saya...tidak tahu Nona. Mungkin Nona Viona sedang bosan?"Jawab Maya yang juga tidak tahu.

Hmm, bocah itu mau apalagi sih?

"Dimana dia sekarang?"

"Nona Viona kali ini sedang di ruang tamu Nona."Jawab Maya.

"Kalau begitu antarkan aku kesana."Ucap Ellen.

"Baik Nona."

Setelah sampai di ruang tamu, Ellen bisa melihat Viona yang sedang duduk manis sambil minum teh dengan sikap elegan.

"Akhirnya anda datang juga Nona Ellen."Ucap Viona menyadari kedatangan Ellen.

"Kenapa kau...ah maksud saya, kenapa anda memanggil saya?"

"Anda bilang kenapa? Apa otak anda yang kecil itu sudah sedikit menurun gara-gara kelamaan tidak sadarkan diri? Anda tidak khawatir dengan ibu saya yang akan mempermalukan anda nantinya?"Jawab Viona sinis.

"Mempermalukan saya? Apa maksud anda?" Ellen mulai heran dan moodnya semakin jelek.

"Hahaha, ternyata Anda memang semakin bodoh! Bukankah tata krama di kediaman kalian yang paling menonjol? Anda tidak ada menemani saya tadi dan malah meninggalkan saya sendirian di taman. Apakah itu yang disebut kesopanan?"Ucap Viona sinis.

Astaga, kenapa aku tidak berpikir kesitu? Seluruh orang yang berada disini pasti mengira aku aneh sekarang. Bahkan Maya dan Kak Erick juga sudah menyadari perubahan sikapku.

Tidak, aku tidak boleh sampai kalah dari anak kecil ini!

"Anda sepertinya sudah salah menilai tentang tata krama di Kastil kami. Kastil kami memang yang paling utama kesopanannya. Maaf tadi saya tidak bisa menemani anda karena saya baru sembuh dari sakit saya, jadi mohon dimaklumi."

"Dan satu hal lagi yang terpenting, coba anda berkaca terlebih dahulu. Sudahkah anda berbicara sopan kepada saya? Saya dengar sejak tadi anda hanya berbicara dengan kurang sopan kepada saya."Balas Ellen.

Viona langsung membungkam. Dia terkejut dengan ucapan yang keluar dari Ellen. Seketika wajahnya langsung pucat karena sepertinya yang bakal terkena masalah adalah dia sendiri bukan Ellen.

"Kau! Beraninya kau berbicara seperti itu padaku!?"Ucap Viona tidak terima.

"Nona Viona, maaf saya lancang. Tetapi tolong jagalah sikap Nona. Saya tidak mau Nona disiksa habis-habisan setelah ini sama Nyonya Duchess."Kata pelayan yang berada di samping Viona. Viona langsung terdiam dan dia beranjak dari sofa dan mulai berjalan mendekat ke arah Ellen. Ellen sedikit terkejut dan mundur perlahan takut jika Viona melakukan sesuatu terhadapnya.

Tapi tak lama Viona mengeluarkan air matanya seperti memohon. "Nona Ellen, saya mohon maaf sebesar-besarnya karena telah bersikap tidak sopan kepada Anda. Saya menyesali perbuatan saya yang tidak seperti Nona bangsawan."

Astaga jadi sekarang dia meminta simpatiku?

"Wah apa ini? Sekarang Anda minta dikasihani?"Ellen semakin merendahkannya.

Cewek ini benar-benar keterlaluan! Gara-gara dia aku harus menjatuhkan harga diriku!

Viona terpaksa memohon sampai tangannya menyembah kepada Ellen agar Ellen mau memaafkannya.

"Nona Ellen, saya sungguh minta maaf. Saya benar-benar takut ibu saya akan menyiksa saya lagi."Kini Viona semakin terisak.

"Baiklah karena anda sampai memohon seperti ini, akan saya maafkan."Ucap Ellen kemudian dia berjalan ke arah sofa untuk duduk.

Viona merasa lega sekaligus heran. Dia pikir Ellen akan pergi meninggalkannya lagi.

"Kenapa melihat saya seperti itu? Anda tidak mau ikut bergabung dengan saya?"Tanya Ellen dan Viona pun segera berjalan untuk duduk di sofa.

Di sela-sela itu Ellen memanfaatkan waktunya untuk bertanya kepada Viona mengenai seputar kehidupan di istana. Meskipun Ellen sebenarnya malas karena Viona masih berbicara dengan gaya angkuhnya.

Dan pada akhirnya mereka sampai pada topik perjodohan. Ellen langsung merasakan jantungnya bergetar hebat karena dia teringat di novel bahwa dia akan dinikahkan oleh Raja bengis yang suka menyiksa tokoh utama.

"Jadi kapan perjodohan itu biasa dilaksanakan?"Tanya Ellen.

"Ibu saya pernah bilang kita akan dijodohkan saat berusia 18 tahun. Itu adalah budaya yang ada di negeri ini."Jawab Viona.

"Oh lalu, apakah wanita boleh berlatih pedang?" Tanya Ellen tiba-tiba mengganti topik yang membuat orang-orang di dekatnya tercengang.

"Berlatih pedang? Saya...kurang tahu soal itu Nona."Jawab Viona.

"Anu...kenapa Nona tiba-tiba membahas latihan pedang?"Tanya Maya yang ikut mendengar ucapan Ellen.

"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin tahu apakah wanita boleh menggunakan pedang."Balas Ellen.

"Itu...boleh, tetapi tidak semua wanita diperbolehkan menggunakan pedang. Kecuali dia memang prajurit yang diutus ke medan perang." Jawab Maya.

"Jadi ada wanita yang menjadi prajurit juga?"Mata Ellen langsung berbinar.

"T-tentu Nona. Tapi tidak banyak."

"Itu sangat keren! Mereka pasti wanita-wanita yang tangguh. Terus apakah aku bisa berlatih pedang juga?" Tanya Ellen berharap.

"Saya...tidak tahu Nona. Jika Tuan Duke mengizinkan mungkin bisa."Jawab Maya.

"Hmm, aku akan bertanya pada ayah kalau begitu."

"Anda kenapa mau berlatih pedang Nona Ellen?" Tanya Viona penasaran.

"Saya mau berlatih pedang itu bukan urusan anda. Saya permisi."Ucap Ellen dan Viona kesal dengan jawaban Ellen.

"Anda serius ingin langsung menemui Tuan Duke?" Tanya Maya.

"Tentu saja. Ayo Maya, antarkan aku kesana."Ucap Ellen terlihat senang.

"B-baik Nona."Maya akhirnya pasrah karena dia tidak mau membuat Ellen sedih.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!