Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CARA MENJINAKKAN MONSTER DENGAN OPOR AYAM
Kemenangan mutlak di atas Menara Eiffel atas faksi pengkhianat Marseille dan klan Valois memang telah mengamankan posisi dinasti De Calvi di tanah Eropa. Namun, perang di dunia bawah tanah tidak pernah benar-benar selesai hanya dengan jatuhnya para eksekutor lapangan. Masalah terbesar pasca-pertempuran justru terletak pada aspek interogasi.
Di dalam ruang bawah tanah sebuah rumah aman ( safehouse ) bergaya kolonial milik klan De Calvi di pinggiran kota Paris, suasana terasa mencekam. Di tengah ruangan berlapis beton tebal itu, duduk terikat sebuah figur raksasa bernama Jean "Le Monstre" Valois. Dia adalah salah satu algojo paling kejam dari faksi Valois yang terkenal memiliki ketahanan fisik tidak manusiawi. Jean menolak berbicara sepatah kata pun semenjak ditangkap. Jangankan taktik intimidasi psikologis Etienne, bahkan ancaman pisau taktis Julien pun hanya dibalas dengan ludahan darah dan tawa mengejek yang menggema di ruang interogasi.
"Subjek memiliki ambang batas rasa sakit ( pain tolerance ) yang abnormal akibat modifikasi saraf tingkat lanjut," lapor Marc dari balik monitor pemantau medis di ruang kendali atas, kacamata minusnya memantulkan grafik detak jantung Jean yang tetap konstan di angka tujuh puluh unit per menit. "Probabilitas subjek membocorkan lokasi sisa deposit dana faksi Valois menggunakan metode interogasi konvensional faksi militer: di bawah lima persen."
Lucien berdiri tegak di samping Marc, wajah ketampanannya mengeras penuh wibawa seorang sulung. Tangannya bersedekap di dada bidangnya yang dilapisi kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. "Kita tidak punya banyak waktu. Jika jaringan dana mereka tidak dibekukan dalam waktu dua puluh empat jam, sisa faksi mereka di pelabuhan Marseille akan melakukan pencucian uang massal."
Tepat ketika atmosfer di dalam rumah aman itu berada di titik buntu, sebuah aroma yang sangat asing—namun sangat akrab bagi penciuman domestik mereka—mendadak menyeruak masuk menembus celah ventilasi udara ruang kendali. Aroma gurih santan kental yang berpadu dengan wanginya serai, lengkuas, ketumbar, jinten, dan daun jeruk purut yang ditumis matang.
Lucien, Marc, Julien, dan Etienne spontan menoleh ke arah pintu dapur rumah aman. Di sana, berdiri Alya Putri dengan daster batik motif parang warna biru muda kesayangannya, dibalut apron memasak bergambar ayam jago, sambil memegang sebuah centong kayu besar di tangan kanannya.
"Abang-abang sekalian, daripada kalian pusing mikirin cara nyiksa orang sampe berdarah-darah tapi nggak ada hasilnya, mendingan panggil itu si 'Monster' buat makan siang," ujar Alya santai, menyeka keringat tipis di pelipisnya dengan ujung apron. "Cowok segede gaban begitu kalau lagi ngamuk, biasanya cuma karena dua hal: kalau nggak kurang kasih sayang, ya pasti karena laper belum dapet asupan karbohidrat yang bener. Sini, biar Alya jinakkan pake opor ayam spesial Palmerah!"
Etienne langsung melongo, senyuman kardusnya sempat membeku sesaat sebelum berubah menjadi tawa renyah yang penuh kekaguman. "Alya, manisku... menginterogasi salah satu pembunuh paling dicari di Eropa menggunakan kuliner tradisional Jawa? Ide domestikmu ini benar-benar berada di luar spektrum kegilaan taktis yang pernah kupelajari di akademi militer Paris."
Namun, karena tidak ada pilihan lain yang logis secara matematis, Lucien akhirnya mengangguk menyetujui taktik tak biasa sang permaisuri.
Dua menit kemudian, Jean "Le Monstre" Valois diseret oleh Julien masuk ke dalam ruang makan utama rumah aman dengan tangan tetap diborgol rantai baja ke tiang kursi besi. Wajah Jean dipenuhi memar, matanya yang tajam menatap sekeliling dengan aura permusuhan yang masif, siap untuk meludahi siapa saja yang mendekat.
Namun, begitu tubuh raksasanya didudukkan di depan meja makan, tatapan mata Jean langsung terpaku pada sebuah mangkuk keramik besar yang mengepulkan uap panas di depannya. Di dalam mangkuk itu, terendam dua potong paha ayam kampung berukuran besar dalam kuah santan kental berwarna kuning keemasan yang berminyak pas, ditaburi sejumput bawang goreng merah yang renyah di atasnya. Di samping mangkuk, tersedia sepiring nasi putih hangat yang pulen dan beberapa potong kerupuk udang.
Alya melangkah mendekat tanpa rasa takut sedikit pun terhadap figur menyeramkan Jean. Dengan gerakan tangan yang luwes, Alya meletakkan sebuah sendok dan garpu di samping piring Jean, lalu mengetuk meja dengan centong kayunya.
"Nih, namanya Opor Ayam Kampung khas Indonesia," ucap Alya lantang menggunakan bahasa Inggris aksen Jakarta yang khas. "Di negara saya, makanan ini cuma keluar pas hari raya besar buat nyelesaiin segala macem salah paham di antara keluarga. Kamu dari tadi pagi teriak-teriak mulu, pasti tenggorokanmu kering dan perutmu bunyi kan? Buruan makan selagi anget, jangan gengsi!"
Jean menatap Alya dengan pandangan tidak percaya, lalu melirik ke arah Lucien dan Julien yang berdiri siaga di sudut ruangan dengan tangan berada di dekat posisi senjata mereka. Jean mendengus kasar, memamerkan deretan giginya yang berdarah. "Apakah ini trik baru klan De Calvi? Memasukkan racun saraf ke dalam sup kuning ini?"
Marc langsung menyahut dari arah pintu, menaikkan kacamatanya dengan ekspresi datar. "Analisis kimia: tingkat higienis makanan tersebut seratus persen aman. Istriku menghabiskan waktu tiga jam untuk menyempurnakan ekstraksi rempah-rempah tersebut tanpa melibatkan zat aditif taktis mana pun. Kerugian kinetik jika kau menolak memakannya: perutmu akan mengalami deplesi energi total dalam empat jam ke depan."
Didorong oleh rasa lapar yang sudah mencapai batas puncaknya setelah ditahan selama dua puluh empat jam, ditambah dengan aroma gurih rempah oriental yang begitu adiktif mendobrak sistem saraf penciumannya, Jean akhirnya menyerah pada egonya. Dengan tangan yang bergemerincing karena rantai baja, dia mengambil sendok, menyendok sedikit kuah opor kuning tersebut, lalu memasukkannya ke dalam mulut besarnya dengan ragu-ragu.
SREEEPP.
Seketika itu juga, seluruh otot di wajah raksasa Jean Valois membeku. Sepasang matanya membelalak lebar.
Gelombang rasa gurih yang kaya dari santan kelapa murni yang berpadu dengan kehangatan jahe, jinten, dan ketumbar langsung meledak di lidahnya, memberikan sensasi kenyamanan ( comfort food ) yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya di dunia hitam Eropa yang dingin dan hambar. Ketika dia memotong daging ayam kampungnya menggunakan sendok, daging itu terlepas dengan sangat mudah dari tulangnya karena telah diungkep dengan kelembutan kasih sayang daster Palmerah selama berjam-jam.
Jean langsung menyendok nasi putihnya dalam porsi besar, menyiramnya dengan kuah opor, lalu melahapnya dengan rakus bagai monster yang benar-benar baru keluar dari gua kelaparan. Suara dentingan sendok dan piring yang beradu memenuhi ruang makan yang semula tegang tersebut.
Alya tersenyum puas, berkisut bangga sambil mengipasi wajahnya menggunakan kipas sate anyaman bambunya yang legendaris. "Tuh kan, apa saya bilang! Serem-serem begini kalau udah ketemu opor ayam ya langsung lumer kayak es lilin kesenggol matahari!"
Setelah piring dan mangkuknya bersih tanpa tersisa satu butir nasi pun, Jean menyandarkan tubuh raksasanya di kursi besi. Hawa kemarahan dan aura predator yang tadi memancar dari tubuhnya mendadak lenyap, digantikan oleh ekspresi kepuasan biologis yang sangat mendalam ( food coma ). Dia menatap Alya dengan pandangan mata yang tidak lagi dipenuhi oleh kebencian, melainkan rasa takjub yang murni.
"Makanan apa... yang baru saja masuk ke dalam tubuhku ini?" tanya Jean, suaranya yang berat kini terdengar jauh lebih lunak dan lelah. "Aku sudah mencicipi seluruh masakan restoran bintang lima ( Michelin star ) di Paris dan Milan, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki kemampuan untuk membuat jiwaku yang kotor ini merasa... damai seperti sup kuning ini."
Alya melangkah satu langkah lebih dekat, menopangkan kedua tangannya di atas meja makan, menatap Jean dengan sepasang mata hitamnya yang penuh dengan empati kedewasaan domestik.
"Itu karena masakan Eropa dibikin pake teknik dan ego, tapi opor ayam Palmerah dibikin pake ketulusan buat ngenyangin perut manusia yang sedang kesepian," jawab Alya lembut namun penuh penekanan psikologis yang telat. "Jean, kamu boleh aja setia sama faksi Valois sampai mati di balik jeruji besi atau peluru Bang Julien. Tapi coba pikirin: apa gunanya kamu nyimpen rahasia dana itu buat orang-orang yang bahkan nggak bakal masakin kamu makanan anget pas kamu lagi sekarat di medan perang? Di dunia hitam, kamu cuma dianggap monster yang siap dibuang. Tapi di depan mangkuk opor ini, kamu tetaplah seorang manusia yang berhak kenyang."
Kalimat sederhana dari Alya Putri menghantam fondasi mental Jean Valois jauh lebih telak daripada sabetan belati titanium Julien atau analisis geometris Marc. Air mata tipis mendadak tergenang di sudut mata algojo faksi Valois tersebut, meruntuhkan seluruh cadar ketegaran mafianya yang palsu.
Jean menundukkan kepalanya yang botak, bahu raksasanya bergetar halus. "Dana faksi Valois... tersimpan di bawah nama samaran 'L'Enfant de Marseille' di bank swasta kanton Jenewa, Swiss," aku Jean akhirnya, suaranya pelan dan jujur tanpa paksaan fisik sedikit pun. "Kunci enkripsi digitalnya adalah tanggal kematian ibuku... dua puluh dua September dua ribu dua puluh lima."
Marc yang mendengar informasi tersebut langsung menggerakkan jemarinya di atas keyboard laptop militernya dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam waktu tiga puluh detik, sebuah bunyi klik konfirmasi keamanan terdengar dari sistem Aegis.
"Enkripsi berhasil ditembus," lapor Marc dengan senyuman kemenangan yang sangat genius, menatap Lucien. "Seluruh aset dana faksi Valois sebesar empat puluh juta Euro telah dibekukan secara permanen dan dialihkan ke rekening aman klan De Calvi. Probabilitas pemulihan dana oleh musuh: nol persen."
Lucien menghela napas panjang penuh rasa lega yang luar biasa. Dia melangkah mendekati Alya, lalu di depan Jean Valois yang masih terpaku, sang sulung klan De Calvi itu menarik tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan hangat, mengecup puncak kepala Alya dengan penuh rasa hormat dan cinta yang tak terbatas.
"Interogasi taktis paling bersih dalam sejarah klan De Calvi," bisik Lucien dengan suara baritonnya yang berat dan penuh wibawa, matanya berbinar penuh rasa sayang. "Kau benar-benar permaisuriku yang paling menakjubkan, Alya."
Julien yang biasanya dingin dan irit bicara perlahan melangkah maju ke meja makan. Dia membuka belenggu rantai baja di tangan Jean menggunakan kunci taktisnya. Julien menatap mantan musuhnya itu dengan pandangan mata yang kini dipenuhi rasa hormat antar-prajurit pertempuran.
"Misi selesai, Jean. Kau tidak lagi berada di bawah radar eksekusiku," kata Julien pendek, lalu melirik ke arah sisa kuah opor di mangkuk dengan ekspresi lapar yang sangat halus. "Alya... apakah masih ada porsi opor ayam tersisa di dapur? Bau rempah ini mulai menurunkan tingkat konsentrasi fisikku."
Etienne langsung menyambar lengan Alya dengan manja dari sisi lain, menampilkan senyuman menawannya yang paling cerah. "Ah! Aku juga mau dapet jatah paha ayam kampungnya, manisku! Aku sudah menguras banyak energi psikologis untuk mengawasi si Monster ini sejak subuh!"
Alya tertawa renyah, melepaskan apron memasaknya lalu merangkul bahu Etienne dan menyadarkan kepalanya di dada bidang Lucien yang menyambutnya dengan dekapan protektif. "Tenang, tenang! Di dapur masih ada satu panci gede penuh opor ayam sama sambal goreng ati spesial buat abang-abang berempat! Yuk, kita makan bareng-bareng sekalian sama Jean juga, biar ruko... eh, biar safehouse Paris ini rasanya adem kayak Palmerah!"
Dan siang itu di pinggiran kota Paris ditutup bukan dengan suara desingan peluru atau jeritan ruang penyiksaan bawah tanah dunia hitam Eropa, melainkan dengan kehangatan sebuah meja makan keluarga tempat para kembar De Calvi duduk melingkar bersama sang permaisuri daster mereka, membuktikan sekali lagi bahwa tidak ada satu pun monster taktis global yang tidak bisa dijinakkan oleh kelezatan sejati, ketulusan cinta, dan kearifan lokal sekukuh mangkuk opor ayam dari kawasan Palmerah, Jakarta.