NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Melawan Arus Penghapusan

​Langit Novel-City kini bukan lagi milik manusia atau penyihir. Warna hijau neon yang berpijar di atas sana terasa seperti radiasi yang membakar mata. Aruna berdiri mematung di samping mobil listriknya yang tiba-tiba mati total, menatap sosok raksasa berkepala bola lampu merah yang kini mendominasi cakrawala jalanan Sudirman.

​"Arvand, lari!" teriak Aruna saat melihat raksasa itu mengayunkan penghapus raksasanya ke arah deretan ruko di depan mereka.

​Srettt!

​Tanpa suara ledakan, bangunan ruko permanen itu lenyap seketika, digantikan oleh hamparan putih hampa yang terlihat seperti kanvas kosong yang belum digambar. Tidak ada debu, tidak ada puing. Hanya kekosongan yang mengerikan.

​"Ilegal... Ilegal..." suara raksasa itu bergema, datar dan mekanis, membuat bulu kuduk berdiri.

​Arvand menarik tangan Aruna, memaksa istrinya berlari ke arah gang sempit di antara gedung perkantoran yang belum terhapus. "Kita tidak bisa pakai mobil! Benda-benda modern mulai kehilangan fungsinya karena waktu sedang ditarik mundur!"

​Benar saja, saat mereka berlari, Aruna melihat pemandangan yang gila. Seorang pria yang tadinya memegang ponsel pintar tiba-tiba kebingungan karena ponselnya berubah menjadi pager, lalu menjadi tumpukan surat kertas dalam hitungan detik. Orang-orang di sekitar mereka mulai berjalan mundur dengan gerakan kaku, seperti rekaman video yang diputar balik.

​"Sera bilang Titik Hapus ada di pusat Monas!" Aruna terengah-engah, paru-parunya terasa terbakar. "Kita harus sampai ke sana sebelum tengah malam, Arvand! Kalau tidak, kita semua akan kembali ke Bab 1. Kamu akan lupa padaku!"

​Arvand berhenti sejenak, menatap Aruna dengan tatapan yang tajam namun penuh cinta. Ia merobek lengan kemejanya yang mulai berubah menjadi kain kasar khas jelata di draf awal novel. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Walaupun dunia ini kembali menjadi coretan pensil, aku akan mencarimu di setiap lembarnya."

​"Arsitek terdeteksi. Proses revisi dimulai," suara raksasa Editor itu kini terdengar tepat di atas kepala mereka.

​Cahaya merah dari kepala bola lampunya menyinari gang sempit itu. Arvand mendorong Aruna ke balik bak sampah besar tepat saat penghapus raksasa itu menghantam dinding gedung di atas mereka. Bagian atas gedung itu hilang, menyisakan langit hijau yang mengerikan.

​"Arvand, kita terjepit!" Aruna melihat ke ujung gang. Sosok anak berambut perak... Yang mengaku sebagai Arel yang "asli" berdiri di sana sambil memainkan sebuah belati dari tinta hitam.

​"Mau lari ke mana, Ibu? Ayah?" anak itu terkekeh. "Editor tidak suka karakter yang mencoba keluar dari garis margin. Kalian adalah coretan yang salah tempat."

​Arvand menghunus pedang patahnya. Anehnya, meskipun dunia sedang terhapus, pedang itu justru semakin bersinar terang. "Kau bukan anakku. Kau hanyalah sisa tinta yang pahit."

​"Sisa tinta yang akan menggantikan kesayanganmu!" anak itu menerjang dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

​Pertarungan pecah di dalam gang sempit yang remang-remang. Arvand bergerak dengan insting liar. Tanpa kekuatan sihir, ia murni mengandalkan teknik tempur yang selama ini Aruna tuliskan untuknya. Setiap dentingan pedang dan belati mengeluarkan percikan api yang anehnya berwarna hitam.

​Sementara itu, Aruna mencoba mencari sesuatu yang bisa membantu. Ia meraba sakunya dan menemukan kunci berlian hitam yang tadi dikatakan sudah mati. Ternyata, kunci itu tidak mati, ia hanya bereaksi terhadap penghapusan. Kunci itu bergetar hebat setiap kali Editor mendekat.

​"Kunci ini... ini bukan cuma kunci pintu!" gumam Aruna. Ia mencoba mengarahkan kunci itu ke arah raksasa Editor di atas sana. "Kunci ini adalah pena cadangan!"

​Aruna memejamkan mata, mencoba menggali sisa-sisa kemampuannya yang terkubur. Ia tidak mencoba menulis takdir besar, ia hanya mencoba menulis satu kata di udara menggunakan kunci itu: INTERUPSI.

​Cahaya emas tipis keluar dari ujung kunci berlian, membentuk tulisan di udara. Seketika, gerakan raksasa Editor itu membeku selama beberapa detik. Lampu merah di kepalanya berkedip-kedip kacau.

​"Arvand, sekarang! Lari ke arah stasiun bawah tanah!" teriak Aruna.

​Arvand memberikan tendangan kuat ke dada anak berambut perak itu, membuatnya terpental ke tumpukan kertas naskah yang mulai membusuk, lalu ia menyambar tangan Aruna. Mereka melompat ke arah tangga stasiun bawah tanah yang masih utuh.

​Di dalam stasiun, suasananya jauh lebih tenang, meski debu-debu putih mulai turun dari langit-langit seperti salju yang mematikan. Aruna melihat jam dinding stasiun. Jarumnya berputar liar ke arah kiri. Pukul 11:30 malam, tapi di dunia ini, waktu bisa habis kapan saja.

​"Kita harus lewat terowongan rel. Itu jalur tercepat ke Monas," Arvand memimpin jalan, melompati pagar pembatas yang mulai berubah menjadi pagar kayu tua.

​Saat mereka berlari di kegelapan terowongan, Aruna merasakan getaran hebat dari atas tanah. Editor itu sedang menghancurkan jalanan di atas mereka untuk mencari mereka.

​"Aruna, kalau kita sampai di Titik Hapus... apa yang harus kita lakukan?" tanya Arvand di tengah deru napas mereka.

​"Aku harus memasukkan kunci ini ke inti energi Monas. Itu akan melakukan Hard Reset yang sebenarnya. Bukan menghapus kita, tapi menghapus Editor dan sistem otoritasnya," Aruna menjelaskan. "Tapi resikonya... dunia ini mungkin tidak akan punya 'cerita' lagi. Kita akan benar-benar hidup tanpa ada plot sama sekali."

​"Itu impianku sejak dulu," Arvand tersenyum tipis.

​Mereka sampai di area bawah Monas. Melalui celah-celah fondasi yang mulai retak, Aruna bisa melihat cahaya putih yang menyilaukan memancar dari kedalaman tanah. Itulah Titik Hapus. Energi murni yang digunakan untuk menggambar ulang seluruh semesta novel ini.

​Namun, di depan inti energi itu, berdiri sosok yang membuat jantung Aruna mencelos.

​Arel. Anak mereka yang asli.

​Bocah itu berdiri mematung dengan mata emas yang meredup. Di lehernya, melilit kabel-kabel cahaya merah yang terhubung langsung ke raksasa Editor di atas tanah.

​"Arel!" Aruna hendak berlari, tapi Arvand menahannya.

​"Tunggu, Aruna. Lihat kakinya."

​Di bawah kaki Arel, tanah sudah hilang sepenuhnya. Bocah itu melayang di atas jurang putih hampa. Ia dijadikan sebagai jangkar hidup untuk proses Reboot ini. Editor menggunakan energi murni Arel untuk menghapus dunia yang sekarang dan menggantinya dengan Bab 1 yang baru.

​"Ibu... Ayah..." suara Arel terdengar sangat lemah, bergema di ruangan bawah tanah yang luas itu. "Jangan mendekat... Editor akan menghapus kalian kalau kalian menyentuh kabel ini."

​"Kami tidak akan meninggalkanmu, Nak!" Arvand melangkah maju, pedangnya siap memotong kabel cahaya itu.

​Tiba-tiba, suara tawa anak berambut perak kembali terdengar dari bayangan. "Percuma, Jenderal. Kabel itu dibuat dari 'Keinginan Pembaca'. Semakin kau mencoba memotongnya, semakin kuat ia menjerat leher saudaraku ini."

​Anak berambut perak itu muncul dari kegelapan, kali ini tubuhnya mulai menyatu dengan bayangan Editor di atas. "Pilihannya cuma dua: Biarkan Arel menghapus dunia ini dan kalian kembali jadi orang asing, atau kau hapus Arel sekarang juga dengan kunci itu untuk menghentikan prosesnya."

​Aruna menatap kunci berlian hitam di tangannya. Benar. Kunci ini bisa menghancurkan inti energi, tapi karena Arel adalah bagian dari inti tersebut, menghancurkannya berarti menghapus Arel selamanya dari ingatan semesta.

​"Tidak mungkin... pasti ada jalan ketiga!" Aruna berteriak frustrasi.

​"Tidak ada jalan ketiga dalam naskah yang sudah mentok, Aruna!" Editor raksasa itu kini menjebol atap bawah tanah dengan tangan raksasanya. Cahaya merah dari kepalanya menyinari mereka semua. "Pilih! Keselamatan dunia, atau keselamatan anak haram naskah ini?"

​Arvand menatap Aruna, lalu menatap Arel. Ia menjatuhkan pedangnya. "Aruna... ingat saat kau menulis tentang 'Pengorbanan Ksatria' di Bab 12? Kau bilang, ksatria sejati bukan dia yang mati di medan perang, tapi dia yang berani menentang penulisnya demi apa yang benar."

​Aruna tersentak. Ia ingat kalimat itu. Itu adalah kalimat yang ia tulis saat ia sedang sangat idealis, sebelum editor dunia nyata menuntutnya untuk membuat alur yang lebih komersial.

​"Arvand, apa yang mau kamu lakukan?"

​Arvand berjalan mendekati Arel, melewati garis batas putih yang mulai menghapus sepatunya. "Aku bukan ksatria naskahmu lagi, Aruna. Aku adalah suamimu. Dan seorang ayah tidak akan pernah membiarkan anaknya menjadi tumbal."

​Arvand meraih kabel-kabel cahaya merah itu dengan tangan kosong. Seketika, tubuh Arvand mulai bergetar hebat. Kulitnya mulai memucat, berubah menjadi garis-garis sketsa pensil. Ia mencoba mengalihkan seluruh proses penghapusan dari tubuh Arel ke tubuhnya sendiri.

​"Arvand, jangan! Kamu akan terhapus!" Aruna menjerit, mencoba mengejar namun tertahan oleh angin kencang yang keluar dari inti energi.

​"Gunakan kuncinya sekarang, Aruna!" teriak Arvand, suaranya mulai terdengar seperti gema digital. "Hancurkan intinya saat aku menahan bebannya! Cepat!"

​Arel mulai terlepas dari jeratan kabel, namun Arvand semakin menghilang. Setengah tubuhnya sudah menjadi transparan, memperlihatkan barisan kode-kode naskah yang hancur di baliknya.

​Aruna mengangkat kunci berlian hitam itu dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh mengenai kunci tersebut, membuatnya bersinar dengan warna yang belum pernah ia lihat sebelumnya: warna pelangi yang cair.

​"Maafkan aku, Arvand..." bisik Aruna.

​Ia tidak menusukkan kuncinya ke inti energi. Ia justru menusukkan kunci itu ke dadanya sendiri, ke tempat di mana jantungnya berdetak.

​"Jika aku adalah penulisnya, maka aku adalah inti dari segala inti!" Aruna berteriak ke arah Editor. "Aku tidak akan menghapus duniamu, aku akan menghapus diriku sendiri dari naskahmu agar mereka bisa bebas!"

​Cahaya putih meledak dari tubuh Aruna, menelan seluruh ruangan bawah tanah, menelan Monas, dan menelan seluruh Novel-City.

​Aruna membuka matanya.

​Ia berada di sebuah ruangan yang sangat putih dan bersih. Tidak ada mesin tik, tidak ada editor raksasa. Hanya ada sebuah kursi kayu dan sebuah meja dengan satu buku catatan kosong.

​Ia melihat tangannya. Ia kembali mengenakan baju rumah sakit. Namun, di pergelangan tangannya, ada sebuah gelang identitas pasien bertuliskan: Aruna (Status: Sembuh Total).

​Ia menoleh ke samping. Di atas meja, ada sebuah foto. Foto dirinya bersama seorang pria tampan dan seorang anak laki-laki yang sedang tertawa di depan Monas yang asli. Namun, wajah pria dan anak itu tertutup oleh bercak tinta hitam yang besar.

​Aruna mencoba mengingat nama mereka, namun kepalanya terasa kosong. Sangat kosong. Ia tahu ia mencintai mereka, ia tahu ia pernah berjuang untuk mereka, tapi ia tidak tahu siapa mereka.

​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk dengan senyum ramah.

​"Selamat, Bu Aruna. Hari ini Anda sudah boleh pulang. Keluarga Anda sudah menunggu di lobi."

​"Keluarga saya?" Aruna bertanya dengan bingung. "Siapa?"

​"Suami dan anak Anda, tentu saja," perawat itu terkekeh. "Mereka bilang sudah tidak sabar ingin mengajak Ibu makan sate ayam di pasar."

​Aruna berjalan menuju lobi dengan jantung berdebar. Begitu ia sampai di sana, ia melihat seorang pria dan anak kecil berdiri membelakanginya. Mereka mengenakan pakaian modern yang rapi.

​Saat mereka berbalik, Aruna tertegun. Pria itu memiliki wajah yang asing, begitu juga anaknya. Mereka bukan Arvand dan Arel yang ia kenal. Mereka tampak seperti orang-orang biasa di Jakarta.

​Namun, saat pria itu tersenyum dan memberikan sebuah buket bunga mawar, ia membisikkan sesuatu yang membuat seluruh dunia Aruna seolah runtuh kembali.

​"Selamat datang kembali, Aruna. Terima kasih sudah menulis akhir yang baru untuk kita... meski harganya adalah wajah kita di ingatanmu."

​Aruna menatap mata pria itu. Di kedalaman matanya yang berwarna cokelat biasa, ia melihat kilatan pedang yang patah dan cahaya emas yang murni.

​"Arvand? Arel?" bisik Aruna.

​Pria itu hanya tersenyum sedih dan menggeleng. "Nama itu sudah dihapus, Sayang. Sekarang, panggil aku dengan nama yang kau berikan di draf paling awal, sebelum semua kegilaan ini dimulai."

​Tepat saat Aruna hendak menjawab, ponselnya di saku bergetar. Sebuah pesan masuk dari editor dunia nyatanya.

​"Aruna, selamat atas kesembuhanmu! Omong-omong, novelmu meledak! Tapi ada banyak pembaca yang protes... mereka bilang bab terakhirmu terlalu gantung. Mereka ingin tahu, siapa sebenarnya pria yang menjemputmu di rumah sakit itu? Apakah dia antagonis yang menyamar?"

​Aruna menatap pria di depannya, lalu menatap pesan di ponselnya. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan.

​Pria di depannya tidak memiliki bayangan di lantai rumah sakit yang terang itu.

​Siapakah sebenarnya pria yang menjemput Aruna tersebut? Jika Arvand dan Arel sudah terhapus, siapakah entitas yang kini berpura-pura menjadi keluarga Aruna? Dan apakah Aruna benar-benar sudah kembali ke dunia nyata, ataukah ini hanyalah 'Bab Epilog' yang diciptakan oleh Editor untuk menipu kesadarannya?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Erchapram: Siapa pun yang tidak berpihak... 🤭
total 1 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!