NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31. Ketahuan

Happy Reading

"Alderza, ka-kamu mau ngapain?"

Tiba-tiba saja Alderza menangkap Aily dan memeluknya erat, Aily sungguh sangat takut. Namun, Alderza tidak melakukan apa pun selain hanya memeluk sembari menangis tersedu-sedu.

Tangisannya benar-benar terasa menyakitkan. Seorang Alderza yang terkenal menakutkan sedang menangis sejadi-jadinya.

Aily dapat merasakan hatinya yang terluka hanya dengan memeluknya. Di balik pelukannya, Alderza berkata.

"Hely, gue kangen sama lo." Ucap Alderza sembari menangis di dalam pelukan Aily.

Hely? Aily membulatkan matanya mendengar nama Hely yang menyayat hatinya. Bagaiman tidak, nama itu sangat spesial untuknya, tapi sudah lama tidak ia pakai semenjak kematian ayahnya.

Ya, ayahnya lah yang memberikan panggilan Hely kepadanya. Itu adalah singkatan nama mereka berdua, Hendrick dan Aily.

Tapi semenjak ayahnya meninggal, rasanya sangat sakit jika kembali memakai nama kecilnya itu. Nama itu membuatnya kembali mengingat kenangan indah yang tak pernah dia lupakan.

"Hely, jangan pergi...." Ucap Alderza dengan suara sangat lemah.

Aily berusaha menahan rasa kagetnya karena Alderza memanggilnya Hely. Begitu besar gejolak hasratnya menginginkan waktu kembali pada saat itu. Saat mereka masih kecil dan selalu bersama.

"Iya, Alderza. Hely di sini. Kamu kenapa?"

Aily membalas pelukan Alderza untuk sejenak. Memeluknya seperti ini tidak apa-apa kan?

Cengkramannya begitu kuat, rasa senang dan sedih bercampur aduk. Getaran hebat mengguncang hatinya saat kedua tangannya melingkar melewati punggung Alderza.

Tiba-tiba saja, tubuh Alderza ambruk ke lantai dan Aily tebtu saja tidak bisa menahannya.

"Alderza!"

Aily sangat terkejut. Ini seperti di film-film, saa seseorang sudah mabuk berat dan tidak bisa menahannya lagi, mereka akan pingsan. Ya, seperti itu.

Satu hal yang membuat kepalanya berpikir keras. Bagaimana cara Aily mengangkat Alderza?

"Alderza, bangun!" Bisik Aily pelan, takut membangunkan Tiara yang sedang tidur di lantai bawah.

"Alderza!!" Aily mulai menggoyang-goyangkan tubuh Alderza.

Dan hasilnya, Alderza sama sekali tidak membuka matanya. Aily hanya bisa mengembuskan napas pasrah.

"Alderza maaf, aku gak kuat angkat kamu ke tempat tidur." Ucap Aily kepada Alderza yang tengah pingsan.

Dia berdiri, membawakan selimut tebal yang hangat untuk menyelimuti Alderza lalu memberikan bantal agar kepalanya tidak sakit.

Dalam gelap, Aily dapat melihat wajah Alderza yang tampan karena terdinari oleh bulan yang menerangi malam. Aily berbaring di samping Alderza di lantai sembari tersenyum.

Tak lama dia terlelap, matanya terpejam. Rembulan menjadi saksi kebersamaan mereka. Cintanya kepada Alderza tidak pernah pudar sedikit pun, meskipun cowok itu selalu kasar kepadanya.

Sudah 3 jam berlalu. Alderza mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya seperti melayang dan diputar-putar dengan kencang. Matanya masih belum dapat melihat dengan jelas di mana ia saat ini.

Seingatnya, dia sangat mabuk, entah berapa botol yang sudah dia habiskan. Dia hanya ingat itu saja.

Tapi kenapa saat ini dia berada di sebuah ruangan? Dan... hangat.

Tangannya memegang keningnya yang sangat pusing. Meski membutuhkan waktu yang lama, matanya sudah bisa terbuka. Alderza langsung meneliti setiap sudut ruangan yang serba ungu tersebut.

Dan... saat itu juga, Alderza terkejut melihat Aily yang sedang tertidur di sampingnya dan mereka sedang berada di atas lantai.

"Aily." Ucap Alderza pelan.

Dia langsung membuka selimut, lalu segera berdiri untuk memindahkan Aily ke tempat tidurnya.

Tapi saat Alderza menggendongnya, Aily terbangun dan langsung menatap Alderza dengan wajah ngantuk serta sangat lemas.

"Hmm... Alderza, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Aily dengan suara seraknya.

Aily turun dari pangkuannya, lalu memegang pipi Alderza dengan lembut.

"Kamu masih pusing?"

Aily mengambil segelas air susu yang ada di mejanya, mungkin sudah dingin, tetapi tak apa. Yang penting ada cairan masuk untuk. menetralkan alkoholnya.

"Ini minum." Ucap Aily sembari memberikan gelas tersebut.

Aily melihat jam, sudah jam 2 pagi. Untunglah, masih ada waktu untuk istirahat.

"Aily, gue gak ngapa-ngapain kan?" Tanya Alderza sembari meminum susu tersebut sampai habis.

"Gak kok, cuma nangis aja."

"Oh, gitu ya." Ucap Alderza pelan.

Aily meneliti wajah Alderza yang tidak berubah. Sejak dahulu, dia selalu melihat Alderza dengan wajah muram dan kusam beserta mata bengkak seperti ini, tidak pernah berubah.

"Kamu masih pusing?" Alderza menggelengkan kepalanya. Wajahnya menunduk, hatinya sangat sakit ketika mengingat kejadian barusan.

"Gue abis mabuk. Lo boleh marahin gue sepuasnya! Gue juga gak nepatin janji buat dateng ke sini."

Aily menggelengkan kepala dan dia tersenyum manis. Alderza sangat terkejut melihat reaksi Aily. Di saat semua orang membencinya, di saat semua orang menganggapnya sampah, memarahi, membuang dan menjauh darinya, Aily malah tersenyum tulus seperti biasanya.

Seperti Hely yang ia kenal....

"Aku gak marah. Aku cuma pengen tahu apa kamu masih pusing atau enggak? Biar kamu bisa istirahat lagi."

Seluruh kota tahu bahwa Alderza tukang mabuk, berandalan, biang onar, dan pencari masalah. Itu sebabnya Tiara, ibu kandung Aily sangat tidak suka jika Alderza hadir di kehidupan anaknya.

"Lo kenapa gak marahin gue kayak yang lain?" Tanya Alderza sembari menunduk.

"Aku tau di sini masih ada kebaikan, Alderza. Aku yakin itu. Makanya aku gak pernah marah sama sekali." Ucap Aily sembari menunjuk dada Alderza.

Alderza berdecak sembari berjalan menuju jendela. "Gue gak yakin."

Aily tersenyum dan mengikuti Alderza menuju jendela kamarnya. Dia tahu ini sudah larut malam. Tapi apa boleh buat, dia sudah lama tidak melakukan tugasnya untuk menghibur Alderza.

"Naik ke genteng berani gak?" Tanya Aily.

"Jangan remehin gue!"

"Masalahnya kamu abis mabuk!"

"Ciee, perhatian. Suka ya sama gue? Sampe gak mau gue kenapa-kenapa." Ucap Alderza sembari menahan senyumnya.

"Jangan kepedean! Kamu harus inget, di hati aku ada cinta pertama aku yang udah ngisi!" Balas Aily dengan cemberut.

Aily langsung mencari kursi agar dapat membuka jendela yang ada di atap kamarnya. Bukan, ini bukan jendela yang biasa Alderza lalui untuk masuk ke kamarnya, tetapi ini jendela yang ada di atap kamarnya agar Aily dapat melihat bulan dan bintang dengan jelas.

"Sini." Ucap Aily.

"Udah, lo aja yang pura-pura jatoh sini." Balas Alderza membuat Aily sedikit cemberut.

"Aku berat orangnya, buruan sini!"

Alderza tidak mau mengambil kursi lain karena ingin lebih dekat dengan Aily, agar tidak ada jarak lagi di antara kita.

"Kok gak ngambil kursi lagi?"

Alderza berdecak kesal, kenapa Aily sangat tidak peka, tidak sepertinya yang selalu peka setiap saat.

"Dasar gak peka lo!"

Aily tidak memedulikan ucapan Alderza, dia hanya menatap ke atas awan dengan kedua tangan yang menopang dagunya.

"Kalau aku lagi sedih, aku suka liat bulan dan bintang."

Alderza sama sekali tidak tertarik kepada bulan ataupun bintang. Jika dilihat dari dekat, bulan itu bolong-bolong, tidak mulus seperti cewek yang ada di sampingnya.

Dia lebih tertarik kepada Aily dibandingkan bulan atau bintang yang ada di atas sana.

"Aku suruh kamu liatin bulan, bukan liatin aku."

"Capek gue suruh lo ngomong pake 'lo-gue'!"

Aily sedikit tersenyum. Dia tahu cara paling jitu untuk menghiburnya, yaitu dengan melawannya.

"Bodo amat!" Jawab Aily sembari terus menatap bulan.

"Lo tau gak. Semakin lo ngelawan, gue semakin yakin bahwa lo itu temen kecil gue!"

Aily melotot kaget. Ya, Hely memang cewek periang yang selalu menghibur Alderza dan melawannya jika cowok itu rewel.

Hely bahkan tidak segan-segan untuk membentak Alderza, benar-benar cewek pemberani.

"Bukan kok, aku gak kenal kamu sebelumnya. Kita cuma kenal di SMA aja."

Aily menunduk, tadinya dia sangat semangat melihat bulan dan bintang, tapi Alderza mengabaikannya dan malah membahas Hely.

Alderza dapat merasakan perubahannya lalu dia langsung mengalihkan pembicaraannya.

"Lo suka cerita apa aja sama bulan dan bintang?" Tanya Alderza dan itu berhasil membuat Aily semangat lagi.

"Cerita tentang cinta pertama aku."

Nih bocah seneng banget ngomongin gue, Batin Alderza.

Alderza ingin tertawa sekencang-kencangnya. Apa lagi Aily yang terlewat polos dan jujur selalu membahas tentang cinta pertamanya.

Mungkin jika dia tidak membaca diary itu, kepalanya sudah mendidih oleh amarah saat ini. Kali. ini, rasanya sangat senang, ini sangat menghibur hatinya yang terluka.

"Ehm... lo harus perjuangin cinta pertama lo. Jangan sampe perjuangan lo sia-sia selama tujuh tahun."

Aily mengerjapkan matanya beberapa kali, Alderza sepertinya kesurupan. Tadi pagi dia berkata bahwa gak semua cowok bajingan dan sekarang dia berkata bahwa Aily harus memperjuangkan cinta pertamanya.

Semua perkataannya sekarang terbalik. Ada apa dengannya?

"Kepala kamu masih pusing, ya?" Tanya Aily sembari memegang kening Alderza.

"Kali ini gue serius."

Aily mengedikkan bahu. Dia masih tidak percaya bahwa Alderza tengah sadar saat ini. Mungkin pengaruh alkohol dalam tubuhnya masih kuat.

"Terus cinta pertama kamu gimana? Apa kamu udah ketemu sama dia?" Tanya Aily sembari memandang bulan.

"Ini, di depan gue." Jawab Alderza tanpa ragu.

Aily melotot kaget. Ya, Alderza bilang gitu bukan karena dia udah tahu, tapi karena dia terpengaruh alkohol. Batin Aily.

Saat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Aily.

"Aily sayang, kamu udah tidur kan?" Tanya Tiara di balik pintu kamar anaknya sembari membawa pemukul baseball.

Thank you yang udah baca. Kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, mohon dikoreksi ya. Love you guys.

1
Kamado Tanjirou
sorry guys, maksudnya tuh tadi waktu mereka baru pulang dari camping, soalnya baru inget kalo mereka pulangnya malem, bukan pagi
Ros🍂
semangat thor💪 ijin mampir
Kamado Tanjirou: makasih
total 1 replies
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!