Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 LOGIKA ANGIN STRATEGI BADAI
Zeta mulai melangkah maju dengan penuh percaya diri. Ia menoleh dan berteriak, "Lytia, cepat kemari!"
Lytia yang tadinya sedang menenangkan Putri Stella segera bergegas menghampiri Zeta. "Ada apa, Zeta?"
"Okayy saatnyaa! Lytia, keluarkan semua sihir tanahmu dan hempaskan ke atas!" perintah Zeta.
"Okayy Zeta!" Lytia langsung merapalkan sihirnya. Tanah di sekitar mereka terangkat tinggi ke udara.
Zeta segera mengangkat tangannya dan dengan cepat menciptakan tornado angin yang sangat kencang. Ia mengepalkan tangannya, menghancurkan bongkahan tanah itu menjadi butiran debu halus yang kemudian menyatu dengan pusaran angin. Dalam sekejap, tornado itu berubah menjadi badai pasir raksasa yang menelan pandangan.
Pasukan Beltrum ternganga melihat pemandangan luar biasa itu. "Wahh... bagaimana bisa dia membuat angin sebesar itu?"
Putri Stella menatap punggung Zeta dengan rasa kagum dan haru. 'Jadi ini yang kau maksud, Zeta...' batinnya. Lytia, Airon, Erika, dan para ksatria iblis lainnya hanya bisa terdiam melihat kekuatan yang tidak masuk akal tersebut.
Di sisi lain, Putri Elina dan Jenderal Tharos mulai merasa heran karena suasana tiba-tiba menjadi gelap dan berdebu.
"Eh, kenapa kalian berhenti?" tanya Elina pada pasukannya.
Seorang prajurit datang melapor dengan tergesa-gesa. "Izin melaporkan Putri Elina! Pasukan Beltrum tiba-tiba mundur dari medan perang!"
Jenderal Tharos menggeram. "Hah? Mundur? Kenapa tidak kalian kejar?!"
"Kami mau mengejarnya Jenderal, tapi tidak berani masuk terlalu dalam ke wilayah musuh. Kami takut itu hanya jebakan," jawab prajurit itu ketakutan.
Tiba-tiba, mata mereka terbelalak melihat tornado pasir raksasa yang mendekat. "Siallll! Apa-apaan itu?! Apa akan terjadi bencana alam?" teriak Tharos.
Putri Elina menyipitkan mata. "Tidakk... itu sepertinya sihir dari pasukan Beltrum. Tapi kenapa bisa sebesar itu?!"
Serangan Balik Sang Kapten
Zeta tersenyum dingin di tengah badai yang ia ciptakan. "Dengarr semuaa! Setelah aku menghempaskan angin ini, kalian harus ikuti semua perintahku!"
"BAIKKK KAPTEN ZETA!" teriak pasukan serentak.
Zeta terkekeh dalam hati. 'Hehehe, Kapten Zeta...'
"Baiklah! Saatnya... Elemen Angin: Tornado Badai Pasir!"
Seketika angin kencang itu menghempaskan badai pasir yang sangat tebal ke arah Zetobia. Pasukan musuh mendadak buta, mereka tidak bisa melihat apa pun. Tiga naga elemen yang tadinya mau menyerang pun berhenti karena kebingungan.
"Pasukan penyihir elemen petir! Saatnya kalian tembak naga itu! Beri tanda agar aku bisa menyerangnya dari bawah badai pasir!" perintah Zeta.
Lytia sempat menahan lengan Zeta. "Zeta, biar aku saja!"
"Apa kau lupa, Lytia? Ikuti saja kata-kataku. Lagipula, yang bisa melihat di dalam badai pasir ini hanya Mata Naha-ku saja!"
Zeta langsung melompat dengan kencang, menghilang di dalam debu. Pasukan petir mulai menembakkan sihir mereka ke arah naga. Zeta mengikuti arah cahaya petir itu sebagai pemandu. Begitu sampai di bawah ketiga naga tersebut, Zeta menciptakan pusaran angin kencang yang menarik paksa ketiga naga raksasa itu jatuh ke bawah.
"KAPTEN ZETA MENARIK SEMUA NAGA ITU! WAHH INI LUAR BIASA!" sorak pasukan Beltrum bahagia.
Erika menggelengkan kepala. "Walau hanya satu elemen angin saja, tapi levelnya sudah seperti bencana alam. Untung saja dia ada di pihak kita."
"Benar, Erika," timpal Lytia. "Membayangkan Zeta menjadi musuh kita... itu seperti melihat kematian ada di depan mata."
Putri Stella pun bergumam, "Levelnya sudah menjadi level bencana. Kita semua mungkin bisa habis jika dia jadi musuh. Untung saja Dewa masih memberi kita harapan."
Hujan Kematian
Di pihak Zetobia, Elina mulai panik. Sihir pengendali monsternya terasa kacau, dan ia kehilangan koneksi dengan ketiga naganya. Sementara itu, di dalam badai, Zeta sedang "merobek-roek" naga tersebut dengan pedang anginnya.
'Hahahaha, ini bahkan lebih seru dari game!' batin Zeta puas. Merasa naga-naga itu sudah mati, ia berlari cepat kembali ke barisan Beltrum. Dengan cepat dan ia pun tiba di barisan Beltrum.
"Kau sangat luar biasa, Zeta! Selanjutnya, apakah kita menunggu badai pasirmu selesai baru menyerang lagi?" tanya Lytia.
"Tidakk! Kita akan menyerang SEKARANG!" jawab Zeta.
"Hah? Menyerang sekarang itu bahaya, Zeta! Kita bisa saling menyerang karena tidak bisa melihat!" seru Stella cemas.
"Sudah aku bilang Putri Stella, ikuti kata-kataku!" potong Zeta. "Pasukan sihir jarak jauh, buat formasi di depan! Keluarkan semua sihir kalian dan arahkan ke Zetobia! Kita akan buat hujan kematian yang bikin mereka kaget! HAHAHAHA!"
Pasukan Beltrum segera bersiap. Atas aba-aba Zeta, hujan petir, batu api, dan ribuan anak panah melesat menembus badai pasir. Pasukan Zetobia yang sedang buta seketika kalang kabut terkena serangan dari langit. Suara teriakan kesakitan terdengar di mana-mana.
"Sialan! Perbuatan siapa ini?! Jenderal Lytia atau siapa pun yang membuat badai ini, tidak akan aku ampuni!" murka Tharos di tengah kegelapan pasir.
Zeta berteriak lagi, "Tetap fokus menyerang! Aku akan mempercepat sihir kalian dengan dorongan angin!"
Zeta menggunakan sihir anginnya untuk menambah daya dorong setiap elemen sihir kawan, membuat serangan mereka melesat berkali-kali lipat lebih cepat.
Putri Stella memperhatikan Zeta dengan tatapan kagum. Ia teringat pesan ayahnya. 'Jadi Ayah... apakah ini yang kau maksud? Menjadi Raja atau Ratu tidak harus punya kekuatan besar, tapi jika punya kepintaran hebat dan bisa mengendalikan hati orang, itulah kekuatan yang mengalahkan logika sihir.'
Lytia menyadari perubahan wajah Stella. "Ada apa, Putri? Kenapa kau tampak berbeda?"
Stella tersenyum. "Tidak, Lytia. Ternyata ini kekuatan di dunia Zeta yang dia bilang kekuatan kecerdasan dan sains"
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍