NovelToon NovelToon
TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM PEMBURUAN DIMULAI

Malam perlahan turun menyelimuti wilayah perbatasan.

Langit yang sebelumnya berwarna jingga kini berubah menjadi gelap. Hanya cahaya bulan yang samar-samar menerangi pegunungan dan hutan di sekitar perbatasan.

Jauh di dalam pegunungan, beberapa sosok berlari cepat melewati jalur sempit yang tersembunyi.

Mereka adalah para mata-mata bandit yang baru saja kembali dari desa pertahanan.

Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi.

Di sanalah markas utama kelompok bandit berada.

Seorang pria bertubuh besar duduk di kursi kayu kasar di tengah perkemahan. Bekas luka panjang membentang di wajahnya, membuat penampilannya terlihat semakin garang.

Dialah pemimpin kelompok bandit.

Begitu melihat para mata-mata kembali, ia langsung mengangkat kepala.

"Bagaimana keadaan di desa?"

Salah satu mata-mata segera berlutut.

"Kami berhasil mendapatkan informasi penting."

"Oh?"

Pemimpin bandit menyeringai.

"Apa itu?"

Mata-mata tersebut menjawab dengan penuh keyakinan.

"Rumor telah menyebar ke seluruh desa."

"Konon malam ini Panglima Gu akan memimpin seratus prajurit untuk menyerang markas kita."

Sejenak suasana menjadi hening.

Kemudian...

"Hahahaha!"

Tawa keras pemimpin bandit menggema di seluruh perkemahan.

Para bandit lain ikut tertawa.

Wajah mereka dipenuhi rasa puas.

"kalian yakin ini bukan jebakan?"

"tentu saja buka, penjagaan mereka sangat ketat"

"kami adalah mata-mata terpilih mereka tidak akan menyadarinya"

"hahaha bagus-bagus"

mereka semua kembali ketawa.

"Aku pikir wanita itu berbeda dari para panglima sebelumnya."

"Ternyata sama saja."

"Masih muda dan terlalu percaya diri."

"Berani datang ke markas kita hanya dengan seratus orang?"

"Dia benar-benar mencari kematian."

Tawa mereka semakin keras.

Selama ini mereka telah menyiapkan berbagai jebakan di sepanjang jalur menuju markas.

Tebing curam.

Lubang perangkap.

Panah tersembunyi.

Batu longsor yang siap dijatuhkan kapan saja.

Mereka sangat yakin bahwa siapa pun yang mencoba menyerang akan mati sebelum mencapai markas.

"Datanglah ke sini."

Pemimpin bandit tersenyum dingin.

"Tempat ini akan menjadi pemakaman kalian."

Seluruh bandit mengangguk penuh percaya diri.

Dalam kegembiraan mereka, tak seorang pun menyadari satu hal penting.

Masih ada seorang mata-mata yang mereka kirim ke desa yang belum kembali.

Namun saat ini mereka terlalu sibuk merayakan kabar tersebut.

Mereka tidak mempedulikannya sama sekali.

"Baiklah!"

Pemimpin bandit berdiri.

"Seperti biasa, kita akan menunggu mereka datang."

"Siap!"

Seluruh bandit menjawab serempak.

Tak lama kemudian mereka mulai bergerak.

Sebagian menuju tebing kiri.

Sebagian menuju tebing kanan.

Sebagian lagi bersembunyi di dalam hutan.

Masing-masing menuju posisi yang telah ditentukan untuk menyiapkan penyergapan.

Mereka membayangkan bagaimana pasukan Gu Yanran akan berjalan masuk ke dalam perangkap yang sudah mereka persiapkan.

Tidak ada satu pun yang menyadari bahwa merekalah yang sedang masuk ke dalam perangkap.

---

Sementara itu, di markas pertahanan.

DONG!

DONG!

DONG!

Lonceng markas kembali dibunyikan.

Para prajurit segera meninggalkan tugas mereka dan bergegas menuju lapangan utama.

Dalam waktu singkat seluruh pasukan telah berkumpul.

Mereka berdiri dalam barisan yang rapi.

Di depan mereka berdiri Gu Yanran.

Wanita itu mengenakan baju zirah perak yang berkilauan di bawah cahaya obor.

Tatapannya tenang.

Namun seluruh prajurit dapat merasakan aura percaya diri yang kuat darinya.

Gu Yanran membuka peta besar di atas meja kayu.

"Semuanya sudah berkumpul?"

"Sudah, Panglima!"

jawab para prajurit serempak.

Gu Yanran mengangguk pelan.

"Sesuai rumor yang telah beredar, malam ini kita memang akan menyerang para bandit."

Mendengar itu, para prajurit langsung saling memandang.

Mereka kembali kebingungan.

Bukankah sebelumnya Panglima mengatakan bahwa mereka tidak akan menyerang markas musuh?

Melihat ekspresi mereka, Gu Yanran tersenyum tipis.

"Aku tahu apa yang sedang kalian pikirkan."

"Tapi kita tidak akan menyerang markas mereka."

"Dan kita juga tidak akan menyerang sekarang."

Para prajurit mulai mengangguk.

Mereka tahu.

Jika Panglima Gu mengatakan sesuatu seperti itu, berarti pasti ada rencana lain yang jauh lebih besar.

Gu Yanran menunjuk peta di atas papan.

"Ini adalah markas utama mereka."

Jarinya kemudian bergerak ke sebuah jalur sempit.

"Dan ini satu-satunya jalan masuk menuju markas."

Semua orang memperhatikan dengan saksama.

Di sisi kiri dan kanan jalur itu terdapat pegunungan curam.

Sementara bagian belakangnya adalah hutan lebat.

"Jika kita memasuki jalan ini," lanjut Gu Yanran, "kita akan kehilangan semua jalur mundur."

Para prajurit mengangguk setuju.

Mereka memahami bahayanya.

Gu Yanran lalu bertanya,

"Kalian tahu alasannya?"

Seorang prajurit segera menjawab.

"Karena di sisi kiri dan kanan terdapat posisi persembunyian musuh."

"Mereka bisa menyerang kita dari atas kapan saja."

Senyum tipis muncul di wajah Gu Yanran.

"Benar."

"Itulah sebabnya kita tidak akan memasuki jalan ini."

Para prajurit mulai memahami arah pembicaraan.

Gu Yanran melanjutkan.

"Kita akan menyerang posisi persembunyian mereka terlebih dahulu."

Jarinya menunjuk sisi kiri pegunungan.

"Lalu sisi kanan."

Seorang prajurit mengangkat tangan.

"Panglima, bagaimana jika mereka tidak terpancing?"

Gu Yanran kembali tersenyum.

"Tentu saja mereka akan terpancing."

"Mengapa Panglima begitu yakin?"

Karena...

"Mata-mata mereka tidak kembali."

Jawaban singkat itu langsung membuat para prajurit terdiam.

Gu Yanran melanjutkan.

"Mereka tidak mengetahui bahwa salah satu mata-mata mereka telah tertangkap."

"Artinya mereka percaya seluruh informasi yang diterima adalah benar."

"Mereka pasti sedang mempersiapkan jebakan untuk menyambut kita."

Mata para prajurit langsung berbinar.

Kini mereka benar-benar mengerti.

Seluruh rumor yang disebarkan sejak pagi ternyata merupakan bagian dari strategi.

Mereka sengaja membuat musuh percaya bahwa pasukan akan menyerang markas.

Akibatnya para bandit akan bergerak menuju posisi penyergapan dan menunggu sepanjang malam.

Dengan begitu mereka akan kelelahan sebelum pertempuran dimulai.

"Panglima memang luar biasa."

"Benar."

"Strategi ini benar-benar hebat."

Bisikan kagum terdengar di berbagai sudut.

Gu Yanran mengangkat tangan.

"Baiklah."

"Sudah waktunya menjelaskan tugas kalian."

Suasana kembali tenang.

"Tiga puluh prajurit akan bergerak ke sisi kiri pegunungan."

"Tiga puluh lainnya menuju sisi kanan."

"Tiga puluh orang lagi memasuki hutan dan membersihkan seluruh titik persembunyian."

"Jangan biarkan satu pun musuh lolos."

"Siap, Panglima!"

jawab mereka serempak.

Gu Yanran kemudian menunjuk dirinya sendiri.

"Sepuluh orang sisanya ikut denganku."

"Kita akan menuju markas utama mereka."

Para prajurit langsung mengepalkan tangan di dada.

"Siap!"

"Bagus."

Gu Yanran lalu mengambil sebuah jam pasir dan membalikkannya.

Pasir mulai mengalir perlahan.

"Kita berangkat setelah pasir ini habis."

"Gunakan waktu ini untuk mempersiapkan diri."

"Periksa senjata kalian."

"Pastikan tidak ada kesalahan."

"Siap!"

---

Di sisi lain pegunungan.

Para bandit masih menunggu.

Angin malam bertiup semakin dingin.

Mereka tidak berani menyalakan api unggun.

Jika cahaya terlihat dari kejauhan, posisi mereka akan langsung terbongkar.

Akibatnya mereka hanya bisa duduk diam dalam kegelapan.

Sebagian mulai mengantuk.

Sebagian lain memeluk tubuh karena kedinginan.

"Waktu terasa lama sekali."

"Kenapa mereka belum datang?"

"Apa pasukan itu tersesat?"

Beberapa bandit mulai mengeluh.

Namun pemimpin mereka tetap yakin.

"Mereka pasti datang."

"Tunggu saja."

Malam semakin larut.

Dan para bandit terus menunggu.

Tanpa mereka sadari, kelelahan perlahan mulai menggerogoti tubuh mereka.

---

Sementara itu, di markas pertahanan.

Jam pasir hampir habis.

Seluruh prajurit telah mengenakan zirah masing-masing.

Pedang dan tombak tergantung rapi di sisi tubuh mereka.

Kuda-kuda perang telah disiapkan.

Suasana dipenuhi semangat tempur.

Di depan barisan, Gu Yanran berdiri dengan gagah.

Jubah hitamnya berkibar diterpa angin malam.

Tatapannya menyapu seluruh pasukan.

"Kalian siap?"

Suara lantangnya menggema di lapangan.

"SIAP!"

jawab seluruh prajurit serempak.

"Siapa kalian?"

"KAMI PRAJURIT PANGLIMA GU!"

"Siapa kalian?"

"KAMI HARIMAU PERBATASAN!"

Suara mereka mengguncang udara malam.

Semangat tempur membara di setiap wajah.

Gu Yanran mengangguk puas.

"Siapkan kuda kalian."

"Setelah mencapai kaki gunung, tinggalkan kuda-kuda itu."

"Selanjutnya kita bergerak diam-diam."

"Siap, Panglima!"

Para prajurit menjawab penuh semangat.

Tatapan kagum memenuhi wajah mereka.

Semakin mereka mengikuti Gu Yanran, semakin mereka menyadari betapa luar biasanya wanita itu.

Dalam waktu satu hari saja, ia mampu merancang strategi yang memanfaatkan informasi, psikologi musuh, dan kondisi medan sekaligus.

Ia membuat para bandit menunggu sepanjang malam.

Membuat mereka kelelahan.

Membuat mereka meninggalkan posisi aman.

Dan sebentar lagi...

Saat para bandit masih menatap jalan masuk sambil menunggu pasukan yang tidak akan pernah datang...

Pasukan Gu Yanran akan muncul dari arah yang sama sekali tidak mereka duga.

Perburuan malam itu akhirnya dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!