NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberangkatan

Fajar menyingsing di ufuk timur, mewarnai langit Kota Kayangan Awan dengan semburat jingga dan merah muda.

Di halaman Sekte Awan Kelabu, seluruh murid berkumpul. Mereka membentuk dua barisan rapi, pedang di pinggang, jubah abu-abu mereka bersih dan rapi— Wei Ling dan beberapa murid perempuan bahkan sudah menyulam emblem awan kecil di lengan jubah mereka, inisiatif yang membuat Wei Zhen tersenyum bangga.

Di gerbang paviliun, empat sosok berdiri siap berangkat.

Wei Zhen mengenakan jubah abu-abu kebesarannya yang paling formal, pedangnya—sekarang Artefak Fana tingkat Puncak buatan Xiao Chen—tergantung di pinggang. Feng Mo berdiri di sampingnya, jubah biru gelapnya kontras dengan langit pagi, wajahnya serius tapi bersemangat. Zhang Yuan, yang paling muda, terus-menerus merapikan lipatan jubahnya sendiri, gugup tapi matanya berbinar.

Dan di depan mereka semua, Xiao Chen berdiri dengan jubah putihnya yang berkibar pelan. Rambut putihnya yang panjang tergerai bebas, mata ungu keemasannya memantulkan cahaya fajar. Dia tidak membawa pedang. Tidak membawa artefak. Hanya dirinya sendiri.

"Kalian semua," suara Wei Zhen terdengar keras, "adalah saksi. Hari ini, Sekte Awan Kelabu mengirimkan perwakilan ke Turnamen Rekrutmen Murid Sekte Pedang Langit. Apapun hasilnya nanti, ingatlah: kita sudah melangkah lebih jauh dari yang pernah kita impikan."

Para murid membungkuk serempak. "Hormat untuk Tetua! Hormat untuk para perwakilan!"

Wei Ling melangkah maju. Jubah biru mudanya yang baru—hadiah dari ayahnya—berkibar anggun. Rambut cokelatnya diikat ekor kuda tinggi, dan di pinggangnya tergantung pedang tipis: Artefak Fana tingkat Tinggi yang Xiao Chen buatkan khusus untuknya. Pedang itu bernama "Bulan Sabit", dinamai oleh Wei Ling sendiri karena lengkungannya yang menyerupai bulan.

"Kita berangkat," katanya.

Mereka berempat naik ke udara—Wei Zhen memimpin, diikuti Feng Mo dan Zhang Yuan yang terbang dengan pedang mereka. Wei Ling terbang di samping Xiao Chen, yang seperti biasa, melayang tanpa alat bantu apa pun.

"Kau tahu," kata Wei Ling pelan, "setiap kali aku melihatmu terbang seperti itu, aku masih merasa aneh."

"Kenapa?"

"Karena kau membuatnya terlihat seperti... berjalan. Padahal seharusnya terbang itu sulit."

Xiao Chen menoleh padanya, senyum nakalnya muncul. "Mungkin bagimu sulit. Bagiku, berjalan dan terbang sama saja. Hanya berbeda arah."

Wei Ling mendengus. "Sombong."

"Percaya diri."

"Itu sama saja."

"Berbeda. Sombong adalah ketika kau mengatakan kau bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kau lakukan. Percaya diri adalah ketika kau tahu persis apa yang bisa kau lakukan." Xiao Chen menatapnya, dan ada kilatan di mata ungu keemasannya. "Mau aku ajari terbang tanpa pedang?"

"Mau!" jawab Wei Ling terlalu cepat. Lalu dia menambahkan, lebih pelan, "Maksudku... jika kau tidak keberatan."

"Aku tidak keberatan sama sekali."

Mereka terbang berdampingan, dan Xiao Chen mulai menjelaskan—bagaimana Qi harus dialirkan ke telapak kaki, bagaimana keseimbangan harus dijaga bukan di otot tapi di inti energi, bagaimana angin harus dijadikan teman bukan lawan. Penjelasannya sederhana, tapi Wei Ling menyadari bahwa setiap kata yang diucapkannya membuka pemahaman baru di benaknya.

Butuh sekitar satu jam sebelum Wei Ling akhirnya bisa melayang beberapa meter tanpa pedangnya. Masih goyah, masih tidak stabil—tapi itu awal.

"Aku... aku melakukannya!" serunya, wajahnya berseri-seri. "Aku terbang tanpa pedang!"

"Bagus." Xiao Chen melayang mendekat, dan sebelum Wei Ling bisa bereaksi, dia mengecup keningnya dengan lembut. "Hadiah untuk keberhasilan pertama."

Wei Ling membeku di udara. Wajahnya berubah menjadi merah padam dalam waktu kurang dari satu detik. "Kau—kau—di depan umum—ada orang lain—"

Feng Mo dan Zhang Yuan, yang terbang beberapa meter di depan, buru-buru memalingkan wajah. Tapi telinga mereka juga merah. Wei Zhen, di depan, hanya menghela napas panjang tanpa menoleh. Dia sudah cukup lama mengenal Xiao Chen untuk tidak terkejut lagi.

"Tidak apa-apa," kata Xiao Chen santai. "Mereka tidak keberatan."

"Itu bukan—aku tidak—" Wei Ling akhirnya menyerah dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Kau benar-benar tidak tahu malu."

"Aku tahu malu. Aku hanya memilih untuk mengabaikannya."

Perjalanan ke Sekte Pedang Langit memakan waktu dua hari.

Mereka beristirahat di sebuah kota kecil di tengah jalan—Kota Embun Pagi, sebuah pemukiman yang lebih kecil dari Kota Kayangan Awan. Penginapan yang mereka sewa sederhana: empat kamar di lantai dua, masing-masing dengan dipan kayu dan jendela kecil.

Malam pertama, setelah makan malam bersama, Zhang Yuan dan Feng Mo langsung masuk ke kamar mereka—kelelahan setelah terbang seharian. Wei Zhen menyusul, mengatakan dia ingin meditasi sebelum tidur.

Xiao Chen dan Wei Ling ditinggalkan di balkon penginapan, menatap bintang-bintang.

"Gugup?" tanya Xiao Chen.

"Sedikit." Wei Ling menggigit bibirnya. "Besok kita tiba di Sekte Pedang Langit. Aku belum pernah ke sekte menengah sebelumnya. Bagaimana kalau aku mempermalukan diri sendiri? Atau lebih buruk—mempermalukan Ayah dan sekte?"

Xiao Chen menoleh padanya. Cahaya bintang memantul di rambut putihnya, membuatnya tampak seperti makhluk dari dunia lain. "Wei Ling, kau sudah mencapai Tahap Pemurnian Qi tingkat 9 dalam enam bulan. Itu prestasi yang bahkan murid-murid sekte besar pun belum tentu bisa capai. Kau tidak akan mempermalukan siapa pun."

"Tapi—"

"Tapi tidak ada." Xiao Chen meletakkan tangannya di bahu Wei Ling, memaksanya untuk menatap matanya. "Dengarkan aku. Kau kuat. Kau lebih kuat dari yang kau kira. Dan apapun yang terjadi di turnamen nanti, kau sudah membuktikan bahwa kau layak berada di sana."

Wei Ling menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Kenapa kau selalu tahu apa yang harus dikatakan?"

"Karena aku memperhatikanmu."

Kalimat itu—sederhana, jujur, dan entah bagaimana sangat intim—membuat Wei Ling kehilangan kata-kata. Dia hanya berdiri di sana, menatap Xiao Chen, jantungnya berdebar kencang.

Dan kemudian Xiao Chen mencondongkan tubuhnya.

Ciuman itu mendarat di bibirnya—lembut, hangat, dan penuh kepastian. Tidak terburu-buru. Tidak kasar. Hanya dua bibir yang bertemu di bawah bintang-bintang, sementara angin malam berhembus pelan.

Saat Xiao Chen menarik diri, Wei Ling masih berdiri dengan mata terpejam. Butuh beberapa detik sebelum dia membukanya.

"Itu..." suaranya hampir berbisik. "Itu ciuman pertamaku."

"Aku tahu."

"Kau tahu?"

"Tentu saja. Caramu membalasnya... sangat polos." Xiao Chen menyeringai nakal. "Tapi manis."

Wajah Wei Ling kembali memerah—kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Dia memukul lengan Xiao Chen dengan kepalan tangan kecilnya. "Kau... kau brengsek! Kau tidak bisa seenaknya mencium orang lalu mengkritik tekniknya!"

"Aku tidak mengkritik. Aku memuji."

"Itu bukan pujian!"

"Bagiku itu pujian."

Mereka berdua terdiam, saling menatap. Lalu Wei Ling tertawa—tawa kecil yang gugup tapi bahagia. "Kau benar-benar tidak bisa diperbaiki."

"Aku tahu." Xiao Chen meraih tangannya, menggenggamnya dengan hangat. "Sekarang, tidurlah. Besok kita harus terbang lagi."

Wei Ling menatap tangannya yang digenggam, lalu menatap Xiao Chen. "Kau... kau akan tetap di sini? Di sekte? Setelah turnamen?"

Pertanyaan yang sama yang pernah dia tanyakan sebelumnya. Dan jawabannya masih sama.

"Aku akan pergi suatu hari nanti. Tapi bukan sekarang. Dan saat aku pergi..." Xiao Chen menatap bintang-bintang. "...aku akan memastikan kalian semua baik-baik saja."

Wei Ling mengangguk pelan. Dia tidak bertanya lebih jauh. Untuk sekarang, kehadiran Xiao Chen di sampingnya sudah cukup.

Keesokan siangnya, mereka tiba.

Sekte Pedang Langit berdiri di atas sebuah gunung yang puncaknya diratakan—dataran luas buatan yang dikelilingi awan. Gerbang masuknya adalah dua pilar batu raksasa setinggi dua puluh meter, di atasnya melintas pedang batu yang menyala dengan energi spiritual. Di bawah pilar itu, formasi pelindung berkilau dengan cahaya biru—Formasi Fana tingkat Puncak yang bisa menahan serangan kultivator Tahap Transformasi Dewa.

Di balik gerbang, puluhan paviliun menjulang, dihubungkan oleh jembatan-jembatan batu yang melengkung di atas kolam-kolam dan taman-taman batu. Ratusan murid berjalan di sana—beberapa membawa pedang, beberapa membawa gulungan, beberapa hanya duduk bersila di taman sambil berkultivasi.

Zhang Yuan menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga. "Ini... ini kota. Ini bukan sekte. Ini kota."

"Selamat datang di Sekte Pedang Langit," kata Wei Zhen pelan. Ada kekaguman dalam suaranya—dan sedikit kecemasan.

Di gerbang masuk, sebuah meja pendaftaran telah disiapkan. Beberapa murid berseragam biru dengan emblem pedang duduk di sana, memeriksa gulungan pendaftaran dan menghitung Batu Spiritual yang diserahkan oleh perwakilan sekte lain.

Ketika Xiao Chen dan rombongannya mendarat, beberapa kepala menoleh.

Atau lebih tepatnya, semua kepala menoleh.

Para murid Sekte Pedang Langit—bahkan yang sedang bertugas—terpaku melihat pemuda berambut putih dan mata ungu keemasan itu. Seorang murid perempuan yang sedang menuangkan teh menjatuhkan cangkirnya. Seorang murid laki-laki yang sedang membawa tumpukan gulungan hampir menabrak tiang.

"Selamat siang," kata Xiao Chen ramah pada petugas pendaftaran—seorang perempuan berusia sekitar dua puluh tahun dengan rambut hitam pendek dan kacamata. "Kami dari Sekte Awan Kelabu. Kami ingin mendaftar."

Petugas itu menatapnya. Dan menatapnya. Dan terus menatapnya.

"Kak?" Wei Ling melangkah maju, sedikit kesal. "Pendaftarannya?"

"Ah—ya! Ya, tentu saja!" Petugas itu tersentak, wajahnya merah padam. Dia buru-buru membuka gulungan pendaftaran, tangannya gemetar. "Na—nama sekte dan jumlah perwakilan?"

"Sekte Awan Kelabu. Tiga perwakilan: Wei Ling, Feng Mo, Zhang Yuan. Satu pendamping: Tetua Wei Zhen. Dan satu..." Wei Ling ragu. "Apa statusmu?"

"Penonton," jawab Xiao Chen. "Aku hanya ingin menonton."

Petugas itu menulis dengan cepat—tapi matanya terus melirik Xiao Chen. "Apakah... apakah kau juga akan ikut bertanding? Jika kau mau, kami bisa—"

"Dia tidak ikut," potong Wei Ling cepat. Mungkin sedikit terlalu cepat.

"Oh." Petugas itu terdengar sangat kecewa.

Setelah pendaftaran selesai, mereka diberikan kamar di paviliun tamu—sebuah bangunan tiga lantai yang jauh lebih mewah dari seluruh Sekte Awan Kelabu. Setiap kamar memiliki dipan empuk, meja tulis, dan jendela besar yang menghadap ke lembah. Bahkan ada kolam air panas di lantai dasar.

"Ini... ini luar biasa," bisik Zhang Yuan, menyentuh seprai sutra di dipannya dengan hati-hati, seolah benda itu akan hancur jika disentuh terlalu keras.

"Biasakan diri," kata Feng Mo, meskipun dia sendiri terlihat sama kagumnya. "Kita akan tinggal di sini selama turnamen."

Wei Zhen memeriksa jadwal yang diberikan oleh petugas. "Turnamen dimulai besok pagi. Akan ada babak penyisihan dulu—semua perwakilan dari sekte kecil akan bertanding melawan sesama sekte kecil. Pemenangnya akan maju ke babak utama, di mana mereka akan berhadapan dengan murid-murid Sekte Pedang Langit dan sekte menengah lainnya."

"Jadi kita harus melewati penyisihan dulu," kata Wei Ling.

"Ya. Dan itu tidak akan mudah. Setiap sekte kecil mengirimkan perwakilan terbaik mereka." Wei Zhen menatap ketiga muridnya. "Tapi kalian sudah siap. Aku percaya pada kalian."

"Dan aku juga," tambah Xiao Chen dari sudut ruangan. Dia bersandar di dinding, lengannya terlipat, senyum tipis di bibirnya. "Aku sudah melihat kalian berlatih. Kalian lebih dari siap."

Sore harinya, Xiao Chen berjalan-jalan di taman paviliun tamu. Matahari mulai terbenam, mewarnai awan di sekitar gunung dengan nuansa emas dan merah. Dari ketinggian ini, pemandangannya spektakuler—lembah-lembah, sungai-sungai, dan kota-kota kecil yang tersebar seperti titik-titik di kejauhan.

"Kau di sini."

Suara itu familiar. Xiao Chen berbalik dan melihat Lin Yao berdiri di pintu taman. Jubah hijaunya berkibar, rambut hitamnya yang diikat setengah bergerak-gerak diterpa angin gunung, dan mata hijaunya—seperti zamrud hidup—menatapnya dengan intensitas yang sekarang sudah dikenalnya.

"Lin Yao," sapa Xiao Chen. "Aku penasaran kapan kau akan muncul."

"Kami tiba kemarin." Lin Yao berjalan mendekat, langkahnya ringan di atas batu-batu taman. "Aku sudah melihatmu dari jauh. Tapi kau selalu dikelilingi orang."

"Kau bisa saja mendekat. Aku tidak akan mengusirmu."

"Aku tahu. Tapi aku butuh waktu untuk... mempersiapkan diri."

"Untuk apa?"

Lin Yao berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kurang dari satu meter. "Untuk bertanya apakah taruhan kita masih berlaku."

Xiao Chen tersenyum. "Tentu saja masih berlaku. Sentuh aku, dan aku akan menjawab satu pertanyaan apa pun darimu."

"Tapi kau tidak ikut bertanding."

"Aku tidak bilang taruhannya hanya berlaku di turnamen. Kapan saja. Di mana saja." Xiao Chen memiringkan kepala. "Kau bisa mencobanya sekarang, jika kau mau."

Lin Yao menatapnya. Enam bulan lalu, dia sudah mencoba—dan gagal. Tapi enam bulan juga telah mengubahnya. Dia sudah mencapai Tahap Pendirian Fondasi tingkat 4 sekarang. Tekniknya lebih tajam. Refleksnya lebih cepat.

"Aku akan mencobanya," katanya. "Tapi tidak sekarang."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin melakukannya dengan benar. Di depan banyak orang. Di turnamen." Mata Lin Yao bersinar dengan tekad. "Aku ingin semua orang melihat bahwa aku bisa menyentuhmu. Bahwa aku tidak selalu gagal."

Xiao Chen menatapnya. Ada sesuatu dalam diri perempuan ini—kebanggaan yang keras kepala, tapi juga kerentanan yang tersembunyi. Dia menyukainya.

"Baiklah. Aku akan menunggu." Dia melangkah lebih dekat, dan sebelum Lin Yao bisa bereaksi, dia mengecup pipinya dengan ringan. "Itu untuk keberuntungan."

Lin Yao membeku. Wajahnya berubah merah dalam sekejap—lebih merah dari yang pernah dilihat Xiao Chen sebelumnya. "Kau—apa yang kau lakukan?!"

"Memberimu keberuntungan." Xiao Chen berjalan melewatinya, kembali ke paviliun. Sambil berjalan, dia menambahkan tanpa menoleh, "Ngomong-ngomong, kau terlihat cantik dengan rambut diikat seperti itu."

Lin Yao berdiri sendirian di taman, satu tangannya menyentuh pipinya sendiri, jantungnya berdebar kencang. "Brengsek," bisiknya. Tapi tidak ada kebencian dalam suaranya. Hanya kekalahan—dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Malam sebelum turnamen, Xiao Chen duduk sendirian di atap paviliun tamu. Bintang-bintang bertaburan di langit, dan bulan hampir purnama menggantung rendah, terasa begitu dekat hingga seperti bisa disentuh.

Dia mengeluarkan kain emas dari balik jubahnya. Pola-pola formasi itu berdenyut pelan malam ini—lebih terang dari biasanya. Seolah merasakan sesuatu. Atau seseorang.

"Kau merasakannya juga, ya?" bisiknya pada kain itu. "Tempat ini... ada sesuatu di sini. Sesuatu yang terkait dengan kita."

Kain itu tidak menjawab, tentu saja. Tapi denyutnya semakin kuat.

Xiao Chen menyimpannya kembali. Matanya menatap ke arah puncak tertinggi Sekte Pedang Langit—tempat di mana paviliun ketua berdiri. Di sana, samar-samar, dia bisa merasakan sesuatu. Bukan ancaman. Bukan kekuatan. Tapi... petunjuk.

"Satu langkah demi satu langkah," katanya pada dirinya sendiri. "Besok, turnamen dimulai. Setelah itu, mungkin aku akan mencari tahu apa yang ada di puncak itu."

Angin malam bertiup, dan di kejauhan, suara lonceng sekte berdentang sepuluh kali.

Turnamen akan dimulai saat fajar.

Bersambung ke Episode 4...

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!