NovelToon NovelToon

CRAZY LOVE (Dosen Psikopat)

Awal yang buruk

"Semangat Asyh! Kamu pasti bisa!"

Asyh Xaezalista, gadis asal Indonesia berumur delapan belas tahun ini baru saja menginjakkan kakinya di bandara internasional John F. Kennedy, New York, Amerika Serikat.

Tujuannya datang ke Amerika adalah untuk melanjutkan pendidikan sebagai seorang Psikolog. Banyak universitas yang bisa ia pilih di Indonesia, namun keajaiban membawanya melangkah keluar dari tanah kelahirannya melalui Beasiswa yang ia dapatkan.

Asyh merasa beruntung karena dia merupakan satu-satunya mahasiswa/i yang terpilih dari banyak yang mendaftar.

Asyh juga merasa bahagia karena sebentar lagi ia tidak perlu menjalani hubungan LDR lagi dengan kekasihnya yang bernama Daven.

Daven adalah senior Asyh saat SMA dan mereka sudah menjalin hubungan selama kurang lebih dua tahun, namun satu tahun belakang ini mereka harus menjalani hubungan LDR.

"Kak Dav, aku datang." Asyh dengan hati bahagia langsung masuk ke dalam sebuah taxi yang terparkir rapi di depan Bandara dan memang sedang menunggu penumpang.

"Sir, kita ke alamat ini." Asyh memberikan secarik kertas berisi alamat apartemen Daven.

"Okay." Sang sopir segera menjalankan mobilnya menuju ke alamat yang diberikan Asyh.

"Miss, apa kau datang kemari untuk bersekolah?" Sang sopir bertanya dengan sopan.

"Iya. Itu benar. Aku datang kemari untuk melanjutkan kuliahku." Asyh menjawab dengan sopan.

Asyh memang gadis yang sopan dan lemah lembut. Ia juga memiliki hati yang baik dan bisa ramah kepada semua orang.

"Wah, semoga kau sukses Miss." Sang sopir tersenyum lewat kaca spion di atas kepalanya.

"Terima kasih." Asyh menjawab dengan girang.

Mereka kembali mengobrol kecil hingga satu jam kemudian mereka sampai di sebuah gedung apartemen yang sangat megah.

Daven adalah putra konglomerat Indonesia, jadi tidak heran jika ia bisa tinggal di apartemen semewah ini.

"Berapa sir?" Asyh sedikit kesulitan mencari dompetnya.

"Tidak perlu Miss. Kau adalah penumpang ku yang pertama hari ini. Dan aku selalu berkomitmen untuk memberikan tumpangan gratis kepada penumpang pertamaku." Sang sopir menolak menyebutkan nominal ongkos taxinya.

"No no, tidak. Aku harus membayarnya." Asyh mengeluarkan uang dua lembar nominal sepuluh dolar kepada sang sopir.

"Ini kebanyakan Miss." Sang sopir hendak mengembalikan selembar uang itu, namun Asyh menolak dan memilih langsung turun dari taxi itu dan membawa semua barang-barangnya.

Sang sopir pun memilih pergi saat Asyh memilih mengabaikan penolakannya.

"Kak Dav, aku datang." Asyh bergumam sekali lagi dan dengan langkah tegas ia mulai masuk ke dalam gedung apartemen itu.

Banyak mata memandang kagum kepada kecantikan alami dari Asyh.

"Mrs. apa benar di sini ada unit ... " Asyh bertanya kepada resepsionis.

"Oh, benar Nona. Unit ini atas nama Daven Argantara." Wanita yang melayani Asyh tersenyum ramah.

"Bagaimana aku bisa ke sana?" Asyh kembali bertanya sopan.

"Nona cukup menggunakam lift yang ada di sana dan unitnya berada di lantai sepuluh." Sang resepsionis menjelaskan sambil menujuk ke arah lift yg tak jauh dari meja resepsionis nya.

"Terima kasih." Asyh pun melangkah masuk ke dalam lift dengan hati yang berbunga-bunga.

Asyh segera menekan tombol angka sepuluh sesuai perintah dari resepsionis tadi.

Tak butuh waktu lama akhirnya ia sampai di lantai sepuluh apartemen itu.

"Fuh.." Asyh menghela nafas gugup.

Asyh menghentikan langkahnya sejenak dan kemudian mendengar suara yang terasa asing juga tidak asing di telinganya.

"Awh..kau menggigit babe.." Suara erangan seorang pria.

"Itu suara kak Dav bukan sih?" Asyh membatin bingung.

Di lantai itu hanya ada dua nomor apartemen.

"Ehm..babe.." Kini suara ******* seorang wanita terdengar.

Asyh bergidik ngeri mendengar suara-suara itu.

Asyh segera menggeleng kepalanya untuk membuang pikiran buruknya tentang Daven.

Asyh memastikan sekali lagi nomor unit Daven dan kemudian ia melangkah dengan pasti meski hatinya semakin bimbang karena suara erangan dan ******* semakin nyata ia dengar.

"Tidak As, Kak Daven tidak mungkin seperti itu." Asyh membatin mencoba menjernihkan pikirannya.

Asyh mencoba memutar handel pintu unit milik Daven namun ternyata pintunya tidak tertutup rapat.

Dengan bahagia Asyh langsung saja masuk ke dalam.

Pemandangan pertama yang Asyh lihat adalah beberapa helai pakaian wanita dan pria yang berserakan.

"Ehm..aw.." Suara ******* seorang wanita kembali terdengar dan sangat nyata.

Hati Asyh kini benar-benar tidak tenang.

Asyh segera melangkah ke salah satu kamar yang diyakini adalah tempat sumber suara.

Asyh membuka pintu kamar itu dengan tangan yang bergetar hebat.

"Kak Dav.." Asyh memanggil Daven dengan nada lirih.

Air matanya seketika mengalir deras tanpa di minta, sementara Daven dan wanita yang sedang bertarung panas dengannya itu gelagapan.

Detik kemudian Asyh melepaskan cincin berlian pemberian Daven satu tahun lalu saat Daven akan berangkat ke New York.

"Mulai detik ini, semua di antara kita selesai kak. Tidak ada lagi hubungan apapun di antara kita." Asyh melempar cincin berlian itu dengan sangat kuat hingga mengenai wajah Daven dan terluka.

Asyh segera keluar dari kamar itu, meraih koper dan semua barang bawaannya lalu berlari keluar dari apartemen itu.

Asyh berlari dengan asal dan menuruni tangga darurat dengan air mata yang mengalir hebat.

Berlari tanpa henti dan tanpa tahu akhir dari anak tangga itu, namun yang terpenting bagi Asyh adalah ia harus lari dan pergi.

Kebahagiaannya luntur begitu saja, hatinya hancur berkeping-keping melihat kekasih yang sangat ia cintai melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain.

Asyh sungguh tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi karena sebelum keberangkatannya saja, ia masih berkomunikasi baik dengan Daven.

Asyh masih terus berusaha berlari meski kakinya sudah tak sanggup lagi dan ia benar-benar tidak menyangka, Daven tidak mengejarnya selangkah pun.

"Laki-laki sialan! Semoga kamu mati dan jantungmu dimakan binatang buas!" Asyh memaki dengan geram.

Asyh memilih memelankan langkahnya karena ia merasa sangat tidak sanggup lagi jika harus berlari.

Asyh menyerah dan memilih untuk istirahat sejenak.

Sreettt Kreng Kreng

Saat sudah duduk merehatkan tubuhnya, Asyh mendengar samar-samar suara goresan kemudian suara seperti dua benda besi saling beradu.

"Apa lagi ini Tuhan? Aku baru saja menginjakkan kaki ke negara ini, tapi kenapa sudah begitu banyak hal tidak menyenangkan?" Asyh membatin sedikit takut.

Kreng Kreng Kreng

Suara dua benda besi saling beradu semakin terdengar jelas.

Asyh mencoba mengintip ke bawah, tempat asal datangnya suara aneh itu.

Asyh membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Kedua tangannya menutup rapat mulutnya agar tidak berteriak.

"Kenapa aku bisa sampai ke negara ini dan mendapat masalah seperti ini?" Asyh kembali membatin.

Ia memutuskan untuk bangkit berdiri dengan perlahan dan mencoba untuk Mengendap pergi agar tidak menimbulkan suara.

"Eh.....eh...bukk.."

...~ TO BE CONTINUE ~...

######

...__ MAMPIR YOK __...

Pertemuan pertama

"Eh......eh....bukk"

Asyh tersandung kakinya sendiri dan membuat dirinya jatuh terguling ke bawah tangga beserta dengan koper dan barang-barangnya yang menimpanya.

"Awhh..." Asyh mengerang kesakitan saat berhenti berguling.

"Kesialan apa lagi sih ini?" Asyh menggerutu kesal dan mencoba sekuat tenaga untuk bangkit.

Asyh sebelum jatuh tadi berada di tangga kedua sebelum lantai parkiran bawah tanah, dan kini ia jatuh terguling hingga parkiran bawah tanah.

Asyh tidak sadar bahwa ada sepasang mata hitam legam yang sedang memandangnya penuh minat dan juga sepasang mata coklat yang memandangnya penuh iba.

"Shh..." Asyh meringis karena merasakan sakit di pergelangan kakinya.

Setelah berhasil berdiri, Asyh mengedarkan pandangan hingga akhirnya ia menangkap pemandangan mengerikan yang baru saja ia lihat beberapa menit sebelum jatuh terguling ke bawah.

"Akh...ampun..aku tidak melihat apapun.." Asyh memekik ketakutan saat menyadari seseorang terbujur kaku dengan perut terbelah.

"Benarkah Nona?" Suara mencekam seorang pria terasa sangat dekat di pendengaran Asyh..

Tubuh Asyh mematung namun gemetar karena ketakutan.

"Sungguh, aku tidak melihat apapun..buktinya aku menutup mataku.." Asyh memejamkan kuat matanya.

Pria yang berada di belakang Asyh membalikkan tubuh Asyh dan menahan pinggang Asyh hingga keadaan mereka sangat dekat dan intim.

Kedua pria itu memakai topeng dan menutupi seluruh wajah mereka.

Mereka juga menggunakan jubah berbahan plastik menutupi seluruh tubuh mereka tidak lupa sarung tangan plastik juga dipakai oleh kedua pria itu.

"Buka matamu dan tatap aku!" Pria yang menahan Asyh dalam pelukannya memberi perintah.

Dengan sangat terpaksa Asyh membuka matanya dan memberanikan diri untuk menatap pria bertopeng yang memeluknya erat.

"Hehe.." Asyh memasang tampang pura pura bodoh.

"Gadis ini terlalu indah..sangat sayang jika aku habisi begitu saja.." Si pria bertopeng itu membatin di dalam hati.

"Tuan, sungguh aku tidak melihat apapun. Jika aku melihat pun aku tidak bisa berbuat apapun. Aku tidak mengenal kalian dan lagi aku bukan penduduk asli di negara ini." Asyh mencoba bernegosiasi dengan kedua pria bertopeng di depannya.

"Jadi, jika aku menghabisi dirimu saat ini pun tidak ada yang akan mencarimu, begitu?" Pria bermata hitam pekat itu kembali bertanya.

Asyh dengan polosnya mengangguk namun menit kemudian ia menggeleng.

"Jangan bunuh aku sekarang Tuan dan Tuan. Aku bahkan baru saja sampai ke negara ini. Setidaknya ijinkan aku merasakan dulu bagaimana kuliah dan hidup di negara ini hingga beberapa waktu." Asyh kembali membuat penawaran dan menutupi rasa takutnya.

Pria bermata hitam pekat itu melepaskan tangannya dari pinggang Asyh dan menghardik Asyh dengan menggerakan tangannya.

"Terima kasih Tuan. Jika aku sudah puas menikmati hidup di negara ini, aku tidak keberatan jika Tuan mengambil nyawaku lagi." Asyh membungkuk beberapa kali sebagai tanda syukur dan terima kasihnya.

Segera Asyh meraih koper dan barang bawaannya langsung meninggalkan tempat itu dengan langkah terseok-seok karena pergelangan kakinya yang keseleo tadi.

Treng...

Sebuah benda kecil berbahan besi jatuh dari saku hoodie Asyh, namun Asyh tidak menyadarinya sama sekali.

Pria bermata hitam pekat itu mengambil benda kecil itu.

"Lencana universitas." Pria bermata hitam pekat itu menampilkan seringai menakutkan.

Ia melemparkan lencana universitas milik Asyh kepada bawahannya.

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" Pria bermata hitam pekat itu berjalan terlebih dulu dan masuk ke dalam mobilnya.

Tangan kanannya segera menyusul dan masuk ke dalam bagian kemudi.

Mereka membiarkan jasad yang mereka eksekusi tadi tergeletak begitu saja.

Mereka pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.

••••••••••••••

"Tuhan, kenapa sih baru sampai saja aku sudah mengalami kejadian mengerikan secara beruntun?" Asyh menggerutu kesal sambil menyeret kopernya dan berjalan tertatih.

Barang-barang bawaannya sudah ada yang dia buang karena sebenarnya itu adalah oleh-oleh untuk Daven.

"Hey.." Seseorang berteriak dari arah berlawanan memanggil Asyh.

Asyh mencoba mencari sumber suara yang memanggilnya.

"Hey, kau Asyh Xaezalista yah?" Seorang perempuan menghampiri Asyh yang kebingungan mencari sumber suara yang memanggilnya tadi.

"Ya, itu aku. Kau siapa?" Asyh bertanya was-was.

"Aku Vasya. Aku ditugaskan pihak kampus untuk menjemputmu." Vasya menjawab dengan sopan dan ramah.

Asyh masih merasa ragu terhadap pernyataan gadis di depannya.

"Ini surat keputusan dari pihak kampus." Vasya yang mengerti keraguan Asyh pun menyerahkan surat keputusan dari pihak kampus.

Asyh mengambil surat itu dan membacanya seksama.

"Sekarang percaya?" Vasya bertanya santai.

Asyh mengangguk pelan.

"Ayo, aku bantu." Vasya mengambil alih koper milik Asyh.

Vasya menuntun Asyh masuk ke dalam satu mobil yang memang disediakan pihak kampus untuk menjemput.

"Kita akan kemana?" Asyh bertanya bingung.

"Asrama kampus. Semua mahasiswa/i dari luar negara diharuskan tinggal di asrama kampus untuk menjamin keselamatan mereka." Vasya menjelaskan dengan ramah.

Asyh mengangguk paham.

"Kakimu kenapa?" Vasya bertanya khawatir.

"Ah, tidak. Hanya keseleo tadi." Asyh memilih menutupi kejadian menakutkan yang tadi ia lihat.

"Nanti aku bantu obati. Dan satu lagi, kita akan satu kamar nanti." Vasya tersenyum bahagia.

Asyh hanya mengangguk, sungguh ia sedang tidak dalam mode semangat.

Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di depan universitas yang cukup terkenal di New York.

"Ini indah sekali." Asyh bergumam pelan.

"Banyak orang hebat yang menjadi donatur di kampus ini, makanya kampus ini bisa sangat megah." Vasya menjelaskan.

"Oh ya, kau berasal dari mana?" Asyh berinisiatif menanyakan hal yang sedari tadi ia lupakan.

"Aku dari Singapura. Dan kau dari Indonesia. Kita adalah tetangga." Vasya merangkul hangat Asyh.

"Ayo masuk. Tidak baik anak gadis seperti kita berdiri lama-lama di luar." Vasya merangkul Asyh dan menuntun Asyh masuk ke dalam area kampus menuju ke gedung asrama.

Mereka kini telah sampai di kamar mereka.

"Wah, ini mewah sekali." Asyh terkagum-kagum dengan isi dan dekorasi kamar mereka yang sangat mewah.

"Kamar-kamar seperti ini diperuntukkan kepada mahasiswa/i berprestasi dan tentunya jalur beasiswa seperti kita." Vasya kembali menjelaskan.

Asyh hanya menatap kagum menelusuri setiap sudut kamar mereka.

"Lemari pakaianmu yang itu. Dan aku akan mengobati kakimu dulu." Vasya menunjuk ke arah lemari yang tersedia untuk Asyh lalu mengambil kotak obat dari atas meja belajarnya dan mengobati kaki Asyh dengan hati-hati.

"Aku harap kita bisa berteman baik As." Vasya menyimpan kembali kotak obatnya.

"Semoga saja." Asyh tersenyum manis.

"Kau ingin makan?" Vasya bertanya perhatian.

Asyh menggeleng.

"Aku belum lapar." Asyh memilih mengemaskan pakaiannya ke dalam lemari.

"Baiklah, kau istirahat saja. Besok adalah hari pertama kita masuk kuliah. Semoga saja hari-hari kita menyenangkan." Vasya duduk di kursi meja belajarnya dan meraih satu novel tebal untuk dibaca.

Selesai menata pakaiannya, Asyh memilih berbaring di atas ranjang empuknya.

Pikirannya kembali mengingat dua pria menakutkan yang ia temui tadi.

"Semoga saja aku tidak bertemu mereka lagi.." Asyh berdoa di dalam hati.

...~ TO BE CONTINUE ~...

Dosen Tampan

"Kau siap untuk hari pertama kita?" Vasya bertanya dengan antusias.

"Siap." Asyh menjawab tak kalah antusias.

"Apa kakimu masih sakit?" Vasya bertanya khawatir karena Asyh masih berjalan terseok-seok.

"Tenang saja, ini hanya keseleo kecil." Asyh menjawab dengan santai.

"Ya sudah, ayo kita keluar. Pasti para mahasiswa/i baru sudah banyak yang datang dan berkumpul." Vasya merangkul pundak Asyh dan mereka pun keluar dari kamar mereka.

Mereka berjalan dengan santai menuju ke gedung universitas tempat mereka akan belajar.

"Benarkan kataku? Sudah banyak yang berkumpul." Vasya bangga karena tebakannya tepat.

"Bagaimana kau tahu mereka adalah mahasiswa/i baru?" Asyh bertanya bingung.

Asyh merasa ada sesuatu yang kurang dengan dirinya saat melihat para mahasiswa/i itu bahkan saat ia melihat Vasya.

"Oh ayolah, semua mahasiswa/i baru mendapatkan lencana universitas berwarna hijau tua. Kau juga dapat kan?" Vasya bertanya bingung.

"Lencana? Oh astaga..lencana ku.." Asyh panik dan memeriksa tasnya mencoba untuk mencari lencananya.

Sayangnya tidak ada lencana yang Vasya maksud tadi.

"Kemana lencana ku?" Asyh bergumam sendiri.

"Vasya, aku kembali sebentar ke kamar untuk mencari lencana ku." Asyh langsung berlari kembali ke kamar mereka tanpa menunggu persetujuan dari Vasya.

Secepat kilat Asyh berlari kembali ke kamar dan langsung saja memporak-porandakan kamar mereka terutama bagian tempat Asyh untuk mencari lencana universitas miliknya.

"Tidak ada. Dimana dia?" Asyh bermonolog sendiri dan duduk di tepi ranjangnya sambil berpikir.

"Bunyi benda jatuh?" Asyh kembali mengingat kejadian menyeramkan kemarin.

"Apa jatuh saat aku pergi dari tempat itu atau saat aku jatuh terguling kemarin?" Asyh masih berusaha berpikir.

Lama berpikir namun Asyh tidak mendapat keyakinan atas jawabannya.

"Hah, semoga saja aku tidak langsung di kick out dari kampus ini hanya karena lencana." Asyh bergumam penuh harap.

Asyh memilih kembali ke gedung kampus dengan langkah gontai tidak bersemangat.

"Bagaimana? Ada?" Vasya yang masih setia menunggunya dari tadi pun segera bertanya.

Asyh menggeleng lemah sebagai jawaban.

"Ya sudah, itu bukan hal yang wajib. Lencana itu hanya tanda yang menyatakan kau adalah mahasiswa/i baru. Kau bisa meminta pihak kampus membuatnya lagi untukmu mungkin?" Vasya mencoba menenangkan teman sekamarnya itu.

Asyh hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.

Vasya pun segera menuntun Asyh masuk ke dalam ruang kelas mereka.

Kelas mereka ternyata cukup ramai dan lebih didominasi oleh mahasiswa dibanding mahasiswi.

"Hah.." Asyh menghela nafas kasar dan hanya mengikuti langkah Vasya.

"Kita duduk di sini saja." Vasya mengajak Asyh duduk di kursi bagian tengah dari puluhan deretan kursi di dalam ruang kelas itu.

Asyh menurut saja.

"Hei, siapa nama mu?" Seorang mahasiswa mendekati Asyh dan mengulurkan tangannya.

"Asyh Xaezalista." Asyh menerima uluran tangannya namun tidak bertanya balik.

"Aku Azlan. Aku dari Malaysia." Mahasiswa tersebut memperkenalkan diri tanpa diminta.

Asyh hanya tersenyum sebagai jawaban.

Asyh takut untuk berhadapan dengan pria asing. Ia takut jika salah satu dari pria asing yang ia temui adalah kedua pria sadis yang kemarin.

Azlan kembali ke tempat duduknya karena merasa di abaikan oleh Asyh.

Asyh kini menunduk dan menunggu dengan bosan, sedangkan Vasya berkenalan dengan teman-teman sekelasnya.

Asyh memang bukan gadis yang terbuka dan mudah bergaul.

Tiba-tiba kelas yang tadinya ricuh kini mendadak sepi.

Hanya ada beberapa bisikan-bisikan yang terdengar.

"Tampan sekali."

"Auranya sangat mendominasi."

"Apakah dia sudah punya kekasih?"

"Aku ingin menjadi istrinya."

Begitulah beberapa bisikan-bisikan yang terdengar.

Asyh yang merasa penasaran pun mengangkat kepalanya.

Tatapan Asyh langsung di kunci oleh sepasang mata berwarna hitam pekat dari pria yang tengah menjadi pusat perhatian itu.

"Big No! Apa itu dia?" Asyh membatin ketakutan namun berusaha ia sembunyikan.

Pria yang menjadi pusat perhatian itu menampilkan smirk menakutkan bagi Asyh namun mampu membuat mahasiswi lain menjerit gila.

"Keep silent please!" Pria yang menjadi pusat perhatian itu akhirnya bersuara.

Suaranya sangat berat dan sexy.

"My name is Arlen Addison. This year i already Thirty. Aku adalah dosen utama dalam jurusan kalian. Kalian bisa memanggilku Sir atau babe mungkin. Haha, tidak aku bercanda." Arlen Addison terkekeh pelan.

Asyh bernafas lega karena pria di depannya itu bukan pria sadis kemarin. Benarkah? Atau ada yang tidak Asyh ketahui?

"Baiklah, aku rasa pertemuan kali ini kita harus berkenalan satu sama lain. Mulai dari dirimu." Arlen menunjuk ke arah Azlan tadi.

Azlan pun memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri.

"Berikutnya..kau." Arlen menunjuk ke arah Vasya setelah Azlan selesai.

Vasya juga berdiri dan memperkenalkan diri.

Selesai Vasya, Arlen menunjuk ke mahasiswa/i lainnya begitu seterusnya dan melewatkan Asyh begitu saja.

"Apa-apaan? Aku tidak penting yah?" Asyh bermonolog sendiri dan kesal.

"Baik, aku rasa perkenalan kita cukup. Aku ingin menunjuk satu dari kalian untuk menjadi asisten ku." Arlen kembali diam dan seolah memilih mahasiswa/8 yang cocok untuk menjadi asistennya.

"Kau." Pilihan Arlen jatuh pada Asyh.

"Aku? Kenapa aku? Sir, kau saja tidak ingin aku mengenalkan diriku, lalu untuk apa menunjuk ku menjadi asisten mu?" Asyh protes.

"Bukankah tadi kau sudah perkenalkan diri? Namamu Asyh Xaezalista kan? Atau aku yang salah?" Arlen bertanya seolah bingung.

Asyh semakin bingung. Jelas ia tidak ditunjuk sekalipun oleh dosen tampan di depannya, tapi kenapa tidak ada yang memihak kepadanya? Dan kenapa Arlen bisa tahu namanya dengan lengkap? Asyh sangat bingung.

"Ada apa Asyh? Kenapa kau bingung seperti itu?" Suara sexy Arlen membuyarkan lamunan Asyh.

Asyh hanya menggeleng sebagai jawaban meski ia masih bingung.

"Baiklah, jika tidak ada yang keberatan maka aku putuskan Asyh yang akan menjadi asisten ku untuk memudahkan pekerjaanku." Arlen memukul meja podium di depannya tiga kali sebagai tanda keputusannya mutlak.

Asyh kini menunduk lemah.

Entah kenapa ia merasa semua ini adalah awal dari hari-hari buruknya.

Arlen kembali menyampaikan beberapa hal kepada mahasiswa/i nya.

"Ada lagi yang kurang jelas atau ingin ditanyakan?" Arlen bertanya sopan.

Semua yang ada di ruangan itu menggeleng termasuk Asyh.

"Baik, aku rasa perkenalan kali ini cukup dan kalian bisa bebas." Arlen keluar dari ruangan kelas itu.

Asyh menatap punggung Arlen yang semakin menjauh dan entah kenapa Asyh merasa ngeri merasakan aura gelap yang mendominasi dari diri Arlen.

"Asyh, mau ke kantin?" Vasya mengajak.

"Tidak. Kau sendiri saja. Maaf, aku sedang tidak mood." Asyh menolak halus.

"Em, baiklah. Kau kembali ke kamar dan istirahat saja." Vasya mengacak pelan rambut sahabat barunya itu.

Asyh mengangguk dan keluar dari ruangan kelas itu.

Asyh berjalan sendirian di koridor kampus itu karena hanya kelas mereka yang dibebaskan saat ini sedangkan kelas lain masih dalam jam pelajaran.

"Asyh.."

...~ TO BE CONTINUE ~...

######

...__ MAMPIR YOKK __...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!