NovelToon NovelToon

My Posesif Husband

Yang Baru

Aku pergi untuk kembali

Kata-kata itu terus terngiang di benak Alsa, gadis yang sudah 2 tahun lebih ditinggal Gerald, suaminya sendiri untuk mengejar mimpi dan cita-citanya. Tetapi kepergian Gerald ada alasan tersendiri yang sebenarnya sampai saat ini belum Alsa ketahui. But itu juga untuk kebahagiaan Alsa nantinya.

Alsa sudah rapih untuk pergi ke kampus. Jauh dari Gerald membuatnya lebih mandiri. Dan jelas saja Alsa yang sekarang bukanlah Alsa yang dulu. Banyak perubahan pada diri gadis yang harus terpisah jarak dari kedua orang tua dan orang tersayangnya Gerald.

"Morning ketlay," sapanya manis seraya mengelus bonek mini yang tergeletak di sudut ranjangnya.

Itu boneka lucu yang beberapa tahun lalu dia dapatkan dari Gerald. Ketika mereka berkunjung ke pasar malam sebelum keberangkatan Gerald. Dan nama itu sengaja dia berikan kepada boneka mini nan lucu itu.

Tubuhnya memutar menghadap ke cermin besar yang terdapat di ranjang kamar. Jemarinya lihai bermain di sekitar bibir ketika mengolesi sebuah liptin pada bibirnya.

Dirasa cukup Alsa tersenyum manis. "Cantik banget sih gue," gumamnya melihat pantulan dirinya di cermin. Sebelum akhirnya kepalanya menggeleng sadar akan kelakuannya barusan.

Sampai di bawah. Terlihat kedua martuanya yang sudah menunggunya di meja makan. Sudah menjadi rutinitas bagi keluarga Ivander untuk sarapan bersama. Terlebih Alsa yang memang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk itu bersama dengan kedua orang tuanya.

"Pagi," sapa Alsa seraya duduk dekat Bunda Nimas.

"Pagi sayang," jawab kedua martuanya kompak.

"Kuliah pagi kamu nak?" tanya Pak Hendy yang dijawab Alsa dengan anggukan kepala.

"Iya Yah," jawabnya singkat.

Setelah selesai sarapan. Alsa langsung pamit menuju ke kampus.

Alsava Mabella, gadis cantik yang dulunya terkenal pembuat onar di SMA sudah menjadi bunga di kampusnya. Wajah cantiknya dan penampilannya membuatnya banyak dipuja oleh lawan jenis. Terlebih bakat Maminya yang menurun pada diri Alsa membuatnya pintar memadu padankan pakaian yang semakin menarik bagi yang memandangnya.

Mereka tidak tahu saja setatus Alsa yang sebenarnya. Istri yang sebenarnya sedang berusaha menyimpan rasa rindu teramat dalam.

"Morning sep."

Alsa menoleh ke sumber suara. Di sebelahnya sudah ada Icha salah satu sahabatnya yang melanjutkan pendidikan di kampus yang sama dengannya.

Alsa mengernyit. "Sep?" tanyanya heran.

Icha mengangguk dengan senyum menggoda. "Sep itu singkatan dari sepi-" jedanya.

"Lo kan si cantik berhati sepi," lanjut Icha menggoda. Tetapi lebih terdengar seperti cibiran bagi Alsa.

Alsa merotasikan bola matanya. "Lo lihat daun itu nggak?" tunjuk Alsa membuat Icha mengangguk.

"Garing," jawab Alsa berlalu pergi meninggalkan Icha.

"Lah..kampret! kering bege!" teriak Icha seraya mengejar Alsa.

Sampai di depan kelas. Langkah Alsa terhenti. Di sana sudah berdiri Viko yang memang sengaja menunggu kedatangannya.

Viko salah satu mahasiswa yang populer di kampus. Tidak sedikit juga mahasiswi yang mengaguminya. Jika Alsa bunga kampus, maka Viko adalah kumbangnya.

Alsa menghela napas pelan. "Permisi, gue mau lewat."

Viko tersenyum seraya mengangguk. Memberi ruang untuk Alsa masuk. Tetapi lagi-lagi suara Viko menghentikan langkah kaki Alsa.

"Nanti pulang bareng gue ya?"

Alsa kembali menghela napas. Tangannya meremat selempang tasnya.

" Udah 24 kali lo nolak, dan ini yang ke 25 gue minta ke lo, gue harap jawabannya nggak akan sama seperti sebelumnya," lanjutnya lalu pergi dari kelas Alsa.

Alsa memejamkan matanya sebentar. Viko salah satu cowok yang tidak putus asa mengejarnya.

"Omg Alsa! lo jangan bege lagi deh!" ucap Icha yang duduk tidak jauh dari Alsa.

"Percaya sama gue, lo itu beruntung banget tahu, dari pas SMA dapat cowok terpopuler dan sekarang di kampus lo juga dapat cow-"

Alsa menatap Icha tajam. Dan jelas saja membuat Icha meringis tidak lagi melanjutkan ucapannya.

Bibir bawahnya dia gigit. Alsa sedang berpikir. Jika nanti dia mengiyakan permintaan Viko, apa setelahnya Viko tidak akan mengganggunya lagi atau malah akan lebih gencar mendekatinya.

"Cha," panggil Alsa yang hanya dijawab Icha dengan malas. "Hmm."

"Menurut lo kalau gue mau, dia bakal berhenti nggak ya?" tanya Alsa membuat Icha langsung menghadap ke arahnya dengan antusias.

"Jadi nanti lo pulang bareng Kak Viko?" tanya Icha yang dijawab Alsa dengan mengangkat kedua bahunya.

"Al, dengerin gue deh, sekali aja deh lo pulang disetirin cowok gitu, nggak pegel apa lo nyetir sendiri terus?" tanya Icha dengan kesal.

"Kan ada Abim," jawab Alsa ngasal.

"Yeee..enak aja, Abim sopir sepesial gue dong," jawab Icha tidak terima.

"Gue pikir lagi deh nanti," jawab Alsa yang diacungi jempol oleh Icha.

"Pagi cantik."

Itu suara Abim yang datang menghampiri Alsa dan Icha.

Kedatangan Abim jelas saja disambut hangat oleh Icha. Sementara Alsa sudah biasa nantinya akan menjadi obat nyamuk jika kedua sejoli ini sudah bersama.

"Mikirin apa sih Al?" tanya Abim melirik ke arah Alsa.

"Biasa by, diajak balik cowok," jawab Icha yang hanya diangguki oleh Abim dengan senyum.

"Dih malah nyengir," kesal Icha melihat cengiran Abim.

"Manis kan?" tanya Abim dengan penuh percaya diri yang tinggi.

"Manis, tapi mendingan nggak usah senyum Bim, kayak orang cacingan," jawab Alsa yang langsung mengundang gelak tawa Icha.

"Tega kamu by, gue cium," ancam Abim seraya mepet ke arah Icha.

"Ih..kok gue yang kena? Al tolongin napa!" berontak Icha membuat Alsa tertawa.

"Gue ke toilet bentar deh, lo lanjutin aja Bim," suruh Alsa seraya keluar dari dalam kelas.

Sebelum sampai di toilet. Lagi-lagi langkahnya terhenti karena seseorang sengaja menghadangnya. Alsa merutuki dirinya yang masih saja harus berhubungan dengan gadis di depannya.

Dan sialnya, Alsa tidak mencari tahu terlebih dahulu dimana musuh bebuyutannya melanjutkan kuliah.

Setelah perangnya di waktu SMA kini mereka kembali menjadi rival di kampus.

"Apa?" tanya Alsa ketus.

_____

Sementara di tempat lain. Tempat yang sangat jauh dari Alsa saat ini. Gerald, suami Alsa sendiri, sedang duduk seraya memejamkan matanya.

Mendadak pikiran dan hatinya semakin tidak tenang setelah melihat video yang beberapa waktu lalu sahabatnya kirimkan.

Tangannya melonggarkan dasi yang sedang dikenakannya. Senyumnya menyeringai.

"Banyak juga serigala yang deketin lo," gumamnya masih dengan seringai di bibirnya.

Selama ini Gerald sama sekali tidak tertinggal informasi tentang istrinya. Ada sahabatnya yang selalu menjadi mata untuk Gerald. Bukan karena Gerald tidak percaya dengan Alsa. Tetapi Gerald sendiri cukup yakin, jauhnya dia dengan Alsa tidak akan membuatnya tenang, Alsa cantik, bukan hanya cantik, tetapi begitu menarik, bagi laki-laki normal sudah pasti akan berusaha untuk mendapatkan istrinya.

Tangannya terangkat untuk menghubungi seseorang. "Siapkan keperluan gue," ucapnya lalu mengakhiri sambungan teleponnya.

Matanya begitu lekat menatap sebuah foto yang menjadi tampilan pertama di ponselnya.

"Tunggu kejutan dariku sayang," gumamnya dengan seringai di bibirnya.

Yuhuu gaes setelah sekian purnama perdana nih, semoga suka ya... nanti kalau nggak sibuk aku up lagi malam

Sebentar Lagi

Alsa berdiri di depan pasangan sejoli yang sedang menunggu perintahnya. Matanya menyipit menatap Abim yang begitu tajam menatapnya.

"By jangan kayak singa gitu deh liatin Alsanya," perintah Icha membuat Abim menoleh ke arah Icha.

"Gue yang nyuruh Al buat iya-in permintaan Kak Viko," lanjut Icha lagi, dan kali ini membuat Abim menghela napas seraya menatap Icha sesal.

Sesal akan perintah Icha untuk Alsa. Tidak tahu saja Icha apa yang harus dikatakan Abim kepada Gerald. Apa lagi Abim sudah berjanji untuk tidak berbohong sedikitpun dengan Gerald tentang Alsa.

"Udah deh, gue cuma balik sama tuh cowok, lo tahu gue gimana Bim," jelas Alsa menatap Abim penuh percaya.

Alsa menyerahkan kunci mobilnya kepada Icha. "Jangan lupa ke rumah Kia," ucap Alsa dan dijawab Icha dengan acungan jempolnya.

Alsa memang berniat untuk meminta Viko mengantarnya ke rumah Kia. Tidak akan lucu jika Alsa sampai di antar Viko ke rumah suami atau rumahnya sendiri. Yang ada hidup Alsa semakin tidak tenang dengan kedatangan Viko nantinya. Semua sudah Alsa pikirkan secara matang-matang ketika menerima permintaan Viko untuk yang kesekian kalinya.

Setelah kepergian Alsa. Abim kini beralih menatap Icha horor.

"Paan sih? jangan kaku gitu deh, Al nggak selingkuh dari Kak Gerald, dia cuma lagi berusaha biar Kak Viko nggak deketin lagi," jelas Icha yang terdengar tidak masuk akal sama sekali bagi Abim.

"Lo nggak tahu gimana Gerald sekarang, akhhh...!" kesal Abim seraya mengacak rambutnya frustasi.

"Lah...kenapa sama Kak Gerald by?" teriak Icha melihat kepergian Abim menuju ke dalam mobilnya.

"Akhhh...pusing gue pada aneh aja," gumam Icha masuk ke dalam mobil.

Sementara Alsa kini sedang menatap Viko jengah. Bagaimana tidak jengah ketika dirinya bersiap untuk cepat pulang dan mengakhiri waktu berduanya dengan Viko malah Ninda datang secara tiba-tiba.

Dan di sinilah mereka sekarang. Masih di tempat parkir mobil kampus dengan Viko yang sedang mencoba untuk menolak Ninda secara halus.

"Ninda stop! gue sama Alsa mau balik!" tolak Viko menatap tajam ke arah Ninda.

Ninda menatap Viko kesal, bergantian menatap Alsa dengan marah.

"Oke Vik, tapi lo harus tahu, cewek yang lo kira baik ini, nggak seperti apa yang lo pikirkan," ucap Ninda seraya melirik ke arah Alsa.

Alsa menghela napas. Harusnya Ninda berterus terang saja mengatakan kepada Viko jika Alsa sudah mempunyai kekasih. Toh itu malah semakin membantunya agar Viko tidak lagi terus mendekatinya.

"Gue paham," jawab Viko tidak begitu peduli dengan ucapan Ninda.

Ninda melangkah lebih mendekat ke arah Alsa. Lalu menatap Alsa tajam. "Kali ini gue nggak akan kalah dari lo," bisik Ninda membuat Alsa tersenyum.

"Ambilah sesuatu yang sebenarnya nggak gue minta," ucapan Alsa membuat langkah kaki Ninda terhenti.

Sebelum kembali pergi. Ninda sempat menatap Alsa penuh arti.

"Gue heran, kenapa dia selalu cari gara-gara sama lo," ucap Viko yang tidak mendapat respon dari Alsa.

Selama di perjalanan. Alsa hanya diam menimbang keputusannya saat ini semoga yang terbaik, sedangkan Viko banyak bertanya meski hanya dijawab Alsa dengan senyum dan anggukan kepala saja.

"Alsa," panggil Viko membuat Alsa menoleh.

"Ini hari terbahagia buat gue," lanjut Viko dengan senyum tampannya.

Lagi-lagi Alsa hanya tersenyum menanggapinya. Alsa lebih memilih untuk melirik ponselnya. Sejak kemarin Gerald belum mengabarinya. Dan ini yang pertama kalinya Gerald tidak mengabarinya dengan waktu yang cukup lama bagi mereka.

Sampai mobil Viko berhenti di depan gerbang rumah Kia. Alsa baru tersadar.

"Makasih Vik, gue duluan," pamit Alsa berniat untuk keluar mobil. Tetapi tangan Viko sudah lebih dulu mencegah kepergian Alsa.

"Alsa."

Alsa menoleh. Melirik ke arah tangannya yang saat ini masih dipegang oleh Viko.

"Sorry," ucap Viko melepaskan pegangan tangannya pada tangan Alsa.

"Perasaan gue masih sama," ucap Viko yang sebenarnya kembali mengungkapkan perasaannya seperti beberapa bulan yang lalu.

Alsa menghela napas. "Dan jawaban gue masih sama," jawab Alsa lalu keluar dari mobil Viko.

Sebelum benar-benar pergi. Alsa kembali menoleh ke arah Viko. "Jangan buang waktu untuk sesuatu yang sia-sia Viko." Alsa berbalik badan untuk masuk.

"Jika belum terlambat, gue bakal berusaha buat waktu yang sia-sia itu berharga Alsa."

Jawaban Viko menyentil hati Alsa. Sudah berkali-kali Alsa katakan jika dirinya mempunyai kekasih. Tetapi lelaki tampan itu masih tetap pada pendiriannya untuk bisa mendapatkan Alsa. Seolah tuli dengan semua yang sudah Alsa katakan.

Terkadang Alsa ingin memperjelas statusnya kepada Viko, tetapi Alsa belum cukup yakin meminta ijin kepada Gerald.

Alsa mengepalkan tangannya kuat. Lalu masuk ke dalam tanpa mempedulikan ucapan terakhir Viko tadi.

Ting

Alsa melirik ke arah layar ponselnya. Nama Gerald yang tertera membuat senyum Alsa seketika melebar.

Hubby

Kangen nggak?

Alsa menggeleng. Gerald masih saja selalu bertanya seperti itu.

Mine

Kalau gue jawab iya, apa lo akan datang?

Setelah membalas pesan singkat Gerald. Alsa kembali melangkah masuk ke dalam rumah Kia. Pesan singkat yang Gerald kirimkan sudah membuatnya lega. Setidaknya Gerald di sana masih ingat dengannya. Dan semoga saja hatinya juga masih sama seperti dulu.

Dan lagi-lagi di tempat lain. Senyum Gerald tidak kalah lebar dari Alsa tadi. Matanya menatap ke arah sekelilingnya. Dimana banyak pesawat yang ada di tempat itu.

"Wait baby," gumamnya melangkah masuk ke dalam pesawat.

Hari ini, Gerald berniat untuk pulang menemui istrinya. Sudah cukup dia menahan rindu dengan Alsa yang mendapat perhatian dari banyak pria.

Selama ini, Gerald sudah menahan sabar untuk pulang, sampai waktunya tiba dan sekarang inilah waktunya.

Gerald juga sudah tahu masalah pelik yang kedua orang tua Alsa hadapi, meski belum bisa menyelesaikannya, tetapi Gerald sudah tahu poin dari masalah itu sendiri.

"Permisi," sapa gadis yang ternyata mendapat kursi di sebelah Gerald.

Gerald mengangguk tanpa menjawab. Menggeser sedikit tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan gadis itu.

Setelah duduk. Gadis itu melirik ke arah Gerald. Rasanya sedikit kesal karena baru kali ini dirinya tidak dilirik sama sekali oleh seorang laki-laki.

Padahal sangat terlihat jelas jika gadis itu begitu menarik orang-orang disekitarnya, apa lagi kaum Adam yang melihatnya. Sudah pasti akan langsung terpikat dengannya.

Tampan, tapi sombong sekali dia Batin gadis itu masih dengan ekor matanya melirik ke arah Gerald.

"Permisi, boleh tanya sekarang jam berapa?" tanya gadis itu berniat agar Gerald mau meliriknya.

Gerald melihat arloji di tangannya. "Pukul 6," jawab Gerald singkat tanpa menoleh ke arah gadis itu sedikitpun.

Gadis itu mengangguk, merasa kesal tetapi juga sangat tertantang dengan lelaki di sebelahnya ini. Merasa kehabisan ide untuk membuat Gerald menoleh ke arahnya. Gadis itu mengetukkan jemarinya mencari ide yang tepat.

Sementara Gerald sibuk memikirkan hadiah yang pas untuk Alsa nanti. Senyumnya terukir tampan mengingat sebentar lagi akan bertemu dengan Alsa. Sampai membuat gadis di sebelahnya itu terkejut menyadari lelaki di sebelahnya ini bukan hanya tampan, tetapi sangatlah tampan.

"Sempurna," gumamnya tanpa di sadari.

"Miss u more badut cantik," ucap Gerald mencium cincin yang tersemat di jemari manisnya.

Obat Penawar Rindu

Hari ini setelah selesai membantu Bunda Nimas menyirami tanaman hiasnya. Alsa berniat untuk langsung mandi dan bersiap ke kampus. Kebetulan hari ini ada jadwal siang. Jadi Alsa memilih untuk membantu Bunda Nimas terlebih dahulu sebelum berangkat.

Ekor matanya melirik ke arah ponsel yang tergeletak di ranjang kamarnya. Tangannya tertarik untuk mengambil ponselnya dengan harapan Gerald sudah memberi kabar untuknya. Tetapi apa yang diharapkannya sirna. Notif yang dia dapat sama sekali tidak ada yang dari Gerald.

"Sibuk banget ya?" gumam Alsa kembali melempar ponselnya ke ranjang.

Tubuhnya dia rebahkan di atas ranjang. Matanya menatap langit kamarnya. Mengingat Gerald yang hanya mengabarinya kemarin sore membuat hatinya sedikit gelisah. Selama ini mereka selalu rajin memberi kabar meski jarang melakukan panggilan lewat video.

Meski pernah sampai hampir satu minggu sama-sama diam karena begitu sibuk.

Tangannya meraba sisi ranjang yang membuatnya teringat akan Gerald. Dimana sudah cukup lama Alsa tidur sendiri tanpa ditemani seorang suami.

"Miss u Rald," gumam Alsa memejamkan matanya.

Detik berikutnya Alsa bangkit lalu mengambil boneka mini di sudut ranjang. Dia cium beberapa kali sampai membuatnya geli sendiri.

"Nggak mahal sih, tapi bikin seneng," gumamnya tersenyum manis.

Dirasa cukup, Alsa memutuskan untuk langsung mandi dan bersiap. Tetapi baru saja selesai mandi. Ponselnya yang tergeletak di ranjang sedari tadi sudah berbunyi.

"Siapa sih?" gumamnya seraya mengambil ponselnya.

Nama Icha yang tertera di layar ponsel. Dengan sedikit malas Alsa mengangkat sambungan telepon dari Icha.

Alsa

*Ada apa Cha?

(..)

what? (terkejut)

(..)

oke ketemu di cafe tomad ya*

Tut

Setelah mengatakan itu. Alsa langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Icha.

"Ini gila," gumamnya dengan jemari lentiknya bermain indah di layar ponselnya.

Setelah melihat apa yang tadi Icha katakan. Alsa memejamkan matanya seraya meremat kuat ponselnya.

"Di kasih jantung terus minta hati, brengs*k!" umpat Alsa ditujukan untuk seseorang.

Mobil Alsa sudah terparkir rapih di cafe tomad milik Gerald yang sekarang dikelola olehnya. Begitu juga dengan mobil Kia yang sudah lebih dulu sampai.

Alsa langsung masuk dan menghampiri kedua sahabatnya yang sudah menunggu.

"Al!" teriak Icha melihat kedatangan Alsa.

"Gaes!" sapa Alsa duduk di depan Icha dan Kia.

"Al sorry, ini karena gue maksa lo kemarin," ucap Icha sesal.

Alsa menggeleng, tidak membenarkan apa yang dikatakan oleh Icha. "Ini nggak ada hubungannya sama lo Cha," bantah Alsa yang mendapat anggukan kepala dari Kia.

"Terus apa rencana lo selanjutnya?" Kia menatap Alsa lekat. Dan dijawab Alsa dengan gelengan kepala.

Untuk saat ini, Alsa tidak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap Viko yang sudah sengaja mengunggah foto candid Alsa tadi ketika baru saja turun dari mobilnya. Dan sialnya, Alsa tidak sadar ketika Viko dengan sengaja mengambil gambarnya.

"Cakep sih cakep, tapi aji mumpung banget tahu nggak Kak Viko!" Icha mengumpat kesal mengingat apa yang dilakukan oleh senior mereka sampai membuat heboh seantero kampus.

"Dih...masih aja dipuji cowok kek gitu juga," cibir Kia yang membuat Icha seketika bungkam.

Icha masih merasa bersalah karena hal ini.

Alsa menghela napas pasrah. Susah memang jika sudah terlibat insiden dengan idola kampus mereka. Alsa bukan dari salah satu mahasiswi yang menginginkan beritanya tersebar dengan mahasiswa terkenal itu.

"Nggak bisa! gue harus temuin Viko sekarang!" Alsa bangkit dari duduknya yang membuat Icha dan Kia ikut bangkit juga.

"Al! jangan gegabah!" Kia mengingatkan Alsa untuk berpikir lebih jauh lagi jika ingin melabrak Viko.

Masalahnya yang mereka hadapi ini seorang laki-laki yang kebetulan juga memiliki banyak pengagum, tidak akan mudah untuk Alsa melawan Viko.

Alsa menggigit bibir bagian dalamnya. Pikirannya kacau saat ini, Alsa tidak suka dengan tindakan Viko yang menjadikannya bahan berita untuk para ratu gosip di kampusnya.

Sorry gue mungkin buat lo kecewa sekarang Batin Alsa teringat akan Gerald yang sedang berada jauh di sana.

"Gimana kalau kita minta bantuin bimbim?" Icha menawarkan ide yang cukup membuat Alsa dan Kia antusias. Abim adalah salah satu orang yang mereka harapkan saat ini. Mengingat Viko juga lumayan mengenal baik Abim di kampus.

"Cakep, gue setuju kali ini sama lo Cha!" jawab Kia semangat.

Begitu juga dengan Alsa yang mengangguk setuju. "Ya udah kalian cepet temuin Abim, gue nyusul setelah selesai ngecek pembukuan."

Kia dan Icha mengangguk semangat. Mereka segera bangkit meninggalkan cafe untuk menemui Abim. Dengan harapan juga semoga mulut ember Abim tidak sampai memberitahu Gerald tentang berita di kampus yang harus menyeret nama Alsa.

Setelah kepergian kedua sahabatnya. Alsa masuk ke dalam untuk mengecek pembukuan. Bukannya langsung membuka beberapa buku yang tertata di meja. Alsa justru malah duduk di ranjang yang terdapat di ruangan itu.

"Bege..bege..bege..." Alsa memukul-mukul pelan kepalanya.

Kedua tangannya menutup wajah cantiknya. Merasa sedikit kacau dengan berita yang pastinya sekarang sedang menjadi topik hangat di kampusnya.

Merasa sedikit gerah Alsa membuka beberapa kancing bajunya si bagian atas. Padahal AC di ruangan itu masih menyala, tetapi karena pikirannya sedang kacau membuatnya merasa gerah hati dan juga body.

"Panas banget lagi," gumamnya berniat untuk memanggil salah satu pegawai untuk mengambilkan minumnya.

Tetapi, niatnya ter urungkan karena sebuah gelas dengan minuman boba yang sangat menggodanya disodorkan di depannya. Dengan semangat Alsa mengambil dan langsung meneguknya tanpa berpikir apapun.

Selesai minum, Alsa menghela napas lega. "Gila, gue bener-bener gila karena ini," gumamnya mengatur napas.

"Gila karena apa?"

"Ya karena tuh cowok lah, siapa lagi emangnya!" Alsa menjawab tanpa sadarnya akan sesuatu hal.

Seseorang yang juga berada di ruangan itu mengangguk. "Jadi lo selingkuh dari suami lo?"

Alsa menggeleng, tatapan matanya masih lurus ke depan. "Gue nggak selingkuh, tapi siapa sih yang nggak suka sama cewek cantik kayak gue gini?"

"Sampai bosan rasanya di kejar-kejar terus," lanjutnya membuat seseorang yang berada di ruangan itu menahan senyum.

"Tau ah pusing gue lagi ada mas-"

Deg

Alsa baru menyadari kejanggalan yang sedari tadi terjadi. Dengan tubuh yang sudah menegang, perlahan Alsa menoleh ke arah samping dimana sudah berdiri sosok laki-laki yang beberapa tahun ini sangat dia rindukan.

Tubuhnya semakin menegang melihat Gerald berdiri tepat di sebelahnya.

Jika dulu terjadi kejadian seperti saat ini. Mungkin Alsa akan mengumpat dengan kata-kata kasar seperti 'mamp*s atau sial' untuk merutuki dirinya. Tetapi saat ini berbeda. Ada sesuatu hal yang beda Alsa rasakan ketika kembali bertemu dengan Gerald.

Alsa terdiam, diamnya Alsa bukan hanya karena rasa terkejutnya melihat Gerald berdiri di depannya saat ini, tetapi seakan tidak nyata untuk Alsa. Bagaimana bisa Gerald tiba-tiba datang disaat Alsa sedang mengumpat karena masalah yang terjadi dengan dirinya.

Meski sama-sama terdiam, tetapi sorot mata keduanya seakan berbicara penuh arti dari hati ke hati.

Sorot mata itu Batin Alsa merasa nyata dengan lelaki di depannya ini, meski masih ada ketidak percayaan dalam dirinya.

"Gu-gue... nggak lagi mimpi kan?" ucapnya merasa ragu.

Gerald menggeleng pelan. Langkah kakinya maju mendekat ke arah Alsa. Sorot mata tajam yang beberapa tahun ini tidak dapat Alsa lihat secara langsung. Alsa merindukan itu.

"I miss u," kalimat yang Gerald katakan membuat Alsa menggeleng dengan senyum, bersamaan dengan linangan air matanya yang sudah berhasil jatuh di wajah cantiknya.

"I miss u too..so much," Alsa berhambur ke pelukan lelaki yang teramat dia rindukan.

Jika boleh mengungkapkan kata i miss u saja rasanya tidak akan cukup, rindu yang Alsa rasakan terhadap Gerald jauh lebih berat seperti apa yang Dylan katakan.

Dan sekarang obat penawar rindunya sudah berada di depan mata.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!