NovelToon NovelToon
Aku Pergi Membawa Benih Yang Kau Benci

Aku Pergi Membawa Benih Yang Kau Benci

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Obsesi / Menikah dengan Kerabat Mantan / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Dalam diamnya luka, Alina memilih pergi.

Saat menikah satu tahun lalu, ia dicintai atau ia pikir begitu. Namun cinta Rama berubah dingin saat sebuah dua garis merah muncul di test pack-nya. Alih-alih bahagia, pria yang dulu mengucap janji setia malah memintanya menggugurkan bayi itu.

"Gugurkan! Aku belum siap jadi Ayah." Tatapan Rama dipenuhi kebencian saat melihat dua garis merah di test pack.

Hancur, Alina pun pergi membawa benih yang dibenci suaminya. Tanpa jejak, tanpa pamit. Ia melahirkan seorang anak lelaki di kota asing, membesarkannya dengan air mata dan harapan agar suatu hari anak itu tahu jika ia lahir dari cinta, bukan dari kebencian.

Namun takdir tak pernah benar-benar membiarkan masa lalu terkubur. Lima tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan.

Saat mata Rama bertemu dengan mata kecil yang begitu mirip dengan nya, akhirnya Rama meyakini jika anak itu adalah anaknya. Rahasia masa lalu pun mulai terungkap...

Tapi, akankah Alina mampu memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter - 31.

Gendis masih berdiri kaku di ambang pintu, tubuhnya bergetar halus, dan air matanya menggantung di pelupuk mata nyaris jatuh namun tertahan oleh sisa-sisa harga diri yang mencoba ia jaga.

“Astagfirullah, Nduk… nyebut!” Suara Bu Laksmi memecah keheningan. Rupanya sang ibu mengikuti Gendis dari belakang, merasa ada yang ganjil saat putrinya keluar membawa bayinya.

Gendis tidak menoleh pada sang Ibu, ia menatap Rama yang masih duduk di dalam rumah. Matanya sembab, tapi sorotnya penuh luka yang tak bisa dihapus.

“Mas… aku kira Mas Rama punya perasaan padaku. Waktu aku hamil besar, Mas sering pegang perutku… terus bilang, ‘Nak, mau om Rama jadi papa kamu?'" Suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh angin sore yang berembus pelan.

Gendis menarik nafas untuk meredakan emosi nya. “Awalnya aku pikir, itu cuma candaan. Tapi Mas selalu ada saat aku butuhkan, selalu muncul ketika aku rapuh... lalu aku simpan semua ucapan Mas dalam hati.”

Rama tercekat, kata-kata sanggahan yang tadi hendak ia ucapkan menguap. Lidahnya kelu, seolah dunia menahannya untuk membela diri.

Gendis menunduk, bahunya berguncang pelan. “Mas Rama sudah memberi harapan padaku… harapan yang nyatanya cuma semu.”

Nyonya Ayunda yang ikut menyaksikan hanya bisa menghela nafas panjang, mencoba meredakan suasana yang semakin menegang. “Duh, nggak baik wanita baru melahirkan menangis begitu… takutnya kena baby blues…”

Tanpa banyak bicara, Rama bangkit dari duduknya. Ia menoleh pada Bu Laksmi. “Buk… boleh dedeknya digendong dulu? Saya ingin bicara berdua dengan Mbak Gendis.”

Bu Laksmi hanya mengangguk lirih sambil menyambut bayi perempuan itu dari pelukan putrinya. “Maaf ya, Le. Sejak kamu pamit, tiba-tiba Gendis jadi gelisah.”

“Saya paham, Buk.” Rama menatap bayi itu sejenak sebelum kembali menatap Gendis. “Dan saya tahu… saya punya andil kenapa Mbak Gendis bisa seperti ini.”

Kini hanya mereka berdua di teras rumah yang diterangi cahaya sinar matahari sore. Tapi dari balik pintu, Viola diam-diam menguping saking penasarannya.

Rama mengulurkan sapu tangannya, Gendis menerimanya dengan tangan gemetar. Ia menghapus air mata yang akhirnya jatuh juga, menjadi saksi retaknya perasaan yang ia simpan diam-diam.

“Aku minta maaf… kalau sikapku selama ini membuatmu salah paham, Ndis.” Untuk pertama kalinya, Rama berbicara tanpa jarak. Tak ada lagi embel-embel 'Mbak' yang selama ini menjadi batas formalitas di antara mereka.

Gendis menggeleng pelan. “Aku nggak nyalahin Mas Rama… tapi apa aku salah kalau berharap?”

“Tidak, kamu nggak salah. Akulah yang seharusnya menjelaskan sejak awal…”

Rama menarik nafas dalam, seolah butuh kekuatan untuk mengucapkan sesuatu yang selama ini ia simpan.

“Semua yang kulakukan selama kamu hamil… perhatian, kebaikan, itu bukan karena aku mempunyai rasa padamu. Tapi karena aku sedang… menebus dosa masa lalu. Dulu, aku punya istri dan aku pernah jadi lelaki bodoh yang meragukan anak yang dikandungnya. Aku terhasut, dan aku menyuruhnya menggugurkan… tapi dia wanita kuat, Ndis. Dia menggugat cerai dan pergi dariku. Lima tahun kemudian, kami bertemu lagi. Dan saat semua kebenaran terbongkar… ternyata anak itu benar-benar anakku.”

Suara Rama pecah di ujung kalimatnya, Gendis tak berkata-kata. Ia diam, namun wajahnya perlahan menegang.

“Aku pikir… saat aku dipertemukan denganmu, Tuhan memberiku kesempatan untuk menebus semua penyesalan itu. Lewat kamu… lewat anak yang kamu kandung. Aku bisa menebus waktu-waktu yang aku lewatkan dulu, saat aku tak ada untuknya... disaat mantan istriku membutuhkan ku.“

Gendis mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dadanya sesak, seolah dunia menghimpiitnya tanpa ampun.

“Aku paham... Mas pernah bilang, Mas sedang kabur dari bayang-bayang masa lalu. Dan kalau jiwa Mas sudah sembuh, Mas akan pergi. Jadi, ini maksudnya?” lirihnya pelan.

Rama mengangguk dengan tegas. “Ya.”

Satu kata itu, begitu tegas... begitu menghantam.

Gendis tercekat, ternyata… semua hanya kesalahpahaman. Dia hanyalah tempat singgah sementara bagi Rama yang sedang berziarah dalam luka-lukanya sendiri.

Perlahan, Gendis bangkit dari kursi. Kakinya lemas, namun ia tetap berdiri. Meski tubuhnya gemetar, sorot matanya kini tenang.

“Aku mengerti, Mas.” Suaranya pelan tapi tajam. “Maaf… tadi aku terlalu terbawa perasaan dan membuat suasana jadi tak nyaman. Semoga perjalanan pulang Mas lancar… dan aku doakan, semoga Mas mendapat jodoh yang lebih baik. Yang tak harus menjadi tempat penebusan siapa-siapa.”

Jleb!

Tiba-tiba hati Rama terasa tertussuk.

Gendis menoleh ke arah ibunya. “Buk… ayo pulang.”

Tanpa menunggu, Gendis melangkah lebih dulu meninggalkan halaman rumah dengan langkah gontai. Ia tak menoleh lagi ke belakang, ke arah Rama yang sedang menatap punggungnya. Namun dari sorot matanya, luka itu begitu nyata. Hatinya robeekk, sekali lagi. Kali ini bukan karena Galang, tapi karena harapan baru yang ternyata palsu sejak awal.

Dan semuanya… menyakitkan.

Rama hanya bisa menatap punggung wanita yang baru saja melahirkan itu. Punggung yang beberapa bulan ini tampak kuat setelah hantaman badai pengkhianatan dan perceraian, kini kembali terlihat rapuh.

Ia tak tahu, apakah ia melakukan yang benar… atau justru kembali menjadi pengecut yang menyembunyikan luka, lalu melukai hati yang lain.

Viola menahan nafasnya dalam-dalam di balik pintu. Detik-detik terasa membeku, seolah udara pun menolak bergerak. Perlahan ia membalikkan tubuh, menatap wajah-wajah tegang yang menunggunya di dalam. Dengan suara bergetar namun jelas, Viola mulai menceritakan apa yang baru saja didengarnya.

Setelah mendengar nya, Alina sontak berdiri. Ia melangkah tegas menuju teras, di mana Rama masih terduduk diam seperti patung. Pandangannya kosong, seakan seluruh beban dunia bersandar di pundaknya.

Alina berhenti tepat di hadapan pria itu. Hening sejenak, sebelum suara dingin dan tajamnya menembus udara.

“Mas... Sekali lagi, kau melukai hati seorang wanita.”

Kalimat itu tidak meledak, tapi menghantam keras. Suaranya tenang, namun setiap katanya seperti belaati tajaam.

Wajah Rama meredup, ia menunduk lalu kelopak matanya terpejam rapat seolah mencoba menghindar dari kenyataan yang menampar. Tapi tidak ada tempat lagi untuk lari, tidak dari kebenaran yang sudah telanjur mencaabiikk hati Gendis.

Sepertinya semuanya terlambat, ia sudah begitu dalam melukai hati Gendis.

.

.

.

Masih ngarep Rama sama Gendis?

1
Yunita Sophi
mungkin yg kirim pesan ke Davin itu Kirana yg terobsesi
Yunita Sophi
kasian kamu Rama... hidup mua hancur krn keserakahan kedua orang tua mu...
Yunita Sophi
tuh dua orang biang kerok nya yg harus mendapatkan hukum si Erika dan bu Dita...
Shiro Oni Weapon Master
👍
Yunita Sophi
apa ada orang lain lg yg mengincar mereka... selain Rama,Erika ibu nya Rama..
Anita Juwita
/Good/
Yunita Sophi
aq rasa itu bukan Rama... mungkin aja itu Erika memprokator... dia iri melihat Alina bahagia
Yunita Sophi
Davin aq suka 😍 😍
Yunita Sophi
nyonya Dita kamu salah pilih calon menantu... tp seperti nya sejenis sih dgn mu😂
Yunita Sophi
kasian kamu Erika jadi pelakor... tp cowo nya mati mati menolak 🤣🤣🤣lucu kamu ih🤣🤣
Yunita Sophi
semoga Rama tau semua rahasia keburukan dan keborokan ibu nya yg sudah memfitnah Alina... agar bercerai dan akan menjodohkan nya dgn Erika
Yunita Sophi
jiah telat kali kamu Rama... knp baru datang sekarang? knp 5 thn kamu sia siakan gak ada usahanya untuk mencari Alina dan anak mu...
Yunita Sophi
ayo tante langsung lamar aja... takut Alina nya di ambil orang jahat 😂😂😂
Yunita Sophi
ternyata kutu kupret Erika di kasih lampu hijau mama pelakor... 😂😂😂pelakor nyuruh calon mantu nya jd pe)akor.. emang cucok mereka😂
Boru Ni Pangguris
gendis menerima galang, 3 bulan kemudian Ratna bunting. galang disuruh tanggung jawab...

aichhh
Yunita Sophi
mau esmosi jg gak bisa ya Lin klo sama Davin kan gak boleh teriak biar lg marah 🤣🤣🤣
Yunita Sophi
knp baru berpikir sekarang setelah 5 thn berlalu Rama mencari Alina...
Yunita Sophi
wah makin seru ini... ternyata Rama anak si pelakor satu ayah dong dgn Davin... ayo Davin pepet terus Alina nya sampe dapat...
Yunita Sophi
Rama kok gak seperti Davin yah... Davin aja menyelidiki Alina sampe mendetail tau semua masalah nya.. Rama itu bodoh bisa di kecohin ulat nangka🤭😂😂😂
Yunita Sophi
Rama urus dulu tuh si ulet nangka Erika... ulet nangka seharusnya di buang jauh jauh...jgn di pelihara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!