Dirga. Dia adalah pemuda lupa ingatan yang tak pernah bermimpi menjadi pendekar. Tapi ternyata Dewata berpikiran lain, Dirga ditakdirkan menjadi penyelamat Bumi dari upaya bangsa Iblis yang menjadikan Bumi sebagai pusat kekuasaannya. Berbekal pusaka Naga Api yang turun dari dunia Naga, dia berkelana bersama Ratnasari memberantas aliran hitam sebelum melawan Raja Iblis.
Lalu bagaimana akhir kisah cintanya dengan Ratnasari? Apakah Dirga akan setia pada satu hati, ataukah ada hati lain yang akan dia singgahi? Baca kisah selengkapnya dalam cerita silat Nusantara, Pusaka Naga Api. ikuti kisah Dirga hanya ada di disni wkwk. kalau ada kesamaan atau tempat author minta maaf mungkin hanya sekedar sama aja cerita nya mungki tidak, ikuti kisahnya dirga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fikri Anja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Sarwana tersenyum melihat Dirga sudah mulai menyerap unsur alam di tempat itu. Tapi beberapa saat berikutnya, dahinya tiba-tiba mengernyit tebal. Dia merasakan jika bukan unsur alam di tempat itu saja yang terhisap, tapi juga energi yang ada di dalam tubuhnya.
"Apa-apaan ini?" ucapnya sambil melesat lebih jauh lagi.
Selama hidup ratusan tahun, Sarwana tidak pernah mengalami kejadian seperti tadi.
Jangankan untuk menyerap energinya, melawannya pun jarang sekali ada pendekar yang mampu. Tapi kali ini sungguh berbeda, dia kini bahkan sangat yakin jika Dirga adalah pendekar yang sudah diramalkan pertapa tua.
"Aku harus menjelaskan kepadanya tentang ramalan dan situasi yang harus dihadapinya nanti," ucap Sarwana pelan. Matanya terus memandang proses penyatuan unsur alam dan unsur murni di dalam tubuh Dirga.
Hampir seharian Dirga menyerap unsur alam yang ada di tempat itu. Dan benar seperti yang diungkapkan Sarwana, semakin banyak dia menyerap unsur alam, maka suhu panas yang begitu ekstrim secara perlahan menjadi sejuk. Panas yang menyengat kulit sudah tidak terasa lagi, itu membuat Dirga semakin betah untuk melanjutkan meditasinya.Proses penyatuan unsur alam dan unsur murni yang dilakukan Dirga akhirnya tiba pada puncaknya. Sebuah ledakan energi tak kasat mata tiba-tiba keluar dari tubuhnya, dan menyapu apa saja yang ada di sekitar tubuhnya. Debu mengepul terbang menjauh, begitu juga batu-batu kecil yang terlempar cepat tak beraturan arahnya.
Sarwana sendiri hanya bisa menahan napasnya yang serasa terhenti setelah merasakan keluarnya ledakan energi yang begitu kuat.
Luar biasa! Hanya itu kata yang bisa terucap dari bibirnya. Dia tidak pernah menduga jika pemuda tampan yang dia selamatkan, ternyata adalah bakat paling jenius selama dunia persilatan ada.
Dari jauh, Sarwana melihat tubuh Dirga mengeluarkan aura berwarna warni. Namun ada dua aura yang yang begitu dominan dibanding aura lainnya, yakni merah dan hijau.
Sarwana tahu jika aura merah adalah perlambang kemarahan, dan hijau adalah sebaliknya. Kedua aura itu akan menjadi tugas yang berat bagi Dirga untuk mengendalikannya, terutama mengendalikan aura merah hingga ke titik terendah.
Kekaguman kera besar penguasa jurang Panguripan itu semakin tak terbendung. Dia melihat tubuh Dirga melayang hingga setinggi 4 meter dan tetap dalam keadaan bersila.
Baginya yang sudah hidup ratusan tahun, kejadian yang dilihatnya adalah sesuatu yang jauh di luar bayangannya. Menurutnya, hanya mereka yang berada di puncak kependekaran saja yang bisa mengendalikan tenaga dalam hingga bisa membuat tubuhnya melayang. Tapi Dirga, dia hanyalah pemuda yang baru saja belajar ilmu kanuragan. Jadi suatu hal yang mustahil menurutnya jika pemuda itu bisa dengan cepat mengendalikan tenaga dalamnya.
Tubuh Dirga masih tetap melayang dan berputar begitu cepat hingga menimbulkan pusaran angin yang secara perlahan membesar. Debu dan batu kecil yang awalnya terhempas menjauh akibat ledakan energi, berbalik kembali terhisap pusaran angin yang tercipta akibat putaran tubuh Dirga.
Cukup lama pusaran angin itu terjadi, hingga pada akhirnya puncak tertinggi dari proses yang dilakukan Dirga pun terjadi, aura kehijauan yang terang menyeruak tinggi melesat ke angkasa.
Sayangnya kejadian itu terjadi pada sore hari. Jika puncak proses itu terjadi malam hari, pasti akan terlihat sangat indah di kegelapan.
Akibatnya, awan bergulung-gulung berarak menyatu menjadi gumpalan hitam yang menutup angkasa. Dan disusul dengan munculnya petir yang menyambar-nyambar.
Tanpa disadari Dirga maupun Sarwana, salah satu petir yang muncul melesat kuat menyambar bumi, tepatnya di area jurang Panguripan juga. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari tempat pemuda tampan itu berlatih.
Mereka berdua juga tidak menyadari jika sebelum salah satu petir menyambar bumi, seekor naga besar berputar-putar di dalam gumpalan awan tebal.Di berbagai tempat lain, puluhan hingga ratusan pendekar melihat dengan jelas luncuran petir yang menyambar Bumi. Yang membuat mereka heran, para pendekar dari berbagai golongan itu juga melihat Naga yang meliuk-liuk di angkasa, sebelum petir tersebut menyambar bumi. Tapi mereka tidak bisa memastikan di bagian mana petir itu mendarat.
Di salah satu tempat, seorang pendekar sepuh yang dikelilingi puluhan muridnya menatap kejadian itu tanpa berkedip. Apalagi ketika naga besar itu muncul.
Dahinya mengernyit tebal. Pikirannya melayang jauh ketika bertemu seorang temannya yang merupakan seorang pertapa, tapi bukan seorang pendekar.
Pertapa temannya itu berkata, "Nanti akan ada masanya muncul pusaka terkuat dunia persilatan. Di saat itu pula, muncul seorang pendekar yang tidak dikenal, tapi memiliki kemampuan luar biasa. Jika pendekar itu bersatu dengan pedang pusaka tersebut dan bisa memaksimalkannya, maka tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya."
Pendekar sepuh itu menyatukan kedua alisnya. Harapannya untuk bisa menguasai dunia persilatan bisa musnah jika pusaka terkuat itu dikuasai orang lain, dan satu-satunya jalan adalah mendapatkannya terlebih dahulu.
"Apakah ada tanda khusus ketika pedang pusaka itu akan muncul?"
"Ada. Kemunculannya akan didahului dengan sambaran petir berulang-ulang, dan bersamaan dengan itu muncul juga seekor Naga besar. Nama pedang pusaka itu adalah Pedang Naga Api!" jawab pertapa tua itu.
"Apakah ada orang lain yang sudah kau beritahu tentang hal ini?"
"Tidak ada. Hanya kau yang aku beritahu. Aku takut jika mereka mengetahuinya, akan banyak pertumpahan darah terjadi."
"Baguslah kalau begitu!" kata pendekar tua tersebut. Tiba-tiba saja dia mencabut sebuah pisau kecil dari balik bajunya dan menusuk pertapa tua temannya tepat di jantungnya.
"A-apa yang kau lakukan Ronggo? Kenapa kau berniat membunuhku setelah aku memberitahumu sebuah rahasia besar?" ucap pertapa tua itu terbata-bata.
"Agar rahasia ini tersimpan rapat, Widura! Kau sebagai sumber dari informasi ini harus dilenyapkan agar tidak ada lagi yang mengetahuinya. Aku akan mendapatkan Pedang Naga Api dan menguasai dunia persilatan!" Pendekar tua bernama Ronggo tersebut menekan pisau yang menancap di jantung pertapa tua itu hingga semakin melesak ke dalam.
"Dengarlah sumpahku, Ronggo! Sampai kapanpun ambisimu tidak akan tercapai. Aku tidak menyangka jika pendekar aliran putih sepertimu ternyata memiliki jiwa hitam di dalam tubuhmu!"
"Banyak bicara kau, Widura! Membusuklah di neraka!" Ronggo menambahkan tenaga dalamnya dan menekan pisau kecil itu dengan kuat. Saking kuatnya tekanan yang dilakukan Ronggo, sebagaian gagang pisau kecil itupun ikut masuk ke dalam tubuh Widura.
"Perlu kau ketahui, Ronggo... Aku sudah berbohong kepadamu, bukan hanya kau yang mengetahui tentang akan munculnya Pedang Naga Api! Hahahaha!" Pertapa tua meregang nyawa setelah tawa terdengar keluar dari mulutnya.
Ronggo membuka matanya setelah mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Demi ambisinya menjadi penguasa dunia persilatan, dia sampai harus membunuh temannya sendiri.
Tapi dia masih diliputi keraguan tentang kebenaran ucapan terakhir Widura sebelum meninggal. Antara benar atau tidak, dia tidak mengetahuinya.
"Kalian semua! Menyebar dan carilah informasi tentang pedang pusaka yang baru turun dari langit!" Perintahnya kepada puluhan muridnya. "Carilah di sekitar tempat petir itu menyambar
Bumi!"
Puluhan murid Ronggo seketika bergerak menyebar selepas mendapat perintah. Mereka juga melihat kejadian tersebut, sehingga sedikit banyak bisa menjadi petunjuk bagi mereka untuk mencari.