Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Aisa sedikit terkejut dengan kedatangan saudarinya yang tiba-tiba.
"Lola... kenapa kau datang ke sini?" tanya Aisa.
Wajah Lola serius. Tidak seperti biasanya.
"Ada masalah serius," kata Lola.
"Masalah apa?"
Lola menarik napas sebentar.
"Any memanggilmu,"
Aisa terdiam.
"Apa!?" Suaranya sedikit meninggi.
"Tapi kenapa?"
Lola menatap Aisa dalam-dalam.
"Mungkin soal anak itu,"
Udara di antara mereka terasa berubah. Dingin. Aisa merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Tapi ia segera menenangkan diri.
Aisa menghela napas panjang.
"Baiklah. Aku akan menemui mereka,"
Lola mengangguk. "Aku ikut,"
"Tidak." Aisa menatap saudarinya.
"Kau tunggu di sini. Jaga rumah pohon ini,"
Lola membuka mulut ingin membantah, tapi Aisa sudah berbalik.
"Jangan lama-lama," bisik Lola dari belakang.
Aisa tidak menjawab.
Ia melangkah pergi. Menuju ke tempat yang tidak pernah ia kunjungi sejak bertahun-tahun lalu.
Setelah Aisa pergi.
Mizuki kembali. Ia berniat menanyakan sesuatu kepada Aisa, tapi...
"Kau siapa?"
Mizuki berhenti melangkah, ia melihat seorang perempuan yang asing baginya berdiri di sana.
Lola menoleh. Ia menatap Mizuki dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil memejamkan matanya.
"Kalau aku melakukan sesuatu padanya, nanti dipanggil para Any. Aku harus menjawab pertanyaannya," gumam Lola pelan.
Mizuki mengerjap. "Kau memikirkan sesuatu?"
Lola tersenyum tipis. "Tidak,"
"Perkenalkan, namaku Lola. Aku saudarinya Aisa,"
Mizuki agak terkejut. "Oh... aku baru tahu Aisa punya saudari,"
"Tentu saja anak muda. Aisa juga seorang Idea seperti kami," batin Lola.
"Kak Aisa ke mana?" tanya Mizuki.
"Pergi. Ada urusan,"
"Kapan pulang?"
"Entahlah,"
Mizuki terdiam sebentar.
"Baiklah... aku tunggu di dalam,"
Ia naik ke rumah pohon. Meninggalkan Lola yang masih berdiri di bawah.
"Aisa... kau benar-benar memilih anak aneh," pikirnya.
Ia menunduk sebentar, mengusap dagunya.
"Aku penasaran, dia mau tanya apa dengan Aisa, mungkin aku bisa kasih saran,"
Di rumah pohon.
Mizuki sedang duduk di lantai dekat kasurnya. Ia sedang memilih peralatan yang akan jadi miliknya nanti.
Tiba-tiba.
"Halo, Mizuki,"
Mizuki tersentak. Ia menoleh cepat.
Lola sudah berdiri di dalam ruangan. Tanpa suara. Tanpa derit pintu. Tanpa langkah kaki. Seperti ia sudah ada di sana sejak awal.
Mizuki tidak mendengar apa pun. Pintu masih tertutup rapat. Jendela juga.
"K-kapan kau masuk?" suara Mizuki sedikit gagap.
Lola tersenyum tipis. Matanya terpejam.
"Tadi,"
"Aku tidak dengar suara apa pun..." bantah Mizuki.
Mizuki menggigit bibir. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Bagaimana kau tahu namaku? Dan mau apa kau ke sini?"
Lola tersenyum. Matanya terpejam rapat. Senyumnya terlihat ramah, tapi ada sesuatu yang membuat Mizuki tidak tenang.
"Itu tidak penting," jawab Lola.
"Yang penting, apa yang ingin kau tanyakan pada Aisa?"
Langsung ke inti. Tanpa basa-basi.
Seketika itu juga, Mizuki merasa takut.
Bukan karena Lola mengancam. Bukan karena Lola membentak. Tapi karena... Mizuki tidak bisa membaca Lola sama sekali.
Ia merasa Lola sekuat Aisa.
Atau mungkin lebih kuat?
Mizuki tidak punya kemampuan untuk mengukur kekuatan orang lain. Tapi ia bisa merasakan. Dan yang ia rasakan sekarang... kosong. Seperti tidak ada apa-apa. Seperti orang yang tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Tapi itu tidak mungkin.
Aisa saja terlihat biasa, tapi ternyata luar biasa saat bertarung.
Mungkin Aisa sengaja meredam kekuatannya?
Atau Aisa membuat aura kekuatan palsu?
Sehingga tolak ukur kekuatannya tidak bisa diketahui dengan mudah?
Mizuki menggenggam ujung bajunya erat-erat.
"Aku... hanya ingin bertanya tentang ibuku," jawab Mizuki pelan.
"Tapi kau tidak perlu tahu. Aku tunggu Aisa saja,"
Lola membuka matanya.
Dua mata gelap menatap Mizuki. Tidak tajam. Tidak dingin. Tapi kosong. Seperti membaca buku yang sudah ia hafal isinya.
"Sayang sekali," kata Lola.
"Aisa tidak akan pulang hari ini,"
Mizuki terdiam.
"Kalau begitu..." Lola duduk di kursi kayu dekat jendela.
Ia menyilangkan kaki.
"Kau bisa bertanya padaku. Atau kau bisa diam dan menunggu sampai besok,"
Ia tersenyum lagi.
"Aku tidak keberatan. Waktuku masih banyak," balas Mizuki.
Mizuki menelan ludah.
"Benarkah? Kalau begitu, aku penasaran," ucap Lola yang mulai berdiri dan melangkah ke dapur.
Ia membuka lemari kayu Aisa, melihat isinya dengan santai.
"Apa kau akan menunggu Aisa sambil menahan lapar?"
Suara Lola datar. Tapi kata-katanya terasa seperti ada maksud lain.
Mizuki merasa kalau dia diancam.
Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan sesuatu yang lebih halus.
Mizuki menghela napas.
"Baiklah, aku akan tanya kau,"
Lola tersenyum. Kembali ke kursi.
"Nah... itu lebih baik,"
Kemudian mereka berdua duduk di kursi panjang. Jaraknya tidak terlalu dekat. Mizuki di ujung kiri, Lola di ujung kanan. TV menyala pelan, tapi tidak ada yang menonton.
"Sebenarnya, aku mau tahu ibuku sekarang di mana."
Lola menggeleng pelan.
"Soal itu aku tidak bisa beritahu. Apalagi Aisa,"
"Kenapa?" tanya Mizuki. Suaranya sedikit meninggi.
Lola menatap Mizuki. Matanya sayu, tapi tegas.
"Karena kau harus mencarinya sendiri,"
Mendengar itu, Mizuki terdiam. Wajahnya murung. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya. Jari-jarinya menggenggam ujung baju.
Mencari sendiri? Dari mana harus mulai?
Dia bahkan tidak tahu di mana ibunya ditahan.
Dia bahkan tidak tahu istana itu seperti apa.
Lola melihat perubahan wajah Mizuki. Ia bisa merasakan keputusasaan anak itu.
"Tapi tenang saja. Aku bisa memberimu saran,"
Mizuki mengangkat wajah. Matanya masih redup, tapi ada sedikit cahaya.
"Saran?"
"Iya,"
Lola menyilangkan kaki. Tangannya diletakkan di pangkuan.
"Pertama, jangan mencari ibumu dulu. Kau harus mencari seseorang yang akan membantumu."
Ia mengulurkan tangan. Di tangannya ada selembar kertas. Mizuki tidak tahu sejak kapan kertas itu berada di sana. Beberapa detik yang lalu tangan Lola masih kosong.
Mizuki menerima kertas itu. Ia membacanya.
Dua nama. Dua alamat. Dan gambar wajah kecil di samping masing-masing nama.
Mizuki mengangguk.
"Kedua, jangan asal percaya siapa pun,"
Mizuki menatap Lola. "Lalu, dua orang di kertas ini, bisa dipercaya?"
Lola mengangguk.
"Bisa. Mereka berdua sudah punya pengalaman hidup yang mumpuni,"
Matanya Lola berkedip sekali. Tidak ada keraguan di sana.
Mizuki menggenggam kertas itu erat.
"Terima kasih, Kak Lola,"
"Jangan berterima kasih dulu. Aku belum selesai,"
Mizuki mengangguk.
Lola mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Selembar kertas lagi. Tapi kertas ini berbeda. Kertas ini sudah dilipat.
"Ketiga, bawa kertas ini. Ini akan mempermudahmu membujuk mereka,"
Mizuki hendak membuka kertas itu.
"Jangan dibaca," potong Lola cepat.
Mizuki mengerjap. Tangannya berhenti.
"Kertas itu bukan untukmu. Ini untuk mereka berdua. Kau cukup berikan saja saat bertemu,"
Mizuki menatap kertas di tangannya. Penasaran tentu ada. Tapi ia hanya mengangguk.
"Baik,"
Lola menghela napas.
"Sudah. Selesaikan persiapanmu. Besok pagi kau berangkat,"
Bersambung...