Krystal Berliana Zourist, si badgirl bermasalah dengan sejuta kejutan dalam hidupnya yang ia sebut dengan istilah kesialan. Salah satu kesialan yang paling mengejutkan dalam hidupnya adalah terpaksa menikah di usia 18 tahun dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.
Kesialan dalam hidupnya berlanjut ketika ia juga harus di tendang masuk ke Cakrawala High School - sekolah dengan asrama di dalamnya. Dan di tempat itu lah, kisah Krystal yang sesungguhnya baru di mulai.
Bersama cowok tampan berwajah triplek, si kulkas berjalan, si ketua osis menyebalkan. Namun dengan sejuta pesona yang memikat. Dan yang lucunya adalah suami sah Krystal. Devano Sebastian Harvey, putra tunggal dari seorang mafia blasteran Italia.
Wah, bagaimana kisah selanjutnya antara Krystal dan Devano.
Yuk ikuti kisahnya.
Jangan lupa Like, Komen, Subscribe, Vote, dan Hadiah biar Author tambah semangat.
Salam dari Author. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icut Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27 : KEKESALAN KRYSTAL
Devano berjalan membuka pintu kamar mandi. Sudah lebih dari 20 menit istrinya di dalam dan tidak kunjung keluar. Ia menghela nafas perlahan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, pantas saja, istrinya sedang tidur di dalam bathtub. Ia kemudian berjalan ke arah sana dan menggendong Krystal memasuki kamar. Dan ia sadar jika piyama tidur istrinya itu basah.
Apa yang Krystal lakukan selama di dalam kamar mandi hingga piyamanya bisa basah seperti ini?
Devano membaringkan Krystal dengan perlahan. Lalu berjalan menuju ke walk in closet, mengambil kemeja lengan panjang miliknya. Tidak ada baju atau piyama Krystal di sini, dari pada istrinya masuk angin karena memakai piyama basah. Sepertinya Devano harus memindahkan sebagian baju-baju istrinya ke kamarnya ini, atau mungkin ia memang harus memindahkan seluruh barang Krystal ke kamarnya.
Entahlah, lihat nanti saja.
Devano kembali berjalan ke arah ranjang dan menukar piyama basah Krystal dengan kemeja kebesaran miliknya. Ingat ya! Hanya sekedar menukar saja. Tidak hal lainnya. Ya, meskipun iman Devano benar-benar di uji sekarang, melihat tampilan istrinya yang hanya mengenakan kemeja kebesaran miliknya yang bahkan tidak bisa menutupi paha mulus putih itu secara keseluruhan.
"Shit! Gue bisa gila kalau kayak gini." Geram Devano tertahan. Berusaha mengendalikan dirinya agar tidak berakhir menyerang istrinya yang sedang tidur.
Di pandangnya wajah Krystal yang damai dalam tidur, terlihat sangat manis. Bahkan tidak terusik ketika Devano menggantikan piyamanya. Lantas di kecupnya dahi istrinya sebentar, sebelum ikut bergabung berbaring di sana. Menarik Krystal untuk merapat pada tubuhnya. Memeluknya dengan erat. Tidak lupa menarik selimut untuk membungkus tubuh mereka berdua.
Krystal terlihat mengeratkan pelukannya pada Devano. Membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Wangi tubuh Devano menjadi pengantar tidur untuknya semakin terlelap nyenyak.
Pagi datang dengan cepat. Sinar rembulan sudah di gantikan dengan hangat sinar matahari yang menembus di sela-sela ventilasi kamar. Dan dua anak manusia di dalam sana, masih sangat betah untuk bergelung nyaman di dalam selimut tebal. Saling berpelukan sepanjang malam.
Devano bangun lebih dulu, mengernyit ketika merasakan tembakan sinar matahari tepat mengenai wajahnya dan itu menyilaukan matanya. Jam berapa sekarang? Kenapa sinar matahari sudah begitu tinggi?
Tangan panjangnya meraba-raba meja nakas di samping ranjang. Meraih beker yang bahkan tidak berbunyi. Pantas saja, ternyata ia sudah ketiduran cukup lama. Sekarang sudah jam 09.00 pagi. Ia sudah melewatkan hampir 2 jam pelajaran.
Di rasakannya pergerakan tipis dari seseorang yang setia ia peluk sepanjang malam. Ia melihat Krystal yang masih nyaman di dalam dekapannya. Tangannya bergerak menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Krystal. Tanpa sadar senyumnya mengembang. Memandangi wajah cantik istrinya ketika bangun tidur adalah hobi dan candu baru untuknya.
Cup!
Di berikannya kecupan singkat di setiap wajah Krystal. Membiarkan istrinya tetap tidur, Devano memilih bangkit perlahan. Ia akan mandi dan bersiap-siap untuk sekolah. Harusnya ia sudah datang sejak 7 tadi untuk menghadiri rapat osis.
Memang tidak biasa-biasanya Devano ketiduran seperti ini. Biasanya ia akan selalu bangun lebih awal. Entah kenapa malam ini terasa berbeda. Tidurnya begitu nyenyak. Entah karena memang kelelahan atau justru karena kehadiran seseorang yang begitu spesial dalam pelukannya malam ini.
Tok! Tok! Tok!
Krystal mengernyit ketika mendengar ketukan pintu kamar tersebut. Ia mengucek matanya dan melirik ke samping, ternyata sudah kosong. Menguap sebentar, Krystal lalu duduk dan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Mungkin Devano yang sedang mandi.
Tok! Tok! Tok!
Lagi-lagi ketukan itu begitu berisik. Krystal berdecak dan turun dari ranjang. Belum menyadari akan penampilannya sekarang, karena kesadarannya belum hadir sepenuhnya.
Memutar kunci, lalu membuka pintu. Awalnya Krystal berpikir itu Rangga, Iqbal atau Dimas. Tapi ternyata ia salah besar ketika mendapat sosok Lenna berdiri di balik nya. Matanya yang tadi masih sedikit mengantuk, sudah terbuka sepenuhnya. Menatap datar Lenna yang berdiri di hadapannya.
Berbeda dengan Krystal. Lenna justru terpaku dan sedikit terkejut melihat kehadiran Krystal di kamar Devano. Pandangannya tanpa di perintah turun memindai Krystal. Dan Krystal yang menyadari itu ikut melakukan hal yang sama.
Shock ketika mendapati dirinya mengenakan kemeja kebesaran yang bahkan panjangnya saja tidak menutupi pahanya. Sial! Siapa pun yang melihat penampilannya sekarang pasti mengira ia sudah berbuat macam-macam dengan Devano.
"*Eh! Tapi nggak papa juga sih, kan gue istrinya. Suka-suka gue lah mau ngapain sama suami gue sendiri." Batin Krystal*.
Meski heran kenapa ia bisa memakai kemeja kebesaran Devano. Karena seingatnya ia semalam memakai piyama warna merah.
Mengabaikan pikiran-pikiran itu sejenak. Krystal kembali menatap datar ke arah Lenna.
"Ngapain lo di sini?" Sungguh Krystal tidak menyadari nada suara nya yang agak kurang bersahabat ini.
"Sorry, Krys. Gue ke sini nyari Devano. Mau ngasih laporan sama proposal Summer Camp yang sudah di tanda tangani Miss Andini." Ujar Lenna sedikit canggung.
Krystal melarikan pandangannya sebentar pada map yang di pegang Lenna.
"Lo nggak bisa ngasih ini di sekolah, hm?" Lag-lagi suara Krystal terkesan tidak suka.
Ya jelas lah, siapa yang suka jika pagi-pagi seperti ini sudah ada seorang cewek yang mengetok-ngetok pintu kamar suaminya. Untung Krystal ada di sini, kalau tidak? Ya tidak tahu.
"Gue pikir Devano sakit makanya nggak bisa masuk sekolah. Karena harusnya dia mimpin rapat osis jam 7 tadi. Tapi dia melewatkannya." Ujar Lenna, tidak enak dengan Krystal. Karena menyadari ketidaksukaan Krystal itu.
"Sorry, Krys. Gue nggak tahu kalau lo ada di sini. Dan gue nggak bermaksud apa-apa, gue cuma..."
"Oh jadi kalau gue nggak di sini. Mungkin lo akan masuk dan ngebahas hasil rapat tadi sama Devano di dalam? Gitu?!" Krystal menyela sarkas.
Lenna terdiam sejenak.
"Jangan salah paham, Krys. Maksud gue nggak gitu. Gue cuma ingin mastiin Devano baik-baik saja karena nggak biasanya dia nggak masuk rapat kayak tadi pagi. Tapi oke, kalau lo ngerasa gue salah. Gue minta ma..."
"Ya salah salah! Lo cewek, datang ke asrama cowok, itu aja udah salah loh. Bukannya di sekolah ini di larang, hm? Dan apa tadi? Memastikan? Lo emang siapa memastikan kondisi Devano ke sini, hm?" Kali ini Krystal tidak bisa mengontrol suara nya yang terdengar ketus.
Lenna terdiam, mata mereka tidak putus saling melempar pandang. Lalu sebuah senyuman mani terukir di wajah cantik waketos tersebut. Namun, kalimat yang keluar setelahnya sama sekali tidak sejalan dengan senyuman tersebut.
"Gue akui gue salah untuk itu. Tapi lo juga salah. Gue cuma datang ke sini untuk nganter hasil rapat yang memerlukan tanda tangan Devano sesegera mungkin. Sementara lo..."
Ucapan Lena terjeda, tidak ingin melanjutkannya. Bermaksud akan mengalihkan pembicaraan. Namun, kalimat nya tadi sudah berhasil membuat Krystal terusik.
"Sementara gue apa? Sementara gue tidur di sini, gitu?! Itu kan tadi yang mau lo bilang?! Kenapa nggak di lanjutin? Iya gue tidur di sini! Terus ap urusannya sama lo?! Suka-suka gue lah! Devano suami gue, dan lo juga udah dengar pengakuan itu langsung dari dia! Apa yang salah dari sepasang suami istri tidur satu kamar?" Krystal semakin mencecar Lenna.
Lenna menarik nafasnya perlahan. Tetap tenang.
"Krys, maaf kalau lo tersinggung. Gue nggak maksud..."
"Lo bermaksud, Len! Lo tadi baru aja nyenggol gue. Nggak sadar, hah?! Gue harap lo nggak lupa kalau sekolah ini punya siapa. Dan gue siapa di sini." Kesekian kalinya Krystal menyela tajam.
Lenna mematung.
Krystal mendekat.
"Dan gue nggak suka cewek yang kegatelan datang ke kamar suami gue! Paham lo!" Desis Krystal dingin namun penuh penekanan.
Di rebutnya map di tangan Lenna dengan kasar. Lantas menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara bantingan yang cukup kencang.
Membuat Devano yang baru keluar dari kamar mandi ikut terkejut. Gerakan tangannya yang tengah mengusap rambutnya yang basah dengan handuk bahkan ikut terhenti. Menemukan Krystal berdiri di depan pintu, dalam posisi membelakanginya.
Devano melangkah mendekat, lantas memeluk istrinya dari belakang.
"Kapan bangun, hm? Kenapa berdiri di sini?" Baru akan melayangkan kecupan ke pipi istrinya itu, tiba-tiba tubuhnya sudah bergeser ke belakang karena Krystal mendorongnya.
"Kenapa?" Tanya Devano heran.
BRUK!
Devano kaget bukan main ketika sebuah map di lemparkan ke arahnya hingga isi-isi dalam sana bertebaran keluar.
"Tuh dari waketos kesayangan lo! Dia bela-belain nyamperin lo ke sini! Karena dia khawatir partner osisnya kenapa-napa karena nggak masuk rapat pagi ini! Ugh, sungguh partner yang romantis." Ketus Krystal menggebu-gebu dan menekan setiap kata dalam kalimatnya.
Sementara Devano masih berdiri bingung dan berusaha mencerna ucapan istrinya itu.
Melihat Devano yang tidak bereaksi apapun. Membuat Krystal kesal dan menghentakkan kakinya.
"Arghhh! Nggak tahu ah!"
Ia merampas ponselnya di atas nakas, lalu pergi meninggalkan kamar VVIP ini dengan sedikit mendorong pundak Devano agar menyingkir, karena menghalangi pintu keluar.
Belum juga menggapai gagang pintu, Devano sudah lebih dulu menarik pinggang Krystal. Ia mencoba berontak, namun Devano mengangkat tubuhnya menjauhi pintu dengan melilitkan sebelah tangan di perutnya dengan erat.
"ARGHHH LEPASIN! GUE MAU BALIK KE KAMAR GUE!!" Teriak Krystal. Menendang-nendang udara dengan membabi buta sebagai bentuk pemberontakan.
"DEV!! GUE MAU BALIK KE KAMAR!! LEPASIN!!" Teriak Krystal kian kesal karena Devano tidak kunjung menggubrisnya.
Lilitan tangan kekar itu mengendur dan hl itu di manfaatkan Krystal untuk kabur. Namun, tubuh besar Devano menghalanginya. Membuat Krystal berteriak putus asa.
"Awas Dev! Gue mau ke kamar!!"
"Dengan pakaian seperti ini?!" Tanya Devano kesal.
Hening
Krystal menunduk. Benar juga, ia hanya mengenakan kemeja kebesaran dengan kaki telanjang. Bisa-bisa ia jadi pusat perhatian semua penghuni sekolah. Sebenarnya bodo amat juga! Toh ia sudah biasa jadi pusat perhatian.
"Ya udah mana piyama gue?!" Tanya Krystal.
"Language, Krystal!!" Dan itu mengundang geraman tertahan dari Devano.
"Bodo amat!"
Devano kembali menahan Krystal yang hendak pergi. Menarik Krystal ke arah balkon kamar. Lalu mengangkat tubuh istrinya dengan mudah untuk duduk di pembatas balkon.
Krystal yang kaget langsung saja melingkarkan tangannya di leher Devano, memeluk dengan erat karena takut jauh. Kamar Devano ini ada di lantai 4, kalau jatuh lumayan juga tulang-tulangnya akan patah.
Sekarang posisinya tubuh Krystal lebih tinggi dari Devano yang berdiri dengan kedua tangan melingkari punggung Krystal, menahan agar ia tidak jatuh.
"Kenapa, hm? Pagi-pagi udah marah-marah. Ngomongnya kasar lagi." Ucap Devano lembut.
Krystal menunduk dan Devano sedikit mendongak. Untuk sesaat mata mereka saling bertemu. Lalu detik berikutnya, Devano memejamkan matanya sejenak meresapi tangan Krystal yang menyisiri rambut basanya.
"Dia sering nyamperin kamu ke kamar?"
Devano membuka matanya, menatap Krystal.
"Siapa, Sayang?"
"Itu cewek kesayangan kamu." Ketus Krystal.
"Cewek kesayangan? Kan kamu cewek kesayangan aku." Devano mengecup pipi Krystal.
"Ck! Dev..." Krystal mengelakkan kepala menjauh. Tapi bukan Devano namanya yang akan menyerah begitu saja. Ia malah berpindah membenamkan kepala di dada Krystal.
"Cemburu, hm?"
"Ngapain?! Nggak level!" Ketus Krystal. Masih di bumbui rasa kesal.
"Terus kenapa marah?"
"Nggak marah. Siapa yang marah? Lagian kamu apaan sih?! Suka di samperin sama dia ke kamar?! Iya?! Kayaknya tadi kalau nggak aku di sini kayaknya bakalan ngamar, ya?" Krystal naik pitam.
Bukannya marah. Devano justru terkekeh pelan melihat tingkah kesal Krystal. Mulut istrinya itu mengatakan tidak cemburu, tapi dari cara dia berbicara saja sudah melambangkan kecemburuannya. Dan Devano suka ketika melihat Krystal seperti ini.
Tidak tahu. Hanya saja, lucu. Devano sampai tidak bisa menahan diri untuk mengigit gemas pipi Krystal hingga membuat siempunya menjerit kesal.
Sampai suara dering ponsel menghentikan kegiatan menyenangkan Devano mengusuli Krystal tersebut. Ia menurunkan istrinya dengan hati-hati dari atas pembatas balkon. Lalu meminta Krystal untuk berganti baju kembali dengan piyama tidurnya yang sudah kering. Barulah Devano berjalan meraih ponselnya di atas nakas.
**Dad is calling**.
"*Hm..." Devano mengangkat nya*.
Terdengar helaaan nafas dari seberang sana.
"Sopan kah kamu mengangkat telepon Daddy dengan seperti itu, hah?!" Daddy Darrel naik pitam.
"*Daddy sudah tahu kalau aku memang nggak punya adab*."
"Ya, bagus kalau kamu sadar diri."
"*To the point saja, Dad." Ujar Devano jengah*.
"Daddy sudah atur yang kamu minta. Kamu yakin cuma membutuhkan itu? Daddy bisa membuat dia..."
"*Itu cukup untuk sementara, Dad. Sisanya biar aku yang urus." Sela Devano*.
"Baiklah. Ngomong-ngomong dimana menantu ku?"
"*Aku tutup!" Devano mendengus*.
"Anak sialan!" Umpat Daddy Darrel di seberang sana. Yang di abaikan oleh Devano.
Bertepatan dengan Krystal yang sudah selesai mengganti kemeja kebesaran tadi dengan piyama tidurnya semalam. Devano lantas mengantarkan istrinya ke kamarnya. Meski bersikeras menolak, Devano tetap memaksa. Karena yang diinginkan suaminya hanyalah menghabiskan setiap detik, menit dan jam nya waktu bersama Krystal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruangan kepala sekolah.
"Ada penyaringan lagi untuk murid yang menerima beasiswa. Dan kamu salah satu yang tidak lolos lagi dalam penyaringan tersebut untuk menerima beasiswa, Lenna. Dengan sangat terpaksa kami pihak sekolah menyampaikan bahwa beasiswa kamu resmi berhenti. Dan kamu di wajibkan untuk membayar uang sekolah untuk satu tahun ke depan. Maaf, Lenna, ini sudah keputusan yayasan."
Lenna terdiam cukup lama setelah mendengar ucapan Miss Andini beberapa waktu lalu. Matanya nyaris berubah kosong, namun berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Tapi kenapa sangat mendadak, Miss? Sebelumnya saya tidak di beritahukan terlebih dahulu." Ujar Lenna.
"Saya juga kurang paham. Tapi informasi ini baru turun tadi pagi langsung dari pimpinan yayasan. Jadi kami pun para guru dan staff tidak bisa membantah nya."
Lenna mengangguk mengerti. Ia tetap memaksakan senyumannya pada Miss Andini.
"Nggak papa, Miss. Saya mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah mendapatkan anggukan dari Miss Andini dan beberapa kalimat semangat. Lenna melangkah meninggalkan ruangan kepala sekolah.
Tujuannya sekarang adalah toilet. Tempat paling tepat untuk duduk menyendiri sendiri.
Mengunci pintu salah satu bilik toilet. Lenna lantas duduk di atas closet tersebut, menghembuskan nafasnya berulang kali. Bersama ucapan Miss Andini tadi yang masih terngiang-ngiang di otaknya.
Lenna kembali menghela nafasnya berat dan dalam. Menyugar rambutnya. Sekarang ia harus memikirkan bagaimana caranya membayar uang sekolah di saat Ibunya sekarang sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Semalam, Ibunya baru saja mendapat musibah kecelakaan di serempet sepeda motor saat pulang bekerja. Mengalami patah tulang tangan dan kaki. Meski kondisinya tidak kritis, tapi itu cukup membuat Lenna khawatir. Namun, ia belum bisa untuk datang menjenguk.
Dan sekarang tiba-tiba beasiswa nya di hentikan. Double kill untuk Lenna. Karena itu juga lah air mata Lenna tidak tertahan untuk tidak jatuh. Beasiswa adalah satu-satunya cara untuk bisa bertahan di Cakrawala High School ini.
Baru mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang ketika suara langkah orang terdengar memasuki toilet. Lantas ia mengurungkan niatnya sejenak. Menunggu sampai toilet kembali kosong.
Namun, hal tidak terduga setelahnya ketika ia dikejutkan dengan satu ember air mengguyurnya dari atas kepalanya.
Tubuh Lenna seketika basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terlalu kaget hingga tubuhnya membeku untuk sejenak, seakan meresapi apa yang baru saja ia alami. Tak lama tubuhnya mengigil. karena saar bahwa air yang baru saja menyiramnya adalah air dingin.
Langkah kaki orang tadi memasuki toilet terdengar berlari meninggalkan toilet sekarang dengan tergesa-gesa.
"Loh Len? Baju lo kenapa basah gini?" Tanya seorang siswi yang baru saja memasuki toilet.
Lenna tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis yang dipaksakan. Lalu melangkah keluar toilet. Karena tubuhnya yang sudah sangat mengigil kedinginan.