Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: MALAM PERTAMA YANG SALAH
Pintu kamar itu tertutup dengan suara pelan, tapi di telinga Siska rasanya seperti palu godam yang menghantam dadanya.
Klik.
Habis sudah.
Mulai malam ini, ia bukan lagi Siska Wijaya yang bebas. Ia adalah Nyonya Siska Mahendra. Istri dari pria yang baru ia kenal 3 jam lalu.
Ravi berdiri di seberang ranjang king size itu, jas hitamnya sudah dilepas. Kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan tulang selangka yang tajam. Usianya 35 tahun, tapi auranya lebih tua dari itu. Dingin, berkuasa, dan berbahaya.
Siska mundur satu langkah. Lututnya gemetar di balik gaun putih sederhana yang dipinjamkan asisten rumah tangga.
“Kamu nggak perlu takut,” kata Ravi datar. “Gue nggak akan nyentuh lo malam ini.”
Siska mengangkat kepala. “Benar?”
Ravi mengangguk sekali. “Kontraknya jelas. Lo jadi istri gue di atas kertas. Urusan ranjang… itu opsional. Kecuali lo yang minta.”
Kata ‘minta’ itu membuat wajah Siska panas. Ia menggigit bibir.
“Kenapa kamu mau nikahin aku kalau nggak mau sentuh aku?” tanyanya pelan.
Ravi berjalan ke arah minibar, menuang whiskey ke dalam gelas kristal. Ia tidak langsung minum. Ia hanya memutar gelas itu, menatap cairan amber di dalamnya seperti sedang menatap musuh lama.
“Karena Ayah lo punya utang 2 miliar ke gue,” jawab Ravi akhirnya. “Dan lo adalah satu-satunya aset yang dia punya.”
Siska merasa seperti ditampar. Jadi ini alasan sebenarnya. Ia bukan manusia di mata Ravi. Ia cuma jaminan.
“Ayahku… dia pasti terpaksa,” bisik Siska. “Dia nggak akan jual anaknya kalau nggak kepepet.”
Ravi meneguk whiskeynya dalam satu tegukan.
“Terpaksa atau nggak, sekarang lo udah jadi milik gue, Siska. Dan gue benci orang yang kabur dari tanggung jawab.”
Milik gue.
Kata itu menusuk lebih dalam dari kata ‘aset’. Siska menutup mata. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah.
Ravi melihat itu. Ekspresinya berubah sedikit. Tapi hanya sedikit.
“Berhenti nangis,” katanya dingin. “Gue benci air mata.”
Siska mengusap wajahnya cepat-cepat. “Maaf.”
Ravi meletakkan gelasnya. Ia berjalan ke arah ranjang, lalu duduk di ujungnya.
“Dengar, Siska. Gue nggak suka basa-basi. Jadi gue jelasin sekali.”
Siska berdiri kaku, menunggunya bicara.
“Lo tinggal di sini. Lo dapet fasilitas, uang saku, keamanan. Sebagai gantinya, lo jadi istri gue di depan publik. Datang ke acara, senyum, pura-pura bahagia. Itu aja.”
Siska mengerutkan kening. “Cuma itu?”
“Cuma itu,” jawab Ravi. “Nggak ada kewajiban lain. Kecuali…”
Kecuali apa? Siska menunggu.
“Kecuali gue bilang lain,” kata Ravi sambil berdiri. “Dan kalau gue bilang lain, lo nggak punya pilihan buat nolak.”
Darah Siska membeku. Jadi kebebasannya hanya ilusi.
Ravi berjalan melewatinya menuju pintu kamar mandi.
“Kamar mandi di sana. Ada baju ganti di lemari. Tidur di sisi kiri ranjang. Jangan ganggu gue kalau gue lagi kerja.”
Pintu kamar mandi ditutup.
Siska ditinggal sendirian di kamar seluas 40 meter persegi yang rasanya lebih sempit dari kamar kos 3x3 miliknya dulu.
Ia jatuh terduduk di pinggir ranjang.
2 miliar.
Utang Ayah.
Dan dirinya sebagai jaminan.
Siska menutup wajah dengan kedua tangan. Ia ingin berteriak. Ingin lari. Tapi ke mana? Rumahnya sudah mau disita. Mama sedang sakit. Kalau ia kabur, mereka selesai.
“Maafin Siska, Yah…” bisiknya. “Siska nggak punya pilihan lain.”
---
Jam menunjukkan pukul 1 malam. Siska belum bisa tidur. Ia hanya berbaring di sisi kiri ranjang, menatap langit-langit. Jantungnya masih berdebar setiap kali mengingat tatapan Ravi tadi.
Pintu kamar mandi terbuka.
Ravi keluar dengan handuk melilit pinggangnya. Rambutnya masih basah, tetesan air mengalir di dadanya yang bidang.
Siska buru-buru memejamkan mata, pura-pura tidur.
Tapi Ravi tahu.
Ia berjalan pelan ke sisi kanan ranjang. Kasur sedikit melengkung saat ia duduk.
“Gue tahu lo belum tidur,” katanya pelan.
Siska tetap diam.
Ravi mendesah.
“Lo nggak perlu takut, Siska. Gue bilang nggak akan nyentuh lo, ya nggak akan.”
Siska membuka mata sedikit. Ravi sudah berganti kaos hitam dan celana pendek. Tidak ada lagi jas dan kemeja formal. Tiba-tiba ia terlihat… manusiawi.
“Kenapa kamu bantu Ayahku?” tanya Siska tiba-tiba. “Kalau kamu benci dia, kamu bisa biarkan dia masuk penjara.”
Ravi menatapnya lama.
“Karena ada orang yang pernah bilang ke gue… ‘jangan jadi orang yang sama kayak dia’.”
Siska bingung. “Siapa?”
Ravi tidak menjawab. Ia hanya berbaring, membelakangi Siska.
“Kamu mau minum air?” tanya Siska pelan.
Ravi tidak bergerak.
Siska menghela napas. Ia bangun, menuang air putih ke gelas, lalu meletakkannya di meja nakas dekat Ravi.
“Minum kalau haus,” katanya.
Ravi tidak menoleh. Tapi 5 menit kemudian, gelas itu kosong.
Siska tersenyum kecil dalam gelap. Mungkin pria ini tidak sekejam yang ia kira.
---
Pagi harinya, Siska bangun karena suara ketukan pintu.
“Nyonya, sarapan sudah siap.”
Siska langsung duduk. Ia melirik ke sisi kanan ranjang. Kosong. Ravi sudah pergi.
Ia bergegas mandi dan ganti baju. Baju yang disediakan adalah dress biru muda sederhana. Tidak mencolok, tapi mahal.
Saat turun ke ruang makan, Ravi sudah duduk di kepala meja, membaca tablet sambil minum kopi hitam.
Di sampingnya, seorang wanita paruh baya berdiri dengan wajah tidak suka. Bu Rima. Ibu Ravi.
Begitu melihat Siska, Bu Rima langsung mencibir.
“Jadi ini anaknya Hendra Wijaya? Kecil, kurus, nggak ada istimewanya.”
Siska menunduk. Ia tahu ia tidak boleh melawan.
Ravi menutup tabletnya.
“Mama, cukup.”
“Cukup? Ravi, kamu tahu kan siapa bapaknya anak ini? Dia penipu! Dia yang bikin perusahaan Ayahmu bangkrut 10 tahun lalu!”
Siska terbelalak.
Perusahaan Ayah Ravi bangkrut karena Ayahnya?
Ravi berdiri. Wajahnya gelap.
“Gue bilang cukup, Mama.”
Suasana menjadi tegang. Siska merasa ingin menghilang saja.
Bu Rima berdiri, menunjuk Siska.
“Kalau kamu tetap pertahankan perempuan ini, jangan salahkan aku kalau aku bongkar semua ke media. Bayangkan berita ‘Putra Mahendra Group menikahi anak penipu’ jadi headline besok pagi.”
Ravi berjalan mendekati Bu Rima. Suaranya rendah, tapi mematikan.
“Kalau Mama berani buka mulut ke media, gue pastikan saham Mama di perusahaan gue hilang dalam 24 jam.”
Bu Rima terdiam. Ia menatap Ravi tidak percaya. Anaknya sendiri mengancamnya.
“Baik,” kata Bu Rima akhirnya, suaranya bergetar. “Gue tunggu kamu menyesal, Ravi.”
Setelah itu, Bu Rima pergi dengan hentakan kaki.
Siska menatap Ravi dengan mata melebar.
“Kamu… kamu mau diusir ibumu demi aku?”
Ravi duduk kembali. Ia menatap Siska dingin.
“Gue nggak melakukan ini demi lo,” katanya datar. “Gue melakukan ini karena gue benci orang yang suka ngancam.”
Siska menggigit bibir. Jadi begitu.
Ravi mendorong piring berisi roti panggang dan telur ke arah Siska.
“Makan. Lo kelihatan mau pingsan.”
Siska duduk. Tangannya gemetar saat memegang garpu.
Ravi kembali membaca tabletnya.
“Selesai sarapan, lo ikut gue ke kantor. Ada tanda tangan kontrak tambahan yang perlu lo baca.”
Siska menatapnya bingung. “Kontrak apa lagi?”
Ravi menatapnya dari balik tablet.
“Kontrak tentang apa yang terjadi kalau lo coba kabur dari gue, Siska.”
Darah Siska membeku.
Jadi pernikahan ini… memang penjara berlapis emas.
Tapi anehnya, saat ia melihat wajah Ravi yang serius itu, hatinya tidak sepenuhnya takut.
Ada sesuatu di mata pria itu. Sesuatu yang mirip dengan dirinya.
Sakit.
[Bersambung ke Bab 5]