Krystal Berliana Zourist, si badgirl bermasalah dengan sejuta kejutan dalam hidupnya yang ia sebut dengan istilah kesialan. Salah satu kesialan yang paling mengejutkan dalam hidupnya adalah terpaksa menikah di usia 18 tahun dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.
Kesialan dalam hidupnya berlanjut ketika ia juga harus di tendang masuk ke Cakrawala High School - sekolah dengan asrama di dalamnya. Dan di tempat itu lah, kisah Krystal yang sesungguhnya baru di mulai.
Bersama cowok tampan berwajah triplek, si kulkas berjalan, si ketua osis menyebalkan. Namun dengan sejuta pesona yang memikat. Dan yang lucunya adalah suami sah Krystal. Devano Sebastian Harvey, putra tunggal dari seorang mafia blasteran Italia.
Wah, bagaimana kisah selanjutnya antara Krystal dan Devano.
Yuk ikuti kisahnya.
Jangan lupa Like, Komen, Subscribe, Vote, dan Hadiah biar Author tambah semangat.
Salam dari Author. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icut Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35 : MAAF, KEY
Pertarungan sengit antara Krystal dan Aldi tidak terelakkan. Meski sama-sama menahan sakit karena baru saja terjatuh dari motor. Keduanya tetap saling berbalas pukulan sekarang. Keadaan kini bisa dikatakan imbang dan belum ada yang benar-benar tumbang.
Beberapa kali Krystal sempat terpojok, namun dengan cepat ia berhasil membalikkan keadaan. Membalas serangan Aldi dengan membabi buta, ia ingin secepatnya menyelesaikan ini karena tenaganya yang mulai terkuras habis.
BUGH!
BUGH!
"ARGHHH!!"
Tubuh Aldi terpental karena tendangan Krystal di dadanya. Belum sempat bangkit, gadis itu sudah lebih dulu berada di atasnya dan menjatuhkan pukulan demi pukulan di rahangnya.
Puas memukuli Aldi, Krystal bangkit dari atas tubuh besar yang mulai tidak berdaya itu Melayangkan tendangan tepat di dagu Aldi, hingga siempunya terbatuk berdarah.
Nafas Krystal memburu, menyugar rambutnya yang basah akan keringat. Lalu menyeret kakinya sedikit menjauh dari posisi Aldi yang meringkuk, merintih menahan sakit disana. Ia juga tidak bisa berbohong bahwa tenaganya mulai habis. Tanpa perlawanan tubuhnya ikut jatuh ke aspal, memandang langit malam yang bersih tanpa bintang.
"Lo seratus persen beda dari Keyzia." Suara Aldi yang disertai nafas memburu itu terdengar, memecah keheningan diantara mereka.
Krystal tidak bergeming, ia masih terbaring terlentang di aspal dingin tersebut. Termenung, sembari mengumpulkan tenaganya.
"Keyzia yang lembut, manis, ramah dan murah senyum. Like a real angel." Aldi melakukan hal yang sama seperti Krystal. Terlentang memandang langit yang terbentang luas diatas sana.
Dalam batinnya, Krystal membenarkan apa yang Aldi katakan. Keyzia adalah penggambaran malaikat. Sementara Krystal adalah iblisnya. Bukan hanya wajah, tapi sifat mereka berbeda 180 derajat.
"Dan sayangnya, lo sudah menghancurkan malaikat, itu. Menjadi sosok yang tidak gue kenal lagi." Lirih Krystal dengan sorot mata berubah nanar.
Yang di sambut kekehan sumbang oleh Aldi.
"Apa lo yakin gue yang menyebabkan kehancurannya, hm?"
"Lo membuatnya kecanduan!"
"Kenapa orang di dunia ini bisa narkoba, Krys?"
Hening.
"Penasaran? Atau justru sebagai pelarian? Pelarian dari rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan lewat kata dan air mata lagi. Disaat dunia ikut tidak mengerti dengan apa yang kita rasakan. Disaat pertahanan dan keimanan ikut runtuh. Tuhan, hanya mampu mendengar keluhan lalu membantu dikemudian hari. Tapi kita sebagai manusia, butuh balasan berapa kata-kata penyemangat dari orang-orang disekitar. Bagaimana jika kita tidak lagi mendapatkan itu dari manusia? Kemana kita akan pergi?" Aldi menolehkan kepalanya ke kiri, dimana Krystal berada di jarak 1 meter darinya.
Krystal tidak tahu darimana laki-laki brengsek seperti Aldi bisa merangkai kata-kata sepuitis itu.
"Keyzia, mengatakan itu 2 tahun lalu ke gue."
Degh!
Lanjutan ucapan Aldi setelahnya membuat jantung Krystal berhenti berdetak untuk sesaat. Untuk sepersekian detik tubuhnya membeku, dan lidahnya kelu. Kedua tangannya terkepal erat setelahnya.
"Gue yang mengenalkannya dengan narkoba. Tapi bukan gue yang membuatnya kecanduan."
"Shut up!" Desis Krystal.
"Keyzia sendirilah yang memilih jalan itu sejak awal. Mengambil jalan pintas untuk bisa melupakan asa sakitnya. Krys, gue bukan penghancurnya. Melainkan penyembuh untuk lukanya."
"GUE BILANG DIAM!!" Bentak Krystal, meradang.
Krystal bangkit berdiri, berjalan cepat ke arah Aldi menyentak krah baju cowok itu, menariknya berdiri dengan kasar. Matanya menyala merah, nafasnya memburu, giginya saling bergemelatuk, tangannya mencengkram krah baju cowok itu kuat.
"Gue sayang sama dia, Krys. Hidup gue perlahan mulai berubah sedikit demi sedikit saat gue kenal dengan dia." Ujar Aldi.
"Sayang? Kalau lo sayang sama dia. Lo nggak akan ngerusak dia, brengsek! Lo ngerusak dia dengan narkoba!"
BUGH!
BUGH!
Bogeman mentah Krystal layangkan di rahang Aldi. Diluar dugaan, Aldi justru tertawa pelan. Tubuh lemahnya terhuyung beberapa kali, berusaha menyeimbangi tubuhnya agar tidak roboh. Lalu menegakkan tubuhnya dengan perlahan, menatap Krystal disana.
"Bukan narkoba yang ngerusak Keyzia. Lo mau tahu apa yang ngerusak dia, hm? Bukan gue,bukan juga narkoba, Krys." Aldi melangkah mendekati Krystal. Mempertipis jarak, sampai jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja.
Entah kenapa hati Krystal mulai dirudung kegelisahan. Melihat mata Aldi yang menyala tajam ke arahnya, semakin membuatnya takut akan kelanjutan ucapan cowok itu.
"Tapi lo, Krys! Lo yang udah ngerusak Keyzia sampai ke titik terendah itu. Lo sangat ingin tahu kan kenapa Keyzia harus narkoba? Ini jawabannya. Jawaban itu adalah diri lo sendiri! Kenyataan bahwa Keyzia nggak sekuat lo. Kenyataan bahwa Keyzia nggak seberani lo. Kenyataan bahwa Keyzia butuh lo. Keyzia cuma cewek rapuh yang terpuruk ketika ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang paling dia percaya di dunia ini! Orang yang dia anggap bisa memberikan perlindungan, pelukan dan pembelaan padanya ketika seluruh dunia menghakiminya! Nyatanya justru ikut menjauhi nya, bahkan membentangkan jarak sejauh langit dan bumi! Lo, Krystal Berlina Zourist adalah awal dari luka untuk Keyzia. Lo Krystal! Lo orangnya!" Cecar Aldi.
Krystal mematung, matanya tidak berkedip menatap mata tajam Aldi. Keadaan hening seketika. Angin seakan mencekik Krystal dan seakan menghentikan saluran pernapasan nya sekarang, atas apa yang keluar dari mulut Aldi tadi.
"Saat lo keluar dari Mansion Zourist apa lo nggak pernah mikirin perasaan Keyzia, hm? Gue, mengenal Keyzia nggak selama lo mengenak dia. Tapi gue bisa paham sepenting apa lo dalam hidupnya, Krys. Nggak ada satupun yang keluar dari mulutnya yang membuat gue berpandangan jelek tentang lo! Nggak ada, Krys. Dia selalu bangga punya saudari kembar kayak lo. Dia pernah bilang, lo adalah orang yang paling dia cintai di dunia ini, melebihi hidupnya sendiri. Lo berharga buat dia. Setiap kali lo dipukulin, diperlakukan nggak adil, dia ikut ngerasain sakitnya. Andai dia punya kekuatan dan keberanian seperti lo, mungkin dia akan melakukan hal yang sama keluar dari Mansion Zourist! Mansion yang juga nggak pernah jadi rumah utuknya pulang!" Ujar Aldi.
"Dia pikir saat nyokapnya meninggal. Dia hanya kehilangan sosok Ibu. Tapi dia salah, ternyata dia juga harus kehilangan sosok saudari kembarnya. Saat lo pergi, dia pikir itu hanya masalah jarak aja. Tapi lagi-lagi dia salah, lo bukan hanya membentangkan jarak tapi juga memutuskan hubungan." Kata Aldi lagi.
"Apa lo tahu jika di sekolah, Keyzia selalu di rudung, hm? Apa lo juga tahu jika di sekolah pernah mendapatkan tindakan pelecehan? Dan apa lo tahu, Krys? Saat dia meminta pertolongan, nggak ada satu pun orang yang mendengarnya termasuk pihak sekolah dan bokap lo sendiri! Kemana Krys? Kemana lo disaat Keyzia butuh lo?! Apa lo ada buat belain dia, hah?! Jawabannya jelas nggak. Karena lo sendiri yang menghapus Keyzia dalam hidup lo." Cecar Aldi.
Kaki Krystal seakan lemas, ia hampir saja terjatuh jika tidak dengan cepat menyeimbangi tubuhnya. Bersama dengan itu air matanya mengalir di pipi, membasahi luka lebam yang ada di sana. Lidahnya kelu, dadanya sesak dan seperti di tusuk ratusan belati.
Keyzia di rudung? Dilecehkan?
Kepala Krystal seketika pening. Inikah jawaban yang ia cari selama ini? Inikah kebenarannya? Inikah penyebab kehancuran Keyzia?
"Lo bohongkan? Nggak mungkin, lo cuma mau ngibulin gue kan? Jawab!" Krystal terkekeh getir.
"Andai itu adalah sebuah kebohongan. Mungkin Keyzia nggak akan ada di titik ini. Sekarang gue tanya sama lo. Kapan terakhir kali lo berkomunikasi dengan Key?" Tanya Aldi datar.
Dan itu cukup membuat Krystal terbungkam.
"Lo tahu tahu Krys, satu-satunya penyesalan yang gue lakuin akan hidup Keyzia hanya lah satu. Bukan karena membiarkan dia ketergantungan dengan narkoba. Melainkan karena keterlambatan gue dalam menolongnya. Jelas di ingatan gue, kejadian malam itu, Malam dimana gue sendiri lah yang mengantar Keyzia langsung untuk menemui lo. Dia datang membawa harapan penuh. Harapan yang dengan teganya lo patahkan dengan pengusiran yang sangat kejam, Krys!" Ujar Aldi.
Tanpa di perintah ingatan Krystal melayan pada malam 2 tahun lalu itu. Bersama ingatan itu, air mata Krystal turun semakin berlomba-lomba.
**Flashback On**
"*GU BILANG PERGI!! JANGAN PERNAH TEMUI GUE LAGI*!!"
"*Krys, dengerin gue dulu hiks...gue butuh lo Krys hiks. Tolong jangan usir gue, izinin gue nginap di sini. Gue mohon hiks..." Keyzia menangis memeluk kedua kaki Krystal*.
*Krystal mencoba menenangkan emosinya. Memejamkan matanya sejenak dan menarik nafasnya perlahan*.
"*Gue mohon, Key. Pergi! Gue mohon*."
"*Hiks...Keyzia mau sama Krystal. Please gue butuh lo, Krys. Gue hiks..." Keyzia menggeleng, memeluk kaki Krystal kian erat*.
"*Jangan sampai gue kasar sama lo, Key. Pergi*!"
*Keyzia tetap mempertahankan posisinya. Krystal mengumpat keras*.
"*Oke, lo yang maksa gue untuk melakukan ini*."
"*Krystal hiks*...!"
*Suara tangis Keyzia semakin berubah histeris saat dalam sekali hentakan kuat Krystal menarik lengannya berdiri lalu menyeretnya dengan kasar keluar rumah. Mengabaikan ratapan Keyzia, Krystal tetap menyeret gadis itu*.
*BRUK*!
*Keyzia menangis semakin keras saat tubuhnya tersungkur di teras akibat dorongan kuat Krystal. Ia dengan cepat bangkit, berlari ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat*.
"*Krystal hiks...tolong Key. Krys hiks*..."
"*PULANG KEY! GUE MOHON SAMA LO JANGAN TEMUIN GUE LAGI!! PAPA NGGAK SUKA KALAU LO BERHUBUNGAN LAGI SAMA GUE! LO MAU DIKURUNG DI GUDANG KAYAK GUE DULU, HAH*?!"
"*Krys hiks*..."
"*GU BILANG PULANG*!"
*Setelah itu, yang Krystal dengar hanyalah suara tangis pilu Keyzia dari balik pintu. Krystal ikut terduduk dan menangis sejadi-jadinya setelah itu*.
**Flashback Of**
Krystal terduduk lemas di aspal jalanan nan lengang itu. Ia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menahan bobot tubuhnya. Matanya berubah kosong dengan air mata yang seperti tidak ingin berhenti mengalir. Dadanya sesak, ia mulai lupa caranya bernafas.
Apa yang malam ini Krystal dengar jauh lebih buruk dari apa yang ia bayangkan selama ini. Bagaimana mungkin selama ini Krystal tidak mengetahui penderitaan saudarinya sendiri?
"Dan lo tahu apa yang ajaib dari semua itu, Krys? Meski selalu berakhir dengan pengusiran dari lo. Dia tetap menyanyangi lo, nggak pernah ada setitik noda kebencian di hatinya untuk lo. Meski sudah beratus kali lo menusukkan belati ke dadanya. Dia tetap menganggap lo sebagai rumah tempatnya pulang. Meski rumah itu sendiri telah lama menolak kehadirannya."
Sambungan ucapan Aldi setelahnya membuat tangis Krystal semakin berubah menjadi raungan dan isakan yang keras. Tangan kanannya terangkat, menutupi matanya yang semakin basah. Disaat Krystal berusaha mencari monster yang telah menghancurkan hidup saudari kembarnya. Dia justru mendapati bahwa dirinya sendiri lah monster itu.
"Andai lo tidak menolak uluran tangannya, Krys. Mungkin dia nggak akan ngerasa sendirian dan butuh pertolongan. Narkoba adalah jalan keluar kedua yang dia pilih. Sebelumnya dia selalu rutin mendatangi psikologi, meminum obat penenang dalam dosis yang tinggi dan selalu berakhir dengan tidur. Tapi setiap kali dia bangun, dia selalu ingat akan kehancurannya." Ujar Aldi, matanya sudah berubah nanar sejak tadi.
"Kenapa lo nggak cegah? Kenapa lo biarin dia terjerumus sejauh itu? Kenapa, Di?" Lirih Krystal. Matanya kosong dan nanar secara bersamaan.
"Sorry..."
Kekehan getir lolos dari bibir bergetar Krystal. Menyentuh dadanya yang berdenyut sakit. Ia menunduk dalam tangis nya yang semakin tidak terbendung. Bayangan senyum dan tawa Keyzia perlahan berputar di benaknya, yang membuatnya semakin mengutuk dirinya sendiri. Ia sendirilah yang membuat senyum dan rawa itu hilang? Lelucon macam apa itu, Tuhan?
Untuk sesaat jalanan itu hanya dihiasi oleh tangis penyesalan Krystal saja.
"Terus kenapa lo masih ngasih dia narkoba sampai sekarang, Di? Kenapa? Hiks..." Tanya Krystal dengan suara serak.
Hening sesaat. Keduanya sama-sama diam.
"Bagaimana jika kenyataannya bukan gue lah yang menyusupkan narkoba ke kamar isolasi Keyzia?"
Krystal mendongak menatap Aldi dengan matanya yang memerah karena air mata.
"Jangan mempermainkan gue, Di! Gue udah cukup gila dengan fakta yang lo kasih."
Tersenyum miring yang sangat tipis.
"Andai ini suatu permainan. Artinya harus ada yang kalah kan?" Matanya yang tadi lurus ke depan, berpindah menatap Krystal.
"Bagaimana kalau malam ini gue adalah pemain pertama yang game over? Tanyanya lirih, diakhiri dengan senyuman getir setelahnya.
Krystal mengernyit, bangkit dari duduknya. Belum sempat ia benar-benar mencerna ucapan terakhir Aldi. Sesuatu yang tidak terduga setelahnya. Sesuatu yang tidak pernah Krystal perkirakan sebelumnya.
DOR!
Krystal memejamkan matanya sedetik setelah suara tembakan keras itu terdengar, bersama dengan percikan darah yang mengenai wajah serta baju bagian depannya. Bertepatan dengan sebuah motor mengerem mendadak di belakang Krystal dan dua pasang mata ikut menyaksikan kejadian tersebut.
Tepat di depan mata kepalanya, Aldi baru saja di tembak di kepala.
Krystal mematung dalam keterkejutannya. Matanya tidak berkedip menatap mata Aldi yang kian meredup di hadapannya. Cowok itu tersenyum lirih untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya tubuh itu limbung ke depan, tepat bersandar ke tubuh kecil Krystal yang menahannya.
"Di... lo tahu ini akan terjadi?" Panggil Krystal lirih.
"Hm..."
"Lo tahu lo harus bertahankan? Lo masih punya hutang penjelasan sama gue. Lo jangan mati dulu!" Desis Krystal, namun bibirnya bergetar ketika mengucapkannya.
Kekehan lirih nyaris tidak terdengar lolos dari mulut Aldi. Nafas Aldi mulai terdengar putus-putus di telinga Krystal. Lalu suara lirih nyaris menyerupai bisikan lemah itu terdengar.
"So...sorry, Krys. Tapi kunci jawaban dari pertanyaan itu hanya ada dalam diri lo sendiri. Sekeras apapun gue menjelaskan. Lo nggak akan pernah ngerti. Eghh...maaf, gue harus berakhir lebih dulu. Ji...jika harinya sampai nanti, tolong sampaikan pada Key kaau gue sayang banget sama dia."
"Lo harus sampaikan sendiri!" Air mata Krystal kembali bercucuran deras, dicengkeramnya baju belakang Aldi.
"Gu..gue eghhh..."
Sedetik setelahnya, tubuh Aldi luruh tanpa perlawanan. Dan Krystal tak lagi punya tenaga untuk menahannya.
Tepat pukul 00.00, Aldi menutup mata untuk selamanya di pangkuan Krystal.
Mata Krystal memandang kosong wajah Aldi yang dipenuhi darah. Kepalanya seketika pening, matanya mulai berkunang-kunang dan telinga berdengung. Lama kelamaan penglihatannya mengabur. Ia mendongak menatap langit malam dengan nafas yang terputus-putus. Satu persatu bulir air dari atas sana mengenai wajahnya. Sebelum akhirnya berubah menjadi hujan yang turun deras.
Kepala Krystal kembali dihantam oleh ingatan kabur yang tidak jelas. Yang membuat kepalanya semakin berputar. Silih berganti ingatan kecelakaan 13 tahun lalu menghampirinya lagi. Adegan demi adegan berganti dengan cepat, namun semuanya tidak jelas. Dan tubuh Krystal semakin di kuasai oleh kegelapan.
"KRYSTAL!!"
Carletta, Zoey dan Sasa yang juga baru datang dengan mobilnya. Langsung berlari ke arah Krystal yang sudah tak lagi sadarkan diri di sana.
Carletta mengusap wajahnya yang basah akan air hujan. Menatap Aldi yang sudah tidak bernyawa. Ia meliat ketika peluru itu menembus kepala Aldi tepat dari belakang. Ia lalu mengalihkan pandanganya ke depan, memandang sekitar hanya ada mereka dijalanan sepi yang basah akan air hujan sekarang.
Darimana peluru itu datang? Kenapa Aldi harus di bunuh?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Done." Ucapnya pada earphone yang terpasang di telinga. Tersambung dengan seseorang di tempat lain di lokasi yang berbeda.
"Oke." Ia memutuskan panggilan, lantas berjalan memasuki sebuah bangunan tau di depannya. Hanya terlihat usang di luar, tapi cukup mewah di dalam.
Kedatangannya langsung disambut oleh beberapa pasang mata yang langsung membungkuk hormat. Sebelum kembali pada kegiatan masing-masing. Sementara ia lantas berjalan ke ruangan bawah tanah.
Seorang penjaga langsung membukakan pintu. Membungkuk sejenak sebelum berlalu pergi. Pintu tertutup, menciptakan kegelapan yang sempurna. Meski begitu ia masih bisa melihat jajaran senjata yang ada, mulai dari senjata tajam maupun senjata api. Dan ia meraih salah satu senjata api tersebut. Siap membidik lawannya dalam kegelapan.
"LEPASIN GUE!! LEPASIN! GUE MOHON HIKSS..." Teriak seorang gadis yang matanya tertutup kain. Tangannya terikat ke atas, dalam posisi tubuh tergantung.
Entah sudah berapa lama, tapi tangannya benar-benar sakit menahan bobot tubuhnya. Tidak ada sinar matahari yang masuk sehingga ia tidak mengetahui setiap pergantian hari.
Sementara dua orang yang berdiri di samping gadis itu hanya mendengus dengan malas.
"Gue mohon hiks... lepasin gue!"
DOR!
DOR!
DOR!
Gadis itu seketika bungkam saat mendengar tiga kali suara tembakan di ruangan itu. Tubuhnya semakin bergetar ketakutan.
Andai penutup kin dimata itu di lepas. Maka gadis tersebut akan bisa melihat tiga orang yang bernasib sama sepertinya sudah tidak bernyawa lagi dengan peluru yang menembus di kepala.
DOR!
"ARGHHH!!"
BRUK!
Tubuh gadis itu jatuh tanpa perlawanan karena peluru yang yang dilesetkan tepat mengenai tali yang menggantung. Ia beringsut mundur ketika mendengar suara telapak kaki mendekat.
"Si...siapa lo?" Cicitnya bergetar
SREEET!
Kain yang menutup mata gadis itu dilepas. Netranya bertemu dengan sepasang mata seseorang. Lampu menyala terang, saat itulah ia bisa mengenali wajah tersebut.
Degh!
Jantungnya berdebar kencang. Ia mengambil sikap beringsut mundur. Namun percuma, ketika pistol sudah berada tepat di depan kepalanya.
"Lo tahu apa resikonya main-main sama gue, hm? Salah satu bekingan lo udah mati. Kira-kira siapa selanjutnya?"
Hening.
"Gue mohon jangan bunuh gue. Gue cuma di suruh, gue bersumpah. Gue janji, gue akan ngelakuin apapun yang lo mau." Ucapnya ketakutan, mencoba memohon ampun.
Namun, sayangnya iblis tidak punya belas kasih.
"Apapun?" Suara rendah itu membuat si gadis kian merinding ketakutan.
Beringsut kian mundur ketika cowok itu mendekatkan diri ke arahnya. Hampir menjerit ketika tangan besar itu mencengkram lengannya.
Dan bisikan yang ia dengar setelahnya. Membuat tubuhnya berubah kaku. Ia semakin memohon dan berteriak penuh pengampunan.
"Bawa!" Perintah cowok itu. Yang langsung dilaksanakan dua cowok lain yang setia berdiri disamping kiri dan kanan gadis itu.
"Nggak! Nggak! Gue minta maaf!! Hiks...gue mohon jangan!! Gue minta maaf hiks... tolong ampuni gue!! Gue janji nggak akan ngusik hidup lo lagi! Hiks...'
Gadis itu di seret keluar ruangan bawah tanah. Suara ratapannya muli terdengar samar.
"Bereskan mereka! Lakukan seperti biasa." Perintah cowok itu.
"Baik, Tuan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hujan turun dengan deras diluar sana, diiringi suara petir yang seskali terdengar. Krystal bergerak gelisah dalam tidurnya. Nafasnya dibalik selang oksigen itu juga berubah memburu dengan keringat dingin yang membasahi wajah. Sekujur tubuhnya bergetar hebat, kepalanya terus menoleh ke kanan dan ke kiri dengan mata tang masih terpejam. Tangannya juga meremas bad cover dengan kuat. Seakan dialam bawah sadarnya baru saja terjadi hal yang mengerikan.
"Eghhhh..."
Zoey yang melihat itu langsung saja berlari ke arah ranjang rumah sakit tersebut. Semakin lama tubuh Krystal semakin mengejang dan itu membuatnya kian panik. Ia terus menekan-nekan tombol di atas kepala ranjang itu.
Karena Dokter yang tak kunjung datang. Zoey berniat berlari keluar ruangan untuk memanggil. Karena hanya ada dirinya saja di ruangan ini, sementara Carletta dan Sasa pulang sebentar untuk mengambil baju ganti karena mereka yang basah kuyup tadi.
Namun, langkah Zoey kembali mundur saat empat orang laki-laki berbadan kekar berjalan masuk.
"Ka...kalian? Kenapa disini? Tahu darimana?" Cicit Zoey gugup. Tidak bermaksud sebenarnya. Tapi aura keempat cowok itu sungguh terasa mengerikan sekarang.
Panik ketika Devano mendekat pada ranjang Krystal dan melepaskan selang oksigen serta infus gadis itu.
"Dev jangan, Krystal..."
"Sssttt... Bukankah sudah waktunya kembali ke asrama, hm?" Zoey bungkam. Menelan salivanya. Tubuhnya terpojok oleh Dimas.
Baru tiga hari yang lalu Zoey berdebat dengan cowok ini. Tapi sekarang ia justru merinding mendengar suara Dimas?
"Gu...gue..." Tak bisa melawan ketika pergelangan tangannya di cengkram dan di tarik oleh Dimas.
Sekali lagi Zoey menoleh, menatap Krystal disana. Yang tak lagi kejang-kejang seperti tadi. Terlihat lebih tenang dengan mata masih terpejam di dalam dekapan Devano.
Devano menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya. Dan matanya cukup terganggu dengan beberapa luka lebam di sana, Jari jempolnya bergerak mengusap lembut pipi pucat istrinya itu.
"Waktu liburannya sudah selesai, baby. Waktunya untuk pulang. Pulang ke pelukan ku." Bisik Devano lembut. Meninggalkan kecupan lembut di bibir pucat itu.
Mengangkat tubuh Krystal. Istrinya tidak terusik sama sekali di dalam gendongannya.