Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Tteokbokki
Sore itu, sedan hitam mewah milik Liam sudah terparkir manis di depan gerbang kampus, menarik perhatian mahasiswa yang berlalu-lalang.
Liam bersandar di pintu mobil dengan kacamata hitamnya, terlihat seperti model majalah yang tersesat di area akademik.
Begitu Cassie keluar dari gedung fakultas, Liam segera menegakkan tubuh. Senyum miring yang khas, senyum yang sempat hilang tadi pagi, kini kembali menghiasi wajahnya.
"Lama sekali. Kau belajar atau sedang mencoba menghafal isi seluruh perpustakaan?" ejek Liam saat Cassie sampai di depannya.
Cassie memutar bola matanya, namun di dalam hati ia merasa sangat lega.
"Ada dosen yang baru berhenti bicara setelah jam kuliah selesai. Dan kau, hanya menunggu sepuluh menit, bukan sepuluh tahun."
"Sepuluh menit waktuku itu mahal," balas Liam sambil membukakan pintu mobil dengan gerakan teatrikal yang menyebalkan.
"Cepat masuk sebelum aku menagih biaya parkir padamu."
Cassie terkekeh dan masuk ke dalam mobil. Ia lebih suka Liam yang seperti ini. Yang mulutnya pedas dan penuh ejekan, daripada Liam yang dingin dan tertutup seperti tadi pagi.
Ejekan Liam terasa seperti "normal" yang ia rindukan, sebuah tanda bahwa pria itu sudah kembali dari "perang" di kepalanya sendiri.
"Mau makan di mana? Jangan bilang kau mau makan pasta lagi. Aku butuh daging," ujar Liam saat mulai menjalankan mobil.
"Teman-temanku sedang membicarakan tempat makan street food baru di dekat distrik tua. Katanya ada tteokbokki dan ayam goreng pedas yang sangat enak. Semua orang di kampus membicarakannya," sahut Cassie antusias, matanya berbinar-binar.
Liam mengerutkan dahi, ekspresinya langsung berubah menjadi jijik yang dibuat-buat. "Makan di pinggir jalan? Di tempat yang ramai dan berisik itu? Kau ingin membunuh selera makanku atau membunuhku pelan-pelan dengan debu jalanan?"
"Oh, ayolah, Liam! Sekali-kali keluar dari zona nyamanmu yang serba steril itu. Lagipula, tempatnya bersih kok," paksa Cassie sambil menarik-narik lengan kemeja Liam.
"Tidak. Aku akan membawamu ke restoran steak biasa kita."
"Tteokbokki, Liam!"
"Steak, Cassie."
"Kalau tidak mau, aku turun di sini dan pergi dengan Jino!" ancam Cassie asal.
Liam langsung menginjak rem mendadak, menatap Cassie dengan tatapan tajam namun ada kilat jenaka di sana.
"Berani kau menyebut nama Jino lagi untuk menemanimu makan, aku akan memecatnya malam ini juga."
Cassie menjulurkan lidahnya. "Makanya, antar aku ke sana!"
Liam menghela napas panjang, pura-pura kalah dengan sangat dramatis. "Baiklah, baiklah. Kita pergi ke tempat berisik pilihanmu itu. Tapi kalau aku sampai keracunan makanan pedas, kau yang harus merawatku semalaman tanpa protes."
"Deal!" seru Cassie senang.
Sepanjang jalan, Liam terus mengejek selera makan Cassie yang katanya "seperti remaja labil", sementara Cassie sibuk membalas dengan sindiran bahwa Liam sudah seperti "kakek-kakek kolot".
Suasana cair itu seolah menghapus seluruh sisa mimpi buruk tentang Amanda tadi pagi. Bagi Liam, meski bayang-bayang masa lalu itu masih ada, api yang dibawa Cassie sore ini jauh lebih nyata dan sanggup menghangatkan hatinya kembali.
Liam memutar setir ke arah distrik tua dengan dahi yang masih berkerut dalam. Ia melirik Cassie seolah gadis itu baru saja mengajaknya makan batu kerikil.
"Tteok... apa tadi? Kau bicara bahasa asing atau sedang merapal mantra?" tanya Liam dengan nada skeptis yang kental.
Cassie tertawa lepas, ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil yang mewah itu.
"Tteokbokki, Liam! Itu kue beras yang dimasak dengan saus pedas manis. Masa kau benar-benar tidak tahu? Padahal hampir di setiap sudut Verovska sekarang ada yang jual."
"Kue beras?" Liam menaikkan alisnya, wajahnya tampak semakin bingung.
"Astaga, kau benar-benar butuh keluar dari gua mewahmu," ledek Cassie sambil menyenggol bahu Liam.
"Itu makanan yang lagi tren banget gara-gara serial drama Korea yang belakangan ini menguasai tontonan semua anak muda di sini. Semua orang ingin merasakannya."
Liam mendengus, mencoba tetap terlihat berwibawa meski ia sebenarnya merasa sedikit ketinggalan zaman.
"Jadi kau mengajakku makan hanya karena terpengaruh tontonan televisi? Drama Korea? Yang isinya pria-pria dengan rambut terlalu rapi dan adegan menangis di bawah hujan itu?"
"Bukan cuma itu! Ceritanya seru, dan makanannya memang menggoda!" Cassie membela diri dengan semangat.
"Pokoknya kau harus coba. Aku berani bertaruh kau bakal suka, meski mulut pedasmu itu mungkin akan kalah sama pedasnya saus mereka."
"Kita lihat saja nanti," gumam Liam sambil memarkir mobilnya di dekat area pasar malam yang mulai ramai.
"Tapi kalau aku sampai harus minum lima liter air karena tren pilihanmu ini, aku tidak akan membiarkanmu menonton drama-drama itu lagi di rumah."
Begitu Liam keluar dari mobil, suasana di area street food itu seolah tersedot ke arahnya. Dengan setelan jas gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya, kacamata hitam yang masih bertengger di hidung, dan tatapan mata yang waspada menyapu sekeliling, Liam tidak terlihat seperti orang yang sedang ingin jajan.
Dia lebih terlihat seperti agen rahasia atau bodyguard tingkat tinggi yang sedang mengawal putri bangsawan.
"Liam, lepaskan kacamatamu. Ini sudah sore, dan kau membuat semua orang ketakutan," bisik Cassie sambil menarik ujung lengan jas Liam, merasa sedikit malu karena orang-orang mulai berbisik-bisik.
"Aku hanya memastikan tidak ada penguntit atau bajingan lain yang mencoba mendekatimu di tempat terbuka seperti ini," jawab Liam datar, suaranya berat dan mengintimidasi.
Ia tetap berjalan dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana, sementara tangan lainnya protektif berada di belakang punggung Cassie.
Mereka akhirnya sampai di kedai tteokbokki yang sangat ramai. Antreannya didominasi oleh anak-anak muda yang memakai hoodie dan kaos santai. Berdiri di sana dengan pakaian formal, Liam benar-benar tampak seperti alien dari planet kemewahan.
"Dua porsi tteokbokki level pedas sedang dan ayam goreng madu, ya!" seru Cassie antusias kepada penjualnya.
Liam menatap panci besar berisi saus merah membara itu dengan pandangan ngeri.
"Cassie, kau yakin itu bisa dimakan manusia? Warnanya terlihat seperti cairan radioaktif."
"Jangan berlebihan, Liam. Ayo duduk!" Cassie menarik tangan Liam menuju sebuah meja plastik kecil dengan kursi tanpa sandaran.
Liam menatap kursi plastik merah itu sejenak, ragu apakah benda ringkih itu sanggup menahan berat tubuhnya. Dengan sangat canggung, ia akhirnya duduk. Kakinya yang panjang terpaksa tertekuk karena meja yang terlalu rendah, membuatnya terlihat semakin mencolok.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Liam pada sekelompok siswi SMA di meja sebelah yang sedari tadi mencuri pandang sambil berbisik.
Liam memberikan tatapan dingin yang tajam, membuat gadis-gadis itu langsung membuang muka karena takut.
"Liam! Jangan menakuti mereka!" tegur Cassie sambil menahan tawa. "Kau ini benar-benar ya. Cobalah untuk rileks sedikit."
Meski ia merasa sangat tidak pada tempatnya, meski ia membenci bau asap gorengan yang menempel di jas mahalnya, Liam tidak beranjak.
Matanya terus mengawasi Cassie yang sedang tertawa senang, dan itu cukup bagi Liam untuk bertahan di kursi plastik yang sempit ini.
Pesanan pun datang. Cassie menyodorkan tusukan kayu berisi kue beras yang masih mengepul ke arah mulut Liam.
"Ayo, buka mulutmu. Rasakan tren anak muda ini."
Liam menatap makanan itu, lalu menatap Cassie. Dengan helaan napas pasrah, ia akhirnya membuka mulut dan menerima suapan pertama itu.
Begitu saus merah itu menyentuh lidahnya, mata Liam langsung membelalak. Untuk beberapa detik, ia membeku. Rasa pedas yang menyengat langsung menyerang tenggorokannya, diikuti rasa manis dan tekstur kenyal yang sangat asing bagi seleranya yang biasa dimanjakan makanan Barat.
"Cassie!" Liam tersedak kecil, wajahnya yang tadi pucat dingin dalam sekejap berubah menjadi kemerahan hingga ke telinga. "Apa-apaan ini? Kau mencoba meracuniku dengan gumpalan karet pedas?"
"Kunyah, Liam! Rasanya enak, kan?" Cassie tertawa puas melihat reaksi pria tangguh itu yang kini sibuk mencari oksigen.
Liam mengunyahnya dengan ekspresi luar biasa heran. "Teksturnya aneh sekali. Seperti mengunyah penghapus pensil yang direndam cabai. Ini tidak masuk akal secara kuliner!"
Meskipun mulutnya tidak berhenti mengomel dan ia terus mengibas-ngibaskan tangan di depan mulutnya yang kepedasan, Liam tidak berhenti. Ia justru meraih tusukan kayu miliknya sendiri dan mengambil satu potong lagi. Lalu satu lagi.
"Katanya aneh, tapi kenapa diambil terus?" goda Cassie sambil menyodorkan segelas minuman dingin untuk meredakan kebakaran di mulut Liam.
Liam menyambar gelas itu dan meminumnya hingga tandas dalam sekali teguk. "Aku hanya sedang memastikan... bagian mana yang membuat teman-temanmu itu gila. Aku harus melakukan observasi mendalam agar bisa melarangmu makan ini lagi," dalihnya dengan gengsi setinggi langit.
Namun, omelannya berbanding terbalik dengan gerakannya. Liam mulai mencoba ayam goreng madunya, lalu kembali lagi ke tteokbokki pedas itu. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya, dan jas mahalnya kini disampirkan di sandaran kursi plastik dengan sembarangan.
"Akui saja, Liam. Kau suka, kan?"
Liam mendengus, membersihkan sudut bibirnya dengan tisu dengan gerakan yang tetap terlihat elegan meski ia sedang duduk di pinggir jalan yang berdebu.
"Sausnya lumayan. Tapi tetap saja, ini makanan yang tidak efisien. Membuatku berkeringat seperti habis lari maraton."
Cassie tersenyum lebar melihat piring Liam yang mulai kosong. Pria yang pagi tadi terlihat sangat kelam, kini ada di depannya, sedang sibuk mengomeli rasa pedas sambil terus menghabiskan makanannya.
"Habis juga, kan?" ledek Cassie saat Liam menusuk potongan terakhir.
"Hanya karena aku tidak suka menyia-nyiakan makanan yang sudah dibayar," sahut Liam datar, meski wajahnya masih memerah. Ia menatap Cassie, lalu senyum miringnya muncul kembali.
"Tapi oke, aku mengerti kenapa drakor itu laku. Jika semua pemerannya makan sambil menderita kepedasan seperti ini, penonton pasti merasa kasihan dan terus menonton."
Cassie tertawa lepas, ia merasa sangat bahagia. Sore ini, tteokbokki pinggir jalan berhasil mengalahkan hantu bernama Amanda dalam kepala Liam.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭