Lilyana Cooper, ialah seorang dokter bedah jenius dengan tingkat keberhasilannya dalam mengobati pasien 99% membuatnya diagung-agungkan sebagai dewi penyembuh oleh orang-orang.
Akan tetapi dalam 1% itu ialah hasil dari kegagalannya, entah kutukan atau apa tetapi ia selalu gagal mengobati orang yang ia sayang, termasuk suaminya sendiri.
Ditengah keterpurukan dan kehilangan orang yang ia mata cintaku, setelah ia gagal menyelamatkannya, tiba-tiba dia terbunuh saat sudah menyelamatkan seseorang ditangan seorang anak kecil, membuatnya langsung mati di tempat berdampingan dengan jasad suaminya.
Bukannya menyusul suaminya dan mati tetapi ia malah terlempar ke zaman kuno dimana semua penduduknya yaitu ras beasthuman, dan ia terlahir kembali sebagai salah satu penduduk disana, sebagai manusia setengah binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorong Smartphone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas yang disangkal
"Kau siapanya putraku?"
"Apa yang harus ku jawab?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yuna yang terdiam termenung seketika tersadar saat merasakan tatapan mata orang-orang membuatnya jadi perhatian, keringat mulai membasahi pelipisnya mendengar pertanyaan singkat namun membuatnya ketar-ketir dari pertanyaan dari sang ibu partnernya, akhirnya ia memberanikan diri mengangkat wajah bersiap bicara dengan gemetar.
"Saya---
"Dia mateku ibu." Potong Ashen dengan tegas menyadari ibunya mengintimidasi Lily, perlahan menegakkan badan menstabilkan tubuhnya membuat tameng untuk melindunginya.
Membuat seketika wajah Yuna bersemu memerah bertanya-tanya maksud ucapannya.
"Mate?...Mateku?!"
Seketika suasana riuh orang-orang mulai berbicara terang-terangan terkejut dengan ucapannya.
"Akhirnya dia membawa matenya setelah pergi mengasingkan diri?!"
"Selamat pokoknya! Betinamu sangat cantik, kalian sangat cocok."
"Sudah kuduga dia pasangan yang dibawa Ashen."
Tiba-tiba salah satu dari wanita tadi yang datang perlahan maju diikuti wanita lainnya, keempatnya mengelilinginya Yuna sembari mengendus-endusnya, menatap tajam bahkan mencolek-colek tubuhnya seolah benda asing yang baru pertama dilihat.
Yuna terbelak ngeri hanya bisa diam mundur agak kaget walaupun terpaksa ia menerima semuanya karena tidak bisa melarikan diri.
Ashen menyadari hal itu, ingin maju akan tetapi tubuhnya ditahan oleh Laso, sang kuda itu yang membuatnya tertahan melihat tatapannya agar mengisyaratkan untuk percaya pada Lily.
"Lepaskan! Yuna--
"Ssst, kau harus diam fokus pada pemulihan tubuhmu, dia akan baik-baik saja."
Ashen seketika menggigit bibir pasrah menunduk lemas menyesali kelemahannya, ia hanya bisa menuruti karena sadar kondisinya akan semakin parah jika memaksa dan membuat ia tidak bisa melindungi Yuna lebih menyeluruh.
Melihat ketiga rekannya sedang mengintimidasi seseorang, wanita yang memiliki wajah garang itu dengan gagah maju, memukul kepala mereka satu-persatu.
"Jangan ganggu dia! Bersikaplah dengan sopan pada orang baru."
Ketiganya serentak menatapnya kaget akan tetapi tidak berani marah hanya mengusap kepala sembari mengaduh pelan.
"Elta! Kami hanya ingin melihatnya."
"Benar, kita hanya ingin tau betina seperti apa yang dipilih Ashen."
"Kau berlebihan."
"Diam! Bukan begitu caranya menyapa seseorang." sentaknya tajam sembari mengusap kepalanya, seseorang yang disebut Alta itu mulai maju menunduk tidak enak pada Yuna.
"Maafkan atas ketidaksopan saudara-saudariku, mereka tidak bermaksud buruk, hanya penasaran padamu."
Yuna menatapnya kaget tidak menyangka bisa jadi seperti ini, ia bernafas lega sekaligus kagum karena ia tau salah menilai dari penampilan, mulai tersenyum tipis menggeleng.
"Tidak apa-apa, aku paham maksud mereka, perkenalkan namaku Yuna Adison, kalian bisa panggil aku Yuna."
"Perkenalkan Aku Alta, putri pertama Oji."
"Kalo aku Elta! Aku adiknya."
Tiba-tiba wanita dengan memakai aksesoris itu maju dengan semangat memperkenalkan diri sembari tersenyum lebar
"Aku Eida, Aku adik terakhir."
Diikuti wanita dengan rambut cepak mulai menatapnya diam sembari mengangguk.
Ashen memerhatikan itu menghela nafas lega menyadari Yuna tidak dipandang buruk dan mulai diterima, seketika memerhatikan tatapan Laso yang menepuk pundaknya membuatnya mengangguk tersenyum padanya.
Sang ibu dari Ashen, hanya terdiam selama beberapa saat sebelum mulai menghela nafas hanya maju menuntun putranya agar dibantu para bawahannya untuk diobati.
"Sekarang kau harus memulihkan kondisimu dulu." Wanita tua itu perlahan mengalihkan pandangan menatap Yuna sekilas sebelum kembali berjalan pergi.
"Semuanya tolong bawa dia jalan-jalan untuk mengenal bagaimana cara kita hidup."
"Dan dia Lara, dia putri dari Orta."
Yuna kemudian memerhatikan wanita yang sedari tadi hanya diam membuat ia bingung merasakan tatapan tajamnya, membuat meringis berusaha berpikir positif.
"Dadah Yuna, jika butuh sesuatu kau bisa panggil kami."
Ketiganya tiba-tiba mundur mulai mengikuti wanita tersebut.
Diikuti oleh para wanita lainnya, seorang wanita muda yang dari tadi terdiam mengepalkan tangannya menggigit bibirnya kencang memerhatikan hal itu, sebelum ia akhirnya ikut berjalan mengikutinya.
Yuna menghela nafas lega perlahan melihat kepergiannya, melihat Ashen mendekati ia mulai tersenyum.
"Kau baik-baik saja?" Ashen bertanya memastikan kondisinya, dengan sedikit berjalan pincang.
Yuna hanya mengangguk. "Aku baik-baik saja, kau harus diobati dulu"
"Tidak apa-apa aku tinggal?"
"Ya tentu, aku akan menunggumu."
Ashen mau tidak mau akhirnya menuruti memandangi tak enak Yuna dari kejauhan.
Sedangkan Yuna terdiam kaku bingung berbuat apapun menyadari terus jadi pusat perhatian dipandang siapapun, tiba-tiba seorang anak laki-laki datang memandangi kagum mulai mendekatinya.
"Kau pasangan Ashen?" Anak laki-laki itu berkata memandangi nya polos dan berapi-api.
Yuna hanya tersenyum malu mengangguk kemudian menegakan badan berusaha menyikapi dengan baik. "Ya, kau?"
"Perkenalkan aku Muto, siluman burung kakaktua!" Sembari bersemangat memperkenalkan diri, bocah bernama muto itu berbicara, namun tiba-tiba ia terhenti mengelilinginya dengan bingung.
"Omong-omong kau dari siluman apa, kau tidak terlihat bau binatang apapun.... terdiam mulai berpikir memandangi Yuna dengan tajam.
Membuat Yuna seketika membeku, otaknya berpikir panik takut identitasnya terbongkar, tidak bisa dibayangkan jika dirinya ketahuan satu-satunya manusia yang hidup di zaman beasthuman, mungkin ia akan dipersembahkan dan dimakan.
"Bagaimana ini?!"
Saat ia diam membeku berusaha mencari alasan akan tetapi suara yang keluar malah sedikit bergetar karena ia panik. "Aku...aku dari ras Mo--
"Ternyata kau disini muto!" namun suara lagi-lagi memotong ucapannya, seorang pria tiba-tiba datang menghampiri keduanya dengan gesit menarik telinga bocah kecil itu.
"Aduh-aduh, kak Myora, sakit! aku kan hanya pergi sebentar..... Dengan mengaduh merasakan telinganya ditarik keras membuat ia bergetar kesakitan.
"Tidak ada tapi-tapian! Kau kan sudah berjanji akan membantu ku.... Mulai mengomeli tak henti-hentinya, pria bernama Myora itu, menatap anak itu tajam sebelum terhenti melihat kehadiran Yuna.
"Kau tidak apa-apa? Apakah anak ini sedang menjahilimu?"
"Apa-apan! Aku malah mau membantunya untuk mengantar jalan-jalan, jangan memfitnah."
"Aku kan bukan bertanya padamu."
Seketika Yuna tersenyum memandangi pertengkaran keduanya, sebelum akhirnya tersadar mulai menunduk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan aku Yuna,...aku....aku dari ras kera.."
"Kera? Wanita secantikmu?" namun Myora tiba-tiba maju menatap menelisik Yuna dari atas ke bawah dengan intens.
Membuat Yuna salah tingkah diperhatikan intens apalagi terang-terangan oleh laki-laki sepertinya.
Myora akhirnya tersadar tingkahnya, sebelum berdehem menarik diri. "Perkenalkan aku Myora Temu, aku tabib di desa ini, senang bertemu denganmu, aku dari ras burung elang."
"Dan soal jalan-jalan,.. bagaimana jika aku yang mengantarmu? Dia tidak becus, anak nakal sepertinya."
Membuat Muto seketika tidak terima menatapnya tajam "Apa-apan kak? Aku kan sudah berjanji lebih dulu."
"Tidak ada tapi-tapian, kau harus belajar lagi meneruskan tugasmu, mau kutambahkan pekerjaan rumahmu, jadi tiga kali lipat?"
Mau tidak mau mendengar ancamannya, Muto akhirnya bangkit dengan enggan meningkatkan Yuna.
"Nanti setelah selesai aku akan datang lagi."
Yuna hanya bisa memandangi iba terdiam di tempat.
Namun Myora malah tersenyum lebar, menarik tangan Yuna tanpa menanyakan pendapatnya.
"Ayo, akan ku tunjukan bagaimana Desa Suika berlangsung."
Yuna kaget memandangi nya bingung merasakan sentuhannya, ia hanya bisa menatap pergelangan tangannya sebelum dengan tanpa suara menurut berjalan bersamanya.