NovelToon NovelToon
Limerence

Limerence

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: alviona27

Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia

Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 - membaik

Sudah hampir seminggu Adista dan Langit sudah kembali menjadi status pacaran. Beberapa hari kemudian juga Lala sudah sadar dari komanya membuat Vivin menangis bahagia, begitu juga dengan Langit. Meskipun Adiknya selalu adu jotos dengan Langit, dan terkadang membuat Langitbmarah, Lala masih tetap Adiknya.

Setelah pulang sekolah, Langit dan Adista segera menuju rumah sakit. Langit berhenti berjalan masuk ke dalam ruangan Lala saat melihat Regan sudah berada disana sambil berlutut di hadapan Alfian dan Vivin.

“Saya minta maaf sudah buat Lala kayak gini, Tan. Maafin saya,” ucap Regan sambil menundukkan kepalanya menyesal.

“Gak apa-apa,” ucap Vivin, mengusap pundak Regan lembut. “Semuanya kecelakaan, Lala juga udah sadar.”

Langit mendengus dan berjalan duduk di sofa diikuti oleh Adista yang telah duduk di sebelahnya.

“Lang, maafin gue,” ucap Regan setelah Vivin dan Alfian memaafkan Regan dan mengatakan kalau semuanya adalah kecelakaan. Langit hanya menatap tajam Regan, kemudian sebuah tangan Adista berada di telapak tangan Langit membuat Langit menghembuskan napasnya.

“Semuanya udah terjadi, yang terpenting Lala udah sadar dan untung gak amnesia, itu aja gue udah bersyukur.”

Lala yang daritadi memperhatikan menatap mual Langit saat Langit mengatakan itu. Sungguh, selama ini Lala mana pernah mendengar kata manis Langit untuk Lala.

“Gak usah lebay deh,” seru Lala. Langit hanya menatap Lala dengan tatapan datarnya.

“Thanks Lang.”

* * *

Semuanya sudah membaik, Regan sudah meminta maaf dan semuanya memaafkan Regan, Lala sudah sadar dan sudah bisa membicarakan orang, Genta yang setiap hari kesini membuat Lala tak berdaya dan

akhirnya menerima Genta. Geandra berpamitan kepada Langit dan mengatakan kalau cewek itu kembali ke Lampung untuk berkuliah disana.

“By, aku mau tanya deh. Kamu lebih suka siapa? Oppa atau aku?”

Adista mendengus, pertanyaan yang sama saat Adista lebih memilih Oppanya dan sekarang semuanya sudah berubah. Adista lebih suka Langit.

“Kamu.”

“Apa By? Aku gak dengar.”

Adista terdiam mendorong bahu Langit pelan agar cowok itu tidak menggodanya.

“Aku juga kok By. Lebih sayang kamu, lebih suka kamu, lebih-lebihnya buat kamu,” ucap Langit membuat Adista tersenyum simpul dan mengelus pelan rambut belakang Langit.

“Tolong, yang pacaran jangan di kantin.

Sakit hati yang jomblo ngeliatnya,” serubElang sambil duduk di depan Langit dan Adista. Langit yang melihat Elang berada di hadapan mereka membuat Langit menatapnya tajam. “Santai aja Lang, guebcuman mau ngenalin cewek baru gue.”

Adista berseru riang saat Elang mengatakan itu, jelas saja. Langit dan Elang itu sebelas dua belas, mereka memiliki sifat yang sama dan terkadang juga kelakuan yang sama.

“Kak Langit, Kak Adis.”

Adista dan Langit langsung melihat Della yang sudah duduk di samping Elang. Adista tidak percaya, Elang berpacaran dengan Della. Astaga ... lihat saja, kalau Alvaro ada disini, Adista inginnmenanyakan apakah Elang benar-benar menyukai Della atau tidak, begitu juga sebaliknya. Adista ingin tahu!

“Sejak kapan kalian pacaran?” tanya Adista penasaran membuat Langit menatap Adista.

“Memangnya kenapa By?”

“Nanya aja. Hehe,” kekeh Adista. “Gak usah cemberut.”

Langit mengalihkan pandangannya ke arah Elang dan Della yang menatap Adista dan Langit dengan  tatapan oke mereka pacaran, tapi gak segitunya juga.

“Lang, Genta sering ke rumah sakit ya?” tanya Elang saat mereka tidak ada yang membuka pembicaraan.

“Iya, setiap hari malahan.”

“Pantesan aja, pulang sekolah gak ada di

rumah, pas ditanyain kemana jawabnya main.”

“Dia pacaran sama Adek gue,” jawab Langit

santai membuat Elang yang sedang minum tersedak minumannya.

“Pacaran? Adek gue? Sama Adek lo?” tanya

Elang tak percaya, Langit hanya mengangguk.

Gawat.

* * *

“By, sebutin orang yang kamu sayang dalam hidup kamu,” kata Langit sambil bersender di bahu Adista.

“Buat apa? Gak guna juga.”

“Kata siapa gak guna? Jawaban kamu itu sangat berguna buat aku,” ucap Langit sambil mengemut permen.

Langit sudah berhenti merokok dan akhirnya dia selalu mengemut permen bertangkai yang kadang dia buat seperti menghisap rokok. Poor Langit.

“Nanti kamunya sakit hati.”

“Enggak deh By, aku terima semua ucapan kamu.”

“Pertama Papa, kedua Kakek, ketiga Oppa,

dan keempat kamu,” jawab Adista akhirnya.

“Ih By, kok aku keempat? Kan aku yang selalu ada di samping kamu,” kata Langit tidak terima.

Adista hanya terkekeh dan mengangkat kedua bahunya. Adista masih tetap suka Oppa meskipun tidak separah dulu yang selalu mentingin Oppa daripada kehidupannya yang lain.

“By, aku mau ngasih ini,” kata Langit sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.

Adista mengambil gelang yang diberikan oleh Langit dan membaca tulisannya disana. Limerence.

“Kamu tahu kan artinya?” tanya Langit,

Adista mengangguk. “Itu aku By, yang tergila-gila sama kamu. Awalnya aneh aku yang suka kamu dari dulu tapi gak pernah sedikitipun mau bicara sama kamu.”

“Kita awalnya kenal nama aja, gak kenal langsung,” kekeh Adista.

“Kamu sudah berani sender-senderan ya.”

Langit langsung menegakkan kepalanya, dan melirik Kakek tua yang sedang berjalan menuju Adista dan Langit. Kakek tua is back.

“Siang Kek,” ucap Langit dan mencium

punggung tangan Kakek Adista. “Baru sampe Kek? Gak mau istirahat dulu?”

“Gak usah basa-basi kamu, tadi maksudnya apa?”

Langit mengernyit, pura-pura bingung. “Yang mana ya Kek?”

Kakek Adista berdecak, kemudian beliau duduk di kursi single sambil menatap Adista dan Langit.

“Elang mana?” tanya Kakek membuat Adista terdiam, Langit memperhatikan Adista membuat Adista bertambah panik. “Kamu kenapa Langit?”

“Eh?” Langit langsung mengalihkan wajahnya. “Saya memangnya kenapa Kek?”

“Kamu marah karena saya cari Elang?”

Langit langsung melambaikan tangannya sambil menggeleng. “Bukan gitu Kek. Cuman penasaran aja, Kakek kenal Elang dari mana.”

“Kan Adista pernah dianter sama Elang,” ucap Kakek Adista dan berlalu pergi meninggalkan keduanya.

Adista langsung melirik Langit. “Bukan gitu Lang. Udah lama, Kakek aja yang diungkit-ungkit terus.”

“Memangnya kapan?”

“Saat kita putus.”

Langit menghembuskan napasnya, Adista tidak salah. Terserah Adista mau diantar siapa karena saat itu mereka tidaklah dalam status pacaran.

“Kamu gak marah, kan?” tanya Adista.

Langit menggeleng dan menaruhkan kepalanya kembali di pundak Adista. “Aku mana bisa marah sama kamu By.”

Adista hanya tersenyum. “Lang, katanya mau main di taman bermain?”

“Kamu mau?”

Adista mengangguk antusias. “Mau banget. Kapan kita pergi?”

“Secepatnya.”

* * *

Adista : Aku gak bisa hari ini. Aku ada janji sama teman aku.

Adista segera memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah menunggu taksi datang untuk menjemputnya.

“Regan ...,” seru Adista. Regan tersenyum sambil melambaikan tangannya. “Lo udah lama disini?” tanya Adista.

Regan menggeleng. “Kangen gue gak Hampir setahun gue pergi.”

Regan, sepupu Adista yang sangat dekat dengan Adista. Adista hanya tahu Regan masuk penjara karena narkoba, kalau masalah Regan berteman dengan Langit, Adista sama sekali tidak tahu.

Adista terkekeh. “Siapa juga yang kangen lo. Lo udah sembuh beneran, kan? Pasti sakit.”

Regan hanya tersenyum dan mengacak pelan rambut Adista. “Sakit banget. Lo harus tahu rasanya.”

“Ih,” Adista menepis tangan Regan. “Gue terkejut lihat lo di basecamp waktu itu.”

Adista tersenyum hangat menatap Regan. Sungguh, dia rindu dengan Regan. Regan yang dulu hangat, dan Adista sama sekali tidak melihat kalau Regan terlihat seperti cowok nakal yang biasanya. Dia sangat patuh dan hormat dengan orang yang lebih tua.

“Gue juga. Lo sama Langit lagi.”

“Regan,” panggil Adista.

“Kenapa?”

“Cerita lo tentang Langit beneran? Langit pernah masuk penjara juga?” tanya Adista dengan nada khawatir dan tidak percayanya.

Regan menghembuskan napasnya dan mengangguk pelan. “Itu yang Langit bilang sama gue. Memangnya Langit gak cerita sama lo?”

Adista menggeleng. “Waktu aku bilang cerita aja, dia gak mau, diam aja.”

“Mungkin dia belum bisa bilang masa lalunya.”

“Tapi kan itu cuman masa lalu, sekarang udah gak lagi. Kenapa harus ditutupi lagi?”

Regan hanya diam dan menggenggam tangan Adista lembut mencoba menenangkan Adista.

“Nanti Langit pasti cerita sama lo,” ucap Regan.

“Nanti itu kapan?”

“Sekarang By. Sekarang aku cerita sama kamu.”

Adista langsung memutar kepalanya saat suara Langit terdengar. Cowok itu berdiri tegap dengan wajah yang khawatir.

“Langit.”

“Tapi, cerita dulu. Kenapa kamu kenal sama Regan?” tanya Langit.

“Regan sepupu aku,” jawab Adista.

Langit hanya tersenyum sambil menghela napasnya kemudian dia duduk di samping kanan Adista dan menggenggam tangan Adista.

“Aku cuman takut kamu ninggalin aku karena itu,” ucap Langit sambil menunduk.

Adista menggeleng dan mengusap pelan punggung tangan Langit. “Enggak Langit, semua itu cuman masa lalu kamu.”

“Tapi kamu gak suka dengan cowok nakal.”

“Kamu gak nakal. Kata siapa kamu nakal?” tanya Adista tidak percaya sambil terkekeh. “Kamu cuman sedikit aja,” ucap Adista sambil terkekeh.

Langit mengangkat kepalanya dan mencibik. “Intinya sama aja, Adis.”

“Yang nakal itu Regan,” kata Adista sambil menyikut Regan. “Iya kan, Gan?”

Regan mendesah dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gue yang nakal Lang, bukan lo.”

Langit hanya terkekeh mendengar ucapan Regan yang memelas. Sungguh, Adista sangat suka melihat Langit dan Regan kembali menjadi teman dan bukannya menjadi musuh yang saling membalas dendam.

Langit kembali serius, dia menceritakan seluruh masalahnya dahulu. Berawal dari Regan yang ketahuan memakai narkoba, Langit melaporkan Regan, dan tidak lama setelah itu ada narkoba berada di dalam tas Langit. Langit tidak tahu siapa pelakunya, hanya saja Alfian marah besar dan sempat mengurung Langit selama berbulan-bulan.

“Aku gak mau lagi kayak gitu,” kata Langit. “Bahkan sekarang Ayah udah marah besar kalo aku pulang terlalu malam.”

“Makanya,” decih Adista. “Kalo main jangan sampe malam. Regan juga pernah kena marah Papa.”

“Jangan diulangin deh Dis,” ucap Regan, Adista hanya terkekeh. “Kabar Lala gimana, Lang?” tanya Regan.

“Ya gitu,” kata Langit membuat Regan mengernyit bingung. “Setelah baik dan keluar dari rumah sakit, dia langsung pacar-pacaran bikin gue enek ngeliatnya.”

Adista hanya terkekeh dan tersenyum melihat Langit dan Regan kembali bercerita. Lagi-lagi kebahagiaan kembali kepadanya. Berawal dari Papanya, Langit, dan sekarang Regan sepupunya.

TBC

1
CandycaneMissy
Author lagi semangat ngapain nih? Kalau aku sih lagi semangat baca karya2 author dan nunggu kelanjutannya
Alya_Kalyarha
semangat nulisnya kk, udah aku like ya
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Alfi Nurdiana
semangat kak 😊

Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞
Himawari
Lanjut terus Thor. ☺️ Jangan lupa mampir dan like novel aku ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!