Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata panda
Malam yang hening itu mendadak terasa begitu mencekam bagi Arjuna. Peluh membasahi keningnya, sementara jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Di dalam dekapannya, Dita masih memejamkan mata, namun perlahan gerakan kakinya mulai mencari posisi yang lebih stabil.
Saat kaki kanan Dita bergeser sedikit untuk mencari sandaran yang lebih nyaman, ia merasakan sesuatu yang keras dan panas menekan pangkal pahanya. Rasa tidak nyaman itu menembus alam bawah sadarnya, hingga perlahan kelopak mata Dita terbuka.
Dita mengerjapkan mata beberapa kali. Hal pertama yang ia sadari adalah aroma parfum maskulin yang sangat kuat. Ia mendongak dan menyadari bahwa kepalanya tidak sedang berada di atas bantal, melainkan di atas dada bidang Arjuna yang naik turun dengan tidak teratur.
"M... Mas?" gumam Dita dengan suara serak khas bangun tidur.
Arjuna tersentak, ia mematung seperti patung lilin. "D... Dita... kamu sudah bangun?" jawabnya dengan suara yang pecah dan parau.
Dita mencoba menggerakkan kakinya untuk menjauh, namun saat itulah ia benar-benar menyadari benda apa yang sejak tadi mengganjal di pahanya. Matanya membelalak sempurna. Kesadarannya pulih seratus persen dalam sekejap.
"Mas Juna! Apa... apa yang sedang Mas lakukan?!" pekik Dita tertahan, wajahnya seketika merah padam sampai ke telinga. Ia buru-buru menarik kakinya dan berguling menjauh ke tepi ranjang, menyelimuti dirinya hingga ke leher.
Suasana di kamar itu mendadak menjadi sangat canggung hingga oksigen seolah menipis. Arjuna segera duduk tegak, ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menyembunyikan rasa malu sekaligus "ketegangan" yang masih sangat nyata di balik selimutnya.
"Aku... aku tadi cuma ingin memindahkan mu agar tidak jatuh, Dita. Tapi kamu malah memelukku seperti boneka," bela Arjuna membela diri dengan suara yang masih bergetar. "Kaki kamu... kamu yang menindih ku duluan!"
Dita terdiam, ia teringat mimpinya memeluk Pikachu raksasa tadi. Wajahnya semakin terasa panas seperti disiram minyak mendidih. "T...tapi kenapa... kenapa benda itu bisa... bisa sekeras itu?!" tanya Dita tanpa sengaja, lalu ia langsung menggigit bibirnya sendiri karena merutuki pertanyaannya yang terlalu jujur.
Arjuna menelan ludah dengan susah payah, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela yang gelap. "Dita, aku ini laki-laki normal. Dan kamu itu istriku. Disentuh seperti itu... ya tentu saja ada reaksi alami tubuh yang tidak bisa aku kontrol."
Keheningan kembali menyergap. Dita meringkuk membelakangi Arjuna, meremas ujung selimutnya dengan jantung yang masih berpacu liar. Sementara Arjuna hanya bisa menarik napas panjang berkali-kali, mencoba memadamkan api yang masih berkobar di dalam dirinya.
"Maaf... tidurlah lagi. Aku tidak akan menyentuhmu," ucap Arjuna lirih sambil perlahan beranjak dari atas ranjang, memilih untuk pergi ke kamar mandi demi mengguyur kepalanya dengan air dingin sebelum ia benar-benar kehilangan akal sehatnya malam itu
Suasana kamar menjadi hening seketika setelah Arjuna melangkah masuk ke kamar mandi. Di atas ranjang, Dita meremas ujung selimutnya, jantungnya masih berdegup kencang. Ada rasa sesak dan bersalah yang menghinggap di dadanya.
"Apa aku keterlaluan? Dia kan suamiku," gumam Dita lirih sembari mengusap dadanya yang berpacu tak karuan.
Lima belas menit berlalu, Arjuna keluar dengan rambut basah dan wajah yang tampak lebih tenang meski gurat lelah tak bisa disembunyikan. Ia mendapati Dita masih duduk bersandar di head board tempat tidur, menatapnya dengan tatapan bersalah. Tanpa suara, Arjuna melangkah menuju sofa, berniat menghabiskan sisa malam di sana.
"Mas... biar aku saja yang tidur di sofa, Mas Juna di kasur saja," ucap Dita tiba-tiba, ia beranjak dan menghampiri Arjuna.
"Tidak usah, Dita. Kamu kembali ke tempat tidur, aku tidak apa-apa di sini," jawab Arjuna pelan tanpa menatap mata istrinya.
Entah dorongan apa, Dita meraih pergelangan tangan Arjuna, menahannya kuat-kuat. "Ini adalah perintah, dan aku ingin Mas Juna mengikuti perintahku!"
Arjuna mengernyitkan keningnya, menatap tangan kecil yang mencengkeramnya. "Kau itu... sudah sana tidur!" balas Arjuna sembari balas menggenggam tangan Dita, mencoba melepaskannya dengan lembut.
Namun, tepat saat Dita hendak kembali ke ranjang, tiba-tiba lampu padam total. Kegelapan pekat menyergap. Karena refleks ketakutan, Dita membalikkan tubuh dan langsung menghambur ke pelukan Arjuna.
Arjuna yang baru saja berhasil memadamkan "apinya" di bawah guyuran air dingin, seketika merasa tersiksa kembali. Tubuh mungil Dita yang mendekapnya erat membuat pertahanannya goyah.
'Dita... andai aku bisa menyentuhmu malam ini, betapa bahagianya aku,' batin Arjuna meronta, sementara Dita justru semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arjuna, tak mau dilepaskan dalam kegelapan itu.
*
*
Keesokan paginya, cahaya matahari yang mengintip dari celah jendela kamar telah membangunkan Dita. Ia terkejut saat mendongak dan melihat wajah suaminya. Mata panda Arjuna terlihat sangat nyata, kantung matanya menghitam dan wajahnya tampak kuyu.
"Mas... kamu tidak tidur semalaman?" tanya Dita cemas.
"Hemmmm... sudah, tidak usah dibahas. Aku mau mandi dan berangkat ke Mabes," jawab Arjuna singkat, segera beranjak dengan langkah gontai.
Dita hanya bisa terpaku, lagi-lagi rasa bersalah menghujam nya. Ia tahu semalam ia tidur sangat pulas dalam pelukan Arjuna, sementara suaminya itu bertarung melawan rasa kantuk dan hasrat sekaligus.
Setibanya di Mabes, suasana kantor yang biasanya tegang berubah menjadi penuh bisik-bisik. Rekan-rekan kerja Arjuna menahan tawa melihat sang Komandan yang biasanya rapi dan sigap, kini tampil sedikit berantakan dan terus-menerus menguap.
Tak lama, Bripka Bayu muncul dengan seringai usilnya. Ia mendekati meja Arjuna dengan gaya santai.
"Eh, Pak Juna... wah, tumben sekali Anda terlihat sangat mengantuk. Dan lihat, ada mata panda juga," goda Bayu sengaja mengeraskan suaranya. "Semalam habis berapa ronde, Ndan? Sampai lemas begitu kelihatannya?"
Seketika, rekan-rekan yang lain meledakkan tawa yang tertahan. Arjuna yang memang sedang dalam kondisi emosi tidak stabil karena kurang tidur, merasakan darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Bayu! Diam kau atau ku tambah jam piketmu sebulan penuh!" gertak Arjuna dengan suara parau yang menakutkan, membuat Bayu langsung bungkam namun tetap dengan wajah yang menahan tawa geli.
Bersambung...
walaupun gak comend di setiap bab nya... di krn kan fokus ke cerita....