TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DIBACA, KALIAN BISA PILIH NOVEL YANG LAIN (DISARANKAN YANG TERBIT DARI 2022 KE ATAS) ... KALAU MASIH NEKAT, SILAHKAN DIMAKLUMI SEMUA KEANEHAN YANG TERDAPAT DI DALAM NOVELNYA.
SEKIAN _ SALAM HANGAT, DESY PUSPITA.
"Aku merindukanmu, Kinan."
"Kakak sadar, aku bukan kak Kinan!!"
Tak pernah ia duga, niat baiknya justru menjadi malapetaka malam itu. Kinara Ayunda Reva, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA harus menelan pahit kala Alvino dengan brutal merenggut kesuciannya.
Kesalahan satu malam akibat tak sanggup menahan kerinduan pada mendiang sang Istri membuat Alvino Dirgantara terpaksa menikahi adik kandung dari mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Kina Ayah
Seorang dokter dengan 2 perawat masuk ke dalam ruangan itu. Mereka berusaha sesegera mungkin sampai walau harus dengan berlari. Nyawa pasien adalah yang utama bagi mereka.
"Mohon untuk semuanya keluar. Saya akan memeriksa beliau sekarang juga," pinta sang dokter.
"Lakukan yang terbaik Dok!" pinta Gio.
Baik Vino, Gio, Bambang, dan Sera tak memiliki pilihan lain. Mereka keluar menuruti apa yang dikatakan dokter.
Dari kaca kecil di pintu itu, Vino melihat mereka tengah memeriksa keadaan Broto dengan cekatan. Bahkan ada kegelisahan di raut wajah mereka. Hal itu membuatnya merasa bersalah akan apa yang sudah ia perbuat terhadap putri kesayangannya. Netra Vino menyipit. Ada sebuah kejanggalan yang ia lihat dari sana.
Gredeg
Pintu itu dibuka lebar oleh salah satu perawat itu. Dokter dan kedua perawat itu mendorong ranjang Broto dari ruang perawatan.
"Kami harus segera membawa beliau ke ruang ICU untuk mendapat perawatan lebih intensif," tutur pria berbalut jas putih itu.
"Baik Dok, tolong selamatkan Ayah kami," pinta Gio. Dia tak mau kehilangan orang yang berharga di hidupnya, meski Broto hanyalah seorang pria paruh baya yang menganggapnya sebagai anak. Dia juga tak ingin melihat kesayangannya tambah hancur jika Broto sampai kenapa–napa.
"Kami akan melakukan yang terbaik."
Petugas medis mendorong ranjang itu ke ruang ICU sesegera mungkin. Mereka tak mau melewatkan waktu sedetik pun. Gio, Vino, Bambang, dan Sera mengikuti mereka. Mereka berempat menunggu Broto di depan ruangan yang tertutup. Mereka saling berdoa dalam hati mereka. Tak ada ketenangan di hati mereka.
"Astaga ... Bagaimana ini? Apa yang terjadi dengan Bapak? Terus bagaimana dengan Non Kina?" ucap Sera panjang lebar. Pertanyaan itu bertubi–tubi keluar dari bibirnya. Kekhawatiran terlihat jelas dari setiap kata yang terucap dari bibirnya. Bahkan Sera berjalan mondar–mandir layaknya seterikaan baju.
"Heiss berhentilah Sera! Duduk dan diamlah!" tegur Bambang. Tingkah Sera membuat kekhawatiran mereka semua semakin besar.
"Ma–maaf," ucapnya lirih sembari menunduk.
Di sana Gio duduk dengan tak tenang. Kaki dan jari jemar tangannya ia gerakkan tak tentu, untuk mengurangi rasa khawatir di dalam dirinya. Sedangkan Vino segera bangkit dan berlari. Melihat Vino pergi, Gio tak berusaha mencegah Vino. Bahkan ia menatap datar kakaknya itu. Kondisi Broto semakin drop juga karena Vino, pikirnya.
**********
"Bagaimana ini? Bagaimana caraku agar aku bisa keluar dari sini?"
Kinara berusaha keras mencari cara. Ia mempunyai firasat tak enak mengenai ayahnya. Kekhawatiran itu semakin besar di dalam hatinya.
"Ya Allah, lindungilah Ayah," pintanya pada Sang Pencipta. Panjatan doa hanya untuk sang ayah, berharap sang Ayah baik–baik saja.
"Astaga …. Kenapa sih aku ga bisa buka? Hiks …."
Berulang kali Kinara mencoba membuka pintu mobil, namun tak sedikitpun membuahkan hasil. Ia mengerang frustasi. Bahkan buliran kristal itu telah meleleh di pipinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan wajah dalam–dalam.
Ceklek
Suara pintu mobil terbuka itu pun tak membuatnya sadar akan kekalutannya. Sampai–sampai suara berat terdengar di telinga Kinara.
"Keluarlah!"
Perlahan Kinara membuka matanya dan menatap wajah tampan itu perlahan.
"Di mana Ayah? Bagaimana keadaannya?" tanya Kinara bertubi–tubi. Tapi Vino hanya menatapnya datar, tak berniat menjawab pertanyaan Kinara.
"JAWAB AKU KAK!!!"
Pertama kalinya Kinara membentak Vino. Tak ada respon dari Vino membuatnya kesal dan lepas kontrol. Bentakan Kinara tak membuat tatapan Vino menyurut. Hal itu malah membuat Kinara menciut.
"Ma–maaf."
Kinara mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Vino menghela napas kasar. "Ikut aku!"
Tanpa berpikir panjang, ia berjalan mengikuti Vino. Ia yakin bahwa Vino akan membawanya pada di mana sang Ayah berada. Segala rapalan doa tetap ia lantunan dalam hatinya.
"Astaga, ruangan ini," gumamnya dalam hati tatkala ia mulai memasuki lorong menuju ruang ICU.
Dada Kinara terasa sesak. Beberapa waktu lalu, ayahnya masuk ke dalam ruangan ini tatkala Kinanti, kakaknya, mengakhiri hidupnya sendiri. Dan saat ini, semuanya terulang lagi. Bahkan hari ini ayahnya seperti itu karenanya.
"Ya Allah, apa lagi ini?" batin Kinara yang masih terus mengikuti langkah Vino.
**********
Tak berapa lama, petugas medis pun keluar dari sana mereka telah berhasil menyelamatkan nyawa Broto.
"Kondisi pasien belum stabil. Pasien akan tetap di rawat di ruang ICU dan akan dipindahkan setelah keadaannya stabil. Pihak keluarga hanya diperbolehkan masuk satu persatu saja. Silahkan," ucap pria berbalut jas putih itu sebelum pergi.
"Terimakasih Dok," ucap Kinara. Setelah memakai atribut besuk, Kinara masuk ke dalam ruangan itu.
"Hai Ayah," sapanya lirih pada sang Ayah. Ia menatap sendu ayahnya yang terbaring tak berdaya di sana. Suara monitor itu terdengar nyaring di telinganya. Alat–alat bantu terpasang di tubuh ayahnya.
Kinara duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Tangannya menggenggam jari jemari ayahnya. Ditatapnya lekat–lekat wajah ayahnya yang pucat.
"Ayah, maafkan Kinara."
Hanya itu yang dapat ia ucapkan. Lehernya seakan tercekat untuk mengucapkan banyak hal kepada sang Ayah. Lidahnya bahkan terasa kelu.
Tbc