Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Serius Nayla minta mahar mobil lamborghini?!"
Doni mengangguk kaku.
"Ya Tuhan ... mobil itu kan harganya miliaran, Don. Memangnya kamu punya uang untuk membelinya?!"
Doni menegang, bibirnya terbuka, lalu tertutup lagi. Lalu ia menggeleng.
"Terus gimana atuh?!" Hesti memekik.
Doni menarik napas dalam-dalam. "Justru itu, Ma. Makanya aku ingin berbicara dengan Mama. Aku ... mau membicarakan soal ini. Tentang biaya pernikahanku dan Nayla, juga mahar yang dia minta." Perkataan itu terucap dengan suara pelan.
"Maksud kamu?"
Melihat ekspresi sang ibu yang nampak tak bersahabat, nyali Doni sedikit menciut. "Ma ... tolong jangan marah dulu," pintanya hati-hati. "Jadi gini, kalau untuk biaya pernikahan ... aku punya. Tapi untuk membeli mahar yang diminta Nayla ... uang tabunganku tidak akan cukup. Jadi maksudku mengajak Mama bicara, aku ingin meminjam uang ke Mama untuk memenuhi keinginan Nayla. Mama ... bersedia kan membantuku, meminjamkan uang padaku? Aku janji ... akan segera mengembalikannya," ucap Doni memelas.
Hesti tak lantas menjawab. Ia terdiam beberapa detik, keningnya berkerut-kerut.
"Mama nggak mau bantu ya?" Doni akhirnya buka suara yang terdengar putus asa.
"Kata siapa Mama nggak mau bantu?" Hesti memberikan jawaban tak terduga, dan membuat mata Doni sedikit melebar. "Mama mau bantu kamu, Don. Mama nggak mau mengecewakan menantu idaman Mama."
"S-Serius, Ma?!"
"Serius dong, Nak." Senyum Hesti mengembang.
"Wuahhh! Makasih, Ma!" Doni berhambur memeluk Hesti, matanya berbinar namun berkaca-kaca.
"Iya." Hesti mengusap punggung Doni. "Secepatnya, ajak Nayla berunding tentang pernikahan kalian," lanjutnya bijaksana.
"Siap, Ma."
______
Kama melangkah pelan menyusuri lorong apartemennya yang luas dan mewah. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal di atas mereka, sementara dinding-dinding dihiasi lukisan bernilai tinggi.
Di sampingnya, Kyara berjalan dengan langkah hati-hati, masih terlihat sedikit kedinginan meski tubuhnya sudah sedikit hangat setelah makan mie dan minum teh jahe.
"Teteh sudah nggak kedinginan kan?" ujar Kama, suaranya tenang namun penuh perhatian.
Kyara mengangguk kecil. "Tidak, Kama. Tubuhku sudah jauh lebih hangat."
Mereka berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih gading dengan ukiran minimalis elegan. Kama membuka pintu itu dan mempersilakan Kyara masuk.
Sebelum masuk, Kyara menatap Kama lalu tersenyum. "Kama, terima kasih untuk pertolongannya. Semoga Allah membalas kebaikanmu."
Kama tersenyum tipis sambil menatap Kyara. "Aamiin, Teh. Istirahat gih."
"Iya." Kyara masuk, mengangguk pada Kama. "Kamu juga selamat istirahat."
"Iya, Teh."
Kyara pun berbalik dan menutup pintu, tapi sebelum pintu itu tertutup, suara Kama terdengar lagi. "Tidur yang nyenyak ya, Teh."
Kyara mengangguk, lalu menutup pintu kamar tamu. Ia berjalan pelan ke arah ranjang, tangannya menyentuh permukaan seprai yang begitu lembut. Kemudian Kyara duduk di tepi ranjang. "Jika tanpa pertolongan-Mu lewat perantara Kama ... mungkin sekarang hamba masih luntang-lantung di luar kehujanan, dan mungkin akhirnya akan mati kedinginan." Tertegun Kyara. "Tuhan ... hanya kepada-Mu lah hamba berserah diri. Tolong balas semua kezaliman Doni beserta keluarganya, dan berilah hamba kemudahan untuk melanjutkan hidup. Bantu hamba untuk bangkit dari rasa sakit ini. Aamiin." Setetes demi setetes air mata jatuh, namun segera Kyara usap. "Mulai detik ini ... aku tidak boleh lemah lagi. Semangat Kya!" serunya menyemangati diri sendiri.
Kyara mengambil ponsel, "Aku mau menulis lagi ah." Ia mulai masuk ke aplikasi My Story dan menumpahkan segala sakit yang ia rasakan menjadi tulisan.
Di kamarnya, Kama tak henti menyunggingkan senyum. Ditatapnya langit-langit kamar. "Tuhan ... bukannya aku tidak punya simpati pada Teh Kya. Tapi aku sungguh senang mengetahui kalau dia sudah bercerai dengan suaminya. Terima kasih sudah membukakan jalan untukku. Aku berjanji akan membahagiakan Teh Kya semampuku. Aku tak akan menyakiti dia, karena aku ... sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihat dia di rumah Oma. Tutur katanya, mengingatkanku pada Mama." Kama menyentuh dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. "Tidak sia-sia aku menyuruh Ando mengawasi Teh Kya. Aku jadi tahu apa yang terjadi padanya. Tapi maafkan aku, Teh. Karena membiarkan fitnah keji itu meruntuhkan rumah tanggamu. Namun tenanglah ... Doni dan keluarganya ... pasti akan mendapatkan balasan." Senyum bahagia yang tadi tersungging, kini berubah jadi seringaian. "Huh, sekarang aku mau tidur."
______
Pagi itu, suasana di Perum Cempaka mendadak gempar. Warung milik Bu Lalah yang biasanya hanya ramai oleh ibu-ibu yang berbelanja sayur, kini dipenuhi bisik-bisik heboh yang tak biasa. Semua berkumpul, bukan sekadar belanja melainkan mendengar satu berita yang mengejutkan.
Di tengah kerumunan itu, Bu Leha berdiri dengan wajah serius, tapi sorot matanya penuh semangat. Kali ini, ceritanya bukan sekadar kabar burung. Ia menyaksikan semuanya sendiri. "Tadi malam, si Kyara tertangkap basah sedang berduaan dengan lelaki lain di ruang tamu! Dia sedang ditunggangi oleh lelaki itu!" ucap Bu Leha dengan suara tegas, membuat semua orang langsung fokus padanya.
Beberapa ibu langsung menutup mulut, kaget bukan main.
"Ditunggangi? Maksudnya sedang berzina?" tanya salah satu dari mereka, memastikan.
"Iya! Dan kepergok langsung sama si Doni, Bu Hesti dan Dini!" jawab Bu Leha tanpa ragu. Dilebih-lebihkan pula.
Semua orang semakin mendekat.
"Bu Leha ... serius ini teh, si Kya melakukan hubungan badan?" tanya Bu Lalah bergidik.
Bu Leha berdehem kecil. "Belum sih. Baju mereka masih menempel. Tapi mungkin jika si Doni dan keluarganya tidak keburu pulang ... mungkin saja mereka melakukan itu," ralatnya.
"Oohh ..." Yang mendengarkan angguk-angguk.
"Terus selingkuhan si Kya-nya tertangkap tidak?" tanya salah satu ibu yang memakai kerudung biru.
"Tidak. Karena pas bapak-bapak yang sedang ronda mengejarnya ... lelaki itu langsung lari ke dapur dan keluar lewat pintu belakang. Sepertinya, lelaki itu sudah sering datang ke rumah Bu Hesti, dan dia pasti sudah sering bermesraan dengan si Kya," jawabnya dramatis.
Berbagai tanggapan pun terlontar dari para ibu.
"Ihh ... amit-amit!"
"Nggak nyangka banget kalau si Kya sebejat itu! Padahal selama ini terlihat lugu!"
"Iya. Dasar perempuan tidak bersyukur. Udah dikasih suami, mertua dan ipar yang baik ... masih saja nyari lelaki lain. Menjijikan."
"Betul. Padahal si Doni kurang apa coba? Dia itu tampan, mapan, pekerja keras dan bertanggung jawab. Tapi si Kya ... aduh, dia beloon banget! Tolol!" Bu Leha makin menjelek-jelekan Kyara. "Dan gilanya ... si Kyara membela diri dengan berkata ... kalau lelaki selingkuhannya itu adalah tamu yang mau bertemu Bu Hesti!" lanjutnya berapi-api.
"Astagfirullah! Emang kurang ajar si Kya!" Semua ibu-ibu nyaris bersamaan mengatakan hal itu.
"Terus gimana atuh nasib si Kyara sekarang?" Bu Lalah bertanya lagi setelah komentar-komentar itu sedikit mereda.
"Si Doni langsung mentalak tiga si Kyara. Dan langsung diusir detik itu juga!" jawab Bu Leha lantang.
Suasana warung langsung riuh. Bahkan beberapa pembeli bertepuk tangan.
Komentar demi komentar berdatangan lagi.
"Mantap! Itu baru lelaki sejati!"
"Keren euy, si Doni. Wanita bejat seperti itu memang harus ditalak sekalian!"
"Puas banget dengernya!"
"Jadi gelandangan deh si Kyara! Rasain!"
Di sudut jalan menuju warung, Erna berdiri membeku. Tangannya menggenggam dompet, tapi pikirannya jauh dari situ. "Tidak mungkin," bisiknya pelan. Ia menatap Bu Leha dengan mata penuh keraguan. "Kya tidak mungkin melakukan hal sebejat itu. Ini pasti ada yang tidak beres," lanjutnya bergumam. Erna segera berbalik, ia tak jadi belanja. "Aku harus menelepon Kya. Memastikan semuanya," ujarnya seraya berlari untuk kembali ke rumahnya.
______
Aroma sup ayam dan prekedel menguar memenuhi dapur mewah milik Kama.
Kyara berdiri di depan meja makan, memandangi masakan yang baru saja ia buat. "Semoga Kama suka dengan masakanku," gumamnya tertawa kecil.
"Teh." Seketika, Kyara menoleh ke arah suara. Di ambang pintu, Kama berdiri dengan stelan rapi. Kemeja hitam dan celana bahan sewarna memeluk tubuhnya yang atletis. "Teteh masak apa?" tanya pemuda itu sambil melangkah mendekati Kyara.
"Aku masak sup ayam sama prekedel. Semoga kamu suka," ucapnya malu-malu.
"Hmm ..." Kama memejamkan mata sejenak. "Aromanya saja sudah membuat perutku keroncongan, Teh." Jawaban itu membuat Kyara tersipu.
"Mm ... kalau begitu, ayo kita makan."
Kama mengangguk, menarik kursi. "Silakan Teteh duduk duluan."
"Eh ..." Kyara terkesiap. Ia kira, Kama menarik kursi untuk dirinya sendiri, tetapi ternyata untuk dirinya. "Kamu duduk duluan saja."
Kama menggeleng. "Perempuan harus duluan, baru laki-laki."
Akhirnya Kyara menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ditarik Kama. Lalu Kama menyusul menarik kursi di sebelah Kyara.
"Aku ambilin ya?"
"Boleh, Teh." Kama mengangkat piringnya, dan Kyara mengambilnya. Mengisi piring itu dengan nasi dan lauk yang dibuatnya.
Mereka makan dalam hening yang menenangkan. Hingga tak terasa, makanan di piring mereka sudah habis.
Kyara melirik Kama dan berkata. "Kama, terima kasih atas semua pertolonganmu. Setelah ini, aku mau berpamitan."
Kama mengangkat sebelah alisnya. "Teteh mau pergi ke mana? Bukannya Teteh tidak punya tujuan?"
Kyara menunduk, menggigit bibirnya. Apa yang dikatakan Kama memang benar. Tapi dia tidak mau merepotkan pemuda baik hati di sampingnya. "Aku mau pergi ke rumah Erna. Mau mengambil uang dan perhiasan yang kemarin siang kutitipkan. Terus mau nyari kontrakan dan setelah itu mencari kerja."
Kama mengangguk. Lalu hening sejenak, sebelum suara pemuda berambut hitam itu terdengar lagi. "Teh, aku punya satu penawaran yang menguntungkan untuk Teteh. Jadi, Teteh tidak perlu cari kontrakan dan nyari pekerjaan. Tapi mungkin tawaranku agak sedikit tidak masuk akal. Tapi Teteh jangan berpikir yang aneh-aneh dulu." Kama menjeda ucapannya demi melihat ekspresi Kyara.
Kening Kyara mengernyit. "Tawaran apa, Kama?"
"Hmm ..." Kama berdeham pelan. Menatap Kyara yang juga tengah menatapnya. "Teteh bersedia tidak ... melakukan pernikahan kontrak denganku?"
Seketika, mata Kyara melebar sempurna.
hehehehe tertawa jahat 🤭🤭🤭