Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 Pria Paling Menyebalkan
Ketiganya masuk ke dalam rumah, Tri dan Syarif terlihat biasa saja melihat kondisi rumah Juragan Tama memang mereka sudah biasa tinggal di rumah mewah. Terlihat seorang pria paruh baya duduk didampingi oleh istrinya. Raut wajah Juragan Tama tampak bengis tapi lagi-lagi tidak membuat Tri dan Syarif takut sedikit pun.
Pak Rw langsung bertekuk lutut di hadapan Juragan Tama. Tri yang melihat itu langsung ikut bertekuk lutut sembari menarik tangan Syarif supaya ikut juga. "Apaan sih Dad, masa kita harus kaya gini?" bisik Syarif.
"Sudah diam kamu," sahut Daddy Tri dengan berbisik juga.
Ariel menatap tajam ke arah Syarif. "Juragan, ini adalah Pak Tri dan ini putranya Syarif. Keluarga mereka baru pindah ke kampung ini kemarin dan sedang mencari pekerjaan," jelas Pak Rw.
Juragan Tama memperhatikan Tri dan Syarif secara seksama. "Kata anak buah saya, kemarin kalian datang ke sini menggunakan mobil mewah?" seru Juragan Tama dingin.
"Oh itu, namanya juga di kota Juragan kalau masalah nyewa mobil seperti itu banyak," dusta Daddy Tri dengan senyumannya.
"Kenapa kalian pindah ke sini?" tanya Juragan Tama kembali.
"Gabut, Juragan," celetuk Syarif.
Tri memukul kepala Syarif karena sudah keceplosan. "Maafkan celetukan putra saya. Sebenarnya saya dan keluarga pindah ke sini karena usaha saya di kota sedang ada masalah sedangkan biaya hidup di kota sangat tinggi, makanya saya dan keluarga memutuskan untuk pindah ke kampung," sahut Daddy Tri.
"Anjayyy, Daddy gua pinter banget ngebohongnya. Ya, Allah jangan dengarkan ucapan Daddy, dia hanya bercanda doang jangan sampai usaha Daddy kena masalah, Aamiin," batin Syarif sembari mengusap wajahnya membuat Ariel mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa kaya gitu?" tanya Ariel.
Syarif kaget bahkan semua orang sudah melihat ke arahnya. "Ah, barusan aku berdo'a di dalam hati semoga kita di terima bekerja di sini," sahut Syarif sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sampai segitunya kamu berdo'a ingin diterima kerja. Kalau kalian hidup susah, terus ngapain tadi malam kamu dan cewek kamu itu memborong sate dan mentraktir Badru sama Mail? mau kelihatan keren dan supaya orang-orang tidak tahu jika kalian hidup susah?" hina Ariel.
Syarif mengepalkan tangannya dan hendak bangkit tapi Tri dengan cepat menahan Syarif dan menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu Den, kebetulan kami masih punya tabungan jadi kami memborong sate itu kebetulan tadi malam ada Badru dan si Polisi kampung itu jadi kami borong sebagai salam perkenalan," sahut Daddy Tri.
"Kalian bisa apa?" tanya Juragan Tama.
"Jujur Juragan, kita tidak tahu bagaimana caranya bekerja di perkebunan makanya kita minta diajarkan terlebih dahulu tapi kalau masalah semangat, Juragan jangan khawatir kita selalu semangat kalau masalah bekerja," sahut Daddy Tri.
"Ya, iyalah harus semangat. Masa orang susah tidak semangat bekerja," ledek Ariel.
Syarif benar-benar harus menahan amarahnya. "Anjir, kalau gua tidak sedang bersandiwara sudah habis Lu sama gua," batin Syarif sembari menatap tajam ke arah Ariel.
Setelah berbincang-bincang, akhirnya Juragan Tama pun menerima Tri dan Syarif bekerja di perkebunan miliknya. "Pak, anaknya Juragan Tama songong banget sih?" seru Syarif pada saat berjalan menuju pulang.
"Keluarga mereka memang angkuh-angkuh, tapi Den Ariel itu 'kan seorang Guru, dia itu akan berubah baik dan ramah jika sedang mengajar tapi akan berubah angkuh jika sudah tidak mengajar," sahut Pak Rw.
"Orang kaya gitu gak pantes jadi guru, kalau di kota sudah habis tuh guru kaya gitu," kesal Syarif.
"A Syarif, kalau menurut saya jangan sampai kalian membuat masalah dengan mereka karena mereka bisa melakukan apa pun. Mereka sangat berpengaruh dan berkuasa di daerah ini jadi tidak ada yang berani melawan kepada mereka," sahut Pak Rw memperingati.
"Tenang saja Pak, kita tidak akan macam-macam. Terima kasih ya, Pak sudah mengantar kita," ucap Daddy Tri.
"Sama-sama Pak Tri, tapi jika ada masalah jangan segan-segan bicara sama saya," ucap Pak Rw.
"Siap, Pak Rw," sahut Daddy Tri.
Tri dan Syarif pun berpisah di tengah jalan bersama Pak Rw karena rumah mereka berbeda arah. "Assalamualaikum." Tri dan Syarif menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Waalaikumsalam. Kenapa, kok muka kalian rumit sekali kaya benang kusut," seru Sherina.
"Apa Juragan itu tidak menerima kalian?" tanya Mommy Wita.
"Besok kita sudah mulai bekerja," sahut Daddy Tri lemas.
"Terus, kenapa kalian seperti itu?" tanya Mommy Wita kembali.
"Kak, Lu ingat gak cowok yang tadi malam mau beli sate tapi satenya habis?" tanya Syarif.
"Si cowok songong itu?" kesal Sherina.
"Iya, ternyata dia anaknya Juragan Tama. Sumpah dia nyebelin banget Kak," kesal Syarif.
"Hah, serius?" Sherina sama sekali tidak percaya.
"Lu tahu gak Kak, tadi dia menghina kita kalau Daddy tidak menahan gua sudah gua hantam tuh orang songong," geram Syarif.
"Dia memang nyebelin Dek. Sudahlah Dad, gak usah kerja saja," kesal Sherina.
"Nak, komitmen kita dulu apa? kita harus benar-benar hidup seperti rakyat biasa dan kita harus totalitas dalam menjalani komitmen. Masa iya, Daddy gak kerja tapi kita bisa makan setiap hari bisa-bisa tetangga curiga dong," sahut Daddy Tri.
"Tapi kalau Daddy dan Syarif kerja di perkebunan itu, bisa-bisa cowok songong itu melakukan sesuatu seenak jidat dia," geram Sherina.
"Sudah gak apa-apa jangan dipikirin. Biasanya orang kampung kalau songong hanya sebatas menghina doang, jangan didengerin saja. Kalau kita sudah berkomitmen ingin berbaur dengan masyarakat kalangan bawah berarti kita harus totalitas dong jangan setengah-setengah," jelas Daddy Tri.
"Pokoknya, biar saja orang lain jahat kepada kita tapi kita jangan jahat sama orang. Selama kelakuan mereka masih wajar, lebih baik jangan dihiraukan. Kita fokus saja dengan tujuan kita untuk mandiri dan belajar hidup sederhana," sambung Mommy Wita.
Syarif dan Sherina hanya bisa menghela napas. Sepertinya mereka akan menghadapi sedikit masalah. Sementara itu, Ariel sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah dan dia menggunakan motor untuk pergi ke sekolah itu.
Ariel sebenarnya bisa saja mengajar di kota, tapi dia memutuskan mengajar di kampungnya sendiri. Bagi murid-muridnya, Ariel merupakan sosok tegas tapi sangat baik membuat anak-anak sayang kepada Ariel dan Ariel merupakan guru SD. Banyak gadis kampung yang suka kepada Ariel tapi sayang Ariel begitu dingin dan tidak pernah merespon gadis-gadis itu.
Sherina duduk di teras rumahnya sendirian. "Kalau Daddy dan Syarif bekerja, sepertinya aku juga harus bekerja. Bosan juga kalau diam terus di rumah," gumam Sherina.
oh Ariel punya sekolah TK juga ya ..kirain SD di kampung itu aja dulu ...rasakan sekarang susah kau jadi tukang ojek