NovelToon NovelToon

Der Dieb (Mein Herz) - Si Pencuri Hatiku

Si Pencuri

Bang Sena...

Mia lapaaar sekali.

Kenzo dan Kenny nangis terus, ngga ada susu lagi, adanya air mentah.

Mia sabar ya.

Abang usahakan malam ini kita bisa makan...

*****

Kletek!

...

Drak!!

Sandra Ellen membuka matanya dengan waspada.

Ia sedang dalam kondisi tertidur lelap saat itu.

Namun bunyi benda jatuh. Atau retakan tembok? Tidak yakin juga, membuatnya terbangun dalam keadaan kaget.

Apa itu?

Batinnya.

Dengan hati-hati ia menegakkan tubuhnya dan menajamkan pendengarannya.

Ia baru pindah ke rumah kavling itu sekitar sebulan lalu.

Ia belum terlalu mengenal lingkungan ini kecuali Pak RT yang rumahnya terletak di ujung komplek dan Bu Sekretaris RT yang kerap mengumpulkan uang iuran dan arisan.

Drek !

Bunyi kulkas dibuka?

Sandra hanya tinggal sendiri, karena ia sedang dalam kondisi 'melarikan diri' dari keluarga besarnya yang senantiasa menekannya untuk segera menikah di usianya yang sudah 29 tahun.

Rumah kecil yang ia beli ini, lokasinya belum diketahui keluarganya.

Tidak, ia tidak dipaksa untuk dijodohkan dengan CEO entah siapa untuk tujuan pembayaran hutang, tidak.

Tidak se-ekstrim di novel percintaan seperti itu, lagipula mereka bermukim di negara hukum dan Sandra dalam usia dewasa.

Masalahnya Eyang Putrinya mau mewariskan harta melimpahnya pada keluarga dengan syarat Sandra atau Gerald, kakaknya, sudah berkeluarga.

Menikah, dengan kata lain.

Gerald langsung 'kabur' ke Jerman.

Sialan kakaknya itu. Lebih dulu kabur.

Dasar licik! Padahal Gerald lebih tua 11 tahun dariku! Seharusnya dia yang menikah duluan, bukannya aku.

Umpat Sandra dalam hati.

Dan Sandra, juga mengikuti jejak kakaknya, melarikan diri dengan membeli rumah kecil untuk ia tinggali sendiri, tanpa sepengetahuan Papa-Mamanya.

Dan sekarang...

Ia sendirian.

Dengan bunyi misterius, tampaknya berada di dapurnya, membuka kulkasnya.

Maling?

Tampaknya maling.

Kenapa kulkas?

Sudahlah.

Mana tongkat golfnya?!

Sial. di ruang tamu!

"Verdammt!" (Sial!) Umpatnya.

Sandra menoleh ke kiri dan kanannya, dan menemukan hairdryer.

Ini bisa dijadikan senjata ngga sih?! Pikirnya.

Sudahlah.

Hanya ini benda keras yang terpikir.

Di dapur ada seperangkat pisau daging, ia akan memukul dengan hairdryer sebagai pengalih perhatian, lalu mengambil pisau dagingnya.

Mana ponselnya?

Astaga! Di ruang tamu juga!

"Dummkopf..." (Bodoh) Keluhnya ke dirinya sendiri.

Berapa nomor telepon polisi Indonesia??

110?

Sandra juga tidak begitu yakin. Mungkin 110.

Sandra mengendap-endap keluar dari kamarnya, dengan hairdryer di salah satu tangannya.

Itu dia!

Siluet tinggi di depan kulkasnya yang terbuka.

Tampaknya sedang menguras isinya.

Sandra tertegun merasa aneh.

Kenapa kulkasnya?

Sandra hanya diam di sana, memperhatikan tingkah laku penyusup itu.

Sepertinya seorang pria

Mengenakan jaket hoodie hitam, masker, topi dan sarung tangan.

Tubuhnya jauh lebih tinggi dari Sandra.

Lalu setelah isi kulkasnya habis, pria itu ke kabinet dapur di atas.

Menemukan sekardus mie instan.

Dan juga menguras isinya.

Dimasukan semuanya ke dalam ransel gunung.

Lalu ia gendong di punggungnya.

Dan pria itu menoleh ke kanan dan kiri.

Sandra langsung bersembunyi di celah pilar.

Pria itu juga mengambil setoples kue kering yang ada di konter dapur.

Lalu...

Naik ke plafon atap, dan menghilang.

Sandra bisa mendengar bunyi halus di gentingnya, seperti suara orang melangkah di atasnya.

Lalu sunyi.

Setelah beberapa saat, ia menunggu sekitar 15 menit, diam di balik pilar.

Wanita itu menyalakan lampu.

Dan berkacak pinggang melihat kondisi dapurnya.

Berpikir sangat lama di sana.

Negara ini tampaknya penuh dengan orang kelaparan.

Sampai emas dan tas branded di kamar utama tidak disentuh, malah fokus ke makanan.

Besok ia bertekad akan membeli cctv.

*****

Lüster Schon Jewel By Jarvas Co.

Sandra Ellen menatap papan nama yang melatarbelakangi etalase produknya sambil menyesap kopinya.

Perusahaannya baru berdiri selama dua tahun. Produk andalannya adalah perhiasan wanita, dengan batu mulia berkualitas tinggi dipasok dari Rusia dan China.

Secara keseluruhan, LSJ (Lüster Schon Jewel) adalah anak usaha dari Jarvas Company milik Kakaknya, Gerald. Sandra hanya memiliki 20% saham pengendali atas perusahaannya, sisanya adalah kakaknya.

Mimpinya perlahan-lahan mulai terwujud, memiliki perusahaan perhiasaan sendiri, dengan desain yang ia rancang sendiri, berikutnya tinggal mengambil alih sahamnya dari Gerald, lalu melepasnya ke beberapa kolega agar ia bisa lepas dari bayang-bayang kakaknya.

Dengan catatan, apabila keuntungan melebihi target.

Dan merambah ke IPO bila perlu.

Tahun ini, ada dua acara pagelaran busana yang akan memasok cinderamata dari LSJ.

Juga souvenir eksklusif pada acara pernikahan keluarga Konglomerat Bataragunadi. Mereka sudah mengikat kontrak dengannya.

Awal yang sangat bagus di dua tahun berdiri.

Seharusnya ia senang.

Seharusnya...

Tapi kenapa hari ini ia malah termangu di depan etalase tokonya? Sepertinya papan nama dengan logo perusahaannya tidak ada yang salah.

Entahlah.

Sandra hanya ingin menatapnya.

Ia mengingat kejadian tadi malam.

Scene demi scene.

Menit demi menit.

Apa yang terjadi kalau Sandra memergoki laki-laki itu tadi malam? Apakah nyawanya akan dalam bahaya?

Perusahaan cctv akan datang sore ini, Sandra minta dijadwalkan bertepatan dengan jam pulang kerja.

"A-Anuu. Bu Sandra?" Nia, salah satu staff kepercayaannya menegornya.

Sandra menoleh padanya, masih dengan kacamata hitam brandednya, yang ia pakai di dalam ruangan.

"Ja?" (Ya?) Sandra menoleh otomatis sambil tersenyum.

"Apa. Ehm. Apakah ada yang tidak berkenan dengan penataan toko?" Tanya Nia ragu.

"Echt? Nein nein." (Oh Ya? Tidak tidak.) Kata Sandra sambil mengibaskan tangannya.

"Alles ist gut (semua baik-baik saja). Saya hanya- sedang memikirkan sesuatu. Tidak apa, bukan hal besar, kok." Sahutnya.

"Jadi begini, Bu. Saya mau bicara kalau ibu ada waktu luang." Kata Nia dengan suara yang dibuat rendah.

"Boleh saja bicara. Mau bicara di sini?"

"In private kalau bisa."

"Ach so.(Ooh, Oke.)" Sandra menengadahkan tangannya, menunjuk ruangannya yang ada di bagian dalam toko.

Nia mempersilahkan atasannya itu berjalan di depannya lebih dulu.

*****

Nia benci ada di ruangan ini.

Setiap sudut ruangan Sandra Ellen Bagaswirya adalah perwujudan dari kesombongan wanita berdarah Jerman ini.

Begitulah yang Nia pikirkan.

Ruangan luas yang menghabiskan hampir seperempat lot kantor pusat.

Tampak membuang-buang fungsi, demo estetika belaka.

Dan isinya...

Mewah, berkelas, elegan sesuai pemiliknya.

Sangat tidak seimbang dengan keadaan negeri ini.

Pikir Nia.

Apa yang Sandra pikirkan saat membangunnya? Membuang-buang uang untuk alasan ke-elitannya.

Ah ya, memang bukan urusan Nia sebenarnya. Toh, kantor ini milik 'Sandra Sang Ratu'.

Nia hanya asisten.

Hanya jongos.

Digaji beberapa kali lipat lebih besar dari UMR, untuk mendampingi Sang Ratu membawakan tas branded dan mencatat jadwal.

Kalau saja...

Keadaan berbalik.

Apakah Nia juga akan melakukan hal yang sama seperti Sandra?

Kalau Nia yang dilahirkan sebagai keturunan Raja, apakah akan membuang-buang uangnya dengan mudah seperti Sandra?

Anggap saja ia iri.

Paling tidak, Sandra sudah berbaik hati memberi Nia pekerjaan, di tengah keadaan resesi seperti ini.

"Was ist los, Nia?" (Ada apa, Nia?)

Nia mengernyit.

Bahasa 'planet' yang digunakan Sandra membuat telinganya berdengung.

Ini di Indonesia, haruskah menggunakan bahasa Jerman? Memangnya semua karyawan bisa mengerti?!

Atau Sandra memang ingin dianggap berkelas?

Pikir Nia.

"Saya boleh mengajukan pinjaman ke perusahaan bu?" Tanpa basa-basi Nia mengutarakan keinginannya.

Menurutnya ia pantas mengajukannya.

Sejak Nia mendampingi Sandra mengelola toko perhiasan ini, Nia mengerjakan hampir seluruh kegiatan administrasi dan operasional. Sandra hanya perlu melakukan pendekatan intens ke relasi, sisanya Nia yang mengurusi kontrak kerja dan teknis.

Nia juga tidak minta naik gaji, Sandra yang otomatis menaikan penghasilan dan Bonus Nia setiap 6 bulan sekali.

Jadi Nia berpikir kalau kemajuan perusahaan juga adalah karena ia ikut andil di dalamnya.

Malah seharusnya, karena jasa Nia, tidak perlu dilakukan pinjaman. Cukup berikan saja salah satu dari puluhan tas Sandra Ellen yang nilainya ratusan juta untuk dijual oleh Nia.

"Berapa jumlah yang kamu ajukan kali ini?"

"100juta bu, saya cicil 36 bulan. Kalau bisa bunganya 0%."

Sandra mengetuk-ngetuk mejanya sambil menatap ke bawah, ia sedang menimbang permohonan Nia.

Ini bukan pertama kalinya Nia berhutang, dua cicilan yang lain belum kunjung lunas. Nia meminjamnya dari Sandra pribadi.

Sandra memang bisa mengikhlaskannya untuk Nia, namun melihat tingkah laku Nia, ia ingin wanita di depannya ini memiliki kesadaran untuk membayar hutang.

Karena Nia memiliki gaya hidup yang menurut Sandra berfoya-foya. Nia memang masih single dan seharusnya tidak menghabiskan pengeluaran sebanyak itu.

Sering ponsel Sandra ditelepon oleh orang dari debt collector pinjaman online yang menanyakan mengenai Nia.

Dan akhirnya Sandra yang melunasinya.

Itupun Nia tidak berterimakasih karena merasa pinjaman onlinenya hanya sejuta-dua juta, mungkin menurut Nia itu uang receh bagi Sandra.

Jadi tidak perlu berterima kasih.

Nia merasa sudah sepantasnya ia diberikan reward karena jasanya untuk perusahaan Sandra.

Sandra menghela napas sambil duduk dengan anggun. "Nia, kalau pinjam dari perusahaan, bunganya tidak bisa 0%. Karena saya mengambil jatah bonus karyawan lain. Kalau mau profesional, saya tidak bisa mencampur adukan kehidupan pribadi dengan perusahaan. Begini saja, kamu pinjam saja 50juta dari saya. Tidak usah dari perusahaan. Untuk mencicil saya langsung potong dari gaji kamu agar tidak terasa."

"Ya ngga bisa dong bu!" Sahut Nia cepat.

Sandra sampai menaikkan alisnya menanggapi Nia.

"Saya juga butuh bayar listrik, internet, cicilan mobil, sewa apartemen, belum mengirim uang ke bapak-ibu saya. Gaji saya sebulan sudah kecil bu, hanya 15 juta mau dipotong, nanti saya makan apa?" Kata Nia

Sandra tertegun.

Bukankah bulan kemarin Nia tinggal di koos-kosan dekat kantor? Kenapa sekarang jadi di apartemen? Dan lagi, sejak kapan dia beli mobil?!

Yaaa sudahlah.

Kebutuhan hidup orang beda-beda.

Pikir Sandra.

Sandra menghela napas sambil membetulkan posisi duduknya dengan gusar.

"Oke, Nia. Gaji kamu saya naikan untuk membayar cicilan 100jutanya. Tapi saya tidak bisa menaikan Gaji melebihi 17 juta, karena untuk pengrajin kita yang pengalaman kerja dan jam terbangnya lebih dari 10 tahun saja digaji hanya 17jutaan. Jelas? Kamu terima atau tidak, terserah." Sahut Sandra bersikap tegas.

"Tapi pengrajin kan ngga bisa mengerjakan administrasi." Sungut Nia.

"Lulusan Sarjana Kimia saja bisa mengerjakan administrasi kalau mengikuti SOP Perusahaan." Balas Sandra.

Nia merengut, ia tampak berpikir sesaat.

"Ya sudahlah." Akhirnya Nia menjawab.

"Tapi mulai sekarang, untuk urusan antar-antar dokumen ke klien jangan suruh saya ya bu. Suruh kurir saja, saya banyak kerjaan di dalam." Sahut Nia sambil beranjak berdiri dan pergi dari ruangan.

Sandra menatap sosok Nia yang akhirnya berjalan dengan menghentak-hentak, seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan, dengan kesal.

Astaga. Persoalan karyawan.

Pikir Sandra.

Tapi Sandra masih butuh Nia.

Kerjanya perfeksionis dan rapi. Juga teliti dan mengerti banyak hal mengenai legalisasi.

Namun kalau tingkahnya seperti ini...

Sudahlah, masih banyak hal lain yang harus dipusingkan.

Batin Sandra.

Wanita itu kini beralih meneliti dokumen suku cadang yang diajukan perajinnya.

Lalu matanya mulai berbinar saat melihat detail rangka yang tertera disana, lalu langsung membandingkannya dengan konsep desain yang ia buat sendiri.

"Wah!Wunderschön." (Cantiknya) Desisnya senang. Ia langsung menyambar ponselnya.

"Kang Pur? Das Armband ist wunderschön. gefällt mir. (Gelangnya cantik. Saya suka.) Kita harus meeting siang ini untuk membahas lebih lanjut ya. Saya siapkan presentasinya. Baik Kang, ajak yang lain juga."

Lalu ia menyibukkan dirinya dengan berbagai laporan setelahnya.

*****

Aku Terpaksa

Sena menatap ponselnya dengan hati campur aduk.

"Mohon maaf. Pengajuan kerja anda ditolak karena tidak memenuhi kualifikasi." Begitu pesan yang tertera di layar ponselnya.

Lalu laki-laki itu melempar ponselnya ke atas kasur tipis dengan putus asa.

Ini perusahaan ke 58 yang menolaknya.

Sena duduk bersandar di tembok triplek lapuk sambil menutupi dahinya dengan sebelah tangannya.

Aku cari pekerjaan di mana lagi?

Uangku tinggal 50ribu. Tidak ada lagi yang bisa dijual.

Aku tidak mau mencuri lagi.

Desisnya dalam hati.

"Abang..." Mia, 10th, duduk di depannya. "Masih ada mie instannya ngga? Aku lapar. Dari kemarin malam belum makan."

"Di kardus habis?"

"Habis Bang."

"Kue keringnya?"

"Habis juga."

"Oke abang cari mie instan dulu ya ke warung."

"Bang, susunya juga habis. Jadi Kenny dan Kenzo aku kasih teh tawar. Soalnya mereka nangis terus. Badannya agak anget."

Astaga!

Kenny dan Kenzo baru 7 bulan. Harus minum Teh Tawar?

"Iya, abang juga beli susu. Kamu kalau yang begitu habis, langsung bilang yah, jangan sampai mereka mal nutrisi."

"Hem. Maaf Bang, lain kali aku langsung bilang." Kata Mia mengangguk.

Sena membelai kepala Mia sambil beranjak ke warung untuk membeli susu dan mie instan.

*****

Kenapa tiba-tiba uangku tinggal 15 ribu?!

Pikir Sena panik.

Ia baru saja menerima kembalian dari warung dan tertegun.

Apakah nanti malam aku harus...

Astaga!

Aku terpaksa!

*****

Drak!

Sandra membuka matanya.

Ia bisa mendengar ...

Lagi-lagi bunyi kulkas di buka!

"Mist ... " (Aduh) keluh Sandra sambil bangun dengan perlahan.

Sudah sebulan lamanya sejak kejadian terakhir, Sandra masih mengingat traumanya.

Ia memang tidak melaporkan kejadian itu ke polisi karena hanya makanan yang dikuras.

Tapi ia akhirnya memasang cctv di seluruh pojok rumahnya.

Ia mengambil tongkat baseball dari besi yang ia sediakan di sebelah ranjangnya dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara.

Lalu dengan langkah sepelan mungkin ia keluar dari kamarnya (pintu kamarnya tidak pernah ditutup karena ia tinggal sendirian) sambil menggenggam tongkat besinya dengan kuat.

Ke arah dapur.

Bersembunyi di celah dinding.

Dan mengamati sosok tinggi di dalam konter dapurnya.

Berusaha merekam penampilan si penyusup lewat ingatannya.

Jaket hoodie hitam, topi hitam, masker hitam, sarung tangan karet.

Jaketnya kini digulung sampai siku, lengannya tampak kokoh dengan sembulan urat.

Sandra bisa melihat tato naga menghiasi lengannya.

Ia seperti biasa menguras semua isi kulkas Sandra, lalu ke konter atas mengambil semua biskuit, Mie instan, makanan kaleng.

Ini bukan pencuri biasa.

Kalau benar-benar maling, ia pasti menyasar kamar utama. Karena semua perhiasan ada di sana.

Tapi penyusup ini menyasar dapur.

Batin Sandra.

Sandra meraih stop kontak dan menyalakan lampu.

Sosok hoodie hitam itu tampak terkaget dan terpaku di tempat, karena ruangan yang terang tiba-tiba.

Lalu menoleh sedikit.

Ia bisa melihat Sandra ada di belakangnya lewat pantulan bayangan buram dinding kulkas di sebelahnya.

Sandra memegang tongkat baseball dan memperlihatkan layar ponselnya yang bertuliskan 110 untuk mengancam si penyusup. "Saya memegang ponsel, siap menelpon polisi. Kamu jangan macam-macam!" sahut Sandra.

Si penyusup mengangkat tangannya pelan-pelan tanda menyerah.

"Berbalik perlahan." Sahut Sandra.

Si penyusup menghela napas panjang, lalu perlahan berbalik.

Dan menatap Sandra.

"Buka masker kamu." Sahut Sandra.

Si penyusup diam beberapa saat memperhatikan Sandra.

Matanya menatap Sandra dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Lalu ia menoleh ke samping, melihat apron yang tergantung di samping kulkas.

Dan meraihnya.

Lalu meletakkannya di konter di antara mereka.

Sambil menunjuk Sandra dengan dagunya.

Sandra mengernyit bingung.

Menatap apron di depannya.

Apa maksudnya? Pengalih perhatian atau bagaimana? Pikir Sandra.

Namun ia tertegun saat si penyusup membuang muka ke samping, berusaha tidak menatap Sandra.

Sandra mulai jengah dan dengan hati-hati ia menunduk ke bawah, memperhatikan dirinya sendiri.

Lalu terkesiap, terpekik saat menyadari kalau ia dalam kondisi tidak berbusana.

"Mein Gott!!" (Ya Tuhanku) pekik Sandra menyadari kesalahannya.

Ia baru ingat saat pulang kerja, ia mandi dan karena sangat capek ia langsung tidur tanpa berpakaian.

Ia bahkan sempat ketiduran dalam bathtub. Untung saja tidak tenggelam dan bangun di saat yang tepat.

Namun setelah itu dia kembali tertidur di kasur dengan hanya berbalut handuk.

"Du bewegst dich nicht, oder ich rufe die Polizei!" (Kamu jangan bergerak, atau kupanggil polisi!) Sahut Sandra sambil meletakkan ponsel dan tongkat besinya dan meraih apron untuk memakainya.

Si Penyusup kini sudah menurunkan tangan yang tadi terangkat tanda menyerah.

Ia berdiri bersandar di konter sambil menunduk.

Sepertinya ia tidak membawa senjata apa pun, namun Sandra bisa melihat tas ransel besar untuk kemping di samping kulkas.

Isi ranselnya adalah makanan dari kulkas Sandra.

Saat itu Sandra merasakan suatu keanehan.

Ini bukan pencuri biasa.

Kalau ia benar-benar jahat, ia sudah memperkosa Sandra dari tadi.

Sandra tertegun sambil menatap sosok di depannya, yang kini sudah mengangkat wajahnya, menatapnya lurus.

Pandangan matanya ...

Sendu dan memelas.

Mata coklat yang indah, terbias terkena cahaya lampu dapur.

"Bleib still!" (Diam di sana) Sahut Sandra.

Si penyusup mengangguk sekilas. Lalu pria itu menghela napas.

Sandra mengernyit.

Barusan ia bicara bahasa Jerman.

Dan Pria di depannya ini mengangguk.

Jelas si penyusup adalah orang terpelajar sebenarnya. Paling tidak ia mengerti bahasa Jerman.

Sandra mundur sedikit untuk meraih laci di belakangnya.

Lalu mengeluarkan amplop coklat dari sana.

Uang belanja untuk ARTnya di pagi hari, persediaan selama sebulan.

Si ART tinggal tidak jauh dari rumah Sandra, jadi terbiasa pulang-pergi.

Sandra meletakkan amplop itu di atas meja konter di antara mereka.

"Ambil ini. Dan jangan kembali lagi." Desis Sandra waspada.

Si Penyusup hanya menatap amplop itu. Ia tidak bergerak dari sana.

Tampak pria itu sedang berpikir untuk menerima atau menolak pemberian Sandra.

Amplop coklat itu lumayan tebal.

Akhirnya si Penyusup meraih amplop itu dan membuka isinya.

Satu gepok uang berwarna biru.

"Sudah diambil beberapa lembar untuk belanja. Tapi kurasa cukup untuk kebutuhan kamu sehari-hari. Ambil juga semua isi kulkas saya, dan tolong kali ini keluar lewat pintu depan, jangan lewat plafon."

Sandra kuatir genteng rumahnya roboh karena laki-laki ini lumayan tinggi dan besar.

Terdengar helaan napas dari arah si Penyusup.

Lelaki itu mengangkat tas Ransel, kardus mie instan, lalu amplop uangnya di masukan ke saku depan hoodienya.

Sandra menyingkir saat Pria itu melewatinya.

Wangi.

Susu? Minyak telon?

Sandra mengernyit.

Tapi memutuskan untuk memikirkannya nanti saja dan mengikuti pria sampai ruang tamu.

Pria itu agak menyingkir saat Sandra akan membuka kunci pintu keluar.

"Silahkan." Desis Sandra sambil mempersilahkannya keluar.

"Terima kasih." Desis si penyusup. Suaranya rendah dan terkesan lembut.

Dari tarikan kulit di atas maskernya, Sandra bisa melihat mata lelaki itu menyipit, tersenyum padanya.

Kenapa...

Jantungku rasanya langsung berdebar-debar begini?!

Pikir Sandra saat Pria itu sudah menghilang di kegelapan malam.

Mungkin akibat shock karena berinteraksi dengan penyusup.

Astaga !

Aku bisa saja mengalami kekerasan!

Sandra mengusap rambut pirangnya ke belakang kepala dan berusaha menguasai dirinya.

Napasnya tersengal-sengal.

Maka ia pun mengibaskan tangannya. Berusaha mengusir hawa menegangkan.

Lalu masuk ke dalam dan mengunci pintunya kembali.

*****

Ya Ampun.

Semalaman aku tidak bisa tidur.

Pikir Sandra.

Wanita itu termenung di meja kerjanya sambil menunduk menatap kertas putih kosong di depannya.

Mata itu ...

Menghipnotisku.

Aku terus-terusan memikirkannya.

Sangat memikat!

The thieft...

Itu dia!

Itu konsep untuk gelang pria berikutnya!

Sang Pencuri...

Dengan kalut Sandra menyambar pensilnya dan mulai mencorat-coret kertas desainnya.

Batu alam yang dipilih? Ah! Sudah pasti Tiger Eye, coklat redup yang berkilau saat terkena cahaya.

Pikirnya.

Lalu,

Kulitnya putih susu, batu alam lainnya. Mutiara air tawar putih.

Lalu rambutnya yang tersembunyi dari balik topinya. Hitam berkilau.

Opal terlalu biasa.

Tidak, jangan opal.Opal tidak berkilau sejelas itu.

Sandra menggaruk rambutnya, memikirkan batu yang lebih eksklusif.

Lalu menatap brankas di depannya.

Berlian hitam.

"Ja. Berlian. Eksklusif dan berkilau. Menghipnotis semuanya." Gumam Sandra. Ia kembali mencorat-coret kertasnya.

"Meine Güte! Das wird ein Meisterwerk!" (Astaga! Ini akan jadi masterpiece!) Serunya senang saat menatap desainnya.

"Indahnya." sahutnya kagum, membayangkan rangkanya. "Ini pasti akan Mencuri hati semua orang!"

Senyum puas terpatri di bibir wanita itu.

Der Charme Des Diebes.

Pesona Sang Pencuri.

Itu nama tema marterpiecenya kali ini.

Bertemu

Dering telepon mengagetkan Sandra saat ia sedang mendesain konsep melalui drawing pad pada Macbooknya.

Sandra sedikit berdecak.

Yah, mengganggu konsentrasi saja... keluhnya dalam hati.

lalu ia menatap layar ponselnya.

Eyang Gandhes

"Autsch ! " (Aduh) keluhnya.

Sebenarnya Ia malas mengangkatnya, namun yang menelponnya adalah orang penting dari semua manusia yang ia kenal.

"Eyang Putri..." Sapa Sandra.

"Tidak langsung mengangkat, malas yah ditelepon Eyang..." Eyangnya langsung menyindirnya.

"Iyaaaa..." Sandra mengakui. Terdengar kekehan eyangnya yang bening.

"Lagi apa toh nduuk..." Tanya eyangnya.

"Lagi gambar desain baru aku, eyang..."

"Hm... Kamu bikin desain baru lagi ya? Kali ini apa temanya?"

"Temanya..." Sandra tersenyum. "Pencuri Hati."

"Waaah... Dari namanya saja eyang sudah merasakan suatu getaran yang beda."

"Udah deh eyang basa-basinya cukup. Ada apa?"

Terdengar eyangnya itu terkekeh lagi.

"Begini, sayang... Dua bulan lagi ulang tahun eyang. Eyang juga akan mengundang banyak tokoh masyarakat dan pejabat. Otomatis, Gerald harus datang. Dia harus tampil agar eyang tidak kehilangan muka di hadapan orang-orang."

"Kakak ngga mau pulang ya."

"Kakak kamu malas diceramahi untuk segera menikah."

"Itu kan salah eyang. Buat apa bikin sayembara segala." Sahut Sandra sambil melanjutkan pewarnaan konsep masterpiecenya.

"Kalau mau mewarisi sesuatu ngga usah lah pakai iming-iming perjodohan, kalau ngga ikhlas berikan saja semua ke negara dari awal." omel Sandra.

"Aduh, eyang diomelin..." Eyang Gandhes terkekeh. "Itu maksudnya baik loh sayang... kamu pasti akan menyukainya di akhir."

"Eyang dapat penglihatan lagi ya? tentang aku dan Kakak?"

"Iya."

"Ngga semua bisa diselesaikan dengan mistis loh Eyang."

"Loh, penglihatan itu kan datangnya dari Yang Kuasa. Hehe."

"Mana kita tahu..."

"Pokok e begini yo Nduk, usahakan nanti kamu bawa pasangan lah. Kalau kamu duluan yang bawa, Gerald jadi percaya diri dan mau datang, karena pasti perhatiannya akan beralih ke kamu."

"Aku ngga punya pacar, eyang."

"Sebentar lagi ada. Kalo Gerald masih agak lama. hehehehe."

"Eyang ngaco ih! Udah ah aku mau lanjutin kerja." Sandra merinding, ia mengusap kedua lengannya.

*****

Sandra memarkir mobilnya di garasi rumahnya.

saat ini jam tangan mahalnya sudah menunjukan pukul 21.00.

Ia terlalu bersemangat kerja rupanya.

Tapi saat meeting tadi siang, membicarakan mengenai konsep untuk pameran yang selanjutnya, perajin dan marketingnya tampak sangat antusias.

Mereka memuji desain yang Sandra perlihatkan.

Bahkan Kang Pur, perajin utama, langsung membuatkan budget untuk pengadaan barang saat itu juga. Mereka langsung membentuk tim untuk pengerjaannya.

Beberapa Marketingnya bahkan memberi masukan yang menurut Sandra sangat bermanfaat untuk metode pemasarannya.

Seperti Bima, Kepala Marketing, langsung menghubungi koleganya untuk promotor konsep kali ini. Mereka mengajukan proposal untuk penyewaan lokasi yang menurutnya cocok dengan desain "Sang Pencuri".

Villa di kaki gunung yang menurut Sandra sangat eksklusif. Pameran kali ini dibuat terbatas. Karena itu kualitas harus sempurna!

Semua orang optimis.

Bahkan mereka menyatakan bersedia bonus dibayar belakangan menunggu laporan keuangan audit per semester.

Kecuali ...

Nia

Wanita itu sangat pendiam hari ini.

Terkesan cuek dan dingin.

beberapa kali Sandra memergokinya mencibir saat orang-orang mengeluarkan pendapatnya. Membuat Sandra tidak jadi menyapa wanita itu.

Apakah sikapnya itu berhubungan dengan pinjaman yang dibicarakan waktu itu?

Sudahlah,

Fokus saja pada pekerjaan.

Mobil sudah ia parkir dengan sempurna, Sandra meraih remote untuk menutup gerbang rumahnya sambil memperhatikan area belakang mobilnya melalui kaca spion.

Dan...

Ia melihat sosok yang ia kenal.

Laki-laki itu! pekiknya dalam hati.

Sandra menoleh ke belakang, ke arah jendela mobil.

Bukan halusinasi!

Itu benar-benar dia!

Serunya dalam hati. Entah perasaannya senang atau takut.

Sandra langsung menghentikan tombol remotenya dan berpikir.

Kenapa laki-laki itu di sini? Di depan rumahnya? Terang-terangan?!

Walaupun sudah larut malam, namun kondisi komplek rumahnya masih banyak orang berlalu-lalang. Terutama jamaah yang baru selesai mendengarkan Kajian Agama dan Tausyiah di masjid dekat rumahnya.

Amankah menemuinya saat ini?

Sandra melihat dari kaca spionnya, laki-laki itu bersandar di pinggir pagarnya yang terbuka.

Sepertinya menunggu Sandra keluar dari mobil.

Sandra memicingkan mata.

Astaga! desisnya, lebih ke kagum.

Dia tampan sekali.

Dan sepertinya masih muda.

Matanya sayu menatap lurus ke arah Sandra.

Lalu Sandra melihat security kompleknya menghampiri lelaki itu. Mereka tampak berbincang. Sepertinya sudah akrab benar.

Oke, ada security , jadi tampaknya suasana aman terkendali.

Pikir Sandra.

Ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil, setelah menarik napas panjang untuk ketenangan hatinya.

*****

"Nah, itu Bu Sandranya." Sahut security sambil menunjuk Sandra.

Sandra berjalan ke arah mereka, berusaha santai dan bersikap setenang mungkin.

"Selamat malam Pak Endang." Sapa Sandra ke Security.

"Malam Bu, Baru pulang kerja?"

"Ya Pak. Kondisi aman?" tanya Sandra berbasa-basi.

"Masih aman Buu. Ini tadi Masnya cari Ibu. Dia udah nunggu lama sejak jam 5 sore tadi, tapi Ibu ngga pulang-pulang."

Wow!

Dia bersedia menunggu Sandra pulang kerja.

Tampaknya kali ini ada hal penting yang akan dibicarakan.

"Ya Pak Endang, terimakasih sudah bersedia menemani," sahut Sandra sambil merogoh tas tangannya dan menyelipkannya selembar uang ke tangan si security.

"Uang gorengan, kurangi merokok ya Pak Endang,"

"Ah! Bu Sandra ini repot-repot. Hehehehe. Mari Buuu." sahut Pak Endang sambil mengangkat topinya sedikit dan berlalu dari sana.

Dan kini, tinggal mereka berdua.

Berdiri berhadapan.

Dengan sikap jengah.

Dengan ragu, namun masing-masing dengan tingkat kewaspadaannya sendiri.

Sandra menatap Sena dari ujung kepala sampai kaki.

Wanita itu berusaha menunjukkan kalau ia tidak takut pada pria di depannya ini.

Sandra berada di teritorinya, di rumahnya, dan pria ini adalah orang asing.

Dan pria ini adalah seorang pencuri.

"Ada perlu apa?" tanya Sandra membuka pembicaraan.

"Hem ... Boleh bicara dengan lebih tertutup?" Kata pria di depannya ini.

"Untuk?" Tanya Sandra. "Saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan."

Pria itu menghela napas.

Lalu mengangguk perlahan, tampaknya ia mengakui ucapan Sandra.

"Ini ... mengenai uang yang kamu berikan kemarin padaku." kata pria itu.

Sandra mengangkat alisnya.

"Kenapa?"

Sandra mau bertanya, apakah pria ini mau meminta lebih, atau malah mau mengembalikan. Tapi tampaknya kalau Sandra bicara seperti itu akan menimbulkan masalah baru, jadi Sandra hanya bilang : kenapa?

"Harus bicara di sini?" tanya pria itu ragu.

"Di sini lebih aman." kata Sandra.

"Jadi secara tidak langsung kamu ingin orang-orang tahu kalau aku melakukan tindakan kriminal tadi malam ke kamu." Begitu kesimpulan yang pria itu ambil.

"Kamu kesini saja, di mataku sudah merupakan penyerahan diri." balas Sandra.

Tapi akhirnya wanita itu menghela napas dan berkata,

"Ya sudahlah, silahkan masuk."

Walaupun ia enggan.

Sandra mempersilahkan pria itu duduk di teras rumahnya.

Ia juga tetap membuka gerbangnya.

Mana mungkin ia mengizinkan masuk orang yang tadi malam mencuri di rumahnya?!

Setidaknya di teras rumah, selain pembicaraan mereka tidak terdengar orang-orang, Sandra juga masih merasa aman karena banyaknya orang yang mondar-mandir di luar gerbang.

"Oh, Bu Sandra sudah pulang?" Bibi ART membuka pintu masuk. "Eh, ada tamu, toh! Kok ngga di dalam Bu?"

"Di sini saja. Cuma sebentar. Tolong bikinkan minum ya Bi. Kamu mau minum apa?"

"Hm? Air putih saja," sahut pria itu.

"Tolong ya bi," desis Sandra.

"Ya Bu. Setelah ini saya rencananya mau pulang. Sudah malam."

"Ya Bi, Silahkan."

Bibi menghilang dari balik pintu, kembali masuk ke dalam rumah.

"Nama kamu siapa?" tanya Sandra sambil duduk di kursi di samping pria itu, sambil menyilangkan kakinya yang jenjang.

Terlihat Pria itu melirik sekilas ke kaki Sandra. Sandra jadi teringat kalau Pria ini sudah melihat keseluruhan tubuhnya.

Seketika lengan dan tengkuknya langsung merinding.

Yah, memalukan memang, tingkah Sandra waktu itu. Bisa-bisanya ia tidak memakai pakaian!

"Namaku Sena."

Sandra mengangguk.

"Ada perlu apa, Sena?"

Hening sesaat.

Lalu Sena menghela napas.

"Maaf aku sudah ... Masuk rumah kamu. Aku dalam keadaan terpaksa. Tapi ... Aku juga belum bisa mengembalikan yang ku ambil,"

Sandra mengernyit menatapnya.

Pria ini, Si Sena ini, mempertaruhkan banyak hal dengan muncul lagi di depan Sandra.

Bisa saja Sandra melaporkannya ke sekuriti tadi, kan?

Atau membekuknya sekarang, atau memfotonya dan melaporkan hasil tangkapan cctv di terasnya karena pria ini menunjukan wajahnya.

Apa yang membuat Sena sekarang berada di sini?

"Kalau tidak keberatan, aku boleh beritahukan alasannya?" tanya Sena.

"Aku mau tahu alasannya," sahut Sandra.

Ia memang penasaran.

Kenapa pria setampan ini menjadi pencuri di dapurnya.

Apakah tidak ada pekerjaan lain yang lebih halal?

Pria dengan wajah seperti ini pasti akan sangat mudah mencari pekerjaan.

Sena tampak mengutak-atik ponselnya. Lalu menunjukan foto di dalamnya.

"Aku memiliki 3 orang anak. Dan Aku seorang residivis."

"Ah!" Desis Sandra.

Kepalanya langsung pusing.

"Aku membunuh pria yang memperkosa putri sulungku, usia anakku waktu itu 3 tahun."

"Aku dipenjara 5 tahun waktu itu, aku bisa bebas setelah diberikan remisi karena dianggap berkelakuan baik. Setelah bebas, istriku minta cerai. Dia saat itu sedang mengandung dua janin kembar dari selingkuhannya."

"Aku tidak punya pekerjaan, lalu temanku menawarkan posisi kurir. Ternyata barang yang aku bawa isinya narkotika. Aku dipenjara lagi. Sekitar 1,5 tahun, tidak begitu lama karena terbukti kalau aku dijebak."

"Setelah bebas mantan istriku bilang kalau ia sudah tidak sanggup mengasuh Mia dan si kembar. Lalu semua kini dalam pengasuhanku."

"Tapi Pengadilan belum tahu. Ada surat kuasa dari istriku diatas materai. Tapi takutnya, kalau aku tetap tidak memiliki pekerjaan, Dinas Sosial akan bertindak." Sena mengambil napas sebentar, lalu melanjutkan ceritanya.

"Mereka tidak tahu kalau aku adalah ayahnya, Karena mantan istriku mengenalkan aku bukan sebagai Abang, Kakak mereka. Alasannya karena aku tidak pernah ada. Sosok Ayah tidak pernah ada."

Sena berhenti sampai di sana.

Raut wajahnya bagaikan sedang diiris dengan sembilu.

Tampak muram dan sakit.

Sandra meneguk air putihnya, mencoba menguasai debaran jantungnya.

Benar atau tidaknya cerita Sena, ia sangat tersentuh.

"Ibu macam apa yang membiarkan anak-anaknya terlantar?" gumam Sandra.

"Sulit dipercaya tapi yang seperti itu nyata adanya," terdengar tawa getir Sena.

"Karena itu kamu mencuri,"

"Mereka lapar,"

Sandra mengangguk mengerti.

Karena itu yang dituju adalah dapur.

Pria ini berusaha tidak mencari perkara.

"Kalau masih juga tidak berkenan, paling tidak, kamu tahu alasan aku." Gumam Sena.

"Boleh aku bertemu mereka?" Tanya Sandra.

Sena terkejut menatapnya.

"Eh?"

"Aku ingin bertemu mereka. Anak-anak kamu." Sandra hanya ingin memastikan kebenaran cerita Sena.

"Ah, boleh saja." Sena menyanggupi.

Membuat Sandra semakin penasaran.

"Kamu minum saja dulu, aku siap-siap sebentar."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!