NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Satu Tahun Lagi

Peluh dingin membasahi kaus singlet militer warna hijau pudar itu. Sutrisno menendang selimut tebal yang menjerat kakinya sedari tadi.

Dipan besi reyot berderit nyaring di tengah sepinya pos perbatasan. Jari-jari kasarnya mengusap wajah yang dipenuhi berewok liar tak bercukur.

Mimpi sialan itu datang lagi.

Sutrisno meraih korek Zippo di atas nakas kayu. Denting logam berbunyi pelan. Ujung rokok kretek di bibirnya menyala merah, membakar tembakau, mengirimkan asap putih tebal ke langit-langit seng yang karatan.

Dia tidak sedang mabuk rindu. Perasaannya jauh dari kata sentimentil. Ada sesuatu yang salah bersembunyi di dalam dadanya, sesuatu yang tidak bisa dia beri nama pasti, berdenyut seperti insting saat disergap musuh di tengah hutan.

Perempuan di mimpinya tadi jelas memiliki wajah Sukma. Seratus persen istrinya. Rambut hitam tebalnya, tahi lalat kecil di pangkal lehernya, bekas luka bakar di pergelangan tangannya. Semuanya sama. Tapi saat perempuan itu membuka mulut?

Cara bicaranya salah total.

"Kamu kira kamu pelindung keluarga ini, Mas? Perhitunganmu terlalu lambat."

Suara dalam mimpi itu terngiang kembali. Bersih, tajam, tanpa logat medok Jawa Timur sama sekali. Perempuan desa lulusan SD dari Batu tahun 1991 ndak mungkin menyusun kalimat sesempurna itu. Sorot matanya di mimpi tadi menelanjangi, mengkalkulasi untung-rugi, persis tatapan komandan batalyon saat menginterogasi tawanan perang.

Sutrisno menarik laci mejanya perlahan. Tangan besarnya mengeluarkan sebuah buku saku bersampul kulit hitam. Bolpoinnya ditekan kencang.

Dia bukan suami melankolis yang menulis puisi untuk istrinya. Dia prajurit intelijen yang sedang mencium bau anomali.

Goresan tintanya menekan kertas keras-keras.

24 Maret. Sukma menolak keras lapor aparat setelah dianiaya. Insting bertahan hidup yang janggal.

25 Maret. Cara berjalannya berubah. Tidak ada lagi bahu yang menunduk pasrah seperti perempuan kampung kebanyakan. Tulang punggungnya selalu tegak. Matanya menilai sekitar terus-menerus.

Sutrisno berhenti menulis. Ujung bolpoinnya mengetuk-ngetuk kertas. Nyawa orang tidak ada harganya di era ini. Satu gerak-gerik mencurigakan, satu laporan palsu ke Koramil, aparat bisa menyeret orang dari tempat tidurnya tengah malam dan menjadikannya pupuk pohon pisang. Kalau sampai buku catatan ini jatuh ke tangan provost, nyawa istrinya taruhannya.

Buku saku itu ditutup cepat, dimasukkan ke dalam kotak peluru kosong, lalu digembok rapat.

Tujuh ratus kilometer dari pos perbatasan, angin lereng Gunung Arjuno menggerung kencang menabrak dinding bata rumah Sukma.

Debu tebal membuat hidung Sigit gatal bukan main. Bocah laki-laki sembilan tahun itu merangkak susah payah di celah sempit antara tembok kamar dan lemari kayu bobrok Ayahnya Sutrisno.

Kelereng gacoan andalannya menggelinding ke sudut paling gelap di ruangan itu.

"Duh, mana sih neker sialan ini," gerutunya pelan.

Tangannya meraba-raba lantai tanah yang dingin dan lembap. Bukannya kaca bundar yang menyentuh ujung jarinya, dia malah merasakan selembar kertas kaku.

Sigit menarik tubuhnya mundur. Kaus oblongnya kini kotor penuh sarang laba-laba. Dia beringsut mendekati cahaya lampu bohlam lima watt yang menggantung di tengah kamar.

Kertas berdebu itu ternyata sebuah foto usang. Sudut-sudutnya sudah menguning, terlipat kasar seolah sengaja disembunyikan buru-buru.

Mata Sigit menyipit tajam. Laki-laki berseragam tentara di foto itu jelas bapaknya. Wajahnya masih sangat muda, wajah remaja Sutrisno belum ada kerut lelah dan tanpa kumis lebat. Tapi perempuan yang sedang menggandeng lengannya?

Perempuan itu memakai kebaya brokat yang terlihat sangat mahal, bukan daster katun pudar atau jarik pasaran yang sering dipakai ibunya. Sanggulnya rapi ala nyonya besar dari kota. Senyumnya lebar, menatap bapaknya dengan tatapan memuja. Itu jelas bukan wajah ibunya.

"Mas! Wes temu rung nekermu?!" Suara Gito melengking dari luar jendela.

Tangan Sigit bergerak secepat kilat. Foto usang itu dilipat dua paksa, dijejalkan dalam-dalam ke saku celana pendeknya.

Mulutnya terkunci rapat. Bapaknya ternyata punya masa lalu yang disembunyikan rapat-rapat.

Ibunya tidak boleh tahu soal ini. Kalau ibunya tahu, rumah ini bisa jadi medan perang baru.

Di jalanan keras Sumber Brantas, anak laki-laki yang memegang rahasia adalah anak yang memegang kendali. Informasi ini bisa berguna nanti.

"Ndak ono! Mbuh mencelat Nang endi!" balas Sigit berteriak santai, melompat keluar kamar seolah tidak terjadi apa-apa.

Matahari pagi mulai menyengat tengkuk saat Sukma berdiri di depan warung sayur Yu Nah. Bau tajam terasi, ikan asin, dan sayur layu menguar bercampur aduk di udara.

"Daging sapi seperempat kilo, Yu. Sing banyak lemaknya ya."

Yu Nah menimbang daging sambil melirik heran. "Tumben beli daging sapi, Mak e Sigit. Buat kaldu tah?"

"Iya, Yu. Biar kuahnya medok. Anak-anak wes lama ndak makan enak." Tangan Sukma sibuk melipat uang kertas lima ratusan yang sudah lecek berkali-kali.

Matanya tanpa sengaja jatuh pada lembaran koran bekas yang berserakan di meja kayu. Lembaran itu rencananya akan dipakai Yu Nah untuk membungkus tempe. Huruf-huruf cetak hitam tebal di sana langsung menarik perhatiannya.

Percepatan Jalur Lintas Provinsi. Proyek Pengaspalan Besar-besaran Masuk Wilayah Batu Bulan Depan. Otak Sukma bekerja kilat bak kalkulator. Aspal baru berarti ribuan ton material. Material berarti puluhan truk bolak-balik. Truk dan mandor berarti kuli bangunan yang kelaparan setiap jam istirahat siang. Kalau dia nekat membuka warung tenda di pinggir jalur proyek, untung kotor per hari bisa tiga kali lipat dari hasil panen kubis satu musim.

"Bojomu wes ndak kelihatan lagi, Mak. Balik asrama tah?" Yu Nah menyodorkan bungkusan plastik hitam dengan nada menyelidik.

"Iya, Yu. Ada panggilan tugas mendadak dari komandan."

Seorang ibu berdaster kuning di sebelah Sukma ikut menimpali sambil memilih-milih tomat. "Baguslah lek suamimu wes balik. Aman rumahmu dari mertuamu sing edan iku. Kudengar meja tamu Pak Parno sampai jebol malam sebelum suamimu berangkat?"

"Kucing garong berantem nabrak meja, Bu. Namanya kayu tua, ya gampang jebol," potong Sukma cepat, nada suaranya datar tanpa emosi.

Ibu-ibu di warung itu saling lirik, mendengus pelan menahan tawa sinis. Tidak ada yang percaya cerita kucing garong. Sukma pura-pura tuli. Telinganya kebal menghadapi nyinyiran tetangga.

Tangannya menggeser sisa koran bekas tadi untuk mengambil bungkusan tempe. Pandangannya sekilas melewati kolom berita kecil di pojok bawah halaman.

Pembersihan Sisa Golongan Kiri di Desa Wates. Aparat Amankan Tiga Warga Terduga Tanpa Perlawanan.

Ibu jari Sukma menutupi tulisan itu. Berita politik orang kota tidak bikin perut keempat anaknya kenyang. Dia membayar belanjaannya pas, lalu berbalik melangkah pulang. Dia mengabaikan berita kecil itu sama sekali, tidak tahu seberapa mematikan informasi receh tersebut bagi nyawa keluarganya beberapa minggu ke depan.

Debu beterbangan ke udara saat sebuah truk logistik militer berwarna hijau lumut mengerem kasar di depan pos penjagaan perbatasan.

Kopral Jono melompat turun dari bak belakang. Langkah sepatu botnya berdentum berat melintasi lantai semen pos. Dia melemparkan sebuah amplop cokelat berstempel lambang garuda ke atas meja kerja Sutrisno.

"Surat resmi dari Kodam, Ndan! Baru turun bareng jatah ransum bulan ini."

Sutrisno mematikan rokoknya ke dalam asbak aluminium bergerigi. Sebilah pisau lipat ditarik dari sakunya, merobek ujung atas amplop dalam satu tebasan cepat. Matanya menyapu deretan kalimat ketikan mesin tik yang berbaris rapi di atas kertas berlogo militer.

Berdasarkan Surat Keputusan Pangdam... Menimbang situasi keamanan sektor selatan... Penugasan Sersan Mayor Sutrisno diperpanjang selama 12 (dua belas) bulan terhitung sejak surat ini diterbitkan. Sutrisno melempar kertas itu ke meja.

Satu tahun lagi. Dia tidak akan menginjakkan kaki di Malang dalam waktu dekat. Hanya weselnya yang sampai, sementara istrinya harus sendirian menghadapi orang tuanya yang serakah, tetangga yang bermulut tajam, dan harga beras yang terus naik.

Tangannya baru saja akan melipat surat itu kembali saat matanya menangkap sesuatu yang ganjil.

Ada coretan tipis memudar di sudut kiri bawah kertas. Sangat tipis. Sekilas hanya terlihat seperti noda kotoran atau sisa karbon mesin tik yang menempel sembarangan.

Sutrisno memiringkan kertas itu, menangkap pantulan cahaya matahari sore dari jendela pos. Tulisan tangan menggunakan pensil arang keras. Bentuk hurufnya tergesa-gesa. Itu jelas sandi dari orang dalam batalyonnya di kota, kawan lama yang masih berutang nyawa padanya di Timor Timur dulu.

Napas Sutrisno berhenti seketika saat membaca deretan kata itu.

Awas. Ada intel Kodim yang intensif tanya-tanya soal asal-usul dan keluarga istrimu di sini.

Darah di tubuh Sutrisno terasa membeku jadi es. Angin sore yang masuk lewat jendela tiba-tiba terasa mencekik leher.

1
Ai_Li
Saya mampir kak
INeeTha: Makasih Kaka, semoga suka dan baca sampai tamat🙏
total 1 replies
SENJA
kabur kan bisanya 🤣
SENJA
naaah iya
SENJA
waaah sutrisno tau 🤭
SENJA
ayoklah dilawan! 💪
SENJA
dua perempuan bau tanah yang jahat 🤬
SENJA
ini jahat banget udah tua juga🤬
SENJA
maruk semua weeeh 🤬
SENJA
wakakaa hayo sono apa lagi lakonmu? 🤭🤣
SENJA
apa ada kelainan ingatan ipul? masa udah lupa lagi kan baru ketemu 🤭
SENJA
astaga keluarga apaan ini 🤬
SENJA
bagussssss 💪
SENJA
hajar aja si parno ini ancen gateli tenan tuek iki 🤬
SENJA
hmmm ada rahasia toh 🤭🤬
SENJA
wakaaka beda konteks itu maj nyupang 🤣
SENJA
lu jangan mau disuruh suruh urus aja nak anak sama wati
SENJA
wah mana pendidik kabur lho 🤬🤣
SENJA
laaaah sok mendidik padahal kurang terdidik 🤭
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
INeeTha: Hehe gini kak, temanya memang cukup sering dipakai di banyak cerita 😄 Di sini aku coba bawain dengan versiku sendiri, terutama dari gaya dan settingnya. Semoga Kakak tetap enjoy bacanya yaa.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!