NovelToon NovelToon

Zia Dan Zion

1. Hantu Takut Hantu

Malam itu udara dingin menusuk. Orang malas keluar rumah dan memilih bergulung dalam selimut di kamar mereka.

Hanya sebagian kecil yang memaksakan diri keluar rumah di malam sedingin itu. Antara harus mencari nafkah, dan suntuk dalam level tingkat tinggi.

Seorang pemuda duduk tercenung di pinggir trotoar jalan raya. Tak banyak kendaraan berlalu lalang.

Tak jauh dari dia duduk terlihat warung tenda nasi goreng berdiri. Beberapa motor terparkir di depannya.

Pemuda tampan itu sudah cukup lama senang duduk di sana, setiap menghirup aroma masakan yang di masak penjual, ia menjadi kenyang.

Sayangnya... kadang pemuda itu tak terlalu leluasa, karena perempuan bergaun putih yang suka duduk di atas warung tenda kerap menggodanya.

Perempuan itu mukanya terlalu putih, seperti memakai bedak terlalu banyak. Bibirnya yang tebal terlihat pucat seperti habis hujan-hujanan seharian. Rambutnya terlalu panjang dan seperti jarang disisir. Pokoknya pemuda itu merasa sangat tidak bernafsu.

Tentu saja, Zion, sebagai hantu yang kekinian memiliki selera lebih bagus, yah paling tidak secantik dan seseksi si manis jembatan ancol.

"Ziooooon... ziooon..." Panggil perempuan itu dari atas warung tenda.

Tiap Zion menoleh, ia akan menyeringai. Mungkin itu maksudnya tersenyum manis. Dan jelas, itu mengganggu selera makan Zion.

Jika sudah begitu, Zion akan berdiri dan beranjak dari sana, berjalan ke sana ke mari tak tentu arah tujuan.

Fiuuuh... tujuan, rasanya Zion bahkan tak tau lagi tujuannya apa bergentayangan seperti ini. Sudah lebih dari dua bulan, ia tiba-tiba berada di sana. Seorang diri, tanpa ada yang menyadari ia ada di sana.

Zion juga hanya tau namanya adalah Zion. Tapi kenapa ia ada di sana, lalu ke mana ia harusnya pergi, Zion tidak tau.

Zion juga tidak bisa bertanya pada siapapun, karena jangankan untuk bertanya, mereka melihat Zion saja tidak.

Zion berjalan dengan malas di tepi jalan. Hidupnya begitu membosankan.

Kelap kelip lampu jalanan tampak begitu cantik. Berpendar menghiasi malam yang hitam pekat. Sungguh, pasti akan menyenangkan menjadi manusia, bisa menikmati suasana malam bersama teman, sahabat maupun kekasih.

Sayangnya, Zion hanyalah hantu yang bahkan tak tau kenapa ia jadi hantu.

Zion masih asik berjalan tak tentu arah, saat tiba-tiba sebuah motor bebek jadul berhenti mendadak di depannya.

Seorang gadis seusianya melepas helm dan mendelik ke arahnya.

"Eh kupret, kalo mau bunuh diri jangan di sini, tuh lompat aja dari sana."

Gadis itu mengomel pada Zion yang kebingungan. Pemuda itu celingak celinguk, melihat arah yang di tunjuk si gadis ke atas gedung apartemen tingkat 10 di seberang sana, lalu celingak-celinguk lagi ke sekelilingnya.

"Lah ni dibilangin malah celingak celinguk kayak kipas angin, udah sana minggir, aku mau lewat."

Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya ke udara, memberi isyarat agar Zion segera menjauh. Gadis itu memakai helmnya, lalu...

"Eh... eh... Mba, bentar, kamu ngomong sama aku kan? Kamu lihat aku?"

Zion melompat di depan si gadis dekat-dekat, lalu melambai-lambaikan tangannya.

Plak ! Gadis itu menabok tangan Zion.

"Waw! Dia bisa nyentuh aku juga..." Pekik Zion yang kemudian melompat kegirangan.

"Akhirnyaaaaaa... Akhirnyaaa... ada yang bisa melihatku...!!" Zion terus melompat-lompat.

Gadis di atas motor tadi tampak mengucek kedua matanya, memastikan pemuda yang berdiri di depannya manusia atau hantu.

"Kamu... hantu?"

Gadis itu akhirnya menyadari jika pemuda di depannya bukan manusia.

Di perhatikannya dengan seksama pemuda yang tampak begitu rapih dengan setelan jas itu. Seolah seorang karyawan kantor besar yang baru pulang lembur lalu setres dan ingin bunuh diri.

Zion tersenyum. Senyum yang terlalu manis untuk sekelas hantu.

**-------**

Zia, gadis manis dan imut itu turun dari motor bebek jadulnya setelah sampai di depan rumah sederhana di pinggiran kota. Rumah peninggalan Nenek yang merupakan harta warisan satu-satunya.

Zia kemudian sibuk melepas tali karet berwarna hitam yang mengikat dua kantong besar di belakang boncengan motor, dua kantong besar itu berisi potongan bahan-bahan yang siap dijahit.

Zia bekerja di sebuah konveksi yang khusus menjahit baju atasan wanita. Sehari, Zia hanya mampu mendapatkan uang sekitar seratus ribu, jika ingin lebih Zia harus membawa lemburan, dan dua kantong potongan bahan itulah lemburannya.

Zia akan mengerjakannya nanti setelah mandi, makan dan istirahat sebentar. Biasanya Zia akan begadang sampai pagi untuk menyelesaikan jahitannya. Setelah pagi, Zia akan pergi sebentar untuk bekerja membantu Ibu Sumi mengantar susu pesanan pelanggan di komplek perumahan yang tak jauh dari Zia tinggal. Pulang mengantar susu, Zia bisa istirahat lagi, dan akan berangkat ke konveksi tempat ia bekerja pada pukul sepuluh pagi, lalu pulang pukul sembilan malam.

Rutinitas yang cukup membosankan sebetulnya, tapi Zia harus melakukannya, karena bertahan hidup di kota tak boleh bermalas-malasan.

Meskipun, jika di suruh memilih, Zia sebetulnya ingin punya pekerjaan yang tidak mengharuskannya pulang larut. Paling tidak jam lima sore Zia sudah bisa ada di dalam rumah.

Bukan apa-apa, Zia hanya malas bertemu hantu. Terutama jika di jalanan yang baru saja ada kejadian kecelakaan, Zia kadang tidak tahan dengan penampakan mereka.

Zia akhirnya berhasil melepas semua ikatan tali karet di motornya. Ia kemudian menggotong kantong besar itu untuk segera ia bawa ke dalam rumah. Tubuhnya sudah begitu gerah dan lengket, ia ingin segera mandi, lalu membuat mi rebus, makan lalu tidur sebentar.

Zia tampak susah payah menggotong kantong besar itu menuju rumah saat tiba-tiba...

"Aaaaaaaaa... aaaaaaa... tolooooooong..."

Terdengar suara seseorang meminta tolong, Zia celingukan mencari sumber suara, namun belum lagi matanya menangkap ada seseorang, tiba-tiba sebuah bayangan menabraknya...

Zia terjatuh ke tanah. Dan tampak sesosok pemuda tampan menindihnya.

"Heeeey...!!"

Zia berteriak lalu cepat mendorong pemuda itu menjauh. Belum lagi keduanya sempat bicara, tiba-tiba sosok bayangan lain mendekat, sosok tubuh tanpa kepala dengan baju compang camping,

"Aaaaaaa... Aaaaaaa..."

Zia kembali berteriak lebih kencang, ia buru-buru bangkit berdiri dan lari tunggang langgang menuju rumahnya, susah payah membuka kunci rumah dan cepat-cepat masuk.

"Ya Tuhan, apa tadi... Paman tanpa kepala itu." Zia terduduk di lantai rumahnya dengan lemas, tubuhnya menyandar pada pintu.

"Sumpah nakutin banget itu hantu..."

Tiba-tiba sebuah suara terdengar di samping Zia.

Gadis itu cepat menoleh, dan Zion ada di sampingnya. Duduk selonjor juga di lantai dan bersandar di pintu.

"Hey, ngapain kamu di sini?!"

Zia berteriak ke arah Zion dengan kesal.

"Kira-kira ke mana kepala paman itu?" Tanya Zion menghiraukan pertanyaan Zia.

"Ah ya Tuhan, kenapa bahas ituuuuuu..."

Zia mengomeli hantu Zion.

"Lagian kamu juga hantu, kenapa takuuuut..." Zia benar-benar kesal.

**-------**

2. Ijin Numpang

Zia membulatkan matanya di depan wajah Zion. Ia ingin memastikan apa yang berbeda dari hantu satu ini dibandingkan hantu-hantu lainnya.

Bukan apa-apa, Zia hanya bingung kenapa hantu yang satu ini bisa masuk ke dalam rumah Zia yang sudah diberi mantra-mantra pengusir hantu dan roh jahat.

Mata itu, hidung itu, bibir itu, bentuk muka itu, Zia mengamati dengan teliti. Tak ada yang aneh, selain ia terlalu tampan untuk menjadi hantu.

"Sebetulnya kamu nyari apa di mukaku??" Zion mendorong wajah Zia ke belakang dengan jari telunjuknya.

Zia menepuk kedua pipinya dengan telapak tangan.

"Aku mimpi, apa bukan mimpi." Gumamnya.

Pokk...!!

"Aduh..." Zia mengusap kepalanya karena bantal melayang mengenai kepala satu-satunya.

"Sialan, dasar hantu ngga ada akhlaaaak!!" Teriak Zia.

Zion tertawa, ia tiba-tiba sudah di atas lemari baju Zia.

"Kamu manis, siapa nama kamu?" Zion melacak semua yang ada di dalam rumah itu, lalu mendapati satu lukisan sketsa wajah Zia dengan nama Zia di ujung bawah lukisan.

"Nama kamu Zia?"

Tanya Zion sambil melayang turun lagi ke bawah.

Zia mendengus.

"Zia kek, Zoro kek, apa pedulimu?" Tanya Zia bersungut-sungut, lalu berdiri untuk bersiap mandi.

"Peduli dong, kan kita akan tinggal satu rumah mulai malam ini."

Demi mendengarnya, Zia langsung melotot ke arah Zion.

"Apaaaa... sejak kapan aku bilang ngijinin kamu tinggal di sini?!" Zia protes.

Zion berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan.

"Di sini adalah tempat paling aman yang aku lihat sejak dua bulan terakhir, jadi aku memutuskan tinggal di sini, kamu harus bangga."

"Ah ya Tuhan, yang benar saja, dia hantu otak gesrek." Zia berdecak.

"Dunia hantu ngga ada Rumah Sakit Jiwa apah?"

"Ngga adalah, susternya ngesot semua susah nanti." Sahut Zion lalu duduk di atas meja.

"Gini ya Han..." Zia memanggil Zion dengan Han, maksudnya Hantu.

"Zion... namaku Zion, kita jodoh kan?"

Zion tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang manis.

(Jika kalian ingin membayangkan seperti apa Zion, bayangkan saja Kim Myung Soo, hihihi)

"Ah sudahlah, ngapain juga aku bicara dengan hantu, mending aku mandi." Kata Zia akhirnya, merasa ia sudah membuang-buang waktunya yang berharga.

Zia menyambar handuk dari atas kursi, rumah Zia yang sempit memang bisa dibilang cukup berantakan. Maklum saja, sehari-hari Zia sudah cukup lelah untuk mencari uang, ia tidak punya cukup waktu untuk bebenah di rumah.

"Eh, sebelum aku keluar dari dalam kamar mandi, kamu jangan ke mana-mana, awas kalau berani melakukan pelecehan!!" Zia memamerkan kepalan tangannya yang imut.

Zion tertawa.

"Aku memang hantu, tapi aku ngga mesum. Aku terlalu tampan dan terhormat untuk melakukan hal-hal yang melanggar norma sosial."

"Ah ya Tuhan, lihat itu, hantu bisa bicara seperti orang berpendidikan, luar biasa, dia pasti sarjana di universitas hantu favorit." Gumam Zia lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Zion menatap ruangan kecil itu sejenak. Ruangan yang sangat sederhana tapi hangat dan nyaman. Andai bisa lebih sedikit rapih dan bersih, pasti akan lebih menyenangkan. Pikir Zion.

Zion kemudian menyisir ruangan kecil itu, membereskan apa saja yang terlihat berantakan. Dari meja mesin jahit yang penuh dengan bungkus makanan ringan, gelas bekas kopi yang sudah berapa biji belum ada yang dicuci, karpet yang penuh kulit kacang, sampai kasur yang di gelar di atas lantai juga super berantakan, bedcovernya berantakan, baju-baju yang baru dipakai juga berantakan di sana, bahkan sampai daleman. Zion mengurut kepalanya.

Zion jadi ingat hantu perempuan yang ada di atas warung tenda nasi goreng.

Ia pikir, dia adalah makhluk paling berantakan di muka bumi ini, ternyata justru Zialah mahluknya.

**--------**

"Tadaaaaa..."

Zion tersenyum bangga dengan hasil kerja kerasnya membenahi rumah Zia.

Zia yang baru saja keluar dari kamar mandi nyaris tak mengenali rumahnya sendiri.

"Gimana? Rapihkan?" Tanya Zion bangga. Zia mengangguk sambil tersenyum puas. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat rumah itu rapih sejak Neneknya meninggal.

"Kamu tinggal sendirian yah Zi?" tanya Zion lagi, membuat acara bengong Zia berakhir.

"Iya, aku sendirian sekarang. Orangtuaku meninggal, Nenekku juga meninggal. Tinggal aku seorang diri." Tutur Zia sambil mengelap rambutnya yang basah dengan handuk.

"Aku pikir hantu hanya taunya penampakan saja, ternyata bisa bebenah juga." Zia cekikikan menatap Zion.

"Kan aku memang beda dengan hantu kebanyakan, kamu ngga percaya sih."

"Iya... iya aku percaya." Zia masih cekikikan.

"Jadi kamu ngijinin aku tinggal di sini?" Tanya Zion semangat.

Jelas ia merasa ini adalah kesempatan terbaik untuk bisa mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak dari sekedar duduk tak jelas di bangku taman yang kosong dan kadang-kadang harus kaget karena Pocong atau tuyul lewat.

"Kamu kok jadi hantu ngga jelas banget sih," Kata Zia sambil berjalan ke arah dapur.

Zia menyalakan kompor gas satu tungkunya, lalu menadah air di panci kecil untuk kemudian di masak. Tangannya terampil meraih mie instan dan mangkok dari rak dekat dapur.

"Makan malam?" Tanya Zion. Zia mengangguk.

Zion menatap keranjang sampah di pojok dapur yang semua sampahnya adalah bungkus mie instan.

"Kamu tiap hari makan mie instan?" Tanya Zion kepo.

"Yah, beginilah caranya manusia miskin bertahan hidup. Kamu kan hantu, mana ngerti."

Zia memasukkan mie instannya ke dalam panci, lalu membiarkan mie itu matang.

Zion mengamati kegiatan Zia dengan seksama, dan entah kenapa otak Zion yang tadinya beku seolah mendapat bayangan sekilas tentang seorang anak perempuan kecil yang sedang membuat mie instan.

"Kamu tau hantu paman tanda kepala tadi?" Tanya Zia pada Zion.

Zion menggeleng.

"Dia di daerah sini sudah lebih dari 100 tahun. Hampir semua hantu di sini juga takut padanya. Makanya kamu ngga bakal bisa liat hantu di sekitar sini selain Paman itu." Jelas Zia.

"Jadi dia penguasa di sini?"

Zia mengangguk.

"Aku juga diceritain hantu Nenek dekat minimarket yang ngga jauh dari gang menuju ke sini."

"Jadi kamu memang bisa lihat hantu yah..."

"Aku juga ngga tau kenapa aku sering lihat mereka, kalau yang bentuknya ngga aneh-aneh sih ngga apa, tapi kalo udah yang serem, aku bisa sampe berhari- hari baru lupa." Kata Zia.

Mie instan Zia akhirnya matang. Zia yang sudah menyiapkan bumbu di mangkok, langsung menuang mie dan kuahnya.

Aroma mie instan panas yang bercampur dengan bumbu-bumbunya menyerbak. Zion menghirup aroma itu dalam-dalam.

"Hmm... lezat." Kata Zion.

Zia mengaduk sebentar mie instannya, lalu membawanya ke ruang depan.

**-------**

3. Zion Gajebo

Setelah menghabiskan mie instannya, Zia mulai merasa mengantuk. Tubuhnya yang sejak pagi sudah lelah, menuntutnya untuk segera beristirahat.

huaaahm...

Zia menguap lebar. Lalu rebahan begitu saja di atas kasur yang kini sudah lebih rapih dari biasanya. Zion menatap gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Bahkan di dunia hantu, rasanya tidak ada gadis yang habis makan langsung bisa ngorok.

Zion kemudian ikut rebahan di sebelah Zia, menatap langit-langit kamar.

Kipas angin di sudut ruangan berbunyi klotok-klotok, menyusup di keheningan malam. Zion mencoba menutup mata.

"Ziooooon... tunggu aku... Larinya jangan kenceng-kenceng."

Seorang anak perempuan berlari mengejar Zion kecil yang membawa kincir di tangannya. Kincir itu berputar sepanjang Zion berlari jalanan desa yang masih belum di aspal.

Anak perempuan itu juga membawa kincir yang sama dengan Zion, berlari kecil mencoba menyusul Zion sambil terus meminta Zion mengurangi kecepatannya berlari.

"Ayo cepaaaat... Kamu larinya lelet. Kalau ada harimau kamu dimakan duluan, hahaha..."

Zion kecil terbahak, membuat anak perempuan di belakangnya ingin menangis.

Angin berhembus dari arah perbukitan yang mengililingi desa mereka. Hamparan sawah ladang yang hijau begitu indah menawan mata.

Bukgh !!

Zion terkejut. Sesuatu seolah jatuh di atas tubuhnya.

Batu, kayu, beton, atau apa?

Zion pelahan membuka matanya, aroma shampo tiba-tiba tercium menusuk-nusuk hidungnya.

Zion memutar pandangan. Zia ternyata berguling ke arahnya dan kini bersandar di pundaknya. Tangannya menindih dada Zion, dan kaki kanannya menindih kaki kiri Zion.

Zion mendengus sebal.

Tidurnya terganggu. Dulu pocong dan tuyul yang sering membuatnya terbangun tiba-tiba. Sekarang gadis itu.

Zion mendorong kepala Zia menjauh. Tapi Zia seolah bertahan di sana.

Sial !! Dia tidur apa pura-pura. Batin Zion.

Tapi... Tunggu...

Zion menatap langit-langit lagi...

Apa tadi?

Apa aku mimpi?

Aku hantu bisa mimpi?

Kepala Zion tiba-tiba penuh tanda tanya.

Bagaimana bisa? Kenapa tiba-tiba ia bisa bermimpi? Sudah dua bulan ia menjadi hantu dan ia tidak pernah bermimpi.

Zion masih belum mengerti apa yang terjadi sebetulnya, saat kemudian sebuah tangan menampar pipinya...

"Hantu mesuuum...!!"

Plak plak...

Zion yang kaget langsung duduk, Zia sudah duduk lebih dulu di sana. Gadis itu meraba semua bagian tubuhnya dengan cepat, seolah ia takut ada yang hilang.

Zion melengos.

Yang benar saja, bahkan jika ia sekarang manusia, lalu tidur dengan Zia, tentu ia tidak akan bernafsu.

"Jangan lebay, kamu pikir kamu seseksi Aura Kasih apah." Zion kesal.

Zia mendelik.

"Ini bukan masalah seksi atau enggak seksi. Cowok itu kalau sudah otak mesumnya kumat, mau dia kayak buntelan kerupuk juga diembat."

Zia ngomel-ngomel.

"Hahaha..."

Zion malah tertawa.

"Aku sudah bilang, aku terlalu tampan untuk jadi cowok mesum."

"Tampan apanya..."

Zia melempar bantal ke muka Zion.

**--------**

Pagi sekali, Zia sayup-sayup mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Motor siapa lagi kalau bukan motor Bang Dimas.

Zia hafal betul suara motor itu karena hampir setiap hari cowok itu mampir ke rumahnya sebelum berangkat kerja.

Zia sejenak merentangkan kedua tangannya. Lalu beranjak dari depan mesin jahitnya.

Semalaman ia lembur menjahit setelah adu mulut dengan hantu Zion.

Ah, hantu itu, ke mana dia?

Zia celingak celinguk. Kosong. Sepi.

Zia mencoba mengingat, semalam apa yang terjadi setelah adu mulut.

Ah, Zion pergi. Yah, baguslah. Hantu tidak ada akhlak itu tidak kembali lagi. Zia tersenyum merdeka.

"Pagi Zi... kenapa senyum-senyum begitu?" Sapa Dimas saat akhirnya Zia membuka pintu rumahnya dan mendapati cowok yang kini terlihat begitu rapih itu sudah berdiri di depan pintu.

"Oh, enggak apa-apa kok." kata Zia.

"Nih, dari Umi."

Dimas menyodorkan satu susun rantang tiga ukuran sedang ke wajah Zia.

"Tiap hari dikasih makanan gini, aku jadi malu." Kata Zia tak enak.

Umi Dimas memang begitu baik padanya, sejak Nenek masih hidup hingga sekarang, ia selalu membagi makanan untuk Zia setiap pagi. Bahkan makanan yang diantar juga terbilang cukup banyak, hingga bisa Zia bawa bekal ke tempat kerja.

Dimas yang paling sering mengantar. Tapi kadang juga Kanaya adik Dimas, dan bahkan Umi Dimas sendiri.

"Sudahlah, kayak sama siapa, yang penting rantang yang kemarin nanti jangan lupa diantar." Kata Dimas membuat Zia malu.

Zia baru akan nyengir saat matanya tak sengaja melihat Zion si hantu koplak melambaikan tangan dari atas pohon Mangga yang tumbuh di halaman rumah tetangga Zia.

Ish... Zia mendesis.

"Apa Zi?"

Dimas celingak-celinguk.

"Kamu liat hantu lagi ya?" Tanya Dimas merinding.

Zia balik menatap Dimas di depannya.

"Hehe... Enggak kok Bang, itu cuma Kampret aja."

Dimas mengerutkan kening. Jam segini ada kampret, perasaan Batman aja ngga muncul pagi hari.

Zion melayang dari atas pohon, lalu nimbrung berdiri di antara Zia dan Dimas.

"Oh iya, tadi Umi cerita, katanya mpok Indun pagi tadi bilang ke Umi, denger kamu teriak-teriak semalam jadi pada takut."

Zion nyengir...

"Ya emang suaranya berisik sampe budek aku juga." Kata Zion meskipun ia tahu Dimas tidak akan bisa mendengarnya.

Bahkan Zion mendekatkan mukanya ke wajah Dimas saja, cowok itu tidak merasa.

"Eh kupret, apaan sih Lo."

Zia ngomel tiba-tiba, tangannya menabok kepala Zion.

"Aw..." Zion mengusap kepalanya sambil nyengir.

"Apa Zi..."

Dimas menatap Zia dengan tatapan aneh.

Dimas tahu Zia bisa melihat hantu, hal itu memang sudah bukan rahasia lagi. Tapi Dimas selama ini merasa Zia tetap bisa normal, kecuali pagi ini...

"Ngga apa Bang, udah Bang Dimas berangkat kerja aja, ntar telat..."

Kata Zia pada Dimas, yang akhirnya menurut.

"Oke deh, Abang berangkat yah."

Pamit Dimas. Ia tersenyum manis. Manis sekali bahkan.

Zion mantuk-mantuk sambil mengusap dagunya.

"Jelas banget dia naksir kamu. Seleranya payah."

Komentar Zion begitu Dimas naik ke motornya dan sekali lagi tersenyum pada Zia sebelum pergi.

"Apaan sih berisik." Zia melengos masuk ke dalam.

"Ayo sarapan, bikin kopi."

Kata Zion tidak tahu malu. Zia melirik sebal.

"Emangnya hantu bisa makan apah..."

Zia duduk selonjor di karpet, rantang dari Umi siap ia buka.

Zion menatapnya tak sabar.

Sejak semalam, ia hanya menghirup aroma nasi goreng sedikit dan uap mie instan.

Zia membuka rantang susun tiga di hadapannya.

Satu rantang berisi nasi yang masih mengepul, satu rantang lagi berisi satu potong ayam goreng dan tiga tahu isi, satu rantang lagi berisi mie goreng dengan taburan potongan cabai keriting dan kentang balado.

"Waaaw..."

Zion mengibas-ngibaskan tangannya di udara, tepat di atas ketiga rantang itu.

Zia menatap Zion heran.

"Apa? Masih kagum dengan ketampananku?" tanya Zion menyadari Zia terus memandanginya.

Zia mendorong wajah Zion sampai hantu itu jatuh ke belakang.

"Kamu lagi ngapain kibas-kibas di atas makanan, kuman kamu jatuh semua." kesal Zia.

"Lha gimana, aku kan lagi makan." Zion tak kalah kesal.

"Makan cap apa kayak gitu," Zia bersungut, lalu mencoba menjejali mulut Zion dengan nasi yang ia ambil dari rantang. Jelas saja Zion menghindar.

"Cara makan hantu bukan kayak gitu, kita makan dari uap, aroma, ah dudul."

Zion misuh-misuh. Zia tertawa.

"Makan uap apa enaknya." kata Zia lalu menyantap sarapannya.

**-------**

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!