NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum di Balik Tatapan Elang

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 “Kak Aksa?! Kak Aksa?!”

 Hari masih pagi, tetapi kegaduhan sudah terjadi di tempat Aluna menuntut ilmu. Aluna dan Alea yang sedang menikmati awal hari di meja masing-masing pun langsung memusatkan perhatian ke siswa yang tengah berlari ke meja Aksa—di salah satu bangku dari barisan terakhir.

 “Apa Kak Aksa sudah tahu berita itu?”

 “Berita apa?” Terkesan acuh, Aksa menanggapi siswa tersebut.

 “Berita tentang anak Atmadja itu, lho,” katanya menggebu-gebu.

 Kening Aksa berkerut. Katanya, “Memang kenapa dengan anak itu?”

 “Dia babak belur, Kak.”

 Mendengarnya, Aksa langsung menyeringai. “Apa? Babak belur? Hehehe. Apa separah itu?”

 Si adik terdiam, lalu menatap curiga. “Hei, Kak? Lo bukan dalang dari masalah itu, ‘kan?”

 “Lo gila, ya? Mana mungkin gue lakuin hal itu?”

 “Yaa … ‘kan kemarin Kak Aksa ada masalah sama dia,” jawabnya polos. Dia tidak sedikitpun mempermasalahkan cuitan Aksa yang mempertanyakan kewarasannya.

 “Nggak! Masalah gue udah selesai,” tutur Aksa dan kembali berkutat dengan ponselnya.

 “Oh …. Baguslah kalau gitu.”

 Di tempatnya, diam-diam Aluna meremas ujung rok. Dia cemas akan kondisi Bintang yang sudah jelas tidak bisa dibilang baik. Dia juga tidak menyangka bahwa pemuda itu akan masuk sekolah setelah kejadian semalam. Dalam hati terdalam, Aluna ingin sekali melihat keadaan Bintang, tetapi ia tidak bisa.

 “Aluna?”

 Sedikit terkejut, Aluna langsung menoleh pada Alea.

 “Kamu melamun?” tanya Alea khawatir.

 “Tidak, kok. Apa kamu tadi ngomong sesuatu?”

 “Kamu mau cari tahu?”

 Aluna menggeleng. “Tidak perlu,” bisiknya.

 Tiba-tiba saja Alea melebarkan kelopak mata. Bersama tangan yang menepuk lengan kiri Aluna dengan cepat namun ringan, Alea menggerakkan bibir tanpa suara, “Bin-tang.”

 Alea yang duduk di sebelah jendela memang akan dengan mudah melihat arah koridor jika sedang menghadap Aluna. Itu mengapa, dia bereaksi demikian saat netranya melihat Bintang dan Biru melintas di depan kelas mereka.

 Aluna memandang iba pemuda itu. Meski luka di wajahnya berhasil menarik semua atensi, Bintang tetap berjalan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

 “Wah! Anak itu memang pandai mencari muka,” kicau Aksa dan membuat Aluna menoleh padanya.

 Alea memegang pundak Aluna. Menggeleng kecil dengan senyum simpul, matanya seakan berbicara, “Jangan dengarkan Aksa.”

...***...

 Seperti biasa, keadaan kantin akan ramai saat jam pembelajaran sedang tidak berlangsung. Dan untuk hari ini situasi sedikit berbeda. Hanya satu dari banyaknya topik pembicaraan yang bisa dibahas oleh para manusia di sana. Yakni, ketua tim basket, Bintang Mahendra Atmadja.

 “Apa lo sudah melihatnya?”

 “Uh, itu kelihatan sakit banget.”

 “Apa dia baik-baik aja?”

 “Apa yang terjadi, ya?”

 “Siapa, sih, yang tega ngelakuin itu?”

 “Apa mungkin Aksa yang melakukannya?”

 “Benar juga! Kemarin, ‘kan, mereka berantem.”

 Brakkk!

 Kantin membeku seketika. Fokus mereka langsung mengarah pada manusia yang menatap tajam seperti seekor singa pada mangsanya.

 Sial! Kartu keberuntungan tidak dipegang siswa berkacamata itu. Aksa yang baru saja ia sebutkan namanya sudah berada di depan meja, tepat dimana ia siap akan menyantap makan siangnya.

 “A-aksa? G-gue nggak bermaksud—”

 “LO SEMUA BISA NGGAK, SIH, JANGAN MENYANGKUT-PAUTKAN GUE DENGAN ANAK SIALAN ITU?!” raungnya seraya mengedarkan netra ke seisi ruangan.

 Keadaan berubah mencekam. Membuat penghuni di dalamnya tidak sedikit pun berani bergerak. Menegangkan, seakan nyawa mereka sedang dipertaruhkan.

 Aluna dan Alea yang menjadi bagian di dalamnya pun hanya bisa saling melempar pandang.

 “Gue nggak mau tahu! Pokoknya, nanti Kak Bintang wajib antar gue kesana!” racau seseorang dan semua kepala serempak menoleh pada ambang pintu. Di sana, Bintang dan Biru baru saja muncul.

 “Ada apa ini?” bingung Biru selagi bibirnya mengerucut. Dia menoleh pada kakaknya sekilas. Berharap kakaknya tahu apa gerangan yang sedang terjadi.

 “Bintang?!”

 Aksa melangkah penuh hentakan—menghampiri persona yang dia panggil. Bintang memandang dengan alis bertaut, masih setia di tempatnya. Sedangkan Biru, dia sudah dibuat merinding akan presensi Aksa yang memancarkan aura gelap itu kian mendekat.

 “Bisa nggak lo ambil tindakan? Gue bisa gila dengar mereka yang terus bilang kalau gue yang buat lo kayak gini!”

 “Lagian, kenapa, sih, lo harus masuk sekolah? Sudah tahu muka boyok nggak berbentuk. Lo mau cari sensasi?!”

 Emosi Aksa tumpah ruah di hadapan Bintang. Menggambarkan bagaimana frustasinya dia mendengar celotehan-celotehan yang tidak ada keabsahannya semenjak presensi Bintang hadir di lingkungan sekolah pagi tadi.

 “Maaf, ya, gue sudah buat lo keseret masalah ini.”

 Bintang mengulurkan tangan, niat hati ingin berjabat. Tetapi, Aksa dengan serta merta menepis kasar.

 “Jelasin aja ke mereka. Itu sudah cukup,” dengan nada yang tidak turun, Aksa memerintah.

 Menghela napas panjang, suara Bintang mengisi keheningan kemudian. “Guys, bukan Aksa yang buat gue jadi kayak gini. Jadi, tolong hentikan praduga kalian itu, ya!”

 Aksa menatap tajam setiap wajah di sana dan berhasil membuat salah tingkah mereka yang berhasil beradu pandang dengannya.

 “Anggap aja nggak pernah terjadi apa-apa diantara kami!” lanjut Bintang.

 Selesai. Permasalahan ternetralisir.

 Kini Aksa menatap Bintang dan Elio secara bergantian. Disertai telunjuk yang mengacung di depan muka Bintang, dia memperingatkan, “Jangan lagi melibatkan gue dengan urusan lo!”

 “Iya. Maaf.”

 Tanpa kata, Aksa melengos pergi dengan mengambil jalan di antara lawan bicaranya tadi. Tentu saja, bahu mereka saling bertabrakan.

 “Kak Aksa, lo mau kemana?” Itu Reno Baskara yang selalu mengekori Aksa kemana pun dia pergi. Dia sedikit terkejut melihat kakak sepermainannya berlalu.

 Membuntuti Aksa, rengekannya masih terjangkau pendengaran Bintang maupun Biru, “Kak, kita, ‘kan, belum makan?”

 “Makan aja sendiri! Gue nggak lapar!”

 “Kakaak~”

 “Hish! Apa-apaan, sih?” desis Biru dengan bibir mengerucut bersamaan tangan menggaruk kepala. “Perasaan, tiap hari marah mulu,” imbuhnya masih setia mengawasi dua makhluk yang semakin jauh di depan sana.

 “Sudahlah. Lebih baik lo cepat antri makanan. Atau nanti, nggak ada waktu buat gue ajarin lo Matematika,” sahut Bintang dan mendapat anggukan dari Biru.

 “Halo, Boss?” suara di seberang telepon memasuki pendengaran siswa yang baru saja muncul dari balik dinding; tidak jauh dari kawasan kantin. Penglihatannya beralih dari Aksa dan Reno yang sudah hilang di ujung lorong menuju Bintang dan Biru.

 “Ya,” balasnya tanpa melepas pandang.

 “Akhirnya, kita bisa menghubungimu, Boss,” kata orang diseberang dengan leganya. “Boss, kita minta maaf karena nggak bisa menyelesaikan tugas dengan baik,” sesalnya kemudian.

 “Jadi …, apa alasan kalian?” Ekspresinya tidak berubah. Dingin dan mengintimidasi.

 “Berikan padaku. Biar aku yang menjelaskan.” Suara sedikit terinterupsi sebentar sebelum suara lain di sebelah sana menyapa, “Halo, Boss. Ini gue, Bara.”

 “Ada seorang gadis yang datang dan membantu Bintang. Bintang bilang kalau gadis itu pacarnya. Tapi kami menaruh curiga karena gadis itu sempat terkejut waktu Bintang bilang gitu.”

 “Lalu?”

 “Dia satu sekolah denganmu, Boss. Tapi, kita nggak tahu siapa dia karena nggak ada name-tag di jas almamaternya.”

 “Informasi gue terima. Nanti gue transfer bayaran kalian.”

 “Tapi, kita gagal, Boss.”

 “Setidaknya kalian sudah mencoba.”

 “Wah! Terima kasih, Boss!”

 Pip!

 Panggilan diputuskan sepihak oleh siswa dengan gelas Boss itu. Sebuah seringaian hiasi bibirnya kemudian. Dengan mata elang, dia semakin tajam memandang perawakan Bintang di dalam sana.

 “Pacar, ya?” gumamnya. “Menarik.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!